Indonesia Bakal Genjot Ekspor Minyak Sawit dan Batu Bara ke India

Liputan6.com, Jakarta – Indonesia akan mendorong ekspor Crude Palm Oil (CPO) alias minyak sawit menuju India. Sebab selama ini, India merupakan salah satu pasar terbesar CPO Indonesia. selain CPO, Indonesia juga bakal mendorong ekspor batu bara.”

India banyak beli dari kita CPO dan batu bara. Mereka defisit dari kita, kita jual lebih banyak. Tapi mereka juga berusaha menjual lebih banyak,” kata Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kemenko Maritim, Ridwan Jamaluddin, saat ditemui di Hotel Westin, Jakarta, Selasa (19/3/2019).

Sebagai gantinya Indonesia juga akan menyerap produk-produk pertanian dan peternakan asal India. Produk-produk pertanian dan peternakan India, kata Ridwan, memang memiliki kualitas yang bagus khususnya pada daging sapinya.

“Produk pertanian mereka bagus, daging sapi bagus,” ucapnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Perencanaan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Ikmal Lukman, mengatakan India juga berminat untuk berinvestasi di bidang IT.

“India ini kan sebenarnya leading IT. Terus kita salah satu yang maju itu digital ekonomi. Nah, mereka coba envolve di situ. Apalagi banyak startup-startup yang perlu kita kembangkan, dalam konteks e-commerce. India banyak masuk di IT untuk para pemula,” ungkapnya. Indonesia tentu menyambut baik rencana tersebut. India sudah dikenal akan kompetensinya di bidang IT. “Karena ada spesifikasi masing-masing, dalam konteks e-commerce untuk skill IT. Walaupun dari negara lain tetap kita perlukan juga. Kalau India ini ada karakteristiknya kan, karena masif penduduknya banyak, jauh lebih murah,” ujarnya.

“Nah ini yang kita dorong. Kemudian juga, Indonesia ada sektor farmasi. India ini leading dalam produksi farmasi yang sangat efisien dan sangat kompetitif harganya. Itu yang kita harapkan,” imbuhnya.

Ikmal pun mengatakan bahwa realisasi Foreign Direct Investment (FDI) India di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Dia sekarang rankingnya udah naik. Nah ini merupakan suatu, kelihatan ada lompatan minat investasi India ke Indonesia. Kita ke depan berharap akan lebih banyak lagi,” jelas dia.

Harga Minyak Melompat ke Level Tertinggi dalam 4 Bulan

Liputan6.com, New York – Harga minyak naik mendekati level tertinggi empat bulan pada hari Senin (Selasa pagi WIB), didukung oleh prospek perpanjangan pemangkasan pasokan minyak yang dipimpin Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan tanda-tanda penurunan persediaan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Dilansir Reuters, Selasa (19/3/2019), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup pada USD 67,54 per barel, naik USD 38 sen atau 0,6 persen. Harga patokan minyak internasional ini berada dekat puncak 2019 di level USD 68,14 yang dicapai pada hari Kamis.

Harga minyak mentah antara West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di USD 59,09 per barel, menambahkan USD 57 sen, atau 1 persen, setelah mencapai tertinggi empat bulan pada USD 59,23 per barel.

OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, bertemu di Azerbaijan pada akhir pekan ini untuk memantau pakta pengurangan pasokan minyak mentah mereka. OPEC juga membatalkan pertemuan pada April, yang berarti grup produsen minyak tidak akan bertemu lagi sampai Juni.

Arab Saudi pada hari Minggu mengisyaratkan produsen mungkin perlu memperpanjang pemangkasan 1,2 juta barel per hari sejak Juni lalu hingga paruh kedua 2019. Kerajaan Arab Saudi secara umum telah memotong lebih dramatis daripada beberapa negara lain, sementara Rusia, anggota non-OPEC terbesar dalam pakta tersebut, kurang tertarik untuk melanjutkan pengurangan produksi.

Ekspor dari produsen terbesar OPEC turun menjadi 7,3 juta barel per hari di Januari dari 7,7 juta barel per hari pada Desember, data resmi menunjukkan.

Tanda-tanda penurunan tingkat persediaan minyak mentah di pusat penyimpanan AS di Cushing, Oklahoma juga mendukung harga minyak berjangka, kata para pelaku pasar.

Stok minyak mentah di Cushing, titik pengiriman untuk WTI, turun 1,08 juta barel dalam seminggu hingga Jumat, kata para pedagang, mengutip data dari perusahaan intelijen pasar Genscape.

Secara keseluruhan, persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah turun minggu lalu, penurunan mingguan kedua berturut-turut, sebuah jajak pendapat pendahuluan menunjukkan.

Produksi minyak AS dari tujuh formasi serpih utama diperkirakan akan mencapai rekor 8,6 juta barel per hari pada April, naik 85.000 barel per hari, yang akan menjadi kenaikan bulanan terkecil sejak Mei 2018, perkiraan pemerintah.

Harga Minyak Turun dari Level Tertinggi di 2019 karena Lonjakan produksi

Liputan6.com, Jakarta – Harga minyak mentah berjangka AS turun dari puncak tertinggi di 2019 pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi waktu Jakarta). Pendorong penurunan harga minyak ini karena kekhawatiran pelemahan ekonomi global dan derasnya produksi AS.

Mengutip Reuters, Sabtu (16/3/2019), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir turun 9 sen menjadi USD 58,52 per barel, setelah mencapai level tertinggi mereka tahun ini di USD 58,95 per barel.

Sedangkan untuk harga minyak mentah berjangka Brent ditutup turun 7 sen pada USD 67,16 per barel, di bawah puncak 2019 pada level USD 68,14 per barel yang dicapai pada Kamis lalu.

Harga minyak mentah AS mengakhiri minggu ini dengan 4,1 persen lebih tinggi, dan Brent naik 1,9 persen.

“Pasar sedikit mengambil jeda untuk mencerna laporan yang berbeda tentang penawaran dan permintaan di masa depan,” kata Phil Flynn, analis Price Futures group Chicago.

Permintaan di sini terkait pertumbuhan ekonomi global yang masih penuh tantangan dan jumlah produksi AS yang terus meninggkat.

“”Pertemuan OPEC + bisa memberi kita sedikit arahan,” tambah dia.

Organisasi negara pengekspor minyak dan sekutunya termasuk Rusia atau aliansi yang dikenal dengan OPEC +, pada tahun lalu setuju untuk memangkas produksi, sebagian sebagai tanggapan terhadap peningkatan produksi AS.

Para menteri OPEC + akan bertemu pada 17-18 April untuk kembali memutuskan kebijakan produksi.

“Jika OPEC + memutuskan untuk memperpanjang pemotongan produksi kami berharap bahwa harga minyak akan terus menarik setidaknya sampai kuartal III,” tulis U.S. investment Bank Jefferies dalam catatannya.

Persediaan AS Turun Picu Harga Minyak Melonjak

Liputan6.com, New York – Harga minyak berjangka menguat dua persen seiring persediaan minyak mentah AS secara tak terduga turun.

Selain itu, ada perkiraan pertumbuhan pasokan minyak mentah dari produsen utama yang direvisi lebih rendah.

Pemadaman listrik yang meluas di Venezuela telah menghentikan ekspor minyak mentah dari negara anggota OPEC yang alami pengurangan pengiriman dari sanksi AS. Hal itu membantu memperketat pasar.

Harga minyak berjangka Brent naik 88 sen atau 1,32 persen ke posisi USD 67,55 per barel. Harga minyak berjangka AS naik USD 1,39 atau 2,44 persen ke posisi USD 58,26 per barel. Harga minyak itu mencapai level tertinggi sejak pertengahan November.

Adapun stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu karena kilang meningkatkan hasil. Hal itu berdasarkan pernyataan the Energy Information Administration (EIA). Persediaan minyak mentah turun 3,9 juta barel pada pekan lalu dibandingkan harapan analis kenaikan 2,7 juta barel.

“Dengan penyuling mulai perlahan keluar dari perawatan, pemangkasan OPEC mulai menendang, dan pasokan Venezuela, Anda mungkin sekarang melihat lebih banyak keseimbangan dalam beberapa minggu mendatang. Ini terlihat sangat mendukung ketika kilang keluar dari perawatan,” ujar Phil Flynn, Analis Price Futures Group, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (14/3/2019).

Data EIA lainnya menunjukkan produksi minyak mentah AS turun dari rekor tertinggi. Produksi minyak mentah turun 100 ribu barel per hari menjadi 12 juta barel per hari pada pekan lalu.

Menko Darmin: Banyak yang Ingin RI Hanya Jadi Importir Minyak

PT Pertamina akan membangun dua kilang baru di Bontang, Kalimantan Timur dan Tuban, Jawa Timur mulai 2019. Kapasitas kedua kilang tersebut mencapai 600 ribu barel per hari (bph).

Direktur Utama PT Pertamina, Nicke Widyawati meyakini pengoperasian kilang baru ini nantinya dapat mengurangi impor minyak dan BBM Indonesia sehingga bisa memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Kalau dua kilang itu jadi, maka bisa produksi sekitar 600 ribu barel per hari. Artinya devisa yang kita keluarkan praktis nol dolar AS untuk beli minyak dari luar negeri,” tutur Nicke, Kamis (21/2/2019).

Nicke menyatakan, perseroan saat ini sudah menurunkan jumlah devisa sekitar USD 60 juta. Jumlah ini turun dari semula per hari USD 100 juta per hari.

Hal ini bisa terjadi karena ada peraturan baru dari Kementerian ESDM yang mewajibkan KKKS menjual terlebih dahulu minyaknya ke Pertamina sebelum ekspor ke luar negeri. Hal ini membuat volume impor minyak berkurang

Sekadar informasi, saat ini Indonesia masih mengimpor minyak dan BBM untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Data BPS menunjukkan nilai impor minyak mentah Indonesia pada 2018 mencapai USD 9,6 miliar dan BBM USD 17,58 miliar. Hal ini terjadi karena produksi dan kapasitas kilang minyak yang masih rendah daripada konsumsi domestik.

Kilang Tuban

Sebelumnya, Pertamina dan perusahaan migas asal Rusia, Rosneft Oil Company punya kesepakatan untuk membentuk perusahaan patungan yang akan membangun dan mengoperasikan kilang minyak baru yang terintegrasi dengan Kompleks Petrokimia (New Grass Root Refinery and Petrochemial/NGRR) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. 

Rencananya, pembangunan proyek tersebut menelan dana investasi mencapai USD 15 miliar. Kilang akan memiliki kapasitas 300 ribu bph yang akan sangat fungsional bagi Pertamina dan sangat produktif untuk menopang program strategis ketahanan energi nasional.

Pertamina melalui anak usahanya PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan Rosneft Oil Company melalui afiliasinya Petrol Complex PTE LTD menandatangani akta pendirian perusahaan patungan bernama PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP). 

Di sisi lain, kilang juga menghasilkan produk baru petrokimia. Apalagi, pembangunan megaproyek NGRR Tuban berpotensi menciptakan lapangan kerja, dengan perkiraan antara 20 ribu hingga 40 ribu tenaga kerja pada waktu proyek berjalan dan sekitar 2 ribu orang setelah beroperasi.

Pembangunan kilang Tuban merupakan proyek pembangunan kilang minyak baru dengan kapasitas produksi 300 ribu barel per hari.

Kilang Bontang

Sedangkan untuk kilang Bontang, Pertamina bermitra dengan perusahaan asal Oman yaitu Overseas Oil & Gas (OOG) untuk pembangunan kilang baru proyek Grass Root Refinery (GRR) Bontang. Komitmen ini ditandai dalam suatu perjanjian framework agreement antara kedua perusahaan.

Perjanjian kerangka kerja akan berlaku selama 12 bulan. Setelah dilakukan perjanjian kerangka kerja akan dilanjutkan dengan Bankable studi kelayakan, kemudian Studi Keenjiniringan lanjut proyek kilang yang rencananya berlokasi dekat Kilang Badak gas alam cair (Liqufied Natural Gas/LNG).

OOG merupakan badan usaha downstream oil and gas business services asal Muscat, Oman, yang memiliki lingkup bisnis servis antara lain memberikan jasa dalam commercial structure (develop), design services dengan tenaga berpengalaman, manajemen konstruksi, manajemen proyek, dukungan operasi dan pemeliharaan, serta solusi teknik dan konstruksi.

Darmin: Ada yang Ingin RI Impor Minyak Terus

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution membeberkan alasan ketertinggalan Indonesia dalam pembangunan infrastruktur di bidang minyak dan gas (migas).

Menurut Darmin hal itu dikarenakan Indonesia tak terpikir untuk membangun infrastuktur. Sebab, kala itu Indonesia masih memiliki bahkan surplus produksi minyak.

Selain itu, ada pula pihak-pihak yang berkeinginan agar Indonesia menjadi importir minyak.

“Yang menarik pada saat kita sedang surplus minyak kita tidak membangun kilang dan industri petrokimia. Kenapa kita tidak bangun? Karena ada pihak-pihak yang berkepentingan agar impor minyak terus,” ungkap dia dalam rakernas kemendag di Hotel Sangri-La, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Kata Darmin, setelah kekurangan minyak Indonesia baru gencar melakukan pembangunan industri petrokimia. Bahkan hal itu dilakukan dengan mengundang produsen minyak berinvestasi di Indonesia.

“Tahun 2005 sampai 2007 minyak kita defisit, baru kita sibuk bangun petrokimia. Itu yang diundang terbatas yang punya minyak, Rusia di Tuban, Arab Saudi di Cilacap,” ungkap dia.

Selain itu, ia juga menyoroti terkait produksi batu bara yang saat ini masih suplus agar belajar dari pengalaman. Dengan itu, ia berharap agar infrastruktur dan industri batu bara dapat terbangun.

“Mudah-mudahan kita nggak abis dulu batu bara baru sibuk bangun industri petrokimia dari batu bara,” tutup dia. (dna/dna)

AS Bakal Geser Posisi Arab Saudi sebagai Pengekspor Minyak Terbesar

Arab Saudi saat ini ekspor tujuh juta barel per hari bersama dengan dua juta barel cairan gas alam dan produksi minyak. Hal itu berdasarkan laporan Rystad.

Sebagai perbandingan, AS ekspor sekitar tiga juta barel minyak mentah per hari dan lima juta barel per hari dari cairan gas alam dan produksi minyak bumi.

Rystad berharap kesenjangan itu menghilang pada 2019, meski Arab Saudi akan tetap memimpin sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia.

Adapun the Permian Basin di Texas Barat menjadi pusat berkembangnya shale atau serpih. Kemajuan teknologi memungkinkan perusahaan untuk mencari untung dengan harga lebih rendah.

ExxonMobil lambat untuk mengembangkan, shale menyatakan, kalau produksi melonjak di the Permian Basin. Produksi di sana dapat hasilkan pengembalian rata-rata lebih dari 10 persen. Bahkan hanya USD 35 per barel. Exxon berencana produksi lebih dari satu juta barel per hari dari Permian pada 2024. Angka itu naik hampir 80 persen.

“Produksi shale semakin menguntungkan dan selera global yang kuat untuk minyak dan bensin siap membawa AS ke posisi dominasi untuk pasar minyak dalam beberapa tahun mendatang,” ujar Nysveen.

Dampak Lingkungan

AS dapat semakin mengandalkan produksi minyak di dalam negeri. Awal 2019, Departemen Energi AS memprediksi, ekspor lebih banyak energi dari pada impor pada 2020.

Hal ini belum terjadi sejak 1953. Namun, hal itu memiliki implikasi keamanan nasional yang penting.

Sementara AS masih akan perlu impor minyak untuk menggerakkan ekonominya, tidak lagi tergantung pada minyak dari negara lain seperti dulu. Sementara itu, China impor minyak lebih besar dari pada sebelumnya.

Meski demikian, dominasi energi AS membawa risiko lingkungan. Sebuah laporan baru-baru ini oleh Oil Change Internasional memperingatkan, pengembangan minyak dan gas AS dapat melepaskan jumlah polusi karbon yang sama dengan hampir 1.000 pembangkit listrik tenaga batu bara.

Pada pekan ini, Kepulauan Solomon juga terkena tumpahan minyak yang disebabkan oleh kapal yang angkut ratusan ton bahan bakar minyak. Tumpahan minyak itu mencemari perairan dekat situs warisan dunia Unesco.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pemerintah telah menetapkan PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola blok minyak dan gas (migas) Rokan‎ setelah 2021. Keputusan ini merupakan kado pemerintah untuk rakyat Indonesia menjelang hari kemerdekaan ke-73.

Harga Minyak Indonesia Naik USD 4,76 per Barel

Liputan6.com, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan rata-rata harga minyak Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) Februari 2019 mencapai USD 61,31 per barel. Angka tersebut naik USD 4,76 per barel dibanding bulan sebelumnya yang tercatat USD 56,55 per barel.

Sedangkan ICP SLC pada Februari 2019 mencapai USD 62,42 per barel, naik sebesar sebesar USD 4,96 per barel dari USD 57,46 per barel pada Januari 2019.

Dikutip dari situs resmi Ditjen Migas Kementerian ESDM, Jumat (8/3/2019), Tim Harga Minyak Indonesia menyebutkan, penyebab kenaikan harga minyak Indonesia karena perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada Februari 2019 dibandingkan Januari 2019 juga mengalami kenaikan. 

– Dated Brent naik sebesar USD 4,57 per barel dari USD 59,46 per barel menjadi USD 64,03 per barel.

– WTI (Nymex) naik sebesar USD 3,43 per barel dari USD 51,55 per barel menjadi USD 54,98 per barel.

– Basket OPEC naik sebesar USD 5,01 per barel dari USD 58,74 per barel menjadi USD 63,75 per barel.

– Brent (ICE) naik sebesar USD 4,19 per barel dari USD 60,24 per barel menjadi USD 64,43 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah utama di pasar internasional diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu respons positif pasar atas kondisi pasokan minyak mentah tingkat kepatuhan yang tinggi negara-negara OPEC dan beberapa negara Non-OPEC dalam mengimplementasikan pengurangan produksi minyak mentah.

Pernyataan Arab Saudi terkait rencana pengurangan produksi minyak mentah menjadi sebesar 9,8 juta bph di bulan Maret 2019 juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. 

Produksi minyak mentah dari Lapangan Safaniyah di Arab Saudi, lapangan minyak mentah offshore terbesar di dunia dengan kapasitas produksi lebih dari 1 juta barel per hari, mengalami penurunan produksi akibat terpotongnya main power cable.

Selain itu, respons positif pasar atas potensi berakhirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China setelah kedua negara melakukan pertemuan kembali.

Sedangkan untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan produk minyak mentah dari India. serta nerlanjutnya kebijakan stimulus ekonomi di China untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

2 dari 3 halaman

Harga Minyak Hari Ini

Harga minyak mentah dunia naik tipis didukung pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC dan sanksi AS terhadap eksportir Venezuela dan Iran. Namun, kenaikan ini masih dibatasi oleh jatuhnya pasar saham dan kekhawatiran baru tentang pertumbuhan permintaan minyak.

Melansir laman Reuters, Jumat (8/3/2019), harga minyak mentah berjangka Brent naik 26 sen, atau 0,4 persen, menjadi USD 66,25 per barel. Sementara harga Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 45 sen, atau 0,8 persen, menjadi USD 56,67 per barel.

BACA JUGAHarga Minyak Bervariasi Usai Persediaan AS MelonjakBlok Migas El Sharara Kembali Beroperasi, Harga Minyak MendatarAS-China Segera Berdamai, Harga Minyak Melompat”Gambaran besarnya adalah fundamental jangka pendek sangat kuat. Masih ada sedikit kekhawatiran tentang persediaan,” kata Phil Flynn, Analis Price Futures Group di Chicago.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia, pada tahun ini memutuskan untuk memangkas produksi dan memperketat pasar minyak, yang telah mendorong harga minyak mentah dunia.

Sanksi AS terhadap industri minyak anggota OPEC Iran dan Venezuela juga dikatakan berdampak pada harga minyak di masa depan.

Perusahaan minyak milik negara Venezuela PDVSA minggu ini mengumumkan keadaan darurat maritim. Ini dengan alasan negara kesulitan mengakses tanker dan personel untuk mengekspor minyaknya karena sanksi AS.

Ketika Amerika Serikat menerapkan kembali sanksi terhadap Iran pada bulan November, Washington memberikan keringanan kepada delapan pembeli minyak Iran. Pengabaian memungkinkan mereka untuk membeli minyak mentah dalam jumlah terbatas selama 180 hari.

Washington telah menekan negara-negara di dunia, untuk secara bertahap mengurangi impor minyaknya dari Iran menjadi nol. Tetapi para importir tetap dalam pembicaraan mengenai kemungkinan perpanjangan.

India ingin terus membeli minyak Iran pada level saat ini sekitar 300.000 barel per hari (bpd), karena negosiasinya dengan Washington tentang perpanjangan sanksi.

Tanda-tanda permintaan yang kuat untuk produk olahan dari data Administrasi Informasi Energi AS pada hari Rabu juga membuat harga minyak naik.

Meski naik, harga tetap tertekan kekhawatiran seputar ekonomi Eropa yang mendorong Wall Street lebih rendah dan memicu kekhawatiran tentang permintaan minyak global.

Untuk menstimulasi ekonomi zona euro yang sedang kesulitan, Bank Sentral Eropa mendorong kenaikan suku bunga pasca-krisis pertama ke tahun berikutnya. Bank Sentral juga menawarkan stimulus kepada bank.

Adapun pasokan minyak tetap dalam kondisi berlimpah berkat lonjakan produksi AS. Produksi minyak mentah AS mencapai rekor 12,1 juta barel per hari minggu lalu.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Sanksi dan Pemotongan Produksi OPEC Dorong Harga Minyak Naik

Liputan6.com, New York – Harga minyak mentah dunia naik tipis didukung pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC dan sanksi AS terhadap eksportir Venezuela dan Iran. Namun, kenaikan ini masih dibatasi oleh jatuhnya pasar saham dan kekhawatiran baru tentang pertumbuhan permintaan minyak.

Melansir laman Reuters, Jumat (8/3/2019), harga minyak mentah berjangka Brent naik 26 sen, atau 0,4 persen, menjadi USD 66,25 per barel. Sementara harga Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 45 sen, atau 0,8 persen, menjadi USD 56,67 per barel.

“Gambaran besarnya adalah fundamental jangka pendek sangat kuat. Masih ada sedikit kekhawatiran tentang persediaan,” kata Phil Flynn, Analis Price Futures Group di Chicago. 

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia, pada tahun ini memutuskan untuk memangkas produksi dan memperketat pasar minyak, yang telah mendorong harga minyak mentah dunia.

Sanksi AS terhadap industri minyak anggota OPEC Iran dan Venezuela juga dikatakan berdampak pada harga minyak di masa depan.

Perusahaan minyak milik negara Venezuela PDVSA minggu ini mengumumkan keadaan darurat maritim. Ini dengan alasan negara kesulitan mengakses tanker dan personel untuk mengekspor minyaknya karena sanksi AS.

Ketika Amerika Serikat menerapkan kembali sanksi terhadap Iran pada bulan November, Washington memberikan keringanan kepada delapan pembeli minyak Iran. Pengabaian memungkinkan mereka untuk membeli minyak mentah dalam jumlah terbatas selama 180 hari.

Washington telah menekan negara-negara di dunia, untuk secara bertahap mengurangi impor minyaknya dari Iran menjadi nol. Tetapi para importir tetap dalam pembicaraan mengenai kemungkinan perpanjangan.

India ingin terus membeli minyak Iran pada level saat ini sekitar 300.000 barel per hari (bpd), karena negosiasinya dengan Washington tentang perpanjangan sanksi.

Tanda-tanda permintaan yang kuat untuk produk olahan dari data Administrasi Informasi Energi AS pada hari Rabu juga membuat harga minyak naik.

Meski naik, harga tetap tertekan kekhawatiran seputar ekonomi Eropa yang mendorong Wall Street lebih rendah dan memicu kekhawatiran tentang permintaan minyak global.

Untuk menstimulasi ekonomi zona euro yang sedang kesulitan, Bank Sentral Eropa mendorong kenaikan suku bunga pasca-krisis pertama ke tahun berikutnya. Bank Sentral juga menawarkan stimulus kepada bank.

Adapun pasokan minyak tetap dalam kondisi berlimpah berkat lonjakan produksi AS.  Produksi minyak mentah AS mencapai rekor 12,1 juta barel per hari minggu lalu.

Pemerintah Pastikan Bawa Kasus Tumpahan Minyak di Batam ke Meja Hijau

Liputan6.com, Jakarta – Kasus pencemaran limbah minyak di perairan Bintan dan Bantam, Kepulauan Riau terus menjadi sorotan. Sebab, pencemaran ini terjadi tidak hanya sekali atau dua kali saja, melainkan menjadi ajang musiman pada kurun waktu tertentu.

Direktur Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rasio Ridho Sani menyatakan, saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan beberapa Kementerian Lembaga terkait lainnya untuk menangani kasus ini. Apabila ditemukan unsur kesengajaan, maka bukan tidak mungkin pemerintah akan mendorong kasus ini masuk ke dalam meja hijau.

“Yang pasti kami akan akan melakukan penegakkan hukum kepada pihak-pihak, kalau terindikasi melakukan pencemaran tumpahan minyak yang ada di Kepulauan Bintan dan kepulauan Batam,” kata Rasio usai melakukan rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Selasa (5/3/2019).

Rasio menegaskan pihaknya tidak ragu memberikan sanksi berupa pidana serta melakukan gugatan dalam bentuk perdata apabila memang ditemukan unsur kesengajaan. Karena, atas kejadian tersebut menyebabkan lingkungan dan ekosistem sekitar perairan rusak.

“Kami akan lakukan penindakan hukum secara tegas, baik pidana maupun perdata untuk ganti rugi dan biaya pemulihan,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait dengan sisa-sisa minyak yang tercecer di dua kawasan tersebut pemerintah sudah membentuk tim di lapangan untuk melakukan upaya pembersihan. Adapun tim tersebut berasal dari Pemerintah Pusat serta Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

“Tim sedang bekerja di lapangan, melakukan pembersihan-pembersihan berkaitan dengan tumpahan-tumpahan yang sudah ada. Saat ini juga sedang dilakuakn upaya penyelidikan untuk mengetahui diman sumber-sumbwe pencemaran tersebut,” pungkasnya.

2 dari 3 halaman

Sudah Tertangani dengan Baik

Di tempat yang sama, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Kepulauan Riau, Samsul Bahrun menambahkan, sebetulnya selama ini masalah pencemaran minyak tersebut sudah tertangani dengan baik. Namun, tinggal upaya pencegahaanya saja yang belum dilakukan secara maksimal.

Dia menambahkan, kasus tumpahan minyak juga tersebut terjadi secara periodik. Biasanya terjadi pada bulan September hingga April. Kondisi ini juga diperburuk dengan musim angin utara yang membawa sampah buangan kapal ke perairan Batam.

“Tinggal pencegahannya supaya tidak terjadi lagi. Apalagi musim angin utara ini, tidak hanya sampah selat tapi sampah buangan kapal juga bisa masuk ke pantai kita,” katanya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: