Mahmoed Marzuki, Harimau Kampar Kebanggaan Buya Hamka

Liputan6.com, Kampar – Perawakannya biasa saja. Tidak terlalu tinggi, tak juga tegap. Namun suara lantangnya mampu mengobarkan semangat puluhan pemuda di Bangkinang, Kabupaten Kampar, Riau, untuk tidak takut mengibarkan Merah Putih.

Bersama pemuda lainnya, Mahmoed Marzuki dengan langkah pasti masuk ke lapangan Controleur Bangkinang (kini Lapangan Merdeka). Berada di puncak, penghormatan bendera Indonesia itu dilakukannya, diikuti puluhan pemuda lainnya.

Ketakutan dibayangi tentara Sekutu dan Jepang yang masih berkeliaran di Bangkinang, tertutupi semangat nasionalisme pada 11 September 2018 itu. Memang terlalu telat karena kabar Indonesia merdeka baru sampai melalui telegram oleh Mahmoed Marzuki pada 5 September 1945.

“Awalnya direncanakan pada 9 September 1945, tapi karena kondisi masih mencekam di Riau. Sekutu belum mengakui kemerdekaan dan berniat membantu Belanda menjajah lagi,” jelas sejarawan Riau, Prof Dr Suwardi Ms kepada Liputan6.com, Kamis 8 November 2018.

Pembahasan pengibaran bendera memang cukup alot. Kongres yang digelar di daerah Muara Jalai masih membuat masyarakat masih takut. Namun dengan sigap, ‘Harimau Kampar’ itu berdiri dengan suara lantang agar masyarakat tidak takut.

“Kafir penjajah harus segera diusir, tidak boleh takut di negeri sendiri. Nyawalah untuk kemerdekaan ini,” ucap Mahmoed Marzuki yang seketika membakar semangat pemuda kala itu.

Mahmoed Marzuki lahir di Kampar pada tahun 1911. Ragam pendidikan dienyamnya, bahkan sampai ke Aligarh Muslim University India. Sebagai tokoh Muhammadiyah di Riau, dia mulai aktif menyuarakan perlawanan dari sekolah-sekolah yang diajarnya.

“Sekarang masih ada sekolah yang didirikannya dulu, Mualimin di Bangkinang,” sebut Suwardi.

Tak hanya guru, tukang pangkas pernah juga dilakoninya di Selat Panjang pada tahun 1934. Perjuangannya juga sampai ke Sumatera Barat sehingga menjadi kebanggaan Buya Hamka.

“Beliau adalah seorang orator terkenal. Buya Hamka saja mengaguminya,” kata sejarawan lainnya, Abdul Latif Hasyim yang bersama Suwardi meneliti tentang jejak sejarah Mahmoed Marzuki.

Kekaguman Buya Hamka ini, jelas Latif, terbukti ketika tokoh pejuang asal Sumatera Barat itu selalu berpidato. Nama Mahmoed Marzuki selalu disebut Buya Hamka dan menjadi kebanggaanya.

Menurut Latif, ada dua pejuang yang selalu disebut Buya Hamka. Selain Mahmoed, ada pula nama Kasman Singodimedjo (Pahlawan asal Purworejo).

“Kedua nama ini, adalah tokoh muda saat itu yang dibanggakan oleh Buya Hamka. Bangga dengan semangat juang, dan ilmu keagamaan yang dimilikinya. Dua nama ini selalu disebut saat berpidato di Sumatera ini,” jelas budayawan asal Kampar ini.

Di Riau, Kampar khususnya, Mahmoed Marzuki membentuk semacam pergerakan pejuang. Anggotanya tergabung dalam “Harimau Kampar”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *