Intip Kinerja Emiten Maskapai pada 2018

Liputan6.com, Jakarta – Emiten maskapai sudah merilis laporan keuangan 2018. Hasilnya pun bervariasi.

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mampu membukukan keuntungan USD 809.846 pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya rugi USD 216,58 juta.

Pencapaian laba tersebut didukung pendapatan naik tipis 4,68 persen dari USD 4,17 miliar pada 2017 menjadi USD 4,37 miliar pada 2018. Demikian mengutip dari laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (2/4/2019).

Pendapatan itu didukung kenaikan penerbangan berjadwal sebesar empat persen menjadi USD 3,58 miliar pada 2018. Sedangkan penerbangan tidak berjadwal turun menjadi USD 266,86 juta pada 2018 dari 2017 sebesar USD 301,49 juta. Pendapatan lainnya naik menjadi USD 567,93 juta pada 2018.

PT Garuda Indonesia Tbk alami kenaikan beban operasional penerbangan sebesar 10,40 persen menjadi USD 2,73 miliar pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya USD 2,47 miliar.

Beban pemeliharaan dan perbaikan naik dari USD 429,36 juta pada 2017 menjadi USD 529,36 juta. Demikian juga beban bandara naik dari USD 382,36 juta pada 2017 menjadi USD 404,71 juta.

Perseroan mencatatkan penurunan beban administrasi dan umum menjadi USD 221,34 juta pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya USD 265,80 juta.

PT Garuda Indonesia Tbk juga mencatatkan keuntungan kurs menjadi USD 28,03 juta pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya USD 14,77 juta. Pendapatan lain-lain juga melonjak 1.308 persen dari USD 19,79 juta pada 2017 menjadi USD 278,81 juta pada 2018.

Total liabilitas naik menjadi USD 3,46 miliar pada 31 Desember 2018 dari periode 31 Desember 2017 sebesar USD 2,82 miliar. Ekuitas perseroan naik menjadi USD 910,18 juta pada 31 Desember 2018. Aset perseroan meningkat menjadi USD 4,37 miliar pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya USD 3,76 miliar. Perseroan kantongi kas sebesar USD 251,18 juta pada 31 Desember 2018.

Saham PT Garuda Indonesia Tbk naik 0,41 persen ke posisi Rp 494 per saham pada perdagangan Selasa pekan ini. Total frekuensi perdagangan 2.942 kali dengan nilai transaksi Rp 22,7 miliar.

Luhut ke Maskapai: Avtur Turun, Masa Lo Naikkan Harga Tiket?

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan angka inflasi 0,11% pada Maret 2019. Harga tiket pesawat atau angkutan udara menjadi salah satu kontributor inflasi tersebut.

Di beberapa daerah, harga tiket menyumbang inflasi cukup tinggi. Merespons data BPS itu, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan minta maskapai memikirkan sejumlah biaya operasional pesawat sudah turun, misalnya avtur. Tentu harapannya maskapai bisa mulai menurunkan harga tiket.

“Mereka kita sudah beritahu ‘hei ini sudah turun, turun, avtur turun, masak lo tetap mau naikkin (harga tiket), yang benar saja dong. (Maskapai) jangan menang sendiri. Lihat keseimbangan antara supply dan demand,” kata Luhut di kantornya, Jakarta, Senin (1/4/2019).


Luhut mengatakan akan mengecek ke maskapai mau menurunkan harga tiket pesawat atau tidak.

“Ya kita tunggu lagi, kan kita masih beritahu ke airlines. Saya belum tahu berita terakhir, saya nggak bisa komentar. Nanti janjinya pada April ini ya, nanti saya tanya airline dan menterinya,” paparnya.

Terkait janji April yang dia maksud, Luhut tidak menjelaskan secara lebih rinci. Saat ditanya apakah terkait penurunan harga tiket, Luhut tak membantah.

“Ya saya nggak tahu, mereka janjinya begitu (turunkan harga tiket di April),” tambahnya.

Sejumlah wilayah mencatatkan angka inflasi angkutan udara yang sangat tinggi. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan ada sejumlah wilayah yang mencatatkan inflasi tinggi akibat angkutan udara atau tiket pesawat yang masih mahal.

Dia menyebutkan misalnya Kota Tual, Maluku Utara mencatatkan inflasi angkutan udara 32,14% secara bulanan (month to month/mtm). Kemudian kota Bungo, Jambi inflasinya mencapai 27,38%. Selanjutnya Kota Ambon 20,83%, Kota Malang 14,13% dan Manokwari 13,2%. (dna/dna)

Menko Luhut Tunggu Maskapai Tepati Janji Pangkas Harga Tiket Pesawat

Sebelumnya, kenaikan tarif angkutan udara seperti tiket pesawat yang terjadi pada kuartal I 2019 menyumbang andil tumbuhnya inflasi pada Maret 2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komponen angkutan udara memberi andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen.

Kenaikan tarif ini bahkan menjadi salah satu penyebab peningkatan inflasi di Ambon, yang menjadi kota dengan inflasi paling tinggi pada Maret 2019, sebesar 0,86 persen.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengharapkan, pihak maskapai untuk mempertimbangkan kondisi pasar. Pemerintah, kata dia, pun telah mengimbau pihak maskapai untuk menurunkan harga tiket. Hal tersebut berdasarkan pada kondisi pasar yang didukung oleh penurunan harga avtur, harga tiket pesawat sudah selayaknya diturunkan.

“Kita tidak mendikte perusahaan-perusahaan itu. Jangan salah. Mereka kita sudah beri tahu hey ini sudah turun turun, avtur turun,” kata dia, saat ditemui, di Kantornya, Jakarta, Senin 1 April 2019.

Luhut menegaskan, pemerintah tentu mempertimbangkan banyak hal ketika meminta agar maskapai mengevaluasi tarif tiketnya. Hal ini agar jangan sampai kebijakan di satu sektor berdampak negatif bagi sektor yang lain.

“Masa lu (maskapai) tetap mau naikin, yang benar aja dong. Jangan menang sendiri. Lihat keseimbangan antara supply dan demand. Itu bagus,” tegasnya.

Sebagai informasi, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menilai, ada pola yang tidak biasa dari kenaikan tarif angkutan udara yang masih memberikan andil terhadap laju inflasi nasional.

“Ini tidak biasa, karena berdasarkan pola tahun lalu, tarif angkutan udara, andilnya hanya pada bulan-bulan tertentu seperti puasa, Lebaran, natal dan tahun baru,” kata Suhariyanto di Jakarta, Senin.

Suhariyanto mengatakan bahwa sangat wajar apabila tarif pesawat udara mengalami kenaikan pada momen tertentu seperti Lebaran, libur anak sekolah, atau tahun baru karena tingginya permintaan.

Namun, tingginya tarif angkutan udara yang terjadi sejak November 2018 hingga Maret 2019 merupakan kejadian yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Oleh karena itu, dia mengharapkan kebijakan Menteri Perhubungan yang telah menurunkan batas bawah tarif bisa menekan tingginya harga tiket pesawat. “Kemarin ada kebijakan penurunan batas bawah, kita lihat dampaknya bulan depan,” ujarnya.

Sebelumnya, BPS mencatat tarif angkutan udara memberikan andil inflasi sejak November 2018 sebesar 0,05 persen dan Desember 2018 sebesar 0,19 persen. Sejak itu, tarif transportasi udara ini tidak mengalami penurunan dan menyumbang andil inflasi pada Januari 2019 sebesar 0,02 persen serta Februari 2019 dan Maret 2019 masing-masing sebesar 0,03 persen.

Dalam periode ini, tarif angkutan udara mengalami kenaikan antara lain di Tual sebesar 32,14 persen, Bungu 27,38 persen, Ambon 20,83 persen, Malang 14,13 persen dan Manokrawi 13,12 persen.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kementerian Perhubungan tengah menggodok aturan baru terkait tarif pesawat. Sebelumnya, Pemerinta‎h menyoroti masih mahalnya harga tiket pesawat. Padahal saat ini Pertamina sudah menurunkan harga avtur yang diharapkan akan diikuti maskapai untuk me…

Ini Alasan Maskapai Korean Air Tak Lagi Menyajikan Kacang bagi Penumpang

Liputan6.com, Seoul – Apabila menumpang pesawat selain maskapai berbiaya murah, biasanya kita akan mendapatkan makanan dan minuman gratis yang dapat dinikmati selama penerbangan. Jika Anda penyuka kacang-kacangan, maka jangan harap akan mendapatkannya dari maskapai Korean Air.

Pasalnya, maskapai Negeri Ginseng itu menyatakan pada Minggu, 31 Maret 2019 tidak akan menyajikan kacang sebagai makanan ringan bagi pelanggan, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia pada Minggu (31/3/2019).

Hal itu berkaitan dengan insiden baru-baru ini, saat dua remaja bersaudara tidak dapat menaiki pesawat karena alergi kacang. Tidak dijelaskan kewarganegaraan dari kedua remaja tersebut.

Insiden itu berdampak serius bagi maskapai Korean Air, khususnya karena orangtua dua remaja tersebut melaporkan kepada media pada awal bulan ini. Mereka mengatakan bahwa putra-putri mereka tidak bisa terbang setelah Korean Air tidak dapat mengakomodasi kebutuhan anaknya yang alergi terhadap kacang.

Saat itu, kedua remaja bepergian dari Atlanta ke Filipina dengan menaiki Korean Air. Sayangnya, mereka kemudian terdampar di Seoul pasca-maskapai Korea menolak permintaan untuk berhenti melayani kacang di sekitar tempat duduk mereka.

Salah satu dari kakak-beradik, berjenis kelamin laki-laki, disebut memiliki alergi kacang yang sangat parah, sebagaimana diwartakan oleh media USA Today dan Good Morning America.

Simak pula video pilihan berikut:

Resep membuat jajangmyoen yang simple bagi para pecinta makanan khas korea yang satu ini

HEADLINE: Pemerintah Ultimatum Maskapai Turunkan Tarif Tiket Pesawat, Bagaimana Faktanya?

Desakan pemerintah kepada maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia untuk menurunkan harga tiket pesawat dinilai tak tepat sasaran. Ini dikatakan Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi.

Kata dia, pemerintah justru seharusnya mengubah regulasi tiket pesawat terlebih dahulu agar ada ketetapan yang jelas terkait persoalan tarif, terutama tarif batas atas.

“Itu ultimatum yang aneh dan salah sasaran. Kenapa di ultimatum karena tidak ada pelanggaran regulasi? Kalau memang pemerintah menghendaki tarif tiket pesawat turun, ya diubah regulasinya dong,” ujar dia kepada Liputan6.com.

Dia menjelaskan, yang paling penting ialah regulasi atau peraturan yang memayungi maskapai agar tertib mematok harga tiket pesawat kepada masyarakat.

“Ultimatum itu menunjukkan pemerintah tak mampu mengatasi masalah yang sebenarnya. Kalau memang pemerintah ingin melindungi masyarakat agar tarif pesawat turun, maka ubah dulu regulasinya, khususnya terkait ketentuan batas atas,” pungkasnya.

Sementara anggota Ombudsman bidang transportasi Alvin Lie mengatakan, perkara tarif ini sebenarnya telah diatur lama dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Sampai hari ini, seluruh maskapai juga telah patuh terhadap Permenhub tersebut. “Jadi kalau dari segi pengaturan sebetulnya tidak ada pelanggaran,” ujar dia kepada Liputan6.com.

Dia pun mempertanyakan langkah pemerintah yang mempermasalahkan penurunan tarif kepada maskapai nasional.

“Tidak ada masalah, kenapa sekarang dipermasalahkan? Kalau memang ternyata pemerintah punya data yang menunjukan biaya operasional itu turun, ya silakan dibuka bahwa biaya operasional turun signifikan. Maka itu tarif batas atas batas bawah direvisi turun,” jelas dia.

Sebaliknya,dia menilai jika maskapai bisa menunjukan bukti bahwa sebetulnya biaya operasional naik, pemerintah juga seharusnya konsisten untuk berani merevisi permenhub dengan menaikkan batas atas dan bawah tiket pesawat.

Adapun penerapan tarif batas bawah pesawat dijelaskan karena beberapa faktor. Pertama, agar tidak terjadi predatory pricing atau saling bunuh harga antar pihak maskapai.

Kedua, maskapai tersebut bisa mendapat laba yang cukup agar dapat melaksanakan kewajiban tentang keselamatan penerbangan.

Namun demikian, ia mengutarakan, pemerintah juga seharusnya mempelajari laporan keuangan maskapai pada 2018. “3 besar di Indonesia itu Lion Group, Garuda Group dan Air Asia, itu tidak ada yang tidak rugi. Semuanya rugi,” sebutnya.

“Kalau semuanya sudah rugi lalu disuruh menurunkan harga, kalau nanti itu berdampak terhadap keselamatan penerbangan bagaimana? Kan semuanya itu saling terkait,” pungkas dia.

Pemerintah Minta Harga Tiket Pesawat Turun, Ini Respons Maskapai

Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah meminta maskapai penerbangan di dalam negeri untuk segera menurunkan harga tiket pesawat. Hal ini setelah penurunan harga avtur yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) selaku penyedia bahan bakar pesawat tersebut.

Lantas bagaimana maskapai dalam negeri menyikapi ultimatum dari pemerintah ini?

Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, terkait dengan ultimatum tersebut, pihaknya akan melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) selaku regulator.

‎”Kalau tentang tarif tiket, ‎Lion Air Group akan menjalankan atau melaksanakan aturan dan kebijakan dari regulator, dalam hal ini Kementerian Perhubungan untuk keuntungan bersama serta kepentingan semua pihak,” ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Sementara itu, Ketua Penerbangan Berjadwal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Bayu Susanto mengatakan, untuk urusan harga tiket pesawat sebenarnya telah diatur oleh Kemenhub melalui batas atas dan batas bawah.‎

“Sejak 2016 sampai sekarang tarif tiket pesawat batas atas dan bawah ya tidak berubah alias tetap saja. Selama ini tiket yang dijual semua maskapai dalam kisaran koridor aturan tersebut, yang dibagi ke dalam sejumlah subclass sehingga ada yang murah (diskon) dan mahal,” jelas dia.

Selain itu, lanjut dia, untuk penentuan harga tiket pesawat oleh maskapai dilakukan berdasarkan banyaknya permintaan. Jika permintaan sedang rendah, maka tiket yang dijual pun akan lebih murah.

“Kalau permintaan naik, saat peak season atau weekend, ya makin banyak subclass harga kisaran atas yang dijual dan dibeli oleh penumpang. Sebaliknya saat demand rendah ya akan banyak tiket yang dijual di kisaran harga bawah. Ya begitu hukum ekonominya,” kata dia.

Untuk segmen full service, kata Bayu, selama ini juga tidak pernah ada protes dari konsumennya. Sebab mayoritas konsumennya merupakan korporasi atau instansi pemerintah.

‎”Untuk segmen pasar penerbangan full service sebag besar adalah pelanggan korporasi, swasta, BUMN, instansi pemerintah. Dan setahu saya belum ada keluhan dari segmen korporasi tersebut,” tandas dia.

Menko Luhut Sebut Harga Tiket Pesawat Turun Tak Bakal Rugikan Maskapai

Sebelumnya, Pemerintah mendesak maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia untuk menurunkan harga tiket pesawat hingga dan paling lambat per awal April 2019 ini.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan ultimatum pemerintah tidak tepat sasaran.

Kata dia, pemerintah justru sebaiknya mengubah regulasi tiket pesawat terlebih dahulu agar ada ketetapan yang jelas terkait persoalan tarif, terutama tarif batas atas.

“Itu ultimatum yang aneh dan salah sasaran. Kenapa di ultimatum karena tidak ada pelanggaran regulasi? Kalau memang pemerintah menghendaki tarif tiket pesawat turun, ya diubah regulasinya dong,” tuturnya kepada Liputan6.com, Kamis (28/3/2019).

Dia menjelaskan, yang paling penting ialah regulasi atau peraturan yang memayungi maskapai agar tertib mematok harga tiket pesawat kepada masyarakat.

“Ultimatum itu menunjukkan pemerintah tak mampu mengatasi masalah yang sebenarnya. Kalau memang pemerintah ingin melindungi masyarakat agar tarif pesawat turun, maka ubah dulu regulasinya, khususnya terkait ketentuan batas atas, berani tidak pemerintah melakukan itu? jika tidak berani dan tidak dilakukan, maka ultimatum itu hanya demi populis belakan,” pungkasnya

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Presiden Jokowi sahkan terminal baru di Bandara Raden Inten II Lampung. Apa saja keistimewaan bandara ini? Simak video berikut.

Pemerintah Ultimatum Maskapai Segera Turunkan Harga Tiket Pesawat

Liputan6.com, Jakarta Pemerinta‎h menyoroti masih mahalnya harga tiket pesawat. Padahal saat ini PT Pertamina (Persero) sudah menurunkan harga avtur yang diharapkan akan diikuti maskapai untuk menurunkan tarif tiket pesawatnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengaku menyayangkan maskapai penerbangan yang tak kunjung menurunkan harga tiket pesawat. 

“Masalah tiket menimbulkan banyak persepsi di masyarakat dan dapat menimbulkan kegaduhan persepsi,” kata Luhut seperti dikutip Rabu (27/3/2019).

Pernyataan Luhut ini terungkap dari notulen rapat antara Luhut dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, pada Senin 25 Maret 2019. 

Luhut mengaku jika telah memerintahkan, Garuda Indonesia sebagai pemimpin maskapai penerbangan nasional untuk segera menurunkan harga tiket pesawat semua rute secepat mungkin. Bahkan tenggat waktu yang diberikan per awal April 2019.

“Garuda Indonesia sebagai leading nasional airlines harus segera menurunkan harga tiket dan itu merupakan perintah,” tegas dia.

Sementara Menhub Budi Karya mengakui, harga tiket pesawat masih mahal. Semua pemerintah daerah pun telah meminta penurunan harga tiket pesawat. “Semua daerah telah meminta untuk penurunan harga tiket,” tutur dia.

Penurunan tarif tiket pesawat tak kunjung terjadi, meski harga avtur sudah turun dan beberapa maskapai telah mendapat keistimewaan untuk pembelian avtur, dengan pola pembayaran khusus.

Budi pun merasa ada kebablasan kebijakan yang dilakukan operator maskapai penerbangan, sebab tidak mengindahkan permintaan untuk menurunkan harga tiket pesawat, sehingga menimbulkan masalah yang tidak ‎pernah selesai.

Menurut Budi, harga tiket pesawat yang masih mahal‎, berdampak negatif pada industri pariwisata, serta sektor terkait didalamnya.

“Khususnya Garuda Indonesia yang merupakan airlines plat merah yang merupakan leading nasional airlines,” tutur dia.

Ini Daftar 30 Maskapai Terbersih di Dunia, Ada Garuda Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Menurut sebuah survei baru, All Nippon Airways (ANA) dinobatkan sebagai maskapai terbersih di dunia. Perusahaan penerbangan di Jepang ini berada di posisi teratas di “Skytrax World Airline Awards 2018”, yang didasarkan pada peringkat penumpang.

Wisatawan yang gemar bepergian lintas negara atau menggunakan pesawat diminta untuk menilai maskapai berdasarkan kebersihan area tempat duduk, meja, karpet, panel kabin, dan toilet. Demikian seperti diwartakan oleh The Independent, Rabu (20/3/2019).

Hasil riset yang dilakukan oleh Skytrax, maskapai-maskapai Asia mendominasi lima besar di platform mereka. Setelah ANA, EVA Air dari Taiwan menduduki urutan kedua, lalu Asiana Airlines dari Korea Selatan, Singapore Airlines, dan Japan Airlines.

Sementara itu, survey Skytrax menunjukkan tidak ada satu pun maskapai penerbangan asal Inggris yang masuk dalam daftar 30 besar penghargaan tersebut pada tahun ini. Demikian pula Amerika Serikat.

Swiss Airline adalah maskapai penerbangan Eropa berperingkat tertinggi dari segi kebersihan. Ini berada di posisi kedelapan. Sedangkan Lufthansa dan Austrian Airlines masing-masing menempati posisi 10 dan 13.

Maskapai Tanah Air, Garuda Indonesia, berada di peringkat ke-16.

Penghargaan ini juga membagi maskapai berdasarkan lokasi geografis, dengan mendaftarkan maskapai terbersih di Afrika, Australia/Pasifik, China, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Timur Tengah.

South African Airways meraih posisi teratas di Afrika, Air New Zealand menjadi nomor satu di Australia/Pasifik, Hainan Airlines dinilai paling bersih di China, Air Canada menang di Amerika Utara, Azul Airlines di Amerika Selatan, dan Qatar Airways di Timur Tengah.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Profesi pilot kini tak hanya diduduki oleh kaum pria. Maskapai Cathay Pasific punya salah satu pilot wanita yang bikin gagal fokus.

AirAsia Traveloka ‘Cerai’ karena Tekanan Maskapai? Menhub: Nggak Mungkin!

Jakarta – Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, ‘perceraian’ Traveloka dengan AirAsia bukan karena tekanan maskapai penerbangan lain. Pasalnya, hal tersebut menyangkut dengan kredibilitas Traveloka sebagai online travel agent (OTA).

“Kalau menurut saya ini kan business to business, nggak mungkin satu lembaga seperti Traveloka itu mau ditekan oleh pihak lain, itu kan kredibilitas, dia punya bisnis yang lain. Menurut saya demikian,” kata Budi Karya di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Sebelumnya salah satu media travel global, Skift, yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS) menyoroti kasus OTA atau agen perjalanan online yang tidak menjual tiket pesawat Air Asia. Belakangan isu ini ramai diperbincangkan.

Seperti dikutip Jumat (15/3/2019), media asing ini menduga ‘perceraian’ AirAsia Indonesia dengan Traveloka diduga karena ada tekanan dari maskapai besar tanah air. Bahkan, pencabutan penjualan tiket juga dilakukan Tiket.com.

Dalam artikel itu disebutkan, maskapai yang diduga melakukan intervensi penjualan tiket pesat AirAsia adalah Garuda Indonesia dan Lion Air.

Sumber internal media travel yang bermarkas di New York ini menyebutkan bahwa penyebab hilangnya penjualan tiket di agen perjalanan ini diduga karena tekanan Garuda Indonesia dan Lion Air. Diduga kedua maskapai menaikkan harga tiket karena harga avtur naik, tapi AirAsia tidak ikut.

Budi Karya kembali menegaskan masalah tersebut bukan karena adanya tekanan dari maskapai penerbangan.

“Kalau saya melihat bisnis to bisnis nggak mungkin Traveloka melakukan itu, dia akan jatuh kredibilitasnya,” ujar Menhub. (hek/hns)