7 Destinasi Seru Terinspirasi Film, dari Mission Impossible hingga Marlina Si Pembunuh dalam 4 Babak

Liputan6.com, Jakarta – Film tak hanya menampilkan cerita menarik, tetapi latar tempat syuting bisa menjadi elemen pemikat mata penonton. Bahkan karena film, sejumlah tempat di dunia bisa dikenal khalayak luas dan bahkan menjadi kunjungan wajib pelancong.

Tak melulu film asing, film Indonesia juga menjadi media promosi efektif tempat wisata yang tak boleh dilewatkan. Anda pasti masih ingat bagaimana Laskar Pelangi mengubah Belitung dari tempat yang tak dikenal menjadi populer bagi turis, terutama dari dalam negeri.

Selain film itu, masih ada destinasi liburan seru yang terungkap lewat film. Laman pemesanan hotel, Agoda merunut sejumlah tempat wisata yang terinspirasi film blockbuster dan sayang untuk dilewatkan.

1. Mission Impossible: Fallout

Jika Anda senang menjadi pahlawan super selama satu atau dua hari, berkunjunglah ke Queenstown, Selandia Baru, tempat Mission Impossible: Fallout merekam adegan aksi helikopternya. Cobalah berwisata naik helikopter dan nikmati olahraga ekstrem Selandia Baru lainnya, mulai dari bungee jumping hingga ski helikopter.

2. Jurassic Park: Fallen Kingdom

Jika Anda lebih menyukai Sci-Fi dan kesempatan untuk bertemu dinosaurus di dunia modern, pergilah ke Oahu, Hawaii yang menjadi lokasi syuting Jurassic Park: Fallen Kingdom.

Destinasi ini tidak hanya menjadi latar belakang yang menawan untuk syuting film tentang makhluk yang telah punah, tetapi juga bagi para pelancong yang mencari tempat liburan yang dikelilingi oleh laut, gunung berapi, olahraga luar ruangan dan alam yang asri.

3. Crazy Rich Asian

Crazy Rich Asians, film komedi romantis yang seluruh pemainnya berdarah Asia itu membuat banyak pelancong berduyun-duyun mengunjungi Singapura. Film ini berlokasi di beberapa titik di Singapura, mulai dari Gardens by the Bay hingga deretan jajanan kaki lima di Newton Food Centre.


2 dari 3 halaman

4. Black Panther

Black Panther merekam adegan pertarungan di kasino yang epik dan kejar-kejaran mobil di Busan, Korea Selatan, sebuah kota yang bisa dibilang lebih indah di malam hari daripada di siang hari.

Meskipun kasino bawah tanah yang glamor itu tidak ada di kehidupan nyata, Anda tetap bisa berpura-pura menikmatinya di salah satu lounge koktail atau klub malam Busan yang megah. Di siang hari, kunjungilah pantai, sumber air panas, kuil, dan tempat-tempat pemujaan di Busan yang tak terekam di film.

5. A Star Is Born

City of Angels alias Kota Los Angeles menjadi latar belakang banyak adegan dalam pembuatan ulang (remake) film A Star is Born, drama romantis tentang musisi country berpengalaman yang ketenarannya dikalahkan oleh pasangannya yang kariernya terus menanjak.

Di sepanjang film, banyak adegan konsernya yang terkenal direkam di sejumlah tempat di Los Angeles, termasuk gedung konser musik Greek Theatre berkapasitas 5.870 kursi, Regent Theatre yang klasik, serta Shrine Auditorium, gedung bersejarah di mana banyak ajang penghargaan film dan musik telah diadakan.

6. Bohemian Rhapsody

Jika Anda lebih suka musik rock klasik daripada country, film biografi pemenang penghargaan yang berkisah tentang salah satu band rock terbaik sepanjang masa ini harus ada dalam daftar film wajib tonton Anda.

Film Bohemian Rhapsody banyak mengambil adegan pertunjukan Live Aid band Queen di Stadion Wembley. Merupakan rumah bagi sepak bola Inggris, Wembley juga masih menjadi salah satu tempat paling populer bagi artis-artis besar untuk tampil.

3 dari 3 halaman

7. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Film yang dibintangi Marsha Timothy sebagai pemeran utama itu berhasil menangkap gambar-gambar cantik Tanah Sumba yang misterius dan berbukit-bukit di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ikuti perjalanan Marlina dengan menunggangi kuda melintasi padang rumput sebelum mengunjungi desa-desa di puncak bukit dan rumah-rumah adat yang dijaga oleh makam-makam megalitik yang menarik.

Pulau yang memiliki sedikit penghuni ini juga merupakan tujuan ideal bagi para pencinta alam yang dapat menikmati danau, air terjun dan taman nasional yang indah di pulau tersebut.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Asops Panglima TNI Tinjau CALFEX Cobra Gold 2019 di Thailand

Sukhothai – Asops Panglima TNI Mayjen Ganip Warsito meninjau the Combined Arm Live Fire Exercise (CALFEX) sebagai bagian dari latihan Cobra Gold 2019 yang melibatkan 29 negara peserta, termasuk Indonesia. CALFEX Cobra Gold 2019 ini dihelat di Thailand.

“Pada Latihan Cobra Gold 2019, TNI mengikutsertakan 51 orang personel dengan rincian 1 Perwira pada Senior Leadership Seminar (SLS), 33 perwira pada Staff Exercise (STAFFEX), 2 perwira pada Table Top Exercise Humanitarian Asistant and Disaster Relief (TTX HADR), 7 peterjun dan 3 Sniper pada CALFEX dan 5 Personel pada Engineering Civic Action Program (ENCAP),” ujar Kabidpeninter Puspen TNI Kolonel Laut (KH) Agus Cahyono dalam keterangannya, Jumat (22/2/2019).

Mayjen Ganip di sela-sela kegiatan menyampaikan bahwa latihan ini sangat bermanfaat bagi personel TNI yang terlibat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan wawasan internasional guna menunjang pelaksanaan tugas ke depan.

“Selanjutnya Asops Panglima TNI juga menyampaikan bahwa lingkungan strategis di kawasan Asia-Pasifik penuh dinamika yang berdampak pada timbulnya benturan-benturan kepentingan antar negara,” ujar Agus.

Agus menambahkan, kehadiran Mayjen Ganip di Thailand atas undangan Panglima Angkatan Bersenjata Thailand, Jenderal Pornpipaat Benyasri untuk menyaksikan secara langsung jalannya latihan bersama dengan para pejabat Angkatan Bersenjata antara lain Korea Selatan, Singapura, Jepang, dan Malaysia.

“Dengan keikutsertaan TNI dalam kegiatan berskala Internasional akan berdampak positif bagi kesiapan TNI menghadapi militer di kawasan regional dan mendukung diplomasi Indonesia di forum-forum internasional,” terang Agus.
(dkp/eva)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bijih Uranium Ditemukan di Museum Grand Canyon, Wisawatan Dalam Bahaya

Liputan6.com, Arizona – Selama hampir 20 tahun, tiga dari lima ember cat (setara dengan 19 liter air), ditempatkan di dekat pameran taksidermi di gedung koleksi museum Taman Nasional Grand Canyon, Arizona, Amerika Serikat.

Ketiga ember itu, ternyata, tidak berisi pewarna tembok, namun bijih uranium –batuan alami yang kaya akan uranium, mengeluarkan radiasi yang berpotensi berbahaya bagi makhluk hidup di Bumi. Tak ada satu pun orang yang mengetahui isinya sebelum ini.

Elston “Swede” Stephenson, seorang manajer kesehatan dan kebugaran di taman South Rim, adalah orang yang mengklaim menemukan uranium tersebut. Selanjutnya, ia mengabarkan ke publik melalui serangkaian email ke Kongres, rekannya di National Park Service dan staf di koran The Arizona Republic.

Stephenson memperingatkan bahwa ribuan pegawai, wisatawan, dan kelompok sekolah yang mengunjungi pameran tersebut antara tahun 2000 dan 2018, kemungkinan terpapar dengan radiasi yang berbahaya, terutama anak-anak yang duduk selama 30 menit di sekitar uranium.

Bocah-bocah ini mungkin telah terjangkit sekitar 1.400 kali dosis radiasi yang aman, yang distandarkan oleh Nuclear Regulatory Commission, Stephenson menulis. Namun, beberapa ahli menegaskan bahwa penilaian Stephenson tidak berdasar.

“Jika waktu yang dihabiskan di dekat bijih itu pendek, kemungkinan ada sedikit alasan untuk khawatir,” Bill Field, seorang profesor Kesehatan Kerja dan Lingkungan di University of Iowa, mengatakan kepada Live Science dalam email, sebagaimana dikutip pada Jumat (22/2/2019).

Seiring waktu, uranium dapat terurai menjadi bahan radioaktif seperti radium, dan melepaskan gas berbahaya seperti radon. Studi tentang penambangan uranium telah menunjukkan bahwa kontak yang terlalu lama dengan produk peluruhan uranium dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker.

Menurut F. Ward Whicker, seorang ahli radioekologi dan profesor emeritus di Colorado State University, bijih uranium mampu memancarkan partikel gamma –jenis radiasi yang paling berbahaya.

“Jumlah paparan radiasi dari sumber terestrial alami dan sinar kosmik galaksi, jauh lebih tinggi daripada yang disadari kebanyakan orang,” kata Whicker kepada Live Science dalam email.  “Kehidupan berkembang di lingkungan radiasi konstan ini, karena mekanisme perbaikan DNA beroperasi secara efisien dan cepat dalam sel –asalkan intensitas paparan radiasi berada dalam level tertentu.”

Modi Wetzler, seorang profesor kimia di Clemson University yang mempelajari limbah nuklir, mengatakan kepada The Arizona Republic bahwa, di samping membahayakan tubuh jika dihirup, namun sinar gamma mudah diserap dan tidak berbahaya bila jumlahnya hanya beberapa inci di udara, atau bahkan di luar lapisan kulit mati seseorang.

Setelah seorang remaja dengan sebuah konter Geiger (alat yang digunakan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi pengion) secara tidak sengaja menemukan ember bijih di museum pada Maret 2018, Parks Service meluncurkan penyelidikan singkat untuk menguji tingkat radiasi di dalam dan sekitar gedung.

Menurut laporan mereka (yang dikutip Stephenson dari The Arizona Republic), kontak langsung dengan bijih uranium menghasilkan tingkat radiasi kira-kira dua kali lipat dosis tahunan aman yang dipatok oleh Nuclear Regulatory Commission.


Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Langkah Selanjutnya

Bijih uranium telah dibuang di tambang uranium terdekat. Sementara itu, Park Service, U.S. Occupational Safety and Health Administration dan Arizona Bureau of Radiation Control sekarang menyelidiki museum dan bangunannya.

Menurut Emily Davis, Grand Canyon National Park Public Affairs Officer, tingkat radiasi di lokasi tersebut normal dan aman.

“Sebuah survei baru-baru ini dari fasilitas pengumpulan data museum Taman Nasional Grand Canyon menemukan tingkat radiasi di sana masih bertaraf rendah –jumlah yang umumnya ada di lingkungan– dan di bawah tingkat kepedulian terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat,” Davis mengatakan kepada NPR.

“Tidak ada risiko berbahaya saat ini untuk karyawan publik atau Grand Canyon. Fasilitas pengumpulan data museum masih terbuka untuk umum dan rutinitas kerja terus berjalan seperti biasa.”

Meskipun mungkin tampak diabaikan, bijih uranium diduga meningkatkan kadar radon di dalam gedung museum, kata Field kepada Live Science.

“Fasilitas itu harus melakukan pengujian radon,” ungkap Field. “Namun, dalam jangka panjang, potensi paparan dari radon, dari sumber alami di tanah dan batuan di bawah fasilitas tersebut, kemungkinan akan menjadi sumber radiasi terbesar bagi masyarakat dan pekerja.”

Samsung Galaxy S10 Punya Varian 5G

San Francisco – Sesuai bocoran dan prediksi, Samsung merilis Galaxy S10 dengan varian 5G. Apa keunggulannya?

Vendor asal Korea Selatan itu menuturkan dengan 5G, pengguna dapat mengunduh satu season serial TV dalam hitungan menit. Memainkan game kaya grafis tanpa jeda, obrolan video real-time 4K serta pengalaman VR dan AR pun makin ditingkatkan.

“Untuk augmented reality, ini akan menjadi game-changer. Ini akan terasa lebih nyata,” Drew Blackard, Director of Product Marketing at Samsung Electronics saat memaparkan Galaxy S10 5G.

Untuk memaksimalkan pengalam 5G, Samsung membuat ponselnya dengan layar yang sangat lapang. Ukurannya 6,7 inch dengan Infinity-O, sehingga memaksimalkan tampilan konten.

Samsung menyokong Galaxy S10 5G dengan baterai berkapasitas 4.500 mAh. Dengan teknologi charging 25W membuat pengisian daya lebih cepat.

Samsung Galaxy S10 Punya Varian 5GFoto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET

Menariknya raksasa teknologi asal Korea Selatan itu menyematkan kamera 3D Depth di bagian belakang ponsel. Jadi kita akan melihat adanya 4 kamera di sana.

Nah dengan adanya kamera 3D, dapat bantu menangkap gambar tiga dimensi dengan fitur lainnya, seperti Live Focus dan Automatic Ruler.

Bukan Samsung bila tidak mempersiapkan ekosistem dengan baik. Karenanya mereka menggandeng sejumlah operator dunia yang telah dan akan menggelar layanan 5G.

Samsung tidak mengumumkan ketersediaan Galaxy S10 5G. Begitu pula harga ponsel ini, tapi dengan teknologi baru tersebut, rasanya akan dibanderol lebih tinggi dari Galaxy S10+.

Terlepas dari itu, pertanyaannya adalah apakah Galaxy S10 5G akan mendarat di Indonesia? detikINET merasa pesimis, sebab belum ada operator seluler di Tanah Air yang menggelar layanan 5G. Walaupun dibawa oleh Samsung Indonesia, kemampuan utama ponsel ini belum bisa dinikmati. (afr/afr)

Membedah Kamera Samsung Galaxy S10 dan Galaxy S10 Plus

Liputan6.com, San Fransisco – Sama seperti sebelumnya, Samsung kembali menawarkan kemampuan kamera yang mumpuni di Galaxy S10 dan Galaxy S10 Plus. Oleh sebab itu, perusahaan asal Korea Selatan tersebut melakukan sejumlah pembaruan di smartphone anyar ini.

Salah satunya adalah untuk kali pertama Samsung menghadirkan tiga kamera belakang untuk Galaxy S10 dan Galaxy S10 Plus. Menurut Mobile Product Strategy and Marketing Samsung, Suzanne De Silva, kamera smartphone ini menawarkan kemampuan setingkat profesional.

Sekadar informasi, tiga kamera belakang yang ada di Galaxy S10 dan Galaxy S10 Plus adalah lensa ultra wide beresolusi 16MP yang mampu menangkap hingga 123 derajat, lensa wide-angle beresolusi 12MP, dan lensa telephoto beresolusi 12MP.

“Lensa Ultra Wide begitu mengagumkan. Dengan lensa ini, apa yang dilihat mata manusia sama dengan hasil foto yang ditampilkan. Hadirnya lensa ini mengubah fotografi landscape,” tuturnya saat peluncuran Samsung Galaxy S10 dan Galaxy S10 Plus di San Fransisco, Amerika Serikat (21/2/2019).

Sementara untuk lensa Telephoto mendukung kemampuan 2x optical zoom dan 10x digital zoom. Untuk lensa 12MP wide angle, Samsung kembali menghadirkan kemampuan dual aperture dengan lensa bukaan f/1.5 dan f/2.4 yang dapat berubah secara otomatis sesuai kebutuhan.

Peningkatan juga dilakukan dari sisi fitur untuk mendukung hasil pengambilan gambar. Hal ini tidak lepas dari dukungan hardware Galaxy S10 yang kini dipersenjatai Neural Processing Unit (NPU) generasi terbaru.

2 dari 3 halaman

Kemampuan Scene Optimize

Suzanne menuturkan fitur scene optimizer di Galaxy S10 kini bisa mengenali dan memproses pengaturan secara lebih akurat. Saat ini, scene optimizer bisa mengenali 30 scene berbeda, naik dari 20 scene di Galaxy Note 9.

Tidak hanya itu, kemampuan Live Focus juga ditingkatkan untuk memungkinkan pengguna melakukan kustomisasi hasil foto dengan efek artistik. Perlu diketahui, Galaxy S10 dan Galaxy S10 Plus menggunakan metode berbeda untuk menjalankan fitur ini.

Khusus untuk Galaxy S10 Plus, fitur ini didukung dengan kehadiran dua kamera depan. Sementara Galaxy S10 memanfaatkan kemampuan NPU untuk menjalankan fitur ini.

Dari sisi perekaman video, Samsung juga melakukan perbaikan dengan kehadiran fitur Super Steady yang pertama di smartphone. Kehadiran fitur ini menawarkan stabilisasi video tiga kali lebih baik dari teknologi konvesional.

“Baik kamera depan dan belakang dapat merekam video berkualitas UHD, sedangkan kamera belakang mampu merekam video hingga HDR 10+, menjadi yang pertama di industri,” tutur Suzanne menjelaskan.

3 dari 3 halaman

Samsung Galaxy S10, S10 Plus, dan S10e Resmi Meluncur di San Francisco

Samsung akhirnya mengumumkan seri flagship Galaxy S10 di San Francisco, Amerika Serikat (AS), pada Rabu (20/2/2019) atau Kamis (21/2/2019) dini hari, waktu Indonesia.

Perusahaan memyuguhkan serangkaian peningkatan performa untuk lini Galaxy S10, yang kehadirannya sekaligus menandai 10 tahun seri flagship tersebut.

Samsung untuk pertama kalinya, menghadirkan tiga varian dari seri flagship Galaxy. Ketiganya adalah Galaxy S10 Plus, Galaxy S10, dan Galaxy S10e.

Dari ketiganya, hanya Galaxy S10 Plus dan S10 yang memiliki fitur pemindai sidik jari di dalam layar. Fitur keamanan baru ini menggunakan sensor sidik jari ultrasonic. Samsung mengklaim teknologi baru ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi.

“Samsung selalu berupaya mendorong inovasi melampaui batas. Karenanya, kami menghadirkan smartphone dengan user interface yang lebih intuitif, keamanan yang lebih baik, performa lebih cepat, layar lebih besar. Ladies and Gentleman, perkenalkan Galaxy S10 Plus,” tutur President of Samsung Electronics DJ Koh saat peluncuran Galaxy S10. 

(Din/Dam/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: