Legenda Mejajaran, Setan Perempuan Penunggu Hutan Jati Banyumas

Orang-orang di pedesaan Banyumas menyebut waktu tanggung untuk menjelaskan peralihan waktu ekstrem. Misalnya, tanggung beduk, atau ketika matahari persis di tengah ubun-ubun. Tanggung magrib, atau sandekala, untuk menyebut petang.

Konon, di waktu perantaraan ini lah makhluk misterius bernama mejajaran itu kerap menampakkan diri. Masyarakat Jawa terbiasa memperingatkan anak-anaknya untuk menghentikan waktunya saat “wektu tanggung”.

Seperti dibilang di muka, legenda Mejajaran telah menjadi cerita rakyat yang dituturkan nyaris di semua desa pinggir hutan wilayah Banyumas. Pun di desa Cingebul, Lumbir.

Di desa ini membentang Sungai Dermaji yang sekaligus menjadi batas dengan Kabupaten Cilacap. Sama seperti di Cilombang, di Cingebul pun berkembang cerita rakyat soal Mejajaran. Deskripsi penampakannya pun sama, perempuan tanpa lekuk di bawah hidung, dan tanpa tungkai kaki.

Di sebelah selatan desa ini, ada hutan masyarakat yang dulu dikenal angker. Yakni, Mbalekambang, Pekajaran dan Karanglo. Di tiga hutan ini lah, Mejajaran konon kerap menampakkan diri.

Dalail, seorang petani yang juga ketua RT di Dusun Karangreja bercerita, nun di suatu hari, ada seorang penjala ikan di Sungai Dermaji yang tidak seperti biasanya begitu banyak berhasil menangkap ikan. Ikan begitu mudah terperangkap di jaringnya.

Menjelang tengah hari, ia beristirahat di pinggiran sungai. Ia pun membuka bekal makannya. Lelah dan lapar, ia makan dengan lahapnya.

Saat itu lah, tiba seorang perempuan yang langsung mengarah ke wadah ikan yang disebut kepis. Lantas, si perempuan mengambil ikan dalam jumlah yang menurut si penjala terlalu banyak.

Perempuan itu tampak tenang mengambil ikan, seperti miliknya sendiri. Dan ia tetap menunduk. Sebagian wajahnya tertutup uraian rambutnya panjangnya.

Si penjala ikan pun gusar. Ia langsung menegur sosok perempuan ini, boleh minta ikan tapi jangan banyak-banyak.

Mendadak, si perempuan menengadah. Si penjala kaget. Dilihatnya, satu ikan mentah berada di mulut dengan wajah belepotan darah segar.

Daripada tek kletak ndasmu,” ucap si perempuan, dingin. Ini adalah sebentuk ancaman. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, itu berarti “Daripada saya keletak kepalamu,”.

Sadar tengah berhadapan dengan Mejajaran, si penjala ikan pun lari gulung kuming. Ia tinggalkan jala dan ikan yang didapatnya hari itu.

Benar tidaknya legenda rakyat ini, Wallahu A’lam.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Rayuan setan merupakan suatu yang biasa kita rasakan pada saat bulan Ramadan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *