Ma’ruf Sesalkan Puisi Neno Warisman: Masa Jokowi dan Saya Dianggap Kafir

Jakarta – Cawapres Ma’ruf Amin menyayangkan doa Neno Warisman yang dibacakan saat Munajat 212. Ma’ruf heran Pilpres disamakan dengan Perang Badar.

“Pertama kok pilpres kok jadi kayak Perang Badar? Perang Badar itu kan perang habis-habisan. Hidup mati. Kita kan hanya memilih pemimpin,” kata Ma’ruf di Mall Palm Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (23/2/2019).

Ma’ruf menilai doa Neno itu tidak tetap. Ma’ruf kembali menegaskan yang sedang dijalani Indonesia bukan perang.
“Kedua, menempatkan posisi yang lain sebagai orang kafir. Masak Pak Jokowi dengan saya dianggap orang kafir. Itu sudah tidak tepat. Menyayangkanlah. Kita kan pilpres bukan perang badar,” ujarnya.

Selain itu, Ma’ruf juga menyambut positif Bawaslu yang mau menyelidiki acara Munajat 212 di Monas itu. Ma’ruf tidak ingin 212 dijadikan alat politik.

“Oh bagus, supaya jangan sampai 212 itu dijadikan kendaraan politik. Itu bagus Bawaslu menyelidiki itu,” ucapya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Neno Warisman, membacakan ‘Puisi Munajat 212’. Potongan video saat Neno membacakan puisi itu ramai dibagikan di media sosial.

Berikut ini isi potongan puisi dari video yang beredar:

jangan, jangan Engkau tinggalkan kami
dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu
(idh/hri)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tiba di Bali, Sandiaga Disambut Spanduk ‘Bali Basis Jokowi-Amin’

Jakarta – Sejumlah massa yang membawa spanduk ‘Bali Basis 01 Jokowi-Amin’ menyambut kedatangan rombongan cawapres Sandiaga Uno di Bali. Apa respons Sandiaga?

Pantauan di lapangan ‘penyambutan’ itu dimulai sejak rombongan Sandiaga keluar dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Sejumlah massa terlihat membentangkan spanduk ‘Bali basis 01 Jokowi-Amin’ sambil mengacungkan satu jari atau jempolnya.

“Jokowi, Jokowi,” ucap massa.

Tiba di Bali, Sandiaga Disambut Spanduk 'Bali Basis Jokowi-Amin'Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom

Tak hanya itu, dalam perjalanan dari Gianyar menuju lokasi kampanye lainnya, massa yang membawa spanduk serupa juga kembali menyambut Sandiaga. Mereka berdiri di tepi jalan sambil bersorak menyebut nama Jokowi-Ma’ruf Amin.

Ada juga spanduk-spanduk ‘Tak Akan Pilih #Sandiwara pilih Jokowi saja’ di lokasi Sandiaga berkampanye di Klungkung. Spanduk itu dipasang bersebelahan dengan spanduk penyambutan Sandiaga.

“Ada sambutan dari pendukung kita maupun presiden. Saya lihat bukan penolakan tapi penyambutan,” ujar Sandiaga di Desa Sumitra, Gianyar, Bali, Sabtu (23/2/2019).

Tiba di Bali, Sandiaga Disambut Spanduk 'Bali Basis Jokowi-Amin'Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom

Sandiaga mengatakan ‘penyambutan’ itu merupakan salah satu proses demokrasi. Sandiaga bahkan mengucapkan terima kasih untuk penyambutan warga Bali tersebut.

“Ini pesta demokrasi yang kita kedepankan dengan sukacita karena Bali ini sangat terbuka dan Bali ini jadi gerbang pariwisata Indonesia siapapun yang datang kesini disambut dengan ramah tamah,” tuturnya.

(ams/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kekaguman Prabowo kepada Emak-Emak Pendukungnya di Medan

Liputan6.com, Medan – Kedatangan Capres Prabowo Subianto di Gedung Regale Internasional Convention Center Kota Medan, Sumatera Utara, disambut ribuan pendukung yang telah menunggu sejak pagi.

Sorakan pendukung menyebut nama Prabowo terus menggema ketika capres 02 itu terlihat menaiki mobil dengan kabin atas yang terbuka.

“Prabowo, Prabowo, Prabowo,” sorak para pendukungnya, Sabtu (23/2/2019).

Prabowo tampak mengenakan baju cokelat dan memakai kopiah juga langsung menyambut para pendukungnya dari atas mobil. Mantan Pangkostrad itu juga tampak menyalami para pendukung.

Begitu sampai di dalam gedung, Prabowo langsung berpidato dan menyampaikan kekagumannya terhadap antusiasme masyarakat pendukung Prabowo-Sandi di Kota Medan.

“Kagum saya melihat emak-emak ini. Semangat mereka luar biasa. Tangan orang Sumut ini keras banget. Saat bersalaman tadi, ada yang narik baju saya,” ucapnya.

Prabowo juga mengungkapkan, jika terpilih di  Pilpres 2019 nanti, dirinya akan menyejahterakan rakyat Indonesia. Dia tidak mau melihat rakyat Indonesia miskin.

“Kekayaan di Indonesia hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Itu yang saya rasakan. Saya membela bangsa Indonesia. Apa pun yang terjadi, saya membela rakyat, saya tidak ingin rakyat saya miskin,” ungkapnya.

2 dari 2 halaman

Ketemu Pengusaha

Sebelumnya Prabowo bersilaturahmi dengan pengusaha dan warga etnis Tionghoa di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut). Silaturahmi berlangsung di Gedung Selecta, Jalan Listrik, Kecamatan Medan Baru.

Dalam kata sambutannya, di hadapan sekitar 1.500 undangan yang hadir, Prabowo menyinggung soal pemindahan ibu kota hingga soal krisis air bersih. Pasangan Sandiaga Uno itu juga mengingatkan soal tantangan dan perubahan iklim yang harus dihadapi bangsa Indonesia.

“Tantangan kita selanjutnya adalah perubahan iklim. Untuk perubahan iklim, yang akan mengakibatkan permukaan air laut naik,” kata Prabowo, Jumat, 22 Februari 2019, malam.

(Reza Efendi)


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Cerita Akhir Pekan: Setumpuk Masalah Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Menyambut Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari, sampah memang masih jadi persoalan sulit dan kompleks yang belum bisa sepenuhnya diatasi di Indonesia. Jumlah sampah diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pelan tapi pasti, sampah menjadi masalah besar bagi negara kita. Sayangnya, belum ada kesadaran mengelola sampah, karena pedoman umum yang ada adalah sampah harus dibuang. Padahal, seharusnya tiap rumah tangga memilah sampahnya sebelum membuang.

Di Indonesia, tiap rumah biasanya memiliki satu tempat sampah di bagian dapur, di mana semua sisa makanan, plastik bekas, kemasan produk rumah tangga, dibuang menjadi satu. Di halaman depan, juga hanya ada satu tempat sampah besar. Di dalam tempat sampah besar itu, sampah dapur akan dijadikan satu dengan sampah dari bagian rumah yang lain.

Seperti dilansir VOA Indonesia, memilah sampah memang belum menjadi budaya. Ini tidak terlepas dari kebiasaan di masa lalu, di mana setiap rumah khususnya di pedesaan, memiliki satu lubang besar di sudut halaman mereka.

Di lubang itulah sampah dibuang, kadang kemudian dibakar atau ditimbun. Namun sebagian besar sampah di Indonesia, berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Saat ini model penanganan sampah semacam itu tak bisa lagi dilakukan.

Pemerintah sampai ke tingkat paling rendah, sudah mulai memiliki kesadaran baru bahwa sampah harus dipilah dan kemudian diolah. Tapi jumlahnya masih sedikit.

Menurut data dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memproduksi 65 juta ton sampah pada 2016, naik 1 juta ton dari tahun sebelumnya.

Dari jumlah 65 juta ton, sekitar 15 juta ton mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak ditangani. Lalu, 7 persen sampah didaur ulang dan 69 persen sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di Indonesia ada lebih dari 400 TPA tapi baru 10 persen yang beroperasi secara maksimal. Itu karena ada sejumlah masalah dalam hal pengelolaan.

Mungkin belum banyak yang tahu kenapa tiap 21 Februari dijadikan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Alasannya karena untuk mengenang tragedi longsornya gunungan sampah di TPA sampah Leuwigajah, Kabupaten Banding dan Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005.

2 dari 3 halaman

Hari Peduli Sampah Nasional

Dilansir dari Solopos dan berbagai sumber, kawasan TPA yang berbukit-bukit itu diguyur hujan selama dua hari berturut-turut. Gunungan sampah setinggi 50 meter-70 meter itu longsor dan menimpun lebih dari 100 rumah di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Ada 157 warga tewas akibat longsornya tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah. Bahkan kabarnya, dua kampung terhapus dari peta akibat tergulung gunung sampah yang longsor. Hingga kini, belum jelas terdakwanya siapa.

Longsor TPA Leuwigajah mengingatkan kita, betapa sebetulnya TPA-TPA yang ada di Indonesia juga merupakan bom waktu, bisa ‘meledak’ sewaktu-waktu.

Peristiwa tragis itu diyakini bisa terjadi karena TPA di Indonesia belum standar dengan sanitary landfill atau sistem pengelolaan sampah dengan cara membuang sampah di lokasi cekung, memadatkan dan kemudian menimbunnya dengan tanah.

Yang terjadi di Indonesia, kebanyakan masih berupa siste open dumping atau dibuang begitu saja di TPA sehingga sampahnya menggunung dan rawan longsor. Lalu bagaimana jalan keluarnya?  Pemerintah sudah berusaha menyelesaikan masalah sampah tersebut dengan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Target sampah yang terkurangi adalah sebesar 20 persen pada 2019 dan target sampah yang tertangani sebesar 75 persen pada 2019. Sementara dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, target sampah yang terkurangi adalah sebesar 30 persen dan tertangani sebesar 70 persen pada 2025.

3 dari 3 halaman

Buang Sampah pada Tempatnya

Lalu ada UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah yaitu mengubah paradigma pengelolaan sampah dari kumpul-angkut-buang menjadi pengurangan di sumber (reduce at source) dan daur ulang sumber daya (resources recycle).

Selain itu, semua TPA diharapkan bakal lebih berwawasan lingkungan agar tragedi 2005 tak terulang lagi. Belakangan ini, tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah cenderung meningkat.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, dalam empat tahun terakhir jumlah Bank Sampah meningkat signifikan dari 1.172 unit menjadi 7.488 unit.

Pada rangkaian HPSN 2019 ini, KLHK juga mengadakan berbagai rangkaian kegiatan seperti Clean Up yang akan serentak diselenggarakan pada 24 Februari 2019 di pantai dan sungai di delapan kota yaitu Kendal, Tegal, Brebes, Pemalang, Batang, Rembang, Jepara dan Kebumen.

Rangkaian kegiatan lainnya adalah Temu Karya Bank Sampah, FGD dengan Para Champion di Pemerintah Daerah, Komunitas dan Private Sector, Lomba Video/VLOG Citizen Journalism serta Edukasi melalui Animasi Web Series dan Comic Strips. Dan jangan lupa satu cara paling mudah untuk ikut berperan dalam menangani masalah sampah di negara kita, dengan membuang sampah pada tempatnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Hasto: Jokowi Tak Hobi Berkuda, Hobinya Blusukan ke Rakyat

Jakarta – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto, safari politik ke Kota Bandung. Dalam lawatannya, dia menyempatkan bertemu dengan sejumlah budayawan Kota Bandung untuk membahas berbagai masalah.

Pertemuan itu berlangsung di kediaman salah satu seniman, Budi Dalton, di Jalan Rengkong, Kota Bandung, Jumat (22/2/2/2019). Dalam pertemuan tersebut terlihat hadir Eddy Brokoli, Man ‘Jasad’ dan sejumlah pelaku seni dan budaya lainnya.

Hasto menyampaikan harapannya agar para budayawan Kota Bandung ini bisa memberi dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf. Sebab dia yakin pasangan nomor urut 01 tersebut dapat membawa perubahan bagi Indonesia.
“Kami harap dukungannya ke komunitas agar dukung pemimpin baik hati. Tidak ada rekam jejak masa lalu yang menyakiti rakyat,” ucap Hasto.

Dia menegaskan, Jokowi-Ma’ruf memiliki komitmen kuat untuk mempertahankan kebudayaan Indonesia. “Kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf mengangkat seluruh kebudayaan dan jati diri bangsa,” katanya.

“Maka Pak Jokowi tidak akan berubah menjadi orang yang keinggris-ingrisan yang hobinya berkuda. Jokowi hobinya naik motor, bersepeda, blusukan dengan rakyat. Memperbaiki Sungai Ciliwung, Citarum sebagai jalan peradaban Indonesia,” tutur Hasto menambahkan.

Budi Dalton menyambut baik kedatangan Hasto di kediamannya. Dia menyampaikan beberapa gagasan program khusus di bidang kebudayaan agar bisa menjadi perhatian oleh pasangan capres-cawapres yang saat ini sedang berkontestasi.

“Kita bicara program, bukan bicara kampanye kaitan dengan politik. Kami menyampaikan segala kekurangan di lini budaya, mudah-mudahan teraktualisasi,” ujar Budi.

Salah satu masukan yang dia sampaikan agar menjadi pertimbangan ialah menyangkut pentingnya nilai budaya menjadi pegangan dalam bernegara. Mulai dari masalah ekonomi, pendidikan dan sosial tidak boleh luput dari nilai budaya Tanah Air.

“Bangsa ini harus (mengedepankan) budaya. Budaya ekonomi, budaya hukum, budaya kreatif. Semua dasarnya harus budaya dulu,” ucapnya.

Dia juga menitipkan harapan agar ada kementerian khusus yang mengurusi kebudayaan. “Saya minta dipisahkan Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kebudayaan,” kata Budi.
(bbn/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

MotoGP di Mandalika, Gubernur NTB: Turis Naik, Rakyat Sejahtera

Lombok – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah menyambut antusias kepastian MotoGP 2021 dihelat di Mandalika. MotoGP bisa meningkatkan jumlah kedatangan turis, yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

“Peningkatan tourism di NTB, maka kesejahteraan masyarakat akan meningkat,” kata Zulkieflimansyah, Jumat (22/2/2019).

Soal biaya lisensi penyelenggaraan MotoGP, Zulkieflimansyah menyebut butuh kerja sama banyak pihak. Pembahasan soal ini akan dibicarakan juga dengan legislator.

“Nanti akan ada bahasan tentang hal tersebut karena kita juga harus bicarakan dengan Dewan provinsi (DPRD) dan Kabupaten Lombok Tengah juga,” ujarnya.

Rencananya, sirkuit Mandalika akan dibangun pada Oktober 2019. Sirkuit Mandalika akan memiliki panjang 4,32 km. Sirkuit tersebut memiliki satu lintasan lurus, yang sepertinya akan menjadi garis start dan finis. Sirkuit akan terdiri atas 18 tikungan.

Sarana penunjang area paddock akan memiliki 40 garasi untuk kegiatan operasional tim balap. Sedangkan kapasitas grand stand mencapai 93.200 tempat duduk. Itu belum termasuk 138.700 area tanpa tempat duduk dan hospitality suites, yang mampu menampung 7.700 penonton.

“Bukan hanya kita akan berbicara tentang NTB lagi, tapi dunia akan datang menyapa kita semua secara langsung,” tutur Zulkieflimansyah.
(fdn/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Grand Prix Ngepel di Uwa Rice Museum di Jepang, Mau Coba?

Liputan6.com, Jakarta – Salah satu destinasi wisata di Prefektur Ehime adalah Uwa Rice Museum yang terletak di Uwa, Seiyo. Bangunan museum yang mengkhususkan diri di bidang perpadian ini dulunya merupakan bekas sekolah dasar.

Lokasi bangunan yang didirikan pada 1928 ini dipindah ke tempat lebih tinggi, tidak jauh dari sekolah. Karena bangunan tersebut ingin dipelihara, dan wilayah Uwa terkenal dengan padi, maka akhirnya bangunan tersebut dijadikan museum.

Museum ini dibuka pada pukul 09.00 dan ditutup pukul 17.00. Setiap hari Senin, museum ini tutup.

Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Ada kegiatan yang menarik wisatawan di museum ini, yaitu lomba mengepel di koridor dengan lantai kayu sepanjang 109 meter. Kegiatan mengepel ini disebut dengan Zoukin Kake.

Petugas museum menjelaskan perlombaan mengepel (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Rekor waktu tercepat mengepel ini dipegang oleh seorang pria bernama Nakagawa yang berhasil menyelesaikan waktu 18.17 detik. Zoukin kake ini dimulai 20 tahun lalu.

Liputan6.com bersama dengan Japan Airlines menyambangi musim ini pekan lalu, pertengah Februari 2019. Sebelum memasuki ruangan utama museum, pengunjung akan diminta melepas sepatu. Kami pun mencoba lomba mengepel ini.

2 dari 3 halaman

Lomba Ngepel

Di dalam museum, petugas telah menyediakan sepatu warna putih dengan berbagai ukuran kaki, pelindung lutut, dan kain pel tebal dengan tulisan Grand Prix.

Seperti perlombaan pada umumnya, peserta akan dihitung berapa kecepatan waktu menempuh jarak 109 meter sambil mengepel lantai dengan gaya Jepang.

Kain lap dan pelindung lutut untuk lomba zoukin kake di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Lomba mengepel lantai dengan gaya Jepang ini cukup menguras energi. Maklum, sejak pagi kami sudah berkeliling tempat wisata di Ehime.

Selesai mengikuti lomba, peserta akan mendapat pin medali dan sertifikat. Pin lomba tersebut berwarna warni.

Dari mulai warna emas yaitu menempuh paling cepat hingga berikutnya ke warna perak, perunggu, ungu, merah, biru, hijau, hingga kuning sebagai peserta lomba yang memakan waktu paling lama dan bagi mereka yang tidak menyelesaikan lomba. 

Pin akan diberikan kepada peserta lomba mengepel atau zoukin kake di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sayang, karena waktu hampir menunjukkan pukul 17.00, kami hanya mengikuti lomba ngepel dan memotret singkat alat-alat pertanian di museum ini.

Sejarah museum hanya diberikan kilat sebelum lomba mengepel dimulai.

Alat pertanian di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pakistan Beri Kado Pistol Emas ke Putra Mahkota Saudi

Liputan6.com, Islamabad – Pemerintah Pakistan nampaknya ingin memberikan kesan mendalam bagi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).

Selain menyambut kedatangan dengan potret diri MBS berukuran besar yang menjadi sorotan dunia, baru-baru ini terkuak satu kado mewah yang diberikan oleh Islamabad.

Tidak tanggung-tanggung, Pakistan memberikan pistol berlapis emas. Benda berharga itu diberikan saat kunjungan kenegaraan MBS beberapa hari lalu. Hal ini menjadi sorotan dunia, setidaknya sejak dilaporkan oleh CNN pada Rabu 20 Februari 2019.

Senjata yang diberikan Pakistan adalah Heckler & Koch MP5, senapan mesin ringan buatan insinyur Jerman, dikutip dari CNN, Jumat (22/2/2019).

Tampak emas dilapiskan pada badan senapan mesin. Di permukaan itu, terukir pola yang sangat unik dan tidak biasa. Kesan emas yang berkilau bersanding dengan warna hitam senapan yang sangat gagah.

Sebelum Pakistan memberikan pistol emas sebagai kado kunjungan, Riyadh dan Islamabad telah sepakat setidaknya dalam dua hal penting.

Pakistan dan Saudi menyepakati perjanjian investasi senilai US$ 20 miliar (sekitar Rp 281,27 triliun) pada Minggu 17 Februari 2019.

Selanjutnya, MBS mengabulkan permohonan Pakistan untuk membebaskan 2.100 warga negaranya yang ditahan di penjara Saudi. Hal itu disampaikan oleh Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudry.


Simak pula video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Misteri Pemberian Pistol Berlapis Emas

Belum diketahui alasan mengapa Islamabad memilih memberikan kado senjata yang unik dan mewah tersebut.

Publik dapat saja menerka-nerka, kemungkinan adanya hubungan antara hadiah mewah dengan kebaikan MBS mengucurkan dana investasi kepada Pakistan dalam jumlah besar. Di samping itu, bisa pula sebagai ungkapan rasa syukur atas keputusan pembebasan 2.100 narapidana Pakistan.

Namun yang lebih penting, hingga saat ini masih menjadi misteri apakah ada hubungan yang signifikan antara kado senjata mahal tersebut dengan kontroversi keterlibatan MBS dalam kematian jurnalis Jamal Khashoggi.

Khassoggi sendiri dibunuh secara misterius di konsulat Istanbul pada Oktober lalu. Para pejabat intelijen AS mengatakan bahwa pembunuhan tidak mungkin dilakukan tanpa sepengetahuan MBS.

Meskipun demikian, pemerintah Arab Saudi telah membantah berulang kali keterlibatan sang putra mahkota. Otoritas negeri minyak juga mengatakan telah menghukum 11 tersangka yang terkait dengan kasus tersebut.

Pelesir ke Wilayah Tradisional Jepang di Uchiko Ehime

Liputan6.com, Jakarta – Pelesir ke Prefektur Ehime, Jepang jangan lupa menyambangi kawasan bernama Uchiko. Terletak di bagian barat daya Prefektur Ehime, kawasan ini merupakan wilayah yang masih mempertahankan bangunan bersejarah Jepang.

Pada periode Edo (1603–1867) dan periode Meiji (1868–1912), Uchiko merupakan pusat produksi lilin di Jepang.

Liputan6.com bersama dengan Japan Airlines menyambangi Uchiko beberapa waktu lalu. Kami memasuki jalanan yang diapit rumah bergaya tradisional Jepang.

Sebagian rumah di kawasan ini, memiliki dinding kayu bagian depan yang bisa dibuka dan menjadi kursi. Sedangkan dinding rumah terbuat dari tanah liat yang disebut Okabe.

Tampilan dinding kayu di depan rumah bergaya tradisional di Uchiko, Prefektur Ehime, Jepang yang bisa dijadikan kursi. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sementara, di hampir setiap rumah, ada pengait dari besi. Pemandu tur kami, Yamamoto mengatakan, pengait dari besi bertujuan untuk mempermudah saat perbaikan.

Rumah bergaya tradisional di Uchiko, Prefektur Ehime, Jepang. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Museum Lilin Jepang dan Kediaman Kamihaga

Di kawasan Uchiko ini, wisatawan bisa menyambangi Museum Lilin Jepang dan Kediaman Kamihaga (Japanese Wax Museum and Kamihaga Residence). Keluarga Kamihaga merupakan pembuat lilin dan mengekspornya ke Amerika Serikat dan Eropa. Keluarga inipun kaya raya pada masanya.

Sesuai namanya, museum tersebut merupakan kediaman dari keluarga Kamihaga. Dibuka pukul 09.00-16.30, wisatawan bisa membayar sekitar 500 yen bagi orang dewasa dan 250 yen untuk anak-anak. Rumah Kamihaga ini menjadi aset budaya nasional Jepang.

Museum lilin Jepang dan kediaman Kamihaga (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Di museum, pengunjung bisa melihat potongan tembok tanah liat untuk dinding rumah masa Edo dan Meiji. Pengunjung juga bisa melihat pilar pilar kayu yang menopang rumah.

Lebar pilar rumah bisa mencapai 40 cm dan tinggi 6 meter. Rata-rata pilar rumah terbuat dari pohon pinus.

Peralatan dapur di kediaman Kamihaga (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Pengunjung juga bisa melihat lihat ruangan seperti kamar tidur dengan penghangat tradisional, kamar mandi, dapur, dan ruangan lain.

Tak hanya itu, pengunjung bisa melihat diorama yang menjelaskan tahap tahap pembuatan lilin, alat-alat yang dipakai, proses pengeksporan lilin, hingga proses lobi membahas industri lilin.

Museum lilin Jepang dan kediaman Kamihaga (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Di museum, pengunjung bisa melihat tananam buah beri yang menjadi bahan dasar lilin, lilin batangan, hingga barang barang yang memakai bahan baku lilin seperti crayon dan kosmetik.

Selain itu, di dalam museum terdapat alat-alat yang digunakan untuk membuat lilin.

Museum lilin Jepang dan kediaman Kamihaga (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Produksi lilin di Uchiko mencapai puncak keemasan selama periode Meiji (1868-1912) dan berlanjut hingga periode Taisho (1912-1926). Kala itu, ada 23 pedagang besar lilin di Uchiko.

Diperkirakan, 30 persen produksi lilin di Jepang berasal dari Uchiko. Namun, karena adanya pengganti penerangan lebih murah dan listrik mulai masuk, bisnis lilin mulai ditinggalkan sampai pada 1924. Sekarang, kediaman Kamihaga hanya tersisa fasilitas produksi lilin.

Museum of Commercial and Domestic Life

Gambaran sehari hari masyarakat era Meiji (1868-1912) di Museum of commercial and domestic life. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Puas mengelilingi Museum Lilin Jepang dan Kediaman Kamihaga, pengunjung bisa menyambangi Museum of Commercial and Domestic Life yang juga berada di kawasan Uchiko.

Gambaran kehidupan sehari hari masyarakat Jepang saat era Meiji (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Bangunan ini merupakan tempat farmasi Sano dari era Meiji (1868-1912). Museum ini buka pukul 09.00-16.30. Untuk masuk dikenai tarif 200 yen untuk dewasa dan 100 yen untuk anak-anak.

Gambaran kehidupan sehari hari masyarakat Jepang saat era Meiji (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Di museum ini, pengunjung bisa melihat kehidupan sehari-hari masyarakat pada era itu lewat manekin seperti saat sedang sarapan. Selain itu, juga bisa melihat kondisi dapur, gudang, hingga bagian toko farmasi.


2 dari 4 halaman

Teater

Teater Uchiko-za merupakan tempat yang harus disambangi bila Anda sedang berada di Kota Tua Uchiko. Ketika sedang tidak ada pertunjukan, pengunjung dapat melihat interior dan melihat lihat bagian belakang panggung.

Teater yang terbuat dari kayu ini dibangun atas dasar kecintaan masyarakat yang memuja seni dan hiburan pada era kemakmuran di kawasan tersebut karena adanya produksi lilin, sutra mentah, dan lainnya. Saat pertanian sedang sepi, berbagai acara ditampilkan di teater ini seperti Kabuki, Bunraku, dan Rakugo.

Teater Uchiko tampak luar (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Teater Uchiko-za ini dibangun pada 1916 yang bertujuan untuk merayakan penobatan Kaisar Taisho. Kapasitas kursi di teater ini bisa mencapai 650.

Struktur utama bangunan terbuat dari kayu. Pada tahun 1970, teater ini terancam dihancurkan karena bangunannya yang lapuk hingga akhirnya dipulihkan.

3 dari 4 halaman

Penduduk Uchiko Masa Kini

Di kawasan Uchiko, masih bisa ditemui toko yang memproduksi dan menjual lilin tradisional. Pembeli bisa melihat langsung proses pembuatan lilin dari balik kaca.

Keluarga Omori yang memiliki toko tersebut mengklaim, kerajinan lilin dari tanaman yang dibuatnya sejak jaman Edo (1603-1867). Sekarang pembuatnya adalah Omor Taro yang merupakan generasi ke-6.

Penjual lilin tradisional Jepang di Uchiko (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Keluarga ini mengaku, dalam satu hari bisa membuat 50 batang lilin ukuran sedang. Sedangkan ukuran kecil bisa membuat 200 batang per hari. Lilin ukuran sedang bisa bertahan sampai 2,5. 

Penjual lilin tradisional Jepang di Uchiko (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sementara itu, Yuzo Yoshino dari International Affairs Division Economic and Labor Departmen Ehime Prefectural Goverment menjelaskan, masyarakat di Uchiko sekarang ini, sudah tidak memproduksi lilin lagi.

Jalanan di kawasan Uchiko (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Rata-rata dari mereka, berdagang dengan membuka toko di depan rumah, petani atau bekerja di tempat lain. 

“Kebanyakan warga yang tinggal di Uchiko bekerja sebagai petani,” kata dia. Tempat ini, imbuh dia, dibuka untuk umum pada 20 atau 30 tahun lalu.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Untung Rugi Jadi Tuan Rumah Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong-un

Liputan6.com, Singapura – Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Utara Donald Trump akan berlangsung pada 27-28 Februari di Hanoi, Vietnam.

Sejumlah pihak menerka-nerka apa keuntungan dan kerugian yang didapatkan oleh sang tuan rumah dalam pertemuan dua negara yang memegang posisi strategis dalam bidang keamanan internasional tersebut –mengingat Korea Utara selalu identik sebagai sumber ancaman.

Analisis untung rugi sangat mudah dilakukan dengan berkaca pada pertemuan Trump dan Jong-un di Singapura pada tahun lalu.

Sebagian pihak pernah ingin mengetahui siapakah yang membayar hotel mahal bagi kedua pemimpin dan pengawalnya, serta fasilitas lain yang dibutuhkan.

Permasalahan Pembiayaan

Masalah utama menjelang KTT Singapura yang berlangsung pada 12 Juni 2018 lalu adalah keamanan yang menghabiskan banyak uang –sebagian tentu ditanggung oleh negara tuan rumah.

Perlindungan termasuk dalam aspek fisik kedua pemimpin dan keamanan lokasi. Temasuk di dalamnya adalah tempat pertemuan hingga hotel.

Selain itu, dibutuhkan pula pengendalian terhadap kerumunan yang dapat mengganggu kenyamanan warga negara tuan rumah, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (22/2/2019). Alhasil dibutuhkan penghalang jalan, pengalihan rute, dan penundaan sejumlah transportasi komersil.

Penundaan dan pembatasan berlaku pula bagi pesawat udara komersil, mengingat tuan rumah harus memberikan jalan bagi patroli militer di wilayah negaranya.

Armada militer angkatan laut dan darat juga harus disiagakan.

Untuk fasilitas-fasilitas tersebut, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pernah mengatakan bahwa ia berharap negara itu akan menghabiskan hanya sekitar US$ 14,8 juta.

Nyatanya, pascapertemuan diketahui bahwa sebagai tuan rumah Singapura hanya menghabiskan uang sekitar US$ 11,8 juta.

Adapun harga bagi hotel yang digunakan oleh Kim Jong-un disinyalir berkisar US$ 7.400 per malam. Fantastis.

Sedangkan Trump dikabarkan membayar dengan cara yang sering dipraktikkan AS untuk acara-acara bilateral yang diselenggarakan oleh pihak ketiga.

Kritik kemudian datang ketika Jong-un didampingi dua menteri pemerintah Singapura mengamati pemandangan sekitar kasino dan resor Marina Bay Sands yang mewah.


Simak pula video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Keuntungan Tuan Rumah

Meskipun telah mengeluarkan cukup banyak dana, bukan berarti tuan rumah merugi. Ahli pemasaran mengatakan bahwa Singapura berpotensi mendapatkan berkali-kali lipat dari total biaya yang telah ia keluarkan.

Hal itu berkaitan dengan sektor wisata dan sektor lain yang akan mendapatkan keuntungan karena citra positif yang diterima dari publik internasional.

Jason Tan, dari perusahaan komunikasi Zenith Singapore menyatakan bahwa berkat pertemuan Singapura telah mendapatkan satu minggu penuh liputan dan sorotan kamera.

Hal itu menurutnya sangat baik untuk menumbuhkan citra positif sebagai negara.

Sementara itu, Vu Minh Khuong, seorang profesor di Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew di National University of Singapore mengatakan bahwa keuntungan lain berada pada bidang kepentingan strategis nasional. Singapura akan terlihat memiliki relasi kuasa yang tinggi dalam panggung internasional.

“Tuan rumah meningkatkan posisi strategisnya sebagai tempat pilihan untuk acara yang sangat penting dan menampilkan kepada dunia bahwa negaranya adalah entitas yang berperan dalam menciptakan dunia yang lebih baik,” katanya.