Letusan Senjata Hentikan Ribut di KPU Riau

Liputan6.com, Pekanbaru- Ratusan orang dari dua kubu berbeda berunjukrasa di depan kantor komisi pemilihan umum (KPU) Riau. Saat beraksi, aneka benda berterbangan. Dari kayu hingga botol minuman mineral beterbangan ke arah polisi dan tentara yang berusaha mengamankan demonstrasi berujung anarki itu.

Tembakan air dari mobil water canon petugas dan gas air mata tak menyurutkan langkah mereka mendekati gedung KPU sebagai protes terjadinya kecurangan perhitungan suara Pemilu. Pasukan bertameng dan bertongkat yang sejak awal mengamankan aksi ditarik mundur.

Tak lama kemudian, pasukan bersenjata lengkap dikerahkan menghadang massa aksi yang kian tak terkendali. Tembakan senjata api laras panjang dilepaskan ke udara, tapi tetap tak menggentarkan massa untuk mengacaukan perhitungan suara.

Petugas lalu mengarahkan senjata ke massa aksi. Muntahan peluru terdengar beberapa kali dan pendemo mulai kalang kabut. Di jalanan, beberapa pendemo terkapar terkena tembakan.

Beberapa petugas lalu maju ke depan membawa anjing K-9 untuk mengamankan pendemo yang roboh dan dibawa ke ambulance. Pendemo ini diduga sebagai provokator yang membuat massa beringas.

Usai tembakan ini, satu persatu massa aksi bubar. Petugas lalu menyisir beberapa titik untuk mencari provokator lainnya sehingga tak muncul lagi aksi susulan yang bisa saja anarkis lagi.

Rangkaian peristiwa di atas merupakan simulasi pengamanan Pemilu oleh Kepolisian Daerah Riau, Komando Resort Militer Wirabima 031 Bukitbarisan, dan Pemerintah Provinsi Riau. Kegiatan ini digelar untuk memastikan pengamanan rangkaian Pemilu mulai dari pencoblosan hingga pleno penetapan.

“Dalam simulasi ini petugas mampu mengantisipasi bentrok, artinya kita siap mengadapi Pemilu besok di Riau,” ungkap Kapolda Riau Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo di halaman Kantor Gubernur Riau yang dalam simulasi digambarkan sebagai kantor KPU, Jum’at (22/3/2019).

Simak video menarik berikut: 

simak video pilihan berikut

Tim Ilmuwan Inggris Ungkap Penyebab Letusan Gunung Agung Bali 2017

Denpasar – Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications dianggap bisa meramalkan letusan di masa depan dari Gunung Agung di Bali.

Salah satu yang terpenting adalah ditemukannya bukti geofisika, yang kemungkinan merupakan sistem pipa vulkanik yang saling terhubung antara Gunung Agung dengan Gunung Batur. 

Letusan Gunung Agung sebelumnya pada tahun 1963 menewaskan hampir 2.000 orang dan diikuti oleh letusan-letusan kecil di gunung berapi tetangganya, Gunung Batur.

Karena peristiwa masa lalu ini adalah salah satu letusan gunung berapi paling mematikan di Abad ke-20, maka upaya besar dikerahkan oleh komunitas ilmuwan untuk memantau dan memahami bangunnya kembali aktivitas Gunung Agung.

Dalam erupsi terbaru pada November 2017, dua bulan sebelum letusan, tiba-tiba terjadi peningkatan sejumlah gempa kecil di sekitar gunung berapi yang tidur selama 54 tahun itu. Peristiwa ini memicu evakuasi sekitar 100.000 orang.

Menggunakan citra satelit Sentinel-1

Tim ilmuwan dari Fakultas Ilmu Kebumian University of Bristol, yang dipimpin oleh Dr. Juliet Biggs, menggunakan citra satelit Sentinel-1 yang disediakan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk memantau deformasi tanah di Gunung Agung.

“Dari pemantauan jarak jauh, kami dapat memetakan setiap gerakan tanah, yang mungkin merupakan indikator bahwa magma segar bergerak di bawah gunung berapi,” ujar Biggs yang dikutip dari DW Indonesia, Rabu (20/2/2019).

Dalam studi terbaru, yang dilakukan dengan menggandeng Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Indonesia (CVGHM), tim ini mendeteksi kenaikan sekitar 8-10 cm di sisi utara gunung berapi selama periode aktivitas gempa bumi yang hebat.


Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Sistem Pipa yang Terhubung

Dr. Fabien Albino, dari Bristol School of Earth Sciences menambahkan: “Yang mengejutkan adalah kami memperhatikan bahwa baik aktivitas gempa dan sinyal deformasi tanah terletak lima kilometer dari puncak, yang berarti bahwa magma bergerak ke samping serta vertikal ke atas.”

“Studi kami memberikan bukti geofisika pertama bahwa Gunung Agung dan Gunung Batur mungkin memiliki sistem pipa vulkanik yang terhubung,” lanjutnya.

Tim peneliti menyebutkan: “Temuan ini memiliki implikasi penting bagi peramalan letusan dan bisa menjelaskan terjadinya letusan simultan seperti pada tahun 1963.”

Studi tersebut didanai oleh Pusat Pengamatan dan Pemodelan Gempa Bumi, Gunung Berapi, dan Tektonik (COMET), sebuah pusat penelitian terkemuka dunia yang berfokus pada proses tektonik dan vulkanik dengan menggunakan teknik observasi Bumi.

Sejarah Letusan Gunung Bromo

Liputan6.com, Jakarta – Fajar baru saja muncul saat Gunung Bromo di Jawa Timur meletus. Kolom abu terlihat berwarna putih hingga cokelat dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal.

Peristiwa alam ini terjadi pukul 06.00 WIB, Selasa 19 Februari 2019. Warga dan wisatawan dilarang mendekati kawah Gunung Bromo. Meski demikian aktivitas penerbangan masih normal.

Gunung Bromo merupakan satu dari lima gunung yang terdapat di komplek Pegunungan Tengger di laut pasir. Gunung berapi ini masih berstatus aktif. Letusan demi letusan terus terjadi.

Sebelum meletus pada 2019, Gunung Bromo tercatat mengalami lebih dari 50 erupsi sejak 215 tahun yang lalu pada 1804. Bagaimana sejarah letusannya? Simak dalam Infografis berikut ini:

2 dari 2 halaman

Infografis

HEADLINE: Gempa Magnitudo 5,6 Malang Disusul Erupsi Gunung Bromo, Terkait?

Liputan6.com, Jakarta – Dua peristiwa alam dengan waktu berdekatan terjadi di Jawa Timur. Gempa dengan magnitudo 5,9 yang kemudian dimutakhirkan menjadi magnitudo 5,6 menggoyang Malang, Selasa (19/2/201) pukul 02.30 WIB. Lindu dengan kedalaman 10 kilometer tersebut dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Tak lama berselang, Gunung Bromo, yang letak geografisnya tak jauh dari Malang, erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik putih kecoklatan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut, erupsi terjadi sekitar pukul 06.00 WIB. Tinggi kolom abu teramati kurang lebih 600 meter di atas puncak (± 2.929 m di atas permukaan laut). Status Bromo pun naik menjadi Level II atau Waspada.

Dua peristiwa alam ini pun mengundang tanya, adakah keterkaitan antara gempa Malang dengan erupsi Bromo?

Ahli Geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Amien Widodo berpendapat, gempa Malang dan erupsi Bromo adalah dua peristiwa alam yang berbeda.

“Jalannya beda-beda. Sistemnya sendiri-sendiri dan letaknya beda jauh,” ujar Amien saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (19/2/2019).

Dia menyebut, gempa Malang terjadi karena tumbukan lempeng Samudra Hindia dan Eurasia. 

“Beberapa bulan terakhir Malang Selatan memang sering gempa. Terakhir ya pagi tadi itu hingga magnitudo 5, terasa dampaknya,” ujarnya.

Sedangkan untuk Bromo, Amien menyatakan erupsi merupakan fenomena yang biasa terjadi karena memang saat ini sudah waktunya gunung itu aktif.

“Kalau memang aktif, ya aktif, memang begitu. Seperti orang hamil, ketika tiba masanya ya mbrojol, mengeluarkan abu panas,” tuturnya.

Amien menjelaskan, erupsi Bromo yang terakhir terjadi pada 2010 dan pada 2019 ini kembali terjadi.

“Jadi kisaran waktu erupsi Gunung  Bromo itu terjadi sembilan tahun sekali, kayak Gunung Merapi, mirip-mirip,” katanya.

Infografis Letusan Gunung Bromo (Liputan6.com/Abdillah)

Penegasan serupa disampaikan Adi Susilo. Kepala Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya Malang ini berpendapat, gempa Malang dan erupsi Bromo tak terkait. Fenomena itu adalah keseimbangan alam yang normal terjadi.

“Justru jika tidak terjadi gempa dan aktivitas vulkanik di Gunung Bromo, masyarakat Malang dan sekitarnya patut waspada,” jelasnya kepada Liputan6.com Selasa, (19/2/2019). 

Dia menyatakan, waktu gempa dan letusan Bromo yang berdekatan itu, hanya kebetulan. Menurut Adi, titik kedalaman gempa Malang sangat dangkal, jika dipotong ke utara tidak akan menyentuh kelompok magma Bromo.

Dekan Fakultas Matematika dan IPA (Mipa) Universitas Brawijaya ini menyebut, dua fenomena alam itu memang harus rutin terjadi. Pelepasan energi yang bisa mengurangi potensi terjadi gempa maupun letusan gunung berapi yang jauh lebih besar.

Gempa yang terjadi di selatan Malang disebabkan kerak atau lempeng patahan bumi di kawasan ini termasuk tua. Sehingga sangat sering terjadi gempa bumi berkekuatan besar yang bisa terekam maupun gempa kecil yang tak bisa terekam oleh seismograf.

“Kalau sering terjadi gempa itu lebih baik karena terus melepas energi. Berbahaya jika tak ada, patahan berpotensi terjadi gempa berkekuatan besar,” ucap Adi Susilo.

Sedangkan Bromo yang termasuk gunung berapi aktif, sangat wajar jika terjadi gempa tremor yang terus-menerus. Kolom di dalam kawah gunung berapi purba ini juga terbuka, melepas energi dengan bentuk aktivitas vulkanik yang rutin.

“Pelepasan energi di Bromo seperti yang terjadi hari ini masih wajar. Berbahaya kalau aktivitasnya berhenti, itu bisa terjadi erupsi dalam skala lebih besar,” ulas Adi.

Karena itulah, gempa yang mengguncang Malang dini hari tadi tak ada korelasinya dengan aktivitas vulkanik di Gunung Bromo. Ini sekaligus memberi sinyal pada pemerintah daerah agar selalu siap siaga jika terjadi bencana alam.

“Mudah–mudahan kekuatan gempa dan letusan Bromo tetap kecil seperti hari ini. Sehingga tak ada potensi terjadi bencana lebih besar,” kata Adi Susilo.

Terpisah, Peneliti utama kegempaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja menyatakan, gempa tektonik bisa saja mempengaruhi erupsi gunung.

Dia mencontohkan kejadian di Sumatera pada 2007. Saat itu gempa di Singkarak diikuti letusan Gunung Talang Sumatera Barat tidak lama setelah gempa.

“Intinya gelombang gempa itu bisa membuat tekanan magma naik, karena timbul gelembung udara di magma. Kalau kebetulan ada gunung api yang magmanya penuh terus ada gempa, ya dia berpengaruh,” jelasnya, Selasa (19/2/2019). 

Hanya, Hilman tidak bisa memastikan apakah kasus gempa Malang juga berkorelasi dengan erupsi Bromo.

“Saya belum lihat persis datanya. Jadi belum bisa bilang banyak. Kemungkinan besar sih enggak,” ujarnya Danny.

Penegasan gempa Malang tak terkait letusan Bromo juga disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). 

Kabid Humas BMKG Taufan Maulana menyatakan, gempa magnitudo 5,6 di Malang adalah aktivitas tektonik di Samudra Hindia, 170 km selatan Malang. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar naik (thrust fault).

“Sementara ini kita simpulkan tidak ada kaitan (dengan letusan Bromo),”ungkapnya kepada Liputan6.com, Selasa (19/2/2019) 

Pihaknya masih berkoordinasi detailnya soal apakah aktivitas tektonik ini menimbulkan dampak kepada aktivitas vulkanik di Gunung Bromo.

Terlepas itu, pihaknya mengimbau warga Malang dan sekitarnya selalu waspada, tetapi tidak perlu terlalu khawatir dan takut.

“Harapan kita gempa ini memang sebuah proses alamiah yang wajar yaitu proses pelepasan energi gempa dan tidak menimbulkan kerusakan,” ujarnya.

2 dari 4 halaman

Kode Vona Oranye

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan kode Volcano Observatory Notice for Aviation (Vona) warna oranye menyusul hujan abu di Bromo.

Kode tersebut menjadi petunjuk penerbangan bagi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan 3 Bandara di Jawa Timur, yakni Bandara Juanda Surabaya, Bandara Abdurrahman Saleh Malang dan Bandara Blimbingsari Banyuwangi.

Kode Vona oranye artinya ketinggian abu di bawah 5.000 meter di atas permukaan laut. Kode itu dikeluarkan menyusul meningkatnya aktivitas kegempaan di Bromo. Asap tebal membubung setinggi hampir 700 meter dari puncak kawah Bromo, sejak Senin 18 Februari 2019.

Kolom asap itu, juga membawa material abu vulkanik. Sehingga mengakibatkan hujan abu tipis di sekitar Bromo.

Kode Vona oranye juga menunjukkan bahwa abu yang dikeluarkan gunung api intensitasnya rendah. Laporan Vona berisikan informasi waktu letusan, tinggi letusan serta warna abu.

Pada Selasa pukul 06.00 WIB, dilaporkan tinggi kolom abu sekitar 600 meter dari atas puncak (2.929 meter di atas permukaan laut).

Informasi dari Darwin VAAC (Volcanic Ash Advisory Center) menyebut sebaran abu vulkanik masih belum terdeteksi.

“Kami akan memantau perkembangannya untuk update ke depan. Akan tetapi tetap waspada bagi penerbangan,” ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Wilayah III Juanda Teguh Tri Susanto, Selasa (19/2/2019).

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Bandara Abdulrahman Saleh Malang Suhirno mengatakan, aktivitas penerbangan di bandara tak terganggu dengan kondisi Bromo.

“Situasi tetap aman. Tak terdampak apapun dan tetap beroperasi seperti biasa,” kata Suharno, Selasa (19/2/2019).

Dia menyatakan, sejauh ini otoritas bandara tak menerima informasi atau pemberitahuan yang bersifat mendesak. Baik dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) maupun dari Kementerian Perhubungan yang bisa menyebabkan pembatalan jadwal penerbangan.

“Tidak ada pembatalan karena memang normal-normal saja kondisinya,” ujar Suharno.

Secara keseluruhan Bandara Abdulrahman Saleh Malang melayani 14 jadwal penerbangan setiap harinya. Dengan sebagian besar melayani rute Malang-Jakarta. Tak ada satu pun jadwal yang ditunda atau dibatalkan terkait aktivitas Bromo.

3 dari 4 halaman

Bromo Tetap Aman Dikunjungi

Meski ‘batuk’ dan mengeluarkan abu vulkanik, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNTBS) menyebut kawasan wisata Bromo tetap aman dikunjungi. 

“Berdasarkan pengamatan di lapangan, kondisi Bromo kondusif, seperti hari-hari biasanya,” ujar Kepala Balai Besar John Kenedie, Selasa (19/2/2019). 

Berdasarkan informasi dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) Pos Pengamatan Gunungapi (PPGA) Bromo yang berada di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, disebutkan aktivitas Bromo Level II atau Waspada.

Sementara cuaca dilaporkan dalam kondisi cerah, berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah timur laut, timur, tenggara, selatan, dan barat daya, dan barat. Suhu udara 12-20 °C, kelembaban udara 0-0 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

Secara visual, Bromo terlihat meski berkabut. Asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dan coklat. Asap ini dengan intensitas tipis hingga tebal dengan tinggi mencapai 700 meter atas puncak kawah. Dengan Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5-1 mm, dominan 1 mm.

“Secara umum kondisi Bromo masih kondusif. Dengan potensi kesiap-siagaan yang harus ditingkatkan, yakni kewaspadaan dan mematuhi arahan dan instruksi pengelola TNBTS dan PVMBG,” lanjut John Kenedie.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Bromo Wahyu Andiran Kusuma menambahkan, meski kondusif warga dan juga wisatawan diminta mematuhi radius aman sejauh 1 kilometer dari kawah Bromo.

PGA Gunung Bromo tak bisa memastikan apakah gunung suci Suku Tengger ini akan kembali turun atau malah naik aktivitas vulkaniknya. Namun apapun perubahannya bakal segera diinformasikan secepatnya ke masyarakat.

“Warga maupun wisatawan tetap bisa ke Bromo, tapi tak boleh mendekat kawah. Jika ada perubahan dalam waktu dekat, segera kami informasikan,” katanya.

Wahyu menyatakan, sampai saat ini status Bromo masih waspada. Bromo status siaga terakhir kali pada medio Desember 2015 – Juli 2016. Erupsi saat itu ditandai dengan letusan sampai material abu vulkanik tinggi. Tapi statusnya kembali diturunkan ke level waspada sejak 20 Juli 2016 setelah erupsi surut.

“Jadi kalau ada informasi statusnya siaga bisa dipastikan itu hoaks,” tegasnya.

Sejak erupsi terakhir itu pula, aktivitas vulkanik Bromo fluktuatif. Namun, gejala perubahan aktivitas mulai tampak pada Desember 2018 sampai Januari 2019 lalu. Saat itu sempat terjadi beberapa kali gempa vulkanik di dalam kawah.

“Tapi cirinya tetap sama, dari dalam kawah hanya mengeluarkan asap putih. Itu masih tanda normal,” ujar Wahyu.

Perubahan mulai terjadi dalam dua hari terakhir ini. Kawah mengeluarkan asap kecokelatan disertai material abu vulkanik setinggi 600 meter. Disertai intensitas tipis tremor 0,5 – 1 milimeter. Namun, puncak gunung masih tampak jelas dengan sesekali tertutup kabut.

“Jadi sejak dua hari terakhir ini bisa disebut ada erupsi, tapi levelnya masih kecil,” pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Benarkah Gempa Bumi Bisa Memindahkan Jutaan Karbon ke Palung Laut?

Liputan6.com, Tokyo – Pada 2011, gempa bermagnitudo 9,0 berkecamuk di lepas pantai Tohoku, Jepang, dan memicu tsunami besar yang menewaskan lebih dari 15.000 orang.

Efek global dari gempa Tohoku –yang sekarang dianggap sebagai lindu terkuat keempat sejak pendataan dimulai pada 1900– masih dipelajari.

Sejak saat itu, para ilmuwan memperkirakan bahwa gempa tersebut telah mendorong pulau utama Jepang sejauh 2,4 meter ke arah timur, menjebloskan daratannya sedalam 25 cm dari porosnya dan memperpendek hari menjadi sepersejuta detik, NASA melaporkan pada tahun 2011.

Tetapi bagi Arata Kioka, seorang ahli geologi di University of Innsbruck di Austria, efek gempa paling menarik dan misterius tidak dapat dilihat dengan satelit, tapi hanya dapat diukur di jurang terdalam samudra.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan pada 7 Februari di jurnal Scientific Reports, Kioka dan rekan-rekannya mengunjungi Japan Trench –zona subduksi (di mana satu lempeng tektonik berada di bawah lempeng yang lain) di laut Pasifik, yang berada lebih dari 8.000 meter di titik terdalamnya.

Ia ingin menentukan banyaknya bahan organik yang dibuang di lokasi tersebut oleh gempa bersejarah itu. Tim menemukan bahwa sekitar satu teragram –atau 1 juta ton– karbon telah dibuang ke palung (Japan Trench) setelah gempa bumi Tohoku dan gempa susulan berikutnya.

“Ini jauh lebih dari yang kami harapkan,” kata Kioka kepada Live Science, yang dikutip oleh Liputan6.com pada Selasa (19/2/2019).

Tempat Terdalam Bumi

Jumlah besar karbon yang direlokasi oleh gempa bumi mungkin memainkan peran penting dalam siklus karbon global –proses alami dan lambat yang membuat karbon berputar melalui atmosfer, lautan dan semua makhluk hidup di Bumi, kata Kioka.

Palung Jepang adalah bagian dari zona hadal (terinspirasi dari Hades, dewa Yunani dari dunia bawah laut), yang mencakup tempat-tempat yang tersembunyi di lebih dari 3,7 mil (6 kilometer) di bawah permukaan laut.

“Zona hadal hanya menempati 2 persen dari total luas permukaan dasar laut,” jelas Kioka kepada Live Science. “Dan area ini mungkin kurang dieksplorasi, ketimbang Bulan atau Mars.”

Pada serangkaian misi yang didanai oleh beberapa lembaga sains internasional, Kioka dan rekan-rekannya menjelajahi Palung Jepang sebanyak enam kali, antara 2012 dan 2016.

Selama pelayaran ini, kru menggunakan dua sistem sonar yang berbeda untuk membuat peta resolusi tinggi tentang kedalaman palung.

Trik ini memungkinkan mereka untuk memperkirakan banyaknya sedimen baru yang telah ditambahkan ke dasar palung, seiring berjalannya waktu usai gempa dahsyat 2011 silam.

Untuk melihat perubahan kandungan kimia dalam sedimen itu, tim riset menggali beberapa inti sedimen dengan cara memanjang, dari bagian bawah palung.

Dalam panjang hingga 10 meter, masing-masing inti ini berfungsi sebagai semacam lapisan geologis yang menunjukkan cara serpihan-serpihan materi dari daratan dan laut menumpuk di bagian bawah palung.

Beberapa meter sedimen tampaknya telah dibuang ke palung pada tahun 2011, menurut Kioka. Ketika timnya menganalisis sampel sedimen ini di laboratorium yang ada di Jerman, mereka dapat menghitung jumlah karbon di setiap intinya.

Kru memperkirakan bahwa jumlah total karbon yang ditambahkan di seluruh palung mencapai satu juta ton.

Sebagai perbandingan, sekitar 4 juta ton karbon dikirim ke laut setiap tahun dari pegunungan Himalaya melalui sungai Gangga-Brahmaputra, Kioka dan rekan-rekannya menulis dalam studi mereka.

Seperempat dari jumlah itu akan berakhir di Palung Jepang setelah peristiwa seismik tunggal pada 2011.

Namun, Kioka dan rekannya masih belum mengetahui bagaimana karbon yang dibuang ke tempat-tempat terdalam Bumi masuk ke dalam siklus yang lebih luas.

Kendati demikian, zona subduksi seperti Palung Jepang mungkin telah membukakan sedimen karbon jalur yang relatif cepat ke interior Bumi, di mana akhirnya dapat dilepaskan ke atmosfer planet ini sebagai karbon dioksida selama letusan gunung berapi.


Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Gempa Bolivia 1994 Kuak Keberadaan Gunung Misterius di Bawah Bumi

Sementara itu, sebuah penelitian baru mengungkapkan fitur dunia bawah tanah yang menyerupai struktur di permukaan Bumi. Jauh dari iklim panas yang menggelegak, ternyata ada banyak gunung di dalam planet ini.

Ahli geofisika dari Princeton University di Amerika Serikat dan Chinese Academy of Sciences menggunakan gema gempa besar yang melanda Bolivia pada dua dekade lalu, untuk menyatukan topografi di bawah Bumi.

Pada 9 Juni 1994, lindu bermagnitudo 8,2 mengguncang wilayah Amazon yang berpenduduk jarang di Amerika Selatan. Ini adalah gempa terparah yang pernah melanda Bolivia sepanjang sejarah, dengan guncangan dirasakan hingga ke Kanada.

“Gempa bumi sebesar ini tidak sering terjadi,” kata ahli geografi Jessica Irving, seperti dikutip dari Live Science, Sabtu 16 Februari 2019.

Titik fokus gempa diperkirakan ada di kedalaman di bawah 650 kilometer (sekitar 400 mil). Tidak seperti gempa yang menggiling kerak Bumi, energi dari “monster” ini juga dapat mengguncang seluruh mantel Bumi bak semangkuk jeli.

Getaran gempa itu menjadi salah satu yang pertama diukur pada jaringan seismik modern, memberikan para peneliti rekaman gelombang yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang memantul melalui interior planet kita.

Para periset menggambarkannya seperti gelombang suara ultrasonik yang mampu mengungkapkan perbedaan kepadatan jaringan di dalam tubuh, gelombang besar yang berdenyut melalui cairan di dalam Bumi saat keraknya bergetar, dapat digunakan untuk mengumpulkan bukti tentang apa yang terjadi di bawah Bumi.

Hanya baru-baru ini, para ahli geologi menggunakan penanda dalam gelombang ini untuk menentukan kekakuan inti Bumi. Mereka mengambil keuntungan dari intensitas gempa 1994 untuk mendeteksi hamburan gelombang, ketika guncangan lindu berpindah di antara lapisan dan mengungkapkan rincian batas atau zona transisi.

“Kita tahu bahwa hampir semua benda memiliki kekasaran permukaan dan karenanya menyebarkan cahaya. Itulah mengapa kita dapat melihat benda-benda ini –hamburan gelombang membawa informasi tentang kekasaran permukaan,” kata penulis utama studi ini, Wenbo Wu, seorang ahli geologi di California Institute of Technology.

“Kami menyelidiki gelombang seismik yang tersebar, bergerak di dalam Bumi, untuk membatasi kekasaran batas Bumi sejauh 660 kilometer,” imbuhnya.

Pada kedalaman tersebut, ada pembagian antara bagian bawah mantel yang lebih kaku dan zona atas yang tidak terlalu banyak tekanan, yang menciptakan diskontinuitas yang ditandai oleh munculnya berbagai mineral.

“Lubang terdalam yang pernah kami gali adalah sedalam 12 kilometer (7,5 mil), jadi tanpa terowongan skala Jules Verne, kami tidak tahu seperti apa zona transisi ini. Sampai sekarang,” lanjut Wu menerangkan.

Berdasarkan gelombang yang melintasi batas (zona transisi), para peneliti telah menyimpulkan bahwa titik pertemuan antara bagian atas dan bawah mantel Bumi adalah rangkaian gunung berbentuk zig-zag.

“Dengan kata lain, topografi yang lebih kuat daripada Pegunungan Rocky atau Appalachia ada di batas 660 kilometer,” kata Wu.

Garis ‘bergerigi’ ini memiliki implikasi signifikan bagi pembentukan Bumi. Sebagian besar massa planet kita terdiri dari mantel, jadi mengetahui bagaimana proses percampurannya dan perubahannya dengan mentransfer panas, bisa memberi tahu para ilmuwan tentang cara Bumi berkembang dari waktu ke waktu.

3 dari 3 halaman

Mengetahui Asal Muasal Bumi

Sementara itu, dengan mengetahui perincian gunung bawah tanah ini dapat menentukan nasib berbagai model yang menggambarkan sejarah geologi Bumi, yang terus berubah.

“Apa yang menarik dari hasil ini adalah bahwa mereka memberi kami informasi baru untuk memahami nasib lempeng tektonik kuno yang telah turun ke mantel, dan di mana bahan mantel kuno mungkin masih berada,” Irving menjabarkan.

“Mungkin itu bukan tempat yang mudah untuk dijelajahi, tetapi dunia yang hilang di bawah kaki kita masih menyimpan petunjuk tentang masa lalu umat manusia, jika kita tahu ke mana harus mencari,” pungkasnya.

Penelitian tersebut kini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah Science (Anda dapat mengunjungi tautan berikut: science.sciencemag.org/content/363/6428/736).

Sisa Material Pasir Jadi Saksi Dahsyatnya Letusan Gunung Kelud 5 Tahun Silam

Liputan6.com, Kediri – Tepat tanggal 14 Februari 2014, sekitar pukul 22.50 WIB, masyarakat Kediri Jawa Timur dikejutkan dengan peristiwa erupsi Gunung Kelud. Suara petir menggelegar di angkasa bersamaan turunnya hujan abu disertai pasir. Seluruh akses fasilitas umum seperti jalan raya serta rumah penduduk kala itu penuh dengan material pasir.

Dalam peristiwa fenomena alam tersebut, masyarakat Kediri patut bersyukur karena erupsi yang terjadi saat itu tidak membawa dampak jatuhnya korban jiwa. Karena itu Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Kediri Jawa Timur, menggelar acara tasyakuran untuk mengenang peristiwa erupsi Gunung Kelud 5 tahun lalu.

Hadir dalam acara tasyakuran mengenang lima tahun erupsi Gunung Kelud tersebut, yakni Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, Kepala Dinas Sosial Kota Kediri Triyono Kutut, serta Kordinator Taruna Siaga Bencana (tagana) Kota Kediri, Bambang Rihadi bersama anggota, dan Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, Adi Sutrino.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengatakan, meski peristiwa erupsi sudah berlangsung lima tahun lalu, tetapi dampaknya hingga sekarang masih terlihat terutama sisa material pasir.

“Kalau di Kediri ini dampaknya kan di atap sama di selokan ya. Kalau di atap berdampak sampai sekarang, karena ada beberapa atap yang tidak bisa bersih walau kita bersihkan,” tuturnya, Jumat (15/2/2019).

“Rumah warga dan sekolahan tapi sudah mendingan. Di saluran pembuangan air, selokan atau got-got kita banyak sedimen, tapi lambat laun sedimen sudah mulai berkurang karena tim dari Pemerintah Kota Kediri terus membersihkan secara berkala,” katanya.

2 dari 2 halaman

Hikmah dari Letusan Gunung Kelud

Ada hikmah atau faedah yang diambil dalam peristiwa erupsi Gunung Kelud lima tahun silam, di mana mayarakat Kota Kediri saat itu saling bergotong-royong, bahu-membahu bekerja sama bertujuan untuk membersihkan sisa material pasir Gunung Kelud yang menumpuk.

“Kita bukan menasyakuri mbeledose (meletusnya) Gunung Kelud. Tapi kita syukuri gerakan kita bersama. Ada DKP, PU, TNI, Polri, kita bersama-sama menanggulangi efek erupsi Kelud di Kota Kediri,” ucap pria yang akrab disapa Mas Abu ini.

Ia teringat kala itu dirinya sempat memberikan imbauan kepada masyarakat Kota Kediri, untuk membersihkan timbunan pasir yang ada dirumahnya masing-masing dengan pemberian bantuan karung plastik.

“Saya kasih satu karung tiap rumah agar bisa digunakan untuk membersihkan pasir. Bahkan, ada juga yang beli karung sendiri. Mudah-mudahan kita bisa memperingati semangatnya. Semangat kebersamaan seperti tahun lalu,” ujar Wali Kota Kediri.

Seperti diketahui, wilayah Kota Kediri sempat menjadi tujuan bagi para pengungsi asal Kabupaten Kediri saat terjadi erupsi Gunung Kelud. Ratusan pengungsi ketika itu ditempatkan di salah satu ruangan yang lokasinya di area perkantoran Pabrik Gula Pesantren.


Simak video pilihan berikut ini:

Citra Satelit Ungkap Penyebab Letusan Gunung Agung di Bali

Denpasar – Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Universitas Bristol, Inggris ungkap hasil riset ilmiah, mengapa Gunung Agung di Bali meletus pada November 2017, setelah lebih 50 tahun mengalami dormansi.

Temuan yang diterbitkan di jurnal Nature Communications ini dapat memiliki implikasi penting untuk meramalkan letusan di masa depan di daerah tersebut. Salah satu yang terpenting adalah, ditemukannya bukti geofisika, kemungkinan sistem pipa vulkanik yang saling terhubung antara gunung Agung dengan gunung Batur.

Letusan Gunung Agung sebelumnya pada tahun 1963 menewaskan hampir 2.000 orang dan diikuti oleh letusan-letusan kecil di gunung berapi tetangganya, Gunung Batur. Karena peristiwa masa lalu ini adalah salah satu letusan gunung berapi paling mematikan di abad ke-20, upaya besar dikerahkan oleh komunitas ilmuwan untuk memantau dan memahami bangunnya kembali aktivitas Gunung Agung.

Dalam erupsi terbaru November 2017, dua bulan sebelum letusan, tiba-tiba terjadi peningkatan sejumlah gempa kecil di sekitar gunung berapi yang tidur selama 54 tahun itu. Peristiwa itu memicu evakuasi sekitar 100.000 orang.

Menggunakan citra satelit Sentinel-1

Tim ilmuwan dari Fakultas Ilmu Kebumian Universitas Bristol, yang dipimpin oleh Dr. Juliet Biggs menggunakan citra satelit Sentinel-1 yang disediakan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk memantau deformasi tanah di Gunung Agung.

Biggs menjelaskan: “Dari pemantauan jarak jauh, kami dapat memetakan setiap gerakan tanah, yang mungkin merupakan indikator bahwa magma segar bergerak di bawah gunung berapi.”

Dalam studi terbaru, yang dilakukan bekerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Indonesia (CVGHM), tim ini mendeteksi kenaikan sekitar 8-10 cm di sisi utara gunung berapi selama periode aktivitas gempa bumi yang hebat.

Sistem pipa yang terhubung

Dr. Fabien Albino, dari Bristol School of Earth Sciences menambahkan: “Yang mengejutkan adalah kami memperhatikan bahwa baik aktivitas gempa dan sinyal deformasi tanah terletak lima kilometer dari puncak, yang berarti bahwa magma bergerak ke samping serta vertikal ke atas.”

Ditambahkannya: “Studi kami memberikan bukti geofisika pertama bahwa Gunung Agung dan Gunung Batur mungkin memiliki sistem pipa vulkanik yang terhubung.”

Tim peneliti menyebutkan: “Temuan ini memiliki implikasi penting bagi peramalan letusan dan bisa menjelaskan terjadinya letusan simultan seperti pada tahun 1963.”

Studi tersebut didanai oleh Pusat Pengamatan dan Pemodelan Gempa Bumi, Gunung Berapi, dan Tektonik (COMET), sebuah pusat penelitian terkemuka dunia yang berfokus pada proses tektonik dan vulkanik dengan menggunakan teknik observasi bumi.

Sumber: (Universitas Bristol/Nature Communications/ap/ml)


(rna/rna) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Soal Bagasi Berbayar, Kemenhub Peringatkan Lion Air

Liputan6.com, Jakarta – Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Polana B. Pramesti mengingatkan kembali Lion Group agar secara proporsional menindaklanjuti setiap keluhan penumpang terkait bagasi berbayar dengan menyampaikan tindak lanjut yang dilakukan.

Hal tersebut dapat menjadi informasi yang mengedukasi penumpang baik melalui media elektronik, media cetak maupun media sosial.

Di sisi lain, Polana juga menyambut positif kebijakan yang keluarkan Lion Group terkait harga excess baggage ticket (EBT) atau pembelian bagasi langsung saat check in. Kebijakan ini diharapkan mampu meringankan pengguna angkutan udara dari Lion Group dengan harga EBT yang disesuaikan tersebut.

“Sosialisasi bisa dilakukan dengan membuat infografis mengenai daftar harga tarif bagasi prepaid maupun EBT untuk semua rute yang dilayani. Juga terkait batasan bagasi prepaid yang dapat dibeli oleh penumpang,” ujar Polana kepada wartawan, Jumat (8/2/2019).

Polana menilai Lion Group selama ini belum maksimal mensosialisasikan tarif bagasi dengan cara prepaid maupun EBT sehingga banyak pengguna jasa angkutan udara belum mengetahui cara pembelian bagasi yang tepat.

Seperti diketahui sebelumnya, sesuai permintaan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, maskapai Lion Group yang menerapkan bagasi berbayar, PT Lion Mentari Airlines dan PT Wings Airlines, mengeluarkan kebijakan penyesuaian harga excess baggage ticket (EBT) yang mulai efektif sejak 7 Februari 2019.

EBT merupakan tata cara pembelian bagasi di check in counter. Sedangkan prepaid merupakan tata cara pemesanan voucher bagasi pada saat reservasi tiket pesawat 6 jam sebelum keberangkatan.

Tarif EBT merupakan harga normal yang sedikit lebih mahal dibandingkan prabayar. Mahalnya tarif EBT menimbulkan banyak keluhan para penumpang setelah diterapkannya bagasi berbayar oleh Lion Group. 

2 dari 3 halaman

Tunda Kenakan Bagasi Berbayar, Citilink Tunggu Evaluasi Kemenhub

Maskapai penerbangan Citilink Indonesia memastikan menunda kebijakan pemberlakuan bagasi berbayar yang awalnya akan diterapkan pada 8 Februari 2019. Penundaan merujuk kepada koordinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).


“Citilink mengapresiasi arahan dari Kementerian Perhubungan dan akan menunda pemberlakuan kebijakan bagasi berbayar,” ucap Resty Kusandarina, VP Corporate Secretary Citilink Indonesia di Jakarta, Selasa (5/2/2019).


Pemberlakuan pengenaan biaya bagasi ini akan menunggu hasil evaluasi atau kajian lebih lanjut dari Kementerian Perhubungan. Kemudian barulah kebijakan ini disosialisasikan lebih lanjut kepada masyarakat. 


Namun, sosialisasi mengenai rencana pengenaaan biaya bagasi berbayar masih terus dilakukan sebagai langkah edukasi kepada masyarakat atas kebijakan yang didasari oleh PM 185 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.


Diharapkan dengan penundaan penerapan kebijakan ini dapat memberikan waktu sosialisasi kepada masyarakat. 


Sebelumnya, maskapai Lion Air dan Citilink sempat menuai polemik karena kebijakan bagasi berbayar. Berbagai protes pun datang seperti dari YLKI yang menyebut kebijakan ini adalah trik menaikkan harga tiket.
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lumpur Lengket dan Vegetasi Unik di Pulau Temuan NASA Ini Bikin Kagum Ilmuwan

Liputan6.com, Washington DC – Para ilmuwan yang mengunjungi salah satu pulau terbaru dan paling unik di dunia, tahun lalu, menemukan lumpur lengket yang misterius, kata NASA.

Pulau ini terletak di Pasifik Selatan, dekat dengan Tonga, dan secara tidak resmi dinamakan Hunga Tonga-Hunga Ha’apai (Hunga Tonga).

Dikutip dari CNN pada Rabu (6/2/2019), pulau itu terbentuk setelah letusan gunung berapi pada akhir Desember 2014, yang kemudian menghubungkan dua pulau berusia lebih tua di sekitarnya.

NASA mengatakan itu adalah pulau pertama dari jenisnya yang terbentuk sejak satelit mulai secara konsisten mengambil gambar Bumi.

Awalnya para ilmuwan memperkirakan pulau itu hanya bertahan beberapa bulan. Tetapi sebuah penelitian NASA yang dirilis pada 2017, menemukan bahwa pulau tersebut mampu bertahan “melawan segala rintangan”, dan bisa terus eksis antara enam hingga 30 tahun mendatang.

Para ilmuwan telah memetakan Hunga Tonga dengan cermat sejak pembentukannya, melalui survei udara dan satelit. Tetapi, baru pada saat sebuah tim melakukan perjalanan ke pulau itu dengan perahu, pada Oktober tahun lalu, para peneliti menjadi sadar akan vegetasi uniknya.

“Kami semua seperti anak sekolah yang kebingungan, namun juga antusias,” kata Dan Slayback dari Goddard Space Flight Center NASA, dalam sebuah unggahan di blog Earth Expedition NASA pada 30 Januari lalu, yang merinci perjalanan penelitian itu.

Slayback mengatakan “lumpur tanah liat berwarna terang” adalah salah satu kejutan paling menarik yang ia temukan di pulau itu.

“Ini sangat lengket. Jadi meskipun kita telah melihatnya, kita tidak benar-benar tahu apa itu, dan saya masih sedikit bingung dari mana asalnya. Karena itu bukan abu,” kata Slayback.


Simak video pilihan berikut: 

2 dari 2 halaman

Tidak Sesuai Prediksi

Sementara itu, Slayback juga mengaku terkejut ketika tahu bahwa vegetasi mulai tumbuh di tanah genting di Hunga Tonga-Hunga Ha’apai.

NASA mengatakan bahwa vegetasi tersebut kemungkinan menjadi subur karena kotoran burung. Hewan-hewan itu kemungkinan hidup di pulau-pulau terdekat yang lebih dulu ada, yang memiliki banyak tanaman hijau.

Para peneliti menggunakan unit GPS presisi tinggi dan drone untuk membuat peta tiga dimensi terhadap pulau yang beresolusi lebih tinggi.

Namun, menurut pengamatan Slayback dan timnya, pulau itu tampaknya mengalami erosi lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya, di mana hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya curah hujan.

“Pulau ini terkikis oleh curah hujan jauh lebih cepat daripada yang saya bayangkan,” katanya.

“Kami fokus pada erosi di pantai selatan di mana ombak meruntuhkan lanskap, tapi kini sebagian besar pulau ikut turun tinggi permukaannya,” ujar Slayback.

Penjaga Kios di Mulia Papua Tewas Ditembak Orang Tak Dikenal

Jakarta – Seorang penjaga kios, Sugeng Efendi (25), ditembak mati orang tak dikenal di Distrik Mulia, Puncak Jaya, Papua. Korban ditembak saat menonton televisi bersama temannya di sebuah kios.

Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal mengatakan insiden penembakan itu terjadi sekitar pukul 17.49 WIT. Saat itu korban meminta bantuan kepada temannya karena terkena tembakan.

“Tiba-tiba terdengar suara letusan seperti suara senjata sebanyak 1 kali, kemudian korban berkata kepada saksi bahwa meminta tolong ‘saya terkena tembakan’,” kata Kamal dalam keterangannya, Sabtu (2/2/2019).

Teman korban kemudian meminta bantuan warga lain untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit. Seorang saksi bernama Nendi Telenggen menuju ke pos TNI dan memberitahu insiden penembakan tersebut.

“Atas laporan tersebut personel Pos TNI melaporkan kepada pihak Kodim 1714/ PJ dan Polres Puncak Jaya untuk meminta bantuan evakuasi korban ke RSUD Mulia,” ujarnya.

Saat tiba di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia. Korban selanjutnya disemayamkan dan disalatkan di Masjid Mujahidin Mulia. Setelah itu, korban akan dimakamkan di kampung halamannya di Porbolinggi, Jawa Timur.

Terkait penembakan ini, polisi menyita sebuah selongsong peluru kaliber 9 mm. Sejumlah personel polisi dan TNI juga langsung berjaga-jaga di lokasi setelah penembakan tersebut.
(knv/jbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>