Misteri Kidung Wahyu Kalaseba, Membuat Topeng Bisa Bergerak-gerak

Interaksi dengan dunia lain, kemudian menjadi mistis terutama ketika interaksi dengan dunia lelembut atau makhluk halus. Lelembut atau makhluk halus memang ada. Dan mereka bukanlah setan.

“Sering disalahpahami, lelembut adalah setan. Sehingga ketika ada yang kesurupan, selalu diusir. Lelembut bukanlah setan. Mereka adalah dunia berbeda yang memiliki berbagai makhluk pula, mulai dari Tuyul, Buto, Wewe, Kuntilanak, Gendruwo, Jin dan banyak lagi jenisnya,” kata Suhadi.

Adapun setan, itu serupa energi negatif yang bersifat destruktif. Sehingga setan juga ada di dalam setiap makhluk termasuk binatang dan para lelembut.

“Orang kota menyebut lelembut dengan setan. Ini barangkali beda pemahaman dengan kami,” katanya.

Sementara itu, Santoso Thoples seorang pemain Jatilan dari Kridho Turonggo Muntilan mengaku, saat mengalami trance, tidak merasakan apa-apa. Yang dirasakan hanyalah bersenang-senang bersama.

“Jadi kami berpesta. Manusia berpesta dengan menari, kemudian direspon penghuni semesta lain yang ikut menari. Karena mereka tak memiliki badan wadag, maka meminjam tubuh kami,” kata Santoso.

Namun dijelaskan pula, bahwa kondisi ndadi atau trance itu tak melulu melibatkan makhluk halus atau lelembut. Gerakan menari itu juga diperlakukan sebagai sebuah dzikir sehingga ketika sangat asyik dengan dzikirnya akan terlupa kondisi alam keduniaan.

“Ada tari Sufi yang berputar itu kan juga sambil mulutnya berzikir. Itu nggak pusing juga karena zikir sudah sedemikian merasuk. Ini tak sama, tapi mirip karena dzikir kami masih butuh alat bantu berupa gamelan, tetembangan dan sejenisnya,” kata Santoso.

Serupa dengan Santoso, Sujarwo yang berasal dari dukuh Sengi dan kini tinggal di Tangerang menyebutkan bahwa Jathilan bisa menjadi media mendekatkan diri dengan pencipta melalui tari.

Itulah sebabnya Sujarwo dan beberapa diaspora kaki Gunung Merapi di Tangerang mendirikan kelompok Sekti Kridho Budoyo, sebuah kelompok kesenian Jathilan.

“Tentu saja kami tetap menjalankan ritual keagamaan kami masing-masing. Namun tari ini adalah sebuah upaya lain untuk berinteraksi dengan semesta berbeda agar kita bisa memiliki sikap saling menghormati,” kata Sujarwo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *