KPK Bakal Hadirkan Menpora Imam Nahrawi di Persidangan

Nama Imam Nahrawi muncul dalam persidangan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy. Dalam sidang, jaksa KPK mengonfirmasi keterangan Sekretaris Bidang Perencanaan dan Anggaran KONI, Suradi yang tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Menurut Jaksa KPK Titto Jaelani, dalam BAP Suradi menyebut bahwa pada Kamis, 13 Desember 2018 Ending Fuad Hamidy mengarahkan pembuatan alternatif pembiayaan kegiatan pada KONI sebesar Rp17,9 miliar.

“Pada waktu itu Fuad Hamidy meminta saya menyusun beberapa alternatif kegiatan agar biaya sebesar-besarnya dikeluarkan KONI Rp 8 miliar dari total Rp17,9 miliar karena Fuad Hamidy punya kebutuhan untuk memberikan uang ke Kemenpeora seperti Menpora, Ulum, Mulyana dan beberapa pejabat lain’, apakah benar?” tanya Jaksa Titto.

“Betul, waktu Pak Sekjen mengatakan ‘uangnya tidak cukup, tolong dibuat Rp 5 miliar karena ternyata kebutuhannya seperti ini ada Rp 3 miliar sekian seperti di daftar’, lalu ditambah Rp 5,5 miliar jadi sekitar Rp 8 miliar,” jawab Suradi.

Mendengar jawaban Suradi, Jaksa KPK menunjukan bukti berupa catatan daftar pembagian uang yang dibuat Suradi. Dalam catatan itu, terdapat 23 inisial nama yang lengkap dengan nilai uang yang akan diberikan. Kepada Suradi Jaksa KPK mengonfirmasi siapa saja mereka yang disebut dalam inisial tersebut.

“Barang bukti, inisial M apa maksudnya?” tanya Jaksa KPK lagi.

“Mungkin untuk menteri. Saya tidak tanya Pak Sekjen, asumsi saya Pak Menteri,” jawab Suradi.

Selain inisial M, terdapat pula inisial UL. Menurut Suradi itu adalah inisial satf Menpora Miftahul Ulum. Menurut Suradi, Ulum mendapat jatah Rp 500 juta, sedangkan M yang ia tafsirkan sebagai Menpora dalam daftar tersebut mendapatkan sebesar Rp 1,5 miliar.

“Jadi Rp 2 miliar penjumlahan dari Rp 1,5 miliar dan Rp 500 juta,” ucap Suradi.

Menurut Suradi, total yang akan diberikan kepada 23 inisial itu Rp 3,43 miliar. Meski membuat daftar penerima fee, Suradi tidak mengetahui apakah uang itu sudah diberikan atau belum. Termasuk fee yang ia tafsirkan untuk Menpora.

“Kalau diberikan, saya belum terima, yang lain saya tidak tahu,” tutur Suradi.

Dalam perkara ini Ending Fuad Hamidy beserta Bendahara Umum KONI Johny E Awuy didakwa menyuap pejabat Kemenpora. Suap itu untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan KONI Pusat kepada Kemenpora pada tahun kegiatan 2018.

Johny dan Fuad diyakini memberikan hadiah berupa satu unit Mobil Fortuner VRZ TRD warna hitam metalik dengan nomor polisi B 1749 ZJB kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana turut menerima uang sejumlah Rp300 juta.

Kemudian, satu buah kartu ATM Debit BNI nomor 5371 7606 3014 6404 dengan saldo senilai Rp100 juta dan satu buah handphone merk Samsung Galaxy Note 9. Fuad turut berperan memberikan hadiah kepada Adhi Purnomo dan Staf Deputi IV Olahraga Prestasi Kemenpora Eko Triyanta berupa uang Rp215 juta.

Akibat perbuatannya, Johny dan Fuad disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Kemenpora Gelar Turnamen Futsal Antar Unit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelar turnamen futsal Antar Unit di Lingkungan Kemenpora dijadwalkan bergulir di Lapangan Futsal Kemenpora, Senayan, Jakarta, Jumat (1/3/2019). Turnamen yang dilaksanakan oleh Kemenpora Soccer Community (KSC) bakal diikuti sebanyak 15 tim.

Ketua Panitia turnamen futsal antar unit di Kemenpora, Jumakir mengatakan turnamen ini akan digunakan sebagai seleksi pemain untuk ajang Pekan Olahraga Nasional (Pornas) Korpri yang akan diikuti Kemenpora. Selain itu, ajang ini juga digunakan untuk mempererat silahturahmi dan meningkatkan produktifitas kerja.

Sebanyak 15 tim juga sudah dibagi dalam tiga grup, yakni A, B dan C (per grup diiisi lima tim). Yang berhak lolos ke babak delapan besar adalah juara dan peringkat kedua dari setiap grup dan ditambah dua tim peringkat tiga terbaik.

Salah satu unggulan di turnamen futsal ini yaitu Journalist Kemenpora FC. Tim yang disponsori Forum Sekolah Sepak Bola Indonesia (FOSSBI) membidik gelar juara seperti yang baru ditorehkan oleh Timnas U-22.

“Materi pemainnya bagus-bagus, bisa saling melengkapi dan memiliki semangat tinggi untuk juara. Mereka terlecut dan ingin seperti Timnas U-22 yang baru saja juara Piala AFF. Tentunya ini menjadi modal yang bagus buat saya serta Presiden FOSSBI, Zuchli Imran Putra yang selalu siap memberikan dukungan,” kata Pembina Journalist Kemenpora FC, Anwar Sadat seperti rilis yang diterima Liputan6.com.

FOSSBI sendiri ditunjuk menjadi operator untuk kejuaraan sepak bola U-12 Piala Menpora Imam Nahrawi. Kejuaraan ini menjadi salah satu unggulan di Kemenpora di bawah pimpinan Imam Nahrawi.

2 dari 2 halaman

Hasil Drawing:

Grup A

1. Deputi 4 PP ITKON

2. Sekuriti Kemenpora

3. LPDUK

4. Biro Roren Ins

5. Deputi 2


Grup B

1. Biro KRT

2. RSON

3. Biro Humas dan Hukum

4. INAPGOC

5. Journalist Kemenpora FC


Grup C

1. TU Menteri

2. Deputi 3

3. PP PON

4. BRI KC Palmerah

5. Deputi 1

4 Fakta Pertemuan Timnas U-22 dengan Jokowi di Istana Merdeka

Liputan6.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima skuat pemain sepakbola Timnas U-22 dan pelatih Indra Sjafri di beranda Istana Merdeka Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Seperti diketahui, Timnas U-22 berhasil menjadi pemenang AFF U-22 2019 dengan mengalahkan Thailand 2-1 di laga final.

Rombongan tiba di Kompleks Istana Kepresidenan sekitar pukul 09.15 WIB. Mereka tampak kompak mengenakam seragam timnas berwarna merah. Jokowi lalu menyambut mereka di beranda Istana Merdeka Jakarta.

Pertemuan itu pun berlangsung hangat. Tak lupa, sang Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyampaikan rasa bangganya kepada Timnas U-22 yang berhasil meraih kemenangan.

Pelatih Timnas U-22 Indra Sjafri kemudian menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi atas apresiasi yang diberikan kepada para pemainnya.

Berikut fakta-fakta pertemuan Timnas U-22 dengan Presiden Jokowi dihimpun Liputan6.com:

2 dari 6 halaman

1. Sampaikan Rasa Bangga

Presiden Jokowi mengungkapkan rasa bangganya kepada para pemain yang berhasil membawa pulang trofi AFF U-22.

“Saya dan seluruh rakyat Indonesia merasa bangga sekali atas prestasi dari ini generasi baru sepakbola Indonesia yang kita harapkan kebangkitan sepakbola Indonesia dimulai dari titik ini,” ucap Jokowi.

Dalam kesempatan ini, para pemain Timnas U-22 ditemani oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria, dan Sesmenpora Gatot S Dewa Broto. Sementara Itu, Jokowi didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

3 dari 6 halaman

2. Berikan Bonus

Presiden Jokowi kemudian memberikan bonus Rp 200 juta untuk para pemain Timnas U-22 yang telah memenangi AFF U-22 2019.

Selain dari Jokowi, para pemain asuhan Indra Sjafri ini juga telah mendapat bonus dari Menteri Pemuda dan Olaharaga (Menpora) Imam Nahrawi senilai Rp 65 juta.

“Terakhir kemarin Menpora memberi bonus berapa? Masing-masing pemain Rp 65 juta. (Bonus) dari saya masing-masing 200 (juta), sudah,” kata Jokowi di depan para pemain Timnas U-22 di Halaman Istana Merdeka Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Selain para pemain, Jokowi juga memberikan bonus Rp 200 juta untuk pelatih Timnas U-22 Indra Sjarif dan asisten pelatih.

“Pelatih dan asisten pelatih juga dapat (bonus) semua. Dokternya juga dapat,” ucap mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

4 dari 6 halaman

3. Pelatih Sampaikan Komitmen Timnas U-22

Pelatih Timnas U-22 Indra Sjafri mengatakan ada dua event perhelatan sepak bola yang akan diikuti yaitu, AFC dan Sea Games.

Kepada Jokowi, dia pun berkomitmen membawa skuat asuhannya. Timnas U-22 menjadi juara di AFC dan Sea Games. Menurut Indra, apabila anak asuhnya berhasil membawa pulang piala AFC, Indonesia berpeluang mengikuti Olimpiade 2020.

“Ada dua event penting yang diberikan tugas kepada kami Pak, AFC dan Sea Games. AFC itu kalau nanti kita lolos, juga akan menentukan kita untuk kualifikasi olimpiade. Setelah itu Sea Games. Ini dari tahun 1991 kita belum pernah dapat medali emas, izin Allah nanti kita akan wujudkan Pak,” kata Indra di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Indra menyebut prestasi yang diraih Timnas U-22 saat ini tak lepas dari dukungan yang diberikan Jokowi melalui Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional. Dia berharap agar Inpers ini segera disosialisasikan ke klub dan masyarakat.

“Mungkin itu dan juga terima kasih Inpers bapak mungkin ini sosialisasinya yang belum sampai ke klub-klub, ke masyarakat. Dan saya teman-teman sepak bola mengucapkan terima kasih,” kata Indra.

5 dari 6 halaman

4. Permintaan Pemain Timnas U-22

Kapten Timnas U-22, Bagas Adi Nugraha menyampaikan permintaan khusus kepada Jokowi.

“Di sini saya menyampaikan, ada yang berharap ingin jadi PNS, Polisi, TNI. Dari saya sendiri, dari teman saya, mereka ada yang anggota polisi. Diangkat naik pangkat Pak. Mungkin untuk TNI mohon kejelasannya, Pak,” kata Bagas.

Para pemain pun sontak bersorak dan bertepuk tangan. Jokowi pun berjanji menindaklanjuti permintaan bek Bhayangkara FC itu.

“Saya urus nanti yang TNI dan polisi,” ucap Jokowi.

Tak hanya Bagas, pemain sayap Osvaldo pun menyampaikan harapannya agar teman-teman dalam satu Timnas U-22 bisa menjadi anggota Polri atau Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Saya sendiri kuliah, mungkin rekomendasikan karena sudah tinggalkan kuliah lama. Kalau bisa ya PNS, itu aja, Pak,” kata Osvaldo.

“Ini menggunakan kesempatan namanya,” timpal Jokowi.

Setelah itu, Marinus yang berasal dari Sarmi, Papua. Dia tidak meminta persoalan pribadi kepada Jokowi, namun Marinus berharap agar pemerintah memperbaiki jalan di kampung halamannya.

“Di sana sekarang transportasi, jalan-jalannya masih jelek, pembangunan belum bagus, mudah-mudahan lebih bagus dari tempat lain,” tutur Marinus sembari malu-malu.

Mendengar itu, Jokowi merasa heran lantaran Marinus bukan meminta sesuatu berkaitan dengan sepakbola.

“Bukan urusan sepakbola, urusan jalan,” ucap Jokowi disambut tawa.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Menpora Siapkan Bonus Rp 2,1 Miliar untuk Timnas Indonesia U-22

Jakarta – Timnas Indonesia U-22tampil menjadi juara Piala AFF U-22 2019 di Kamboja. Gelar ini didapat tim asuhan Indra Sjafri usai menekuk Thailand 2-1 di laga puncak, di Olympic Stadium, Kamboja, Selasa (26/2/2019) malam waktu setempat.

Menpora, Imam Nahrawi, datang secara khusus menyaksikan duel ini. Ia menyiapkan bonus fantastis buat anak-asuh Indra Sjafri.

Timnas Indonesia U-22 sempat tertinggal 0-1 pada menit ke-57. Kapten Thailand, Saringkan Promsupa, berhasil mencetak gol dengan tandukan setelah menerima umpan tendangan bebas dari rekan setimnya.

Namun, keunggulan tersebut tak bertahan lama. Timnas Indonesia U-22 berhasil membalas lewat gol yang dicetak Sani Rizki Fauzi pada menit ke-58. 

Timnas Indonesia U-22 berhasil berbalik unggul pada menit ke-63. Seperti halnya gol yang dicetak Thailand, Tim Garuda Muda berhasil mencetak gol lewat tandukan Osvaldo Haay setelah menerima umpan tendangan bebas Luthfi Kamal Baharsyah.

Menpora usai pertandingan langsung turun menemui awak tim di ruang ganti. Ia berujar:

Alhamdulillah. Tadi ada yang minta prediksi berapa skor, kita menang 2-1. Alhamdulillah, 2-1 untuk indonesia. Penggawa timnas luar biasa, keren sekali. Pemain kita ternyata tidak seperti yang diduga sebelumnya, mereka berani menempel masuk menusuk alhamdulillah beberapa peluang dan gol tercipta.Terima kasih coach Indra sjafri dan seluruh ofisial tim,” ujar Imam Nahrawi.

Para Timnas Indonesia U-22 juga dijanjikan bonus dengan nominal menggiurkan. “Kami siapkan bonus buat pemain. Kalau hitung total bonus mencapai Rp 2,1 miliar. Pemain belum ada yang tahu soal ini,” terang Imam.

2 dari 2 halaman

Selebrasi Juara

Imam juga  berencana menggelar acara selebrasi juara di Indonesia. “Kami siapkan arak-arakan buat Timnas Indonesia U-22. Kesuksesan ini layak dirayakan.”

“Itu wujud terima kasih kami dan tentu syukur kita kepada PSSI, timnas, para atlet kita yang keren ini. Kita akan menyambut para pahlawan sepak bola ini kembali ke Tanah Air dengan sambutan yang Insya Allah gegap gempita, penuh kemeriahan dan kegembiaraan atas nama Merah Putih,” timpalnya lagi.



Sukses Timnas Indonesia U-22 Menjuarai Piala AFF Diharap Jadi Motivasi Timnas Senior

Jakarta – Iwan Budianto, Manajer Timnas Indonesia U-22, memberi aplaus luar biasa kepada sukses tim asuhan Indra Sjafri ini yang sukses jadi juara Piala AFF U-22 2019. Iwan berharap sukses ini bisa jadi pelecut motivasi bagi Timnas di level senior. 

Gelar juara masuk genggaman Timnas Indonesia U-22 setelah mengalahkan Thailand 2-1 pada final di Olympic Stadium, Phnom Penh, Kamboja, Selasa (26/2/2019).

Pada pertandingan ini, Timnas Indonesia U-22 tertinggal lebih dulu setelah gawang Awan Setho dibobol kapten Thailand, Saringkan Promsupa, pada menit ke-57. 

Namun, gol Thailand itu tak membuat Indonesia terpuruk. Skuat Garuda Muda berhasil bangkit melalui gol Sani Rizki Fauzi dan Osvaldo Haay. Dua gol itu sudah cukup mengantar tim besutan Indra Sjafri naik podium tertinggi. 

“Alhamdulillah kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena doa seluruh masyarakat terkabul dan Timnas Indonesia U-22 akhirnya menjadi juara,” kata Iwan Budianto setelah pertandingan. 

“Exco dan semua pengurus PSSI mengapresiasi perjuangan pemain, pelatih, dan ofisial Timnas Indonesia U-22 yang tidak kenal lelah sejak dari persiapan tim hingga menuju Kamboja,” imbuh dia. 

2 dari 2 halaman

Dukungan Suporter

Kemenangan ini menjadi awal manis bagi Indonesia pada 2019. Apalagi gelar ini diraih di tengah kisruh pengaturan skor yang juga mengacak-acak PSSI.  

Iwan berharap kemenangan itu bisa membuat Timnas Indonesia senior terlecut untuk meraih prestasi juga di pentas internasional.  

“Sekali lagi terima kasih kepada semua warga Indonesia, termasuk Bapak Presiden Jokowi, Menpora Imam Nahrawi, dan semua suporter Indonesia atas doa dan dukungannya selama ini kepada Timnas Indonesia U-22,” kata Iwan. 

“Mudah-mudahan prestasi Timnas Indonesia U-22 ini menjadi pemantik bagi timnas di level senior untuk juga menjadi juara,” imbuh Iwan.  

Ma’ruf Amin: Santri Sekarang Laku di Pemerintahan

Liputan6.com, Jakarta – Cawapres Ma’ruf Amin menyemangati para santri supaya tak khawatir menghadapi masa depan. Karena menurutnya, banyak lulusan pondok pesantren yang bekerja di pemerintahan. Saat ini banyak santri menjadi kepala daerah sampai menteri. Bahkan, sudah ada yang menjadi presiden RI.

“Santri-santri sekarang laku di pemerintahan. Ada yang jadi gubernur Jatim, jadi wakil gubernur Jabar, jadi cawapres. Semoga nanti ada lagi jadi presiden. Ini momennya. Contohnya Gus Dur saja kan santri,” ujar Ma’ruf di ponpes Babakan Kempek Cirebon, Senin, (25/2/2019).

Ma’ruf menyinggung sejumlah nama kepala daerah yang lulusan pesantren. Ada nama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, dan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum.

Beberapa juga menjabat sebagai menteri kabinet kerja Joko Widodo, yaitu Menaker Hanif Dhakiri, Menpora Imam Nahrawi, dan Menag Lukman Hakim Saefuddin.

Ma’ruf pun menyinggung dalam memilih pemimpin harus mempertimbangkan agama. Menurutnya pemimpin perlu ilmu agama.

Mustasyar PBNU itu menyampaikan komitmen jika terpilih bersama Jokowi. Pasangan calon presiden nomor urut 01 bakal menjaga kestabilan negara dan prinsip Ahlus-Sunnah wal Jama’ah (Aswaja).

“Kami tetap jaga negara dan paham Aswaja,” kata Ma’ruf Amin.


Reporter: Ahda Bayhaqi

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Ma’ruf Amin Singgung Negara Punah di Istigasah: Emangnya Dinosaurus!

Jakarta – Cawapres nomor urut 01, Ma’ruf Amin, menghadiri Tabligh Akbar dan Istigasah Kubro bersama warga se-Jakarta Timur di GOR Setu Cipayung, Jakarta. Ma’ruf menyelipkan sindiran politik dalam acara itu.

Pantauan detikcom, ratusan warga berkumpul di GOR Setu, Minggu (17/2/2019). Mayoritas warga terlihat memakai busana muslim bewarna putih.

Ma’ruf tiba pukul 09.24 WIB di Gor Setu. Kedatangan Ma’ruf disambut marawis.
Ma’ruf mengenakan jas bewarna abu-abu, sarung dan peci. Ketika turun dari mobil, Ma’ruf dihampiri sejumlah orang untuk bersalaman dan berfoto bersama.
Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Imam Nahrawi, turut hadir dalam acara ini. Sejumlah petugas keamanan mengamankan area sekitar GOR.

“Hari ini kita beristigasah. Memohon kepada Allah. agar negara kita dijaga diselamatkan Allah menjadi negara yang maju,” ujar Ma’ruf di GOR Setu.

Ma’ruf juga menyinggung soal prediksi sejumlah orang soal Indonesia bakal punah. “Jangan seperti kata orang, Indonesia akan menjadi negara yang bubar. Naudzubillah min dzalik. Indonesia akan punah? memangnya dinosaurus apa!” ujar Ma’ruf.

“Indonesia akan semakin kuat, bahkan akan menjadi negara nomor 6 di dunia, ada yang mengatakan no 4 di dunia. Kita mohon kepada Allah, supaya makin hari, negara kita makin kuat, makin sejahtera,” ujar Ma’ruf.
(tor/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Selain Joko Driyono, 2 Ketua Umum PSSI Ini Sempat Bermasalah dengan Hukum

Jakarta Sejak mendeklarasikan diri sebagai organisasi sepak bola tertinggi Tanah Air pada 19 April 1930, tercatat 17 figur bercokol sebagai Ketua Umum PSSI. Mulai dari Soeratin Sosrosoegondo hingga yang terkini Joko Driyono yang berstatus caretaker menggantikan Edy Rahmayadi yang mengundurkan diri pada saat kongres tahunan awal 2019 ini.

Sejak pertama kali berdiri PSSI sering mencuatkan banyak kontroversial. Mulai dari keberanian PSSI melakukan perlawanan ke penjajah Belanda dan Jepang, kasus-kasus yang melibatkan Timnas di pentas internasional, hingga kisruh internal organisasi yang tak berkesudahan sejak 2011 silam.

Sebagai organisasi yang memayungi sepak bola, olahraga paling populer di Indonesia, merupakan sesuatu hal yang wajar jika PSSI seringkali mendapat sorotan dari banyak pihak. Di sepanjang sejarahnya mencuat sejumlah figur kontroversial yang duduk di singgasana kepemimpinan PSSI.

Joko Driyono yang saat ini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pengaturan skor oleh Satgas Antimafia Bola bentukan Mabes Polri bukan orang pertama yang tersandung kasus hukum.

Sebelumnya ada dua orang lainnya Ketua Umum PSSI yang juga harus berurusan dengan pihak berwajib. Mereka bahkan sempat merasakan derita ada di balik jeruji besi.

2 dari 3 halaman

La Nyalla Mattalitti

Selama lima tahun terakhir, nama La Nyalla Mahmud Mattalitti begitu nyaring terdengar di telinga pecinta sepak bola Indonesia. Ia jadi figur sentral kasus dualisme federasi serta kompetisi dan kini pembekuan PSSI. Daftar sikap kontroversialnya banyak semenjak aktif sebagai pengurus teras di PSSI pada tahun 2011 silam.

Figur pria asal Makassar ini sebetulnya bukan orang baru di dunia sepak bola. Tercatat, ia adalah salah satu pendiri Yayasan Suporter Surabaya (YSS) yang saat ini lebih dikenal dengan Bonek YSS. Bersama enam tokoh suporter lainnya, La Nyalla membidani lahirnya kelompok suporter militan asal Surabaya ini pada 3 November 1994 lalu.

Setelah kelahiran YSS, nama La Nyalla seperti hilang ditelan bumi. Ini tak lepas dari kesibukannya mengurusi bisnis kontraktor yang ia geluti. Karena itu, ia memilih berada di belakang layar dan mempercayakan jalannya yayasan ke mendiang Wastomi Suheri.

Setelah tujuh tahun sejak berdirinya YSS, pada 2011 La Nyalla justru muncul lagi di dunia olahraga sebagai wakil ketua KONI Jatim era kepemimpinan Saifullah Yusuf. Dari sinilah cikal bakal La Nyalla menggeluti organisasi sepak bola.

Ada pun konflik Persebaya dengan PSSI era Nurdin Halid yang membuat La Nyalla terpanggil. Ia bersama pelaku sepak bola di Jawa Timur serta mayoritas klub di provinsi paling timur pulau Jawa itulah yang mendorong La Nyalla melakukan perlawanan terhadap PSSI kala itu. Ia mendirikan PSSI tandingan dengan basis di Surabaya.

Tampaknya, perlawanan yang dilakukan La Nyalla ini mengundang simpati klub-klub di Jawa Timur. Tak heran, di awal 2011 La Nyalla didorong maju dalam pencalonan Ketua Pengurus Provinsi (sekarang Asosiasi Provinsi) PSSI Jatim. Ia pun terpilih sebagai Ketua Pengprov PSSI Jatim.


Ketua Umum PSSI 2011-2015, Djohar Arifin Husin (kiri) berbincang dengan La Nyalla Mattalitti saat Kongres Luar Biasa PSSI 2015 di Surabaya, (18/4/2015). Kongres menetapkan La Nyalla sebagai Ketua Umum PSSI 2015-2019. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)


Perlawanan yang ia lakukan semakin getol. Bersama mayoritas voters, La Nyalla pun terus berupaya melengserkan kepengurusan PSSI era Nurdin Halid. Arus besar yang menghendaki pergantian Ketua Umum PSSI inilah yang kemudian membuat FIFA turun tangan dan membentuk Komite Normalisasi yang bertugas menggelar Kongres PSSI.

Melalui Kongres PSSI pada 9 Juli 2011 La Nyalla terpilih sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Namun, tak lama setelah ia menjabat sebagai anggota Exco PSSI bidang hukum, La Nyalla bersama ketiga anggota Exco lainnya, Toni Aprilani, Roberto Rouw, dan Erwin Budiawan didepak oleh Komite Etik PSSI karena dianggap melanggar kode etik.

La Nyalla pun melawan, ia bersama Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) menggelar KLB di Hotel Mercure Ancol pada 18 Maret 2012. Di forum itu, La Nyalla terpilih sebagai ketua KPSI-PSSI untuk menandingi PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin.

Pada 2013, melalui perjanjian antara KPSI dan PSSI yang dimediasi oleh AFC, pria yang menjabat sebagai ketua ormas Pemuda Pancasila Jatim kembali masuk ke PSSI. Melalui Kongres Luar Biasa PSSI pada 17 Maret 2013, La Nyalla pun terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI.

Setelah masa kepengurusan Djohar selesai, La Nyalla maju sebagai calon Ketua Umum PSSI. Ia pun terpilih sebagai ketua umum PSSI lewat Kongres PSSI pada 17 Maret 2015 di Hotel JW Marriot, Surabaya.

Namun, hanya saat setelah ia terpilih, Menpora Imam Nahrawi menjatuhkan sanksi administratif terhadap kepengurusan PSSI pimpinan La Nyalla. Kegaduhan pun terjadi, roda organisasi yang ia pimpin lumpuh akibat hukuman tersebut.

Selain oleh Kemenpora, status PSSI juga dibekukan sejak bulan Mei 2015 oleh FIFA. Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut menjatuhkan sanksi ke PSSI karena intervensi pemerintah (Kemenpora). Hal yang dinilai tabu oleh FIFA.

Selama setahun ia terpilih sebagai nakhoda PSSI, kepemimpinan La Nyalla tak berhenti digoyang prahara. Ditekan Kemenpora ia sama sekali tak takut. Hingga saat ini klub-klub anggota belum ada yang berani menggoyang kepengurusannya. 

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah Kaamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim. Suara-suara yang menginginkan digelarnya Kongres Luar Biasa PSSI untuk mencari pemimpin baru mulai bermunculan.

Gara-gara huru hara antara pemerintah dengan La Nyalla, FIFA sempat menjatuhkan vonis pembekuan keanggotaan selama setahun lebih. Otoritas tertinggi sepak bola dunia menilai pemerintah Indonesia terlalu ikut campur dalam urusan sepak bola.

La Nyalla Mattalitti, tetap keras hati menolak mundur sekalipun jadi tersangka.  Ia minta publik menghormati proses pengadilan hingga memiliki kekuatan hukum tetap. Ia secara kontroversial menuding Menpora, Imam Nahrawi, menjadi dalang penetapan status tersangka di kasus uang hibah Kadin Jatim.

La Nyalla akhirnya terpingirkan dari PSSI karena terkena penahanan oleh kepolisian. PSSI kemudian menggelar Kongres Luar Biasa dengan memunculkan Edy Rahmayadi sebagai nahkhoda baru.

Dalam persidangan pada 17 Desember 2016, La Nyalla diputus bebas. Walau divonis tak bersalah, kursi kekuasaannya di PSSI hilang.

3 dari 3 halaman

Nurdin Halid

Menggantikan Agum Gumelar, Nurdin Halid terpilih sebagai Ketua Umum PSSI pada Rapat Anggota PSSI di Hotel Indonesia tahun 2003. Ia dikenal sebagai sosok kontroversial karena beberapa kali memimpin organisasi dari balik terali besi penjara.

Pada 16 Juli 2004, pria asal Makassar tersebut ditahan sebagai tersangka dalam kasus penyelundupan gula impor ilegal. Ia kemudian juga ditahan atas dugaan korupsi dalam  distribusi minyak goreng.

Pada tanggal 16 Juni 2005, dia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan dibebaskan. Hanya saja putusan itu kemudian dibatalkan Mahkamah Agung pada 13 September 2007. MA memvonis Nurdin dua tahun penjara.

Selanjutnya ia kemudian dituntut dalam kasus yang gula impor pada September 2005, namun dakwaan terhadapnya ditolak majelis hakim pada 15 Desember 2005 karena berita acara pemeriksaan (BAP) perkaranya cacat hukum.

Selain kasus ini, ia juga terlibat kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam dan divonis penjara dua tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Agustus 2005. Tanggal 17 Agustus 2006 ia dibebaskan setelah mendapatkan remisi dari pemerintah bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Pada 13 Agustus 2007, Nurdin Halid kembali divonis dua tahun penjara akibat tindak pidana korupsi dalam pengadaan minyak goreng. Berdasarkan standar statuta FIFA, seorang pelaku kriminal tidak boleh menjabat sebagai ketua umum sebuah asosiasi sepak bola nasional.

Nurdin Halid (Liputan6.com/Johan Tallo)

Karena alasan tersebut, Nurdin didesak untuk mundur dari berbagai pihak. Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI), Agum Gumelar (Ketua KONI), dan juga FIFA bersuara kritis ke NH.

FIFA bahkan mengancam untuk menjatuhkan sanksi kepada PSSI jika tidak diselenggarakan pemilihan ulang ketua umum. Namun, Nurdin tetap bersikeras untuk tidak mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Kekuasaannya tidak goyah sekalipun ia mengendalikan organisasi dari penjara.

Kontroversi muncul saat ia merubah statuta PSSI, berkaitan dengan status ketua umum. Statuta yang sebelum berbunyi “harus tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal” (They…, must not have been previously found guilty of a criminal offense) diubah dengan menghapuskan kata “pernah” (have been previously).

 Arti harafiah dari pasal tersebut menjadi “harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal” (must not found guilty of a criminal offense). Para anggota PSSI menyetujui perubahan tersebut. Posisi Nurdin aman sebagai Ketua Umum PSSI.

Sepanjang masa kepemimpinanya sejumlah kasus mencuat. Mulai dari penghilangan status degradasi kompetisi kasta tertinggi, pelanggaran disiplin di pentas kompetisi, hingga kasus-kasus dugaan pengaturan skor.

Nurdin jadi public enemy pencinta sepak bola Indonesia, karena di saat bersamaan prestasi Timnas Indonesia di berbagai event internasional terpuruk. 

Desakan meminta Nurdin lengser dari PSSI seusai Piala AFF 2010. Pengusaha minyak, Arifin Panigoro, terlibat aktif menggoyang kepengurusan PSSI. Ia menggelontorkan dana besar untuk membiayai pelaksanaan kompetisi tandingan, Liga Primer Indonesia.

Walau begitu pria kelahiran 17 November 1958 tetap percaya diri memimpin PSSI. Ia pun bersama Nirwan Dermawan Bakrie kembali mencalonkan diri dalam bursa pemilihan Ketua Umum PSSI pada 2011. Ia menjegal duet George Toisutta-Arifin Panigoro untuk ikut bersaing. Suporter dari berbagai penjuru Tanah Air turun ke jalan mendemo PSSI.

Untuk mengamankan jabatannya ia menggelar kongres di Kepulauan Riau. Sayangnya kongres berakhir ricuh. FIFA kemudian mengambil keputusan tegas melarang Nurdin Halid, Nirwan Dermawan Bakrie, George Toisutta, Arifin Panigoro, ikut serta dalam pemilihan pemimpin di PSSI. Di sisi lain Menpora, Andi Mallarangeng, juga membekukan status kepengurusan PSSI.

Nurdin secara menyakitkan lengser dari PSSI digantikan oleh Djohar Arifin. Sang mantan manajer klub PSM Makassar dan Pelita Jaya tersebut mengaku trauma. Ia kini memilih tak mau lagi jadi pengurus bola untuk kemudian fokus di Partai Golkar.

Survei Caleg DKI-1: Imam Nahrawi-Eko Patrio-Habiburokhman Masuk DPR

Jakarta – Lembaga survei Charta Politika merilis hasil surveinya tentang tingkat pengenalan calon anggota DPR di daerah pemilihan DKI Jakarta 1. Hasilnya, Imam Nahrawi menjadi caleg yang paling banyak dikenal.

“Jadi di DKI 1 yang paling dikenal, yang paling tinggi tingkat pengenalannya, itu ada Imam Nahrawi 51,8 persen. Kemudian nomor 2 ada Habiburokhman (31,7 persen),” kata Direktur Riset Charta Politika, Muslimin, di Resto Es Teler 77, Jalan Adityawarman, Jakarta Pusat, Senin (11/2/2019).

Imam Nahrawi.Imam Nahrawi (Ari Saputra/detikcom)

Survei dilaksanakan pada 18-25 Januari 2019. Survei dilaksanakan dengan wawancara tatap muka kepada total 2.400 responden atau 800 responden di tiap dapil. Margin of error di tiap dapil kurang-lebih 3,4 persen. Survei dilakukan di DKI Jakarta karena dianggap sebagai barometer nasional.
Selain tingkat pengenalan caleg, Charta Politika melakukan survei elektabilitas calon anggota DPR RI dari dapil DKI 1. Responden diberi pertanyaan ‘di antara nama-nama tokoh di bawah ini, siapakah yang Bapak/Ibu/Saudara pilih jika pemilihan umum legislatif dari dapil DKI Jakarta 1 dilaksanakan hari ini?’. Hasilnya, Imam Nahrawi masih menduduki posisi puncak.

“Jadi, begitu kita sebutkan beberapa nama, terutama urutan 1-2, kita sebutkan nama-nama caleg di dapil DKI 1, 15,1 persen yang akan memilih Imam Nahrawi. Kemudian Mas Eko (Eko Hendro Purnomo atau Eko Patrio) 3,8 persen. Mas Eko memang tingkat pengenalan hanya 20,2 persen. Begitu diuji, elektabilitasnya sangat signifikan, yaitu langsung naik 3,8 persen,” ungkap Muslimin.

Eko Patrio.Eko Patrio (Noel/detikFoto)

Responden juga diberi simulasi kertas suara. Di dapil DKI 1, pengaruh partai politik disebut lebih kuat karena banyak responden yang mencoblos gambar partai dibanding nama caleg.

“Kalau kita lihat dari beberapa nama memang nama-nama yang populer itu pada akhirnya cukup banyak yang kemudian orang mencoblos. Kemudian yang kedua, untuk khususnya di Gerindra dan PDIP, kalau kita lihat jauh lebih banyak yang mencoblos gambar partainya dibanding calegnya. Artinya adalah dapil 1 ini partai politiknya jauh lebih kuat dibanding caleg-calegnya, terutama di Gerindra dan PDIP,” jelasnya.

Untuk perolehan kursi, hasil survei Charta Politika menunjukkan akan ada beberapa partai yang kehilangan kursi dari DKI 1. Namun, ada juga partai yang justru menambah jumlah kursinya.

“Kursi itu akan hilang di dapil 1, kemudian PPP dan Demokrat kalau menggunakan simulasi yang sekarang. Walaupun kemudian Gerindra yang cukup signifikan karena dari 1 kursi di 2014, sekarang dari simulasi kita, Gerindra akan mendapatkan 2 kursi untuk di dapil 1,” tuturnya.

“Sisanya ada PKB, karena tadi didongkrak oleh suara Imam Nahrawi, kemudian Golkar masih bertahan dengan 1 kursi dan PDIP 1 kursi. Kemudian PKS juga hilang ya, walaupun sebenarnya masih ada sekitar 30 persenan yang tidak mencoblos kertas suara,” imbuh Muslimin.

Fenomena PKB, yang mendapatkan dongkrak suara dari Imam Nahrawi, disebut Muslimin juga terjadi di beberapa dapil. Selain itu, PKB diuntungkan karena memiliki nomor urut 1.

“Jadi peningkatan PKB cukup signifikan di survei kita karena tadi di beberapa survei kita coattail effect ya dapat karena ada Ma’ruf Amin yang tetap diasosiasikan PKB. Ada juga keberuntungan di PKB itu karena mereka nomor 1. Angka 1 cukup berpengaruh di beberapa level. Karena kita uji terbuka beberapa pemilih, tapi pas tertutup pada memilih PKB. Jadi ketika nomor 1 PKB dan calegnya nomor 1, itu punya potensi ternyata walaupun tidak populer,” papar Muslimin.

“Terutama bagi pemilih yang sampai bilik suara hanya memilih paslon 01 atau 02 saja, ketika dia membuka kertas besar, sudah pilih nomor 1 saja. Ketika tingkat pengetahuan masyarakat rendah terhadap caleg-caleg, maka bisa diuntungkan di situ,” ucapnya.

Berikut ini 10 besar tingkat pengenalan calon anggota DPR RI dapil DKI Jakarta 1:
Imam Nahrawi 51,8 persen
Habiburokhman 31,7 persen
Putra Nababan 26,7 persen
Wanda Hamidah 26,3 persen
Asril Hamzah Tanjung 24,4 persen
Chica Koeswoyo 23,7 persen
Bambang Atmanto Wiyogo 23,5 persen
M Yusuf Mujenih 22,9 persen
Mardani Ali Sera 22,7 persen
Sb. Wiryanti Sukamdanu 21,3 persen

Berikut ini 10 besar elektabilitas calon anggota DPR RI dapil DKI Jakarta 1:
Imam Nahrawi 15,1 persen
Habiburokhman 6,8 persen
Eko Hendro Purnomo 3,8 persen
Putra Nababan 3,6 persen
Bambang Atmanto Wiyogo 3,5 persen
M Yusuf Mujenih 3,5 persen
Chica Koeswoyo 3,3 persen
Wanda Hamidah 2,3 persen
Mardani Ali Sera 2,1 persen
Asril Hamzah Tanjung 2,0 persen

Berikut ini perolehan kursi partai politik dapil DKI Jakarta 1:
PKB 1 kursi
Gerindra 2 kursi
PDIP 1 kursi
Golkar 1 kursi
NasDem 0 kursi
Garuda 0 kursi
Berkarya 0 kursi
PKS 0 kursi
Perindo 0 kursi
PPP 0 kursi
PSI 0 kursi
PAN 1 kursi
Hanura 0 kursi
Demokrat 0 kursi
PBB 0 kursi
PKPI 0 kursi
(azr/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>