Cerita Dokter RSJ Kendari, Cegat Pasien Mencoblos yang Hendak Bakar Rumah

Liputan6.com, Kendari – Pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kota Kendari memiliki hak suara pada Pemilu 2019, Rabu (17/4/2019). Tercatat, ada 6 orang pasien yang namanya masuk dalam Daftar Pemilih Tetap Tambahan (DPTB) pada TPS 16 yang terletak di samping kompleks rumah sakit di Kelurahan Tobuha Kecamatan Puuwatu Kota Kendari.

Dari jumlah sebanyak ini, terungkap hanya satu orang pasien saja yang diberi kesempatan memilih. Sementara, 6 orang lainnya batal mencoblos karena pertimbangan mendadak yang dikeluarkan pihak rumah sakit.

Tiba-tiba, sesaat sebelum pemilihan keenam pasien terlihat gelisah. Malah, salah seorang diantaranya mengatakan hendak membakar rumah.

Dokter Ahli Jiwa RSJ Kota Kendari, Junuda membenarkan hal itu. Dia menarik kembali rekomendasi karena keenamnya dirasakan berpotensi mengganggu jalannya pemilihan umum.

“Kita batalkan, hanya 1 yang dibolehkan. Sebenarnya lebih dari 7 yang memilih, tapi sebagian sudah dibolehkan pulang ke rumah,” ujar Junuda, Kamis (18/4/2019).

Dia menjelaskan, salah satu alasan dia membatalkan pasiennya memilih karena ada salah seorang pasien yang menyatakan akan membakar rumah sesaat sebelum masuk ke dalam tenda pemilihan. Sehingga, mereka dibolehkan jika ada surat keterangan dokter.

Pasien tersebut, masuk di rumah sakit karena memiliki riwayat membakar rumah miliknya. Tak ingin mengambil resiko, mereka kembali dimasukan di dalam ruangan RSJ.

“Pasien itu kuat-kuat. Mereka itu, jendela dan pintu besi saja mereka bisa kasi rusak, apalagi cuma tenda dan kardus,” ujarnya.

Prabowo Unggul di TPS RSJ Kendari

Pada TPS 04 yang berada di samping RSJ Kendari, pasangan Prabowo-Sandi jauh mengungguli pasangan Jokowi-Ma’ruf. Perhitungan suara selesai dilakukan pada Rabu (17/4/2019) sekitar pukul 15.00 Wita.

Sejak awal pemilihan, beberapa pemilih malah secara terbuka di luar tenda TPS 04 di RSJ Kendari malah mengatakan hendak memilih pasangan Prabowo-Sandi. Terbukti, saat penghitungan suara, nama Prabowo terus disebut oleh panitia KPPS.

Hasil akhirnya, suara Prabowo Unggul 125 suara. Sementara, pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 54 suara. Hanya ada satu suara batal karena tidak tercoblos.

Informasi dari KPU, tidak ada data pemilih yang berasal dari RSJ Kendari pada TPS 04 yang terletak di dalam kompleks rumah sakit. Enam orang pemilih dengan gangguan jiwa, terdaftar di TPS 16, yang berlokasi di samping rumah sakit.

Simak juga video pilihan berikut ini:

Sidang ke-16 perkara dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dihebohkan dengan keberadaan seorang wanita membawa senjata tajam jenis pisau sangkur.

Pria di Klaten Meninggal Dunia Saat Mencoblos di Bilik Suara

Liputan6SCTV, Klaten – Seorang warga di Klaten, Jawa Tengah, Rabu siang, 17 April kemarin, meninggal dunia saat melakukan pencoblosan di bilik suara. Korban langsung diserahkan ke pihak keluarga, dan peristiwa tersebut tetap tidak mengganggu proses pencoblosan.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Kamis (18/4/2019), dalam rekaman video milik warga, jasad Wiro Sumarto, warga Daleman, Tulung, Klaten, Jawa Tengah, dibawa dari bilik suara. Wiro meninggal dunia saat melakukan pencoblosan di TPS 01 Desa Daleman.

Awalnya korban ikut antre bersama warga lain. Saat menerima surat suara kondisi korban pun terlihat sehat. Namun saat berada di bilik suara, tiba-tiba Wiro jatuh dan meninggal dunia. (Galuh Garmabrata)

Emak-Emak Geruduk Kantor KPU karena Tidak Bisa Mencoblos

Liputan6.com, Pekanbaru- Pencoblosan di ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS) Kota Pekanbaru, Riau, sudah usai meskipun masih menyisakan berbagai masalah. Hal ini terlihat ketika ratusan warga yang didominasi emak-emak menggeruduk kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat di Jalan Arifin Achmad, Rabu petang (17/4/2019).

Namun, warga tidak mendapatkan hasil apa-apa karena tidak satupun komisioner berada di sana. Warga hanya bisa protes dan berharap kejadian serupa tak terjadi lagi pada pemilihan umum berikutnya.

Magdalena, warga Sidomulyo, mendatangi KPU karena tidak bisa mencoblos meski sudah antri di TPS sejak pukul 08.00 WIB. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mengaku sudah kehabisan surat suara.

“Tidak makan saya untuk bisa mencoblos, sampai siang juga gak bisa, disuruh ke KPU tapi gak ada hasil,” kata perempuan berusia 63 tahun ini di kantor KPU.

Menurutnya, anggaran surat suara itu menelan biaya triliunan rupiah. Diapun mempertanyakan kenapa surat suara bisa kurang pada hari pencoblosan.

“Kami tidak cari uang, yang kami butuhkan itu bisa menyalurkan hak suara untuk lima tahun mendatang,” ucap Magdalena.

Warga lainnya, Arya Pratama, mendatangi KPU karena surat keterangan dari RT di perumahannya tidak dianggap KPPS. Petugas menyebut surat suara cadangan tidak cukup dan diutamakan bagi masyarakat yang punya undangan mencoblos.

“Saya tidak masuk DPT, padahal saya sudah hampir tujuh tahun tinggal di Kelurahan Simpang Tiga, surat keterangan tidak berlaku,” katanya.

Arya mengaku datang ke TPS 24 pukul 10.00 WIB sesuai jadwal bagi warga yang tidak masuk DPT. Hingga siang, petugas memintanya datang ke TPS sebelah dengan harapan masih ada surat suara di sana.

“Saya datang ke TPS lain, jawabannya sama, pas datang ke KPU, hanya polisi yang ada di sini,” ucap Arya.

Kerja di Tengah Laut, Pekerja Pertamina Tetap Mencoblos saat Pilpres

PT Pertamina (Persero) memprediksi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) stabil Pemilihan umum (Pemilu) 2019. Meski begitu, Pertamina tetap menyiapkan pasokan dan juga menjaga kelancaran distribusi.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, momen Pemilu 2019 tidak banyak mempengaruhi kenaikan konsumsi BBM sebab hanya terjadi pada satu hari.

“Kalau pemilu stabil-stabil stabil ya. Kalaupun naik enggak banyak. Kan cuma sebentar,” kata Fajriyah, saat berbincang Dengan Liputan6.com, di Jakarta, Rabu (17/4/2019).

Menurut Fajriyah, Pertamina akan menyesuaikan stok BBM dan Elpiji, dengan realisasi konsumsi. “Stok kami sesuaikan dengan prediksi peningkatan konsumsi,” ujarnya.

Pertamina Marketing Operation Region III wilayah Jawa Bagian Barat pun telah memastikan kesiapan pasokan BBM dan Elpiji di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten aman. Konsumsi BBM diperkirakan tidak mengalami lonjakan berarti, sedangkan konsumsi Elpiji meningkat rata-rata sekitar 4,3 persen.

Unit Manager Communication Relations & CSR Pertamina MOR III Dewi Sri Utami menjelaskan, realisasi rata-rata harian BBM di wilayah MOR III DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat untuk jenis gasoline atau Premium, Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo diperkirakan mencapai 27,3 ribu kilo liter (KL).

Sementara itu, estimasi realisasi rata-rata harian gasoil atau Solar, Dexlite dan Pertamina Dex sebesar 10,1 ribu KL.

Dewi menambahkan, konsumsi gasoline menunjukkan kenaikan sekitar 2 persen dari Maret ke April 2019. Sedangkan pada periode yang sama, konsumsi gasoil mengalami kenaikan sebesar 3 persen.

“Kenaikan realisasi terjadi pada semua produk BBM. Hal ini disebabkan banyaknya hari libur dan aktivitas jelang Pemilu sejak Maret lalu,” jelasnya.

Padatnya MRT Jakarta Usai Mencoblos

Jakarta – Pemilihan umum (pemilu) sudah selesai dilaksanakan sejak pagi hingga siang tadi. Sambil menunggu hasil hitung cepat pemilihan warga Jakarta dan sekitarnya menggunakan kesempatan libur untuk tamasya naik moda raya terpadu (MRT) Jakarta.

detikFinance pun menjajal naik MRT dari stasiun Blok M. Antrean calon penumpang sudah mengular di stasiun itu. Namun, setelah melewati gate masuk stasiun masih kosong bahkan sampai peron 4 tak terlihat antrean yang berarti.

Masih terlihat antusias penumpang-penumpang saat memasuki peron. Tak sedikit yang mengabadikan momen foto dengan sanak keluarganya. Salah seorang warga Depok, bernama Suryo mengatakan ia sengaja mengajak anak, keponakan dan istrinya untuk berwisata menggunakan MRT Jakarta.

Dari Depok ia menggunakan mobil dan makan siang di Blok M Plaza. “Habis nyoblos, makan siang dulu di Blok M, anak-anak pada minta naik MRT, ya langsung aja coba,” ujar dia saat berbincang di stasiun Blok M Plaza, Rabu (17/4/2019).

MRT PilpresMRT Pilpres Foto: Sylke Febrina Laucereno

Tujuan akhir Suryo dan keluarga adalah stasiun Bundaran HI. Niatnya, mereka juga ingin berjalan-jalan di sekitar MH Thamrin atau di Bundaran HI.

Kemudian Wury warga Rawamangun ini usai mencoblos sengaja mendatangi Blok M Plaza untuk mencari diskon-diskon yang diberikan oleh tenant di mal tersebut.

Dia mengatakan setelah puas melihat-lihat di Blok M Plaza ia berniat ke mal di kawasan MH Thamrin yakni Plaza Indonesia dan Grand Indonesia.

“Karena mau ke GI (Grand Indonesia) ya aku naik MRT aja, belum pernah coba juga,” ujar dia.

Sementara pantauan detikFinance kereta tujuan Bundaran HI dari Lebak Bulus sudah penuh dan ada beberapa kereta yang tak bisa dimasuki oleh penumpang.

(kil/fdl)

Kenakan Kemeja Putih, Idrus Marham Tunjukkan Jempol Saat Akan Mencoblos

Liputan6.com, Jakarta – Mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham mengenakan kemeja berwarna putih dengan celana warna sepadan saat tiba di Rumah Tahanan (Rutan) KPK, Gedung Merah Putih, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2019).

Idrus Marham tiba di Rutan KPK sekitar pukul 11.15 WIB bersama dengan para tahanan lainnya. Mereka hendak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019 ini.

Idrus juga sempat memperlihatkan salam jempol tanda mendukung pasangan calon Joko Widodo alias Jokowi dan Ma’ruf Amin.

Menurut Juru Bicara KPK Febri Diansyah, TPS di Gedung Merah Putih KPK merupakan cabang dari TPS 012 Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.

“Nantinya proses penghitungan akan ikut TPS 012,” ujar Febri saat dikonfirmasi, Rabu (17/4/2019).

Proses pemungutan suara sendiri direncakan pukul 11.00 WIB. Namun hingga pukul 11.20 WIB pemungutan suara Pemilu 2019 belum dimulai. Rencananya, sebanyak 63 tahanan akan mencoblos di TPS ini.

“Dari koordinasi terakhir akan disediakan sekitar 4 bilik suara untuk mempermudah dan mempercepat proses pemungutan suara,” jelas Febri.

Ribuan Napi Mencoblos di 33 Penjara Jawa Barat

Liputan6.com, Bandung – Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Barat menyatakan 14.776 napi dan tahanan akan menggunakan hak pilihnya dalam pemungutan suara Pilpres dan Pileg 2019, Rabu 17 April.

“Jumlah penghuni Jawa Barat per hari ini sebanyak 24.328 orang. Yang ikut memilih 14.776 orang,” kata Kepala Kanwil Kemenkumham Jawa Barat, Liberty Sitinjak di Bandung, Selasa (16/4/2019).

Liberty menyebut data tersebut diperoleh hingga pukul 11.00 WIB siang tadi. Dia menjelaskan, saat pencoblosan nanti terdapat 33 penjara. Terdiri dari 27 lembaga pemasyarakatan (lapas) dan 6 rumah tahanan (rutan).

Sementara itu, sebanyak 9.552 penghuni lapas dan rutan tidak mendapatkan hak pilih.

Ribuan orang tersebut di antaranya ada yang tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), berstatus Warga Negara Asing (WNA), bebas sebelum 17 April, dan berstatus anak-anak.

Selain itu, masih terdapat warga binaan dan tahanan yang menunggu rekomendasi dari KPU untuk validasi pemilih.

Sedangkan jumlah Tempat Pemungutan Suara yang disiapkan di 33 lapas dan rutan yaitu sebanyak 92 titik. Terkait petugas pemungutan suara, pihaknya menurunkan 2.083 pegawai lapas rutan dan imigrasi.

“Jadi pada kali ini kami secara menyeluruh perlu membuat pengamanan yang maskimal sehingga kita perintahkan seluruh petugas kita untuk melakukan pengamanan di lapas dan rutan untuk pemilihan besok,” kata Liberty.

Liberty juga menegaskan bahwa napi dan tahanan yang dicabut hak politiknya tetap bisa memilih.

“Hak politiknya dicabut manakala dipilih, tetapi kalau hak memilihnya tetap boleh,” katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Mahkamah Konstitusi putuskan quick count atau hitung cepat Pemilu 2019 boleh ditayangkan media dua jam sejak penutupan TPS di wilayah barat Indonesia.

Ingin Mencoblos, Titi Wati Berharap Petugas TPS Datang ke Rumahnya

Liputan6.com, Palangka Raya – Titi Wati, wanita obesitas di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga ingin merasakan euforia pemilihan umum yang berlangsung pada Rabu, 17 April 2019 besok. Namun kondisinya yang belum bisa beranjak dari tempat tidur membuat ia harus menunda keinginan itu.

“Saya sebenarnya juga ingin  mencoblos juga  tapi gimana saya masih belum bisa berjalan,”ungkap Titi  saat dihubungi Liputan6.com, Selasa(16/4/2019) Sore.

Titi Wati mengaku bahwa dirinya telah terdaftar sebagai pemilih karena telah memiliki surat panggilan untuk mencoblos. Wanita berusa 37 tahun yang memiliki bobot 220 kilogram ini pun berharap agar petugas dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) dimana ia mencoblos nanti bisa datang ke rumahnya.

“Saya berharap ada petugas dari TPS yang mau datang kerumah sehingga saya juga bisa mencoblos, namun hingga saat ini belum ada yang datang” dia menjelaskan.

Kondisi ibu satu anak yang tinggal di Jalan George Obos, Kota Palangka Raya itu kini semakin membaik pascaoperasi Bariatrik yang dilakukannya empat bulan lalu di RSUD Dorrys Sylvanus Palangka Raya. Ia bahkan dikabarkan sempat sudah bisa berdiri.

Titi Wati mengaku bahwa pihak rumah sakit terus memantau kondisi kesehatannya hingga kini. Tidak hanya itu, pihak rumah sakit juga terus mengontrol secara ketat jenis dan pola makan yang bisa dikonsumsi oleh dia.

“Menu saya sehari hari hanya makan nasi sedikit, crakers dan minum Yakult,” dia berujar.

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Usai Operasi, Titi Wati Jalani Program Diet Dipantau Tim Dokter – Liputan 6 Siang

Ibunda dan Putra Jokowi Mencoblos di TPS Ini, Bagaimana Persiapannya?

“Dari keluarga Presiden yang mencoblos di sini itu Bu Sujiatmi, Mas Kaesang, Mas Gibran dan istri. Kami juga sudah mengirimkan formulir C6 kepada mereka,” katanya, Selasa 16 April 2019.

Menurutnya, KPPS tidak memberikan pelayanan khusus kepada anggota keluarga Presiden Jokowi yang mencoblos di TPS 38 ini. Mereka akan dilayani seperti pemilih umum lainnya.

“Wah tidak ada yang khusus. Sebelumnya juga begitu, pelayanan sama dengan warga lainnya yang ikut memilih di TPS ini,” dia menjelaskan.

Sunarso mengungkapkan, Pemilu 2019 ini ini berbeda karena TPS yang ada di kampungnya dipecah menjadi dua. Hal ini lantaran jumlah pemilih melebihi dari batas yang telah ditentukan oleh KPU dalam satu TPS.

“Dulu TPS-nya menjadi satu, terus ada Pilpres ini dipecah menjadi dua. Dipecah karena pemilihnya banyak, di TPS 38 ada sekitar 187 pemilih dan di TPS yang satunya ada 200 lebih pemilih,” dia menjelaskan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

DangdutanBarengPresiden Jokowi: Gilang Impersonet Presiden Jokowi | LIDA 2019