“Mulai Hari ini Aku Hidup dengan HIV”

Video pertama yang berjudul “Pengalaman Gue Kena HIV” itu ternyata menarik banyak penonton. Hingga hari ini, video itu sudah ditonton 637.786 kali. Dua minggu kemudian, video kedua berjudul “6 Gejala HIV Yang Gue Alami” diunggah dan sampai hari ini ditonton lebih dari 1,5 juta kali. “Saya juga tak sadar video itu sampai viral, hingga ada sepupu yang membagikan tautan di grup Whatsapp keluarga besar,” kata anak pertama dari dua orang bersaudara itu.

Setelah video keduanya muncul media sosial miliknya kebanjiran pesan-pesan pribadi. Ada ribuan komentar ditulis di akun Youtube milik Acep. Bisa diduga, banyak yang memberikan dukungan, tapi tak sedikit pula yang justru mencerca. “Saya bisa dapat ratusan pesan dalam sehari,” katanya. Sebagian besar orang yang mengirimkan pesan itu hanya bercerita dan membuat pengakuan. “Ada yang sudah bertahun-tahun memendam rahasia bahwa dirinya terinfeksi virus HIV. Dia takut kalau orang-orang di kantornya tahu, nanti dia bakal dipecat. Ada yang minta pendapat apakah saya harus speak up. Saya bilang tidak ada kewajiban untuk membuka status sebagai orang yang kena HIV kepada orang lain.”

….stigma terhadap HIV itu tinggi banget. Karena masyarakat mengganggap HIV itu adalah masalah moralitas

Kesibukannya pun bertambah ketika banyak penonton videonya meminta untuk bertemu langsung. “Dua minggu terakhir hampir tiap hari saya ketemu ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Mereka mengaku bingung harus cerita kepada siapa statusnya,” ujar Acep. “Saya tak pernah belajar jadi konselor. Saya hanya mendengarkan mereka bercerita saja. Sepertinya itu saja yang mereka mau.”

Tak seperti pengidap penyakit lain, orang-orang yang terinfeksi HIV dan menyandang penyakit AIDS harus menanggung beban ganda, penyakitnya dan cap buruk dari orang sekitar. Menurut Program Manager Yayasan Kasih Suwitno, Tono Permana, stigma terhadap penderita HIV/AIDS sangat tinggi. Pengalamannya saat berada di Bali, seorang yang ingin melakukan tes bahkan tidak membuka helm dan masker saat berada di ruang tunggu klinik. “Banyak yang masih malu untuk melakukan tes karena stigma terhadap penyandang HIV/AIDS masih tinggi,” katanya. Akibatnya cukup sulit mendorong orang-orang yang berisiko terinfeksi HIV agar mau memeriksakan diri.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, jumlah orang yang melaporkan terinfeksi HIV pada 2014 sebanyak 32711 orang. Setahun kemudian angka itu sedikit turun, 30935 orang. Jumlah penularan lewat jarum suntik di kalangan pecandu narkoba terus turun, tapi angka penularan di kalangan homoseksual (laki-laki) cenderung naik. Meski menurut Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan IV tahun 2017 dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, faktor risiko penularan tertinggi HIV adalah kelompok heteroseksual, 22 persen, disusul kelompok homoseksual, 21 persen, dan pengguna jarum suntik tidak steril, 2 persen.

Karena itu menurut Tono, sangat penting untuk menyediakan layanan kesehatan yang bersahabat dan ramah. “Penekanannya bersahabat karena kita tahu stigma terhadap HIV itu tinggi banget. Karena masyarakat mengganggap HIV itu adalah masalah moralitas.” Yayasan Kasih Suwitno saat ini bekerja dengan RS St Carolus untuk menyokong program Ruang Carlo sejak 2010 dan dengan Kementerian Kesehatan untuk memberi dukungan teknis pada 37 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di 34 kota dan kabupaten. “Layanan kesehatan juga harus bisa melakukan tes HIV yang cepat dan menyediakan pengobatan dengan segera.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *