Ungkap Rasa Syukur, Warga Lereng Gunung Merapi Gelar Grebeg Sadranan

Liputan6.com, Boyolali – Ribuan orang warga lereng Gunung Merapi dan Merbabu dengan antusias mengikuti upacara tradisi “Grebeg Sadranan” yang digelar setiap bulan Ruwah (kalender jawa) di kawasan depan Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu.

Ribuan warga dari berbagai daerah yang memadati sepanjang jalan kawasan Kantor Kecamatan Cepogo mengikuti acara prosesi kirab sebanyak 14 gunungan hasil bumi dan makanan khas daerah setempat, serta ratusan tenong berisi makanan untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Menurut Camat Cepogo Insan Adi Asmono, tradisi Grebeg Sadranan intinya mendoakan para leluhur, dan rasa bersyukur atas hasil pertanian atau hasil bumi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dengan membawakan gunungan beserta tenong berisi makanan untuk dibagikan kepada masyarakat.

“Grebeg Sadranan khusus tahun ini, pertama kali dilakukan serentak diikuti 15 desa di Cepogo. Tradisi ini, sebelumnya dilakukan setiap desa secara bergantian waktunya,” kata Insan dilansir Antara.

Menurut Insan, tradisi ini sudah dilakukan turun-menurun, selain untuk melestarikan budaya masyarakat setempat juga dilaksanakan secara profesional untuk menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Cepogo.

Prosesi Grebeg Sadranan diawali dengan arak-arakan tenong sebanyak 315 tenong dan 45 tumpeng serta 7 gunungan hasil bumi dan 7 gunungan makanan khas. Tenong, tumpeng dan gunungan diarak oleh perwakilan masyarakat dari 15 desa di Cepogo.

Dua pasukan prajurit Pesangrahan Paras lengkap dengan korp musik mengawali arakan-arakan kemudiana diiringi segenap perangkat desa dan peserta pembawa tenong makanan. Peserta warga dari Desa Wonodoyo, Jombong, Gedangan, Sukabumi, Genting, Cepogo, Kembangkuning, Gubug, Mliwis, Sumbung, Paras, Mliwis, Jelok, Bakulan, Candigatak dan Cabeankunti.

Rombongan tenong membawa makanan diletakkan berjejer di sepanjang jalan depan kecamatan, dan kemudian dilakukan doa bersama. Setelah itu, masyarakat langsung dipersilahkan menikmati makanan dalam tenong dan tumpeng serta berebut gunungan hasil bumi dan makan khas setempat.

Tangis Petani Kubis di Lereng Bromo, Harga Anjlok saat Panen Raya

Liputan6.com, Probolinggo – Petani sayur Kubis (Kol) di lereng Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, gundah gulana. Pasalnya, harga sayuran yang mereka tanam anjok. Karena putus aja, para petani hanya membiarkan kubis siap panen dengan kualitas terbaik membusuk.

Di musim penghujan ini, petani kubis seharusnya berpesta menikmati panen raya. Namun, apa daya, harga kubis yang mereka tanam dan rawat hanya Rp 300 per kilogram (kg). Seperti yang dialami oleh petani kubis di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Harganya yang anjlok membuat petani tak bergairah untuk memanen. Bahkan sekedar beraktifitas di ladang pun mereka enggan. Petani sayur kol, memilih untuk tidak memanen sayur kol yang seharusnya sudah bisa dipanen. Hal itu karena harga sangat murah dan merugikan petani.

“Ini lahan dan tanaman kol milik saya sendiri, ditawar Rp 400 per kg. Tapi sampai sekarang malah tidak laku-laku. Akhirnya ya saya biarkan saja, sampai membusuk dan menjadi rabuk (pupuk kompos),” tutur Samsudin, salah satu petani sayur kol, Selasa (5/3/2019).

Udin menuturkan dirinya dan petani lainnya, enggan memanen kubis karena harga jualnya tak sesuai dengan ongkos produksi. Sebab, biaya operasional untuk mengolah lahan seluas 1,5 hektare berkisar antara Rp 17 juta. Sementara saat ini, sayur kol dari petani, harganya hanya Rp 300 per kg hingga Rp 400 per kg.

Padahal, harga normalnya bisa mencapai seribu rupiah per kilogram. Dengan harga normal sekitar seribu rupiah, petani bisa mendapatkan hasil kotor antara 30 sampai 35 juta rupiah. Artinya, hasil bersih petani bisa mencapai 12 hingga 13 juta rupiah.

“Namun saat ini, bukannya untung, petani malah merugi. Karena murahnya harga jual sayur kol,” ungkap Udin.

2 dari 3 halaman

Kebalikan

Keadaan ini, sangat ironis jika dibandingkan dengan petani di Pulau Sumatera. Dimana beberapa waktu lalu, sayur kol milik petani di Provinsi Sumatera Utara bisa menembus pasar ekspor. Yakni mengeksport sayur kol sampai ke beberapa negara asia. Mulai dari negara tetangga Malaysia sampai ke Jepang.

“Atas keadaan ini, petani berharap ada langkah kebijakan pemerintah. Sebab mayoritas petani sayur kol, menggunakan modal pinjaman. Kami berharap harga bisa kembali normal, petani di Probolinggo tidak merugi dan kembali sejahtera,” timpal Sanewar, petani lainnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Longsor Tambang Emas, Proses Evakuasi Terkendala Medan yang Berat

Liputan6.com, Bolaang Mongondow – Proses evakuasi korban penambang emas di areal penambangan rakyat di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, masih terus dilakukan hingga pagi ini.

Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow mengatakan, proses evakuasi sedikit mengalami kendala, karena kondisi tanah yang labil dan juga tingkat kemiringan tanah yang mencapai 90 persen.

“Kami berharap semoga proses evakuasi lancar dan penambang yang masih terjebak di lokasi bisa dikeluarkan dengan keadaan selamat,” ujar Yasti. 

Hingga pagi ini, sebanyak 25 orang korban berhasil dievakuasi, 6 orang diantaranya meninggal dunia, dan 19 orang selamat dalam kondisi luka ringan dan luka berat. Diperkirakan sekitar 34 orang masih tertimbun longsor.

Kasi Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow, Abdul Muin mengatakan, evakuasi dilakukan tim SAR gabungan dari BPBD Bolaang Mongondow, TNI, Polri, Basarnas, SKPD terkait, relawan dan masyarakat.

“Pencarian dilakukan secara manual karena kondisi medan berada pada lereng dengan kemiringan cukup curam,” ujar Muin.

Untuk personel Tim SAR gabungan hari yang sebelumnya berjumlah 20 orang. Kemudian mendapat tenaga tambahan dari Polres Kotamobagu dan Kompi Brimob Inuai Bolaang Mongondow sebanyak 60 personel.

“Petugas SAR masih akan berdatangan untuk membantu evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban,” ujar Muin.


Simak juga video pilihan berikut ini:

Percikan Air Terjun Tumpak Sewu Segarkan Pagi di Lumajang

Lumajang – Kabupaten Lumajang, sebelumnya terkenal sebagai salah satu pintu masuk untuk mendaki Gunung Semeru. Atau puncak B29, yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan. Kini, ada satu lagi destinasi wisata yang tak bisa dilewatkan. Air terjun Tumpak Sewu namanya, atau biasa disebut Niagara ala Indonesia.

Air terjun Tumpak Sewu atau disebut juga Coban Sewu, atau grojogan sewu, adalah sebuah air terjun dengan tinggi sekitar 120 meter.

Air terjun Tumpak Sewu, memiliki formasi unik. Karena memiliki aliran air yang melebar seperti tirai dan melingkar mirip air terjun Niagara di Amerika Serikat. Karena itulah, air terjun ini termasuk tipe air terjun Tiered.

Lokasi air terjun Tumpak Sewu, ada di dalam sebuah lembah curam. Memanjang dengan elevasi 500 meter di atas permukaan air laut. Air terjun Tumpak Sewu terbentuk di aliran Sungai Glidih yang berhulu di Gunung Semeru.

Dari segi debit air, air terjun Tumpak Sewu memang kalah dengan air terjun Niagara di Amerika Serikat. Namun dari segi keindahan panorama dan sejuknya suasana di sekitar air terjun, tak tergantikan.

Sepanjang mata memandang tampak hijau dan segar. Gemericik suara air dari kejauhan, turut menyumbangkan suasana tenang pada pengunjung yang datang. Hiruk pikuk perkotaan seketika hilang, berganti dengan suasana nyaman dan tenang.

Serupa dengan air terjun Niagara yang terletak di perbatasan Amerika Serikat–Kanada, air terjun Tumpak Sewu juga berada di perbatasan Kabupaten Lumajang–Kabupaten Malang.


Baca berita menarik lainnya di Times Indonesia.

2 dari 2 halaman

Peraih Penghargaan

Sebagai informasi, karena keindahan itu, air terjun Tumpak Sewu meraih podium pertama Anugerah Wisata Jawa Timur 2018, besutan Pemprov Jatim. Lalu berturut–turut posisi kedua wisata Gunung Kelud di Kabupaten Kediri dan ketiga wisata Watu Rumpak di Kabupaten Madiun.

Meski berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, tetapi wisata air terjun Tumpak Sewu umum dijangkau melalui Kabupaten Lumajang. Melalui jalan nasional rute 3 lintas selatan, Jawa Timur.

Air terjun Tumpak Sewu sangat mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum, berupa minibus. Bus-bus dengan rute Lumajang-Malang atau sebaliknya. Biasanya beroperasi mulai pukul 07.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 16.00 WIB.

Di samping air terjun Tumpak Sewu, di sekitar lokasi tersebut ada juga wisata lainnya yang tidak kalah menarik. Wisatawan bisa menikmati wisata petualangan seperti arung jeram atau wisata jalur offroad di lereng Gunung Semeru. Otomatis, wisatawan yang datang tak hanya bisa bersantai atau memanjakan mata, tetapi dapat juga merasakan wisata adrenalin.

Keberadaan air terjun Tumpak Sewu ini, membuat daftar lokasi wisata yang wajib dikunjungi di Kabupaten Lumajang semakin panjang.


Simak video pilihan berikut ini:

Bupati: Evakuasi Korban Tambang Longsor Sulit, Batu Disentuh Runtuh

Bolaang Mongondow – Puluhan orang diduga masih tertimbun dalam longsor tambang emas di Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara. Evakuasi sulit karena banyak bebatuan yang labil.

“Persoalannya satu saja batu disentuh itu runtuh semua, sementara kita berharap di dalam masih ada korban yang selamat. Itu tingkat kesulitan kita,” kata Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong), Yasti Soepredjo Mokoagow saat dihubungi, Rabu (27/2/2019)

Tim gabungan menurut Yasti akan menggelar rapat menentukan pola evakuasi korban yang masih tertimbun dalam longsor tambang di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan.

“Insyaallah besok kita akan rapat lagi. (Situasi di lokasi), itu lubang nafasnya sudah nggak ada lagi untuk masuk oksigen. Kelihatannya agak sulit karena gua itu tertutup,” sambungnya.

“Kalau kita korek batu untuk membuat lubang yang baru nanti akan runtuh semua. sementara kita masih berharap ada korban yang selamat. jadi memang ini tingkat kesulitannya tinggi sekali. Sementara itu tebing dan kita tidak ada jalan lain untuk menuju ke situ,” paparnya.

Yasti menyebut korban tewas tambang emas Bolmong bertambah menjadi 8 orang. Korban selamat yang berhasil dievakuasi sebanyak 19 orang.

Sebelumnya Koordinator Pos SAR Kotamobagu, Rusmadi, mengatakan proses evakuasi korban dilakukan dengan cara membuat jalur baru ke tambang emas ilegal yang posisinya di lereng perbukitan Bakan.

Jalur evakuasi dibuat karena pintu utama terowongan tambang emas ilegal itu tertutup material longsoran batu.
(fiq/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cek Honor Pegawai Pengelola Kawasan Candi Borobudur

Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah mengumumkan besaran honorarium yang akan diterima Badan Pelaksana Otorita Borobudur. Kebijakan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2017.

Atas pertimbangan tersebut, pada 1 Februari 2019, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2019 tentang Honorarium Pegawai di Lingkungan Badan Pelaksana Otoritas Borobudur.

“Pegawai di Lingkungan Badan Pelaksana Otorita Borobudur diberikan honorarium setiap bulan,””demikian bunyi Pasal 2 Perpres tersebut seperti dikutip setkab.go.id.

Adapun besaran honorarium sebagaimana dimaksud adalah:

a. Direktur Utama sebesar Rp30.787.600;

b. Direktur Rp23.180.700;

c. Satuan Pemeriksa Intern Rp16.455.400;

d. Kepala Divisi Rp13.529.300; dan

e. Pegawai Pelaksana Rp6.932.700.

“Honorarium sebagaimana dimaksud belum termasuk Pajak Penghasilan,” bunyi Pasal 3 ayat (2) Perpres ini. 

Pembayaran honorarium sebagaimana dimaksud, menurut Perpres ini, diberikan sejak diangkat/dilantik; dan dihentikan sejak ditetapkannya remunerasi Badan Pelaksana Otorita Borobudur sebagai satuan kerja yang menerapkan pola keuangan badan layanan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Untuk pegawai di Lingkungan Badan Pelaksana Otorita Borobudur yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), menurut Perpres ini, besaran honorarium diperhitungkan dengan besaran penghasilan berupa gaji dan tunjangan yang diterima sebagai PNS.

“Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 7 Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2019, yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada 11 Februari 2019. 

2 dari 2 halaman

Tarik Turis, Kementerian PUPR Percantik Candi Mendut dan Tuk Budoyo

 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendukung pengembangan kawasan pariwisata untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, salah satunya Tuk Budoyo yang berada di Kabupaten Temanggung dan Candi Mendut di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Dengan dilakukannya penataan kawasan akan meningkatkan kualitas prasarana dan sarana wisata bagi kenyamanan wisatawan dan keindahan kawasan. 

Diharapkan dengan infrastruktur kawasan yang semakin berkualitas tadi, jumlah wisatawan semakin bertambah dan lama wisatawan tinggal dapat semakin lama. Hal itu akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Adapun Tuk Budoyo merupakan mata air di lereng Gunung Sumbing yang berada di Desa Losari, Kecamatan Tlogomulyo. Kawasan di sekitar Tuk Budoyo dikenal sebagai penghasil salah satu tembakau terbaik nusantara, tembakau srintil, dan memiliki kearifan budaya dalam bertanam tembakau.

Sebelum masa tanam dan setelah panen tembakau, warga melakukan ritual pembersihan diri dan berdoa di Tuk Budoyo. Warga meyakini, dengan do’a yang dipanjatkan akan membuat tanaman tembakau srintil tumbuh subur, aman dan tidak ada gangguan.

Untuk mendukung kawasan Tuk Boyo sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Temanggung, Kementerian PUPR melalui Direktorat Bina Penataan Bangunan Ditjen Cipta Karya pada tahun 2018 telah menyelesaikan penataan kawasan Tuk Budoyo sehingga kualitas kawasan lebih rapi dan nyaman dikunjungi wisatawan karena telah tersedianya berbagai fasilitas.

Kontraktor pelaksana adalah CV Beje Persada dengan nilai kontrak Rp 1,3 miliar dan konsultan supervisi CV Maju Mulia dengan waktu pelaksanaan dari mulai Agustus-November 2018.

Fasilitas yang dibangun meliputi gapura, pendopo, plaza, tempat pemandian, reservoir, toilet, musholla, gazebo, dan lampu penerangan berikut genset.

Pada 26 Desember 2018, akan dilakukan Kirab Budaya yang seharusnya dilakukan setiap tanggal 1 Suro Tahun Jawa, namun tertunda karena masih dalam tahap konstruksi. Dilanjutkan dengan tasyakuran oleh Pemerintah Desa Losari pada 30 Desember 2018.

Di Kabupaten Magelang, Kementerian PUPR juga melakukan penataan kawasan Candi Mendut yang merupakan bagian dari pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur.

Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 38 km ke arah barat laut dari Yogyakarta atau sekitar 3 km dari Candi Borobudur.

Lingkup pekerjaan berupa pembangunan trotoar dilengkapi lampu jalan, saluran ROW 15 M dan ROW 5,5 M dan pembuatan plaza taman. Lama pekerjaan dilakukan sejak Mei hingga Oktober 2018 dengan kontraktor PT Citra Andriana Persada dengan nilai kontrak Rp 3,8 miliar dan konsultan supervisi CV Pola Prisma.

BPPTKG: Awan Panas Merapi Berpotensi Hujan Abu, Warga Diimbau Tenang

Yogyakarta – Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran siang ini. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan awan panas guguran ini berpotensi menimbulkan hujan abu.

“Awan panas guguran dan guguran lava berpotensi menimbulkan hujan abu,” jelas Kepala BPPTKG, Hanik Humaida dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/2/2019).

Hanik tak menjelaskan wilayah mana saja yang beroperasi terdampak hujan abu Merapi. Pihaknya hanya meminta masyarakat yang tinggal di lereng Merapi tetap tenang.


“Warga Merapi diharap tetap tenang serta selalu mengantisipasi guguran akibat abu vulkanik,” tuturnya.

Diketahui, awan panas guguran memang kembali terjadi di Gunung Merapi sekitar pukul 11.24 WIB. BPPTKG mencatat durasi awan panas guguran tersebut berlangsung sekitar 110 detik.

“Untuk jarak luncur (awan panas guguran) 1.100 meter, dan arahnya ke Kali Gendol. Awan panas tidak teramati dari CCTV karena cuaca berkabut,” jelas Hanik.
(sip/sip)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ayo Ramai-Ramai Menjaga Rinjani dari Ulah Setan Pembakar Lahan

Liputan6.com, Mataram – Ancaman kebakaran hutan selalu mengintai kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pada musim kemarau, kobaran api bisa tiba-tiba muncul menghanguskan sabana dan pepohonan di pegunungan yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

Hampir setiap tahun, api menghanguskan sebagian kawasan sabana dan pepohonan besar di atas gunug tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Pulau Sumatera dengan ketinggian 3.805 mdpl.

Meskipun demikian, kebakaran hutan dan lahan di Provinsi NTB selama ini, termasuk di kawasan Gunung Rinjani, tidak separah di provinsi lainnya yang menyebabkan terjadinya kabut asap.

Data Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), ratusan hektare sabana hangus terbakar. Api membakar kawasan yang didominasi rumput ilalang pada 19 September 2015. Kejadian sejak siang hari tersebut berlangsung hingga beberapa hari lamanya, dilansir Antara.

Peristiwa serupa juga terjadi pada 9 Oktober 2017. Api membakar rumput ilalang dan pohon cemara saat panas tering matahari. Api begitu cepat menjalar ke segala penjuru kawasan TNGR. Total luas kawasan yang terbakar mencapai puluhan hektare.

Bahkan, kobaran api sempat mengarah ke pemukiman penduduk Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, yang posisinya berada di kaki Gunung Rinjani. Namun, petugas berhasil mencegahnya.

Perjuangan memadamkan api yang dilakukan petugas taman nasional bersama TNI-Polri dibantu warga lokal juga terjadi pada Juni 2018. Sekitar 20 hektare sabana hangus menjadi abu setelah terbakar api beberapa jam lamanya.

Menurut Kepala BTNGR Sudiyono, upaya memadamkan api di dalam kawasan Gunung Rinjani, relatif sulit. Pasalnya, lahan yang terbakar berada pada kemiringan yang sulit dijangkau oleh petugas.

Pemadaman api dilakukan dengan menyiramkan air menggunakan alat penyemprot sederhana (jet sutter). Pasokan air dibawa menggunakan mobil tangki ke dalam kawasan yang masih memungkinkan untuk masuk kendaraan roda empat.

BTNGR memiliki dua mobil tangki air untuk memadamkan api dan membantu penyiraman material longsor yang menutup badan jalan di sekitar lingkar Gunung Rinjani.

Namun, upaya pemadaman api menggunakan peralatan semprot terkadang menemui hambatan jika lokasi api jauh dari tempat parkir mobil tangki. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya sumber mata air di sekitar lokasi kebakaran.

Dalam kondisi demikian, upaya pemadaman dilakukan secara tradisional (gepyok) agar api tidak meluas. Petugas bersama warga memukul kobaran api yang membakar rerumputan dengan “gepyok” yang terbuat dari ranting pepohonan basah.

2 dari 3 halaman

Ulah Manusia

Setiap peristiwa kebakaran di dalam hutan Gunung Rinjani, selalu muncul dugaan terjadi akibat pembakaran lahan kebun di sekitar kawasan.

Ada juga dugaan disebabkan ulah manusia yang membuang puntung rokok ke areal sabana. Api akhirnya berkobar karena rerumputan yang kering mudah terbakar meskipun hanya terkena api dari puntung rokok.

Kebakaran seperti itu sering terjadi ketika musim pendakian. Rata-rata jumlah pendaki mencapai 2.000-an orang per hari. Namun, belum pernah ada warga yang diproses hukum. Pasalnya, pihak berwenang kesulitan mendapatkan bukti-bukti kuat, meskipun penyebab kebakaran diduga kuat karena perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.

Kebakaran Permukaan Menurut Sudiyono, kebakaran di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani masih tergolong kebakaran permukaan karena hanya membakar rerumputan kering.

Berbeda dengan di Kalimantan dan Sumatera tergolong kebakaran bawah karena menghanguskan lahan gambut.

Kebakaran permukaan memang tidak begitu berdampak besar terhadap habitat satwa. Pasalnya, hewan-hewan berukuran besar memiliki insting menyelamatkan diri ke kawasan yang ditumbuhi pepohonan besar ketika terjadi kebakaran padang rumput.

Namun, hal yang paling diantisipasi adalah kebakaran bawah menjadi kebakaran atas, yakni terbakarnya pepohonan hingga kobaran api menjulang tinggi.

Hal itu bisa terjadi jika api yang membakar padang rumput dibiarkan menjalar ke dalam kawasan hutan yang ditumbuhi pepohonan.

Apalagi, hal itu tidak ditangani serius. Kobaran api juga bisa merembet ke pemukiman padat penduduk yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani, khususnya desa-desa di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Aktivitas pendakian sudah ditutup sejak terjadinya rentetan gempa bumi dengan magnitudo 6-7 Skala Richter (SR) yang terjadi pada 29 Juli hingga sepanjang Agustus 2018. Untuk sementara, tidak ada manusia yang naik gunung hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Sepinya para pendaki tentu berpengaruh terhadap kecilnya potensi kebakaran akibat ulah pendaki yang membuang puntung rokok sembarangan di dalam kawasan sabana.

Namun, hal yang paling dikhawatirkan adalah pembakaran lahan kebun oleh warga tanpa memperhatikan bahaya yang bisa ditimbulkan. Jika aktivitas tersebut tidak dikontrol, api bisa merembet ke dalam kawasan taman nasional yang jaraknya dekat dengan lahan milik warga.

3 dari 3 halaman

Sosialisasi Bahaya Pembakaran Lahan

Untuk mencegah terjadinya kebakaran hebat, BTNGR terus menerus melakukan sosialisasi bahaya pembakaran lahan kepada masyarakat di 38 desa lingkar Gunung Rinjani.

Sosialisasi dilakukan oleh petugas yang tersebar di Resor Sembalun dan Joben, Kabupaten Lombok Timur, dan Resor Setiling di Kabupaten Lombok Tengah, serta Resor Senaru, Kabupaten Lombok Utara.

Pihaknya juga terus mengaktifkan kelompok masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA). Mereka selalu siap siaga dan cepat melapor kepada pihak berwenang ketika terjadi kebakaran di dalam kawasan hutan.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II BTNGR, Benedictus Rio Wibawanto, menyebutkan jumlah anggota MPA 90 orang. Mereka tersebar di Resor Sembalun 30 orang, Resor Senaru 30 orang, dan gabungan Resor Setiling-Joben 30 orang.

Ada juga Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP). Mereka adalah kelompok masyarakat sekitar hutan yang membantu polisi hutan (polhut) dalam pelaksanaan perlindungan hutan di bawah koordinasi, pembinaan, dan pengawasan instansi pembina.

Anggota MMP lingkar Gunung Rinjani berjumlah 136 orang yang tersebar di empat resor di wilayah kerja BTNGR. Mereka berasal dari berbagai unsur, seperti kepala dusun, guru, dan ibu rumah tangga yang sukarela dan ikhlas membantu menjaga kelestarian kawasan hutan.

BTNGR sebagai instansi vertikal di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) juga membentuk kader konservasi. Mereka berasal dari semua kalangan, seperti guru, pecinta alam, anggota pramuka, dan ibu rumah tangga.

Seluruh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap upaya menjaga Gunung Rinjani sudah pernah mendapatkan pelatihan, khususnya tentang teknis pemadaman api.

Materi tersebut diberikan oleh petugas khusus yang ahli memadamkan kebakaran hutan maupun melakukan pencarian dan pertolongan.

BTNGR memiliki dua petugas khusus yang tergabung dalam Satuan Manggala Agni Reaksi Taktis (SMART). Wadah tersebut dibentuk oleh Kementerian LHK dalam rangka menurunkan angka titik panas secara nasional pada 2010.

Pada awal musim kemarau setiap tahun, para pihak terkait dan masyarakat berkumpul dalam suatu apel siaga kebakaran hutan bersama anggota TNI-Polri. Khusus untuk anggota MPA yang terlibat dalam upaya pemadaman api diberikan apresiasi, meskipun nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan tugas yang harus dijalankan.

Bahkan, mereka harus menahan haus dan bercucuran keringat karena terbatasnya air bersih untuk diminum ketika berhadapan dengan api.

Semua yang terlibat dalam proses pemadaman api di dalam kawasan Taman Nsional Gunung Rinjani ibaratnya “Pantang pulang sebelum api padam”.

Mereka rela berhari-hari di atas gunung mendirikan kemah pos, sampai api benar-benar tidak menyala lagi.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Dikira Anjing, Serigala Buas Diselamatkan dari Sungai Beku Estonia

Jakarta

Sejumlah pekerja baik hati di Estonia bergegas menyelamatkan seekor anjing yang terjebak di sebuah sungai beku. Namun para penyelamat itu tak sadar bahwa mereka sebenarnya tengah memasukkan serigala liar ke mobil mereka.

Pekerja proyek Bendungan Sindi di Sungai Parnu itu tengah bekerja, Rabu (20/02), tatkala mereka melihat binatang terjebak di perairan yang beku.

Setelah membersihkan jalur menuju es, mereka mengangkat dan melarikan anjing bertaring itu ke klinik untuk perawatan medis darurat.

Belakangan, mereka diberitahu bahwa binatang yang mereka gendong adalah seekor serigala.

Perkumpulan untuk Penyelamatan Binatang Estonia (EUPA) menyebut tekanan darah serigala itu sangat rendah ketika tiba di kantor dokter hewan. Fakta itu menjelaskan mengapa serigala tersebut jinak saat diangkut ke mobil.

Salah satu kelompok penyelamat, Rando Kartsepp, berkata ia dan rekan-rekannya harus menggendong serigala itu menuruni lereng.

“Binatang itu sangat berat. Dia tenang dan tidur di kaki saya. Ketika saya hendak merenggangkan tubuhnya, dia sempat mendongakkan kepalanya,” kata Kartsepp.

Sejumlah dokter hewan curiga pada tabiat alamiah ‘anjing’ itu. Tapi binatang itu adalah hewan pemburu, akrab dengan gerombolan serigala di kawasan tersebut.

Dan akhirnya informasi itu terkonfirmasi: binatang yang diselamatkan itu adalah serigala jantan berusia sekitar satu tahun.

Sejak saat itu, staf klinik memutuskan untuk menempatkan serigala tersebut di kandang usai penanganan medis. Mereka mengantisipasi jika serigala itu mendadak buas setelah pulih.

EUPA mengklaim membayar seluruh tindakan medis yang diberikan pada serigala itu. Mereka lega karena proses penyelamatan berlangsung lancar.

Beberapa hari setelah penyelamatan, serigala itu selamat setelah bergelut melawan kematian. Tim ilmuwan dari Badan Lingkungan Nasional Estonia menempelkan sistem pemosisi global (GPS) ke tubuh binatang itu, lalu membebasliarkannya.

“Kami bahagia dengan akhir cerita ini dan berterima kasih pada setiap pihak, terutama orang-orang yang menyelamatkannya dari sungai dan para dokter di klinik yang tak takut menghadapi sifat buas alamiahnya,” kata EUPA dalam keterangan mereka.

Estonia adalah rumah bagi ribuan serigala dan hanya sedikit dari mereka yang dijaring dalam beberapa tahun terakhir. Mereka kerap menghindari perjumpaan dengan manusia.

Kelompok pegiat lingkungan tahun 2018 menetapkan serigala sebagai binatang sekaligus simbol Estonia.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pesona Gunung Bromo Tetap Memikat Meski Sedang ‘Batuk’

Liputan6.com, Malang – Gunung Bromo sedang menggeliat, ditandai dengan keluarnya asap bercampur abu vulkanis di dalam kawah. Namun, ‘batuk’ gunung berapi purba itu tak menyurutkan minat wisatawan untuk datang berkunjung.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mencatat, pada Rabu, 20 Februari 2019, ada 408 wisatawan nusantara (wisnus) dan 23 wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung. Jumlah pelancong di Gunung Bromo itu tak jauh berbeda dengan sehari sebelumnya.

“Masih banyak kemarin, tapi hanya selisih empat orang saja. Ini menunjukkan situasi tetap kondusif,” kata Humas BB TNBTS, Ponco Supriyandogo di Malang, Rabu, 20 Februari 2019.

Sebelumnya, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Bromo mencatat ada erupsi pada Senin dan Selasa lalu. Selama dua hari itu, kolom kawah mengeluarkan asap kecokelatan disertai material abu setinggi 600 meter. Terekam intensitas tremos tipis 0,5–1 milimeter.

Status gunung suci bagi masyarakat Suku Tengger itu juga tak berubah, tetap pada level waspada. Sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), zona aman dari kawah ada dalam radius 1 kilometer.

“Pengunjung harus selalu mematuhi aturan itu, tak boleh mendekat ke kawah demi keselamatan,” ujar Ponco.

Pesona Gunung Bromo selalu mampu menarik ratusan ribu wisatawan tiap tahunnya. Pada 2017, tercatat ada 623.895 wisnus dan 23.568 wisman. Wisata Gunung Bromo ini menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) lebih dari Rp 21 miliar.

Sedangkan, pada 2018 lalu angka kunjungannya ada 828.247 wisnus dan 24.769 wisman. PNPB yang diterima lebih dari Rp 27 miliar. Fakta ini menegaskan gunung yang masuk wilayah Malang, Probolinggo, dan Lumajang ini menjadi salah satu tujuan favorit untuk berpelesir.


Simak video pilihan berikut ini: