Nuansa Bali di Festival Wastra Nusantara dari Alleira Batik

Penggunaan ornamen etnik dengan sentuhan modern kontemporer dan detail bordir yang dibuat menyerupai bunga-bunga yang bermekaran hadir dalam setiap koleks kebayai yang akan ditampilkan. Look yang dibuat sangat simpel, elegan, dipadu dengan kain sentuhan eksotis alam membuat setiap koleksinya terlihat sempurna.

“Alleira menggunakan bahan yang sangat nyaman untuk digunakan koleksi sehari hari (ready to wear). Antara lain Hand Woven Silk, cotton, tule, linen menjadi unggulan material yang kita gunakan,” ujar Chief Operational Officer Alleira Batik, Zakaria Hamzah dalam keterangan pers yang diterima Liputan6.com, Jumat (12/4/2019).

Keseluruhan koleksi kali ini hadir dalam dominasi warna putih, cream beige, coklat, nature green, yellow, ruby red, dan hitam. Semua koleksi kebaya dan dan kain-kain indah Alleira Batik khusus ditampilkan untuk acara di Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti, Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Selain itu, semua koleksi ini akan diperagakan oleh para model muse dari Alleira Batik yang dipercantik makeup dan hairdo-nya dari team LTPro Professional Make-up serta aksesoris dari The Palace.

10 Ribu Pesepeda Ramaikan Pembukaan Gowes Nusantara 2019 di Padang

Liputan6.com, Padang- Sekitar 10 ribu pesepeda turut meramaikan pembukaan Gowes Nusantara 2019 di Padang, Sumatera Berat, Minggu (31/3/2019).Perhelatan di bawah payung Ayo Olahraga ini bekerjasama dengan BKKBN.

Tanda dimulainya perhelatan yang akan berlangsung di 50 titik Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia itu melalui dikibasnya bendera start oleh Deputi Pembudayaan Olahraga Kеmеnроrа, Rаdеn Isnanta yang mewakili Menpora Imam Nahrawi dі kаwаѕаn Kоmрlеk GOR. H. Aguѕ Salim.

“Bapak Ibu pecinta sepeda, dengan menghitung mundur lima hingga satu, kita lepas dua kegiatan sepeda yakni Jelajah Sepeda Nusantara menuju wilayah Timur Indonesia, kemudian diikuti tim Gowes Nusantara 10.000 masyarakat Padang dan sekitarnya,” ucap Raden Isnanta seperti rilis yang diterima media.

Lebih lanjut Raden Isnanta yang didampingi oleh Wali Kota Pаdаng Mаhуеldі dan Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN M Yani, mengatakan disamping bertujuan untuk sehat dan bugar, namun ini juga jadi ajang untuk mengenalkan kekuatan Indonesia disektor sosial, budaya, wisata, kuliner dan lainnya.

Dia juga sempat berpesan agar masyarakat dapat membudayakan sepeda mulai dari pelajar yang berangkat sekolah sampai pekerja yang lebih baik bersepeda menuju tempat bekerja.

“Artinya jika lebih banyak sepeda yang digunakan masyarakat akan dapat menciptakan udara yang segar dan polusi udara akibat kendaraan bermotor bisa dikurangi. Udara segar dan badan pun sehat,” katanya.

Isnanta menyebut Padang memiliki banyak komunitas sepeda. Hal ini terlihat dalam Gowes Nusantara 2019, yang mengenakan seragam komunitas sepedanya. Artinya dengan dipilih Padang sebagai garis start Gowes Nusantara 2019, adalah hal yang tepat.

“Jadi setelah start di Padang, maka untuk puncak Gowes Nusantara 2019 sendiri rencananya akan dilaksanakan pada September 2019 mendatang. Tepatnya, saat perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September,” tegas dia.

Padang Awali Program Kemenpora Gowes Nusantara 2019

Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta menilai kesuksesan gelaran yang sama pada dua tahun sebelumnya sangat di luar ekspektasi. Tolok ukurnya ialah dari antusiasme masyarakat yang begitu tinggi dalam mengikuti program Kemenpora di tiap titiknya.

Karena itu, program ini nantinya harus bisa menjadi stimulus yang mampu membangun kesadaran tiap individu untuk berolahraga.

Kondisi tersebut secara otomatis akan meningkatkan angka kesehatan dan kebugaran. Tren ini begitu terlihat selama dua tahun terakhir, di mana karakter serta partisipasi masyarakat berolahraga terus menanjak.

Menurut data dari pemerintah, presentase partisipasi masyarakat berolahraga selalu menunjukkan peningkatan yang melebihi target. Pada 2017 misalnya, target 30 persen partisipasi yang dicanangkan, ternyata mendapat capaian atau realisasi sebesar 32 persen. Begitu pula pada 2018 lalu, dari target 33 persen, realisasinya adalah 34 persen.

Walau sudah melebihi ekspektasi, partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga pada level 34 persen di tahun 2018 ini ternyata dinilai masih rendah jika dibandingkan dengan total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 265 Juta jiwa.

Atas dasar tersebut, Kemenpora tak henti-hentinya mengkampanyekan Ayo Olahraga di setiap pelosok desa di Indonesia melalui program-program Pembudayaan Olahraga. Salah satunya ialah melalui program Gowes Nusantara 2019.

Tujuan Kemenpora tentu saja agar angka presentase partisipasi masyarakat dalam berolahraga terus mengalami tren positif, sehingga tingkat kebugaran dan kesehatan masyarakat turut mengalami peningkatan.

“Aktivitas berolahraga menjadi hal penting untuk seorang individu menjadi lebih sehat dan bugar, karena olahraga menempati urutan teratas dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, obesitas hingga stroke,” kata Isnanta.

Menelisik Sejarah Perkembangan Islam di Timur Nusantara

Sabtu 23 Maret 2019, 11:26 WIB

Foto News

Agung Pambudhy – detikNews

Halmahera Selatan detikNews – Sejarah perkembangan Islam di nusantara selalu menarik untuk ditelusuri. Di timur nusantara ada Masjid Kesultanan Bacan yang memiliki nilai histori tinggi.

Kesultanan Bacan menjadi salah satu kerajaan Islam yang berdiri di timur nusantara. Salah satu peninggalan kesultanan itu yang masih dapat dilihat dan dimanfaatkan hingga kini adalah Masjid Kesultanan Bacan.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com

7 Tokoh Peraih Penghargaan Adiwastra Nusantara 2019, Apa Kontribusi Mereka?

Liputan6.com, Jakarta – Adiwastra Nusantara 2019 resmi dibuka oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, Rabu, 20 Maret 2019, di Jakarta Convention Center, Jakarta. Pameran yang sudah diselenggarakan setiap tahun sejak 2008 diklaim sebagai pameran kain adati terbesar di Indonesia.

Acara tersebut berlangsung pada 20-24 Maret 2019. Berbeda dengan sebelumnya, Adiwastra 2019 ini lebih menyasar generasi milenial. Mulai dari konsep hingga dekorasi pada saat pembukaan pameran, dibuat keninian.

Acara pembukaan berlangsung meriah dengan beberapa pertunjukan mulai dari tarian. lagu hingga penampilan dari Titi DJ yang mengiringi peragaan busana karya Didiet Maulana. Bersamaan dengan itu, Adiwastra Nusantara 2019 juga memberikan penghargaan kepada Sahabat Adiwastra Nusantara. Sederet nama tenar meraih penghargaan ini.

Pertama, Cecilia Papadimitri, seorang istri dari almarhum kolektor seni Yunani yang berbasis di Indonesia, Alex Papadimitriou. Ia terbiasa berurusan dengan barang antik dengan hasil yang akan membantu seniman. Sebagai anggota Dewan Seni Seni Panggung Jakarta, ia sangat suka mengoleksi lukisan dari para master modern dan kontemporer di Indonesia.

Berikutnya adalah Mooryati Soedibyo. Perempuan yang menjabat sebagai wakil ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat ini dikenal sebagai “Empu Jamu.” Sebagai Presiden Mustika Ratu, ia adalah salah satu pencetus ide kontes pemilihan Puteri Indonesia. Mooryati merupakan sosok wanita yang paling berpengaruh di Indonesia.

Tak hanya dari dalam negeri. Masakatsu Tozu, pendiri museum Shibori Kyoto, juga mendapat penghargaan Adiwastra Nusantra. Lelaki asal Jepang itu memiliki kecintaan terhadap batik. Bahkan, ia mengkoleksi ribuan kain batik yang dibelinya dari seluruh pelosok Nusantara.

Ada pula Darwina Ponco Sutowo, seorang kolektor kain unggulan Palembang yang peduli akan keindahan kain adati Indonesia. Berikutnya, Hartono Sumarsono seorang kolektor batik sekaligus penulis buku.

Selanjutnya, penghargaan diberikan untuk Birahul Anas, penulis sekaligus tokoh yang sangat cinta terhadap kebudayaan Indonesia, terutama batik. Terakhir, Rahadi R sebagai desainer yang menampilkan karya dengan mengangkat kain songket Sambas.

“Dalam Adiwastra 2019 ini kami memberikan tujuh penghargaan kepada beliau-beliau yang banyak berperan serta di bidang budaya dalam hal ini adalah pelestarian wastra, selain itu kami memberikan dari dalam negeri maupun dari luar negeri,” kata Vera, panitia Adiwastra Nusantara 2019. (Adinda Kurnia Islami)

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Fashion Nation menghadirkan parade busana Batik dari Ba’i Soemarlono bersama brandnya Populo. Kali ini, Ba’i membawakan koleksi busana bertajuk Purity dalam Fashion Nation 2018. Koleksi ini terinspirasi dari sebuah daerah terisolasi di Nepal bernama …

2 Cerita Legenda Asmara Nusantara yang Berakhir Tragis di Hari Bahasa Ibu Internasional

Liputan6.com, Jakarta – Tak hanya Italia dengan Romeo dan Julietnya, Indonesia pun memiliki cerita legenda tentang percintaan yang berakhir tragis. Kisah tersebut diungkapkan dalam cerita tradisonal yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.

Oryza Lokabasa berkesempatan menampilkan dua cerita tradisional berakhir tragis tersebut dalam pertunjukan teater. Komunitas yang memiliki minat di bidang seni, bahasa, dan budaya tersebut menyelenggarakan pertunjukan teater berbahasa daerah untuk memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional.

Pertunjukan tersebut diadakan Sabtu, 2 Maret 2019 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat. Dari empat cerita tradisional yang mereka tampilkan, dua di antaranya merupakan kisah romansa. Cerita tersebut berasal dari Bali dan Jawa Timur.

Cerita pertama adalah Jayaprana dan Layonsari. Bagi masyarakat Bali, kisah ini merupakan simbol cinta suci, sejati, dan abadi. Cerita berasal dari kerajaan kecil di Pulau Bali yang saat itu dipimpin oleh Raja Kalianget.

Kisahnya bermula dari sosok I Nyoman Jayaprana yang hidup sebatang kara. Dilansir dari mantrahindu.com, seluruh keluarganya meninggal akibat terkena wabah yang menjangkiti kerajaan Kalianget.

Bukan hanya Jayaprana, Raja Kalianget pun berduka karena sebagian warganya meninggal. Ia pun memutuskan untuk blusukan dan melihat kondisi warganya. Dari situlah pertemuan awal Jayaprana dan Raja Kalianget.

Jayaprana kemudian diangkat menjadi abdi di Kerajaan Kalianget. Layaknya anak sendiri, Kalianget sungguh menyayanginya. Apalagi, Jayaprana dikenal rajin, pintar, dan tekun dalam kesehariannya.

Tibalah Jayaprana menginjak umur dewasa, Raja Kalianget memintanya untuk menikah. Pilihannya adalah dayang-dayang istana, namun Jayaprana menolak. Ia lebih memilih gadis biasa.

Jayaprana kemudian berjalan-jalan ke pasar di dekat istana. Di situlah ia menemukan cinta sejatinya, seorang gadis yang cantik jelita dan merupakan anak penjual bunga. Namanya Ni Komang Layonsari.

Beruntungnya, mereka saling tertarik. Apalagi, pinangan Jayaprana terhadap pujaan hatinya diterima oleh Jero Bendesa, sang ayah. Mereka akhirnya menikah, dan Raja Kalianget mengadakan pesta yang meriah untuk abdinya yang telah ia anggap anak tersebut.

Di hari pernikahan, kedua mempelai berlutut di hadapan Sang Raja. Ternyata, Raja Kalianget juga terpesona dengan kecantikan Layonsari. Lama-kelamaan, muncullah perasaan cinta di hati Raja hingga ingin memiliki sang gadis.

Sejak saat itu, Raja selalu berusaha memisahkan kedua insan tersebut. Puncaknya, Raja berniat ingin membunuh Jayaprana.

Ketika niat jahat Raja Kalianget tersebut berhasil, Layonsari terkejut. Apalagi, ia mengetahui fakta bahwa Sang Raja yang dikenal bijaksana membunuh suaminya.

Raja Kalianget tidak berhasil memiliki Layonsari karena kesetiaannya kepada sang suami. Layonsari lebih memilih mati daripada menikah dengan sang Raja.

Pedang sang Raja yang tertancap di tubuh Jayaprana digunakan sang istri untuk menusuk dirinya. Layonsari menghembuskan nafas terakhirnya. Di surga, Jayaprana dan Layonsari kembali dipertemukan dan mereka berakhir bahagia.

2 dari 2 halaman

Roro Mendut

Adapula cerita tentang kisah sejati dari Jawa Timur yang dipentaskan di pertunjukan ini. Kisah tersebut merupakan legenda Roro Mendut yang berasal dari Kerajaan Mataram pada abad ke-17.

Awalnya, Roro Mendut dirampas oleh panglima Kerajaan Mataram dari Kadipaten Pati. Sultan Agung, pemimpin Kerajaan Mataram saat itu memberikan hasil rampasan perang kepada Tumenggung Wiroguno. Berkat jasanya sebagai panglima perang, ia berhak mendapatkan semua hasil kekayaan termasuk gadis tersebut.

Dari semua kekayaan, Roro Mendutlah yang menarik perhatiannya. Sayangnya, Roro Mendut menolak dijadikan selir oleh panglima itu. Hatinya terpikat kepada seseorang di Kadipaten Pati bernama Pronocitro.

Wiroguno sangat terpukul menerima penolakan tersebut. Apalagi posisinya sebagai panglima perang, ia merasa harga dirinya runtuh. Ia pun memutuskan untuk memberikan hukuman kepada Roro Mendut.

Roro Mendut diharuskan membayar pajak dalam jumlah yang sangat besar. Awalnya ia bingung, namun ketika berjalan di pasar, ia menemukan cara yang cerdik. Roro Mendut menghisap dan menjual rokok linting di sebuah warung.

Kelihaiannya dalam menjual dan membuat rokok linting membuat dagangan Roro Mendut laku. Itulah yang membuat Roro Mendut selalu berhasil membayar pajak. Apalagi, Roro Mendut selalu merekatkan lem rokok dengan lidahnya sendiri, membuat banyak pria yang mau membeli rokok di Roro Mendut.

Di Pati, Pronocitro terus mencari Roro Mendut. Hingga sampailah ia kepada Kerajaan Mataram, di mana ia melihat Roro Mendut. Pemuda tersebut memutuskan untuk membantu Roro Mendut membayar pajaknya agar ia bisa pulang ke Pati.

Mendengar kabar tersebut, Tumenggung Wiroguno sangat murka. Ia akhirnya menantang Pronocitro untuk bertarung.

Pertarungan berakhir seri, namun kisah cinta Roro Mendut berakhir tragis. Kekasihnya tewas tertusuk oleh keris Wiroguno. Karena tak kuasa menahan sedih, Roro Mendut mengakhiri hidupnya dengan keris Wiroguno dan mati tergeletak di tubuh sang kekasih.

Sejak saat itu, kisah cinta mereka menjadi abadi. Mereka dianggap sebagai lambang kesetiaan dan keteguhan insan nusantara kala itu. (Esther Novita Inochi)

Saksikan video pilihan berikut ini:

Gelar Fashion Show, Menaker Hanif Ingin Populerkan Kain Sarung

Liputan6.com, Jakarta Suasana kantor Kementerian Ketenagakerjaan pada Jum’at (1/3/2091) pagi, tak seperti biasanya. Perayaan Hari Sarung Nasional yang bertema ” Sarung is My New Denim” berlangsung dengan meriah.

Menaker M Hanif Dhakiri, pejabat eselon I, II dan III Kemnaker secara bergiliran berlenggak-lenggok di halaman kantor Kemnaker dengan mengenakan kain sarung/kain khas Nusantara di atas karpet merah yang digelar

Disaksikan ratusan pegawai Kemnaker yang juga mengenakan kain sarung dan berdiri di sisi karpet merah, Hanif Dhakiri, Sekjen Khairul Anwar, Dirjen PHI Jamsos Haiyani Rumondang, Dirjen Pengawasan K3 Sugeng Priyanto, Dirjen Binalattas Bambang Satrio Lelono secara bergiliran bagaikan peragawan/peragawati bergaya berjalan di atas catwalk.

Dalam sambutannya, Menteri Hanif mengatakan pihaknya ingin mempopulerkan kain sarung sebagai salah satu busana nasional Indonesia. Semakin populer dan dikenalnya sarung serta diminatinya sarung oleh generasi milenial, maka akan menimbulkan dampak ekonomi dan lapangan kerja akan luar biasa.

“Hari ini kita sarungan bersama dalam acara bertema Sarung is My New Denim. Selama ini Denim identik dengan jeans. Hari ini kita berbagai macam ragam dari jenis kain. Indonesia kaya betul dengan berbagai macam kain sarung, berbagai macem jenis dan bentuk. Ini jadi potensi ekonomi dan budaya,” ujarnya.

Hanif menambahkan sejarah sarung sangat panjang. Tapi sekilas, sarung sejak dulu digunakan oleh kaum nasionalis dan santri. Tapi lambat-laun, hanya kaum santri saja yang mengenakan sarung dan tiba-tiba sarung dianggap kampungan atau Ndeso.

“Sarungan bukan ndeso atau kampungan. Sarungan itu keren. Kita harus keluarkan sarung dari citra negatif dan dianggap hanya mewakili kelompok tertentu. Sarungan ini untuk semua orang karena sarungan bagian dari budaya nasional,” ujarnya.

Menaker Hanif juga mengajak pegawai Kemnaker untuk mengenakan sarung setiap hari Jum’at. “Monggo di Kemnaker, tiap hari Jum’at pakai sarung, itu tak masalah. Saya tidak akan mewajibkan untuk bersarung tapi kalau hari Jum’at pakai sarung, kita kasih jempol,” kata Hanif seraya memperagakan jari jempolnya ke hadapan pegawai Kemnaker dan disambut applaus.

Hanif menjelaskan sarung bisa digunakan untuk berbagai macam jenis aktivitas. Misalnya untuk ibadah sholat dan aktivitas lain.

“Tapi intinya, kita ingin sarung ini kembali populer menjadi budaya nasional dan membantu penciptaan lapangan kerja di bidang produksi sarung. Mari kita harus bangga dengan jatidiri Indonesia,” katanya.


(*)

IHSG Diprediksi Bakal Tertekan

Liputan6.com, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi pada perdagangan saham Jumat (1/3/2019). IHSG kemungkinan tertekan dengan diperdagangkan pada level 6.418-6.585.

Dari sisi global, pasar akan menantikan data harga konsumen Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada pekan ini. Sedangkan dari domestik, pemerintah mencatat isu-isu geopolitik seperti pembicaraan dagang AS-China masih berlanjut.

Tak hanya itu, Pertemuan Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un menandakan bahwa risiko geopolitik berpeluang melandai.

“Melihat hal ini, IHSG kemungkinan masih akan tertekan pada kisaran support dan resistance di level 6382-6494,” ungkap Head of Research PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi Taulat.

Adapun menurut Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan, IHSG secara teknikal menunjukan potensi pelemahan di rentang 6.374-6.561.

Saham-saham rekomendasi hari ini ialah sebagai berikut:

Saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT JAPFA Tbk (JPFA), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Kemudian saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

2 dari 2 halaman

Penutupan Kemarin

Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Aksi jual investor asing menekan laju IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Kamis (28/2/2019), IHSG merosot 82,33 poin atau 1,26 persen ke posisi 6.443,34. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,53 persen ke posisi 1.006,09. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Sebanyak 282 saham melemah sehingga menekan laju IHSG. 124 saham menguat belum mampu menahan pelemahan IHSG. 126 saham diam di tempat. Pada Kamis pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.526,93 dan terendah 6.433,34.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 473.327 kali dengan volume perdagangan saham 14,6 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,7 triliun.

Investor asing jual saham Rp 1,25 triliun di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) di kisaran Rp 14.065. 10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham aneka industri turun 4,81 persen, dan bukukan penurunan terbesar. Disusul sektor saham manufaktur tergelincir 1,7 persen dan sektor saham tambang merosot 1,69 persen.

Di tengah tekanan IHSG, ada sejumlah saham yang mampu menguat. Saham-saham itu antara lain saham OCAP naik 24,58 persen ke posisi 294 per saham, saham HDFA melonjak 21,62 persen ke posisi 180 per saham, dan saham TOBA menanjak 7,84 persen ke posisi 1.720 per saham.

Sedangkan saham-saham yang melemah antara lain saham TINS merosot 13,29 persen ke posisi 1.370 per saham, saham CINT tergelincir 12,41 persen ke posisi 254 per saham, dan saham ARII terpangkas 6,59 persen ke posisi 850 per saham.

Bursa saham Asia kompak tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng merosot 0,43 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi turun 1,76 persen, dan bukukan penurunan terbesar di Asia.

Selain itu, indeks saham Jepang Nikkei susut 0,79 persen, indeks saham Thailand melemah 0,56 persen, indeks saham Shanghai merosot 0,44 persen dan indeks saham Singapura tergelincir 1,15 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, ada sejumlah faktor pengaruhi IHSG. Pertama, minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Kedua, lesunya aktivitas manufaktur dan non-manufaktur di China yang ditandai dengan turunnya data indeks.

Ketiga, meredanya optimisme terhadap hubungan perdagangan AS dengan China akibat pernyataan dari ketua perwakilan dagang AS Robert Lighthizer.

Keempat, Belum tercapainya kesepakatan denuklirisasi di kawasan Semenanjung Korea pada perundingan tingkat tinggi antara AS dan Korea Utara di Vietnam. “Kelima krisis Kashmir menyebabkan para pelaku pasar memindahkan asetnya kepada instrumen yang bersifat safe haven seperti emas, yen, dan swiss franc,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Cerita Mistis Keris Berjalan dari Tanah Jawa hingga ke Serambi Makkah

Liputan6.com, Aceh – Keris tua itu tak pernah sekalipun dimandikan lazimnya ritual yang sering dilakukan kepada benda-benda pusaka sejenisnya. Ia hanya diikat kawat dan ditutupi kaca seukuran panjang dan lebar keris tersebut di dalam sebuah tiang beton.

Benda pusaka itu tak pernah disentuh. Dibiarkan begitu saja. Seolah mengambang di antara tiang-tiang beton lain yang ada di sekelilingnya. Jika hari sepi, aura magis bisa begitu kental dirasakan bagi yang datang ke tempat keris itu berada.

Banyak kabar burung beredar tentang keris tersebut, yang sebagian besar tidak bisa diterima akal sehat. Ada yang bilang keris itu datang sendiri mengikuti seorang ulama saat datang dari tanah Jawa ke Aceh.

Menurut kabar, yang menguasai keris itu disebut-sebut terpana dengan kealiman sang ulama, lalu mengikutinya hingga ke tanah kelahiran sang ulama tersebut.

Cerita lain mengatakan, keris itu masih memiliki silsilah pemilik yang masih bertautan darah dengan si ulama. Makanya, tak heran jika keris itu mengikuti keturunan pemiliknya terdahulu yang berhak menjadi ahli waris.

“Dia ikut Abu. Keris itu ikut saat Abu Peuleukueng pulang dari Jawa,” kata Masykur, saat berbincang dengan Liputan6.com, di sebuah warung kopi di Nagan Raya, beberapa waktu lalu.


2 dari 3 halaman

Sang Pemilik Keris

Jika berkunjung ke Masjid Jamik Abu Habib Muda Seunagan Peuleukueng di Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, Anda akan melihat keris itu ditambat pada tiang utama masjid.

Tiang tempat keris itu berada dicat kuning sepia bergaris hijau dikelilingi tiang lainnya yang berwarna putih.

Abu Peuleukueng atau sang ulama yang konon diikuti oleh keris tadi yang menaruh benda pusaka itu di tiang masjid.

Selain cerita di atas, terdapat kisah lain ikhwal asal muasal keris itu. Tim Liputan6.com menjajakinya lewat sejumlah literasi dan wawancara dengan keturunan Abu Habib Muda.

Abu Peuleukueng atau Abu Habib Muda Seunagan adalah seorang ulama yang juga Republiken sejati. Ia punya jasa mempertahankan lndonesia yang saat itu baru saja dikumpulkan bak puzzle setelah lepas dari cengkeram kolonialis-fasis, dari unsur-unsur yang membahayakan kesatuan RI.

Salah satu yang ditentangnya adalah upaya DI/TII melalui masinisnya Daud Beureueh, yang ingin pisah dari RI lalu membentuk negara sendiri berasaskan Islam sebagai tumpuannya.

Saat itu, pertumpahan darah antara kelompok Abu Habib Muda dengan Daud Beureueuh yang notabene saudara sebangsa tak terelakkan.

Sukarno, Sang Presiden pun terkagum oleh nasionalisme yang ditunjukkan oleh Abu Habib Muda.

Sang ulama itu digadang-gadang berperan dalam mempertahankan perdamaian dan kedamaian Aceh. Lebih luas Indonesia pada masa awal berdirinya. Ia pun diundang ke istana sebagai tamu negara.

Setelah bertemu Sukarno, Abu Habib Muda Seunagan minta diantar ke Masjid Demak. Menurut dia, salah satu tiang masjid itu dibangun oleh pendahulunya bernama Said Athaf.

3 dari 3 halaman

Asal Keris

Sebagai catatan, Masjid Demak dibangun pada masa pemerintahan Raden Patah, Sultan I Demak, pada 1481 Masehi. Pembangunan dilakukan bersama para wali, sehingga masjid ini dikenal sebagai Masjid Wali. Masjid Demak menjadi saksi sejarah kebesaran agama Islam dan juga Kesultanan Demak.

Sementara, beberapa literasi menyebut Said Athaf memiliki nasab dengan Nabi Muhammad, melalui Raden Fatah hingga ke Ja’far As-siddiq selaku keturunan cucu Nabi Muhammad, yakni Husein.

Selanjutnya, setiba di Masjid Demak, Abu Habib Muda tidak langsung masuk ke dalam masjid. Namun, terlebih dahulu ia mengitari masjid dengan mengucapkan tasbih sebanyak tujuh kali.

Di dalam masjid, ia menyaksikan satu tiang yang tampak berbeda dengan tiang lainnya. Tiang inilah yang dibangun oleh Said Athaf dari serbuk kayu sisa pembuatan tiang masjid tiga temannya.

Konon, keris tersebut berada di Masjid Demak dan mengikuti Abu Habib Muda saat pulang. Namun, ada juga yang mengatakan kalau pengurus masjid memberikannya kepada Abu Habib Muda sebagai cendera mata.

Terlepas benar tidaknya rumor mengenai keris tersebut, sosok Abu Habib Muda Seunagan memang cukup fenomenal di Aceh. Ia dengan tarekat Syattariahnya cukup mengemuka di Aceh.

Pengikutnya pun tak tanggung-tanggung. Jumlah mereka ribuan. Tersebar di seluruh Aceh, dengan pusatnya Nagan Raya.

Ulama bernama asli Habib Muhammad Yeddin bin Habib Muhammad Yasin ini wafat 14 Juni 1972. Dia dimakamkan di kompleks masjid yang dibangunnya, di tempat keris tersebut berada.


Simak video pilihan berikut ini: