Merasakan Aura Magis di Makam Teuku Umar

Liputan6.com, Aceh – Suara tonggeret saling bersahutan tiada henti. Bunyinya terdengar konstan dan nyaring, tetapi tak menampik kesan sunyi belantara dan aura magis yang mengelilinginya.

Puncak pepohonan terlihat begitu rimbun, sementara kirana menyela di antara dedaunannya, meruyak ke lantai seolah hendak menandingi bayangan rerimbun daun yang menghalanginya. Tiga orang ibu dan seorang anak kecil duduk berlindung di antara bayang-bayang itu.

Seorang lelaki nimbrung lalu ikut bercakap-cakap bersama mereka. Orang-orang ini adalah orang Jawa yang sudah lama menetap di Aceh Barat yang tersebar di Kecamatan Panteu Ceureumen, jika ditebak dari dialek yang mereka gunakan.

Sebuah cungkup berciri khas bangunan tradisional Aceh seluas 20 meter persegi berdiri tidak jauh dari kumpulan orang itu duduk. Tujuh peziarah terlihat di dalam cungkup, dan seorang di antaranya terlihat komat-kamit sambil menatap ‘makam agung’ yang berada di depannya.

Sebuah guci besar bercat emas tampak di sudut kiri makam. Sebuah rak kayu bertingkat, dimana surah Yasin ditumpuk di tingkat paling atas, sementara mukena dan sajadah, di dua tingkat di setelahnya, ditaruh di sudut kanan makam.

Dua buah batu nisan berbalut kain kafan tampak bersisian dengan ketinggian tak simetris, menancap di antara koral putih yang diserak di atas tanah makam berukuran kira-kira 2×3 meter itu. Terdapat plakat pada bagian kepala makam yang menerangkan bahwa di situ terkubur seorang putra Aceh, pejuang yang melawan Belanda pada masa silam.

Sebuah kopiah meukeutop dan celengan besi bercat putih diletakkan bersisian di atas tembok makam berlapis tegel granit itu. Topi khas adat Aceh itu adalah atribut yang tidak boleh dipisah dari sosok Teuku Umar.

Suami Cut Nyak Dien memang bermakam di situ. Makam Johan Pahlawan ini berada di Desa Mugo Rayuek, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, berjarak sekitar 32 kilometer dari pusat kabupaten.

Sebagai catatan, nama Mugo Rayeuk konon berasal dari bahasa Jawa yaitu ‘monggo’ yang berarti ‘silahkan’ atau ‘mari’. Kisah di balik pemberian nama Mugo Rayeuk berkait erat dengan sejarah kelam kolonial.

Pada zaman kolonial, ratusan pribumi dari tanah Jawa diberangkatkan ke Aceh untuk kerja rodi. Orang-orang ini beranak pinak di kemudian hari, dan membentuk komunitas masyarakat Jawa yang kebanyakan tersebar di Kecamatan Panteu Ceureumen.

Kata ‘Mugo’ berawal dari sapaan orang Jawa yang jika melihat orang Aceh lewat di depannya maka dia menyapa dengan mengatakan ‘monggo mas’ mampir dulu. Kata ‘monggo’ lama kelamaan menjadi sebutan untuk wilayah tersebut, yang di kemudian hari berubah bunyi menjadi ‘Mugo’.

Makam Teuku Umar berada di atas Gunung Rayeuk Tameh berjarak 1 kilometer lebih dari jalan raya atau pusat keramaian Kampung Mugo Rayeuk.

Kompleks makam berupa lereng bertingkat-tingkat, dimana makam Teuku Umar berada di atas, sementara di bawahnya, secara runtut terdapat replika rumah Teuku Umar, balai-balai, toilet, selanjutnya musala, tempat berwudu, tempat beristirahat, serta anak tangga yang menjadi penghubung masing-masing tingkat.

2 dari 3 halaman

Tempat Kaulan

Sang Penjaga Makam Teuku Umar adalah Tengku Meurah Hasan (45). Dia generasi ke-21 keturunan Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang tak lain merupakan angkatan pertama Wali Songo.

Sebagai catatan, Syekh Maulana Malik Ibrahim sempat menetap di Pasai atau Kerajaan Peureulak, Aceh Timur saat ini, sebelum dia hijrah ke tanah Jawa.

Sunan Gresik ini memiliki keturunan di Aceh salah satunya bernama Tgk. Chik Adam yang belakangan berangkat ke Mugo Rayeuk, kemudian beranak pinak yang silsilahnya menyambung ke Tgk. Meurah Hasan, pria yang baru setahun ini menjadi Penjaga Makam Teuku Umar.

Tidak harus punya kemampuan khusus untuk menjadi seorang penjaga makam, kecuali paham ilmu agama dan dapat memimpin doa ketika diminta tolong para peziarah yang hendak kaulan.

“Peuleh ka oy (kaulan) bukan orang sembarangan. Sedikit banyak, bisa membaca doa. Jadi berganti-ganti. Bukan keturunan. Kebanyakan adalah orang setempat yang biasanya merupakan imam menasah,” kata Tgk Meurah Hasan, kepada Liputan6.com, Minggu, 18 Februari 2019.

Beberapa keluarga kebetulan sedang kaulan ketika Liputan6.com berkunjung ke lokasi. Mereka datang dengan kaul masing-masing, yang tentu saja menjadi rahasia antara mereka dan penjaga makam.

Seseorang pernah menceritakan mengenai keluarganya yang punya pengalaman berkaul di Makam Teuku Umar. Ada seorang anak yang sering sakit-sakitan saat masih kecil, lalu orangtuanya berkaul, andai anak mereka sembuh, mereka kelak akan kaulan di Makam Teuku Umar, dan keluarga ini belakangan melakukan kaulan karena harapannya terwujud.

3 dari 3 halaman

Sosok-Sosok Tak Kasat Mata di Makam Teuku Umar

Makam Teuku Umar memiliki sejumlah kisah mistis sama seperti tempat-tempat keramat lainnya. Salah satunya mengenai sosok harimau yang konon menjaga makam dari mereka yang hendak berbuat jahil di tempat itu.

Sesosok ular besar juga sering memperlihatkan diri di tempat itu. Terdapat sosok tak kasat mata, selain dua makhluk tersebut yang konon hanya menampakkan dirinya ke orang-orang tertentu.

Menurut Tgk Meurah Hasan, orang-orang yang suluk di makam Teuku Umar terkadang bermimpi ditemui makhluk-makhluk tersebut. Karena orang-orang ini berhati bersih, makhluk-makhluk tersebut tidak mengganggu mereka.

“Itu ada. Yang penjaga besar, harimau, ular, dan penjaga tak kasat mata lainnya. Disini kan banyak yang suluk, kadang sampai seminggu. Mereka dari berbagai tempat, dari Meulaboh, Medan, bahkan Pulau Jawa. Selesai suluk, kadang mereka cerita ke saya. Di dalam mimpi ditemui mahluk itu. Bahkan, ada yang didatangi sosok Teuku Umar,” tutur penjaga makam keenam itu.


Simak video pilihan berikut ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *