Menlu AS: Strategi Pemerintah Donald Trump Hadapi Iran

Alih-alih kesepakatan nuklir Iran, Presiden Trump telah menginisiasi kampanye tekanan multiaspek. Komponen pertamanya adalah sanksi ekonomi. Presiden menyadari kekuatan sanksi untuk menekan rezim itu sementara menimbulkan biaya peluang rendah bagi Amerika Serikat. Di bawah pemerintahan Trump, Amerika Serikat telah mengenakan 17 kali sanksi terkait Iran, dengan menargetkan 147 individu dan entitas-entitas yang terkait dengan Iran.

Tujuan sanksi agresif ini ialah untuk memaksa rezim Iran membuat pilihan: menghentikan atau bersikeras dalam kebijakan yang memicu tindakan-tindakan tersebut sebagai pilihan pertama. Keputusan Iran untuk melanjutkan aktivitas destruktifnya telah mengakibatkan konsekuensi ekonomi yang mematikan, yang diperparah dengan tindakan salah urus yang kotor dari para pejabat dalam mengupayakan kepentingan-kepentingan pribadi mereka sendiri.

Campur tangan yang luas dalam ekonomi oleh IRGC, di balik samaran privatisasi, menyebabkan kondisi berbisnis di Iran menjadi proposisi kerugian, dan para investor asing tidak pernah tahu apakah mereka sedang memfasilitasi perdagangan atau terorisme. Alih-alih menggunakan kekayaan yang telah dihasilkan JCPOA untuk meningkatkan kesejahteraan materi rakyat Iran, rezim itu telah mengisapnya bagai parasit dan membayar miliaran dalam bentuk subsidi kepada para diktator, teroris, dan milisi jahat.

Dapat dimengerti bahwa rakyat Iran sedang frustrasi. Upah yang belum dibayarkan mengakibatkan maraknya pemogokan. Kekurangan bahan bakar dan air menjadi hal yang lumrah.

Malaise ini adalah masalah yang dibuat sendiri oleh rezim itu. Para elit Iran menyerupai Mafia dalam hal pemerasan dan korupsi mereka. Dua tahun lalu, rakyat Iran meledak dalam amarah yang sudah sepantasnya ketika bukti-bukti pembayaran yang dibocorkan memperlihatkan jumlah uang yang sangat besar yang mengalir tanpa penjelasan ke dalam rekening bank para pejabat tinggi pemerintahan.

Selama bertahun-tahun, para ulama dan pejabat telah menutupi diri mereka di balik jubah agama sementara merampok rakyat Iran yang buta. Saat ini, teriakan para demonstran kepada rezim. “Kalian telah merampok kami atas nama agama.”

Menurut surat kabar yang berbasis di London Kayhan, Ayatollah Sadeq Larijani, kepala kehakiman Iran, yang tahun ini dikenai sanksi oleh Amerika Serikat atas pelanggaran hak asasi manusia, memiliki harta sedikitnya senilai 300 juta dolar AS, terima kasih atas penggelapan uang rakyat. Nasser Makarem Shirazi, ulama agung, juga memiliki harta senilai jutaan dolar AS.

Dia terkenal sebagai “Raja Gula” karena telah menekan pemerintah Iran untuk menurunkan subsidi kepada para produsen gula dalam negeri sementara membanjiri pasar dengan gulanya sendiri, gula impor yang lebih mahal.

Kegiatan semacam ini membuat rakyat biasa Iran kehilangan pekerjaan. Ayatollah Mohammad Emami Kashani, salah satu imam sholat Jumat di Teheran selama 30 tahun terakhir, meminta pemerintah memindahkan beberapa pertambangan yang menguntungkan ke dalam yayasan milik pribadinya. Dia juga sekarang ini memiliki harta bernilai jutaan dolar.

Korupsi berlangsung dari bawah ke atas, Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memiliki dana investasi pribadi tanpa pembukuan yang disebut Setad, yang bernilai 95 juta dolar AS. Kekayaan bebas pajak dan didapatkan secara ilegal itu, sering kali diperoleh dengan cara mengambil alih aset-aset kaum minoritas politik dan agama, dan digunakan sebagai dana gelap untuk IRGC. Dengan kata lain, tokoh agama pemimpin Iran menjadi semacam contoh karakter orang-orang kuat Dunia Ketiga.

Keserakahan rezim tersebut telah menciptakan jurang antara rakyat Iran dan para pemimpin mereka, menjadikannya sulit bagi para pejabat untuk membujuk kaum muda Iran secara kredibel untuk menjadi pelopor generasi revolusi selanjutnya. Kepemimpinan teokratis ayatullah dapat mengkhotbahkan “Kematian bagi Israel” dan “Kematian bagi Amerika” siang dan malam, namun mereka tidak dapat menutupi kemunafikan nyata mereka.

Mohammad Javad Zarif, menteri luar negeri Iran, memperoleh gelar dari San Francisco State University dan University of Denver, dan Ali Akbar Velayati, penasihat tinggi untuk pemimpin tertinggi, belajar di Johns Hopkins University.

Khamenei sendiri disopiri ke mana-mana dengan mobil BMW, bahkan saat dia menyerukan kepada rakyat Iran untuk membeli barang-barang buatan Iran. Fenomena ini serupa dengan yang terjadi di Uni Soviet pada tahun 1970-an dan 1980-an, ketika semangat 1917 mulai menggema karena kemunafikan para juaranya. Politburo tidak bisa lagi berkata dengan wajah tegak kepada para warga negara Soviet untuk menganut komunisme ketika para pejabat Soviet sendiri secara rahasia menjajakan celana jin biru dan rekaman Beatles selundupan.

Para pemimpin Iran—terutama mereka yang berada pada kepemimpinan puncak IRGC, seperti Qasem Soleimani, kepala Pasukan Quds—harus dibuat merasakan konsekuaensi menyakitkan dari kekerasan dan korupsi mereka. Mengingat bahwa rezim tersebut dikendalikan oleh keinginan untuk memperkaya diri sendiri serta ideologi revolusioner yang tidak akan mudah untuk beranjak darinya, sanksi harus keras jika mereka perlu mengubah kebiasaan yang sudah lama bercokol.

Itulah sebabnya pemerintahan Trump mengenakan kembali sanksi AS yang akan dilepas atau dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan nuklir; yang pertama dari rangkaian sanksi ini berlaku sejak 7 Agustus lalu, sementara sisanya akan kembali diterapkan pada 5 November. Kami menghendaki agar impor global minyak mentah Iran sebisa mungkin mendekati nol pada tanggal 4 November.

Sebagai bagian dari kampanye kami untuk menghancurkan pendanaan teroris oleh rezim Iran, kami juga telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab untuk memutuskan jaringan pertukaran valuta asing yang mentransfer jutaan dolar kepada Pasukan Quds. Amerika Serikat meminta semua bangsa yang sudah bosan dan letih karena perilaku destruktif dari Republik Islam ini untuk berdiri bagi rakyat Iran dan bergabung dengan kampanye kami. Upaya kami akan dipimpin secara mumpuni oleh perwakilan khusus kami untuk Iran, Brian Hook.

Tekanan ekonomi adalah salah satu bagian dari kampanye AS Pencegahan adalah hal lainnya. Presiden Trump percaya pada langkah-langkah yang jelas untuk mencegah Iran agar tidak memulai kembali program nuklirnya atau meneruskan kegiatan-kegiatan jahat lainnya. Dalam hal Iran dan negara-negara lainnya, dia telah menyatakan secara jelas bahwa dia tidak akan menoleransi upaya-upaya untuk menggertak Amerika Serikat; dia akan membalas dengan keras jika keamanan AS terancam.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah merasakan tekanan ini, dan dia tidak akan bersedia datang ke meja perundingan di Singapura tanpa hal itu. Komunikasi publik presiden sendiri berfungsi sebagai mekanisme pencegahan. Cuitan dalam huruf besar yang dia tujukan kepada Presiden Iran Hassan Rouhani pada bulan Juli, yang di dalamnya dia menginstruksikan Iran untuk berhenti mengancam Amerika Serikat, diinformasikan melalui suatu kalkulasi strategis: rezim Iran memahami dan takut akan kekuatan militer Amerika Serikat.

Pada bulan September, milisi di Irak meluncurkan serangan roket yang mengancam jiwa ke arah kompleks kedutaan AS di Baghdad dan konsulat AS di Basra. Iran tidak menghentikan serangan-serangan ini, yang dilakukan oleh agen-agen yang didukungnya melalui pendanaan, pelatihan, dan senjata.

Amerika Serikat akan meminta pertanggungjawaban rezim di Teheran atas serangan-serangan yang menyebabkan cedera pada personil kami dan kerusakan pada fasilitas kami. Amerika akan menanggapi dengan cepat dan tegas dalam melindungi nyawa orang Amerika.

Kami tidak ingin perang. Tetapi kami harus memperjelas secara tegas bahwa eskalasi adalah kerugian bagi Iran; Republik Islam tidak dapat menandingi kecakapan militer Amerika Serikat, dan kami tidak takut untuk membiarkan para pemimpin Iran mengetahuinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *