Mengejar Cuan dari Jual Mimpi dan Cinta

Jakarta – Apapun yang bisa menghasilkan uang bisa menjadi peluang bisnis. Termasuk urusan percintaan, alias biro jodoh.

Jika mengetik kata biro jodoh dalam mesin pencari di internet, maka akan muncul beragam situs biro jodoh. Ini membuktikan bahwa, biro jodoh sudah seperti sebuah industri.

Usaha jasa ini sebenarnya juga sudah berkembang bahkan sejak internet belum begitu berkembang seperti saat ini. Mereka para penyedia jasa ini beriklan melalui surat kabar hingga selembaran.

Esron Pandapotan Pangabean misalnya, dia mengaku sudah mendirikan biro jodoh bernama Esron Club sejak 2001. Saat itu dia dan pesaing sering beriklan melalui surat kabar di media cetak.

“Nah dulu itu sampai ada kejadian, sudah bayar keanggotaan 1 bulan, tiba-tiba biro jodohnya tutup. Akhirnya yang iklan di salah satu koran terkemuka itu harus mencantumkan alamat jelas. Kami hingga saat ini salah satu yang bertahan dan berhasil,” ujarnya kepada detikFinance, Rabu (13/2/2019).

Sebelumnya Esron bergelut di bidang advertising, namun karena merasa memiliki bakat menjadi mak comblang dia memilih untuk mengembangkan biro jodoh dengan memakai nama perusahaan advertising-nya.

“Saya dulu sering menjodohkan teman dan berhasil. Mereka menyarankan saya buka biro jodoh. Jadi ini panggilan hati,” tuturnya.

Dari segi mekanisme bisnis, biro jodoh masih sama. Perusahaan menawarkan jasa mak comblang. Bagi mereka yang tertarik cukup mendaftarkan diri dan membayar biaya keanggotaan.

Biaya keanggotaan itu yang menjadi biaya operasional para biro jasa. Sebab biasanya mereka mengatur jadwal pertemuan antara kliennya. Sisanya masuk sebagai keuntungan perusahaan.

“Kalau kami memberikan pendampingan hingga mereka bertemu kita dampingi juga. Pertemuannya di tempat yang layak dan kita jaga kredibilitas kita. Karena kita berorientasi jodoh yang murni,” tambahnya.

Esron sendiri menawarkan beberapa paket keanggotaan, mulai dari Rp 500 ribu, Rp 1 juta, Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta. Besarannya menentukan pelayanan jasa.

Intinya anggota yang sudah terdaftar akan mendapatkan data anggota lainnya dari lawan jenis. Esron akan memberikan data anggota yang sekiranya cocok dengan selera kliennya.

“Tapi kita interview dulu. Makanya wajib tatap muka. Kita akan berikan yang cocok buat dia. Misalnya kalau dia dominan atau sifatnya cenderung leader, kita tidak bisa kasih yang sifatnya sama. Sudah pasti tidak cocok,” tambahnya.

Esron memang memberikan syarat untuk bertemu langsung, bisa datang ke kantornya atau melakukan pertemuan. Selain untuk mengetahui karakteristik kliennya, juga untuk memastikan bahwa kliennya adalah orang yang benar-benar butuh jodoh.

Esron mensyaratkan beberapa dokumen. Pertama KTP. Jika di KTP status tertulis lajang maka tidak masalah. Namun jika statusnya sudah menikah dan mengaku sudah pisah, maka dibutuhkan dokumen pelengkap.

“Kalau pisah meninggal atau hidup ya kita harus ada kelengkapan surat yang bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin kalau ada orang yang mau iseng, jadi gagal di tahap interview,” tambahnya.

Selain itu kliennya juga harus mengisi data diri seperti pekerjaan hingga besaran pemasukannya. Hal itu untuk mencocokkan dengan keinginan anggota lainnya. Meski begitu dia menjamin data kliennya tidak akan bocor.

Esron mengaku saat ini biro jodohnya sudah memiliki 600 lebih anggota. Dari sekian banyak anggotanya, setidaknya ada 30% dari anggota Esron yang sudah berhasil dijodohkan.

“30% itu yang melapor ke kami ya. Kalau mereka yang sudah jalan sendiri tidak melapor kita tidak tahu,” tambahnya.

Meski terkesan banyak tapi sebenarnya bisnis yang menjual cinta ini ternyata tidak begitu menggiurkan. Omzet kotor Esron hanya Rp 25 juta, itu pun belum dipotong biaya operasional saat mempertemukan kliennya, membayar gaji 4 karyawan hingga operasional kantor.

Esron mengakui dia menggeluti bisnis yang menjual mimpi dan cinta ini memang bukan semata-mata mencari uang. Ada kepuasan batin saat berhasil menjodohkan kliennya. Bahkan dia memperbolehkan kliennya membayar biaya keanggotaan dengan dicicil.

“Kalau bicara omzet kadang bisa di atas kadang di bawah. Kebanyakan bayarnya kredit, misalnya Rp 1,5 juta mereka bayar Rp 300 ribu dulu. Tali oke tidak apa-apa. Saya menjalani cuma panggilan hati,” tutupnya. (das/ang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *