Pohon Tumbang di Bogor Timpa Motor, Satu Keluarga Terluka

Liputan6.com, Bogor – Hujan deras dan angin kencang menyebabkan sebuah pohon tumbang di Jalan Abdullah bin Nuh, Kota Bogor, Sabtu sore. Satu unit sepeda motor tertimpa pohon kenari sehingga mengakibatkan tiga orang terluka.

“Tiga orang yang tertimpa pohon tumbang terdiri bapak, ibu dan anaknya yang masih balita,” ujar petugas Dalops BPBD Kota Bogor Achmad Maulana, Sabtu (23/2/2019).

Kejadian bermula saat sepeda motor Honda Beat yang dikemudikan Piki Dahrani (24) dan dua penumpang Dewi Nilam Cahya (23), Afika (2 tahun) melintasi ruas Jalan Abdullah bin Nuh sekitar pukul 16.00 WIB.

Saat tiba di lokasi kejadian, pohon setinggi 9 meter dengan diameter 30 cm ini roboh dan menimpa sepeda motor bernopol F 4704 FCL itu.

Ketiganya sempat terjebak di antara batang dan dahan pohon yang tumbang di bahu jalan. Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung mengevakuasi korban.

“Ketiganya langsung dibawa ke RS Hermina untuk mendapat penanganan medis,” kata Achmad.

Dari keterangan pihak dokter, Piki Dahrani mengalami syok, sedangkan istrinya Dewi Nilam Cahya mengalami luka di bagian wajah dan di kepala. Sementara anaknya, Afika mengalami luka sobek di bagian dahi akibat pohon tumbang.

2 dari 3 halaman

Timpa Lapak PKL

Sementara itu, sekitar 100 meter dari lokasi kejadian, juga terjadi pohon tumbang dan menimpa lapak pedagang kaki lima milik Yono.

Tidak ada korban dalam kejadian tersebut, namun batang dan dahan pohon tumbang sempat menutup sebagian badan jalan.

“Saat ini dua pohon tumbang itu sudah ditangani tim TRC BPBD dan sudah disingkirkan dari badan jalan,” kata Achmad.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Wijaya Karya Bangun Jalan dan Jembatan di Asmat

Liputan6.com, Jakarta – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) bergerak cepat membangun infrastruktur jalan dan jembatan gantung untuk penanganan darurat bencana virus campak dan gizi buruk, di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Barat.

Daerah tingkat II yang berbatasan dengan Kabupaten Mimika di sebelah barat dan Kabupaten Mappi serta Kabupaten Boven Digoel di sebelah selatan tersebut, kondisi alamnya didominasi tanah berlumpur dan rawa.

Tak heran jika kemudian, rumah-rumah, termasuk jalan penghubung di Kabupaten ini pun berdiri di atas papan berbahan kayu trembesi.

Kondisi jalan papan yang sudah termakan usia puluhan tahun, tertempa terik sinar matahari dan hujan, serta menahan beban dari maraknya penggunaan motor listrik, kemudian mendorong perlunya penyesuaian dan penyempurnaan jalan dengan pengerasan beton.


Berdasarkan evaluasi  kualifikasi,  administrasi  dan teknis, harga serta pembuktian kualifikasi oleh Kementerian  PUPR Direktorat Bina Marga Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional XVIII, Wika kemudian ditetapkan sebagai pemenang untuk membangun infrastruktur vital di Asmat

Adapun cakupan pekerjaan, pembangunan jalan beton (pile slab) dan jembatan gantung 72 meter dalam kontrak bernomor HK.02.03/PJN – WIL.IV/PPK-IV.3/466.

Beratnya medan dan bentang alam yang luar biasa lebar sangat berimplikasi pada proses perjalanan pembangunan infrastruktur di Asmat.

2 dari 3 halaman

Tantangan di Asmat

Manajer Proyek Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan, Eko Suranto Putro menerangkan, setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi tantangan mendasar yang harus solutif agar proyek ini dapat selesai sesuai target.

“Pertama, kondisi tanah rawa yang dijumpai di hampir seluruh daerah ini, membuat pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi sangat sulit,” ujar dia seperti dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (23/2/2019).

Tantangan berikutnya yang dihadapi oleh adalah bagaimana diperlukannya usaha luar biasa untuk mendistribusikan material beton precast sejak diproduksi di PPB Wika Beton Pasuruan sampai ke area di belahan dalam Asmat yang sangat terpencil.

Ketiga, dalam hubungannya dengan distribusi beton precast dari PPB WTON Pasuruan menuju titik nol lokasi pemasangan dengan memanfaatkan sungai sebagai penghubung.

Namun demikian,  ternyata sungai itu memiliki draf atau kedalaman yang rendah dan sangat terpengaruh terpengaruh arus pasang surut, sehingga hanya kapal bermuatan kecil saja yang bisa masuk. 

Apakah WIKA lalu berdiam dan memilih terpaku pasrah?

Manajemen proyek yang ditopang oleh insinyur-insinyur muda dengan rata-rata usia 25 tahun itu justru men-stimulan lahirnya kreativitas-kreativitas baru di tengah keterbatasan. Untuk penyediaan air bersih terkait pengecoran beton, misalnya.

Manajemen proyek dengan cekatan membuat bak-bak, kolam penampungan air hujan yang tersebar merata di lokasi proyek.

Selain itu, sebagai alternatif, tim juga akan melakukan pembelian air bersih di distrik lain menggunakan kapal kayu.




3 dari 3 halaman

Selanjutnya

Pengiriman material precast dari PPB WTON Pasuruan menuju Asmat juga bisa dicarikan solusi terbaiknya melalui kerja sama dengan ekspedisi yang kaya asam garam melayani rute Indonesia timur dengan kapal kargo berkapasitas 2.400 ton, langsung menuju Pelabuhan Agats.

Setelah tiba di Agats, material precast dipindahkan terlebih dahulu ke LCT (landing craft tank) yang kemudian masuk ke sungai menuju area pekerjaan. Sebagai catatan, pembongkaran dilakukan tidak menggunakan waktu normal sebagaimana pembongkaran barang pada umumnya.

Mengingat dan mempertimbangkan material precast memiliki bobot yang berat, maka untuk memudahkan proses pemindahannya dilakukan saat kondisi sungai pasang yaitu pada rentang  jam 2 dini hari.

Kemudian menjawab bagaimana mekanisme langsir precast dengan bobot yang berat ke area pemasangan di tanah yang lunak. Manajemen proyek Wika menerapkan dua metode efektif.  Pertama, untuk area yang kosong.

Pada arena ini, tim Wika menggunakan excavator dengan memberi dudukan kayu pada track atau lintasan excavator itu sendiri. Kedua, yaitu tim proyek berinisiasi membuat portal baja yang dapat beroperasi pada rel baja (rel dijepit pada tiang yang sudah terpancang).


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Sungai Citarum Meluap, Banjir 1 Meter Rendam Kampung Bojong Asih Bandung

Liputan6.com, Bandung – Banjir akibat luapan Sungai Citarum di Kabupaten Bandung, Jawa Barat semakin parah. Di sejumlah titik, ketinggian air sudah lebih dari 1 meter.  

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Sabtu (23/2/2019), banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, semakin meluas. Situasi itu akibat intensitas hujan yang sangat tinggi di hulu Sungai Citarum, seperti di Majalaya dan Pangalengan.

Bojongasih merupakan daerah paling parah terdampak banjir dengan total hampir 300 rumah.  BPBD bahkan mencatat banjir juga meluas ke Bojongsoang dan Baleendah. Warga mengaku lelah menghadapi luapan Sungai Citarum.  

“Sudah seminggu banjir di wilayah ini dan merendam rumah-rumah,” ujar salah satu warga Dayeuhkolot, Sumardi.  

Banjir hampir sepekan memaksa ratusan warga mengungsi ke posko pengungsian di aula Kecamatan Dayeuhkolot. Pengungsi didominasi lansia, ibu rumah tangga dan anak-anak. Pengungsi merasa lelah mengungsi.  

“Sudah tiga hari di tempat pengungsian lalu pulang. Pas pulang air naik lagi. Capek ya bolak balik,” keluh Rani Rodiah.

Kini, hampir seribu rumah warga di bantaran Sungai Citarum, terendam. Ratusan kepala keluarga terpaksa mengungsi lantaran luapan Sungai Citarum yang tak kunjung surut.  (Karlina Sintia Dewi)

Fungsi Lain GPS Tracker pada Kendaraan Bermotor

Liputan6.com, Jakarta – Kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Indonesia masih sering terjadi dan tergolong tinggi. Setiap hari ada saja laporan ataupun informasi mengenai kendaraan yang hilang dicuri.

Meskipun telah menambah kunci pengaman pada kendaraan, nyatanya pelaku curanmor masih mampu melakukan aksinya. Untuk itu, agar kendaraan kesayangan dapat terpantau setiap waktu, memasang GPS Tracker bisa menjadi solusi.

Di pasaran, banyak tersedia beragam produk GPS Tracker. Salah satunya Juragan GPS yang ditawarkan PT. Globaltrackindo Profesional Sistem (GPS).

Juragan GPS memiliki tiga produk yakni tipe GT 06N dan GT303 untuk sepeda motor dan mobil, serta GT103 untuk truk dan bus.

Tidak hanya berfungsi sebagai monitoring aset, produk ini turut berperan sebagai provider yang memberikan solusi lengkap dalam bidang Fleet Management Transportasi.

Artinya, pergerakan kendaraan yang terpasang GPS Tracker bisa terpantau secara lengkap, mulai dari laporan jarak tempuh hingga estimasi penggunaan bahan bakar.

Selain itu, jika kendaraan keluar dari zona yang telah ditentukan maka akan ada notifikasi yang masuk ke aplikasi.

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Briyan Alamanda selaku Head of Operation Juragan GPS mengatakan, Juragan GPS telah mempersiapkan produk dan teknologi untuk dapat bertahan pada iklim di Indonesia, baik dari panasnya cuaca hingga besarnya curah hujan yang mengakibatkan banjir.

“Banjir menjadi salah satu perhatian yang sangat penting bagi kami. Untuk itu setiap unit Juragan GPS telah melewati pengujian akan ketahanan terhadap air bahkan metode pengetesan dilakukan dengan memasukkan produk ke dalam air sedalam lima meter dan hasilnya masih berfungsi dengan baik,” jelas Briyan dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut ia menyebutkan, Juragan GPS memberikan garansi software dan hardware untuk tiap produknya.

“Untuk garansi penggantian unit baru berlaku selama satu tahun untuk tipe GT 06N dan GT303 (roda dua dan roda empat). Sementara varian GT103 untuk kendaraan jenis truck dan bus memiliki garansi selama dua tahun,” katanya.

Mengenai harga, GPS Tracker GT 06N untuk sepeda motor dilepas seharga Rp 1,1 juta dengan garansi 1 tahun, free abodemen data selama 2 bulan serta free instalasi.

“Sedangkan varian GPS Tracker berkode GT 303 dihargai Rp 1,4 juta dengan garansi 1 tahun, free abodemen data 3 bulan dan gratis jasa pemasangan,” pungkas Briyan.

Cerita Akhir Pekan: Setumpuk Masalah Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Menyambut Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari, sampah memang masih jadi persoalan sulit dan kompleks yang belum bisa sepenuhnya diatasi di Indonesia. Jumlah sampah diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pelan tapi pasti, sampah menjadi masalah besar bagi negara kita. Sayangnya, belum ada kesadaran mengelola sampah, karena pedoman umum yang ada adalah sampah harus dibuang. Padahal, seharusnya tiap rumah tangga memilah sampahnya sebelum membuang.

Di Indonesia, tiap rumah biasanya memiliki satu tempat sampah di bagian dapur, di mana semua sisa makanan, plastik bekas, kemasan produk rumah tangga, dibuang menjadi satu. Di halaman depan, juga hanya ada satu tempat sampah besar. Di dalam tempat sampah besar itu, sampah dapur akan dijadikan satu dengan sampah dari bagian rumah yang lain.

Seperti dilansir VOA Indonesia, memilah sampah memang belum menjadi budaya. Ini tidak terlepas dari kebiasaan di masa lalu, di mana setiap rumah khususnya di pedesaan, memiliki satu lubang besar di sudut halaman mereka.

Di lubang itulah sampah dibuang, kadang kemudian dibakar atau ditimbun. Namun sebagian besar sampah di Indonesia, berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Saat ini model penanganan sampah semacam itu tak bisa lagi dilakukan.

Pemerintah sampai ke tingkat paling rendah, sudah mulai memiliki kesadaran baru bahwa sampah harus dipilah dan kemudian diolah. Tapi jumlahnya masih sedikit.

Menurut data dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memproduksi 65 juta ton sampah pada 2016, naik 1 juta ton dari tahun sebelumnya.

Dari jumlah 65 juta ton, sekitar 15 juta ton mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak ditangani. Lalu, 7 persen sampah didaur ulang dan 69 persen sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di Indonesia ada lebih dari 400 TPA tapi baru 10 persen yang beroperasi secara maksimal. Itu karena ada sejumlah masalah dalam hal pengelolaan.

Mungkin belum banyak yang tahu kenapa tiap 21 Februari dijadikan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Alasannya karena untuk mengenang tragedi longsornya gunungan sampah di TPA sampah Leuwigajah, Kabupaten Banding dan Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005.

2 dari 3 halaman

Hari Peduli Sampah Nasional

Dilansir dari Solopos dan berbagai sumber, kawasan TPA yang berbukit-bukit itu diguyur hujan selama dua hari berturut-turut. Gunungan sampah setinggi 50 meter-70 meter itu longsor dan menimpun lebih dari 100 rumah di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Ada 157 warga tewas akibat longsornya tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah. Bahkan kabarnya, dua kampung terhapus dari peta akibat tergulung gunung sampah yang longsor. Hingga kini, belum jelas terdakwanya siapa.

Longsor TPA Leuwigajah mengingatkan kita, betapa sebetulnya TPA-TPA yang ada di Indonesia juga merupakan bom waktu, bisa ‘meledak’ sewaktu-waktu.

Peristiwa tragis itu diyakini bisa terjadi karena TPA di Indonesia belum standar dengan sanitary landfill atau sistem pengelolaan sampah dengan cara membuang sampah di lokasi cekung, memadatkan dan kemudian menimbunnya dengan tanah.

Yang terjadi di Indonesia, kebanyakan masih berupa siste open dumping atau dibuang begitu saja di TPA sehingga sampahnya menggunung dan rawan longsor. Lalu bagaimana jalan keluarnya?  Pemerintah sudah berusaha menyelesaikan masalah sampah tersebut dengan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Target sampah yang terkurangi adalah sebesar 20 persen pada 2019 dan target sampah yang tertangani sebesar 75 persen pada 2019. Sementara dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, target sampah yang terkurangi adalah sebesar 30 persen dan tertangani sebesar 70 persen pada 2025.

3 dari 3 halaman

Buang Sampah pada Tempatnya

Lalu ada UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah yaitu mengubah paradigma pengelolaan sampah dari kumpul-angkut-buang menjadi pengurangan di sumber (reduce at source) dan daur ulang sumber daya (resources recycle).

Selain itu, semua TPA diharapkan bakal lebih berwawasan lingkungan agar tragedi 2005 tak terulang lagi. Belakangan ini, tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah cenderung meningkat.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, dalam empat tahun terakhir jumlah Bank Sampah meningkat signifikan dari 1.172 unit menjadi 7.488 unit.

Pada rangkaian HPSN 2019 ini, KLHK juga mengadakan berbagai rangkaian kegiatan seperti Clean Up yang akan serentak diselenggarakan pada 24 Februari 2019 di pantai dan sungai di delapan kota yaitu Kendal, Tegal, Brebes, Pemalang, Batang, Rembang, Jepara dan Kebumen.

Rangkaian kegiatan lainnya adalah Temu Karya Bank Sampah, FGD dengan Para Champion di Pemerintah Daerah, Komunitas dan Private Sector, Lomba Video/VLOG Citizen Journalism serta Edukasi melalui Animasi Web Series dan Comic Strips. Dan jangan lupa satu cara paling mudah untuk ikut berperan dalam menangani masalah sampah di negara kita, dengan membuang sampah pada tempatnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tak Ada Gajah yang Mau Dijajah

Liputan6.com, Bandar Lampung – Kepala Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Agus Wahyudiono mengimbau masyarakat untuk tidak mengganggu habitat gajah atau mengusirnya secara sembarangan ketika kawanan itu memasuki permukiman.

“Masyarakat yang ada jangan sampai mengganggu kawanan gajah, bila tidak mau kawanan gajah ini merusak rumah, perkebunan dan pertanian warga,” kata Agus saat dihubungi dari Bandarlampung, Jumat (22/2/2019), dilansir Antara.

Menurut dia, sering keluar dan masuknya kawanan gajah ke permukiman warga karena mereka merasa terganggu dengan keberadaan manusia di habitatnya, terutama memberikan dampak keterbatasan makanan.

Selain itu, masyarakat juga jangan gegabah saat mengusir kawanan gajah yang masuk ke permukiman warga. Kalau perlu berkoordinasi terlebih dahulu dengan petugas yang ada agar tidak memakan korban.

“Masyarakat jangan suka gegabah untuk mengusir kawanan gajah yang ada, karena bisa membahayakan warga,” katanya.

Sebelumnya, kawanan gajah liar kembali masuk ke perkebunan serta merusak puluhan hektare tanaman di sawah yang berada di Pekon (Desa) Roworejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

“Iya tadi sore kawanan gajah kembali masuk dan merusak lahan perkebunan dan pertanian milik warga termasuk sawah,” ujar Eko, salah seorang warga saat dihubungi dari Bandarlampung, Sabtu, pekan lalu.

Menurut dia, kawanan gajah sudah hampir dua pekan menginap di lahan perkebunan dan pertanian milik warga di Pekon Roworejo, Kecamatan Suoh, Lampung Barat.

Dia menerangkan, para pemilik lahan perkebunan dan pertanian hanya dapat melihat dari jarak terdekat sekitar 50 meter.

“Kami hanya bisa melihat dari jarak 50 meter saja. Dan belum berani mendekat, karena tidak mau mengambil risiko,” katanya.

Eko menjelaskan, puluhan gajah ini sudah hampir satu bulan menginap di dekat permukiman warga dan sampai saat ini kawanan gajah tersebut berpindah dari pekon satu ke pekon lainnya.

“Bila diusir dari pekon Roworejo maka akan berpindah ke pekon lainnya. Karena hutan ini dikelilingi oleh rumah penduduk,” ungkapnya.


Simak video pilihan berikut ini:

Tanah Bergerak Setiap 30 Menit, Warga Banyumas Terbayang Longsor Masa Lalu

Liputan6.com, Banjarnegara – Menilik riwayatnya, Banjarnegara diwarnai kisah pedih longsor kolosal. Dan 70 persen wilayah di kaki pegunungan Dieng ini memang rawan gerakan tanah.

Bencana longsor seringkali mengejutkan terjadi di Banjarnegara. Pada 2006, Dusun Gunung Raja Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu lenyap dalam sekejap. Ada 76 orang meninggal dunia, 14 lainnya tak ditemukan.

Kemudian, empat tahun lalu, Dusun Jemblung Desa Sampang Karangkobar luluh lantak diterjang longsor. Seratusan lebih warganya meninggal dunia atau hilang tertimbun material longsoran.

Hingga saat ini, longsor dan gerakan tanah berkala kecil dan besar datang silih berganti. Salah satunya di Dusun Kali Entok Desa Kebutuh Jurang Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara.

Gerakan tanah yang terjadi secara bertahap dilaporkan merusak 22 rumah. Akibatnya, 25 keluarga yang terdiri dari 83 jiwa mengungsi.

Dan ke-25 keluarga itu mengungsi di 11 titik pengugsian. Sebagian besar mengungsi ke rumah saudara, atau ditampung tetangga, dan di tetangga desa, Duren.

“Jadi sekarang masih mengungsi. Kalau kita tahapannya sedang validasi data. Kalau jumlahnya masih seperti kemarin,” kata Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) BPBD Banjarnegara, Arif Rachman, Kamis sore, 21 Februari 2019.

Kisah longsor besar yang sampai menewaskan puluhan hingga ratusan orang membuat warga Kebutuh Jurang trauma. Positifnya, riwayat bencana Banjarnegara membuat mereka waspada.

Arif tak menyalahkan warga yang traumatik. Hanya saja, berdasar pendataan lapangan oleh petugas BPBD dan pemerintah desa Kebutuh Jurang, jumlah rumah rusak sebenarnya hanya 15 unit. Lainnya baru terancam longsor.

2 dari 3 halaman

Kontur Tanah Berisiko Longsor Cepat

Berdasar kajian geologi dan pemetaan longsor, tujuh rumah yang penghuninya turut mengungi sebenarnya berada di luar zona merah. Karenanya, pekan ini BPBD akan mensosialisasikan kepada para pengungsi agar yang rumahnya masih aman bisa kembali ke rumahnya.

Adapun 15 rumah yang terdampak langsung dan terancam agar bertahan di pengungsian untuk sementara waktu.

“Pekan ini kami akan mengumpulkan untuk memberi penjelasan. Bagi yang kondisinya masih ini (relatif) aman, disarankan pulang, karena hanya euforia ketakutan ya lebih baik pulang lah,” dia menerangkan.

Rencananya, dalam waktu dekat hasil kajian geologi, pemetaan dan rekomendasi Badan Geologi itu akan dilaporkan kepada Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono untuk segera ditindaklanjuti.

“Pertama, rumah yang terdampak langsung, begitu kan, jumlahnya ada sekitar 15 rumah. Karena kita sudah ada peta geologinya yang akan kita laporkan kepada Pak Bupati,” dia menambahkan.

BPBD juga telah memasang early warning system (EWS) atau alat peringatan dini longsor dan gerakan tanah di mahkota longsoran. BPBD juga mendirikan posko pantau bencana di sekitar area gerakan tanah untuk memantau pergerakan tanah untuk mengantisipasi gerakan tanah yang membahayakan.

Dia menjelaskan, sifat longsoran di Kebutuh Jurang adalah rayapan tanah (creep). Akan tetapi, menilik kontur tanahnya yang curam dan curah hujan tinggi, gerakan tanah bisa bertambah cepat dan bisa pula bersifat jatuhan.

3 dari 3 halaman

Tanah Bergerak 2 Sentimeter Tiap Setengah Jam

Nun di Kabupaten Banyumas, gerakan tanah di Grumbul Kalisalak RT 3/5 Desa Karangbawang Kecamatan Ajibarang kembali terjadi. Akibatnya, dua keluarga terpaksa mengungsi.

Sebelumnya, di lokasi yang sama, empat rumah harus direlokasi lantaran gerakan tanah terus berlangsung sejak akhir 2018. Kini, gerakan tanah kembali merusak dua rumah yang dihuni empat jiwa, yakni rumah milik Sukardi (68 th) dan Sumardi (70 th).

Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Kusworo mengatakan, sementara ini Sukardi dan istri mengungsi ke rumah anaknya, Warkiman yang berada di lokasi lebih aman. Adapun Sumardi dan istrinya mengungsi ke saudara lainnya, Suryati.

Kusworo mengemukakan, tanah kembali bergerak setelah Banyumas diguyur hujan lebat berhari-hari. Diukur dengan alat sederhana, dalam waktu setengah jam tanah bergeser sekitar dua sentimeter.

Gerakan tanah membuat tanah retak-retak dan ambles berkisar 70 sentimeter hingga satu meter. Akibatnya, lantai dan dinding rumah retak-retak parah.

Sebelumnya, gerakan tanah di lokasi yang sama juga telah merusak empat rumah. Keempat keluarga itu telah direlokasi secara bertahap sejak akhir 2018 hingga Januari 2019.

“Tanah terus bergerak, pelan tapi pasti. Mulai Kamis,” kata Kusworo.

Ia juga mengimbau agar warga lainnya mewaspadai kemungkinan meluasnya gerakan tanah. Pasalnya, bidang tanah miring, labil dan curah hujan masih tinggi.

“Dan tadi, kita juga memasang early warning system tradisional, sederhana menggunakan tali. Dalam waktu kurang lebih setengah jam, tanah bergerak sekitar dua sentimeter, jalannya,” dia mengungkapkan.

Saksikan video pilihan berikut:

Rusunawa Paspampres 10 Lantai Dibangun di Kawasan Tanah Abang

Liputan6.com, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan membangun Rumah Susun Sewa (Rusunawa) untuk Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di Jalan Tanah Abang II, Jakarta.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid mengatakan, pembangunan Rusunawa ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hunian anggota Paspamres dan keluarga, serta meningkatkan semangat tugas prajurit.

“Kami berharap dengan pembangunan Rusun Tingkat Tinggi ini bisa meningkatkan kinerja dan kesejahteraan para anggota Paspampres TNI yang bertugas,” ujar dia dalam sebuah keterangan tertulis, Jumat (22/2/2019).

Khalawi menjelaskan, pembangunan Rusun Sewa bagi TNI dan Polri dilakukan karena banyak anggota TNI dan Polri yang belum memiliki hunian yang layak. Ketersediaan hunian turut mendukung TNI dan Polri dalam melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam kurun waktu 2015-2018, Kementerian PUPR telah membangun sebanyak 114 tower dengan total 4.267 unit Rusun TNI yang tersebar di 24 Provinsi. Selain itu, pada kurun yang sama Kementerian PUPR juga telah membangun rumah khusus TNI sebanyak 4.267 unit di 34 Provinsi.

“Jika para anggota Paspampres TNI dan ASN di lingkungan TNI tinggal di Rusunawa, tentunya ke depan mereka bisa menabung. Saat ini sebagian anggota TNI tinggal di rumah dinas, namun untuk mendapatkan lahan pembangunan perumahan tapak di Ibukota tentunya sangat mahal, jadi kami dorong agar pembangunan Rusun untuk anggota TNI dengan hunian vertikal seperti Rusun ini,” tutur Khalawi.

Adapun Rusunawa Paspampres yang dibangun terdiri dari satu tower setinggi 10 lantai sebanyak 93 unit dengan empat tipe berbeda, yakni tipe A seluas 130 meter persegi sebanyak 2 unit, tipe B seluas 90 meter persegi sebanyak 9 unit, tipe C seluas 70 meter persegi sebanyak 44 unit, dan tipe D seluas 45 meter persegi sebanyak 38 unit.

2 dari 3 halaman

Kontraktor Brantas Abipraya

Rusunawa ini akan dibangun oleh kontraktor pelaksana PT Brantas Abipraya dengan pendanaan APBN 2018-2019 senilai Rp 136 miliar.

Setiap unit pada tower tersebut akan dilengkapi meubelair seperti meja tamu dan sofa, meja dan kursi makan, lemari pakaian, serta tempat tidur di tiap kamar. Rusun juga akan dilengkapi fasilitas satu basement, dan satu helipad di bagian atap.

Khalawi menyebutkan, ada hal spesial yang diperuntukkan di Rusunawa Paspampres tersebut, yakni sebagai rusun pertama yang dibangun dengan tipe yang beragam.

“Jika Rusun Kejaksaan sebelumnya dibangun dua tower dengan dua tipe yang berbeda dengan tipe paling tinggi 82 meter persegi, maka Rusun Tingkat Tinggi Paspampres ini terdiri dari empat tipe mulai tipe 45 sampai tipe 130 meter persegi,” terangnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Grand Prix Ngepel di Uwa Rice Museum di Jepang, Mau Coba?

Liputan6.com, Jakarta – Salah satu destinasi wisata di Prefektur Ehime adalah Uwa Rice Museum yang terletak di Uwa, Seiyo. Bangunan museum yang mengkhususkan diri di bidang perpadian ini dulunya merupakan bekas sekolah dasar.

Lokasi bangunan yang didirikan pada 1928 ini dipindah ke tempat lebih tinggi, tidak jauh dari sekolah. Karena bangunan tersebut ingin dipelihara, dan wilayah Uwa terkenal dengan padi, maka akhirnya bangunan tersebut dijadikan museum.

Museum ini dibuka pada pukul 09.00 dan ditutup pukul 17.00. Setiap hari Senin, museum ini tutup.

Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Ada kegiatan yang menarik wisatawan di museum ini, yaitu lomba mengepel di koridor dengan lantai kayu sepanjang 109 meter. Kegiatan mengepel ini disebut dengan Zoukin Kake.

Petugas museum menjelaskan perlombaan mengepel (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Rekor waktu tercepat mengepel ini dipegang oleh seorang pria bernama Nakagawa yang berhasil menyelesaikan waktu 18.17 detik. Zoukin kake ini dimulai 20 tahun lalu.

Liputan6.com bersama dengan Japan Airlines menyambangi musim ini pekan lalu, pertengah Februari 2019. Sebelum memasuki ruangan utama museum, pengunjung akan diminta melepas sepatu. Kami pun mencoba lomba mengepel ini.

2 dari 3 halaman

Lomba Ngepel

Di dalam museum, petugas telah menyediakan sepatu warna putih dengan berbagai ukuran kaki, pelindung lutut, dan kain pel tebal dengan tulisan Grand Prix.

Seperti perlombaan pada umumnya, peserta akan dihitung berapa kecepatan waktu menempuh jarak 109 meter sambil mengepel lantai dengan gaya Jepang.

Kain lap dan pelindung lutut untuk lomba zoukin kake di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Lomba mengepel lantai dengan gaya Jepang ini cukup menguras energi. Maklum, sejak pagi kami sudah berkeliling tempat wisata di Ehime.

Selesai mengikuti lomba, peserta akan mendapat pin medali dan sertifikat. Pin lomba tersebut berwarna warni.

Dari mulai warna emas yaitu menempuh paling cepat hingga berikutnya ke warna perak, perunggu, ungu, merah, biru, hijau, hingga kuning sebagai peserta lomba yang memakan waktu paling lama dan bagi mereka yang tidak menyelesaikan lomba. 

Pin akan diberikan kepada peserta lomba mengepel atau zoukin kake di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sayang, karena waktu hampir menunjukkan pukul 17.00, kami hanya mengikuti lomba ngepel dan memotret singkat alat-alat pertanian di museum ini.

Sejarah museum hanya diberikan kilat sebelum lomba mengepel dimulai.

Alat pertanian di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Gunung Agung Kembali Erupsi, Tinggi Kolom Abu 700 Meter

Jakarta – Gunung Agung yang berada di Bali kembali mengalami erupsi sore ini. Tinggi kolom abu disebutkan mencapai 700 meter.

Kabid Manajemen Observasi Meteorologi Penerbangan BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, erupsi terjadi pada Jumat (22/2/2019) sekitar pukul 16.31 Wita.

“Telah terjadi erupsi G. Agung, Bali pada tanggal 22 Februari 2019 pukul 16:31 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 700 m di atas puncak (± 3.842 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi ± 6 menit 20 detik,” kata Hary dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (22/2).


Hary menjelaskan, saat ini status Gunung Agung ada di level III atau siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas sejauh 4 km dari puncak gunung.

“Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru,” tutur Hary.

“Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung,” jelasnya.

Laporan terakhir Gunung Agung mengalami erupsi pada 14 Februari 2019. Akibat erupsi tersebut lima desa di Kecamatan Karangasem, Bali terpapar hujan abu.
(rna/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>