Mitos Gahar Suku Dayak, dari Tato sampai Sumpit Beracun

Liputan6.com, Samarinda – Suku Dayak di Kalimantan menginspirasi banyak kebudayaan di dunia. Bahkan kedahsyatan tradisi dan budaya mereka pernah membuat penjajah VOC gentar dan kebingungan.

Banyak hal tentang tradisi dan budaya Dayak. Mari kita kuopas satu per satu apa saja kegaharan mereka.

1. Seni Tato

Seni menato tubuh atau menggambar rajah tubuh menjadi salah satu tradisi yang harus diketahui warga Dayak. Seni tato dari suku dayak merupakan salah satu seni merajah tubuh tertua di dunia.

Bagi warga Dayak, banyaknya tato menunjukkan jam terbang hidup mereka. Jumlah tato akan menunjukkan jumlah wilayah yang sudah mereka taklukkan. Kosa kata penaklukan bukan berarti menguasai, namun sudah mereka kunjungi.

Ini menjadi monumen pribadi karena dalam tradisi Dayak, untuk menginjakkan kaki dari satu daerah ke daerah Dayak lainnya bukan hal mudah. Selain jaraknya yang ratusan kilometer, hal ini dilakukan dengan jalan kaki dan menembus lebatnya hutan liar.

Seni tato dari Dayak ini pula yang membuat musisi Anthony Kiedis dari Red Hot Chilli Peppers mendatangi bumi Borneo. Motivasi Anthony sederhana, mendapatkan tatto asli dari Suku Dayak. Ia rela menembus hutan lebat dan medan terjal hingga ratusan kilometer.

2. Mandau

Mandau adalah semacam parang bagi suku Dayak. Kemanapun kaum laki-laki asal Dayak pergi, di pinggangnya selalu terselip mandau. Ini bisa dimengerti karena medan yang harus ditempuh dalam keseharian suku Dayak memang sulit.

Menembus hutan lebat memiliki tingkat bahaya yang tinggi. Wajar jika membawa Mandau adalah kebiasaan dan kewajiban kaum laki-laki Dayak untuk berjaga-jaga.

Dalam adat Dayak, ada aturan pemakaian Mandau. Salah satunya adalah tidak boleh digunakan untuk mengancam. Hanya boleh digunakan untuk membela diri.

Konon, Mandau juga tak bisa sembarangan keluar dari sarungnya. Ada mitos bahwa jika Mandau sudah keluar dari sarangnya, harus ada korban yang tewas. Bisa dipahami karena ada pula Mandau pusaka yang berkekuatan magis.

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Pasukan Hantu

3. Sumpit Beracun

Masa pendudukan VOC dengan tentara Belanda sebagai alat pemukulnya, masyarakat Dayak mencoba melaan teknologi pistol, meriam, mesiu hanya dengan sumpit.

Senjata ini terbuat dari bambu panjang dan menggunakannya cukup dengan ditiup. Dalam bambu itu sudah dimasukkan peluru berupa paser beracun.

Pembina Komunitas Tarantang Petak Belanga, Chandra Putra menyebutkan senjata sederhana yang biasanya digunakan untuk berburu dan menjelajah hutan ini cukup efektif.

“Tentara musuh banyak yang mengaku menghadapi pasukan hantu. Kadang-kadang tak terlihat namun senjatanya sudah mematikan. Selain itu jika muncul, kedatangan mereka selalu tiba-tiba dan begitu cepat pula menghilang di tengah hutan,” kata Chandra.

Sumpit beracun memang bisa menaklukkan lawannya dengan cara yang cukup sadis. Biasanya, anak sumpit akan diarahkan ke leher. Begitu tertancap anak sumpit, maka korban akan kejang-kejang hingga tewas. Hal mematikan tersebut terjadi hanya dalam hitungan menit.

Keberadaan suku Dayak saat ini sudah mulai tersentuh modernitas. Namun mereka masih sangat kuat memegang teguh tradisi dan adat istiadat. Inilah kekuatan sesungguhnya suku Dayak, mampu mengelola semesta dengan berbagai kearifan lokal. (erlinda puspita wardani ~ kontributor liputan6.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *