Korban Serangan Teror di Masjid New Zealand Mulai Dimakamkan

Christchurch – Pemakaman pertama para korban penembakan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 50 orang, sedang berlangsung.

Para relawan ikut terlibat membantu proses pemakaman dan memberikan dukungan moral kepada keluarga korban.

Dalam tradisi Islam menyerukan agar jenazah sesegera mungkin dimakamkan, tetapi proses pemakaman korban tembakan tertunda karena proses identifikasi.

Warga Australia, Brenton Tarrant, 28 tahun, yang menyebut dirinya penganut ideologi supremasi kulit putih, didakwa sebagai pelaku pembunuhan.

Pejabat kota Christchurch mengeluarkan panduan ketat kepada media massa menjelang proses pemakaman dan meminta agar keluarga korban dibiarkan sendirian.

“Jenazah akan dibawa ke lokasi, dibawa ke tenda pribadi yang telah dijadikan sebagai area keluarga,” kata juru bicara dewan kota.

“Setelah disalatkan dalam waktu yang pendek, keluarga dan kawan-kawannya akan membawa jenazah ke liang, tempat jenazah akan diletakkan,” tambahnya.

Apa perkembangan terbaru?

Kepolisian Selandia Baru pada Rabu menyebutkan identitas enam korban penembakan di masjid Al Noor.

Pimpinan kepolisian setempat, Komisaris Mike Bush mengatakan 21 mayat telah selesai diidentifikasi dan sudah diserahkan kepada keluarga. Pemeriksaan post-mortem terhadap 50 jenazah sudah selesai, kata polisi.

Tetapi beberapa keluarga menyatakan frustrasi dengan proses identifikasi yang beberapa kali tertunda. Mohamed Safi, 23 tahun, yang ayahnya Matiullah Safi meninggal akibat serangan di Masjid Al Noor, mengeluhkan kurangnya informasi.

Dia mengatakan kepada kantor berita AFP: “Mereka hanya mengatakan bahwa mereka sedang melakukan prosedur mereka … Mengapa saya tidak tahu apa yang dilakukan mereka dalam mengidentifikasi jenazah?”

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, polisi mengatakan: “[Kami] sangat menyadari frustrasi oleh keluarga dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses identifikasi setelah serangan teror Jumat.

“Kami melakukan semua yang kami bisa lakukan, dan secepat mungkin kami akan menyerahkan jenazah korban kepada orang-orang yang mencintainya.”

Layanan imigrasi Selandia Baru mengatakan terus dan akan memproses visa bagi keluarga para korban yang ingin datang dari luar negeri untuk menghadiri pemakaman.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sebarkan Video Teror Masjid, Pengusaha New Zealand Terancam 14 Tahun Bui

Wellington – Seorang pengusaha di Christchurch, New Zealand (Selandia Baru), ditahan dan diadili karena membagikan rekaman aksi teror mematikan di dua masjid. Pengusaha itu terancam hukuman 14 tahun penjara atas perbuatannya tersebut.

Seperti dilansir media lokal New Zealand Herald, Rabu (20/3/2019), pengusaha bernama Philip Neville Arps (44) yang berkantor di Christchurch itu, dihadirkan dalam persidangan di Pengadilan Distrik Christchurch pada Rabu (20/3) waktu setempat. Dia dijerat dua dakwaan menyebarkan video aksi penembakan di Masjid Al Noor.

Pengajuan bebas bersyarat dengan membayar jaminan yang diajukan Arps ditolak pengadilan. Pengadilan menyatakan Arps akan tetap ditahan hingga persidangan berikutnya pada 15 April mendatang.


Arps yang mengelola bisnis insulasi ini, didakwa menyebarkan video live streaming yang menunjukkan ‘banyak korban pembunuhan di Masjid Deans Ave (Masjid Al Noor)’ di kota Christchurch. Tindak pidana ini dilakukan Arps pada 16 Maret lalu, atau sehari setelah teror di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood menewaskan 50 orang.

Diketahui bahwa Badan Sensor New Zealand telah menetapkan rating ‘tidak pantas’ untuk rekaman live streaming yang disiarkan pelaku, Brenton Tarrant (28), saat menembaki para jemaah kedua masjid secara membabi buta pada Jumat (15/3) lalu.

Rating tersebut berarti rekaman video itu dilarang dan siapa saja yang kedapatan menyebarkan video itu terancam hukuman denda hingga NZ$ 10 ribu (Rp 95,7 juta) atau hukuman penjara maksimum 14 tahun penjara.

Saat dihadirkan ke pengadilan, Arps tampak diborgol kedua tangannya. Diketahui bahwa sebelumnya perusahaan yang dipimpin Arps pernah menuai kritikan tajam karena memakai lambang Nazi sebagai logonya. Lambang yang sama dipakai pelaku penembakan dalam manifestonya.

Sementara itu, laporan lain menyebut satu pegawai di sebuah perusahaan di New Zealand dipecat setelah kedapatan menonton rekaman live streaming aksi teror di dua masjid New Zealand saat jam kerja. Pegawai yang tidak disebut namanya itu juga membagikan rekaman video itu kepada kolega-koleganya.

New Zealand Herald melaporkan, pegawai yang dipecat itu bekerja untuk Cyber Research, sebuah perusahaan yang memantau penggunaan komputer internal untuk sekitar 50 perusahaan lainnya. Pendiri Cyber Research, Steve Byrne, menyebut para koleganya terkejut dan kecewa saat mengetahui para pekerja mereka menonton video mengerikan itu saat bekerja. Tidak diketahui apakah pegawai yang dipecat ini juga akan diadili atas aksinya membagikan rekaman video teror itu.

(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Muslim di Jerman Dilanda Kecemasan Usai Teror Masjid New Zealand

Berlin – Komunitas muslim di Jerman merasa khawatir akan keselamatan mereka menyusul serangan teroris di dua masjid di kota Christchurch, New Zealand (Selandia Baru).

“Sejak serangan di dua masjid di New Zealand, para anggota komunitas kami menelepon kami untuk mendapatkan informasi mengenai situasi keamanan di Jerman,” ujar Burhan Kesici, Ketua Dewan Islam untuk Republik Federal German.

“Banyak muslim cemas akan situasi dan mereka takut bahwa sesuatu yang mirip dengan serangan di Selandia Baru tersebut mungkin juga terjadi di sini,” imbuhnya dalam sebuah statemen seperti dilansir media Turki, Anadolu Agency, Selasa (19/3/2019).


Sebanyak 50 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam penembakan brutal yang terjadi di dua masjid di kota Christchurch pekan lalu. Pelakunya diidentifikasi sebagai Brenton Tarrant, warga Australia berumur 28 tahun.

Kesici mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir, insiden serangan verbal dan fisik terhadap muslim meningkat signifikan di Jerman. Tak pelak lagi, pembantaian mengerikan di Christchurch telah meningkatkan ketakutan dan kecemasan di kalangan komunitas muslim di negara tersebut.

Kesici pun meminta para politisi untuk mengambil sikap yang jelas terhadap meningkatnya Islamofobia dan rasisme dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

Menurut Anadolu Agency, Kepolisian Jerman mencatat 578 kejahatan kebencian terhadap muslim antara Januari dan September 2018 lalu. Setidaknya 40 muslim terluka dalam serangan-serangan, yang sebagian besar dilakukan oleh para ekstremis sayap kanan.

Jerman yang berpenduduk lebih dari 81 juta jiwa, memiliki populasi muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Hampir 4,7 juta jiwa warga muslim bermukim di Jerman, dengan sekitar 3 juta jiwa di antaranya berasal dari Turki.

(ita/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PM New Zealand Tak Mau Sebut Nama Pelaku Teror Masjid, Alasannya?

Wellington – Perdana Menteri (PM) New Zealand (Selandia Baru), Jacinda Ardern, enggan menyebut nama pelaku teror di dua masjid Christchurch dalam setiap pernyataannya. Apa alasannya?

“Dia (pelaku-red) mendapat banyak hal dari aksi terornya, kecuali satu hal yakni kemasyhuran — itulah mengapa Anda tidak akan pernah mendengar saya menyebut namanya,” tegas PM Ardern dalam pernyataan emosional saat rapat khusus parlemen New Zealand, seperti dilansir AFP, Selasa (19/3/2019).

Dalam pernyataan terbaru ini, PM Ardern mengawalinya dengan salam dalam bahasa Arab ‘Assalamualaikum‘. Sebelumnya saat mengunjungi keluarga korban aksi teror di Christchurch, PM Ardern juga tampil memakai kerudung.
“Saya memohon kepada Anda: Ucapkan nama-nama korban yang kehilangan nyawa, bukannya nama pria yang merenggut nama mereka,” tutur PM Ardern dalam rapat yang digelar di Wellington, empat hari usai teror di dua masjid Christchurch menewaskan 50 orang.

“Dia seorang teroris. Dia seorang kriminal. Dia seorang ekstremis. Tapi saat saya bicara, dia akan tanpa nama,” tegasnya.

Diketahui bahwa pelaku yang diidentifikasi bernama Brenton Tarrant (28) — seorang warga Australia — telah dijerat dengan satu dakwaan pembunuhan oleh pengadilan New Zealand. PM Ardern memastikan kepada parlemen bahwa dakwaan-dakwaan pidana lainnya akan dijeratkan kepada pelaku.

Lebih lanjut, ditegaskan PM Ardern bahwa ‘kekuatan hukum penuh’ akan diberlakukan terhadap pelaku. “Dia (pelaku-red) akan menghadapi kekuatan penuh dari aturan hukum di New Zealand,” tegasnya.

PM Ardern berjanji akan melakukan reformasi aturan kepemilikan senjata api, yang membuat pelaku bisa membeli senjata-senjata api secara legal, termasuk senapan semi-otomatis, yang dipakainya dalam aksi teror di Christchurch pada Jumat (15/3) lalu.

(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tunjukkan Video Teror Masjid New Zealand Saat Kampanye, Erdogan Dikecam

Ankara

Sehari setelah penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang menyebabkan 50 orang meninggal dunia, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mempertontonkan rekaman video aksi itu dalam kampanye untuk memacu dukungan dari kalangan konservatif.

Rekaman video dan juga ringkasan yang disebut berasal dari manifesto tersangka pelaku serangan diputar lewat layar besar di Istanbul pada Sabtu (16/03). Namun aksi Presiden Erdogan itu sontak mendapat kecaman luas.

Kecaman utama muncul dari kubu oposisi di Turki, Partai Rakyat Republik dan pemimpin Partai Kebahagiaan Mutlak, Temel Karamollaoglu.

Kubu oposisi mengatakan Presiden Erdogan menggunakan rekaman video itu untuk menambah angka dukungan menjelang pemilihan daerah sebelum akhir bulan ini.

‘Konflik antara salib dan bulan’

Adapun Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, mengatakan ia telah menghubungi mitra kerjanya dari Turki untuk menyampaikan keprihatinan atas penggunaan rekaman penembakan para jamaah Salat Jumat di dua masjid Christchurch pada Jumat (15/03).

Dalam acara kampanye di hadapan pendukungnya, Erdogan mengatakan tersangka memberikan ancaman kepada Muslim di Turki dan dua kali mengunjungi negara itu.

“Kita tidak ingin menyaksikan konflik antara salib dan bulan lagi,” kata Erdogan ketika merujuk konflik antara pemeluk Kristen dan Islam.

Pada Jumat (15/03), tak lama setelah penembakan di dua masjid Selandia Baru, presiden Erdogan mengklaim bahwa tersangka telah “menjadikan negara kita, bangsa kita dan saya sendiri sebagai sasaran” dan memperingatkan kepada negara-negara lain, khususnya Barat, untuk mengatasi peningkatan sentimen Islamofobia untuk mencegah serangan serupa.

“Jika tidak diambil langkah-langkah segera, berita-berita tentang bencana lain akan muncul setelah peristiwa ini,” tegasnya.

Selain 50 orang yang meninggal dunia, penembakan di Masjid Al Noor dan masjid di Linwood melukai 50 lainnya, termasuk warga negara Indonesia.

Polisi telah menetapkan pria Australia atas nama Brenton Tarrant, 28, sebagai tersangka. Ia menyiarkan aksi penembakan tersebut melalui Facebook Live.

Ia dihadirkan di persidangan pada Sabtu (16/3) dan dikembalikan ke tahanan tanpa pembelaan. Sidang selanjutnya dijadwalkan pada 5 April mendatang.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kesaksian Mahasiswa Indonesia Usai Serangan di Masjid New Zealand

Christchurch

Setelah serangan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, warga setempat menyampaikan simpati dan menyesalkan tindakan kekerasan tersebut, seperti dikisahkan seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di salah-satu perguruan tinggi di kota itu.

Di jalanan, masyarakat yang tidak saling mengenal saling menyampaikan simpati. Mereka juga berulang kali menyesalkan tragedi tersebut, kata Ibnu Sitompul, mahasiswa asal Indonesia yang tinggal di Kota Christchurch.

“Tetangga kanan-kiri saya datang ke rumah, dan memberi support (dukungan),” ungkap Ibnu Sitompul kepada Arin Swandari untuk BBC News Indonesia, melalui sambungan telepon, Senin (18/03).

Saat ini, Ibnu dipercaya sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di kota Christchurch, Selandia Baru. Dia tengah menyelesaikan program Doktor di Fakultas Hukum, Universitas Canterbury.

“Teman-teman kerja dan kuliah yang asli New Zealand semua menelpon dan menyatakan kalian diterima di sini,” asal warga kota Bandung, Jawa Barat ini.

“Mereka seperti ingin bilang: Ini bukan New Zealand yang sebenarnya,” lanjutnya.

Ibnu mengatakan, sebelum serangan tersebut, dia tidak pernah mendengar kabar tentang sikap rasial terhadap pada pendatang.

“Banyak yang menyesalkan ini terjadi karena (ulah) satu orang,” tambah Ibnu.

Sebanyak 50 orang tewas akibat serangan teror di masjid Al Noor di dekat Hagley Park, pusat Kota Christchurch, dan Masjid Linwood, di pinggiran kota.

Selain korban tewas, ada 50 orang mengalami cedera.

Seorang warga negara Indonesia atas nama Muhammad Abdul Hamid alias Lilik Abdul Hamid menjadi salah satu korban tewas di Christchurch

Sejauh ini dilaporkan terdapat sekitar tujuh WNI yang berada di kedua masjid saat terjadi peristiwa tersebut. Sebanyak empat orang telah dinyatakan selamat, dua orang luka yang saat ini masih dalam perawatan di rumah sakit, dan satu orang meninggal.

‘WNI masih takut ke keluar rumah’

Bagaimanapun, Ibnu melanjutkan, kelompok pelajar Indonesia sejauh ini masih belum berani beraktivitas pasca-serangan di dua masjid di Christchurch.

Mereka, sambungnya, lebih banyak berkumpul di rumah-rumah sesama pelajar. “Para pelajar kita belum berani keluar malam,” ungkapnya.

“Ada satu dua orang belum berani ke kampus, terutama teman-teman perempuan yang memakai jilbab, atau yang kelihatan, masih takut ke luar rumah,” tambahnya.

Menurutnya, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) datang ke Christchurch dan menyarankan agar WNI terus waspada.

Sebagai Ketua PPI, Ibu mengaku telah meminta agar anggotanya dan mahasiswa Indonesia lainnya tidak larut dalam ‘ketakutan’. Dia juga meminta agar rekan-rekannya kembali aktif belajar di kampus.

Otoritas setempat, kata Ibnu, masih melarang semua orang mendekati masjid.

“Semua masjid di kota Christchurch masih ditutup sementara,” katanya. “Dan masih akan berlangsung lama.”

Dia menambahkan, di beberapa di kota lainnya, bangunan masjid dijaga ketat aparat. “

Menurut pengamatan Ibnu, sikap yang sama juga dilakukan sejumlah pendatang dari negara lain, terutama dari negara-negara berpenduduk Muslim.

Di mana Ibnu saat terjadi serangan?

Ibnu Sitompul mengaku berada di lahan parkir Masjid Al Noor, Christchurh, Selandia Baru, tatkala Brenton Tarrant, tersangka pelaku asal Australia, baru saja menembaki jemaah salat Jumat.

Menurutnya, saat itu aparat polisi sudah ada di berbagai sudut, tapi dia mengaku belum tahu apa yang terjadi.

Ia sempat dihentikan oleh polisi dan diminta menjauh dari masjid. Tapi Ibnu memutar dan berniat masuk ke masjid melalui jalan lain. “Saya pikir kejadian entah apa di luar masjid.”

Di parkiran, Ibnu melihat beberapa orang berlarian keluar dari masjid, melompati pagar sembari berteriak. Sembari ketakutan, seorang di antaranya menyampaikan kabar, banyak orang meninggal di masjid.

Seketika Ibnu langsung ingat beberapa teman dan kerabat yang ia tahu sering datang ke masjid tersebut.

“Saya ketakutan, tapi saya ingat teman-teman, almarhum Pak Lilik yang jadi korban memang sering ada di masjid itu. Saya langsung telpon Pak Lilik, teleponnya tidak aktif, telpon teman saya Kevin juga tidak aktif,” tutur Ibnu kepada Arin Swandari untuk BBC News Indonesia.

Tak berhasil menghubungi teman-temannya, Ibnu bergegas hendak memasuki masjid, tapi polisi keburu menarik tangannya dan melarang Ibnu masuk.

“Tapi di sana banyak teman-teman Indonesia saya,” kata Ibnu berkeras.

“Tidak boleh, di sana ada penembakan” jawab polisi seperti ditirukan oleh Ibnu.

Usai mendapatkan penjelasan dari polisi tentang serangan itu, Ibnu sempat dicekam ketakutan. “Kalau saya tahu ada penembakan, saya juga takut masuk ke masjid.”

Bagaimanapun, Ibnu kini justru meminta teman-temannya agar tidak terus menerus dilanda ketakutan. Dia bahkan meminta agar rekan-rekannya kembali aktif belajar di kampus.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Masjid dan Sekolah di Belanda Dijaga Ketat Usai Penembakan Utrecht

Amsterdam

Polisi di Belanda menangkap seorang laki-laki yang diduga menewaskan tiga orang dalam insiden penembakan di atas trem di kota Utrecht, hari Senin (18/03).

Unit antiteror kepolisian mengepung satu gedung dan melakukan sejumlah penggerebekan sebelum menangkap laki-laki tersebut.

Sebelumnya polisi menyebar foto laki-laki berusia 37 tahun kelahiran Turki bernama Gokmen Tanis.

Jaksa mengatakan Tanis pernah berurusan dengan polisi.

Polisi Belanda Polisi Belanda terlihat mengepung satu rumah di Utrecht. (EPA)

Insiden penembakan di Utrecht, yang terjadi hanya beberapa hari setelah penembakan massal di dua masjid di Selandia Baru yang menewaskan 50 orang, mendorong pihak berwenang setempat memperketat pengamanan di seluruh negeri.

Selain menewaskan tiga orang, tersangka pelaku juga menyebabkan beberapa lainnya luka-luka.

Pengamanan yang diperketat meliputi sekolah, masjid, terminal dan gedung-gedung pemerintah.

Layanan kereta dan tram di Utrecht untuk sementara dihentikan. Ancaman keamanan di Utrecht dinaikkan ke level tertinggi.

Tram Pria bersenjata menembak secara membabi buta di tram. (EPA)

Perdana Menteri Mark Rutte mengatakan ia sangat prihatin dan pemerintah menggelar rapat darurat untuk menangani peristiwa itu.

Pria kelahiran Turki

Para pejabat mengatakan Tanis melarikan diri dari lokasi kejadian dengan mengendarai mobil.

Wali Kota Utrecht Jan van Zanen mengatakan peristiwa itu digolongkan sebagai serangan teror.

Jaksa mengatakan meski demikian motif yang sebenarnya belum diketahui dan ada kemungkinan insiden ini terkait dengan masalah keluarga.

Polisi Belanda Aparat keamanan menyisir kawasan di dekat lokasi kejadian. (EPA)

Universitas Utrecht menutup seluruh gedung di kampusnya dan melarang orang masuk atau keluar lingkungan.

“Seorang pria menembak secara membabi buta,” tutur seorang saksi mata kepada situs berita Belanda, NU.nl.

Seorang saksi mata lainnya mengatakan ia melihat seorang perempuan luka, tangannya berdarah yang juga mengenai pakaiannya.

“Saya membawanya ke mobil dan memberikan bantuan kepadanya,” ujarnya kepada lembaga penyiaran NOS.

Seorang pengusaha setempat kepada BBC mengatakan Tanis pernah bergabung dengan kelompok bersenjata di Chechnya.

Di kawasan ini ada beberapa kelompok radikal, beberapa di antaranya menyatakan berafiliasi dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

“Ia pernah ditahan polisi karena punya hubungan (dengan ISIS) tapi ia kemudian dibebaskan,” kata pengusaha tersebut.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tari Haka Geng Motor untuk Hormati Korban Aksi Terorisme di Masjid Selandia Baru

Liputan6.com, Jakarta – Sekelompok geng motor Maori melakukan tari Haka di depan masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, untuk menghormati korban yang meninggal dunia akibat aksi terorisme di Selandia Baru pada Jumat, 15 Maret 2019.

“Kia kaha, Christchurch,” kata juru bicara kelompok geng motor itu di Maori, menyerukan Christchurch untuk tetap kuat.

Mereka berterima kasih kepada polisi sebelum melakukan tari Haka. Haka adalah tarian seremonial suku Maori atau tantangan yang dilakukan untuk menyambut tamu-tamu terhormat, atau untuk mengakui prestasi, kesempatan, atau pemakaman yang luar biasa.

Dilansir dari newzealand.com, secara adat tarian ini dilakukan oleh laki-laki. Namun saat ini, berbagai Haka telah diciptakan untuk dilakukan oleh perempuan bahkan juga anak-anak.Gerakannya mencakup hentakan kaki keras, juluran lidah, dan tepukan tubuh berirama untuk mengiringi nyanyian keras.

Syair tarian haka biasanya menggambarkan leluhur dan peristiwa dalam sejarah suku Maori dengan puitis. Haka adalah tarian yang dilakukan oleh sebuah kelompok, dengan gerakan cekatan serta menyentakkan kaki berirama disertai dengan teriakan

Biasanya dimulai dengan kata-kata: “Ka mate! Ka mate! Ka ora! Ka ora!”, Yang berarti: “Aku mati! Aku mati! Aku hidup! Aku hidup! Aku hidup!”. Dalam video yang diunggah akun Instagram BuzzFeed World, Senin, 18 Maret 2019, sejumlah geng motor memerlihatkan tari Haka.

Dengan gerak cepat, mereka juga menyentakkan kaki ke aspal sambil berteriak. Tangan mereka dikepalkan ke udara, ke depan, kemudian dikepalkan ke aspal. Aksi mereka ditonton sejumlah warga Selandia Baru yang ikut berduka atas peristiwa banyak menelan korban jiwa tersebut.

Selain geng motor, sejumlah siswa di Christchurch di Selandia Baru juga melakukan tari Haka. Aksi mereka di lakukan di luar salah satu masjid yang menjadi tempat aksi terorisme di sana. Aksi mereka untuk menghormati para korban.

Mereka bergabung dengan sejumlah siswa yang lain diiringi dengan suara keras. Setidaknya 50 orang tewas dalam serangan itu, yang merupakan pembunuhan massal terburuk dalam sejarah Selandia Baru.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Suku Maori Selandia Baru menampilkan tarian Haka untuk menghormati korban penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Foto-foto Pelaku Teror di Masjid New Zealand Diblur, Mengapa?

Christchurch – Tersangka pelaku teror di masjid New Zealand (Selandia Baru) telah didakwa dalam persidangan di kota Christchurch. Usai sidang tersebut, foto-foto blur pria bernama Brenton Tarrant tersebut banyak muncul di media-media lokal dan asing. Tapi mengapa harus diblur?

Tenyata hal tersebut atas perintah hakim New Zealand yang memimpin persidangan kasus Tarrant.

Seperti diberitakan media lokal, New Zealand Herald dan dilansir New York Post, Senin (18/3/2019), Hakim Pengadilan Distrik Paul Kellar para jurnalis menggunakan kamera dan memvideokan persidangan Tarrant, namun hakim memerintahkan wajah pria berumur 28 tahun tersebut disamarkan atau diblur demi menjaga hak-hak dia untuk mendapatkan persidangan yang adil.


Dalam persidangan yang digelar pada Sabtu (16/3) pagi waktu setempat, Tarrant didakwa dengan satu dakwaan pembunuhan atas penembakan brutal di dua masjid New Zealand. Dakwaan-dakwaan lainnya akan dijeratkan pada pria Australia tersebut dalam persidangan berikutnya. Dia dijadwalkan akan kembali disidang pada 5 April mendatang.
Sebanyak 50 orang tewas dan puluhan orang lainnya luka-luka dalam aksi teror penembakan brutal di dua masjid di kota Christchurch. Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern telah menyebut penembakan brutal ini sebagai ‘serangan teroris’ dan mengutuknya. PM Ardern menyebut Tarrant sebagai pelaku utama serangan teror di dua masjid tersebut.

Sebelumnya, Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush menyatakan bahwa penembakan brutal itu ‘direncanakan dengan sangat matang’ oleh pelaku.

(ita/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Benarkah Pelaku Aksi Teror di Masjid New Zealand Bekerja Sendirian?

ChristchurchBrenton Tarrant, charged for murder in relation to the mosque attacks, makes his first appearance in the Christchurch District Court Brenton Tarrant, 28, dalam persidangan di Pengadilan Christchurch pada Sabtu (16/3) didakwa melakukan pembunuhan. (Reuters)

Polisi mengatakan pelaku serangan teror yang terjadi di dua masjid di Christchurh, Selandia Baru, Jumat (15/3), bekerja sendirian.

Sang pelaku, pria Australia bernama Brenton Tarrant, 28 tahun, yang mendeskripsikan dirinya sebagai pendukung supremasi kulit putih, menyiarkan aksinya secara langsung di Facebook.

Adapun tiga orang lainnya yang ditangkap usai penembakan terjadi, diyakini tidak terlibat dalam aksi yang dilakukan Tarrant, ujar Komisaris Polisi Mike Bush.

Namun dia menambahkan hal tersebut belum bisa dipastikan.

Sebanyak 50 orang tewas dalam aksi penembakan tersebut, dan setidaknya 50 orang terluka. Sementara dua orang dalam kondisi kritis.

Bush mengatakan otoritas setempat berusaha melakukan identifikasi korban penembakan di Masjid Al Noor dan Linwood secepat mungkin.

Dia menambahkan upaya identifikasi terhadap korban merupakan proses yang sensitif dan pihaknya memahami “kebutuhan agama dan budaya”.

Siapa saja yang terlibat?

Pada Sabtu, tersangka utama penembakan tersebut hadir di pengadilan mengenakan kaus putih dengan tangan terborgol. Dia tersenyum ke arah kamera.

Dia telah didakwa melakukan pembunuhan dan dakwaan lainnya diperkirakan akan ditimpakan kepadanya.

Dalam jumpa pers, Bush mengatakan Tarrant merupakan satu-satunya pelaku yang didakwa melakukan penembakan tersebut.

“Dia kami tangkap karena dia diyakini sebagai ancaman langsung, staf kami bertindak cepat… mereka menempatkan dirinya dalam bahaya untuk menghentikan serangan lebih lanjut – dan saya yakin mereka berhasil mencegah serangan lebih lanjut,” paparnya.

Dia menambahkan polisi meyakini dua orang yang ditangkap di dekat lokasi penembakan tidak terlibat. Seorang perempuan dibebaskan tanpa dakwaan dan seorang pria didakwa dengan pelanggaran yang melibatkan senjata api.

Selain itu, seorang remaja berusia 18 tahun juga ditangkap, namun keterlibatannya bersifat “tidak langsung” dan dia akan disidang pada Senin (18/3) besok.

Meskipun demikian, Bush menambahkan, “Saya tidak akan mengatakan hal-hal yang konklusif sampai kita benar-benar yakin berapa banyak orang yang terlibat.”

Semua orang yang ditangkap tidak memiliki sejarah perbuatan kriminal sebelumnya, kata polisi.

Tarrant telah dikembalikan ke tahanan tanpa pembelaan dan dijadwalkan kembali hadir di pengadilan pada tanggal 5 April mendatang.

Hakim ketua memutuskan bahwa wajah tersangka harus dikaburkan dalam foto dan video untuk mempertahankan haknya atas persidangan yang adil.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan Tarrant memiliki lisensi senjata api dan memiliki lima pucuk senapan.

Bagaimana kronologi peristiwa?

Laporan pertama terjadinya penembakan datang dari Masjid Al Noor di pusat kota Christchurch saat salat Jumat pukul 13:40 waktu setempat.

Pelaku menyetir ke arah masjid, memarkir mobilnya dan memberondong dengan senapan sembari berjalan masuk ke dalam masjid melalui pintu utama. Dia menembak laki-laki, perempuan bahkan anak-anak selama lima menit. Dia menyiarkan aksinya tersebut melalui kamera yang dipasang di kepalanya dan dia pun menyebutkan identitasnya di video tersebut.

Pelaku kemudian mengemudi sejauh lima kilometer menuju masjid lainnya di Linwood, di mana aksi penembakan kedua terjadi.

Map of the route of the attack
BBC

Perdana Menteri Ardern mengatakan senapan yang digunakan pelaku telah dimodifikasi dan mobil yang dikendarai pelaku penuh dengan senjata, yang menunjukkan “niat pelaku untuk melakukan lebih banyak serangan”.

Pelaku mendapatkan lisensi kepemilikan senjata pada November 2017 yang membuatnya bisa membeli semua senapan yang dia gunakan dalam serangan tersebut.

Pelaku tidak termasuk dalam radar dinas keamanan di Australia dan Selandia Baru.

A silver fern is projected onto the sails of the Opera House in commemoration of the victims of the Christchurch massacre on March 16, 2019 Sydney Opera House memproyeksikan daun pakis perak sebagai tanda belasungkawa bagi keluarga korban yang tewas dalam serangan teror di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. (Getty Images)

Sebelum terjadinya serangan, akun media sosial atas nama Brenton Tarrant digunakan untuk mengunggah manifesto bernada rasis, di mana dia juga menyebut dua masjid yang menjadi target serangan.

Manifesto itu diberi judul ‘The Great Replacement’, yang diambil dari frase di Prancis yang kerap digunakan oleh ekstremis anti-imigran Eropa. Pelaku disebut telah merencanakan aksinya setelah kunjungannya ke Eropa tahun 2017 dan terpicu oleh peristiwa serangan di wilayah tersebut.

Pelaku mengirimkan manifesto itu ke 70 orang, termasuk ke alamat publik Jacinda Ardern, kurang dari 10 menit, sebelum serangan terjadi, lapor New Zealand Herald.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>