Eko Roni dan Dwi Ani Retno Bawa Pelajaran Berharga dari Manila

Atlet penyumbang medali perak bagi Indonesia di ajang SEA Games ini, mengaku bahwa ia kerap tampil agresif dalam gulat. Hal ini nampaknya terbawa saat ia tampil, dimana ia sempat membanting lawan di awal stanza.

“Saya pikir saya unggul dari segi poin sebelum terkena sikutan. Satu hal yang dapat saya petik sebagai pelajaran adalah bagaimana mengatur ritme,” katanya.

“Di gulat, bisa saja maju terus untuk menyerang, namun di MMA, adakalanya saya harus mundur,” ujarnya.

“Rekan setim saya di Evolve, Alex Silva, mengatakan bahwa terlalu agresif di awal laga bukan strategi yang bagus, kecuali kalau sudah memasuki ronde akhir.”

Selepas laga, banyak yang menanyakan kondisinya, termasuk CEO One Championship Chatri Sidyodtong. Eko menjawab bahwa kondisinya baik-baik saja dan siap untuk kembali bertanding.

“Saya akan beristirahat seminggu, sebelum melakukan persiapan untuk laga selanjutnya. Saya siap untuk laga selanjutnya, karena ada rasa penasaran juga,” ujar Eko, yang saat ini berada di Samarinda, Kalimantan Timur bersama keluarga besarnya.

Berburu Penawaran Menarik dengan Jaminan Perjalanan Lebih Nyaman di Astindo Travel Fair 2019

Liputan6.com, Jakarta – Pameran wisata terbesar di Indonesia, Astindo Travel Fair (ATF) 2019, kembali berlangsung di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC) sampai Minggu, 24 Februari 2019. Tak semata menawarkan berbagai paket wisata menarik, Anda juga bisa memperoleh jaminan perjalanan lebih nyaman, lantaran partisipasi Sompo Insurance Indonesia (SII).

Memasuki tahun ke-2 dalam partisipasi ATF, Sompo membawa produk andalan, Sompo TravelFirst, yang penjualnnya sudah meningkat lebih dari 200 persen sejak kali pertama dirilis pada 2017 lalu.

“Sompo hadir sebagai teman setia para traveler di situasi darurat. Tak seperti asuransi perjalanan pada umumya, namun juga sebagai solution provider ketika bepergian ke luar negeri,” tutur Maria Susana selaku Head of Travel and Affinity Sompo Insurance di konferensi pers di JCC, Jakarta Pusat, Jumat, 22 Februari 2019.

Kepedulian ini tercermin dari sederet manfaat Sompo TravelFirst, yakni perlindungan medis berupa kecelakaan diri, evakuasi medis darurat, hingga santuan rawat inap. Lalu, ketidaknyamanan perjalanan atau tanggung jawab hukum, mulai dari kehilangan atau kerusakan bagasi, sampai kehilangan dokumen perjalanan dan uang.

Selanjutnya, manfaat tunai berupa pemberian uang penggantian untuk keterlambatan bagasi, hingga penundaan perjalanan. Terakhir, jaminan tambahan, yakni melindungi dari terorisme, kecelakaan di bawah air, kehilangan atau kerusakan peralatan golf, dan perlindungan isi rumah saat bepergian.

Berbagai penawaran menarik pun dihadirkan Sompo di ATF 2019, di mana Anda mendapat asuransi perjalanan secara gratis di setiap pembelian tiket selama event berlangsung, baik rute domestik maupun internasional.

Anda juga bersempatan mendapat diskon 30 persen untuk seluruh paket Sompo TravelFirst. Bisa pula membawa pulang hadiah menarik seperti sepeda gunung dan TV di pembelian produk-produk tertentu. Dapatkan juga merchandise gratis saat foto di Sompo TravelFirst booth dan mengunggahnya ke media sosial.

Sementara lewat 150 booth, AFT 2019 siap memenuhi kebutuhan perjalanan Anda. Harga paket promo tur mancanegara dan domestik jadi tawaran spesial tahun ini. Anda bisa memilih paket wisata ke Yogyakarta selama tiga hari mulai Rp. 1,4 juta dan Belitung Rp. 1,6 juta.

Ada pula tur ke Bangkok selama tiga hari hanya dengan membayar Rp. 4,4 juta, pilihan lain ada Manila selama tiga hari seharga mulai dari Rp. 3,9 juta, dan pelesiran ke Seoul selama empat hari hanya tinggal merogoh kocek Rp. 6,8 juta.

Tiket penerbangan dengan destinasi popular juga ditawarkan dengan harga terbaik sepanjang tahun, mulai dari Rp. 1,4 juta untuk ke Singapura, Rp. 2,6 Juta untuk Bangkok, ke Hong Kong seharga Rp. 2,9 Juta, ke Tokyo Rp. 4,9 juta, Paris seharga Rp. 8,6 juta dan Los Angeles/San Francisco seharga Rp. 9,7 Juta.

Astindo Travel Fair 2019 didukung  19 maskapai penerbangan, yaitu All Nippon Airlines (ANA), Cathay Pacific, China Airlines, Emirates, Etihad Airways, Ethiopian Airways, EVA Air, Garuda Indonesia, Korean Air, Malaysian Airlines, Oman Air, Philippines Airlines, Qantas Airways, Qatar Airways, Saudia Airlines, Singapore Airlines, Sriwijaya Air – NAM Air, Thai Airways, dan Vietnam Airlines.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pimpin Negara Mayoritas Katolik, Presiden Filipina: Ada Bagian Islam di Diri Saya

Liputan6.com, Manila – Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali menyita perhatian global, ketika dalam sebuah pidato pada Jumat 15 Februari, dia mengucap pujian dengan cara Islam, setelah sebelumnya mengecam para anggota ulama Katolik.

Berbicara di depan hadirin yang didominasi masyarakat muslom di Kota Cotabato, Duterte berseru: “Ada bagian dari diri saya yang sebenarnya adalah Islam.”

“Itulah sebabnya, jika saya dan para pendeta gila itu bertengkar, saya bukan Katolik. Saya Islam … dan itu benar,” tambahnya dalam bahasa Tagalog, sebagaimana dikutip dari ABS CBN News pada Selasa (19/2/2019).

Klaim sensasional itu disampaikan oleh Rodrigo Duterte sebagai penekanan terhadap rancangan Hukum Organik Bangsamoro (BOL), yang akan memberikan komunita muslim di Filipina selatan, entitas dan otonomi lebih besar sehingga diharapkan berdampak pada kemajuan politik dan ekonomi setempat.

Saat memulai pidatonya, Duterte juga terdengar beberapa kali mengagungkan nama Allah, yang menurutnya, telah membawa kebaikan untuk memungkinkan tercapainya era baru masyarakat BOL.

“Tuhan pasti pada kita. Fakta bahwa kita telah mencapai titik ini setelah bertahun-tahun negosiasi dan interupsi. Kita di sini. Insya Allah. Tuhan itu agung. Allahu Akbar,” kata Duterte.

“Sungguh, tanpa Allah, hal itu akan sulit bagi kita,” lanjut presiden berkuasa Filipina itu.

Rodrigo Duterte, yang lahir dan besar sebagai seorang penganut Katolik, kerap bersitegang dengan para pemimpin gereja karena retorikanya yang keras, dan seringkali mempertanyakan tentang doktrin-doktrin agama tersebut.

Duterte sering menuduh Gereja Katolik sebagai institusi yang munafik, dan mengatakan tidak punya hak untuk mengkritik kebijakannya, karena menurutnya, gagal mendisiplinkan anggota klerus yang melanggar hukum.


Simak video pilihan berikut: 

2 dari 2 halaman

Institusi Agama yang Dominan di Filipina

Dalam beberapa pekan terakhir, Duterte diketahui mengeluarkan penghinaan terhadap pendeta Katolik, dan bahkan sempat mengatakan bahwa para uskup harus dibunuh.

Beberapa uskup yang vokal menanggapi penindasan verbal oleh Duterte.

Balanga, Uskup Ruperto Santos mengatakan, pemerintahan Duterte memalukan bagi Filipina. Sementara Uskup Novaliches, Emeritus Teodoro Bacani, menantang presiden berusia 73 itu untuk keluar tanpa pengawalan keamanan.

Meski begitu, Duterte terus mengeluarkan omelan terhadap Gereja Katolik. Padahal sebelumnya, kedua belah pihak telah melakukan beberapa kali dialog perdamaian.

Gereja Katolik adalah institusi agama yang dominan di Filipina, di mana pengaruhnya telah mengakar sejak empat abad terakhir.

Bahkan, sejak 1985, Gereja Katolik diketahui ikut berperan dalam penggulingan dua presiden.

Tetapi sejak Duterte menjabat pada pertengahan 2016, pengaruh Gereja Katolik diuji oleh serangan tanpa henti berupa kritik pemerintah terhadapnya.

Mengenal Pagpag, Menu Favorit Warga Miskin Filipina yang Terbuat dari Sampah

Liputan6.com, Manila – Kehidupan di kawasan kumuh Manila sangat sulit, di mana menyediakan makanan di atas meja adalah tantangan besar.

Untuk mengakalinya, banyak warga di ibu kota Filipina itu kerap menyantap daging sisa yang didaur ulang, dan umum dikenal dengan nama “pagpag”.

Ini adalah istilah yang ditujukan pada makanan sisa, biasanya berupa daging yang diambil dari sampah restoran, untuk kemudian dicuci, dimasak dan dijual kembali ke masyarakat miskin di kawasan kumuh Manila. Bisa dibilang, ini adalah makanan utama mereka sehari-hari.

Sebagian besar konsumen pagpag berada pada posisi paling bawah dalam “strata masyarakat” Filipina, yang sering kali gagal memenuhi asupan hariannya. Oleh karenanya, sajian yang jauh dari higienis itu adalah altenatif pangan yang bisa disantap segera atau untuk nanti.

Dikutip dari situs Odditycentral.com pada Minggu (17/2/2019), pagpag kini menjadi bisnis yang menguntungkan di tengah komunitas warga miskin Manila, karena seringkali pedagangnya membeli bahan baku daging sisa dengan harga murah dari pengepul.

Daging sisa dikumpulkan oleh pengepul dari para pemulung yang mengais tumpukan makanan sisa atau produk pangan kedaluwarsa, yang diambil di jaringan restoran cepat saji dan supermarket di ibu kota Filipina.

Tidak jarang, para pemulung ini mengais makanan di tengah “lalu lalang” kucing dan tikus liar, lalu membungkusnya dalam kantong plastik dan dibawa ke pengepul.

Satu kantong plastik daging pagpag biasanya dijual seharga 20 peso (sekitar Rp 14.000), yang bisa dimasak menjadi beberapa porsi hidangan murah seharga rata-rata 10 peso (sekitar Rp 7.354) per porsi.

Cara memasaknya pun jauh dari standar sehat, di mana daging sisa dicuci berkali-kali dengan alasan “menghilangkan kotoran yang melekat” ketika diambil dari tumpukan sampah.

Setelah tulang-tulangnya dibuang, daging sisa itu kemudian dicampur beragam bumbu, sayur, dan saus hingga menjadi hidangan baru yang dijajakan di warung makan kumuh.

“Dengan kondisi hidup yang kami jalani sekarang, ini (pagpag) sangat membantu. Ketika Anda membeli seporsi besar dalam beberapa peso, Anda sudah dapat memberi makan satu keluarga,” kata salah seorang konsumen.


Simak video pilihan berikut: 

2 dari 2 halaman

Bukan Lagi Pilihan Terakhir

Pagpag dulunya merupakan pilihan terakhir bagi sebagian besar penghuni kawasan kumuh di sekitar Manila, sesuatu yang hanya akan mereka makan pada hari-hari terburuk, ketika tidak mendapatkan cukup uang untuk membeli sedikit beras.

Tetapi, dengan inflasi yang terus meningkat, membuat banyak orang semakin sulit untuk membeli makanan yang layak, sehingga pagpag pun menjadi alternatif santapan sehari-hari.

Meski sebagian telah dikonsumsi oleh orang lain, namun banyak konsumen pagpag meyakini bahwa daging bekas itu aman dikonsumsi karena telah dicuci sebelum kembali dimasak.

Beberapa konsumen lain bahkan menyebutnya enak dan bergizi, tetapi otoritas kesehatan di Filipina menganggapnya sebagai risiko kesehatan yang mengkhawatirkan.

Kadang-kadang daging sisa disemprot dengan desinfektan sebelum dibuang, dan di lain waktu, bahan baku tersebut menjadi penuh dengan patogen berbahaya seperti salmonella, karena disimpan dalam kondisi yang tidak layak dalam waktu lama.

Salome Degollacion, seorang tetua di Helping Land, salah satu wilayah kumuh terbesar di Manila, mengatakan kepada CNN bahwa banyak orang meninggal karena menyantap pagpag.

“Tetapi ketika Anda tidak punya pilihan lain, saya kira risikonya layak untuk diambil,” ujar Degollacion.

Sementara itu, menurut Melissa Alipalo, seorang ahli pembangunan sosial, terdapat sebuah gengsi di benak masyarakat Filipina, bahwa sesulit apapun hidup mereka, pantang untuk terus menerus makan dari piring pemberian orang lain.

“Namun, karena kondisi ekonomi mereka tidak kunjung membaik, maka pagpag adalah pilihan terbaik untuk bertahan hidup sekaligus menyingkirkan diri dari kebiasaan meminta-minta,” jelas Alipalo.

Timnas U-22 vs Myanmar: 3 Pemain Kunci Tim Garuda

Jakarta – Timnas U-22 Indonesia akan mengawali petualangannya di Piala AFF U-22 sore ini. Di laga pertama Grup B, Tim Garuda ditantang Myanmar di  Olympic Stadium, Phnom Penh, Kamboja.

Turnamen ini bakal menjadi ujian pertama skuat asuhan Indra Sjafri pada 2019. Setelah ini, Andy Setyo dkk. masih harus berjibaku dalam kualifikasi Piala AFC U-23 2020 dan SEA Games 2019 di Manila.

Timnas U-22 sudah melakoni tiga laga uji coba sebelum tampil di Piala AFF U-22 2019. Hasilnya, mereka tak terkalahkan lantaran selalu meraih hasil imbang melawan tiga klub Liga 1, yaitu Bhayangkara FC, Arema FC, dan Madura United.

Meski gagal menang, banyak pihak yang menilai Timnas Indonesia U-22 sudah mulai menunjukkan permainan apik. Justru, mereka akan menunjukkan perfoma puncak begitu tampil di Piala AFF U-22.

Dari hasil uji coba itu, Indra Sjafri bisa memantau beberapa pemain yang menjadi kerangka utama tim. Meski, tidak semua pemain yang dibawa ke Kamboja mengikuti uji coba tersebut.

Di sisi lain, beberapa pemain diprediksi bakal menjadi pemain kunci dan andalanTimnas U-22  untuk laga versus Myanmar. Berikut ulasan singkat versi Bola.com.

2 dari 4 halaman

Osvaldo Haay

Winger milik Persebaya ini termasuk pemain yang tidak mengikuti uji coba secara lengkap bersama Timnas Indonesia U-22. Penyebabnya, dia sempat menjalani undangan latihan bersama klub kasta kedua Spanyol, CD Numancia, selama 10 hari.

Namun, Osvaldo Haay sudah mengikuti pemusatan latihan sejak awal. Pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri, tetap memasukkan nama Osvaldo karena kualitas yang dimilikinya.

Pemain sayap berusia 21 tahun ini sudah teruji pernah membela berbagai level timnas, mulai level usia sampai senior. Musim lalu, dia juga menyabet gelar pemain muda terbaik Liga 1 2018.

Osvaldo sudah menyumbang sebanyak 11 gol bersama Persebaya di semua ajang. Torehan itulah yang membuatnya diyakini akan menjadi tumpuan lini depan Timnas Indonesia U-22 ketika melawan Myanmar.

3 dari 4 halaman

Hanif Sjahbandi

Gelandang sahabat baik Osvaldo Haay ini juga sudah terbukti sebagai pemain andalan Timnas Indonesia sejak beberapa waktu terakhir. Kepiawaian Hanif Sjahbandi di lapangan diperlukan buat mengatur ritme permainan.

Dalam tiga laga uji coba Timnas Indonesia U-22 jelang Piala AFF U-22 2019, Hanif sudah membuktikan itu. Saat melawan Arema (10/2/2019), Timnas Indonesia U-22 sempat bermain kurang rapi. Begitu Hanif masuk, permainan tim jadi variatif dan Hanif mencetak gol.

Pemain milik Arema ini bakal menjalani peran sentral di lini tengah Timnas Indonesia U-22. Kemungkinan dia akan bekerja dengan Todd Rivaldo Fere, Luthfi Kamal, atau Gian Zola.

4 dari 4 halaman

Asnawi Mangkualam Bahar

Pemain satu ini sempat mengalami perubahan posisi yang cukup drastis. Dia sempat bermain sebagai gelandang bersama PSM Makassar dan Timnas Indonesia U-19 di Piala AFF U-19 2017.

Namun, Asnawi kemudian dijajal sebagai bek kanan oleh Indra Sjafri sejak Piala AFF U-19 2018. Hasilnya, dia mampu menunjukkan kualitas sebagai bek sayap yang bisa membantu lini serang atau bertahan.

Dengan kualitasnya sebagai bek kanan, Asnawi akan menjadi opsi bagi Timnas Indonesia U-22 untuk menembus pertahanan Myanmar. Saking apiknya, Asnawi kini malah menggeser Rifad Marasabessy yang sebelumnya diandalkan Indra Sjafri di bek kanan.

Ini Bukti Biaya Bangun LRT Jabodebek Lebih Murah Dibanding Negara Lain

Liputan6.com, Jakarta – PT Adhi Karya Tbk mengungkapkan bahwa pembangunan LRT Jabodebek telah menggunakan teknologi terbaik dengan biaya yang seefisien mungkin. Hasilnya, jika dibandingkan LRT beberapa negara tetangga, nilai investasi LRT Jabodebek justru paling murah tanpa mengurangi kehandalannya.

Direktur Operasional II Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengungkapkan, salah satu bukti efisiensi proyek LRT Jabodebek adalah dalam hal model konstruksi.

“Apa yang sudah kita kerjakan ini sudah seefisien mungkin, jadi sudah yang terbaik. Bahkan jika dibandingkan beberapa negara lain, kita tidak paling mahal,” tegas Pundjung di Hotel Grandhika, Jumat (15/2/2019).

Saat ini, LRT Jabodebek dibangun dengan total biaya Rp 20,752 triliun atau sebesar Rp 467,08 miliar per km untuk fase satu.

Biaya untuk pembangunan sepanjang 44,3 km tersebut meliputi lingkup pekerjaan jalur, pekerjaan stasiun, depo dan operation control center hingga pekerjaan fasilitas operasi dan trackwork.

Jika dibadingkan berbagai negara, seperti di Kanada, total biaya pembangunan LRT Calgary, dengan tipe at grade, sepanjang 20 km sebesar Rp 43,940 triliun.

Selanjutnya di Uni Emirat Arab, total biaya pembangunan LRT Dubai sepanjang 76 km dengan tipe at grade dan elevated, sebesar Rp 78 triliun.

2 dari 2 halaman

Asia

Kemudian di Filipina, total biaya pembangunan LRT Manila Line 7 sepanjang 23 km dengan tipe elevated, sebesar Rp 20,790 triliun.

Di Malaysia, total pembangunan LRT Kelana Jaya sepanjang 34,7 km, dengan tipe elevated dan at grade, sebesar Rp 28,350 triliun.

Sedangkan di Pakistan, total biaya pembangunan LRT Lahore sepanjang 27,1 km dengan tipe elevated, sebesar Rp21,600 triliun.

Ide Menggemparkan Duterte, Usulkan Filipina Diganti Maharlika

Manila – Bertujuan menghilangkan keterkaitan kolonialisme pada nama negara, Presiden Rodrigo Duterte ingin mengubah nama Filipina menjadi ‘Maharlika‘. Namun, gagasan Duterte itu belakangan menuai perdebatan.

“(Dinamakan) Filipina karena ditemukan oleh Magellan menggunakan uang dari Raja Philip (II). Itulah mengapa ketika penjelajah yang bodoh datang, dia menamakannya Filipina,” ujar Duterte pada Senin, 11 Februari 2019.

Duterte pun merujuk pada seruan mendiang diktator Ferdinand Marcos untuk mengubah nama Filipina menjadi ‘Maharlika’. “Karena Maharlika adalah kata-kata Melayu dan itu berarti ketenangan. Marcos benar,” imbuh Duterte.


Namun pakar sejarah menyebut kata ‘Maharlika’ telah disalahartikan sejak lama. Seperti dilansir media lokal Filipina, Philstar.com, Kamis (14/2/2019), sejumlah sejarawan Filipina berusaha memberikan penjelasan soal salah terjemahan untuk kata ‘Maharlika’. Sejarawan Xiao Chua yang juga seorang asisten Guru Besar De La Salle University menyebut pemahaman kata ‘Maharlika’ sebagai bangsawan telah menjadi kesalahpahaman umum yang disebabkan oleh ‘salah terjemahan’ pada teks-teks sejarah Filipina.

“Dalam Blair and Robertson, Maharlika salah diterjemahkan sebagai bangsawan,” sebut Xiao Chua yang merupakan sejarawan Filipina keturunan China, kepada Philstar.com. “Ketika kita membaca Bahasa Inggrisnya, kita berpikir bangsawan berarti berdarah kerajaan (darah biru),” imbuh Chua.

‘Blair and Robertson’ merupakan sebutan lain untuk dokumen sejarah ‘The Philippine Islands’ yang dipublikasikan tahun 1903-1909. Dokumen sejarah sebanyak 55 edisi itu diterjemahkan oleh Emma Helen Blair dan James Alexander Robertson, yang merupakan Direktur Perpustakaan Nasional Filipina tahun 1910-1916. Keduanya menerjemahkan dokumen sejarah itu dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris.

“Tapi William Henry Scott, seorang pakar antropologi dan sejarawan, menyebut ini salah karena apa yang terjadi adalah, warga Amerika yang menerjemahkan dokumen-dokumen berbahasa Spanyol diketahui salah diterjemahkan, meskipun pada akhirnya dibetulkan,” tutur Chua dalam penjelasannya. Scott yang meninggal dunia tahun 1993 lalu, telah mempelajari sejarah dan komunitas pra-Hispanik di Filipina hingga akhir hayatnya.

“Ketika Anda menyebut seseorang itu bangsawan, Anda menyebut ‘dugong bughaw’ (darah biru), Anda bahkan punya lagu-lagu yang diciptakan saat masa Darurat Militer yang berbunyi ‘ako ay Pilipino, may dugong Maharlika’ (saya orang Filipina, dengan darah Maharlika),” imbuhnya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Chua bahwa ‘Maharlika’ sebenarnya berarti ‘seseorang yang bebas’. “Orang-orang berpikir, kita ingin nama itu, itu nama yang diromantisir, anggota kerajaan. Tidak, itu (artinya) hanya orang biasa yang bebas,” tegas Chua.

Penjelasan senada disampaikan sejarawan dari Komisi Budaya dan Seni Nasional Filipina, Dr Rolando Borrinaga, dalam keterangan seperti dilansir media lokal Filipina, ABS-CBN News. Borrinaga menegaskan bahwa ‘Maharlika’ sebenarnya berarti ‘orang bebas’ namun telah salah diterjemahkan sebagai kaum bangsawan.

Belakangan Duterte ternyata tidak akan secara aktif mendorong perubahan nama itu. Juru bicara Duterte menyebut Kongres Filipina sebagai institusi yang tepat untuk mendorong perubahan tersebut.

Juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador Panelo, mengatakan seperti dilansir media lokal Filipina, SunStar Manila, Kongres Filipina bisa mendorong sebuah langkah untuk memperkenalkan nama baru bagi negara Filipina.

“Para anggota Kongres bisa mengubahnya menjadi Republik Maharlika. Kita akan disebut sebagai Maharlikan. Maharlikana untuk Filipina (sebutan untuk wanita). Maharlako untuk Filipino (sebutan untuk pria). Itu akan berkembang soal bagaimana kita akan dipanggil. Tapi itu gagasan yang menarik,” ujar Panelo.

Saat ditanya lebih lanjut apakah Duterte akan secara aktif mendorong perubahan nama negara itu, Panelo menegaskan: “Tidak.”

“Gaya Presiden (Duterte) adalah dia melontarkan sebuah gagasan, kemudian seseorang atau siapa saja dari Kongres akan mengambilnya,” imbuhnya.

Dalam pernyataannya, Panelo mencetuskan agar Kongres Filipina mengambil langkah resmi untuk mengubah nama negara Filipina. “Konstitusi menyatakan Kongres bisa menetapkan sebuah aturan hukum yang bisa mengubah nama negara ini dan mengajukannya kepada rakyat untuk sebuah referendum, semacam plebisit,” cetusnya.

Disebutkan Philstar.com bahwa pasal XVI ayat 2 Konstitusi 1987 menyatakan Kongres bisa, dengan aturan hukum, mengadopsi nama baru untuk negara, lagu kebangsaan, atau lambang nasional, yang sungguh mencerminkan dan menyimbolkan cita-cita, sejarah dan tradisi rakyat. Jika hal itu dilakukan, maka aturan hukum yang mengatur nama baru Filipina mulai efektif setelah diratifikasi rakyat melalui sebuah referendum nasional.

Secara terpisah, Presiden Senat Filipina, Vicente Sotto III, menyebut perubahan nama negara membutuhkan banyak perubahan yang salah satunya membutuhkan amandemen Konstitusi Filipina tahun 1987.
(dhn/rna)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jubir Duterte: Perlu Referendum untuk Ubah Filipina Jadi Maharlika

Manila – Tentunya tidak mudah untuk mengubah nama resmi sebuah negara. Usulan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, agar nama Filipina suatu hari nanti diubah menjadi ‘Maharlika’ setidaknya membutuhkan aturan hukum baru dan sebuah referendum.

Seperti dilansir media lokal Filipina, Philstar.com dan The Manila Times, Kamis (14/2/2019), juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador Panelo, menyatakan bahwa langkah resmi dari Kongres Filipina dibutuhkan untuk mengubah nama negara ini.

“Konstitusi menyatakan Kongres bisa menetapkan sebuah aturan hukum yang bisa mengubah nama negara ini dan mengajukannya kepada rakyat untuk sebuah referendum, semacam plebisit,” ucap Panelo dalam pernyataannya. “Mari kita lihat bagaimana itu berkembang,” imbuh jubir Duterte itu.


Proposal untuk mengubah nama Filipina telah dimunculkan sejak tahun 1970-an. Menurut sebuah artikel pada situs Komisi Sejarah Nasional Filipina, mantan Senator Eddie Ilarde mengajukan rancangan undang-undang (RUU) untuk mengubah nama Filipina menjadi ‘Maharlika‘ pada tahun 1978 silam.

Artikel itu menyebut ‘Maharlika’ merupakan ‘warisan kuno’ rakyat Filipina, jauh sebelum kedatangan penjajah dari Barat. Saat itu, sejumlah akademisi menentang perubahan nama tersebut, dengan menyebutnya sama saja mengabaikan akar sejarah dan identitas nasional Filipina.

Tahun 2017 lalu, anggota parlemen Partai Magdalo, Gary Alejano, pernah mengajukan RUU untuk mengubah nama negara Filipina. Di bawah RUU House of Representatives (HOR) atau DPR Filipina 5867, sebuah komisi khusus akan dibentuk untuk mengganti nama negara.

Ditegaskan Panelo bahwa langkah semacam itu tidak diperlukan lagi karena Kongres Filipina bisa mengundangkan sebuah aturan hukum untuk mengubah nama negara ini.

“Jika Konstitusi menyatakan Anda bisa menetapkan sebuah aturan hukum, mengapa Anda perlu membentuk sebuah komisi? Dengan mengajukan RUU, para pemain (parlemen) akan merundingkannya di Kongres dan mereka akan diundang. Jadi, itu akan lebih mudah,” tegasnya.

Disebutkan Philstar.com bahwa pasal XVI ayat 2 Konstitusi 1987 menyatakan Kongres bisa, dengan aturan hukum, mengadopsi nama baru untuk negara, lagu kebangsaan, atau lambang negara, yang sungguh mencerminkan dan menyimbolkan cita-cita, sejarah dan tradisi rakyat’.

Jika hal itu dilakukan, maka aturan hukum yang mengatur nama baru Filipina mulai efektif setelah diratifikasi rakyat melalui sebuah referendum nasional.

Secara terpisah, Presiden Senat Filipina, Vicente Sotto III, menyebut perubahan nama negara membutuhkan banyak perubahan, yang salah satunya membutuhkan amandemen Konstitusi Filipina tahun 1987.

Terlepas dari itu, nama ‘Maharlika’ yang merupakan kata Melayu yang diyakini berarti ‘bangsawan’, termasuk oleh Duterte. Namun sejarawan Filipina menyebut pemahaman kata ‘Maharlika’ sebagai ‘bangsawan’ telah menjadi kesalahpahaman umum, yang dipicu oleh ‘salah terjemahan’ pada dokumen sejarah Filipina.

(nvc/ita)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Filipina Diubah Jadi Maharlika, Uskup: Lebih Cocok Untuk Nama Jalan

Manila – Reaksi beragam diberikan oleh publik Filipina, termasuk para anggota parlemen, atas usulan Presiden Rodrigo Duterte untuk mengubah nama negara Filipina menjadi ‘Maharlika’. Seperti apa reaksi tersebut?

Seperti dilansir Philstar.com dan Manila Bulletin, Kamis (14/2/2019), Senator Panfilo Lacson memberikan reaksi positif dengan menyebut usulan Duterte itu ‘terdengar bagus’.

“Saya mungkin setuju dengan PRRD (Presiden Rodrigo Roa Duterte) soal kemungkinan mengubah nama negara kita. Filipina akan selalu mengingatkan kita pada Raja Spanyol Philip II, penjajah kita selama tiga abad,” ucap Lacson dalam pernyataannya.

“Sementara penjajahan menunjukkan kualitas terbaik dari nenek moyang kita dan mengajarkan kita soal kegagahan dan kepahlawanan mereka, masa selama 300 tahun juga mempengaruhi budaya dan perilaku kita sebagai manusia dan yang tidak bisa kita klaim sebagai milik kita secara original,” imbuhnya.
Bagi Lacson, kata ‘Maharlika’ yang telah banyak dibahas saat era pemerintah mendiang diktator Ferdinand Marcos, terdengar lebih bersifat Filipina. “Tanpa embel-embel politik, Maharlika terdengar bagus juga untuk saya,” ucap Lacson mengakui.

Senator Filipina lainnya, Aquilino Pimentel III, memberikan reaksi netral. Dia menyatakan dirinya perlu mempelajari usulan Duterte itu secara mendalam. “Butuh waktu untuk mempelajari usulan itu. Ini hal baru yang datang dari Presiden. Kita juga perlu mengetahui arti sebenarnya dari kata ‘Maharlika’,” ujarnya.

Presiden Senat Filipina, Vicente Sotto III, memberikan reaksi sedikit keras. Sotto menilai Duterte hanya sekadar melontarkan ‘gagasan’ ketika dia menyinggung soal usulan mantan Presiden Marcos mengubah nama negara Filipina.

“Itu hanyalah gagasan. Terlalu banyak implikasi. Salah satunya perubahan konstitusional,” cetus Sotto kepada wartawan setempat, merujuk pada amandemen Konstitusi Filipina tahun 1987 demi mengatur perubahan nama negara.

Reaksi lebih keras dilontarkan Uskup Sorsogon, Arturo Bastes, yang menjabat Ketua Misi untuk Komisi Episkopal pada Konferensi Uskup Katolik Filipina (CBCP). Uskup Bastes menilai nama ‘Maharlika’ lebih cocok untuk nama jalan raya dan bukan nama negara.

“Sungguh tidak baik bagi Duterte untuk mengubah nama negara ini, khususnya pada masa-masa ini saat kita sedang mengingat sejarah. Bahkan seorang diktator Marcos tidak berhasil menyebut negara kita ‘Maharlika’. Biarlah nama ini digunakan untuk jalan raya yang menghubungkan kepulauan kita!” tegasnya.

Ditambahkan Uskup Bastes bahwa dirinya menentang gagasan Duterte itu karena nama ‘Filipina’ terkait dengan kedatangan Kekristenan di negara tersebut.

Pengacara HAM terkemuka, Jose Manuel Diokno menyebut penggantian nama negara seharusnya dikesampingkan. Menurutnya, pemerintah Filipina saat ini seharusnya lebih memprioritaskan pada penyediaan pangan, lapangan pekerjaan dan keadilan bagi rakyat.

(nvc/nvc)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Duterte Ingin Ganti Filipina Jadi Maharlika, Ternyata Salah Terjemahan

Manila – Usulan Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk mengganti nama negara Filipina menjadi ‘Maharlika’ demi menegaskan identitas nasional, menuai polemik. Pakar sejarah menyebut kata ‘Maharlika’ telah disalahartikan sejak lama. Lantas apa arti sebenarnya?

Seperti dilansir media lokal Filipina, Philstar.com, Kamis (14/2/2019), sejumlah sejarawan Filipina berusaha memberikan penjelasan soal salah terjemahan untuk kata ‘Maharlika’ yang oleh Duterte disebut berarti ‘bangsawan’.

Diketahui bahwa Filipina dijajah oleh Spanyol selama lebih dari 300 tahun. Nama negara Filipina berasal dari nama Raja Spanyol Philip II yang berkuasa antara tahun 1556 hingga 1598 silam. Duterte menyebut penggantian nama menjadi ‘Maharlika’ bertujuan untuk menghilangkan keterkaitan kolonialisme pada nama negara Filipina. Juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador Panelo, menyebut nama ‘Maharlika’ dari kata Melayu dipilih untuk merefleksikan identitas Melayu dari warga Filipina.


Sejarawan Xiao Chua yang juga seorang asisten Guru Besar De La Salle University menyebut pemahaman kata ‘Maharlika’ sebagai bangsawan telah menjadi kesalahpahaman umum yang disebabkan oleh ‘salah terjemahan’ pada teks-teks sejarah Filipina.

“Dalam Blair and Robertson, Maharlika salah diterjemahkan sebagai bangsawan,” sebut Xiao Chua yang merupakan sejarawan Filipina keturunan China, kepada Philstar.com. “Ketika kita membaca Bahasa Inggrisnya, kita berpikir bangsawan berarti berdarah kerajaan (darah biru),” imbuh Chua.

‘Blair and Robertson’ merupakan sebutan lain untuk dokumen sejarah ‘The Philippine Islands‘ yang dipublikasikan tahun 1903-1909. Dokumen sejarah sebanyak 55 edisi itu diterjemahkan oleh Emma Helen Blair dan James Alexander Robertson, yang merupakan Direktur Perpustakaan Nasional Filipina tahun 1910-1916. Keduanya menerjemahkan dokumen sejarah itu dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris.

“Tapi William Henry Scott, seorang pakar antropologi dan sejarawan, menyebut ini salah karena apa yang terjadi adalah, warga Amerika yang menerjemahkan dokumen-dokumen berbahasa Spanyol diketahui salah diterjemahkan, meskipun pada akhirnya dibetulkan,” tutur Chua dalam penjelasannya. Scott yang meninggal dunia tahun 1993 lalu, telah mempelajari sejarah dan komunitas pra-Hispanik di Filipina hingga akhir hayatnya.

“Ketika Anda menyebut seseorang itu bangsawan, Anda menyebut ‘dugong bughaw‘ (darah biru), Anda bahkan punya lagu-lagu yang diciptakan saat masa Darurat Militer yang berbunyi ‘ako ay Pilipino, may dugong Maharlika‘ (saya orang Filipina, dengan darah Maharlika),” imbuhnya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Chua bahwa ‘Maharlika’ sebenarnya berarti ‘seseorang yang bebas’. “Orang-orang berpikir, kita ingin nama itu, itu nama yang diromantisir, anggota kerajaan. Tidak, itu (artinya) hanya orang biasa yang bebas,” tegas Chua.

Penjelasan senada disampaikan sejarawan dari Komisi Budaya dan Seni Nasional Filipina, Dr Rolando Borrinaga, dalam keterangan seperti dilansir media lokal Filipina, ABS-CBN News. Borrinaga menegaskan bahwa ‘Maharlika’ sebenarnya berarti ‘orang bebas’ namun telah salah diterjemahkan sebagai kaum bangsawan.

(nvc/ita)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>