Grand Prix Ngepel di Uwa Rice Museum di Jepang, Mau Coba?

Liputan6.com, Jakarta – Salah satu destinasi wisata di Prefektur Ehime adalah Uwa Rice Museum yang terletak di Uwa, Seiyo. Bangunan museum yang mengkhususkan diri di bidang perpadian ini dulunya merupakan bekas sekolah dasar.

Lokasi bangunan yang didirikan pada 1928 ini dipindah ke tempat lebih tinggi, tidak jauh dari sekolah. Karena bangunan tersebut ingin dipelihara, dan wilayah Uwa terkenal dengan padi, maka akhirnya bangunan tersebut dijadikan museum.

Museum ini dibuka pada pukul 09.00 dan ditutup pukul 17.00. Setiap hari Senin, museum ini tutup.

Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Ada kegiatan yang menarik wisatawan di museum ini, yaitu lomba mengepel di koridor dengan lantai kayu sepanjang 109 meter. Kegiatan mengepel ini disebut dengan Zoukin Kake.

Petugas museum menjelaskan perlombaan mengepel (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Rekor waktu tercepat mengepel ini dipegang oleh seorang pria bernama Nakagawa yang berhasil menyelesaikan waktu 18.17 detik. Zoukin kake ini dimulai 20 tahun lalu.

Liputan6.com bersama dengan Japan Airlines menyambangi musim ini pekan lalu, pertengah Februari 2019. Sebelum memasuki ruangan utama museum, pengunjung akan diminta melepas sepatu. Kami pun mencoba lomba mengepel ini.

2 dari 3 halaman

Lomba Ngepel

Di dalam museum, petugas telah menyediakan sepatu warna putih dengan berbagai ukuran kaki, pelindung lutut, dan kain pel tebal dengan tulisan Grand Prix.

Seperti perlombaan pada umumnya, peserta akan dihitung berapa kecepatan waktu menempuh jarak 109 meter sambil mengepel lantai dengan gaya Jepang.

Kain lap dan pelindung lutut untuk lomba zoukin kake di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Lomba mengepel lantai dengan gaya Jepang ini cukup menguras energi. Maklum, sejak pagi kami sudah berkeliling tempat wisata di Ehime.

Selesai mengikuti lomba, peserta akan mendapat pin medali dan sertifikat. Pin lomba tersebut berwarna warni.

Dari mulai warna emas yaitu menempuh paling cepat hingga berikutnya ke warna perak, perunggu, ungu, merah, biru, hijau, hingga kuning sebagai peserta lomba yang memakan waktu paling lama dan bagi mereka yang tidak menyelesaikan lomba. 

Pin akan diberikan kepada peserta lomba mengepel atau zoukin kake di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sayang, karena waktu hampir menunjukkan pukul 17.00, kami hanya mengikuti lomba ngepel dan memotret singkat alat-alat pertanian di museum ini.

Sejarah museum hanya diberikan kilat sebelum lomba mengepel dimulai.

Alat pertanian di Uwa Rice Museum di Prefektur Ehime, Jepang (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pemberdayaan Nelayan Kamoro dan Pesisir Mimika buat Genjot Industri Perikanan Papua

Liputan6.com, Jakarta Indonesia dinilai memiliki potensi sumber daya laut dan perairan yang besar, terutama perikanan seperti di Papua. Pemanfaatan hasil laut patut didorong, karena ini menjadi salah satu sumber pangan kaya protein yang dibutuhkan masyarakat Indonesia.

Ini dikatakan Manajer Community Economic Development PT Freeport Indonesia, Yohanes Bewahan. Perusahaan tambang ini memberdayakan nelayan suku Kamoro dan nelayan dari suku lain di pesisir kabupaten Mimika, dalam memanfaatkan hasil laut.

Ini tertuang dalam program community development Freeport Indonesia, yang dalam pelaksanaannya berkolaborasi dengan Koperasi Maria Bintang Laut (KMBL) yang bernaung di bawah Keuskupan Mimika dan Dinas Perikanan Kabupaten Mimika.

“Potensi perikanan di pesisir Kabupaten Mimika cukup tinggi, namun belum termanfaatkan secara penuh akibat kendala akses transportasi dan pasar, sarana produksi, dan rendahnya kapasitas tangkap. Inilah salah satu alasan kami dalam melalukan program pendampingan terhadap para nelayan yang ada di pesisir pantai Kabupaten Mimika,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (22/2/2019).

Dia menuturkan jika kolaborasi dalam pemberdayaan nelayan dan penguatan industri perikanan di Kabupaten Mimika secara terstruktur dimulai pada 2005. Sejumlah program yang dilaksanakan mencakup perikanan tangkap serta perikanan budidaya.

Menurut Yohanes, setelah beberapa tahun melakukan pendampingan dan kolaborasi dengan beberapa mitra, hasil tangkapan serta hasil budidaya para nelayan telah meningkat. Hal itu merujuk pada hasil rata-rata tangkapan puluhan nelayan yang berasal dari suku Kamoro ini ada di kisaran 1-4 ton ikan per bulan.

Namun dia berharap dukungan untuk pengembangan sektor perikanan ini harus dilakukan secara menyeluruh.

Salah satu nelayan yang mengikuti program pembinaan Daniel Bipuaro menceritakan bahwa pendampingan yang dilakukan sangat bermanfaat. Selain kemampuan dalam mencari ikan, para nelayan mendapatkan pengetahuan lain mengenai cara mengolah ikan hasil tangkapan agar nilainya meningkat.

“Kami tidak hanya dibantu untuk menangkap lebih banyak ikan, tapi kami juga diajari untuk mengolah hasil tangkapan agar bisa dijual di pasar dan harganya tinggi. Selain itu kami juga dilatih untuk mengelola keuangan keluarga agar kami tidak kesulitan,” tutur Daniel yang juga merupakan kepala kampung Ohotya di Mimika.

2 dari 2 halaman

Sektor Perikanan Turut Kena Imbas Kenaikan Tarif Kargo Udara

Kenaikan tarif kargo udara turut berdampak pada sektor perikanan. Pasalnya, distribusi untuk mengangkut hasil perikanan, khususnya di wilayah sentra perikanan cukup banyak mengandalkan jalur udara.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP‎, Rifky Effendi Hardijanto mengatakan, ‎jasa logistik, khususnya melalui udara, sejatinya bertujuan untuk mengatasi kendala jarak, merajut kesatuan wilayah dan meningkatkan nilai tambah suatu produk. Logistik juga memainkan peran yang penting dalam bisnis perikanan.

Menurut dia, saat ini penggunaan jasa logistik untuk produk perikanan dari beberapa titik produksi melalui transportasi udara mencapai lebih kurang 50 persen dari total ikan yang didistribusikan.

“Transportasi udara dinilai sangat efektif dalam kerangka logistik karena mempersingkat waktu dan jarak,” ujar dia di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Namun berdasarkan data dan informasi dari pihak penyedia angkutan udara, lanjut Effendi, diketahui jika tingkat kenaikan biaya transportasi udara 2019 dibandingkan dengan 2018 rata-rata mencapai 183 persen.

Terdapat beberapa indikator yang menyebabkan maskapai penerbangan menaikkan tarif biaya cargo. Mulai dari kenaikan biaya avtur sebesar 40 persen dan pelemahan kurs rupiah hingga 14 persen.

“Kenaikan biaya ini berdampak pada kegiatan pelaku usaha perikanan sampai pada tahap penghentian usaha atau ekspor hasil perikanan karena harga jual dengan produk perikanan tidak kompetitif dengan biaya logistik yang lebih dari 20 persen,” kata dia.‎


Pelesir ke Wilayah Tradisional Jepang di Uchiko Ehime

Liputan6.com, Jakarta – Pelesir ke Prefektur Ehime, Jepang jangan lupa menyambangi kawasan bernama Uchiko. Terletak di bagian barat daya Prefektur Ehime, kawasan ini merupakan wilayah yang masih mempertahankan bangunan bersejarah Jepang.

Pada periode Edo (1603–1867) dan periode Meiji (1868–1912), Uchiko merupakan pusat produksi lilin di Jepang.

Liputan6.com bersama dengan Japan Airlines menyambangi Uchiko beberapa waktu lalu. Kami memasuki jalanan yang diapit rumah bergaya tradisional Jepang.

Sebagian rumah di kawasan ini, memiliki dinding kayu bagian depan yang bisa dibuka dan menjadi kursi. Sedangkan dinding rumah terbuat dari tanah liat yang disebut Okabe.

Tampilan dinding kayu di depan rumah bergaya tradisional di Uchiko, Prefektur Ehime, Jepang yang bisa dijadikan kursi. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sementara, di hampir setiap rumah, ada pengait dari besi. Pemandu tur kami, Yamamoto mengatakan, pengait dari besi bertujuan untuk mempermudah saat perbaikan.

Rumah bergaya tradisional di Uchiko, Prefektur Ehime, Jepang. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Museum Lilin Jepang dan Kediaman Kamihaga

Di kawasan Uchiko ini, wisatawan bisa menyambangi Museum Lilin Jepang dan Kediaman Kamihaga (Japanese Wax Museum and Kamihaga Residence). Keluarga Kamihaga merupakan pembuat lilin dan mengekspornya ke Amerika Serikat dan Eropa. Keluarga inipun kaya raya pada masanya.

Sesuai namanya, museum tersebut merupakan kediaman dari keluarga Kamihaga. Dibuka pukul 09.00-16.30, wisatawan bisa membayar sekitar 500 yen bagi orang dewasa dan 250 yen untuk anak-anak. Rumah Kamihaga ini menjadi aset budaya nasional Jepang.

Museum lilin Jepang dan kediaman Kamihaga (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Di museum, pengunjung bisa melihat potongan tembok tanah liat untuk dinding rumah masa Edo dan Meiji. Pengunjung juga bisa melihat pilar pilar kayu yang menopang rumah.

Lebar pilar rumah bisa mencapai 40 cm dan tinggi 6 meter. Rata-rata pilar rumah terbuat dari pohon pinus.

Peralatan dapur di kediaman Kamihaga (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Pengunjung juga bisa melihat lihat ruangan seperti kamar tidur dengan penghangat tradisional, kamar mandi, dapur, dan ruangan lain.

Tak hanya itu, pengunjung bisa melihat diorama yang menjelaskan tahap tahap pembuatan lilin, alat-alat yang dipakai, proses pengeksporan lilin, hingga proses lobi membahas industri lilin.

Museum lilin Jepang dan kediaman Kamihaga (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Di museum, pengunjung bisa melihat tananam buah beri yang menjadi bahan dasar lilin, lilin batangan, hingga barang barang yang memakai bahan baku lilin seperti crayon dan kosmetik.

Selain itu, di dalam museum terdapat alat-alat yang digunakan untuk membuat lilin.

Museum lilin Jepang dan kediaman Kamihaga (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Produksi lilin di Uchiko mencapai puncak keemasan selama periode Meiji (1868-1912) dan berlanjut hingga periode Taisho (1912-1926). Kala itu, ada 23 pedagang besar lilin di Uchiko.

Diperkirakan, 30 persen produksi lilin di Jepang berasal dari Uchiko. Namun, karena adanya pengganti penerangan lebih murah dan listrik mulai masuk, bisnis lilin mulai ditinggalkan sampai pada 1924. Sekarang, kediaman Kamihaga hanya tersisa fasilitas produksi lilin.

Museum of Commercial and Domestic Life

Gambaran sehari hari masyarakat era Meiji (1868-1912) di Museum of commercial and domestic life. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Puas mengelilingi Museum Lilin Jepang dan Kediaman Kamihaga, pengunjung bisa menyambangi Museum of Commercial and Domestic Life yang juga berada di kawasan Uchiko.

Gambaran kehidupan sehari hari masyarakat Jepang saat era Meiji (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Bangunan ini merupakan tempat farmasi Sano dari era Meiji (1868-1912). Museum ini buka pukul 09.00-16.30. Untuk masuk dikenai tarif 200 yen untuk dewasa dan 100 yen untuk anak-anak.

Gambaran kehidupan sehari hari masyarakat Jepang saat era Meiji (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Di museum ini, pengunjung bisa melihat kehidupan sehari-hari masyarakat pada era itu lewat manekin seperti saat sedang sarapan. Selain itu, juga bisa melihat kondisi dapur, gudang, hingga bagian toko farmasi.


2 dari 4 halaman

Teater

Teater Uchiko-za merupakan tempat yang harus disambangi bila Anda sedang berada di Kota Tua Uchiko. Ketika sedang tidak ada pertunjukan, pengunjung dapat melihat interior dan melihat lihat bagian belakang panggung.

Teater yang terbuat dari kayu ini dibangun atas dasar kecintaan masyarakat yang memuja seni dan hiburan pada era kemakmuran di kawasan tersebut karena adanya produksi lilin, sutra mentah, dan lainnya. Saat pertanian sedang sepi, berbagai acara ditampilkan di teater ini seperti Kabuki, Bunraku, dan Rakugo.

Teater Uchiko tampak luar (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Teater Uchiko-za ini dibangun pada 1916 yang bertujuan untuk merayakan penobatan Kaisar Taisho. Kapasitas kursi di teater ini bisa mencapai 650.

Struktur utama bangunan terbuat dari kayu. Pada tahun 1970, teater ini terancam dihancurkan karena bangunannya yang lapuk hingga akhirnya dipulihkan.

3 dari 4 halaman

Penduduk Uchiko Masa Kini

Di kawasan Uchiko, masih bisa ditemui toko yang memproduksi dan menjual lilin tradisional. Pembeli bisa melihat langsung proses pembuatan lilin dari balik kaca.

Keluarga Omori yang memiliki toko tersebut mengklaim, kerajinan lilin dari tanaman yang dibuatnya sejak jaman Edo (1603-1867). Sekarang pembuatnya adalah Omor Taro yang merupakan generasi ke-6.

Penjual lilin tradisional Jepang di Uchiko (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Keluarga ini mengaku, dalam satu hari bisa membuat 50 batang lilin ukuran sedang. Sedangkan ukuran kecil bisa membuat 200 batang per hari. Lilin ukuran sedang bisa bertahan sampai 2,5. 

Penjual lilin tradisional Jepang di Uchiko (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sementara itu, Yuzo Yoshino dari International Affairs Division Economic and Labor Departmen Ehime Prefectural Goverment menjelaskan, masyarakat di Uchiko sekarang ini, sudah tidak memproduksi lilin lagi.

Jalanan di kawasan Uchiko (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Rata-rata dari mereka, berdagang dengan membuka toko di depan rumah, petani atau bekerja di tempat lain. 

“Kebanyakan warga yang tinggal di Uchiko bekerja sebagai petani,” kata dia. Tempat ini, imbuh dia, dibuka untuk umum pada 20 atau 30 tahun lalu.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kemenhub Apresiasi Penundaan Layanan Navigasi Penerbangan

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengapresiasi keputusan penundaan kenaikan tarif dasar Pelayanan Jasa Navigasi Penerbangan (PJNP) yang dilakukan Airnav Indonesia.

Awalnya tarif dasar PJNP direncanakan naik menjadi Rp 7.000 mulai 1 Januari 2019. Namun penerapannya mundur hingga 30 Juni 2019 dengan besaran Rp 6.000.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti menjelaskan, dengan penundaan kenaikan tarif, tidak akan menurunkan pelayanan navigasi penerbangan.

“Penundaan tarif PJNP ini merupakan bentuk dukungan dari AirNav untuk memenuhi kewajiban serta mengutamakan dan senantiasa meningkatkan pelayanan navigasi penerbangan bagi para penggunanya,” jelas dia di Jakarta, Jumat (22/2/2019).

Penyesuaian tarif diakui akan mempengaruhi program investasi AirNav. Namun hal ini dinilai masih dapat dimaklumi dengan penyusunan ulang prioritas program-programnya dengan tetap menjaga tingkat keselamatan penerbangan.

Sebelumnya, AirNav Indonesia menegaskan pihaknya bersama dengan Kementerian Perhubungan dan juga Indonesia National Air Carrier Association (INACA) telah sepakat untuk menunda kenaikan tarif jasa layanan navigasi penerbangan.

Kebijakan ini disepakati dalam rangka memberikan ruang kepada maskapai penerbangan untuk meningkatkan efisiensi untuk kemudian bisa menurunkan harga tiketnya.

“Sebenarnya soal tarif itu keputusan di Kementerian Perhubungan, kita hanya menjalankan. Tapi menghadapi isu tiket dan sebagainya, kita sudah duduk bersama sepakat untuk melakukan penundaan,” ucap Direktur AirNav Indonesia Novie Riyanto di Padang, Rabu (20/2/2019).

Dengan adanya penundaan ini, Novie mengaku akan berdampak langsung terhadap rencana investasi perusahaan. Mulai dari investasi Sumber Daya Manusia (SDM) hingga investasi peralatan seperti ditargetkan sebelumnya.

Meski demikian, Novie mengaku tak akan mempengaruhi angka pendapatan dan laba perusahaan di 2019. Ini dikarenakan sebagian besar pendapatan perusahaan berbentuk dolar AS, dari jasa layanan navigasi maskapai internasional.

“Konsekuensinya kalau ada sesuatu yang terrunda kita investaai peralatan tertunda, training orang juga tertunda, dan ada beberapa lainnya juga,” tegas dia.

Bos Airnav: Kita BUMN yang Tidak Ambil Keuntungan

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama Airnav Indonesia Novie Riyanto R mengatakan perusahaannya sedikit berbeda dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain. Airnav merupakan BUMN yang mengutamakan pemberian layanan terbaik untuk penerbangan Indonesia dari pada mencari keuntungan.

Dia menjelaskan, sesuai dengan Undang-Undang (UU) nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan, Airnav memiliki visi untuk menjadi penyedia layanan navigasi udara yang aman dan nyaman sesuai dengan standar internasional.

“Seperti yang diketahui kita adalah BUMN, tapi BUMN yang berbeda dari yang lain karena tidak mencari keuntungan. Tapi harus melayani,” Kata Novie di acara Media Gathering 2019 di Padang, Sumatera Barat, Rabu (20/2/2019).

Sesuai dengan aturan tersebut, ada 5 yang harus dilakukan oleh Airnav Indonesia. Di antaranya, memberikan pelayanan lalu lintas udara, memberikan telekomunikasi, memberikan informasi navigasi penerbangan kepada pilot, memberikan informasi mengenai meteorologi penerbangan, dan memberikan pelayanan pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR).

Meski tidak mencari keuntungan, namun bukan berarti Airnav sama sekali tidak menghasilkan keuntungan. Keuntungan yang didapat perusahaan melalui penjualan tiket.

“Penumpang ini kan bayar tiket, nah dari harga tiket itu kan ada pembagian perusahaan penerbangan, dan lain-lain. Lalu 1,5 persen dari ongkos pesawat ini juga masuk ke Airnav,” jelas dia.

Selain itu, keuntungan yang didapat Airnav juga berasal dari ongkos pesawat yang melewati Indonesia atau over flying. Dia menyebutkan, jika ada pesawat internasional yang melintas di Indonesia akan dikenakan tarif.

“Misalnya pesawat dari China mau ke Australia itu harus melintas di Indonesia. Maka ada ongkosnya. Walaupun pesawat itu tidak mendarat di Indonesia, namun kami tetap melayani seperti penerbangan biasanya,” tandasnya.


Reporter: Azzura

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Airnav Sepakat Tunda Kenaikan Tarif Layanan Navigasi Penerbangan

AirNav Indonesia bersama Kementerian Perhubungan dan Indonesia National Air Carrier Association (INACA) bersepakat untuk menunda kenaikan tarif jasa layanan navigasi penerbangan.

Kebijakan ini disepakati dalam rangka memberikan ruang kepada maskapai penerbangan untuk meningkatkan efisiensi untuk kemudian bisa menurunkan harga tiketnya.

“Sebenarnya soal tarif itu keputusan di Kementerian Perhubungan, kita hanya menjalankan. Tapi menghadapi isu tiket dan sebagainya, kita sudah duduk bersama sepakat untuk melakukan penundaan,” ucap Direktur AirNav Indonesia Novie Riyanto di Padang, Rabu (20/2/2019).

Dengan adanya penundaan ini, Novie mengaku akan berdampak langsung terhadap rencana investasi perusahaan. Mulai dari investasi Sumber Daya Manusia (SDM) hingga investasi peralatan seperti ditargetkan sebelumnya.

Meski demikian, Novie mengaku tak akan mempengaruhi angka pendapatan dan laba perusahaan di 2019. Ini dikarenakan sebagian besar pendapatan perusahaan berbentuk dolar AS, dari jasa layanan navigasi maskapai internasional.

“Konsekuensinya kalau ada sesuatu yang terrunda kita investaai peralatan tertunda, training orang juga tertunda, dan ada beberapa lainnya juga,” tegas dia.

Jatuh Bangun Donald Trump Sebelum Jadi Orang Nomor 1 di AS

Jakarta – Siapa yang tidak mengenal sosok Donald Trump, pria berambut pirang ini lahir pada 14 Juni 1946 di Queens, New York City. Trump merupakan anak bontot dari lima bersaudara. Berikut ini kisah insipratif Trump sebelum sukses seperti sekarang.

Sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Trump dikenal sebagai pengusaha properti dengan kekayaan sekitar US$ 3-10 miliar. Namun, berdasarkan Forbes per September 2018, kekayaan Donald Trump mencapai US$ 3,1 miliar dan menempatkan dirinya sebagai orang terkaya nomor 766 di dunia.

Trump mengukir sejarah baru karena seorang pengusaha sukses pertama yang menjadi Presiden AS dalam sejarah. Namun, sebelum menjadi sesukses sekarang ini, banyak kisah yang harus dilalui. Mulai dari harus sekolah di militer, bisnis yang bangkrut, hingga dihidupkan kembali sebagai public figure.

Mengutip Investipodia, Jakarta, Rabu (20/2/2019). Donald Trump saat kecil memiliki sikap kurang disiplin, terlihat saat di salah satu sekolah yang ayahnya sendiri sebagai dewan pengawas.

“Di kelas dua saya memukul guru musik saya karena saya pikir dia tidak tahu apa-apa tentang musik, dan saya hampir diusir,” kenang Trump seperti yang dikutip.

Pada akhirnya Trump dipindahkan ke Akademi Militer New York di bagian utara Cornwall, New York. Dia lulus dengan pangkat kapten. Setelah itu, dia melanjutkan sekolahnya di University of Pennsylvania yang merupakan satu-satunya kampus memiliki jurusan real estate, dia lulus dengan gelar B.S di bidang ekonomi pada 1968.

Awalnya, Trump memulai karir di perusahaan ayahnya, Elizabeth Trump & Son sebagai pekerja paruh waktu. Namun setelah lulus dia bekerja penuh waktu di usianya 22 tahun.

Perlu diketahui, ketika Donald Trump lahir, ayahnya yaitu Fred Trump sudah menjadi pengembang real estate sukses di New York. Selama bekerja bersama ayahnya, Trump mempelajari mengenai banyak seluk beluk bisnis properti.

Pada akhirnya, di tahun 1971 Donald Trump memiliki kendali penuh pada perusahaan yang dinamai The Trump Organization. Dia mencari proyek yang skalanya lebih besar dari yang ayahnya biasa lakukan, yaitu membangun properti untuk pasar menengah.

Kesepakatan awal terbesar Trump adalah menyelamatkan Commodore Hotel dari kebangkrutan dan mengubahnya menjadi Grand Hyatt. Pada 1983, Trump membangun gedung pencakar langit yang dikenal Trump Tower 68 lantai di tengah kota Manhattan.

Hasil kerja kerasnya membuahkan hasil, dari proyek-proyek pembangunan, dia berhasil mendapatkan tempat di mata publik. Pada 1987, ia memanfaatkan ketenarannya dengan membuat buku berjudul “The Art of Deal”.

Dengan ragam kesuksesannya, Trump melebarkan sayapnya dengan pindah ke bisnis game, dia membeli Casino Taj Mahal. Di sini lah Trump menemukan banyak pertaruhan dalam menjalankan bisnisnya. Trump memiliki lebih banyak utang daripada pendapatannya. Sehingga, kreditur pun sepakat untuk merestrukturisasi utangnya dan mengambil setengah kepemilikan Trump di Casino Taj Mahal. Tidak hanya itu, Trump juga menjual maskapai penerbangannya, Trump Shuttle, dan Yacht Trump Princess.

Diambang kebangkrutan pada tahun 1990-an, karir Trump sebagai seorang publik figure dihidupkan kembali. Menurut beberapa laporan, Trump menerima US$ 3 juta per episode. Ketenaranya ini menjadi kesempatan bagi dirinya untuk memulai melisensikan nama dan citranya sebagai nama sebuah produk.

Bahkan, dia juga menempelkan namanya ke beberapa bisnis, seperti Trump Buffet, Trump Catering, Trump Ice Cream Parlor dan Trump Bar. Ada juga lini bisnis pakaian yang bermerek Trump, parfum, produk makanan dan minuman seperti Trump Steaks dan Trump Vodka, dan Trump Magazine.

Hal itu membuat kekayaan Trump kembali, pada pertengahan tahun 1990-an, Presiden AS itu kembali masuk daftar 400 orang terkaya pada 1996, setelah absen selama enam tahun.

“Sukses berasal dari kegagalan, bukan dari menghafal jawaban yang benar.” kata Trump.

(hek/ang)

Mulai 1 Mei 2019, SilkAir Buka Penerbangan Antara Singapura dan Busan

Liputan6.com, Jakarta – Anak perusahaan regional Singapore Airlines, SilkAir bakal membuka penerbangan nonstop antara Singapura dan Busan tahun ini. SilkAir siap mengoperasikan empat penerbangan dalam seminggu menuju Busan mulai 1 Mei 2019.

Adanya peluncuran penerbangan menuju kota kedua terbesar di Korea Selatan ini bakal menjadi sejarah baru bagi SilkAir. Hal tersebut karena maskapai ini kali pertama menambah kota di Korea Selatan dalam jaringan penerbangannya.

Langkah ini sekaligus mewujudkan komitmen mereka untuk menghadirkan destinasi-destinasi terbaru serta menyenangkan di kawasan Asia Pasifik. Kini, belum ada maskapai lain yang mengoperasikan penerbangan berjadwal antara Singapura dan Busan.

Layanan baru ini bakal memakai pesawat Boeing 737 MAX 8 yang menyediakan kabin Kelas Bisnis (Business Class) dan Kelas Ekonomi (Economy Class). Pelanggan juga bisa menikmati pengalaman layanan penuh termasuk layanan makanan dalam pesawat, sistem hiburan dalam pesawat nirkabel dalam studio SilkAir, bagasi gratis saat check-in dan melanjutkan perjalanan menuju atau dari titik SilkAir maupun Singapore Airlines lainnya lewat Singapura.

“Kami sangat senang dapat memperkenalkan layanan menuju Busan, yang memberikan penawaran bagi para pelanggan di Singapura dan di kawasan, sebuah destinasi menawan untuk diekplorasi dalam jaringan kami,” kata Foo Chai Woo, Chief Executive SilkAir melalui keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com.

“Untuk warga Korea yang bepergian dari Busan, rute baru juga akan menawarkan akses dan konektivitas yang lebih luas dengan jaringan SilkAir dan Singapore Airlines di Asia Pasifik dan sekitarnya,” tambahnya.

Rincian jadwal penerbangan terdiri atas penerbangan MI 876 rute Singapura – Busan beroperasi hari Senin dengan waktu keberangkatan Singapura 23.15 dan waktu kedatangan Busan 07.00 + 1. Lalu penerbangan MI 875 rute Busan – Singapura beroperasi Selasa dengan waktu keberangkatan Busan 08.00 dan waktu kedatangan Singapura 14.15.

Untuk penerbangan MI 876 rute Singapura – Busan beroperasi Rabu, Jumat, dan Sabtu dengan waktu keberangkatan Singapura 23.15 dan waktu kedatangan Busan 07.00 + 1. Serta, penerbangan MI 875 rute Busan – Singapura beroperasi Kamis, Sabtu dan Minggu dengan waktu keberangkatan Busan 08.30 dan waktu kedatangan Singapura 14.15.

Busan adalah destinasi populer yang berlokasi di ujung tenggara semenanjung Korea. Kota ini memiliki pemandangan pantai cantik dengan beragam atraksi kebudayaan setempat. Busan dijuluki sebaga musim panas di Korea Selatan dengan pemandangan pantai indah seperti Haeundae dan Gwangalli.

Para wisatawan dapat menikmati kebudayaan di Busan seperti mengunjungi Gamcheon Culture Village, sebuah desa dengan berbagai mural dan rumah yang dilukis di kaki pesisir bukit. Desa warna-warni itu memperoleh panggilan sebagai “Machu Picchu di Busan”.

Pecinta makanan laut juga akan dimanjakan dengan hidangan laut di Busan, salah satunya di Jagalchi Market. Wisatawan juga dapat menikmati makanan khas Busan, Ssiat Hotteok, panekuk manis gaya Korea yang diisi dengan biji, gula merah, madu dan kacang.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Geliat Bandara Frans Kaisiepo Biak Usai Penurunan Harga Tiket Pesawat Garuda

Liputan6.com, Biak – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Biak Numfor, Papua, memastikan harga tiket pesawat grup Garuda Indonesia telah turun sebesar 20 persen sesuai dengan kebijakan pemerintah melalui Kementerian Perhubungan.

“Adanya penurunan harga tiket pesawat diharapkan bisa meningkatkan jumlah penumpang pesawat dari dan ke bandara Frans Kaisiepo Biak,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan Biak Fransisco Olla di Biak, menanggapi kebijakan penurunan harga tiket pesawat, Senin (18/2/2019), dilansir Antara.

Ia mengakui kenaikan tiket pesawat udara diberlakukan maskapai karena berbagai alasan, salah satunya kenaikan harga avtur pesawat.

Kadishub Fransisco Olla mengatakan dengan dilakukan penyesuaian harga avtur maka berdampak juga dengan penurunan tiket penumpang pesawat.

“Jajaran Dishub Biak menyambut positif penurunan harga tiket pesawat udara di bandara Frans Kaisiepo, ya kami berharap dengan penurunan tiket dapat meningkatkan jumlah arus kedatangan dan keberangkatan penumpang,” kata Kadishub Fransisco Olla.

Dia mengharapkan penyesuaian penurunan harga tiket pesawat dapat menstabilkan kembali jadwal penerbangan Garuda Indonesia yang melayani rute Biak-Makassar dan Jakarta serta Biak-Jayapura setiap hari satu kali penerbangan.

“Harapan pemkab dan masyarakat Biak Numfor jadwal penerbangan Garuda ke bandara Frans Kaisiepo Biak bisa kembali normal,” ungkap Kadishub Fransiso Olla.

Hingga Senin, layanan penerbangan udara dari bandara Frans Kaisiepo Biak berjalan lancar dilakukan Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air untuk jalur penerbangan Biak-Jayapura, Biak-Makassar dan Jakarta serta Nam Air dan Garuda untuk rute Biak-Nabire.


Simak video pilihan berikut ini:

Liburan ke Jepang dengan Pesawat dari Negeri Matahari Terbit

Liputan6.com, Jakarta – Jepang menjadi salah satu destinasi wisata favorit masyarakat Indonesia. Setiap musim di negara tersebut memiliki daya tersendiri, tak terkecuali musim dingin.

Tempat yang bisa disambangi ketika musim dingin di Jepang adalah Prefektur Hiroshima. Selain wisata sejarah di Taman Monumen Perdamaian Hiroshima, prefektur ini menawarkan berbagai wisata menarik saat musim dingin, seperti kuil Itsukushima, bermain ski, hingga menyantap tiram.

Anda bisa menggunakan berbagai maskapai penerbangan untuk menuju destinasi favorit tersebut. Salah satu maskapai penerbangan yang bisa digunakan adalah Japan Airlines. Ada tiga kelas yang ditawarkan yaitu, ekonomi, bisnis, hingga premium ekonomi.

“Dalam sehari, ada dua penerbangan ke Bandara Narita (Tokyo), pagi dan malam,” kata Passenger Sales Team Japan Airlines cabang Indonesia Muhammad Agil Saputra, dalam sebuah perbicangan pada 10 Februari 2019.

Kursi di kelas bisnis Japan Airlines. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Liputan6.com menjajal kelas bisnis yang ditawarkan Japan Airlines. Berangkat dari Bandara International Soekarno Hatta pada Minggu 10 Februari 2019 pukul 21.25 WIB. Waktu tempuh hingga ke Bandara Narita, Tokyo mencapai 7 jam 30 menit.

Dengan kursi yang bisa dijadikan tempat tidur dan layar televisi yang lebar, perjalanan tidak akan terasa melelahkan. Selama perjalanan, penumpang kelas ini mendapat mendapat makanan ringan tidak lama selepas pesawat lepas landas.

Makanan selanjutnya berupa sarapan, yang diberikan dua jam sebelum pesawat mendarat. Menu sarapan, ada dua pilihan yaitu ala Jepang dan Amerika.

Makanan sarapan di kelas bisnis Japan Airlines dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Narita, Tokyo. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sebelumnya, bagi penumpang kelas bisnis, bisa menikmati makanan di lounge JAL yang tempatnya bergabung dengan lounge maskapai Garuda Indonesia.

Setibanya di Bandara Narita pada 11 Februari 2019 pagi, disambut hujan salju. Pohon, kendaraan roda empat, hingga tanaman mulai ditutupi salju.

Menurut tur guide Fumio Ito, hujan salju turun sejak pagi pukul 06.00. Warga Tokyo sendiri, kata dia, senang adanya salju ini, terutama anak anak. Namun, turunnya salju bisa merepotkan bila tak kunjung.

“Kalau tebal hingga 5 cm tentu mengganggu,” kata pria yang 10 tahun lebih tinggal di Indonesia ini.

Perjalanan ke Hiroshima akhirnya dilanjutkan melalui Bandara Haneda dengan bus dari bandara. 

Sakura Lounge Japan Airlines di Bandara Narita (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Sementara itu, untuk penerbangan kembali ke Jakarta pada 15 Februari 2019, Liputan6.com menjajal kelas ekonomi Japan Airlines. Jarak antara kursi penumpang luas sehingga kaki nyaman menempuh jarak.

Sebelum terbang dari Bandara Narita, calon penumpang Japan Airlines bisa menyambangi Sakura Lounge.

Ada dua lantai, lantai pertama menyediakan minuman hingga tempat pijat. Sedangkan lantai atasnya khusus untuk makanan dan minuman. Calon penumpang bisa melihat pesawat JAL yang tengah berhenti.

2 dari 3 halaman

Japan Airlines Sky Museum

Sementara itu, di kawasan area Bandara Haneda, terdapat Japan Airlines (JAL) Sky Museum. Di dalam museum, terdapat informasi mengenai sejarah maskapai penerbangan yang berdiri sejak 1951 tersebut.

Selain itu dipamerkan pula benda benda yang pernah digunakan pesawat selama mengudara.

Di museum ini, ada sejumlah manekin yang mengenakan seragam pramugari JAL mulai dari awal 1970-an hingga saat ini. Selain itu, ada berbagai miniatur pesawat yang pernah digunakan maskapai tersebut dan replika kokpit pesawat.

Pengunjung bisa mencoba untuk duduk di kursi pilot, bahkan mencoba seragam pramugari dan pilot.

Pengunjung JAL Sky Museum bisa mencoba seragam pramugari dan pilot. (Liputan6.com/ Mevi Linawati)

Ada pula berbagai tampilan interaktif mirip permainan di mana nantinya pengunjung bisa menjadi pekerja bandara yang mengarahkan kedatangan pesawat, pramugari, hingga pilot.

Selain itu, di museum ini, pengunjung bisa ke hanggar perawatan pesawat yang dipandu petugas, tentunya dengan helm keselamatan.

Di tempat ini, pesawat Japan Airlines dijadwalkan setiap 2 tahun sekali menjalani maintenance selama 10 hari. Pesawat yang tengah menjalani perawatan di antaranya adalah Boeing 767 dan Boeing 787.

Di hanggar berikutnya, selain ruang perawatan, pengunjung bisa melihat secara langsung pesawat dari sejumlah daerah mendarat di Bandara Haneda. Bandara ini sendiri mempunyai empat runway. Traffic di Bandara Haneda diklaim menjadi empat tersibuk di dunia pada 2017.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Mengenal Bukit Tuamese, Raja Ampatnya NTT

Liputan6.com, NTT Jika menyaksikan keindahan Raja Ampat masih sebatas impian karena harga tiket pesawat yang mahal, jangan sedih, pasalnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) ada panorama keindahan alam yang bisa disandingkan dengan Raja Ampat. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Bukit Tuamese.

Meski belum banyak yang mengenalnya, bukit yang berada di Desa Tuamese, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) itu memiliki panorama yang tak kalah dengan Wayag di Raja Ampat atau pulau Padar di Labuan Bajo.

Di puncak bukit itu siapapun bisa melihat hamparan tambak yang berubah layaknya danau. Di sisi sebelah Barat, birunya laut membentang sejauh mata memandang, dipadu dengan hijaunya vegetasi dari pohon lontar di pesisir pantai.

Hanya cukup mendaki 200 meter ke atas bukit, pengunjung bisa mencapai Bukit Tuamese. Namun saat mendaki harus berhati-hati karena jalur tracking yang curam dan berpasir. Di lokasi itu belum tersedia infrastruktur tangga seperti misalnya di Pulau Padar. 

Keindahan bukit yang dalam beberapa waktu terakhir populer di media sosial ini, makin naik pamornya saat dijadikan lokasi film garapan sutradara dan aktor Ari Sihasale. Bintang muda Pevita Pearce menjadi pemain utama, ibarat influencer yang makin menjadikan Bukit Tuamese membuat siapapun penasaran.

Lokasi Tuamese sendiri dekat dengan Kota Atambua yang merupakan pusat kota dari Kabupaten Belu. Hanya dibutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Atambua. Jarak Tuamese juga relatif dekat dari negara tetangga Timor Leste.

2 dari 2 halaman

Cara Menuju ke Bukit Tuamese

Untuk menuju lokasi Tuamese, pengunjung bisa menyewa kendaraan roda empat dengan pengemudi asal Atambua, opsi itu menjadi pilihan yang tepat. Sebab dibutuhkan pengemudi berpengalaman dan paham medan agar waktu tak terbuang sia-sia lantaran salah jalan. Terlebih lokasi tersebut juga belum dikenali oleh aplikasi Google Maps.

Jalur yang dilalui juga terbilang mulus meski masih ditemui beberapa jalan bebatuan. Pengunjung juga akan melewati bendungan Rotiklot yang baru rampung pengerjaannya. Sesampainya didaerah Ponu SP 1, desa terakhir sebelum sampai tujuan, lalu belok ke kanan menuju Bukit Tuamese.

Ada baiknya bertanya dan menyapa warga setempat dimana letak Bukit Tuamese. Jangan kaget dengan jawabannya sebab warga setempat banyak yang menamainya Raja Ampat.

Sepanjang perjalanan dari Atambua, pengunjung harus berhati-hati dan waspada karena masih banyak hewan peliharaan warga seperti babi, anjing, dan sapi yang bebas berkeliaran melintasi jalanan.

Waktu terbaik untuk ke Tuamese bisa dilakukan kapan saja sepanjang hari. Terlebih saat matahari terbenam. Sebelum mendaki, wisatawan biasanya dipandu dengan pemandu-pemandu cilik atau warga setempat. Mereka tidak meminta uang melainkan hanya menemani hingga ke atas. Karena jauh sebelum tempat itu dikenal banyak orang, di sanalah arena bermain anak-anak pedesaan itu.

Untuk menuju TTU, bisa menggunakan jalur melalui Atambua. Terdapat 2 penerbangan dari Kupang menuju Bandar Udara A. A. Bere Tallo. Penerbangan ke Atambua dilayani menggunakan pesawat ATR dari maskapai Wings Air pada pagi dan siang hari. Memang sampai saat ini belum ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Atambua. Jalur lain yang dapat digunakan sebagai alternatif yakni melalui jalan darat dari Kupang menuju Atambua dengan waktu perjalanan mencapai 7 jam.

Meski harus menempuh perjalanan yang tak sebentar, yakinlah bahwa semuanya akan terbayar dengan keindahan yang menyambut di Bukit Tuamese. Siapapun tak akan menyesal mengenalnya.


Simak juga video pilihan berikut ini: