Pagi Berkesan di Wae Rebo, Desa Atas Awan

NTT – Simpel namun berkesan. Menyepi dan intim dengan alam. Demikian catatan Hana Adi tentang Desa Wae Rebo yang dimuat di jawapos.com di suatu pagi. Wae Rebo adalah desa yang menjadi salah satu ikon pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Lokasi desa ini terletak di perbukitan Kabupaten Manggarai di Pulau Flores. Kota terdekat dengan desa ini adalah Kota Ruteng. Desa Wae Rebo itu sendiri kerap dijuluki sebagai ‘desa di atas awan’ lantaran keberadaanya di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Kampung adat tradisional ini namanya sudah sangat dikenal. Keindahan alam, budaya dan suasananya yang menyejukkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Cerita dimulai ketika perjalanan menuju Wae Rebo kami dari Labuan Bajo dengan menggunakan mobil mini MPV. Selama hampir empat jam perjalanan menuju Desa Denge, tempat terakhir yang bisa dilewati kendaraan.

Perjalanan menuju Desa Denge melewati sejumlah rute yang berliku dan berpotensi membuat penumpang menjadi mual atau mabuk. Bagi yang punya gejala tersebut, disarankan untuk meminum obat anti mabuk.

Setelah sampai di Desa Denge, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos I Wae Lomba sejauh sekitar 4 KM dengan jalur menanjak menggunakan sepeda motor. Biaya ojek Rp 40 ribu – Rp 50 ribu per penumpang. Pos I merupakan titik terakhir motor bisa melintas. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 5,5 – 7 KM.

Di sinilah perjuangan selanjutnya dimulai. Kebetulan, kami melakukan perjalanan di saat Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Jalanan yang lembab dan cuaca dingin mewarnai perjalanan kami.

Pada awal, jalur menuju Wae Rebo akan terus mendaki. Bagi wisatawan yang tidak terbiasa dan memiliki riwayat penyakit jantung, disarankan untuk berhati-hati dengan mengatur ritme perjalanannya.

Selain itu, jalur pendakian yang dilewati masih banyak berupa batu dan tanah. Kondisi jalanan yang lembab serta udara yang mulai mendung membuat kami ekstra hati-hati karena jalur menjadi licin. Apalagi, di kanan maupun kiri jalur adalah jurang tanpa pembatas.

Belum sampai setengah perjalanan, badan kami terlihat basah kuyup dibanjiri keringat. Tak jarang, sebagian beristirahat lantaran fisik tak mendukung dan kelelahan.

Sudah setengah perjalanan, rintik air hujan mulai turun membasahi bumi. Menyambut kedatangan kami dengan semerbak khas musim penghujan di alam bebas. Begitu segar dan menenangkan pikiran.

Hujan seakan tak sendirian menyambut kami. Hewan kecil penghisap darah bernama pacet juga ikut serta. Darah yang keluar dari bagian kaki para pendaki menjadi penanda bahwa hewan yang satu keluarga dengan lintah itu ‘menerima’ kehadiran kami.

Tak terasa, 2 jam lebih perjalanan saya tempuh bersama beberapa rekan yang memang ada di barisan depan. Sementara yang lainnya, masih di belakang kami. Waktu tempuh menuju desa ini pun berbeda-beda, ada yang 2 jam, 3 jam bahkan bisa 4 jam, tergantung dari kemampuan fisik masing-masing.

Sebelum memasuki perkampungan, tamu harus singgah di pos terakhir. Di sana, perwakilan rombongan diminta membunyikan kentongan sebagai tanda tamu tiba. Dari pos tersebut terlihat jelas tujuh rumah adat berbentuk kerucut. Sebelum beraktivitas di kampung, kami diminta untuk wajib mengikuti upacara Waelu’u terlebih dulu.

Upacara itu digelar di rumah utama yang dinamakan Niang Gendang. Rumah adat yang paling besar itu merupakan tempat tinggal ketua adat. Maksud upacara itu untuk memohon ijin dan penghormatan kepada para leluhur Wae Rebo.

Pagi sudah menghilang, berganti siang.

Ikuti berita menarik lainnya dari Jawapos.com

Simak video pilihan berikut:

simak video pilihan berikut:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *