Menulis Diary, Membuang Sampah Pikiran

Bebaskan Kreativitasmu

Menulis dengan sadar, terbukti mampu membuat kreativitas mengalir. Metode ini dipopulerkan oleh Julia Cameron, yaitu dengan menulis morning pages atau ‘koran pagi’. Hal yang perlu dilakukan adalah duduk, dan menulis apa pun yang terlintas di kepala secara sadar dalam waktu tertentu. Tulislah secara sadar, apa yang terlintas dalam pikiran, entah hal sepele, atau hal-hal yang mengganggumu. Apapun.

Fokus dengan isi kepala, dan tuangkan satu per satu ke dalam secarik kertas. Tidak perlu puitis, atau estetik. Misalnya ‘gas di kos habis, nggak bisa masak deh’, ‘kenapa sih pagi ini panas sekali’ atau ‘baru tidur tiga jam, ngantuk banget’. Pasang timer, dan terus tuliskan hal-hal yang terlintas di kepala. Secara tidak sadar, pikiran kita sebenarnya sering penuh dengan hal-hal yang tidak penting. Namun kita jarang mengeluarkannya. Kegiatan ini layaknya membuang ‘sampah’ yang ada dalam pikiran. Pikiran yang segar akan kembali siap menerima ide dan inspirasi dibandingkan dengan pikiran yang ‘tidak sadar’ sibuk menyimpan hal-hal kecil.

Menulis Diary Meningkatkan Memori

Di era digital, menulis dapat dilakukan di mana saja, termasuk smartphone dan laptop. Namun, sebaiknya gunakanlah tangan untuk menulis catatan harian. Seringkali kita tidak sadar telah  lelah dengan dunia digital. Coba hitung, dalam sehari berapa jam yang telah kita habiskan di depan layar. Belum lagi hiruk pikuk media sosial, yang membuat pikiran kita bertambah lelah. Cobalah luangkan waktu sejenak, untuk duduk menghadap kertas kosong dan memegang pena.  Selain dapat melepaskan kepenatan mata yang terus melihat cahaya biru dari layar, menulis dengan tangan bermanfaat untuk meningkatkan memori dan aktivitas otak. Agar lebih bersemangat, siapkan pulpen dan buku khusus, taruh di meja belajar atau tempat tidur agar kamu ingat untuk menulis jurnal di akhir hari.

Lebih Percaya Diri

Seperti kendaraan yang melaju, ada kalanya perlu berhenti sesaat untuk mengecek kondisi mesin, memastikan sisa bahan bakar, dan melihat kembali perbekalan lainnya. Dengan menuliskan kegiatan kita sehari-hari, kita dapat melihat kembali perjalanan diri. Kita dapat melihat lagi, hal-hal  yang membuat diri merasa down, dan momen-momen yang membuat kita merasa berhasil.

Dengan membuka kembali lembar perjalanan diri, kita akan menyadari bahwa merasa gagal adalah hal yang wajar. Namun perasaan itu tidak serta merta menjadi definisi dari siapa kita. Within every hardship, there is relief. Kita akan menyadari bahwa di setiap hal buruk, ada kebaikan yang dapat dipetik, jika kita benar-benar menyadarinya. Pada akhirnya kita akan merasa percaya diri karena bisa mengatasi saat-saat sulit dalam hidup, dan siap menerima tantangan hidup selanjutnya.

Mungkin menulis jurnal tidak mudah dilakukan pada mulanya. Namun kamu dapat memulainya sedikit demi sedikit. Kamu bisa mulai dengan menuliskan pikiran dan perasaanmu pada selembar kertas setiap harinya.

Coba berhenti sejenak dari aktivitas yang melelahkan. Ingatlah bahwa kebiasaan ini bertujuan untuk mengenali perjalanan dirimu, dan membuat diri hadir seutuhnya dalam menjalani hidup. Kamu mungkin akan terkejut seiring berjalannya waktu, betapa banyak hal yang baru kamu sadari setelah kamu menuliskannya. Betapa bangganya dirimu di masa depan saat membaca kembali lembar-lembar perjalanan hidupmu. 

Tulisan Anisah Zuhriyati dari Pijar Psikologi untuk Liputan6.com 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *