Mabuk Rebusan Pembalut, Bagaimana Menyembuhkannya?

Jakarta – Sejumlah remaja di Jawa Tengah kecanduan rebusan pembalut. Ini dilakukan untuk memunculkan rasa ‘high’ atau ‘nge-fly’. Menenggak rebusan pembalut ini dijelaskan oleh Indra Dwi Purnomo, MPsi, Psikolog Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata yang turut menangani kasus ini, merupakan salah satu fenomena dari kasus kecanduan di kalangan remaja.

“Penyalahgunaannya macem-macem, obat nyamuk bakar yang diemut kayak permen itu juga ada,” jelasnya kepada detikHealth, Rabu (7/11/2018).

Umumnya, pada kasus adiksi, motivational interview akan dilakukan untuk membuat anak menyadari dan termotivasi untuk merubah perilaku. Selain itu dilakukan juga psikoterapi dan Cognitive Behavioral Therapy.


“Kita (psikolog) melakukan psikoterapi, kita mencoba membantu mengubah cara berpikir mereka dengan edukasi, terapi juga dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengubah pikirannya. Ini kan mereka mikirnya ini bisa bikin enak,” jelas pria yang tengah menempuh S3 di Malaysia ini.

Tak hanya itu, upaya untuk melakukan intervensi pada orangtua juga terus diusahakan. Pemantauan akan selalu dilakukan untuk jangka panjang guna memastikan komitmen anak terhindar dari adiksi.

“Kalau kita melakukan intervensi, tidak hanya pada anak-anaknya. Karena anak-anak ini ketika kita periksa keprihatinan terhadap hubungan mereka dengan keluarga. Jadi kalau kita intervensi kalau sekarang yang nampak hanya rebusannya, prekontekstualnya. Namun ada juga prekonstekstual konteks yang artinya seperti itunya kan karena ada hal lain,” tandasnya.

(ask/up)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *