Luhut Yakin Indonesia Bakal Jadi Negara dengan Perekonomian Terbesar di Dunia

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, Pemerintah tengah berusaha menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia. Langkahnya dengan membuat berbagai macam regulasi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Luhut menceritakan, pemerintah saat ini berupaya agar Indonesia tidak terlalu tergiur dengan iming-iming investor luar sebagai negara pengekspor bahan baku saja.

“Investor datang hanya untuk ambil banyak and then ekspor raw material. But today, no more. Pemerintah ingin melihat added value, nilai tambah dari setiap hasil bumi yang dimilikinya,” tegas dia di Jakarta, Sabtu (12/10/2019).

“Kita mulai dengan nikkel or nanti kita juga mulai dengan yang lain, bauksit, sehingga turunannya ini bisa menambah GDP kita lebih besar,” dia menambahkan.

Luhut kemudian coba mengutip proyeksi Standard Charterd yang menyebutkan bahwa Indonesia berpeluang untuk masuk ke dalam daftar lima negara dengan perekonomian terbesar dunia pada 2030.

Berdasarkan proyeksi tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar Purchasing Power Parity (PPP) akan mencapai USD 10,1 triliun pada 2030, serta berada di posisi ke-4 di bawah China, India, dan Amerika Serikat (AS).

Namun, Luhut percaya, Indonesia berpotensi bisa melampaui perkiraan itu. “Saya percaya angka itu akan bisa jauh lebih besar, karena mereka masih menghitung pertumbuhan kita dari ekspor raw material,” ungkapnya.

“Saya ingin pesan, ajaklah anak Anda, orang tua Anda, banggalah jadi orang Indonesia. Indonesia is a great country. Jadi jangan kita pernah sekali-kali merasa bahwa kita ini kelas dua. Indonesia itu kelas yang hebat,” tandasnya.

2 dari 3 halaman

Makro Ekonomi Baik, Indonesia jadi Incaran Investor

Sebelumnya, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Ezra Nazula mengatakan, kondisi makro ekonomi domestik Indonesia saat ini tercatat membaik.

Sejak awal tahun hingga akhir Juli 2019, pasar saham dan obligasi Indonesia mencatatkan kinerja positif dengan naik 3,16 persen dan 9,54 persen secara berurutan. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 2,56 persen pada periode yang sama.

“Selain itu, membaiknya peringkat utang Indonesia dalam 2 tahun terakhir mendorong perbaikan premi risiko yang tercermin pada penurunan credit default swap (CDS). Sementara itu, stabilitas rupiah menjadi kunci penting untuk meningkatkan sentimen investasi dan kepercayaan investor,” tuturnya di Jakarta, Selasa (20/8/2019). 

Di sisi lain, lanjut dia, berkurangnya tensi gejolak politik dan harapan akselerasi policy reform mendorong penguatan pasar saham Indonesia.

“Pasar saham berpotensi mengalami penguatan lebih lanjut dengan dukungan beberapa katalis. Itu seperti pemangkasan lanjutan suku bunga BI, stabilitas politik, dan kabinet pemerintahan baru yang solid terutama di bidang ekonomi,” ujarnya.

Adapun Ezra mengungkapkan, daya tarik pasar saham dan obligasi Indonesia kini tercatat semakin meningkat. “Kenaikan peringkat utang Indonesia yang konsistem dalam 2 tahun terakhir membuat Indonesia menjadi destinasi investasi yang menarik, khususnya bagi pasar obligasi,” pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *