7 Tempat Menangis Terbaik Versi Lagu Didi Kempot, Galau Pakai Soundtrack

Liputan6.com, Jakarta Didi Prasetyo atau yang lebih dikenal Didi Kempot lahir di Surakarta, 31 Desember 1966. Pria 52 tahun ini adalah seorang penyanyi campursari dari Jawa Tengah. Didi Kempot merupakan putra dari pelawak terkenal dari kota Solo, Ranto Edi Gudel yang lebih dikenal dengan nama Mbah Ranto.

Kekuatan lagu milik Didi Kempot, terletak pada lirik dan aransemen yang sederhana. Lirik yang mengandalkan rima, bercampur dengan bebunyian gamelan dan keyboard yang disertai dengan kompleksitas aransemen. Tidak hanya itu, lagu Didi Kempot juga identik dengan lagu perjuangan cinta dan patah hati.

Tak ayal, ada beberapa tempat yang dijadikan inspirasi oleh Didi Kempot dalam membaut lagu yang bertema perjuangan cinta dan patah hati. Salah seorang pengguna akun Twitter @joezuuv mengunggah tempat-tempat menangis sesuai dengan lagu Didi Kempot.

Bagi kamu yang sedang patah hati dan bingung mencari tempat menangis, berikut Liputan6.com rangkum 7 tempat menangis terbaik versi lagu Didi Kempot, Kamis (21/2/2019).

2 dari 8 halaman

1. Stasiun Balapan, Solo, Jawa Tengah

3 dari 8 halaman

2. Gunung Merapi Purba, Nglanggeran, Wonosari, Yogyakarta

4 dari 8 halaman

3. Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah

5 dari 8 halaman

4. Terminal Kertonegoro, Ngawi, Jawa Timur

6 dari 8 halaman

5. Pantai Parangtritis, Yogyakarta

7 dari 8 halaman

6. Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah

8 dari 8 halaman

7. Pinggir Jembatan Tirtonado, Solo, Jawa Tengah

5 Fakta Gempa Malang yang Guncangannya Terasa hingga Bali

Liputan6.com, Jakarta – Gempa dan erupsi gunung merapi seakan menjadi keniscayaan atau hal mutlak yang terjadi di Indonesia. Bagaimana tidak, selain berada di tengah-tengah Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, Indonesia juga menjadi tempat pertemuan empat lempeng tektonik, yaitu Asia, Australia, Samudra Hindia, dan Pasifik.

Maka tak mengherankan jika hampir setiap hari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya sejumlah getaran yang terjadi di wilayah Tanah Air. Tercatat ada sekitar ratusan sesar aktif atau patahan yang terkandung dalam perut bumi pertiwi ini.

Dan belum lama ini, kekuatan gempa yang terbilang cukup besar mengguncang wilayah Malang, Jawa Tengah. Meski tak berpotensi tsunami, kuatnya getaran dirasakan ke beberapa daerah seperti Lumajang hingga Kuta dan Nusa Dua Bali.

Berikut sejumlah fakta terkait gempa Malang yang terjadi pada Selasa, 19 Februari 2019, pukul 02.30 WIB.

2 dari 7 halaman

1. Gempa Berkekuatan Magnitudo 5,9

Berdasarkan info Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa yang menggoyang Malang berkekuatan magnitudo 5,9.

Dengan pusat gempa berada di laut pada kedalaman mencapai 10 kilometer, gempa dilaporkan tak berpotensi tsunami.

Sedangkan lokasi lindu dilaporkan berada di 159 kilometer arah Tenggara Kabupaten Malang, Jawa Timur atau di 9,68 Lintang Selatan, 112,79 Bujur Timur.

3 dari 7 halaman

2. 7 Wilayah Terdampak Gempa

Meski diinfokan kekuatan lindu tak berptensi tsunami, getarannya dirasakan hingga ke tujuh wilayah di Indonesia.

Menurut BMKG getaran dengan kekuatan MMI III-VI dirasakan di Kabupaten Lumajang. Sementara, getaran dengan MMI III dirasakan di Karangkates, Blitar, Sawahan, dan Malang Jawa Timur.

Lewat lamam resminya, getaran gempa dengan MMI II sampai III juga dirasakan di Wilayah Kuta dan Nusa Dua, Bali.

4 dari 7 halaman

3. Waktu yang Dirasakan Saat Gempa Terjadi

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengungkap berapa waktu yang dirasakan ketujuh wilayah saat Malang digoyang gempa.

Di Kabupaten Malang, gempa dirasakan sedang selama 3-4 detik. Dirasakan kuat selama 4-5 detik di Kota Malang, dirasakan kuat selama 5 detik di Kabupaten Lumajang, dirasakan sedang selama 3-4 detik di Kabupaten Blitar.

Kemudian dirasakan sedang selama 3-4 detik di Kota Batu. 

5 dari 7 halaman

4. Tidak Ada Korban Jiwa

Dengan intensitas bervariasi dari kecil hingga besar yang dirasakan sejumlah wilayah di atas, Sutopo mengaku dirinya belum mendapat laporan dampak akibat gempa tersebut. Baik itu korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat gempa.

“Sebagian masyarakat melakukan respons dengan keluar rumah saat merasakan guncangan gempa. Kondisi masyarakat normal dan beraktivitas seperti biasa,” ujar dia.

6 dari 7 halaman

5. Gempa Malang Dikaitkan Erupsi Gunung Bromo?

Kabupaten Malang diguncang gempa bermagnitudo 5,9 pada Selasa dini hari. Sedangkan pagi harinya Gunung Bromo mengalami erupsi. Apakah keduanya saling terkait?

“Kemungkinan tidak terkait langsung. Sejak kemarin Gunung Bromo sudah menunjukkan peningkatan aktvitas embusan,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani, dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Selasa kemarin.

Erupsi terjadi pada pukul 06.00 WIB, Selasa, 19 Februari 2019. Tinggi kolom abu teramati kurang lebih 600 meter di atas puncak (± 2.929 m di atas permukaan laut).

Kolom abu, ujar Kasbani, terlihat warna putih hingga cokelat dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal condong ke timur laut.

“Emisi abu terus menerus dengan amplitudo gempa tremor menerus 0.5-1 mm dominan 1 mm,” ujar Kasbani.

7 dari 7 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

HEADLINE: Gempa Magnitudo 5,6 Malang Disusul Erupsi Gunung Bromo, Terkait?

Liputan6.com, Jakarta – Dua peristiwa alam dengan waktu berdekatan terjadi di Jawa Timur. Gempa dengan magnitudo 5,9 yang kemudian dimutakhirkan menjadi magnitudo 5,6 menggoyang Malang, Selasa (19/2/201) pukul 02.30 WIB. Lindu dengan kedalaman 10 kilometer tersebut dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Tak lama berselang, Gunung Bromo, yang letak geografisnya tak jauh dari Malang, erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik putih kecoklatan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut, erupsi terjadi sekitar pukul 06.00 WIB. Tinggi kolom abu teramati kurang lebih 600 meter di atas puncak (± 2.929 m di atas permukaan laut). Status Bromo pun naik menjadi Level II atau Waspada.

Dua peristiwa alam ini pun mengundang tanya, adakah keterkaitan antara gempa Malang dengan erupsi Bromo?

Ahli Geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Amien Widodo berpendapat, gempa Malang dan erupsi Bromo adalah dua peristiwa alam yang berbeda.

“Jalannya beda-beda. Sistemnya sendiri-sendiri dan letaknya beda jauh,” ujar Amien saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (19/2/2019).

Dia menyebut, gempa Malang terjadi karena tumbukan lempeng Samudra Hindia dan Eurasia. 

“Beberapa bulan terakhir Malang Selatan memang sering gempa. Terakhir ya pagi tadi itu hingga magnitudo 5, terasa dampaknya,” ujarnya.

Sedangkan untuk Bromo, Amien menyatakan erupsi merupakan fenomena yang biasa terjadi karena memang saat ini sudah waktunya gunung itu aktif.

“Kalau memang aktif, ya aktif, memang begitu. Seperti orang hamil, ketika tiba masanya ya mbrojol, mengeluarkan abu panas,” tuturnya.

Amien menjelaskan, erupsi Bromo yang terakhir terjadi pada 2010 dan pada 2019 ini kembali terjadi.

“Jadi kisaran waktu erupsi Gunung  Bromo itu terjadi sembilan tahun sekali, kayak Gunung Merapi, mirip-mirip,” katanya.

Infografis Letusan Gunung Bromo (Liputan6.com/Abdillah)

Penegasan serupa disampaikan Adi Susilo. Kepala Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya Malang ini berpendapat, gempa Malang dan erupsi Bromo tak terkait. Fenomena itu adalah keseimbangan alam yang normal terjadi.

“Justru jika tidak terjadi gempa dan aktivitas vulkanik di Gunung Bromo, masyarakat Malang dan sekitarnya patut waspada,” jelasnya kepada Liputan6.com Selasa, (19/2/2019). 

Dia menyatakan, waktu gempa dan letusan Bromo yang berdekatan itu, hanya kebetulan. Menurut Adi, titik kedalaman gempa Malang sangat dangkal, jika dipotong ke utara tidak akan menyentuh kelompok magma Bromo.

Dekan Fakultas Matematika dan IPA (Mipa) Universitas Brawijaya ini menyebut, dua fenomena alam itu memang harus rutin terjadi. Pelepasan energi yang bisa mengurangi potensi terjadi gempa maupun letusan gunung berapi yang jauh lebih besar.

Gempa yang terjadi di selatan Malang disebabkan kerak atau lempeng patahan bumi di kawasan ini termasuk tua. Sehingga sangat sering terjadi gempa bumi berkekuatan besar yang bisa terekam maupun gempa kecil yang tak bisa terekam oleh seismograf.

“Kalau sering terjadi gempa itu lebih baik karena terus melepas energi. Berbahaya jika tak ada, patahan berpotensi terjadi gempa berkekuatan besar,” ucap Adi Susilo.

Sedangkan Bromo yang termasuk gunung berapi aktif, sangat wajar jika terjadi gempa tremor yang terus-menerus. Kolom di dalam kawah gunung berapi purba ini juga terbuka, melepas energi dengan bentuk aktivitas vulkanik yang rutin.

“Pelepasan energi di Bromo seperti yang terjadi hari ini masih wajar. Berbahaya kalau aktivitasnya berhenti, itu bisa terjadi erupsi dalam skala lebih besar,” ulas Adi.

Karena itulah, gempa yang mengguncang Malang dini hari tadi tak ada korelasinya dengan aktivitas vulkanik di Gunung Bromo. Ini sekaligus memberi sinyal pada pemerintah daerah agar selalu siap siaga jika terjadi bencana alam.

“Mudah–mudahan kekuatan gempa dan letusan Bromo tetap kecil seperti hari ini. Sehingga tak ada potensi terjadi bencana lebih besar,” kata Adi Susilo.

Terpisah, Peneliti utama kegempaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja menyatakan, gempa tektonik bisa saja mempengaruhi erupsi gunung.

Dia mencontohkan kejadian di Sumatera pada 2007. Saat itu gempa di Singkarak diikuti letusan Gunung Talang Sumatera Barat tidak lama setelah gempa.

“Intinya gelombang gempa itu bisa membuat tekanan magma naik, karena timbul gelembung udara di magma. Kalau kebetulan ada gunung api yang magmanya penuh terus ada gempa, ya dia berpengaruh,” jelasnya, Selasa (19/2/2019). 

Hanya, Hilman tidak bisa memastikan apakah kasus gempa Malang juga berkorelasi dengan erupsi Bromo.

“Saya belum lihat persis datanya. Jadi belum bisa bilang banyak. Kemungkinan besar sih enggak,” ujarnya Danny.

Penegasan gempa Malang tak terkait letusan Bromo juga disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). 

Kabid Humas BMKG Taufan Maulana menyatakan, gempa magnitudo 5,6 di Malang adalah aktivitas tektonik di Samudra Hindia, 170 km selatan Malang. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar naik (thrust fault).

“Sementara ini kita simpulkan tidak ada kaitan (dengan letusan Bromo),”ungkapnya kepada Liputan6.com, Selasa (19/2/2019) 

Pihaknya masih berkoordinasi detailnya soal apakah aktivitas tektonik ini menimbulkan dampak kepada aktivitas vulkanik di Gunung Bromo.

Terlepas itu, pihaknya mengimbau warga Malang dan sekitarnya selalu waspada, tetapi tidak perlu terlalu khawatir dan takut.

“Harapan kita gempa ini memang sebuah proses alamiah yang wajar yaitu proses pelepasan energi gempa dan tidak menimbulkan kerusakan,” ujarnya.

2 dari 4 halaman

Kode Vona Oranye

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan kode Volcano Observatory Notice for Aviation (Vona) warna oranye menyusul hujan abu di Bromo.

Kode tersebut menjadi petunjuk penerbangan bagi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan 3 Bandara di Jawa Timur, yakni Bandara Juanda Surabaya, Bandara Abdurrahman Saleh Malang dan Bandara Blimbingsari Banyuwangi.

Kode Vona oranye artinya ketinggian abu di bawah 5.000 meter di atas permukaan laut. Kode itu dikeluarkan menyusul meningkatnya aktivitas kegempaan di Bromo. Asap tebal membubung setinggi hampir 700 meter dari puncak kawah Bromo, sejak Senin 18 Februari 2019.

Kolom asap itu, juga membawa material abu vulkanik. Sehingga mengakibatkan hujan abu tipis di sekitar Bromo.

Kode Vona oranye juga menunjukkan bahwa abu yang dikeluarkan gunung api intensitasnya rendah. Laporan Vona berisikan informasi waktu letusan, tinggi letusan serta warna abu.

Pada Selasa pukul 06.00 WIB, dilaporkan tinggi kolom abu sekitar 600 meter dari atas puncak (2.929 meter di atas permukaan laut).

Informasi dari Darwin VAAC (Volcanic Ash Advisory Center) menyebut sebaran abu vulkanik masih belum terdeteksi.

“Kami akan memantau perkembangannya untuk update ke depan. Akan tetapi tetap waspada bagi penerbangan,” ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Wilayah III Juanda Teguh Tri Susanto, Selasa (19/2/2019).

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Bandara Abdulrahman Saleh Malang Suhirno mengatakan, aktivitas penerbangan di bandara tak terganggu dengan kondisi Bromo.

“Situasi tetap aman. Tak terdampak apapun dan tetap beroperasi seperti biasa,” kata Suharno, Selasa (19/2/2019).

Dia menyatakan, sejauh ini otoritas bandara tak menerima informasi atau pemberitahuan yang bersifat mendesak. Baik dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) maupun dari Kementerian Perhubungan yang bisa menyebabkan pembatalan jadwal penerbangan.

“Tidak ada pembatalan karena memang normal-normal saja kondisinya,” ujar Suharno.

Secara keseluruhan Bandara Abdulrahman Saleh Malang melayani 14 jadwal penerbangan setiap harinya. Dengan sebagian besar melayani rute Malang-Jakarta. Tak ada satu pun jadwal yang ditunda atau dibatalkan terkait aktivitas Bromo.

3 dari 4 halaman

Bromo Tetap Aman Dikunjungi

Meski ‘batuk’ dan mengeluarkan abu vulkanik, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNTBS) menyebut kawasan wisata Bromo tetap aman dikunjungi. 

“Berdasarkan pengamatan di lapangan, kondisi Bromo kondusif, seperti hari-hari biasanya,” ujar Kepala Balai Besar John Kenedie, Selasa (19/2/2019). 

Berdasarkan informasi dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) Pos Pengamatan Gunungapi (PPGA) Bromo yang berada di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, disebutkan aktivitas Bromo Level II atau Waspada.

Sementara cuaca dilaporkan dalam kondisi cerah, berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah timur laut, timur, tenggara, selatan, dan barat daya, dan barat. Suhu udara 12-20 °C, kelembaban udara 0-0 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

Secara visual, Bromo terlihat meski berkabut. Asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dan coklat. Asap ini dengan intensitas tipis hingga tebal dengan tinggi mencapai 700 meter atas puncak kawah. Dengan Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5-1 mm, dominan 1 mm.

“Secara umum kondisi Bromo masih kondusif. Dengan potensi kesiap-siagaan yang harus ditingkatkan, yakni kewaspadaan dan mematuhi arahan dan instruksi pengelola TNBTS dan PVMBG,” lanjut John Kenedie.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Bromo Wahyu Andiran Kusuma menambahkan, meski kondusif warga dan juga wisatawan diminta mematuhi radius aman sejauh 1 kilometer dari kawah Bromo.

PGA Gunung Bromo tak bisa memastikan apakah gunung suci Suku Tengger ini akan kembali turun atau malah naik aktivitas vulkaniknya. Namun apapun perubahannya bakal segera diinformasikan secepatnya ke masyarakat.

“Warga maupun wisatawan tetap bisa ke Bromo, tapi tak boleh mendekat kawah. Jika ada perubahan dalam waktu dekat, segera kami informasikan,” katanya.

Wahyu menyatakan, sampai saat ini status Bromo masih waspada. Bromo status siaga terakhir kali pada medio Desember 2015 – Juli 2016. Erupsi saat itu ditandai dengan letusan sampai material abu vulkanik tinggi. Tapi statusnya kembali diturunkan ke level waspada sejak 20 Juli 2016 setelah erupsi surut.

“Jadi kalau ada informasi statusnya siaga bisa dipastikan itu hoaks,” tegasnya.

Sejak erupsi terakhir itu pula, aktivitas vulkanik Bromo fluktuatif. Namun, gejala perubahan aktivitas mulai tampak pada Desember 2018 sampai Januari 2019 lalu. Saat itu sempat terjadi beberapa kali gempa vulkanik di dalam kawah.

“Tapi cirinya tetap sama, dari dalam kawah hanya mengeluarkan asap putih. Itu masih tanda normal,” ujar Wahyu.

Perubahan mulai terjadi dalam dua hari terakhir ini. Kawah mengeluarkan asap kecokelatan disertai material abu vulkanik setinggi 600 meter. Disertai intensitas tipis tremor 0,5 – 1 milimeter. Namun, puncak gunung masih tampak jelas dengan sesekali tertutup kabut.

“Jadi sejak dua hari terakhir ini bisa disebut ada erupsi, tapi levelnya masih kecil,” pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Gaya Superhero Ramaikan Jalanan Kota Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta – Patung Spiderman sedang makan di Jalan Suroto Yogyakarta menjadi salah satu penarik program Jogja Heboh 2019. Ketua Panitia Jogja Heboh Gonang Djuliastono mengatakan setidaknya ada 10 patung yang dipamerkan di sepanjang Jalan Suroto Yogyakarta bagian dari Jogja Heboh.

“Pertama atraksi mulai dari seni patung di Suroto di depan Gramedia. Itu kerja sama dengan Asosiasi Pematung, karya mereka bisa dipamerkan. Sebenarnya banyak patungnya tapi tempatnya menyesuaikan,” katanya, akhir pekan lalu.

Jogja Heboh yang dilaksanakan mulai dari tanggal 1-28 Februari 2019 ini memiliki dua hal penting yaitu atraksi dan transaksi. Atraksi, menurutnya, yakni berbagai event olahraga seperti Fun Bike dan lari di pinggir pantai.

Color run di Glagah dan alun-alun utara, lalu perdagangan khusus eksport seni kriya asli DIY di JEC. Hall A untuk food halal dalam rangka menyosialisasikan makanan halal kan di negara nonmuslim aja punya standar halal food,” katanya.

Selain itu, ada juga fashion on the street di Prawirotaman, Batik Fashion Show di Malioboro hingga Sarkem Festival. Sarkem Festival ini menggelar potensi kerajinan di wilayah tersebut.

“Pameran industri di Malioboro Mall, ada kesenian di tiga titik Mangkubumi ada UMKM ada 20 tenda supaya bisa menikmati Mangkubumi,” katanya.

Tidak hanya itu, agar menarik wisatawan, hotel-hotel juga memberikan diskon khusus selama bulan Februari 2019. Memang baru sebatas hotel yang menjadi anggota PHRI karena belum semua menjadi anggota PHRI DIY.

“Berapa persen tergantung mereka selama penyelenggaraan Jogja Heboh. Misal ada pengurangan pajak ya 10 persen kita bayar 15 persen,” katanya.

2 dari 2 halaman

Menyambut Bandara Baru Kulon Progo

Adanya atraksi yang dilakukan itu harapannya meningkatkan transaksi di Yogyakarta, tidak hanya di pusat belanja modern tapi juga sampai di pasar tradisonal.

“Harapannya menginap di hotel, belanja di tradisional, dan pusat wisata. Event ini jadi event tahunan kita tujukan untuk nasional dan international dalam menyambut NYIA,” katanya.

Jogja Heboh ini digelar dengan berbagai atraksi dan transaksi harapannya di tengah low season ada peningkatan secara ekonomi. Selain itu, lama tinggal di Jogja juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Target kita tidak gampang, persiapan satu setengah bulan ya minimal ada payment yang mengikuti program diskon ini bisa banyak. Jika ikut ini mereka tertarik maka tahun 2020 bisa berpartisipasi menyiapkan agenda untuk khusus Jogja heboh,” katanya.

Panitia Jogja Heboh menyiapkan Kutut sebagai ikon acara. Harapannya dengan adanya ikon acara ini maka ada sesuatu yang beda pada tahun ini.

“Mas kutut ikon kalo orang Jogja kan banyak memelihara kutut jadi bisa njawani kan Jogja heboh more than great sale. Ada yang beda pokoknya,” katanya.

Gonang berharap adanya Jogja Heboh ini dapat merangkul semua elemen pariwisata, tidak hanya di Kota Yogyakarta, tetapi juga di kota lainnya.

“Jadi kabupaten-kabupaten bisa berpartisipasi lebih banyak kunjungan dilakukan para wisatawan. Kulon Progo, Bantul, dan Jogja, Sleman nanti di taman kuliner ada demo masak,” dia menandaskan.


Simak video pilihan berikut ini:

Ketika Owa Jinak Jadi Beringas Serang Bocah di Riau

Liputan6.com, Pekanbaru – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengevakuasi seekor owa ungko dari Desa Bindur Picak, Kecamatan Koto Kampar, karena menyerang bocah berumur dua tahun.

Satwa bernama latin Hylobates agilis itu sudah berada di kandang transit BBKSDA di Jalan HR Soebrantas Pekanbaru.

Kepala Humas BBKSDA Riau Dian Indriati menjelaskan, satwa berbulu hitam itu merupakan peliharaan seorang warga di desa tersebut. Dipelihara sejak kecil, owa ungko itu sudah dewasa dan kini berusia 9 tahun.

Meski dipelihara sejak kecil, ternyata sifat liar ungko ini tak hilang begitu saja. Dia merasa terganggu dengan kehadiran bocah tetangga lalu menyerangnya hingga mengalami luka di bagian tangan.

“Kelamin ungko ini jantan, untuk korban sendiri sudah dirawat di bagian lukanya,” kata Dian kepada wartawan, Minggu (10/2/2019).

Penyerangan ini dilaporkan warga sekitar ke BBKSDA Resort Kampar. Sejumlah petugas atas perintah Kabid Wilayah II Heru Sutmantoro menuju desa itu dipimpin Kepala Resort Kampar, Salman Yasir.

“Evakuasi berlangsung beberapa jam pada Rabu, 6 Februari 2019, yang juga melibatkan perangkat desa dan warga sekitar,” kata Dian.

Dalam evakuasi, petugas dibantu warga berusaha menggiring ungko yang lepas dari kandangnya itu. Umpan dipersiapkan menuju kandang milik petugas dan ungko akhirnya masuk ke perangkap.

“Kemudian dibawa ke Pekanbaru untuk pemeriksaan medis. Ungko itu dinyatakan sehat dan akan mendiami kandang transit sebelum dilepasliarkan,” terang Dian.

Atas kejadian ini, Dian mengimbau masyarakat supaya tak memelihara satwa dilindungi. Menurut Dian, satwa liar kalau dipelihara sewaktu-waktu bisa menyerang jika merasa terancam.

“Kalau masih ada masyarakat yang memelihara sebaiknya diserahkan ke petugas,” imbau Dian.


Simak video pilihan berikut ini:

Akan Dilantik Jadi Wagub Jatim, Emil Dardak Mulai Berkemas dari Trenggalek

Liputan6.com, Jakarta – Gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur terpilih, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak akan dilantik Presiden Joko Widodo pada 13 Februari mendatang. Kabar tersebut membuat Emil segera berkemas dari Pendopo Trenggalek.

“Kemarin beliau mulai berkemas. Masih ada waktu 3-4 hari ini untuk boyongan sampai dilaksanakan pelantikan pada Rabu (13/2) mendatang,” kata Kabag Protokol dan Rumah Tangga Pemkab Trenggalek, Triadi Atmono, di Trenggalek. Demikian dikutip dari Antara, Sabtu (9/2/2019).

Emil mulai mengemasi buku-buku kerja dan puluhan piagam serta penghargaan yang pernah diterima selama memimpin Kabupaten Trenggalek sejak 2016. Emil juga mengakui dirinya dan keluarga sedang merapi-rapikan barang yang akan dibawa.

“Iya, saya baru mendapatkan kabar dari Pakde Karwo, kemarin siang, disusul dengan informasi Pak Sekda Provinsi kepada Ibu Khofifah, beliau menyampaikan bahwa sudah final pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Jawa Timur dilakukan Rabu, 13 Februari pukul 15.00 WIB di Istana Negara,Jakarta,” kata Emil saat dikonfirmasi wartawan.

Emil Dardak mengaku ingin memaksimalkan hari-hari terakhir sisa jabatannya sebagai Bupati Trenggalek.

“Pada 10 Februari, saya hadir di sini ada kegiatan ramah-tamah dengan DPRD Provinsi Jatim di malam hari. Sedangkan tanggal 11 ada perpisahan dengan Pakde Karwo pada malam hari. Jadi sementara bolak-balik dulu dan terakhir tanggal 12,” ujarnya.

Kalau dihitung, kata Emil, tinggal empat setengah hari lagi dirinya aktif menjadi seorang bupati.

“Saya ingin memanfaatkan sisa waktu empat hari ini dengan sebaik-baiknya untuk Trenggalek, meskipun menjadi Wakil Gubernur ini juga mengabdi untuk Trenggalek,” tutur dia.

2 dari 2 halaman

Terkesan Dengan Trenggalek

Resmi akan meninggalkan Trenggalek pada 13 Februari, Emil Dardak mengaku sangat terkesan dengan tanah kelahiran keluarganya tersebut.

“Trenggalek ini benar-benar ada kedekatan emosional yang tidak akan putus dengan saya maupun keluarga. Saya sangat terkesan sekali karena masyarakat Trenggalek sangat progresif, mereka mau diajak melihat dan menerapkan hal-hal baru,” kata Emil.

Dia menambahkan, banyak sekali pengalaman didapat selama memimpin Trenggalek. Bukan hanya bagi dirinya, tapi juga untuk keluarga.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

 

Gunung Karangetang Erupsi, Ratusan Warga Sitaro Mengungsi

Liputan6.com, Sulut – Lava Gunung Karangetang terus meluncur dari kawah utara mendekati ruas jalan Kampung Kawahang dan Kampung Batubulan, Kecamatan Siau Barat Utara (Sibarut), Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara.

Diperkirakan, jarak antara ujung guguran dengan jalan raya tepatnya jembatan Kali Malebuhe kurang dari 200 meter. Akibatnya ratusan warga setempat haru dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.

Hingga Senin siang (4/2/2019), jumlah warga yang mengungsi sudah mencapai 111 orang, dari jumlah sebelumnya pada saat erupsi Gunung Karangetang pertama, Sabtu (2/2/2019) yang hanya 22 orang.

“Jumlah pengungsi telah bertambah. 54 orang diungsikan ke Gereja GMIST Nazareth Niambangeng, dan 57 lainnya di Kantor Kampung Batubulan,” ungkap Camat Sibarut, Chatrin Lukas.

Selain yang diungsikan di dua tempat itu, beberapa warga  lainnya telah dibawa keluarga mereka ke tempat lain seperti di Ondong dan Ulu, Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Setelah proses evakuasi, petugas TNI maupun Polri dalam hal ini Koramil 1301.02 Siau dan Polsek Urban Sibar telah menutup akses jalan dari Kampung Kawahang menuju Kampung Batubulan.

“Pertimbangan keselamatan warga. Apalagi menuju Kampung Batubulan harus melewati Kali Malebuhe. Jadi yang boleh melintas hanya petugas dan wartawan,” tegas Kapolsek Urban Sibar Kompol Johanis Sasebohe.

Untuk penanganan warga di pengungsian, bantuan terus berdatangan dari BPBD Sitaro, Dinas Sosial maupun Palang Merah Indonesia (PMI) Sitaro. Proses pembagian dilakukan oleh Camat Sibarut dibantu para relawan.


Simak juga video pilihan berikut ini:

Suara Gemuruh Masih Terdengar dari Gunung Karangetang

Liputan6.com, Manado – Setelah terjadinya lelehan lava Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Sabtu, 2 Februari 2019, hingga kini gunung setinggi 1784 mdpl masih menunjukkan peningkatan aktivitas. Pada Senin (4/2/2019) pagi, masih terdengar gemuruh dari Gunung Karangetang.

“Suara gemuruh lemah sampai agak kuat sesekali terjadi. Tingkat aktivitas di level III atau siaga,” ungkap Pengamat Gunung Api Karangetang, Yudia Prama Tatipang.

Terkait kondisi itu, Yudia mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Karangetang dan pengunjung atau wisatawan tidak mendaki dan beraktivitas pada radius 2,5 km dari kawah 2 (utara), dan juga perluasan ke sektor Selatan, Tenggara, Barat dan Baratdaya sejauh 3 km.

“Kami juga meminta masyarakat menyiapkan masker penutup hidung dan mulut jika terjadi hujan abu,” ujar dia.

Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar hujan dan banjir bandang, terutama di sepanjang bantaran kali Batuawang hingga ke pantai.

2 dari 2 halaman

Masih Terjadi Lelehan Lava

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Dr Devy Insan Kamil mengatakan lelehan lava masih terjadi dari kawah Gunung Karangetang, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Minggu.

“Statusnya masih siaga level III,” kata Devy melalui telepon selular, dilansir Antara.

Lelehan atau luncuran lava masih terjadi, dan itu tidak hanya terjadi saat ini tetapi sejak sebelum-sebelumnya. Namun seiring waktu, jangkauan lelehan semakin jauh hingga mencapai 2.500 meter mengarah ke kali.

“Materialnya terus menumpuk, nah yang kami khawatirkan adalah sewaktu-waktu terjadi longsoran material yang bisa menyebabkan awan panas guguran,” ujarnya.

PVMBG, lanjut dia, terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait di daerah untuk menutup sementara akses jalan yang mengarah ke kali untuk menghindari potensi bahaya.

“Akan terus kami evaluasi perkembangannya untuk menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan sekitar pukul 10.45 Wita, Sabtu, 2 Februari 2019, teramati ujung guguran atau lelehan lava ke Kali Batuare sejauh lebih kurang 2.000 meter dari kawah dua (bagian utara) serta terdapat penyimpangan kejadian guguran atau leleran ke Kali Melebuhe (timur laut dari kawah dua dan sebelah timur Kali Batuare). Jarak antara ujung guguran/leleran lava dari Kali Melebuhe ke pantai sekitar 1.000 meter.

Di antara Kali Batuare dan Kali Melebuhe terdapat pemukiman bernama Niambangeng, Kampung Batubulan di mana terdapat sekitar delapan kepala keluarga (sembilan laki-laki, sembilan perempuan dan tiga anak-anak). Saat ini mereka telah diungsikan.


Simak video pilihan berikut ini:

Guguran Lava Gunung Karangetang Mengancam, Puluhan Warga Dievakuasi

Liputan6.com, Siau – Gunung api Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, menunjukan peningkatan aktivitasnya, Sabtu (02/02/2019) siang. Bahkan puluhan penduduk sekitar harus dievakuasi akibat guguran lava.

“Proses evakuasi dilakukan aparat gabungan TNI, Polri dan BPBD Kabupaten Sitaro. Ada 22 warga Kampung Batubulan, Kecamatan Siau Barat Utara yang diungsikan,” ungkap Kepala BPBD Kabupaten Sitaro, Bob Wuaten.

Berdasarkan data yang diperoleh, 22 warga yang dievakuasi itu terbagi atas 6 KK dengan rincian 8 orang laki-laki, 10 orang perempuan, serta 4 anak-anak.

Mereka pun ditempatkan oleh petugas di rumah-rumah warga Kampung Batubulan lainnya yang dianggap aman dari ancaman guguran lava.

“Kami terus memantau perkembangan disana sambil mendata ulang identitas warga. Kebetulan petugas kami dibantu aparat TNI maupun Polri tetap standby dilokasi,” ujar Bob.

Kapolsek Urban Siau Barat Kompol Johanis Sasebohe yang memimpin langsung proses evakuasi menerangkan, setelah tiba dilokasi, pihaknya langsung mengambil berbagai tindakan.

Antara lain mengimbau masyarakat yang masih sementara bekerja di dekat Kali Marebuhe dan Kali Batuare agar berhenti melakukan aktifitas dekat kawasan gunung.

2 dari 2 halaman

Proses Evakuasi

“Kami juga langsung mengevakuasi masyarakat yang dekat dengan Kali Marebuhe dan Kali Batuare untuk pindah ke tempat yang lebih aman,” ujar kapolsek.

Dia menambahkan, anggota polisi juga langsung menutup akses jalan antara Lindongan I dan lindongan II Kampung Batubulan.

“Kami pastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa guguran lava tersebut,” ujarnya.

Kepala Pos Pengatan Gunung Api (PGA) Karangetang, Yudia Tatipang mengatakan, titik akhir guguran lava dengan pemukiman warga berjarak sekitar 300 meter.

Sedangkan dengan ruas jalan antara Lindongan I dan Lindongan II Kampung Batubulan sekitar 200 meter.

“Yang kami rekomendasikan dievakuasi adalah warga yang bermukim diantara Kali Batuare dan Kali Marebuhe. Kami kuatir ketika guguran lava terus mendekat, mereka bisa terisolir,” kata Tatipang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Gunung Merapi Luncurkan 9 Kali Guguran Lava Pijar

Liputan6.com, Yogyakarta- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat sembilan kali guguran lava meluncur dari Gunung Merapi, Sabtu (2/2/2019). 

Lewat akun Twitter resminya BPPTKG menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB, gunung api itu telah sembilan kali meluncurkan guguran lava yang berlangsung selama 3 sampai 40 detik.

Sebelumnya, pada Jumat malam kemarin, sekitar pukul 18.00-24.00 WIB, tercatat ada 16 kali guguran dengan durai 17 hingga 88 detik. Empat dari 16 guguran lava pijar itu teramati meluncur ke arah Kali Gendol dengan jarak luncur 200-850 meter selama 20-88 detik.

Sementara itu, cuaca di kawasan Gunung Merapi tadi pagi berkabut dengan suhu udara berkisar 21,5 derajat Celsius, kelembaban udara 85 persen, tekanan udara 918,8 Hpa, dan angin tenang.

Menurut analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi yang terakhir dirilis BPPTKG, volume kubah lava telah mencapai 461.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 1.300 meter kubik per hari. Atau lebih kecil dari pekan sebelumnya.

Saat ini kubah lava Merapi relatif stabil dengan laju pertumbuhan yang masih rendah, rata-rata kurang dari 20.000 meter kubik per hari. 

2 dari 3 halaman

Guguran Awan Panas Pertama Merapi

Rangkaian awan panas guguran pertama keluar dari Gunung Merapi terjadi pada 29 Januari 2019 ke arah Kali Gendol, pada pukul 20.17 WIB. Saat itu jarak luncur tercatat 1.400 meter dengan durasi 141 detik. 

Awan panas guguran kedua terjadi pada pukul 20.53 WIB dengan jarak luncur 1.350 meter dan durasi 135 detik, dan ketiga terjadi pada pukul 21.41 WIB, jarak luncur 1.100 meter dengan durasi 111 detik.

Hingga saat ini BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada level II atau Waspada. Pihaknya saat ini untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

BPPTKG juga mengeluarkan mengimbau pada warga untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: