Martha Tilaar Eksplorasi Potensi Anggrek Langka, Coelogyne Marthae

Liputan6.com, Jakarta – Untuk melestarikan dan menggali potensi tersembunyi yang terkandung pada anggrek Coelogyne marthae S.E.C Sierra, PT Martina Berto bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama mengimplementasikan penerapan teknologi argoindustri dan bioteknologi dalam pengembangan kosmetik dan herbal di Indonesia. Penandatanganan kerja sama kedua perusahaan ini dilakukan pada Selasa, (6/11/2018) di Puspita Martha, Jalan K.H Wahid Hasim Jakarta Pusat.

Perjanjian kerja sama ini ditandatangani dua kali. Sesi pertama ditandatangani oleh pihak Deputi BPPT Argoindustri dan Bioteknologi, Soni Solista Wirawan dengan Direktur Utama PT Martina Berto, Bryan David Emil, dengan fokus isi perjanjian mengenai pengkajian dan penerapan teknologi argoindustri dan bioteknologi.

Sedangkan perjanjian kedua mengenai eksplorasi, domestika, identifikasi, kajian multiplikasi dan pembungaan serta uji aktivitas aksesi anggrek Coelogyne marthae S.E.C Sierra antara balai bioteknologi, yang diwakili oleh Kepala Balai BPPT, Agung Eru Wibowo dengan Kilala Tilaar selaku Director of Corporate Creative and Innovative, PT Martina Berto. Tbk.

Coelogyne marthae S.E.C Sierra adalah salah satu jenis anggrek baru dan langka yang ditemukan hidup secara epifit dan tumbuh endemik di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat. Ditemukan oleh peneliti National Herbarium Netherland dari Universitas Leiden, Soraya EC Sierra. 

Pada kesempatan yang sama, Deputi Direktur Pemasaran PT Martina Berto Tbk Kilala Tilaar menambahkan, sejak awal PT Martina Berto Tbk berdiri, salah satu unit bisnis dari Martha Tilaar Group itu telah berkomitmen untuk memanfaatkan kekayaan alam asli Indonesia.

“Indonesia memiliki kekayaan alam terbesar kedua di dunia setelah Brasil, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal, untuk itu kami lebih menekankan pada produk yang alami saja” jelas Direktur Pemasaran PT Martina Berto, Kilala Tilaar dalam kata sambutannya di penandatanganan kerja sama tersebut.

Bahkan, banyak orang luar yang ternyata kagum akan kekayaan Indonesia, namun Kilala mengakui bahwa suatu produk tidak bisa berhasil jika dilakukan seorang diri. “Untuk itu, ayo buat Indonesia maju, karena kami tak bisa berjalan sendiri, mari sama-sama memajukan Indonesia”. tambahnya.

Ungkapan itu pun di dukung oleh pendiri Martha Tilaar Innovation Centre (MTIC), Martha Tilaar, dengan menerapkan strategi 3C, yaitu connect, collaborate, dan compete. Pertama connect atau koneksi di mana suatu produk bisa berhasil karena ada hubungan yang saling terhubung. Kedua, collaborate, berkolaborasi atau merangkul satu dengan yang lain seperti BPPT dan beberapa universitas. Ketiga, compete yang artinya siap bersaing dengan produk lainnya.

Mengedapankan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, PT Martina Berto, Tbk terus memberikan produk-produk berkualitas secara alamiah kepada masyarakat, yang kemudian menggabungkannya dengan kearifan budaya, pengetahuan leluhur, dan sumber keanekaragaman hayati milik Indonesia.

“Indonesia itu memiliki 33 ribu jenis spesies, dan 7 ribu di antaranya adalah tanaman obat kosmetik dan aromatik, sayang saja kalau itu tidak dimanfaatkan dengan teknologi yang sudah modern saat ini,” ujar Martha Tilaar.

Setelah penandatanganan itu, kegiatan riset akan dimulai, dari budidaya hingga pengujian aktivitas tanaman anggrek Coelogyne marthae S.E.C. Sierra dengan melihat potensinya sebagai bahan baku industri kosmetik, sehingga kegiatan ini dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan baku impor dalam pemilihan kosmetiknya.

(Mariany)

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kisah Martha Tilaar, Guru yang Sukses Bangun Bisnis Kosmetik dari Garasi Rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *