Harga Tiket Pesawat Mahal, Okupansi Hotel Turun

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan, ratusan penerbangan terpaksa harus ditunda akibat kenaikan harga tiket yang terjadi beberapa waktu belakangan.

Sebagian besar penerbangan yang tertunda ini adalah penerbangan dalam negeri atau domestik. 

“Pengaruh banget, saya tidak tahu tepatnya, ratusan flight sudah di cancel. Dari dalam mau ke Sumba, NTB, jumlahnya tidak tahu karena tidak mau diumumkan,” ujar Arief di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (18/3/2019).

Arif mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat yang cukup mahal juga sempat dikeluhkan oleh pemerintah daerah seperti Bupati Banyuwangi dan Aceh. Harga tiket dari kedua daerah ini berada diatas rata-rata harga biasanya.

“Tiket kalau di domestik terpengaruh, internasional tidak pengaruh. Kilometer yang dari internasional lebih murah. Disindir juga dari Bupati Banyuwangi, return tiket dari Banyuwangi-KL Rp 500.000,” ujar dia. 

“Di domestik, sini lebih deket sampai Rp 1,2 juta, PP sampai Rp 2,4 juta. Meskipun yang Rp 500.000 adalah promo. Tapi kan jauh banget selisihnya. Terus kemaren kesindir juga kita dari Aceh ke Surabaya, lebih murah ke KL dulu baru ke Surabaya,” sambungnya.

Arief menambahkan, akibat kenaikan harga tiket tingkat keterisian hotel (okupansi) di berbagai daerah turut menurun. Tercatat untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) okupansi turun hingga 20 persen. 

“Yang NTB yang tadinya okupansinya 36 persen naik 50 persen, sekarang turun lagi 30 persen. Menurun sekitar 20 persen okupansinya secara tahunan,” kata dia.

Reporter: Anggun  P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

INACA Yakin Harga Avtur Turun Bakal Kerek Sektor Pariwisata

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Ari Askhara mengungkapkan, penurunan harga avtur dari sebelumnya Rp 8.210 per liter menjadi Rp 7.960 per liter merupakan langkah yang baik diambil PT Pertamina (Persero). Keputusan ini dinilai akan berdampak pada industri pariwisata RI.

“Dan atas hal itu kami berterima kasih kepada Pertamina, karena ini merupakan aksi nyata Perseroan atas kepedulian secara langsung kepada industri penerbangan dan tidak langsung kepada industri pariwisata,” ujarnya saat dihubungi Liputan6.com, Senin (18/2/2019).

Seperti diketahui, sebelumnya Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebutkan bahwa okupansi hotel khususnya di daerah Lombok turun hingga 30 persen. Hal ini akibat mahalnya harga tiket pesawat yang disinyalir berasal dari tingginya harga avtur sebagai bahan bakar minyak (BBM) pihak maskapai penerbangan.

Merespon hal ini, pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk itu mengatakan, bahwa penurunan harga avtur dipastikan akan berdampak positif pada industri penerbangan.

Kendati begitu, pihaknya belum memastikan sebarapa besar keuntungan yang diperoleh pasca turunnya harga avtur pada Sabtu (16/2/2019).

“Bentuk penurunan komponen biaya pastinya akan ber-impact positif buat maskapai penerbangan. Namun untuk penurunan harga tiket itu kan karena komposisi biaya masing-masing segmen kan juga berbeda-beda,” ungkap dia.

2 dari 2 halaman

Menhub: Harga Avtur Turun Tiket Pesawat Bakal Lebih murah

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yakin maskapai penerbangan akan menurunkan harga tiket pesawat. Hal tersebut terjadi setelah PT Pertamina (Persero) menurunkan harga avtur.

Budi mengatakan, komponen pembentukan harga tiket pesawat adalah avtur, dengan adanya penurunan harga avtur yang dilakukan Pertamina, diharapkan dapat menurunkan harga tiket pesawat.

“Hari ini saya dengar ada penurunan avtur, jadi ada suatu hal yang konstruktif dimana avtur turun maka tarif turun,” kata Budi, di Kemandoran, Jakarta, Sabtu (16/2/2019).

Penurunan harga avtur Pertamina merupakan buah dari penerapan formula harga avtur yang tercantum dalam Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 17 Tahun 2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis BBM Umum Jenis Avtur yang Disalurkan Melalui Depot Pengisian Pesawat Udara.

“Penurunan avtur kalau tidak salah sekitar 8 persen, yang mengeluarkan penurunan harga itu Menteri ESDM,” tuturnya.

Keyakinan Budi terhadap penurunan harga tiket pesawat pun bertambah, setelah Garuda Indonesia menurunkan harga tiket. Menurutnya keputusan maskapai penerbangan plat merah tersebut akan diikuti maskapai penerbangan lain.

“Saya mengapresiasi Garuda sudah menurunkan tarifnya sebanyak 20 peresen. Tentu memerlukan suatu perjuangan. Sebagai mekanisme bisnis biasanya Garuda sebagai market leader kalau Garuda turun yang lain turun,” ‎paparnya.

Namun Budi mengaku, sebagai regulator tidak bisa melakukan intervensi harga tiket, sebab itu dirinya menyerahkan penetapan besaran harga tiket melaui mekanisme pasar.

‎”Saya regulator sebenarnya hanya mengatur batas atas batas bawah, sekarang mereka itu masih dalam range batas atas batas bawah. Tetapi ini memang ada komplain masyarakat karena selama ini ada di batas bawah ke batas atas oleh karenanya dialog dilakukan,”tandasnya.

Polemik Soal Harga Avtur, Nih Data Impornya

Jakarta – Belakangan ini publik dihadapkan oleh polemik harga tiket pesawat yang tinggi. Penyebab harga tiket tinggi dikarenakan mahalnya harga avtur yang dijual oleh PT Pertamina (Persero).

Keluhan tersebut disampaikan oleh pengusaha yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya, tingginya harga tiket pesawat membuat okupansi kamar hotel menurun.

Belakangan ini juga disebut bahwa tingginya harga avtur dikarenakan oleh pajak pertambahan nilai (PPN) yang dikenakan sebesar 10%. Namun, hal tersebut dianggap tidak tepat karena komponen avtur dalam pembentukan tiket pesawat hanya sekitar 20%.

Di balik polemik harga avtur, detikFinance mendapatkan data impornya yang tergabung dalam komponen hasil minyak. Dari data BPS yang dikutip, Jumat (15/2/2019). Impor avtur pada Januari 2019 tercatat sebesar 121,1 ribu ton dengan nilai US$ 69,29 juta. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan bulan Desember 2018 yang sebesar 127,7 ribu ton dengan nilai US$ 76,89 juta.

Sedangkan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018, nilai impor mengalami peningkatan 22,61%, yaitu dari volume 85,8 ribu ton dengan nilai US$ 56,51 juta menjadi 121,1 ribu ton dengan nilai US$ 69,29 juta di Januari 2019.

“Ini kan avtur rata-rata tahunan dan bulanan, selama 3 tahun saja, bisa dilihat trennya, kalau 2018 bisa dilihat dari sisi volume turun dia, nilainya naik kelihatan di situ karena price-nya,” kata Direktur Statistik Distribusi BPS Anggoro Dwitjahyono di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Sedangkan data sepanjang 2018, impor avtur tercatat sebesar 1,22 juta ton dengan nilai US$ 861,1 juta.

Selain avtur, Pertamina juga melakukan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Premium sebesar 1,23 juta ton dengan nilai US$ 633,8 juta di Januari 2019.

Dari angka itu, impor khusus Pertamax di Januari 2019 sebesar 656,6 ribu ton dengan nilai US$ 333,2 juta. Sedangkan impor khusus Premium di Januari 2018 sebesar 570,4 ribu ton dengan nilai US$ 296,9 juta.

Jika dibandingkan dengan Desember 2018, nilai impor khusus Pertamax dan Premium mengalami penurunan 7,80% dari US$ 687,4 juta di Desember 2018 menjadi US$ 633,8 juta di Januari 2019.

Selanjutnya, untuk periode 2018 tercatat impor Pertamax dan Premium sebesar 14,09 juta ton dengan nilai US$ 9,4 miliar. Di mana, Pertamax sebesar 7,20 juta ton dengan nilai US$ 4,84 miliar dan Premium sebesar 6,64 juta ton dengan nilai US$ 4,46 miliar.

(hek/ang)

Okupansi Hotel Merosot Akibat Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Liputan6.com, Jakarta – Kenaikan harga tiket pesawat dikeluhkan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Lantaran, akibat kenaikan ini, tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel menuturn.

Ketua Umum PHRI, Hariyadi Sukamdani mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat sangat berdampak pada okupansi hotel.

Sebab, dengan harga yang naik, masyarakat menahan diri untuk melakukan perjalanan atau berwisata ke suatu daerah. Pemesanan pun atas kamar hotel pun berkurang.

‎”Terimbas sekali, kita turun (okupansi) antara 20-40 persen,” ujar dia di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Selain terhadap okupansi hotel, kenaikan harga tiket ini juga berdampak pada restoran serta penjualan makanan dan minuman di daerah, khususnya yang menjadi tujuan wisata.

“Itu pengaruhnya ke F&B (food and beverage) juga otomatis. Hotel kan berhubungan dengan F&B. Dengan room yang drop, pasti F&B juga akan kena,” kata dia.

Hariyadi menuturkan, penurunan okupansi tersebut telah terjadi sejak awal tahun i‎ni dan berpotensi menjadi lebih parah khususnya pada saat low season seperti sekarang.

“Mulai dari awal pertengahan Januari sampai dengan saat ini, karena sudah mulai berlaku. Efektifnya minggu pertama Januari. Jadi bulan ini juga low season, kita sudah low season ketimpa seperti ini juga jadi repot,” ujar dia.

Oleh sebab itu, PHRI mengimbau kepada maskapai untuk kembali menurunkan harga tiket pesawat. Jika tidak, akan semakin banyak sektor yang juga akan terkena dampak.

‎”Pesan kami kepada airlines, apapun alasannya, tidak efisiennya mereka lalu dibebankan kepada konsumen. Ini tidak fair. Dan yang saya rasa yang mengeluh bukan hanya PHRI. Saya rasa Angkasa Pura juga mengeluh karena penumpangnya turun. Mereka juga mengambil dari traffic,” ujar dia.

2 dari 2 halaman

Penyesuaian Harga Avtur Diserahkan kepada Pertamina

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyera‎hkan mengenai masalah penyesuaian harga avtur ke PT Pertamina (Persero). Namun penyesuaian tersebut harus berdasarkan formula yang telah diterbitkan.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (Biro KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, Kementerian telah mengeluarkan acuan pebentukan harga avtur, melalui formula yang tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor17 Tahun 2019 tentang formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran, jenis bahan bakar minyak umum, jenis avtur yang disalurkan melalui Depot pengisian pesawat udara.

“ESDM sudah selesai mengeluarkan Kepmen 17 Tahun 2019,” kata Agung, saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu 13 Februari 2019.

Menurut Agung, Pertamina dimungkinkan menyesuaikan harga avtur sesuai dengan formula yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri ESDM tersebut.

“Tinggal langkah badan usaha saja menyesuaikan harga dengan formula yang sesuai,” tuturnya.

Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Basuki Trikora Putra mengungkapkan, dalam formula harga avtur ada patokan harga tertinggi, sehingga Pertamina tidak bisa melebihi harga tersebut dalam menetapkan besaran harga avtur.

“Ya di kasihnya harga patokan, ya kita ikut aja sama harga patokan,” tuturnya.

Basuki pun mengklaim, harga avtur Pertamina belum melebihi patokan harga yang ditetapkan dalam formula. Sehingga harga avtur Pertamina tidak bermasalah jika mengacu formula.

‎”Sepanjang tidak melebihi harga patokannya ya nggak apa-apa lah. Selama ini harga avturnya masih di bawah,” kata dia.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Ikut Sukseskan Pariwisata Indonesia, Menpar Apresiasi PHRI

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sekaligus Ketua Umum Program Visit Wonderful Indonesia Haryadi B. Sukamdani. Apresiasi tersebut disampaikan karena berpartisipasi aktif menyukseskan pencapaian kunjungan wisatawan mancanegara.

“Hal ini perlu dipertahankan oleh PHRI, untuk memberikan pelayanan standar maksimal kepada para konsumen yaitu wisatawan,” ujar Arief Yahya saat Rakernas PHRI IV di Jakarta, Senin (11/2/2019), seperti dilansir Antara.

Menurut Arief, wisatawan mancanegara cenderung akan kembali ke sebuah destinasi jika mendapatkan pelayanan akomodasi yang baik. Aplaagi, jika ditunjang pengalamana berwisata yang berkesan.

Arief berharap PHRI terus mendukung pemerintah, sedangkan pemerintah akan terus bekerja melakukan promosi dan branding destinasi wisata di Tanah Air.

“Pemerintah akan bergerak sesuai ruang tugas pokok dan fungsi sekaligus ketentuan yang berlaku. Dan yang terpenting adalah industry lead government dan bukan sebaliknya,” kata Arief.

Dalam kesempatan itu, Hariyadi Sukamdani mengatakan sepanjang 2018 jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia sekitar 15,8 juta orang dan pergerakan wisatawan Nusantara sebanyak 265 juta. Target 20 juta wisman pada 2019, lanjut Hariyadi, harus disukseskan dengan strategi yang tepat.

“Tahun ini, kami mendukung pemerinth dengan membuat program-program untuk meningkatkan okupansi di bidang hotel atau restoran. Tidak hanya itu, kami juga membuat strategi untuk produk hot deals yang belum maksimal. Di samping kerja sama businss to business dengan maskapai dan travel online besar. Kami meyakin itu menjadi strategi yang ampuh untuk menggapai target 20 juta wisman,” harap Hariyadi.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Perang Dagang Surutkan Kedatangan Turis China ke Bali?

Liputan6.com, Jakarta – Pada liburan Imlek 2019 atau Tahun Baru China 2570 wilayah Bali masih menjadi destinasi primadona para turis mancanegara dan lokal. Turis-turis dari China terutama masih mendominasi.

Namun, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tampak memberi dampak pada kedatangan turis China. Ini terlihat dari pertumbuhan kedatangan turis yang tak sebaik tahun-tahun sebelumnya.

“Memang betul kelihatannya ada pengaruhnya, apalagi juga dari China, terutama yang sangat dominan tahun lalu tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya,” ujar Ketua Bali Hotel Association Ricky Putra ketika dihubungi Liputan6.com, seperti dikutip Rabu (6/2/2019).

Sementara, Ricky menjelaskan kedatangan dari negara-negara lain terpantau normal. Bulan Februari pun sebetulnya masuk kategori low-season yang peningkatannya digenjot Imlek. Sayangnya, tahun ini tak sebaik tahun-tahun sebelumnya.

“Kita masih low-season, tapi biasanya ada peningkatan karena Chinese New Year. Ada peningkatan tapi tak sebagus tahun-tahun sebelumnya,” tegas Ricky.

Hal senada juga dijelaskan Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani, ia menyebut awal Februari terhitung low-season. Pada Imlek pun tujuan utama biasanya tetap Bali.

“Hitungannya awal Februari, itu low-season. Tetapi kalau bicara Imlek, ini sebetulnya hari kejepit, jadi destinasi wisata ya ramai, tapi kota sepi. Masih biasa paling ke Bali. Daerah-daerah yang memang sudah biasa mereka datangi,” jelasnya.

Selain turis China, Ricky menjelaskan turis asing yang berlibur di Bali kala Imlek berasal dari Australia, India, Inggris Raya, lalu Jepang. Turis domestik juga berlibur di Bali meski okupansi mereka tidak menunjukkan perubahan atau pengurangan.

Untuk kedatangan, Ricky menyebut turis sudah meramaikan Bali sejak H-3 Imlek dan diperkirakan menetap di Pulau Dewata hingga Minggu. “Dari tiga hari yang lalu, H-3, sampai kira-kira sekarang sampai hari minggu biasanya,” paparnya.

2 dari 2 halaman

Sehari Jelang Imlek, Penjualan Cemilan di Pasar Petak Sembilan Turun

Perayaan Imlek 2019 turut menjadi berkah penjual makanan ringan (snack) di Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta. Meski demikian, beberapa pedagang menyatakan terjadi penurunan omzet atau penjualan beberapa hari jelang perayaan yang jatuh pada 5 Februari 2019.

Seperti yang diungkapkan Nini (25), pengelola keuangan yang juga anak pemilik Toko Kuh Koh yang terletak di dalam Pasar Petak Sembilan. Angka penjualan tertinggi saat Imlek terjadi sekitar dua pekan sebelum hari raya berlangsung. 

“Puncak keramaian pembeli biasanya ada pas seminggu-dua minggu sebelum Imlek. Sehari sebelum Imlek sisa-sisa doang,” ucap dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Pasar Petak Sembilan, Jakarta, Senin, 4 Februari 2019.

Nini mengaku, pendapatan saat hari puncak bisa menyentuh Rp 70 juta. “Omzet hari puncak kisarannya antara Rp 50-70 juta,” sebutnya.

Dia menyampaikan, kacang mede kiloan merupakan komoditas favorit pembeli dalam perayaan Imlek kali ini. Secara harga jual, ia mematok angka Rp 300 ribu dengan opsi tawar.

“Per kg antara Rp 200 ribu-Rp 300 ribu. Kalau nawar bisa dapat pengurangan Rp 20 ribu per kg. Lebih banyak beli lebih bisa nawar harga,” kata dia.

Pedagang lain Yoseph (20) menuturkan, kehadiran Imlek tiap tahun pasti membawa berkah peningkatan transaksi kuliner cemilan khas hari besar umat keturunan Tionghoa tersebut.

“Setiap Imlek pasti bakal meningkat. Biarpun omzet meningkatnya enggak banyak, pasti tiap tahun meningkat. Kacangmede paling favorit. Kedua, sumpia,” tutur dia.

Namun begitu, ia melanjutkan, kegiatan transaksi telah berkurang sejak dua hari lalu. “(Transaksi) 21 hari sebelum Imlek udah pasti naik. Tiga hari sebelum Imlek biasa turun,” ucapnya

Jurus Royal Tulip Bali Sabet Penghargaan Prestisius

Liputan6.com, Denpasar – Royal Tulip Luxury Hotel Springhill Resort Jimbaran menyabet dua penghargaan bergengsi dari Indonesia Travel & Tourism Award (ITTA).

Meski baru 1,5 tahun berdiri, namun Royal Tulip Luxury Hotel Springhill Resort Jimbaran mampu menyingkirkan 400 hotel dalam dua kategori yakni ‘Indonesia Leading New 5 Star Resort’ dan ‘Indonesia Leading New Family Resort’.

General Manager Royal Tulip Luxury Hotel Springhill Resort Jimbaran, Rizal H Sultoni bersyukur atas dua penghargaan yang didapat pada November 2018 lalu itu.

“Kami bersyukur atas penghargaan ini. Meski kami pendatang baru, namun berhasil mendapat dua penghargaan dari 400 hotel yang menjadi nominasi,” kata Rizal, Sabtu (26/1/2019).

Ia menjelaskan, pemberian penghargaan itu berdasarkan voting guest atau tamu yang pernah menginap. Selain itu juga ada penilaian dari penyelenggara berdasarkan kemajuan industri pariwisata di Indonesia.

Rizal membocorkan sedikit rahasia sukses resort-nya. “Semua hotel menawarkan hal sama yakni kamar, restoran ddan fasilitas lainnya. Keunggulan kami lebih kepada personal touch kepada tamu,” terang dia.

Di sisi lain, Rizal tak menampik ikut membidik pasar milenial sebagaimana dilansir oleh Kementerian Pariwisata jika kalangan muda itu akan mendominasi kunjungan wisata di tahun ini.

Meski sejauh ini milenial lebih banyak mengunjungi kawasan Kuta, namun ia mengaku resort-nya tetap memiliki nilai jual lebih bagi milenial yang tengah berlibur di Bali.

“Hotel kami punya selling point berbeda dengan hotel lainnya. Tidak bising agak ke dalam. Milenial ada yang suka menyendiri, senang yang privat. Fasilitas kami akan sangat membuat mereka relaks. Juga untuk honeymoon. Bagi kami, milenial sangat penting. Kunjungan turis ke Bali belakangan ini lebih didominasi wisatawan domestic dan mereka dari kalangan milenial,” ujarnya.


2 dari 2 halaman

Optimis Okupansi Meningkat

Ia optimistis target perusahaan akan tercapai di tahun ini. Royal Tulip Luxury Hotel Springhill Resort Jimbaran memiliki 132 kamar dan 2 ruang MICE.

Dari 132 kamar yang dimilikinya, masing-masing kategori Deluxe Room sebanyak 112 kamar seluas 48 meter persegi, 19 Family Suite dengan fasilitas masing-masing room dengan dua kamar tidur seluas 104 meter persegi dan satu Presidential Suite dengan fasilitas lengkap.

“Okupansi kami 55 persen. Tahun ini kami target naik 7-8 persen. Kami didominasi oleh turis asal Asia utamanya China, Eropa, Australia dan domestik. Jujur bagi kami salah target market adalah wisatawan domestik. Domestik buat kami potensial, karena tidak akan putus. Eropa, Australia, China dan lainnya akan putus. Domestik akan menentukan di masa depan. Ada 10-15 persen dari total hunian kami itu diisi wisatawan domestik,” jelasnya.

KAI Angkut 19 Juta Penumpang Sepanjang 2018

Liputan6.com, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta melaporkan total jumlah penumpang kereta yang diberangkatkan sepanjang 2018 meningkat jika dibandingkan 2017.

EVP PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 1, Dadan R. Rudiansyah menuturkan, PT KAI Daop 1 Jakarta memberangkatkan 19.183.580 penumpang KA sepanjang 2018.

Penumpang itu terbagi dari penumpang KA kelas Eksekutif sebesar 3.631.010 , kelas Bisnis  sebesar 613.100, kelas Ekonomi sebesar 6.922.005.

Kemudian KA Lokal sebesar 8.017.465.  Angka tersebut naik sebesar 3,3 persen dari 2017, yakni sebanyak 18.566.930 penumpang.

Khusus KA Jarak Jauh (intercity), realisasi volume penumpang pada 2018 yakni sebanyak 11.166.115 penumpang, meningkat 20 persen jika dibandingkan tahun 2017 yakni 9.302.017 penumpang.

“Kenaikan jumlah volume penumpang tersebut disebabkan beberapa faktor, antara lain penambahan perjalanan KA Argo Parahyangan – KA Mataram Premium – KA Tawang Jaya Premium, penambahan stamformasi KA Gumarang, perubahan kelas KA Sawunggalih Pagi dan Malam dari kelas Bisnis menjadi Ekonomi, serta perubahan kelas KA Senja Solo dari Bisnis menjadi Ekonomi,” kata Dadan di Jakarta, Kamis (24/1/2019).

Sedangkan untuk angkutan barang, KAI berhasil mengangkut 5.034.792 ton pada 2018, meningkat 48 persen dari 2017 yakni sebanyak 3.392.003 ton.  Kenaikan tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain:

1). penambahan KA barang baru

2). penambahan frekuensi perjalanan KA barang eksisting,

3). penambahan volume barang yang diangkut.

2 dari 2 halaman

Target 2019

Pada 2019, PT KAI Daop 1 Jakarta menargetkan volume penumpang sebesar 20.433.231, naik 7 persen dibanding realisasi tahun 2018.  Demi mencapai target tersebut, PT KAI Daop 1 Jakarta akan melakukan strategi antara lain:

1) Meningkatkan okupansi penumpang KA, dengan cara mengubah jadwal keberangkatan KA, memberhentikan KA di stasiun Bekasi, Karawang dan Cikampek khusus untuk KA Fajar Utama Yogya, Gajahwong, Sawunggalih Pagi, Sawunggalih Malam, Jaka Tingkir, Kutojaya Utara, Cirebon Ekspress,

2) Menambah jumlah perjalanan KA (KA Pangrango),

3) Menambah stand informasi KA-KA tertentu yang beroperasi pada saat akhir pekan.

Sedangkan volume angkutan barang ditargetkan sebanyak 5.643.425 ton, meningkat 12 persen pada 2019 dari realisasi 2018. 



Saksikan video pilihan di bawah ini:

Dari Merapi hingga Selatan Sunda, Dampak Bencana Alam bagi Pariwisata

Liputan6.com, Jakarta – Perkembangan pariwisata di Indonesia luar biasa pesat. Data World Travel and Tourism Council (WTTC) melaporkan bahwa Top-30 Travel and Tourism Countries Power Ranking yang didasarkan pada pertumbuhan absolut pada periode 2011 dan 2017 untuk empat indikator perjalanan dan pariwisata utama menunjukkan Indonesia berada pada nomor 9 sebagai negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat di dunia.

Dalam daftar tersebut, China, Amerika Serikat, dan India menempati posisi tiga besar. Untuk kawasan Asia, Indonesia berada nomor 3 setelah China dan India. Sedangkan untuk di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia terbaik di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya,.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata (Kemenpar), pariwisata Indonesia memiliki banyak keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif yaitu sektor pariwisata merupakan penghasil devisa terbesar. Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia terus mengalami peningkatan sebesar 55 persen secara absolut, dari 2014 sebesar 9 juta, menjadi 14 juta pada 2017.

Sayangnya, industri pariwisata sangat rentan terhadap bencana, apabila tidak dikelola dengan baik, dampaknya akan mempengaruhi ekosistem pariwisata dan pencapaian target kinerja pariwisata. Bencana merupakan salah satu faktor yang sangat rentan mempengaruhi naik turunnya permintaan dalam industri pariwisata.

Menurut Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilis yang diterima Liputan6.com, beberapa kejadian bencana telah berdampak industri pariwisata, antara lain:

1. Erupsi Gunung Merapi (2010), telah mengakibatkan penurunan jumlah kunjungan wisatawan di beberapa obyek wisata di Yogyakarta dan Jawa Tengah mencapai hampir 50 persen.

2. Bencana kebakaran hutan dan lahan pada Agustus sampai September 2015 menyebabkan 13 bandara tidak bisa beroperasi karena jarak pandang pendek dan membahayakan penerbangan. Bandara harus tutup, berbagai event internasional ditunda. Industri airline, hotel, restoran, tour and travel, objek wisata dan ekonomi yang di-drive oleh sektor ini pun terganggu.

2 dari 2 halaman

Turunnya Kunjungan Wisatawan

3. Erupsi Gunung Agung di Bali (2017) menyebabkan 1 juta wisatawan berkurang dan kerugian mencapai Rp 11 triliun di sektor pariwisata.

4. Gempa Lombok yang beruntun pada 2018 menyebabkan 100.000 wisatawan berkurang dan kerugian Rp 1,4 triliun di sektor pariwisata.

5. Tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 menyebabkan kerugian ekonomi hingga ratusan miliar di sektor pariwisata. Bencana menyebabkan efek domino berupa pembatalan kunjungan wisatawan sampai 10 persen.

Sebelum dilanda tsunami, tingkat hunian atau okupansi hotel dan penginapan di kawasan wisata Anyer, Carita, dan Tanjung Lesung mencapai 80–90 persen.

Menurut Sutopo, hal itu menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Mitigasi, baik mitigasi struktural dan non struktural di kawasan pariwisata masih sangat minim. Mitigasi bencana harus termasuk salah satu prioritas dalam pembangunan sektor pariwisata.

Penataan ruang dan pembangunan kawasan pariwisata sebaiknya memperhatikan peta rawan bencana. Dengan begitu sejak perencanaan hingga operasional dari pariwisata itu sendiri selalu mengkaitkan dengan ancaman bencana yang ada.

Bencana adalah keniscayaan. Namun Sutopo kembali menegaskan kalau risiko bencana dapat dikurangi sehingga dampak bencana dapat diminimumkan dengan upaya mitigasi dan pengurangan bencana. Di balik berkah keindahan alam Indonesia yang sangat menunjang sektor pariwisata, juga dapat menyimpan musibah jika tak dikelola dengan baik.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Sudah Banyak Kemajuan, Kereta Bandara Soetta Masih Sepi

Jakarta – Sudah setahun beroperasi, tingkat keterisian kereta Bandara Sukarno Hatta (Soetta) masih minim. Padahal, layanan yang disuguhkan oleh operator kereta Railink sudah banyak kemajuan.

Saat awal beroperasi, kereta Bandara Soetta memang banyak mengalami kendala. Tercatat beberapa gangguan yang dialami kereta bandara, mulai dari mati mendadak saat tengah beroperasi, mesin pembelian tiket yang kerap gangguan hingga waktu tempuh yang masih terlalu lama.

Namun kini kendala tersebut sudah mulai berkurang. Saat dijajal detikFinance, Kamis (10/1/2019), hal-hal yang menjadi kendala tadi tidak terasa selama perjalanan.

Dimulai dari saat pembelian tiket di stasiun, semua berjalan dengan lancar. Dengan menggunakan pembayaran lewat kartu debit, pembelian tiket dapat dilakukan dengan waktu setengah menit saja.

Area stasiun juga menyediakan fasilitas yang memadai. Ada WiFi gratis, ruang tunggu yang nyaman, toilet yang bersih, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya seperti mushala atau ruang laktasi.

Waktu kedatangan kereta juga sangat tepat. Kereta tiba saat sebelum waktu di tiket tertera dan berangkat sesuai waktu yang ditentukan.

Salah satunya dirasakan oleh Budi Narindra, pelanggan kereta Bandara Soetta. Budi mengaku sudah menggunakan kereta bandara sejak pertama kali beroperasi.

“Nyoba yang mogok juga saya sudah pernah,” kata Budi.

Budi mengaku puas dengan layanan kereta Bandara Soetta sejauh ini. Menurutnya, layanan kereta bandara Soetta terus meningkat dan bisa diandalkan untuk mobilitasnya menuju maupun dari Bandara Soetta.

“Secara ketepatan waktu ini lebih bisa diandalkan. Saya pikir ini sudah yang paling bagus. Apalagi kalau dibandingin di luar negeri, ini lebih bagus. Keretanya juga bagus,” katanya.

Sementara waktu tempuhnya juga tidak kurang dan tidak lebih dari jadwal yang ditentukan dalam tiket. Keberangkatan dari Stasiun BNI City di Sudirman, Jakarta menuju Stasiun Bandara Soetta di Cengkareng, Tangerang ditempuh dalam waktu 46 menit.

Jika dibandingkan dengan penggunaan moda transportasi umum lainnya seperti Damri, waktu tempuh menggunakan kereta bandara tak jauh berbeda. Waktu tempuh menggunakan bus Damri biasanya berkisar 40-60 menit.

Namun saja, harga tiket kereta bandara lebih mahal Rp 30 ribu dibanding harga tiket Damri. Selain itu, penggunaan kereta bandara masih harus membuat penumpang transit dulu menggunakan kereta layang untuk sampai ke terminal tujuan di bandara Soetta.

Suasana di dalam kereta juga sangat nyaman. Kursi yang empuk dan tidak sempit membuat penumpang menikmati perjalanan sepanjang 46 menit.

Namun kemajuan-kemajuan ini tak sebanding dengan peningkatan keterisian penumpang selama setahun beroperasi. Tingkat okupansi kereta bandara Soetta masih jauh dari ideal. Banyak kursi kosong yang tersedia di dalam gerbong kereta.

“Manajemen mungkin harus berusaha bagaimana ini bisa ditingkatkan penumpangnya, mungkin promosi atau apa,” kata Budi.

PT Railink mencatat okupansi kereta bandara Soetta pada hari biasa sekitar 2.700-3.000 penumpang, hari Jumat 4.700-5.000 penumpang dan akhir pekan sekitar 2.000-2.500 penumpang. Jika diambil angka terbanyak di 5.000 orang, okupansinya hanya sebesar 26% alias masih jauh dari harapan.

(eds/fdl)