Menyimak Cerita 3 Korban Pemerkosaan yang Berani Buka Suara

Joanna Willams berusia 24 tahun ketika tiba untuk program internship dengan Australian Defence Abuse Response Taskforce. Setiap hari selama 2 bulan selanjutnya, Joanna terus membaca dampak psikologi dari para korban kekerasan yang menimpa tentara angkatan darat Australia.

Ia kemudian menemukan kecocokan pada kasus pemerkosaan dirinya yang tak pernah diungkapkan pada siapapun. “Saya tahu saya mengalami pelecehan seksual di usia 20 tahun-an. Tapi, saat membaca kisah pada korban pemerkosaan, saya sadar kalau dampaknya juga terjadi pada saya,” tuturnya seperti dikutip dari news.com.au, Jumat (9/11/2018). 

Dari situ, Joanna beranggapan harus ada perubahan. “Saya mulai memberitahu kebenarannya pada orang di sekitar saya. Tidak hanya bagaimana saya diperkosa, tapi juga tentang bagaimana biasanya kekerasan seksual dulunya ada di hidup saya,” tutur Joanna.

Selama beberapa bulan ke depan setelahnya, cerita ini terus dikisahkan Joanna ke lusinan anggota keluarga dan teman. Tapi, mengungkap identitasnya sebagai korban pemerkosaan tentu jauh dari kata mudah.

“Berbicara pada teman dan keluarga memang sulit, namun yang menakutkan adalah saat bersaksi di jejaring sosial lebih besar. Tapi, saya ingin berbicara karena saya ingin yang lain tahu kalau meraka tak sendiri. Mengunggah status tersebut di Facebook adalah satu dari sekian banyak momen menakutkan di hidup saya,” katanya.

Tapi, setelah beberapa lama terunggah, posting-an tersebut menerima lebih dari 200 likes dan kotak pesannya langsung penuh dukungan, bahkan cerita dari mereka yang ternyata juga pernah bernasib serupa.

Feedback ini membuat Joanna terus angkat bicara dan menggalakkan kampane Red My Lips, di mana mengundang publik untuk memakai lipstik merah selama satu bulan untuk membangkitkan kesadaran tentang kekerasan seksual dan bagaimana sosial menyalahkan si korban.

“Secara tidak langsung tidak membiarkan pada korban pemerkosaan bercerita di jejaring sosial, teman, keluarga, bahkan praktisi kesehatan seolah kesehatan mental kami tidak berari. Bahkan, korban harus malu dengan takdir yang dipilihkan oleh pelaku,” ujar Joanna.

Keberanian mengungkap lembaran kelam itu didasari agar Joanna dan para korban pemerkosaan tak perlu malu untuk memberitahu kisah mereka, bahkan kalau perlu, mencari pertolongan untuk mengembalikan stabilitas psikologi pasca-trauma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *