Madura Kejawan, Orang Madura Berbahasa Jawa

Madura Kejawan bukan hanya di Jarat Lanjang. Ahmadi, pemuka agama dan tokoh masyarakat di sana menyebut setidaknya ada enam dusun atau desa ‘kejawan’ di Bangkalan. Dua desa di Kecamatan Socah, dua desa di Kecamatan Labang dan dua dusun di Kecamatan Kamal.

Di Socah ada Desa Junganyar dan Dusun Kejawan di Desa Socah. Di Kamal ada Kampung Kejawan dan Desa Tanjung Jati. Di Labang sendiri selain Jarat Panjang, juga ada dusun Kejawan di Desa Sukolilo Timur.

“Di semua desa itu, bahasa Jawa jadi bahasa sehari-hari,” tutur Ahmadi.

Di Bangkalan dan di banyak daerah lain di Indonesia ada kampung yang identik dengan identikan etnis tertentu misalnya Pecinan. Istilah ini jadi penanda bahwa kampung itu mayoritas warganya merupakan cina pribumi.

Namun menurut Ahmadi, Madura Kejawan berbeda dengan Pecinan. Dia menegaskan Madura Kejawan adalah orang Madura asli dan bukan keturunan orang Jawa. “Kalau lebaran kami tidak mudik ke Jawa, leluhur kami orang Madura, tidak punya leluhur di Jawa,” ucap dia.

Bila kemampuan berbahasa Jawa warga Jarat Lanjang merata, sebaliknya kemampuan berbahasa Madura terbagi dalam tiga kategori: ada yang fasih, hanya bisa dan sama sekali tidak bisa. Mereka yang fasih bahasa jawa dan madura sekaligus mayoritas sudah manula. Yang muda, tentu fasih berbahasa Jawa, namun sebagian tidak bisa bahasa madura, mereka hanya sebatas mengerti bila orang berbahasa Madura namun sendirinya sulit berkacapa pakai bahasa madura.

Sementara yang masih belia rata-rata tak bisa berbahasa Madura. Mereka umumnya belajar bahasa Madura otodidak di sekolah karena bergaul dengan anak-anak dari desa lain. Karena otodidak, mereka kikuk bahkan tak bisa bahasa Madura halus.

“Istri saya tidak bisa bahasa Madura, tapi paham kalau ada orang bicara Madura, kalau Madura halus sama sekali gak faham dia,” ungkap Sofyan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *