Atlet ONE Championship Melawan Rasisme

Liputan6.com, Jakarta – Di seluruh dunial, 21 Maret diperingati sebagai Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial sedunia setelah sebuah tragedi terjadi di Afrika Selatan pada 1960. Tragedi itu mengakibatkan 69 orang tertembak mati oleh pihak apartheid.

Hari tersebut menjadi simbol perjuangan dalam usaha mengeliminasi segala perlakuan diskriminasi terhadap ras tertentu di dunia. Tetapi, hal ini belum benar-benar sirna di berbagai belahan dunia.

Sebagai sebuah disiplin olahraga yang inklusif, mixed martial arts (MMA) punya peranan besar dalam penghapusan diskriminasi. Caranya dengan memberikan kesempatan setara bagi siapapun untuk unjuk kemampuan dalam ajang ONE Championship.

Seorang atlet MMA Indonesia Rudy ‘The Golden Boy’ Agustian mengaku MMA telah menyatukan dunia. Atlet yang bergabung dengan organisasi beladiri terbesar di dunia, ONE Championship, menganggap jajaran petarung dari berbagai belahan dunia telah membuktikan bahwa semua orang itu setara, dimana mereka dibedakan hanya dengan kemampuannya.

“Peran martial arts sangat penting. Sebagai pelatih dan juga petarung, saya berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai ras dan golongan. Kami berlatih dan tertawa bersama karena kita dibiasakan untuk saling menghormati sebelum dan setelah bertanding,” ujar Rudy, yang berlatar belakang etnis Tionghoa.

Setelah mencatatkan kemenangan pertama bagi Indonesia tahun ini pada ajang ONE: CALL TO GREATNESS, 22 Februari lalu, Rudy mengatakan bahwa ONE Championship memberikan kesempatan bagi dirinya untuk berinteraksi dan bertanding melawan petarung multi-etnis dari berbagai negara.

“Tidak sedikit yang awalnya lawan kini menjadi kawan. Kami cinta beladiri dan apapun agama atau rasnya, kami bersatu dalam [dunia] martial arts,” ujar Rudy, yang memiliki rekor tiga kemenangan beruntun.

“Salah satu idola saya, Genki Sudo, petarung asal Jepang, selalu membawa spanduk bertuliskan ‘WE ARE ONE’. Itu yang memotivasi saya untuk memerangi rasisme,” ucapnya menambahkan.

Berita video turnamen One Championship akan menggelar pertarungan perdana di Kokugikan, Tokyo, Jepang pada 31 Maret 2019 waktu setempat.

Di Tengah Lautan Pendukung, Jokowi Melawan Isu Miring Soal Antek Asing

Liputan6.com, Bandung – Calon Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo menghadiri Deklarasi 20 ribu intelektual, relawan, dan rakyat Jabar Ngahiji di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Kota Bandung, Minggu (10/3/2019).

Pada acara tersebut Jokowi menegaskan bahwa tidak ada kriminalisasi ulama selama dirinya menjabat sebagai Presiden RI dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini.

“Soal kriminalisasi ulama, saya sampaikan di sini bahwa tidak ada yang namanya kriminalisasi ulama, sebagai kaum intelektual harus melawan isu tidak benar, saya sering disebut mengkriminalisasi ulama. Itu tidak benar,” kata Jokowi dalam pidatonya.

Mengenakan kemeja putih, Jokowi menegaskan Indonesia adalah negara hukum dan penegakkan hukum di negara ini tidak pandang bulu.

“Negara kita ini adalah negara hukum. Ada bupati, anggota dewan yang masuk ke penjara. Kalau mereka salah maka harus dihukum karena negara ini negara hukum. Jangan sampai ada isu kriminalisasi ulama,” kata dia.

Selain itu, Jokowi juga membantah isu yang mengatakan bahwa dirinya adalah antek asing.

“Soal isu antek asing itu sudah ada sejak tahun 2015. Yang namanya Blok Mahakam yang dikelola lebih 50 tahun sudah 100 persen saya serahkan ke Pertamina. Blok Rokan di Riau juga. Lalu mana yang namanya isu antek asing,” kata dia.

Pada kesempatan tersebut Jokowi menyampaikan terima kasih atas dukungan para kaum intelektual di Jawa Barat kepada dirinya.

“Pagi hari ini saya sangat berbahagia dan saya berterima kasih saya sampaikan atas dukungan usahanya dari alumni perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat dan alumni SMA yang ada di Bandung dan di Jawa Barat. Mulai dari ITB Unpad, Unpar, Unpas, Unisba dan lain-lain,” katanya.

Sekitar 20.000 alumni dari berbagai perguruan tinggi dan SMA di Jawa Barat, seperti ITB, Universitas Padjadjaran, Universitas Pasundan, Universitas Parahyangan dan UIN SGD Bandung akan mendeklarasikan dukungan untuk pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.

Deklarasi dukungan untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin tersebut dilakukan di Monumen Perjuangan Rakyat atau Monju Jawa Barat, Kota Bandung.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla telah genap berjalan empat tahun.

Perjuangan Melawan Jijik demi Mengungkap Bedanya Pipis Anak IPA dan IPS

Jakarta – Lolos 20 besar finalis Indonesia Fun Science Award, Ahmad Nur Muzakki (16) dan Mastri Imammusadin (17) siswa SMA N 1 Purworejo maju ke babak final dengan karya ilmiah berjudul ‘Kajian Urine Siswa IPA dan IPS di SMA N 1 Purworejo’.

Ditemui detikHealth di Tangerang, keduanya mengaku sempat merasa tertekan saat awal akan melakukan penelitian tersebut. Apalagi penelitian Ahmad dan Mastri melibatkan urine orang lain.

“Pasti ada (rasa jijik), tapi diterusin aja karena kita juga penasaran,” ujar Mastri, Sabtu (9/3/2019).

“Awalnya sempet tertekan juga, btw kita anak pesantren gitu. Pernah ada pada tanya ‘apaan tuh anak pesantren mainan air kencing’. Oh tidaaaak,” lanjutnya.

Keduanya mengungkap urine anak IPA memiliki pH dan kadar glukosa lebih tinggi dibanding urine anak IPS. Mereka meyakini terkait stres dan tingkat kesulitan mata pelajaran.Keduanya mengungkap urine anak IPA memiliki pH dan kadar glukosa lebih tinggi dibanding urine anak IPS. Mereka meyakini terkait stres dan tingkat kesulitan mata pelajaran. Foto: Rinto Heksantoro/detikHealth

Keraguan pun menghampiri keduanya. Namun mereka tidak lantas berhenti begitu saja. Ahmad dan Mastri kemudian mendatangi guru agamanya untuk berkonsultasi, dan akhirnya mereka pun didukung untuk melanjutkan penelitian uniknya itu.

Penelitian pun dilanjutkan, dalam waktu dua hari sedikitnya diambil masing-masing 10 siswa dari jurusan IPA dan 10 siswa dari jurusan IPS sebagai sampel. Penelitian lu dilanjutkan hingga mereka mendapatkan kesimpulan bahwa pH dan kandungan glukosa di urine anak IPA lebih tinggi daripada anak IPS.

“Itu menandakan kalau siswa IPA itu pola makannya kadang lebih nggak teratur atau mungkin bisa juga karena tekanan psikologis karena stres gitu,” tutur Mastri.

(wdw/up)

Gelora Perang Melawan Narkoba dari Generasi Milenial di Pekanbaru

Liputan6.com, Pekanbaru- Sebanyak 16 ribu warga milenial di Kota Pekanbaru menyatakan siap memerangi penyalahgunaan dan memberantas peredaran narkoba di Provinsi Riau. Dengan tagline hidup sehat dan terhormat tanpa narkoba, mereka bakal mendeklarasikannya di halaman kantor Gubernur Riau.

Menurut Wakil Direktur IV Reserse Narkoba Bareskrim Mabes Polri Kombes Krisno Halamoan Siregar SIK, kampanye anti narkoba itu sebelumnya sudah dilakukan di Padang, Sumatera Barat. Pekanbaru menjadi kota kedua yang dilaksanakan pada Minggu (10/3/2019).

“Berikutnya di Aceh dan Medan, kegiatan menyasar milenial karena akrab dengan informasi teknologi. Generasi milenial rentan terhadap penyalahgunaan narkoba,” kata Krisno di Mapolda Riau, Jumat (8/3/2019).

Menurut Krisno, Riau dipilih karena selama ini menjadi pintu masuk narkoba dari negara tetangga. Apalagi Bumi Lancang Kuning memiliki garis pantai terpanjang di bagian utara sehingga sulit terpantau petugas.

Mudahnya masuk narkoba diharap menjadi amunisi bagi generasi milenial melawannya agar tidak membeli atau mendekatinya. Tanpa adanya pengguna maka pasar narkoba menjadi mati dengan sendirinya.

“Tujuan kegiatan ini agar generasi milenial menggelorakan perlawanan terhadap narkoba,” ucap Krisno.

Krisno berharap Polda Riau sebagai panitia daerah kian menggencarkan kampanye melawan narkoba. Hingga ke tingkat Polres sampai Polsek diharap merangkul milenial di lembaga pendidikan melawan narkoba.

“Karena inikan iven, jadi jangan sampai seremonial saja, harus ada tindakan nyata selanjutnya agar narkoba tidak merusak generasi,” tegas Krisno.

Sementara itu, Direktur Reserse Narkoba Polda Riau Kombes Hariono mengajak masyarakat hadir meramaikan kegiatan yang juga menggandeng gerakan anti narkoba (Granat) ini. Sejumlah hadiah menarik dan hiburan juga disiapkan bagi peserta.

“Ada lima hadiah umrah, puluhan sepeda motor, puluhan kulkas, dan ada Band Wali sebagai penghibur. Nanti ada gerak jalan santai milenial memerangi narkoba,” jelas Hariono.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief ditangkap Ditipidnarkoba Bareskrim Polri di sebuah hotel di Jakarta Barat saat akan menggunakan sabu. Beredar foto-foto penangnakan Andi beserta barang bukti.

Momen Sulit Rashford di Laga Melawan PSG: Menunggu Eksekusi Penalti

ParisManchester United ke perempatfinal setelah Marcus Rashford mencetak gol penalti di masa injury time. Menurutnya, momen menunggu untuk mengeksekusi penalti sangat sulit.

MU bertandang ke markas Paris Saint-Germain di Parc de Princes, Kamis (7/3/2019) dinihari WIB, pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions, dalam posisi tertinggal 0-2.

Meski main di kandang lawan, MU berhasil menang 3-1. Hasil itu membuat agregat berubah menjadi 3-3, namun Setan Merah berhak ke perempatfinal setelah unggul gol tandang.


Kepastian lolosnya MU didapat pada masa injury time. PSG diganjar penalti setelah tembakan Diogo Dalot mengenai tangan Presnel Kimpembe.

Rashford maju sebagai eksekutor. Arah bola meluncur ke sisi atas gawang Gianluigi Buffon.

“Saya hanya berusaha tetap tenang. Itu adalah hal-hal yang Anda praktikkan setiap hari. Kami mendapat gol dan lolos ke babak berikutnya. Menunggu sebelum (eksekusi penalti) mungkin adalah hal yang paling sulit, tetapi itulah saat-saat Anda bermain,” kata Rashford seperti dikutip dari situs resmi UEFA.

Eksekusi penalti Marcus RashfordEksekusi penalti Marcus Rashford. (Foto: Julian Finney/Getty Images)

MU bertandang ke markas PSG tanpa banyak pemain berpengalaman. Seperti halnya Paul Pogba, Alexis Sanchez, Jesse Lingard, ampai Juan Mata.

“Segala sesuatu tampaknya melawan kami (sebelum pertandingan), tetapi kami sudah terbiasa dengan itu. Kami menunjukkan bagaimana kami hari ini dan mendapatkan hasil yang kami butuhkan,” tegasnya.

(ran/raw)

Ditegur karena Melawan Arah, Reaksi Pria Ini Bikin Kaget

Liputan6.com, Jakarta – Pengendara sepeda motor di Indonesia kerap kali tak mematuhi aturan lalu lintas seperti melawan arah. Hal tersebut tentu membahayakan diri sendiri dan pengendara lain yang melintas.

Nah, kali ini aksi seorang pengendara sepeda motor yang tak tahu aturan terekam kamera dan diunggah akun Instagram, @warung_jurnalis.

Dari rekaman tersebut terlihat beberapa pengendara sepeda motor nekat melawan arah. Petugas Dishub yang tengah berjaga mencoba menegur dan meminta pengendara berputar arah dan mematuhi peraturan yang berlaku.

Namun, seorang pengendara tanpa helm justru marah dan membentak petugas yang tengah menertibkan lalu lintas. Tak hanya itu, pengendara tersebut juga tak mempedulikan imbauan petugas dengan tetap memacu kendaraannya melawan arah.

Kejadian tersebut diketahui terjadi di jalan H.Lebar, Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat, Senin (4/3/2019).

2 dari 3 halaman

Saksikan Videonya di Bawah Ini:

3 dari 3 halaman

3 Pengendara Motor Terjepit Bus Transjakarta Saat Melawan Arah

Seakan tak pernah ada kapoknya, pengendara sepeda motor di Jakarta kerap kali melanggar aturan lalu lintas. Salah satunya, menerbos perlintasan Transjakarta.

Kasus terbaru ini, terlihat dalam sebuah rekaman video yang viral di dunia maya, dimana tiga pengendara sepeda motor menerabas masuk jalur Transjakarta.






Disebutkan ketiga pengendara sepeda motor ini terjepit bus Transjakarta. Hal tersebut karena jalur yang dilewati sangat sempit sehingga motor terhimpit antara pembatas jalan dan bus.

Tak sampai disitu, menurut keterangan akun Instagram @jktinfo, selain masuk jalur Transjakarta, ketiga pengendara sepeda motor melaju dengan melawan arah di wilayah Warung Jati, Jakarta Selatah.

Dari rekaman tersebut terlihat, ketiga pengendara sepeda motor itu cukup panik dan tak bisa berkutik karena dirinya dan tunggangannya terjepit.

Bahkan dua di antara pengendara motor yang membawa penumpang, memutuskan untuk menurunkannya.

Tidak disebutkan alasan ketiga pengendara ini nekat masuk jalur Transjakarta dan melawan arah. Pasalnya, dalam rekaman tersebut sangat jelas terlihat kondisi jalan cukup lengang.

Hanya saja dari suara penumpang terdengar, bahwa kejadian sepeda motor lawan arah dan masuk jalur Transjakarta lantaran di ujung jalan  terdapat razia.

Kisah Perempuan Melawan Kanker Otak dengan Menari

Liputan6.com, Jakarta – Dunia seakan berhenti setelah Catherine Wreford Ledlow didiagnosis menderita kanker otak pada 2013 lalu, hanya berselang lima minggu setelah melahirkan putrinya, Quinn. Namun demi masa depan putrinya, ia kembali ke dunia yang ditinggalkannya sembilan tahun sebelumnya, menari.

Catherine pernah menjadi penari dan penampil di Broadway sebelum akhirnya berhenti. Namun, semangatnya untuk menari tetap menyala.

Setelah diagnosis yang mengagetkan itu, Catherine memotong rambut panjangnya. Ia juga membentuk badannya agar bisa kembali ke rupanya saat menjadi penari profesional. Olah tubuh itu dilakukannya selama menjalani segala prosedur penanganan kanker otak, termasuk saat menerima kemoterapi dan operasi otak. 

Setelah dirasa mantap, ia lalu mengikuti audisi untuk produksi film dan teater dan mengatakan latihan membantu membuatnya tajam. Ia bahkan sudah tampil dalam lima pertunjukan selama menjalani perawatan sebagai pengidap kanker.

Hal tersebut dilakoninya untuk kedua anaknya yang kini masih berusia 4 dan 7 tahun. “Penting bagi anak-anak saya untuk melihat semua hal yang saya lakukan ketika menderita kanker otak,” ujarnya dalam video yang diunggah akun Instagram @nowthisnews, Selasa, 5 Februari 2019.

Menurut Catherine, seni membantu otaknya tetap aktif. Selain itu, ia sangat ingin anak bungsunya melihatnya tampil sebagai Cassie dalam produksi teater Rainbow Stage di A Chorus Line pada Maret mendatang.

“Persetan dengan para dokter yang memperkirakan aku hanya memiliki waktu dua sampai enam tahun saja karena aku sekarang sudah memasuki tahun ke-7,” tuturnya.

Ia menegaskan penyakitnya yang parah tidak menghalangi dia menikmati waktu secara maksimal dengan anak-anak-anak dan keluarga. Ia mengatakan akan terus memikirkan masa depannya bersama anak-anak. Bahkan, ia kini merencanakan berbulan madu yang tertunda dengan suaminya. (Adinda Kurnia Islami)

Saksikan video pilihan di bawah:

Janda Korban Perkosaan di India Melawan dan Bakar Pelaku

Kolkata – Seorang wanita di India mengalami pemerkosaan dan tubuhnya mengalami luka bakar. Alhasil, wanita tersebut membunuh sang pelaku.

Dilansir dari AFP, janda berusia 35 tahun itu diperkosa pelaku yang berusia 42 tahun di rumahnya yang terletak di Kolkata India saat putrinya tengah keluar rumah. Tidak terima diperkosa dan dibakar wajahnya, wanita tersebut menuangkan minyak tanah dan membakar pelaku.

“Kemudian dia menuangkan minyak tanah ke tubuhnya dan membakarnya,” kata petugas polisi Sajal Kanti Biswas kepada AFP, Kamis (7/3/2019).


India sendiri memiliki catatan buruk tentang kekerasan seksual, seperti yang disoroti oleh pemerkosaan geng dan pembunuhan seorang wanita di sebuah bus Delhi pada tahun 2012. Rata-rata, lebih dari 100 perkosaan dilaporkan setiap hari pada tahun 2016, menurut angka resmi terbaru.

Korban sering diancam oleh pelaku agar tidak melaporkan insiden tersebut ke pihak berwenang. Dalam beberapa tahun terakhir beberapa insiden korban yang mengambil tindakan drastis untuk “keadilan instan” telah muncul.
(dkp/zap)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

4 Fakta Perjuangan Sunarti Melawan Obesitas hingga Tutup Usia

Liputan6.com, Jakarta – Sunarti (40), wanita penderita obesitas asal Kabupaten Karawang, Jawa Barat, meninggal dunia pada Sabtu pagi, 2 Maret 2019. Wanita yang memiliki berat badan sekitar 148 kilogram itu wafat di rumahnya usai menjalani operasi pengecilan lambung (bariatrik) di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Kurang lebih sebulan yang lalu, Sunarti dirujuk ke RS Hasan Sadikin untuk menjalani pengobatan terkait berat badannya. Menurut dokter saat itu, Sunarti mengeluhkan sesak napas.

“Secara medis kami evaluasi dulu bagaimana kondisi pasien ini. Menurut laporan dokter yang sudah memeriksa pasien dalam keadaan baik, memang ada keluhan sesak. Sempat pemeriksaan jantung paru dan sesaknya kemungkinan fisik mekanik,” kata Direktur SDM dan Pendidikan RSHS Akhmad Supriatna.

Setelah menjalani diet ketat dengan mengonsumsi makanan tinggi serat, operasi bariatrik dilakukan, pada 18 Februari 2019. Operasi berjalan lancar dengan dilakukan pemotongan lambung.

“Lambungnya dipotong, sehingga sekarang tinggal sepertiga bagian dari ukuran lambung yang sebelumnya. Dan, alhamdulillah operasi berlangsung dengan lancar, keadaan Bu Sunarti stabil pascabedah,” kata tim dokter dari spesialis konsultan bedah digestif (pencernaan) RSHS Bandung, Reno Rudiman.

Usai operasi, kondisi Sunarti terbilang sehat. Dia pun kembali pulang ke rumah pada Jumat, 1 Maret 2019 usai menjalani perawatan intensif di ruang rawat inap.

Berikut sejumlah fakta perjuangan Sunarti untuk menurunkan berat badan hingga akhirnya tutup usia:

2 dari 6 halaman

1. Sesak Nafas

Meski operasi pemotongan lambung yang harus dijalani Narti Sunarti terbilang sukses, namun Tuhan berkehendak lain.

Setelah perawatan sekitar satu bulan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, perempuan penderita obesitas itu meninggal dunia di rumahnya di Perumahan Terangsari, Klari, Karawang, Sabtu dini hari.

Sebelum meninggal, Narti sempat mengeluhkan sesak nafas usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Sunarti diketahui pulang ke rumah pada Jumat, 1 Maret 2019, usai melakukan perawatan intensif di ruang rawat inap.

3 dari 6 halaman

2. Kondisi Usai Operasi

Sementara itu, Hikmat salah satu tim dokter menyebut kondisi Sunarti pascaoperasi bariatrik terbilang baik. Salah satu alasan kenapa dipulangkannya, karena dia sehat dan mulai bisa bergerak.

“Betul tadi subuh Bu Sunarti meninggal dunia di rumahnya. Padahal pasien pulang dalam keadaan baik, sudah mampu duduk sendiri,” ujar dokter dari spesialis konsultan bedah digestif (bedah pencernaan) RSHS Bandung, Reno Rudiman.

Pada akhir Februari 2019, tim penanganan Sunarti memberikan asupan cairan untuk mengetahui hasil operasi pengecilan lambung di ruang perawatan intensif instalasi gawat darurat (IGD).

Pemberian cairan itu usai operasi berupa test feeding selama 4 jam dan enteral hipokalori 50 mililiter sebanyak enam kali. Test feeding itu dilakukan sebagai percobaan pemberian cairan untuk mengetahui fungsi dan absorbi lambung dan usus.

Tak lama usai mendapatkan cairan, perawatan Sunarti dipindahkan ke ruang inap biasa. Diruang inap biasa, Sunarti menerima asupan makanan padat yang dikonsumsi sedikit olehnya. Hal itu disebabkan adanya gangguan batuk pascaoperasi.

4 dari 6 halaman

3. Jalani Diet Ketat

Pemberian makanan cair dengan tinggi serat tersebut merupakan salah satu diet yang harus dijalani Sunarti sebelum tim medis melakukan prosedur operasi.

Ada 11 menu yang disiap tim dokter RS Hasan Sadikin Bandung untuk wanita yang akrab disapa Narti ini. Setiap hari, Narti makan tiga kali disertai camilan di antara jam makan.

“Pada tanggal 4 dan 5 Februari lalu telah diberikan makanan 1.800 kalori tinggi serat. Tanggal 6 Februari sampai dengan satu minggu ke depan diberikan makanan cair sebanyak 1.200 kalori menjelang persiapan operasi bariatrik,” kata Dyah, Bandung, Jumat, (8/2/2019).

Pada pagi hari, menu yang disiapkan nasi putih, semur telur, opor tahu, tumis labu siam, buncis dan jagung muda.Pukul 10.00 WIB dilanjutkan makanan ringan, seperti buah dan puding.

“Menu makan malam berupa nasi putih, ikan fillet, buah-buahan, acar, sup sayuran dan sayur tumis serta tempe goreng,” ujar ahli gizi (dietisien) Instalasi Gizi RSHS Bandung Dyah Widyastuti.

5 dari 6 halaman

4. Konsumsi Obat Penghilang Nyeri?

Memiliki berat tubuh di atas normal cukup menyiksa. Tidak hanya mengeluh sesak, pegal-pegal juga kerap dirasakan wanita berusia 40 tahun itu.

Untuk menghilangkan rasa pegal, Sunarti membeli obat penghilang nyeri di warung.

Menurut Kepala IGD RSHS Bandung Dodi Tavianto, rasa pegal yang dialami oleh Sunarti kemungkinan besar karena otot-ototnya lelah untuk menahan berat badan yang kian hari bertambah.

“Dari hasil analisis kami, dia sudah mengonsumsi obat-obatan untuk nyeri tulang sejak enam bulan yang lalu,” kata Dodi, Senin, 4 Februari 2019.

Jika dikonsumsi, harus berdasarkan resep dokter. Karena jika tidak, efek samping yang terjadi bisa menambah nafsu makan.

6 dari 6 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: