Pesona Gunung Bromo Tetap Memikat Meski Sedang ‘Batuk’

Liputan6.com, Malang – Gunung Bromo sedang menggeliat, ditandai dengan keluarnya asap bercampur abu vulkanis di dalam kawah. Namun, ‘batuk’ gunung berapi purba itu tak menyurutkan minat wisatawan untuk datang berkunjung.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mencatat, pada Rabu, 20 Februari 2019, ada 408 wisatawan nusantara (wisnus) dan 23 wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung. Jumlah pelancong di Gunung Bromo itu tak jauh berbeda dengan sehari sebelumnya.

“Masih banyak kemarin, tapi hanya selisih empat orang saja. Ini menunjukkan situasi tetap kondusif,” kata Humas BB TNBTS, Ponco Supriyandogo di Malang, Rabu, 20 Februari 2019.

Sebelumnya, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Bromo mencatat ada erupsi pada Senin dan Selasa lalu. Selama dua hari itu, kolom kawah mengeluarkan asap kecokelatan disertai material abu setinggi 600 meter. Terekam intensitas tremos tipis 0,5–1 milimeter.

Status gunung suci bagi masyarakat Suku Tengger itu juga tak berubah, tetap pada level waspada. Sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), zona aman dari kawah ada dalam radius 1 kilometer.

“Pengunjung harus selalu mematuhi aturan itu, tak boleh mendekat ke kawah demi keselamatan,” ujar Ponco.

Pesona Gunung Bromo selalu mampu menarik ratusan ribu wisatawan tiap tahunnya. Pada 2017, tercatat ada 623.895 wisnus dan 23.568 wisman. Wisata Gunung Bromo ini menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) lebih dari Rp 21 miliar.

Sedangkan, pada 2018 lalu angka kunjungannya ada 828.247 wisnus dan 24.769 wisman. PNPB yang diterima lebih dari Rp 27 miliar. Fakta ini menegaskan gunung yang masuk wilayah Malang, Probolinggo, dan Lumajang ini menjadi salah satu tujuan favorit untuk berpelesir.


Simak video pilihan berikut ini:

Ancaman Lahar Dingin Gunung Karangetang Saat Hujan Turun

Liputan6.com, Siau – Guguran lava atau awan panas Gunung Api Karangetang masih menghantui warga Kepulauan Siau, Sulawesi Utara. Penumpukan material lava yang terus mengalami peningkatan akibat aktivitas Gunung Karangetang ternyata juga berpotensi menimbulkan ancaman lahar dingin dari arah puncak gunung.

Ancaman itu kian menjadi jika hujan turun berintensitas sedang hingga lebat dengan waktu lama di area puncak Karangetang.

“Lahar dingin menjadi salah satu kekhawatiran kami ketika terjadi hujan lebat dengan waktu lama di sekitar puncak gunung. Apalagi adanya penumpukan material lava, baik yang ada di bagian puncak maupun sepanjang kali,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, Didi Wahyudi, Selasa (19/02/2019).

Ketika terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, potensi lahar dingin tak hanya menyasar Sungai Malebuhe, melainkan semua aliran sungai yang ada di wilayah Kecamatan Siau Barat Utara (Sibarut). Karena di area puncak kawah utara sudah ada penumpukan material yang sangat banyak.

“Makanya semua aliran sungai yang ada di Kecamatan Sibarut berpotensi terjadi lahar dingin. Paling rawan itu Sungai Malebuhe karena itu aliran utama lava. Berikutnya Sungai Sumpihi, karena sebelumnya aliran lava sempat mengarah kesana,” ungkap Didi.

Dia mengimbau, jika hujan lebat, masyarakat diminta tidak beraktivitas di sekitar bantaran Sungai Malebuhe, maupun sungai lainnya yang berpotensi dialiri lahar dingin.

“Masyarakat di sekitar Sungai Malebuhe telah dievakuasi karena ancaman guguran lava. Tapi bagi masyarakat lain di sekitar bantaran sungai lain agar berhati-hati,” ujarnya.

Selama tiga hari terakhir ini, wilayah Pulau Siau terus diguyur hujan dengan intesitas sedang. Meski dalam waktu yang singkat, namun kondisi ini kerap menimbulkan ketakutan terhadap ancaman lahar dingin.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Sejumlah Orang Tertimbun Longsor Salju di Swiss

Jenewa – Longsor salju menyebabkan beberapa pemain ski di lereng resor Crans-Montana Swiss tertimbun. Sejumlah penyelamat bekerja untuk mencari korban yang selamat.

Dilansir dari Reuters, Rabu (20/2/2019), surat kabar lokal Nouvelliste mengutip pimpinan komune Nicolas Feraud yang menyebut ada 10 hingga 12 orang diyakini terjebak. Koran itu mengatakan longsoran salju menutupi sekitar 300-400 meter sebuah lintasan.

Longsoran salju itu disebut terjadi pada Selasa (19/2) sore setelah seminggu suhu yang lebih hangat mulai mencairkan salju lebat di wilayah tersebut.
“Longsor terjadi di sektor Plaine-Morte, tim pencarian dan penyelamatan ada di lokasi. Beberapa orang dimakamkan,” kata polisi wilayah Valais.

Dalam pernyataan terpisah, perusahaan lift ski Crans-Montana mengatakan patroli ski telah menyalakan alarm pada 13.23 GMT dan menyatakan bahwa keadaan di luar kendali.

“Sekitar 100 pekerja penyelamat ada di lokasi. Kami juga memiliki orang-orang dari tentara yang ada di sini menjelang Kejuaraan Dunia,” ujar presiden perusahaan lift ski Philippe Magistretti.
(haf/haf)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jadi Komoditas Unggulan, Kopi Arabika Solok Kian Banyak Peminat

Jakarta – Tak hanya kopi robusta, kopi arabika menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Solok yang diperluas area tanamnya di daerah-daerah dataran tinggi. Kopi Solok pun kian banyak peminatnya.

Admaizon, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok menyampaikan produksi kopi arabika pada 2018 mencapai 657,7 ton dengan luas area tanam 6.630 hektare dan produksi kopi robusta 1.388 ton dengan luas area tanam 16.396 hektare.

“Kami mengembangkan arabika karena memiliki pasar yang sangat luas untuk diekspor. Selain itu, nilai jualnya lebih tinggi dibandingkan robusta,” jelas Admaizon, dilansir Antara.

Kendati demikian, arabika dan robusta merupakan komuditas unggulan di Kabupaten Solok. Untuk peningkatan jumlah produksi dilakukan guna memenuhi kebutuhan pasar, pemerintah setempat bekerja sama dengan Bank Indonesia dalam pengembangan kopi arabika.

Selain itu, pemerintah juga mengajukan pinjam pakai lahan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk penambahan jumlah area tanam kopi arabika.

“Kementerian menyetujui pinjam pakai kawasan hutan lindung seluas 7.000 hektare di Kecamatan Lembah Gumanti, Pantai Cermin, Hiliran Gumanti untuk kopi arabika dengan sistem agroforestri,” jelasnya.

Aktivitas pembibitan dan penanaman telah dilakukan tahun ini, namun masih belum secara keseluruhan. Budidaya kopi arabika di kawasan hutan lindung didampingi dinas pertanian Sumatera Barat dan Koperasi, satu di antaranya adalah Koperasi Solok Radjo.

“Di Kabupaten Solok, pengembangan kopi arabika memang dipelopori oleh anak muda setempat. Kini, Solok menjadi kiblat kopi di Sumbar karena memiliki cita rasa yang lebih enak dan khas,” ungkap Admaizon.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Merasakan Aura Magis di Makam Teuku Umar

Liputan6.com, Aceh – Suara tonggeret saling bersahutan tiada henti. Bunyinya terdengar konstan dan nyaring, tetapi tak menampik kesan sunyi belantara dan aura magis yang mengelilinginya.

Puncak pepohonan terlihat begitu rimbun, sementara kirana menyela di antara dedaunannya, meruyak ke lantai seolah hendak menandingi bayangan rerimbun daun yang menghalanginya. Tiga orang ibu dan seorang anak kecil duduk berlindung di antara bayang-bayang itu.

Seorang lelaki nimbrung lalu ikut bercakap-cakap bersama mereka. Orang-orang ini adalah orang Jawa yang sudah lama menetap di Aceh Barat yang tersebar di Kecamatan Panteu Ceureumen, jika ditebak dari dialek yang mereka gunakan.

Sebuah cungkup berciri khas bangunan tradisional Aceh seluas 20 meter persegi berdiri tidak jauh dari kumpulan orang itu duduk. Tujuh peziarah terlihat di dalam cungkup, dan seorang di antaranya terlihat komat-kamit sambil menatap ‘makam agung’ yang berada di depannya.

Sebuah guci besar bercat emas tampak di sudut kiri makam. Sebuah rak kayu bertingkat, dimana surah Yasin ditumpuk di tingkat paling atas, sementara mukena dan sajadah, di dua tingkat di setelahnya, ditaruh di sudut kanan makam.

Dua buah batu nisan berbalut kain kafan tampak bersisian dengan ketinggian tak simetris, menancap di antara koral putih yang diserak di atas tanah makam berukuran kira-kira 2×3 meter itu. Terdapat plakat pada bagian kepala makam yang menerangkan bahwa di situ terkubur seorang putra Aceh, pejuang yang melawan Belanda pada masa silam.

Sebuah kopiah meukeutop dan celengan besi bercat putih diletakkan bersisian di atas tembok makam berlapis tegel granit itu. Topi khas adat Aceh itu adalah atribut yang tidak boleh dipisah dari sosok Teuku Umar.

Suami Cut Nyak Dien memang bermakam di situ. Makam Johan Pahlawan ini berada di Desa Mugo Rayuek, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, berjarak sekitar 32 kilometer dari pusat kabupaten.

Sebagai catatan, nama Mugo Rayeuk konon berasal dari bahasa Jawa yaitu ‘monggo’ yang berarti ‘silahkan’ atau ‘mari’. Kisah di balik pemberian nama Mugo Rayeuk berkait erat dengan sejarah kelam kolonial.

Pada zaman kolonial, ratusan pribumi dari tanah Jawa diberangkatkan ke Aceh untuk kerja rodi. Orang-orang ini beranak pinak di kemudian hari, dan membentuk komunitas masyarakat Jawa yang kebanyakan tersebar di Kecamatan Panteu Ceureumen.

Kata ‘Mugo’ berawal dari sapaan orang Jawa yang jika melihat orang Aceh lewat di depannya maka dia menyapa dengan mengatakan ‘monggo mas’ mampir dulu. Kata ‘monggo’ lama kelamaan menjadi sebutan untuk wilayah tersebut, yang di kemudian hari berubah bunyi menjadi ‘Mugo’.

Makam Teuku Umar berada di atas Gunung Rayeuk Tameh berjarak 1 kilometer lebih dari jalan raya atau pusat keramaian Kampung Mugo Rayeuk.

Kompleks makam berupa lereng bertingkat-tingkat, dimana makam Teuku Umar berada di atas, sementara di bawahnya, secara runtut terdapat replika rumah Teuku Umar, balai-balai, toilet, selanjutnya musala, tempat berwudu, tempat beristirahat, serta anak tangga yang menjadi penghubung masing-masing tingkat.

2 dari 3 halaman

Tempat Kaulan

Sang Penjaga Makam Teuku Umar adalah Tengku Meurah Hasan (45). Dia generasi ke-21 keturunan Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang tak lain merupakan angkatan pertama Wali Songo.

Sebagai catatan, Syekh Maulana Malik Ibrahim sempat menetap di Pasai atau Kerajaan Peureulak, Aceh Timur saat ini, sebelum dia hijrah ke tanah Jawa.

Sunan Gresik ini memiliki keturunan di Aceh salah satunya bernama Tgk. Chik Adam yang belakangan berangkat ke Mugo Rayeuk, kemudian beranak pinak yang silsilahnya menyambung ke Tgk. Meurah Hasan, pria yang baru setahun ini menjadi Penjaga Makam Teuku Umar.

Tidak harus punya kemampuan khusus untuk menjadi seorang penjaga makam, kecuali paham ilmu agama dan dapat memimpin doa ketika diminta tolong para peziarah yang hendak kaulan.

“Peuleh ka oy (kaulan) bukan orang sembarangan. Sedikit banyak, bisa membaca doa. Jadi berganti-ganti. Bukan keturunan. Kebanyakan adalah orang setempat yang biasanya merupakan imam menasah,” kata Tgk Meurah Hasan, kepada Liputan6.com, Minggu, 18 Februari 2019.

Beberapa keluarga kebetulan sedang kaulan ketika Liputan6.com berkunjung ke lokasi. Mereka datang dengan kaul masing-masing, yang tentu saja menjadi rahasia antara mereka dan penjaga makam.

Seseorang pernah menceritakan mengenai keluarganya yang punya pengalaman berkaul di Makam Teuku Umar. Ada seorang anak yang sering sakit-sakitan saat masih kecil, lalu orangtuanya berkaul, andai anak mereka sembuh, mereka kelak akan kaulan di Makam Teuku Umar, dan keluarga ini belakangan melakukan kaulan karena harapannya terwujud.

3 dari 3 halaman

Sosok-Sosok Tak Kasat Mata di Makam Teuku Umar

Makam Teuku Umar memiliki sejumlah kisah mistis sama seperti tempat-tempat keramat lainnya. Salah satunya mengenai sosok harimau yang konon menjaga makam dari mereka yang hendak berbuat jahil di tempat itu.

Sesosok ular besar juga sering memperlihatkan diri di tempat itu. Terdapat sosok tak kasat mata, selain dua makhluk tersebut yang konon hanya menampakkan dirinya ke orang-orang tertentu.

Menurut Tgk Meurah Hasan, orang-orang yang suluk di makam Teuku Umar terkadang bermimpi ditemui makhluk-makhluk tersebut. Karena orang-orang ini berhati bersih, makhluk-makhluk tersebut tidak mengganggu mereka.

“Itu ada. Yang penjaga besar, harimau, ular, dan penjaga tak kasat mata lainnya. Disini kan banyak yang suluk, kadang sampai seminggu. Mereka dari berbagai tempat, dari Meulaboh, Medan, bahkan Pulau Jawa. Selesai suluk, kadang mereka cerita ke saya. Di dalam mimpi ditemui mahluk itu. Bahkan, ada yang didatangi sosok Teuku Umar,” tutur penjaga makam keenam itu.


Simak video pilihan berikut ini

5 Fakta 2 Bocah di Bogor Tewas Akibat Ledakan Granat Kaleng Susu

Liputan6.com, Jakarta Sebuah granat aktif meledak di permukiman warga, tepatnya di Kampung Wangun Jaya RT 02/06, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Nahas, seorang bocah tewas akibat terkena ledakan tersebut.

Namun, belakangan korban meninggal bertambah menjadi dua orang. Muhammad Doni (11) mengembuskan nafas terakhirnya di RSUD Leuwiliang setelah menderita luka parah akibat terkena ledakan granat.

Cerita berawal saat korban Muhammad Ibnu Mubarok (11) tengah bermain bersama kedua temannya, Muhammad Doni (11) dan Khoirul Islami (10)  di sekitar area lapangan tembak yang berada di kampung sebelah, Minggu, 10 Februari 2019.

Mereka lalu naik ke lereng Gunung Kapur. Di area tersebut mereka menemukan sebuah kaleng susu yang diduga berisi ganat aktif di semak-semak. Ketiganya langsung membawanya pulang.

Dua hari kemudian oleh sang ibu, Siti Nurhasanah, kaleng tersebut dibuang ke kebun yang tak jauh dari rumahnya. Bagaimana hingga akhirnya kaleng berisi granat aktif itu meledak hingga jatuh korban?

2 dari 7 halaman

1. Kaleng Susu yang Dibuang Diambil Korban

Berdasarkan keterangan saksi, bocah Mubarok mengambil lagi kalang susu yang sudah dibuang ibunya, pada Kamis kemarin.

“Kamis siang tadi, korban mengambil kembali kaleng susu yang sempat dibuang oleh ibunya itu,” kata Ita, Kamis, 14 Februari 2019.

Korban kemudian membawanya ke dekat rumahnya. Doni dan Khoirul yang ada di sekitar lokasi ikut bermain. Ketiganya memukul-mukul kaleng berisi granat itu dengan menggunakan batu hingga terjadi ledakan.

Saat terdengar ledakan keras, warga langsung berhamburan ke sumber bunyi. Begitu tiba mereka melihat Mubarok dan kedua temannya telah tergeletak.

3 dari 7 halaman

2. Meninggal Akibat Ledakan

Akibat insiden tersebut bocah Mubarok meninggal secara mengenaskan di lokasi kejadian dengan luka di kepala. Sementara, dua lainnya selamat, namun menderita luka berat pada bagian kaki dan tangan.

“Kami melihat korban yang meninggal mengalami luka di kepala,” kata Sarifudin, warga sekitar.

Sementara, Kasubag Humas Polres Bogor AKP Ita Puspitalena membenarkan kejadian tersebut. Tiga anak menjadi korban dan satu di antaranya meninggal dunia.

Ita menambahkan korban tewas dan luka-luka dibawa ke RSUD Leuwiliang.

Setelah 2 jam, jenazah bocah Mubarok langsung dibawa ke rumah duka dan langsung dimakamkan sekitar pukul 16.00 WIB.

4 dari 7 halaman

3. Korban Meninggal Jadi 2 Orang

Bersama korban Mubarok, Muhammad Doni (11) dan Khoirul Islami (10) juga ikut menjadi korban akibat ledakan granat aktif. Awalnya kedua teman korban dikabarkan selamat, namun Muhammad Doni belakangan dilaporkan meninggal dunia.

Warga Kampung Wangun Jaya RT 02/06, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor ini menghembuskan nafas terakhir pada Kamis 14 Februari kemarin sekitar pukul 21.00 WIB.

Dia meninggal dunia saatmenjalani perawatan intensif di RSUD Leuwiliang.

Saat ini, satu anak lainnya atas nama Khoirul Islami (10) masih dirawat menjalani perawatan di RSUD Leuwiliang lantaran mengalami luka di kedua kakinya.

5 dari 7 halaman

4. Sempat Dibuang Ibu

Mendapati kaleng susu yang dibawa anaknya, Siti Nurhasanah sempat membuangnya ke kebun dekat rumah korban pada Selasa (12/2/2019). Dia juga tak sadar kalau kaleng tersebut berisi bahan peledak granat aktif.

“Kamis siang tadi, korban mengambil kembali kaleng susu yang sempat dibuang oleh ibunya itu,” kata Ita, Kamis, 14 Februari 2019.

Namun, kaleng itu kembali dipungut Mubarok bersama dua temannya. Mereka lantas memainkan kaleng tersebut.

6 dari 7 halaman

5. Kaleng Dipukul Pakai Batu

Asyik sendiri, Mubarok memainkan kaleng itu. Doni dan Khoirul yang ada di sekitar lokasi turut ikut bermain. Mereka memukul-mukul kaleng itu menggunakan batu.

Mengejutkan, kaleng itu tiba-tiba mengeluarkan ledakan. Sontak ketiga korban langsung mengalami luka parah.

“Kamis kemarin sekitar pukul 14.00 WIB, korban mengambil kembali kaleng susu yang sempat dibuang oleh ibunya itu. Kemudian oleh ketiganya dipukul-pukul pake batu lalu meledak,” ungkap Agus.


Reporter: Rifqi Aufal Sutisna

7 dari 7 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Granat Meledak di Bogor, Tiga Bocah Jadi Korban

Liputan6.com, Jakarta – Seorang warga Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tewas setelah terkena sebuah ledakan. Korban bernama Muhammad Mubarok (10) diduga tewas akibat ledakan granat di sekitar tempat mereka tinggal.

Sementara dua orang lainnya bernama Muhammad Doni (14) dan Khoirul Islami (10) dilarikan ke RSUD Leuwiliang akibat mengalami luka serius.

Peristiwa tersebut terjadi saat ketiga korban sedang bermain di sekitar rumah mereka pada Kamis (14/2/2019) sekitar pukul 14.00 WIB. Warga kemudian berhamburan keluar setelah mendengar suara ledakan. Saat warga melihat ke lokasi, ketiga korban sudah tergeletak.

Satu orang diketahui sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Sementara dua orang lainnya selamat namun mengalami luka serius di sekujur tubuh.

“Kami melihat korban yang meninggal mengalami luka di kepala,” kata Sarifudin, warga sekitar.

Sementara Kasubag Humas Polres Bogor AKP Ita Puspitalena membenarkan kejadian tersebut. Tiga anak menjadi korban dan satu diantaranya meninggal dunia.

“Iya kejadiannya benar,” kata Ita Puspitalena melalui pesan singkat.

2 dari 2 halaman

Kronologi Kejadian

Peristiwa bermula saat ketiga anak tersebut bermain di sekitar lapangan tembak, lalu mereka naik ke lereng Gunung Kapur. Di area tersebut mereka diduga menemukan bahan peledak jenis granat. Setelah itu mereka membawanya pulang.

Tak jauh dari rumah mereka, granat tersebut dibuat mainan dengan cara dipukul-pukul hingga mengakibatkan terjadinya ledakan.

Ketiga korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Leuwiliang oleh pihak keluarga dibantu warga setempat dan staf Desa Ciaruteun Ilir.


Saksikan video pililihan berikut ini:

Akses Antar Desa Satu-Satunya di Lombok Tertimbun Longsor

Liputan6.com, Lombok Timur – Longsoran tanah akibat hujan lebat yang mengguyur lereng Rinjani kembali terjadi dan menyebabkan tertutupnya jalur lalu lintas dua desa di wilayah Desa Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Selasa (12/2/2019), kondisi ini tentunya menyulitkan warga yang hendak melintas. Terlebih lokasi tersebut adalah akses satu satunya jalan lintas antardesa dan kabupaten.

Perbaikan telah dilakukan dengan menggunakan alat berat. Namun, masih terkendala oleh kontur tanah pegunungan yang labil pasca gempa bumi melanda wilayah tersebut 5 bulan lalu.

Karena itu, untuk membantu warga yang hendak melintas, TNI-Polri turut disiagakan. Warga diimbau untuk tetap waspada dan berhati-hati melintasi wilayah jalan yang ada di kawasan Sembalun karena diprediksi rawan longsoran masih akan terjadi di beberapa titik. (Muhammad Gustirha Yunas)

Perusahaan Tambang Vale SA Diduga Tahu Bendungan di Brasil Rentan Jebol

Brumadinho – Vale SA, perusahaan tambang biji besi dekat bendungan di Brumadinho, Brasil diduga telah mengetahui bendungan yang menewaskan setidaknya 165 jiwa itu memiliki risiko tinggi untuk jebol. Hal itu terungkap dari dokumen internal Vale SA.

Dilansir Reuters, Selasa (12/2/2019), dokumen internal bertanggalkan 3 Oktober 2018 itu menunjukkan bahwa Vale mengklasifikasikan bendungan 1 di tambang Córrego do Feijão itu dua kali lebih besar kemungkinannya gagal daripada tingkat risiko maksimum yang dapat ditoleransi di bawah kebijakan keselamatan bendungan perusahaan sendiri. Vale sendiri belum mau menanggapi persoalan ini.

Sebelumnya, tahun lalu, auditor independen menyatakan bahwa bendungan tersebut aman dan peralatan menunjukkan struktur bendungan itu stabil hanya beberapa minggu sebelum keruntuhan.
Dokumen yang sebelumnya tak dilaporkan itu adalah bukti pertama bahwa Vale sendiri telah mengkhawatirkan keselamatan bendungan. Hal itu menimbulkan pertanyaan mengapa audit yang dilakukan sekitar waktu yang sama justru menjamin stabilitas bendungan. Selain itu, mengapa Vale tidak mengambil tindakan pencegahan, seperti memindahkan kantin perusahaan yang berada di lereng.

Seperti diketahui, Bendungan di Brasil, yang terletak di belahan tenggara Brazil, dekat kota Belo Horizonte jebol pada Jumat (25/1) waktu setempat. Akibatnya, ratusan orang tewas dan 24.000 orang dievakuasi.

(mae/gbr) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ketika Owa Jinak Jadi Beringas Serang Bocah di Riau

Liputan6.com, Pekanbaru – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengevakuasi seekor owa ungko dari Desa Bindur Picak, Kecamatan Koto Kampar, karena menyerang bocah berumur dua tahun.

Satwa bernama latin Hylobates agilis itu sudah berada di kandang transit BBKSDA di Jalan HR Soebrantas Pekanbaru.

Kepala Humas BBKSDA Riau Dian Indriati menjelaskan, satwa berbulu hitam itu merupakan peliharaan seorang warga di desa tersebut. Dipelihara sejak kecil, owa ungko itu sudah dewasa dan kini berusia 9 tahun.

Meski dipelihara sejak kecil, ternyata sifat liar ungko ini tak hilang begitu saja. Dia merasa terganggu dengan kehadiran bocah tetangga lalu menyerangnya hingga mengalami luka di bagian tangan.

“Kelamin ungko ini jantan, untuk korban sendiri sudah dirawat di bagian lukanya,” kata Dian kepada wartawan, Minggu (10/2/2019).

Penyerangan ini dilaporkan warga sekitar ke BBKSDA Resort Kampar. Sejumlah petugas atas perintah Kabid Wilayah II Heru Sutmantoro menuju desa itu dipimpin Kepala Resort Kampar, Salman Yasir.

“Evakuasi berlangsung beberapa jam pada Rabu, 6 Februari 2019, yang juga melibatkan perangkat desa dan warga sekitar,” kata Dian.

Dalam evakuasi, petugas dibantu warga berusaha menggiring ungko yang lepas dari kandangnya itu. Umpan dipersiapkan menuju kandang milik petugas dan ungko akhirnya masuk ke perangkap.

“Kemudian dibawa ke Pekanbaru untuk pemeriksaan medis. Ungko itu dinyatakan sehat dan akan mendiami kandang transit sebelum dilepasliarkan,” terang Dian.

Atas kejadian ini, Dian mengimbau masyarakat supaya tak memelihara satwa dilindungi. Menurut Dian, satwa liar kalau dipelihara sewaktu-waktu bisa menyerang jika merasa terancam.

“Kalau masih ada masyarakat yang memelihara sebaiknya diserahkan ke petugas,” imbau Dian.


Simak video pilihan berikut ini: