Detik-Detik Merapi Luncurkan Lava Pijar Pagi Tadi Terekam Kamera CCTV

Fokus, Sleman – Rekaman CCTV dari Pos Pantauan Merapi Induk Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa Merapi kembali erupsi. Guguran awan panas Merapi terjadi pagi ini pukul 06.06 WIB dengan durasi sekitar 110 detik.

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Minggu (21/4/2019), guguran awan panas mengarah ke hulu Kali Gendol Sleman dengan jarak luncur mencapai 1,1 kilometer.

Luncuran lava pijar dari puncak Merapi terjadi sejak Minggu malam. Meski aktivitas vulkanik Merapi terus meningkat, aktivitas warga di Desa Sidorejo, Klaten, tetap berjalan normal.

Warga mengaku sudah melakukan persiapan jika sewaktu-waktu harus mengungsi.

Hingga kini, status Gunung Merapi masih bertahan pada level dua atau waspada. Warga dilarang mendekati radius kurang dari tiga kilometer dari Puncak Merapi. (Rio Audhitama Sihombing) 

Kembali Erupsi, Luncuran Awan Panas Gunung Merapi Makin Jauh

Liputan6.com, Yogyakarta – Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan empat kali guguran lava pijar pada Minggu dengan jarak luncur 250-1.000 meter. Hal ini berdasarkan keterangan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Kepala BPPTKG Hanik Humaida dari keterangan resminya menyebutkan, berdasarkan pengamatan melalui CCTV mulai pukul 00:00-06:00 WIB, empat kali guguran lava pijar Gunung Merapi itu mengarah ke hulu Kali Gendol.

Selain guguran lava, pada periode tersebut tercatat 15 kali gempa guguran dengan amplitudo 4 hingga 65 mm selama 13 hingga 100 detik, dan 2 kali gempa fase banyak dengan amplitudo 3-12 mm selama 8-15 detik.

Hasil pengamatan visual menunjukkan asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 70 meter di atas puncak kawah.

Dilansir Antara, angin di gunung itu bertiup lemah ke arah tenggara. Suhu udaranya 17-20.2 derajat celsius dan kelembapan udaranya 66-87 persen dan tekanan udara 567-706 mmHg.

Hingga saat ini, BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sehubungan semakin jauhnya jarak luncur awan panas guguran Merapi, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat juga diminta tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi atau kantor BPPTKG, atau melalui media sosial BPPTKG.

Simak video pilihan berikut ini:

Warga bersama TNI memperbaiki jalur evakuasi guna mengantisipasi erupsi Gunung Merapi yang bisa kapan saja terjadi.

Ungkap Rasa Syukur, Warga Lereng Gunung Merapi Gelar Grebeg Sadranan

Liputan6.com, Boyolali – Ribuan orang warga lereng Gunung Merapi dan Merbabu dengan antusias mengikuti upacara tradisi “Grebeg Sadranan” yang digelar setiap bulan Ruwah (kalender jawa) di kawasan depan Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu.

Ribuan warga dari berbagai daerah yang memadati sepanjang jalan kawasan Kantor Kecamatan Cepogo mengikuti acara prosesi kirab sebanyak 14 gunungan hasil bumi dan makanan khas daerah setempat, serta ratusan tenong berisi makanan untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Menurut Camat Cepogo Insan Adi Asmono, tradisi Grebeg Sadranan intinya mendoakan para leluhur, dan rasa bersyukur atas hasil pertanian atau hasil bumi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dengan membawakan gunungan beserta tenong berisi makanan untuk dibagikan kepada masyarakat.

“Grebeg Sadranan khusus tahun ini, pertama kali dilakukan serentak diikuti 15 desa di Cepogo. Tradisi ini, sebelumnya dilakukan setiap desa secara bergantian waktunya,” kata Insan dilansir Antara.

Menurut Insan, tradisi ini sudah dilakukan turun-menurun, selain untuk melestarikan budaya masyarakat setempat juga dilaksanakan secara profesional untuk menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Cepogo.

Prosesi Grebeg Sadranan diawali dengan arak-arakan tenong sebanyak 315 tenong dan 45 tumpeng serta 7 gunungan hasil bumi dan 7 gunungan makanan khas. Tenong, tumpeng dan gunungan diarak oleh perwakilan masyarakat dari 15 desa di Cepogo.

Dua pasukan prajurit Pesangrahan Paras lengkap dengan korp musik mengawali arakan-arakan kemudiana diiringi segenap perangkat desa dan peserta pembawa tenong makanan. Peserta warga dari Desa Wonodoyo, Jombong, Gedangan, Sukabumi, Genting, Cepogo, Kembangkuning, Gubug, Mliwis, Sumbung, Paras, Mliwis, Jelok, Bakulan, Candigatak dan Cabeankunti.

Rombongan tenong membawa makanan diletakkan berjejer di sepanjang jalan depan kecamatan, dan kemudian dilakukan doa bersama. Setelah itu, masyarakat langsung dipersilahkan menikmati makanan dalam tenong dan tumpeng serta berebut gunungan hasil bumi dan makan khas setempat.

Gunung Merapi Erupsi, Warga Boyolali Tetap Beraktivitas Normal

Fokus, Boyolali – Warga sekitar Gunung Merapi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, hingga Jumat siang masih beraktivitas normal.

Mereka seperti tidak terganggu dengan aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang sempat meningkat pada Jumat pagi, 5 April kemarin.

“Pada tanggal 5 April 2019 telah terjadi guguran lava pijar ke arah Kali Gendol. Untuk status masih level 2 waspada,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi Suraji, seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Sabtu (6/4/2019).

Menurut informasi dari petugas pemantau, guguran terjadi sekitar pukul 09.41 WIB. Hingga beberapa jam setelahnya terjadi sekitar tujuh kali guguran lava dan awan panas.

Namun, menjelang sore, suasana kembali normal. Meski demikian, petugas tetap minta warga sekitar Merapi untuk waspada.

BPBD Sleman Buat Aplikasi Jarak Aku dan Merapi untuk Pantau Status Vulkanik

Liputan6.com, Sleman – Guguran awan panas dan lava pijar hingga kini terus terjadi di Gunung Merapi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, BPBD setempat membuat aplikasi yang bisa membantu warga untuk mendeteksi aman tidaknya posisi warga.  

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Jumat (5/4/2019), BPPTKG Yogyakarta mencatat Gunung Merapi mengeluarkan tujuh kali guguran sepanjang Jumat pagi. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi terus terjadi secara fluktuatif.

Untuk mencegah adanya korban akibat aktivitas Gunung Merapi, BPBD Kabupaten Sleman membuat aplikasi untuk warga bernama Jarak Aku dan Merapi.  

Dengan aplikasi yang bisa diunduh di telepon genggam, warga bisa mengetahui apakah posisinya aman atau tidak dari ancaman bencana Gunung Merapi. Warga pun bisa melakukan upaya yang diperlukan untuk menyelamatkan diri.  

Selain bisa mengetahui jarak pengguna dengan Merapi, warga juga bisa mengetahui lokasi pengungsian atau tempat aman terdekat.  

Saat ini, warga dilarang beraktivitas kurang dari radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Masih Berstatus Waspada, Begini Kondisi Terkini Gunung Merapi

Liputan6.com, Yogyakarta – Gunung Agung di Bali mengalami peningkatan aktivitas. Lalu, bagaimana kondisi Gunung Merapi saat ini? Gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu mengalami enam kali gempa guguran dalam enam jam pengamatan mulai 00.00 WIB sampai 06.00 WIB pada Kamis (4/4/2019).

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida dalam pernyataan resminya menyebutkan enam gempa guguran selama periode periode tersebut amplitudonya 8-55 mm dengan durasi 32-78 detik.

Hasil pengamatan visual menunjukkan kawah Merapi tidak berasap. Angin di gunung itu bertiup lemah ke arah barat. Suhu udaranya 17.6-20.3 derajat Celsius dan kelembaban udaranya 75-91 persen dan tekanan udara 568-709 mmHg.

BPPTKG tidak mengamati adanya guguran lava selama periode pengamatan Rabu (3/4) pukul 18.00 WIB sampai Kamis pukul 06.00 WIB.

Hingga saat ini BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sehubungan semakin jauhnya jarak luncur awan panas guguran Merapi, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat juga diminta tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi atau kantor BPPTKG, atau memantau media sosial BPPTKG.

Simak video pilihan berikut ini:

Meski terus mengeluarkan lava pijar dan awan panas, status Gunung Merapi masih pada level waspada.

Merapi Kembali Semburkan Awan Panas Sejauh 1.500 Meter

Liputan6.com, Jakarta – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengabarkan bahwa Gunung Merapi di Jawa Tengah meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncuran 1.500 meter pada Rabu pagi.

Melalui akun Instagram BPPTKG disebutkan, luncuran itu terjadi pukul 04.23 WIB, dengan durasi 150 detik dalam jarak 1.500 meter ke arah hulu Kali Gendol.

“Berdasarkan pengamatan BPPTKG periode Selasa, 26 Maret 2019 hingga hari ini, Rabu (27/3/2019) pukul 06.00 WIB, terdapat 3 kali guguran lava Merapi dengan jarak luncur 750-900 meter ke hulu Kali Gendol,” ujar BPPTKG dalam keterangannya.

Kemudian pukul 08.05 WIB terjadi awan panas guguran dengan durasi 99,84 detik. Awan panas ini tidak terpantau secara visual karena cuaca yang berkabut.

Hingga kini, Gunung Merapi masih bertastus Level II atau Waspada. BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Merapi.

Masyarakat juga diimbau agar waspada terhadap bahaya lahar, terutama saat terjadi hujan di kawasan Gunung Merapi. Terutama bagi warga yang tinggal di kawasan Kali Gendol agar meningkatkan kewaspadaan.

Reporter: Dewi Larasati

Awan Panas Merapi Kembali Keluar Malam Ini, Semburan Capai 1,3 Km

JakartaAwan panas kembali keluar dari kawah Gunung Merapi malam ini. Jarak luncur awan panas tersebut 1,3 kilometer. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas Merapi malam ini di akun Twitter resminya @BPPTKG.
Informasi mengenai semburan awan panas dicuitkan Jumat (8/3), pukul 00.17 WIB. Dalam cuitan tersebut dijelaskan Awan panas meluncur dari puncak gunung dalam waktu 130 detik ke arah hulu Kali Gendol pada pukul 23.30 WIB, Kamis (7/3).
BPPTKG menjelaskan jarak luncur masih dalam kategori aman rekomendasi. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang karena jarak luncur yang terbilang masih aman.

Sebelumnya BPPTKG juga melaporkan aktivitas serupa terjadi di puncak Gunung Merapi, kemarin siang. Adapun awan panas guguran siang kemarin berdurasi 97 detik dengan jarak luncur 1 kilometer. Berdasarkan pengamatan BPPTKG awan panas guguran mengarah ke tenggara.

(aud/rvk)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Hujan Abu Vulnanik Merapi Guyurr Kawasan Sleman

Sleman – Gunung Merapi pagi ini kembali mengalami guguran awan panas. Dilaporkan di sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman terjadi hujan abu.

“Laporan TRC BPBD, hujan abu tipis terpantau di Kalitengah Lor, Kaliurang, Turgo, Ngepring, Nganggring, Tunggul Arum,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan dalam keterangannya, Sabtu (2/3/2019).

Terpisah, Kepala Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Sunarta menyampaikan laporan hujan abu tipis terjadi di Kinahrejo, Srunen, Kalitengah Lor, dan gardu pandang Kaliurang.

“Ada laporan hujan abu tipis,” jelasnya.
Sebelumnya, Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Kabupaten Sleman mencatat telah terjadi 7 kali guguran awan panas dalam kurun waktu kurang dari satu jam.

“Terjadi 7 kali awan panas guguran pagi tadi antara pukul 4.51-5.40 WIB,” kata Kepala Pos PGM Kaliurang, Sunarta saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/3/2019).

Rinciannya, guguran awan panas terjadi pada pukul 4.51, 4.54, 5.03, 5.07, 5.10 dengan jarak luncur maksimum 2 kilometer. Kemudian guguran awan panas kembali terjadi pada pukul 5.33 dan 5.40 dengan jarak luncur masing-masing 800 dan 900 meter.

“Dari CCTV teramati awan panas 7 kali ke arah Kali Gendol dengan jarak luncur maksimum 2 kilometer,” jelasnya.

Status Gunung Merapi masih Waspada (Level II), radius bahaya 3 kilometer dari puncak.
(mbr/mbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Guguran Awan Panas Merapi Meluncur Sepanjang 2 Km ke Kali Gendol

Sleman – Gunung Merapi kembali mengalami guguran awan panas, pagi ini. Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM)Kaliurang, mencatat telah 7 kali guguran awan panas dalam kurun kurang dari satu jam, mengarah ke KaliGendol.

“Terjadi 7 kali awan panas guguran pagi tadi antara pukul 4.51-5.40 WIB,” kata Kepala Pos PGM Kaliurang, Sleman, Sunarta saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/3/2019).

Rinciannya, guguran awan panas terjadi pada pukul 4.51, 4.54, 5.03, 5.07, 5.10 dengan jarak luncur maksimum 2 kilometer. Kemudian guguran awan panas kembali terjadi pada pukul 5.33 dan 5.40 dengan jarak luncur masing-masing 800 dan 900 meter.

“Dari CCTV teramati awan panas 7 kali ke arah Kali Gendol dengan jarak luncur maksimum 2 kilometer,” jelasnya.

Status Gunung Merapi masih Waspada (Level II), radius bahaya 3 kilometer dari puncak.


(mbr/mbr)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>