Mengungkap Alasan Anjloknya Suara Jokowi-Ma’ruf di Aceh

Liputan6.com, Aceh – Perolehan suara dalam Pilpres 2019 untuk Jokowi-Ma’ruf di Aceh melingsir jauh dibanding rivalnya. Probowo-Sandi meraup suara di atas 80 persen.

Menurut Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Aceh, Muzakir Manaf, saat konferensi pers, pada Kamis kemarin, 18 April di Banda Aceh, suara yang masuk dari seluruh Aceh sudah mencapai 1.287.946 suara atau sekitar 82 persen. Sementara, untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf sebesar 225.356 suara.

Hasil quick count Saiful Mujani Research & Consulting, menyebut pasangan Prabowo-Sandi meraup 83,11 persen suara, sebaliknya, Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 16,89 persen suara. Data ini berpatokan suara masuk 89,66 persen.

Di pihak berbeda, Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Aceh, Irwansyah, mengatakan, kekalahan ini disebabkan hoaks mengenai Jokowi yang tersebar luas di tengah masyarakat. Banyak yang memakan mentah-mentah fitnah yang menyerang presiden ke-7 itu.

“Pak Jokowi terus menerus diserang dengan berita penista agama, PKI, tidak boleh azan dan yang lain. Serangan tersebut menjadi ideologinya pemilih. Fitnah yang dilakukan para elit politik terus menerus itu menjadikan satu pilihan keputusannya pemilih yang tanpa dasar,” kata Irwansyah, kepada Liputan6.com, Jumat siang (19/4/2019).

Hoaks yang beredar banyak membawa embel-embel atau dikemas dengan isu ideologis. Keadaan ini setali dengan sosiologi masyarakat provinsi paling barat yang kental dengan agama.

Ini kemudian menyebabkan stigma dapat terbentuk dengan mudah, karena mayoritas masyarakat Aceh mengedepankan agama dalam berprilaku. Segala rumor yang disematkan kepada Jokowi bak gayung bersambut.

“Keislaman rakyat Aceh yang memang sangat kental digunakan sebagai isu oleh para elit untuk menyerang pak Jokowi,” tukas pria yang akrab disapa Muksalmina.

Namun, apakah hal tersebut menderteminan sikap masyarakat Aceh untuk tidak memilih Jokowi? Mengingat, pada Pilpres sebelumnya suara untuk Jokowi juga kalah dari Prabowo.

Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla, meraih 45,61 persen suara. Sebaliknya Prabowo-Hatta, unggul dengan 54,39 persen suara.

Sungguhpun Lembaga survei Politicawave menyebut Jokowi telah korban menjadi korban hoaks, bahkan tujuh kali lebih besar pada Pilpres 2014, namun, ada yang berpandangan, reproduksi hoaks saat itu tak sebesar menjelang Pilpres 2019: #2019gantipresiden.

Terdapat 3 hal isu yang sering menyerang Jokowi, yaitu, anti agama, pro komunis, dan pro cina. Isu anti Islam menguat sejak bergulirnya Perppu Ormas, pro cina dikaitkan dengan kabar 10 juta pekerja asing asal cina, lantas merembet pada isu komunis dengan banyak ditemukan gambar palu arit.

Di saat yang sama, semakin banyak pula yang terjerat aturan hukum dalam Undang-Undang Nomor 11 2008 tentang ITE. Pencemar, pencerca, penyebar kebencian, banyak yang berakhir di meja hijau.

Menurut Ketua Komunitas Bintang Hitam, Ali, berbagai fitnah mudah disebar seiring penggunaan media sosial yang kian masif. Menurutnya, penggunaan media sosial belakangan menjadi budaya lintas batas yang digunakan hampir setiap lapisan masyarakat.

“Karena massif atau kian menanjaknya pemakai telepon pintar. 2014 lalu, pengguna sosial media, masih tidak semarak saat ini. Nah, ada kemungkinan, reproduksi hoaks itu melesat, bermanuver, seiring itu,” tukas Ali, dalam bincang-bincangnya dengan Liputan6.com, di salah satu warung, di Meulaboh, Jum’at pagi (20/4/2019).

Mengungkap Tabir Cinta Terlarang Para Pengungsi Asal Afghanistan di Pekanbaru

Selama ini, ruang gerak para WNA berstatus pengungsi ini memang dibatasi jamnya. Mereka dilengkapi kartu khusus dan harus melapor setiap pergi ke berbagai sudut kota dengan syarat harus pulang pukul 20.00 WIB.

“Mereka bisa ke mall, ikut fitnes, pusat perbelanjaan, tidak bisa dibatasi itu,” ungkap Junior.

Dengan postur yang agak lebih dari WNI secara umum, ditambah parasnya yang menawan, pengungsi Afghanistan ini banyak menarik perhatian kaum hawa di Pekanbaru, termasuk yang sudah punya suami ketika sedang fitnes.

Perkenalan diawali dengan tukar nomor telepon, berlanjut ke saling menghubungi, baik melalui chatting atau telepon, hingga menyatakan ketertarikan satu dengan yang lainnya.

“Karena sudah ada yang enam tahun di Indonesia, mereka tidak sulit berkomunikasi, sudah pandai bahasa kita,” jelas Junior.

Pengakuan pengungsi ini, mereka memang tulus berhubungan dengan kaum hawa di Pekanbaru, termasuk istri orang. Mereka membantah mendapatkan bayaran berhubungan dengan istri orang.

Bantahan ini, entah mereka berbohong ataupun jujur, disebut Junior sebagai penguat para WNA ini tidak menjadi gigolo di Pekanbaru. Apalagi beberapa tahun belakangan merebak isu tak sedap itu.

“Tidak dibayar mereka, bahkan mengaku berteman saja,” ucap Junior.

Dalam hal ini, Rudenim juga tak punya wewenang menanyakan apakah mereka dibayar atau tidak, serta sama siapa saja mereka berhubungan. Ada Peraturan Presiden yang mengatur, sehingga Rudenim hanya bisa menentukan jenis pelanggarannya saja.

Perjuangan Melawan Jijik demi Mengungkap Bedanya Pipis Anak IPA dan IPS

Jakarta – Lolos 20 besar finalis Indonesia Fun Science Award, Ahmad Nur Muzakki (16) dan Mastri Imammusadin (17) siswa SMA N 1 Purworejo maju ke babak final dengan karya ilmiah berjudul ‘Kajian Urine Siswa IPA dan IPS di SMA N 1 Purworejo’.

Ditemui detikHealth di Tangerang, keduanya mengaku sempat merasa tertekan saat awal akan melakukan penelitian tersebut. Apalagi penelitian Ahmad dan Mastri melibatkan urine orang lain.

“Pasti ada (rasa jijik), tapi diterusin aja karena kita juga penasaran,” ujar Mastri, Sabtu (9/3/2019).

“Awalnya sempet tertekan juga, btw kita anak pesantren gitu. Pernah ada pada tanya ‘apaan tuh anak pesantren mainan air kencing’. Oh tidaaaak,” lanjutnya.

Keduanya mengungkap urine anak IPA memiliki pH dan kadar glukosa lebih tinggi dibanding urine anak IPS. Mereka meyakini terkait stres dan tingkat kesulitan mata pelajaran.Keduanya mengungkap urine anak IPA memiliki pH dan kadar glukosa lebih tinggi dibanding urine anak IPS. Mereka meyakini terkait stres dan tingkat kesulitan mata pelajaran. Foto: Rinto Heksantoro/detikHealth

Keraguan pun menghampiri keduanya. Namun mereka tidak lantas berhenti begitu saja. Ahmad dan Mastri kemudian mendatangi guru agamanya untuk berkonsultasi, dan akhirnya mereka pun didukung untuk melanjutkan penelitian uniknya itu.

Penelitian pun dilanjutkan, dalam waktu dua hari sedikitnya diambil masing-masing 10 siswa dari jurusan IPA dan 10 siswa dari jurusan IPS sebagai sampel. Penelitian lu dilanjutkan hingga mereka mendapatkan kesimpulan bahwa pH dan kandungan glukosa di urine anak IPA lebih tinggi daripada anak IPS.

“Itu menandakan kalau siswa IPA itu pola makannya kadang lebih nggak teratur atau mungkin bisa juga karena tekanan psikologis karena stres gitu,” tutur Mastri.

(wdw/up)

Gerak Cepat Polisi Pemalang Mengungkap Teka-Teki Pembobol Mini Market

Liputan6.com, Pemalang – Kamis, 28 Februari 2019, shift pagi membuat Dela Citra (20), karyawan Indomart 4 Randudongkal, Pemalang, berangkat lebih cepat dari biasanya. Ia hendak memastikan segala sesuatu dalam keadaan siap ketika toko modern itu buka.

Namun, rencananya amburadul. Ketika membuka toko, Dela terbelalak kaget ketika mengetahui tokonya berantakan. Diduga, tokonya telah disatroni pencuri.

Dugaan itu diperkuat dengan fakta bahwa plafon toko jebol. Beberapa barang juga raib dari tempatnya.

Mendapati kondisi ini, Dela pun segera menghubungi Kepala Toko Indomart 4 Randudongkal, Santi Ayu Lestari. Tak menunggu jeda, Santi langsung melaporkan dugaan perampokan mini market ini ke Kepolisian Sektor Randudongkal.

Kepala Polsek Randudongkal, AKP Heryadi Noor mengatakan, begitu mendapat laporan tersebut, kepolisian segera bertindak cepat. Kepolisian langsung mengolah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan bukti-bukti yang mengarah kepada pelaku.

“Barang dagangan yang hilang berupa rokok beraneka merk dan kosmetik dengan total kerugian Rp 19.656.500,” ucapnya, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 2 Maret 2019.

Untuk sementara, pelaku masih menjadi teka-teki. Tetapi, sosok pembobol mini market itu akhirnya terkuak dari rekaman Circuit Close Television (CCTV) yang terpasang di sejumlah sudut.

Dari kamera pengintai itu, polisi mengetahui bahwa perampokan minimarket itu terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Pelaku diduga memanjat dan merusak atap toko dan lantas dengan leluasa masuk ke dalam.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Dalam 12 Jam Polisi Bekuk Pembobol Mini Market

“Setelah dilakukan penyelidikan perbuatan tersebut dilakukan oleh tersangka SA (28) dan DS (26),” ucapnya.

Keduanya mempunyai peran yang berbeda dalam aksi pencurian ini. SA bertugas masuk dan menggasak barang-barang toko. Adapun DS menunggu di luar toko dan bertugas sebagai pemantau suasana sekaligus pengendara motor.

“DS bertugas memboncengkan SA dan menunggu di luar toko sampai perbuatan mereka berhasil. Setelah berhasil mengambil barang-barang curian tersebut, mereka pergi bersama-sama,” dia mengungkapkan.

Polisi tak butuh waktu lama untuk menangkap terduga pelau. Dalam waktu 12 jam setelah olah TKP, polisi berhasil menangkap satu tersangka, SA.

“Pelaku SA kami tangkap pada hari Kamis (28/2/2019) pukul 19.00 WIB saat sedang duduk-duduk di gardu di Desa Randudongkal, Kecamatan Randudongkal, Pemalang,” dia menerangkan.

Pelaku lainnya, DS dibekuk oleh pihak kepolisian pada Jumat Jumat dinihari (1/3/2019) sekitar pukul 00.30 WIB di perempatan arah Perumnas, Jl. Budi Utomo, Randudongkal, Pemalang.

Dua pelaku pencurian ini tak bisa mengelak. Sebabnya, polisi juga berhasil menyita barang bukti berupa rokok dan kosmetik beraneka merk.

“Pelaku diancam dengan pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan pemberatan,” dia menambahkan.

Alasan SBY Tunjuk AHY Jadi Penanggung Jawab Pemenangan Demokrat

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yufhoyono (SBY) menyerahkan tongkat komando kampanye pemenangan pemilu 2019 kepada putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Ketua DPP Partai Demokrat, Didik Mukrianto mengungkap  alasan mengapa SBY lebih memilih AHY ketimbang putra keduanya Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas.

Dalam pemenangan pemilu SBY justru menugaskan Ibas dalam Komisi Pemenangan Pemilu (KPP). Sedangkan AHY, mendapat tugas pemenangan pemilu melalui jabatan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma).

Menurut Didik, ada pertimbangan lain hingga akhirnya SBY menunjuk AHY sebagai tonggak pemenangan pemilu. Alasannya, kata dia, AHY dianggap mampu mengatur strategi dan ritme.

“Mas AHY kan memang menjadi komisi pemenangan pemilu kita, itu tugasnya sangat berat dibanding tugas lain, karena harus menentukan strategi, mengatur ritme pertarungan dan bertanggung jawab terhadap rencana aksinya,” kata Didik saat dihubungi, Jumat (1/3/2019).

Didik juga mengungkap alasan kenapa bukan Ibas yang ditugaskan sebagai ketua pemenangan kampanye. Ibas, lanjutnya harus fokus pada pemenangannya sebagai caleg.

“Dan Mas Ibas sendiri strategi kampanye soal dapur Partai Demokrat sendiri, mereka berdua memang menjadi bagian magnet center, pada saatnya nanti Mas Ibas akan memperkuat Mas AHY,” ungkapnya.

2 dari 2 halaman

Fokus Pengobatan Ani Yudhoyono

Diketahui, SBY memang tengah fokus merawat sang istri Ani Yudhoyono yang sedang sakit kanker darah di Singapura. Terkait Persiapan menghadapi pemilu serentak 17 April nanti, SBY telah memberikan sejumlah pesan.

Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan, surat dituliskan SBY, demi menjawab ketidakhadirannya dalam dua bulan terakhir sisa masa Pemilu 2019, karena harus mendampingi sang istri yang mengidap kanker darah.

“Karena sementara waktu, secara fisik tidak bisa menjalankan kampanye sampai 17 April, oleh karena itu beliau sampaikan pesan untuk memaksimalkan kerja-kerja Partai, DPP sampai ke tingkat ranting,” kata Hinca di Kantor DPP Demokrat, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019).


Reporter: Sania Mashabi

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Dukungan Keluarga Uno ke Jokowi Dituding Akting, TKN: BPN Prabowo Panik!

Jakarta – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebut dukungan Keluarga Uno di Gorontalo untuk capres petahana Joko Widodo (Jokowi) hanyalah akting semata. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menduga tudingan itu bentuk kepanikan BPN Prabowo-Sandiaga.

“BPN panik lihat dukungan keluarga Uno terhadap 01,” ujar Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf, Ahmad Rofiq, kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).

Rofiq meminta BPN Prabowo-Sandiaga untuk legawa. Menurut dia, dukungan keluarga Sandiaga Uno kepada Jokowi itu menunjukkan bahwa Jokowi merupakan pemimpin yang dicintai rakyatnya.
“Nggak usah baperan dan nuduh-nuduh bahwa dukungan ini rekayasa atau tekanan. Rakyat Indonesia semakin cerdas bahwa Pak Jokowi adalah pemimpin yang membangun, pemimpin yang memajukan rakyatnya. Jadi bukan pemimpin kaleng-kalengan,” katanya.

“Dukungan ini sebagai tanda bahwa Pak Jokowi semakin dicintai oleh semua lapisan masyarakat. Jokowi milik semua,” imbuh Rofiq.

Seperti diketahui, keluarga Uno di Gorontalo mendeklarasikan mendukung Jokowi untuk menjadi presiden sekali lagi. Jokowi pun hadir dalam deklarasi dukungan itu.

Perwakilan keluarga Uno, Rudi Hartono Uno mengungkap mengapa tak mendukung saudaranya di Pilpres. Sepanjang pembacaan deklarasi yang digelar di Hotel Maqna, Gorontalo, Kamis (28/2) malam itu, teriakan Jokowi menggema ke seluruh ruangan.

BPN Prabowo-Sandiaga kemudian angkat suara soal dukungan itu. Menurut BPN, dukungan keluarga Uno di Gorontalo itu tak mewakili keluarga Uno seluruhnya. Lagipula, BPN meyakini, dukungan keluarga Uno ke Jokowi hanyalah sandiwara semata.

“Kalau misalnya ada yang mendeklarasikan ya bagus, tapi saya tahu keluarga Uno yang di partai Koalisi Indonesia Maju, punya hubungan keluarga dan ‘masa ponakan sendiri nggak dicoblos, masa sepupu sendiri nggak dicoblos’ gitu lho. Kalaupun ada yang mendukung, itu cuma make up aja,” ujar Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Dian Fatwa kepada wartawan.

“Saya tahu mereka terikat dengan acting bahwa karena partainya berkoalisi dengan itu, jadi tentu saja harus tampak di publik mendukung pasangan Jokowi. Saya tahu itu. Tapi kami biasa saja, ini sebuah realita, kalau tidak, kita tahu lah, kalau nggak dosa-dosa politik akan dibuka, atau diproses secara hukum, karena hukum sekarang kan tumpul ke atas tajam ke bawah,” imbuh Dian.
(mae/elz)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Keluarga Uno di Gorontalo Dukung Jokowi, BPN Prabowo: Acting Saja

Jakarta – Capres petahaha Joko Widodo mendapat dukungan dari keluarga Uno, yang merupakan keluarga dari cawapres saingannya, Sandiaga Uno. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga pun mengaku tak masalah.

“Uno itu kan nama family name. Besar sekali. Sangat besar sekali. Seperti Luhut Binsar Pandjaitan. Apa semua marga Pandjaitan mendukung Pak Luhut? Kan nggak harus. Jadi biasa, kita kan nggak bisa mengontrol pilihan politik keluarga,” ujar Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Dian Fatwa kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).

“Ini uno yang mana? bagian tengah, depan belakang?” imbuhnya.


Dian mengatakan perbedaan pilihan politik merupakan hal yang biasa. Hal itu menunjukkan warna demokrasi yang dewasa di Indonesia. Namun, menurutnya, hal itu tak menutupi banjirnya dukungan masyarakat kepada Sandiaga.

“Ini warna demokrasi. Kita nggak harus sama. Ini bagaimana berdemokrasi secara dewasa. Tapi pendukung Mas Sandi ini lebih besar dari yang nggak (dukung). Mas Sandi ini luar biasa, dari pengusaha yang tidak dikenal, jadi cawagub, hingga cawapres,” katanya.

“Kalau mas Sandi muncul, (pendukung) histeris. Saya nggak kecil hati. Ini dinamika dalam keluarga, bukti demokrasi dalam keluarga dan Indonesia,” imbuh Dian.

Selain itu, menurut Politikus PAN itu, dukungan keluarga Uno di Gorontalo itu tak mewakili keluarga Uno seluruhnya. Lagipula, dia meyakini, dukungan keluarga Uno ke Jokowi hanyalah sandiwara semata.

“Kalau misalnya ada yang mendeklarasikan ya bagus, tapi saya tahu keluarga Uno yang di partai Koalisi Indonesia Maju, punya hubungan keluarga dan ‘masa ponakan sendiri nggak dicoblos, masa sepupu sendiri nggak dicoblos’ gitu lho. Kalaupun ada yang mendukung, itu cuma make up aja,” katanya.

“Saya tahu mereka terikat dengan acting bahwa karena partainya berkoalisi dengan itu, jadi tentu saja harus tampak di publik mendukung pasangan Jokowi. Saya tahu itu. Tapi kami biasa saja, ini sebuah realita, kalau tidak, kita tahu lah, kalau nggak dosa-dosa politik akan dibuka, atau diproses secara hukum, karena hukum sekarang kan tumpul ke atas tajam ke bawah,” imbuh Dian.

Seperti diketahui, keluarga Uno di Gorontalo mendeklarasikan mendukung Jokowi untuk menjadi presiden sekali lagi. Jokowi pun hadir dalam deklarasi dukungan itu.

Perwakilan keluarga Uno, Rudi Hartono Uno mengungkap mengapa tak mendukung saudaranya di Pilpres. Sepanjang pembacaan deklarasi yang digelar di Hotel Maqna, Gorontalo, Kamis (28/2) malam itu, teriakan Jokowi menggema ke seluruh ruangan.

“Mencermati kinerja pemerintah Bapak Presiden Joko Widodo selama hampir satu periode ini, terutama perhatian dan kepedulian pemerintah pusat terhadap pembangunan di Provinsi Gorontalo, yang sungguh-sungguh telah kami rasakan selama ini, maka kami keluarga Uno telah bersepakat untuk mendukung sekali lagi Bapak Jokowi sebagai Presiden RI,” ungkap Rudi Uno.

“Memang kami menyadari ada salah satu bagian dari keluarga besar kami yang juga ikut dalam kontestasi pemilihan presiden/wakil presiden saat ini. Namun dengan besar hati, kami harus menyampaikan bahwa kepentingan bangsa dan negara sungguh jauh lebih penting dari sekadar kepentingan keluarga,” sambungnya.
(mae/elz)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

TKN Jokowi: Sidang Ratna Sarumpaet Perlihatkan Buruknya Leadership Prabowo

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin bersyukur sidang kasus hoax Ratna Sarumpaet akhirnya digelar. Menurut TKN Jokowi-Ma’ruf, kasus Ratna menunjukkan bahwa kubu Prabowo mampu menggunakan segala cara untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2019.

“Saya bersyukur sidang kasus Ratna Sarumpaet bisa digelar kemarin. Perkara Ratu hoax dari kubu hoax akhirnya disidangkan,” kata Wakil Sekretaris TKN Raja Juli Antoni kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).

“Cara kubu Pak Prabowo yang mempergunakan segala cara untuk memenangkan kompetisi politik dengan keji dan kejam. Mereka berambisi untuk mem-framing Pak Jokowi sebagai pemimpin diktator dan otoriter. Kasus Ratna mereka ‘santap’ degan lezatnya. Diungkap ke media bukan dilaporkan ke kepolisian,” sambungnya.


Pria yang akrab disapa Toni itu menilai, sidang kemarin memperlihatkan buruknya kepemimpinan (leadership) Prabowo yang mudah mempercayai hoax yang direkayasa oleh Ratna. Menurut dia, Prabowo tampil sebagai pemimpin yang emosional karena menelan informasi tanpa melakukan klarifikasi.

“Kasus Ratu Hoax ini juga memperlihatkan buruknya leadership Prabowo. Prabowo pemimpin yang tidak matang dan emosional sehingga tidak mampu memproses sebuah informasi dengan tepat sehingga keputusan yang diambil sangat buruk. Grasa-grusu, semua informasi ditelan bulat-bulat tanpa klarifikasi sama sekali,” tutur Toni.

“Lalu apa yang diharap rakyat dari kubu penyebar hoax dengan calon presiden yang leadership yang buruk?” sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, Ratna menjalani sidang dakwaan di PN Jakarta Selatan, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, Kamis (28/2). Jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Ratna Sarumpaet membuat keonaran dengan menyebarkan hoax penganiayaan. Ratna disebut sengaja membuat kegaduhan lewat cerita dan foto-foto wajah yang lebam dan bengkak yang disebut akibat penganiayaan.

Padahal kondisi bengkak pada wajah Ratna merupakan efek dari operasi plastik di RS Bina Estetika, Menteng. Jaksa mengungkap, Ratna memfoto dirinya saat menjalani perawatan medis, lalu menyebarkan foto ditambah keterangan soal terjadinya penganiayaan.
(azr/mae)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Top 3 Berita Hari Ini: Siswi SMP Jember Hilang Keperawanan Akibat Rayuan Miras

Liputan6.com, Jember – Top 3 berita hari ini mengungkap aksi pencabulan yang dilakukan seorang remaja putus sekolah (18) terhadap siswi SMP di Jember. Aksi bejat pelaku terungkap setelah korban mengaku telah ditiduri pria yang baru dikenalnya.

Oleh polisi, GN berhasil diciduk di rumahnya. Dari pengakuan pelaku, korban terlebih dulu diberi minuman keras agar mudah diajak untuk berhubungan badan. Perbuatan tersebut telah dilakukan GN sebanyak dua kali terhadap korban.

Sementara itu, kisah haru datang dari Provinsi Aceh. Seorang bapak menggantikan posisi anaknya di acara wisuda karena sang putri meninggal dunia akibat penyakit asam lambung.

Seperti teman-temanya di Prodi Kimia, Fakultas Tarbiyah, sejatinya saat itu Rina Muharami akan mengenakan atribut wisuda. Namun, Tuhan berkehendak lain. 

Bukhari tidak dapat menyembunyikan kesedihan dari raut mukanya, terlebih saat Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin memeluk pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani.

“Itu (SKL, red) nanti kita simpan sebagai kenang-kenangan karena dari awal saya sudah menguliahkan almarhum. Seharusnya, dia yang pertama mendapat gelar sarjana di keluarga,” ujar Bukhari, kepada Liputan6.com.

Berikut berita terpopuler dalam Top 3 Berita Hari Ini:

1. Rayuan Miras dan Hilangnya Keperawanan Gadis SMP di Jember

Foto: Dian Kurniawan/ Liputan6.com.

Siswa putus sekolah berinisial GN (18), warga Dusun Besuki Desa Sidomekar Kecamatan Semboro Kabupaten Jember, Jawa Timur, ditangkap polisi lantaran merayu siswi SMP minum minuman keras lalu mencabulinya.

Menurut Fathur, saat diinterogasi di Mapolsek Semboro, GN mengaku lebih dari sekali meniduri korban yang berasal dari kecamatan lain, yakni Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember. Pertama kali korban dipaksa menyerahkan kegadisannya, Jumat, 1 Februari 2019.

Modusnya, tersangka GN menghubungi korban melalui WA, mengundang untuk datang ke rumahnya.

Selengkapnya…

2. Bikin Haru, Bapak di Aceh Diwisuda Gantikan Anaknya yang Meninggal Usai Skripsi

Bukhari lengkap dengan toga naik ke podium wisuda yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh, Kamis (27/2/2019). (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Di rumah Bukhari (57) tentu saja tidak terpajang foto Rina Muharami sedang mengenakan topi wisuda dan baju toga. Putrinya itu berpulang sebelum sempat mengenakan atribut wisuda.

Rina sejatinya ikut dalam barisan wisudawan dan wisudawati saat acara wisuda yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh, Rabu, 27 Februari 2019. Namun, Rina meninggal dunia tepat sehari setelah ia menyelesaikan sidang skripsi pada 24 Januari 2019 lalu.

Anak pertama pasangan Bukhari-Nur Bayani itu meninggal karena penyakit asam lambung yang dideritanya.

Bukhari tidak pernah menyangka, kiranya dia yang akan mewakili putrinya menjadi sarjana.

Selengkapnya…

 3. Kronologi Dugaan Penganiayaan oleh Bahar bin Smith Versi Dakwaan JPU

Terdakwa kasus penganiayaan remaja, HB Assayid Bahar bin Smith menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, Kamis (28/2/2019). (Huyogo Simbolon)

Terdakwa kasus penganiayaan remaja, HB Assayid Bahar bin Smith menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, Kamis (28/2/2019). Selain Bahar, dua rekannya yakni Agil Yahya dan Basit Iskandar yang berstatus terdakwa juga turut disidang.

Jaksa mengatakan, pada Senin, 26 Nopember 2018 saksi korban CAJ (18) diajak oleh rekannya MKU (17) untuk menemani mengisi acara di Seminyak, Bali. CAJ yang disuruh MHU mengaku sebagai Habib Bahar bin Smith dalam acara tersebut.

Kemudian pada 1 Desember 2018 sekitar pukul 09.00 WIB, Bahar memerintahkan saksi Agil Yahya, untuk menemui Basid dan mengajak Habib Husein, Wiro, Keling (tersangka belum tertangkap) untuk membawa CAJ ke Pondok Pesantren Tajul Al Awiyin.

Selengkapnya…

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: