Kuli-kuli Cekeran Menggali Ibu Kota

Jakarta – Proyek galian sering dijumpai di sejumlah titik Ibu Kota. Para tukang yang mengerjakan proyek galian itu terpantau bekerja tanpa alas kaki alias cekeran.

Nampak di salah satu sudut Jalan Raya Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, para tukang yang mengerjakan galian kabel optik tengah bekerja tanpa alas kaki. Mereka mengaku nyaman-nyaman saja.

“Tidak ada keharusan pakai boots. Tidak berbahaya juga, galiannya dangkal,” kata Slamet (49), tukang asal Brebes, saat ditemui detikcom di lokasi, Selasa (27/11/2018).

Kuli-kuli Cekeran Menggali Ibu KotaKuli gali fiber optik, bekerja cekeran. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Beton trotoar yang telah dihancurkan sebagian kemudian dilubangi. Di sekitar lubang terpasang papan pemberitahuan bahwa di sini sedang ada proyek galian fiber optik. Sejumlah karung-karung tanah ditumpuk di sekitarnya.
Kaus yang dikenakan para tukang coreng-moreng oleh lumpur. Tiga orang yang terlihat sibuk di sekitar lubang galian terlihat tak mengenakan sepatu boots atau helm. Pemandangan seperti ini sering terlihat, tak hanya di lokasi ini saja.

Kami juga menemui para kuli sindang yang nongkrong menunggu orderan pekerjaan di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Mereka mengaku pekerjaan gali-menggali memang tak perlu alat pelindung diri dalam rangka Kesehatan dan Keselamatan Kerjam (K3), seperti helm, sepatu, atau kacamata.

“Soalnya pekerjaannya juga tidak terlalu berbahaya, tidak seperti di gedung-gedung kan,” ujar Saparudin (43), salah satu tukang gali yang ditemui di depan TMP Kalibata.

Kuli-kuli Cekeran Menggali Ibu KotaKuli galian mengerjakan proyek kabel optik kawasan Pasar Minggu, cekeran. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Ia terbiasa bekerja dengan hanya membawa peralatan kerjanya, seperti cangkul dan belencong. “Pekerjaan galian juga paling kedalamannya hanya 2 meter,” katanya menambahkan. Ia sendiri memang lebih terbiasa mengurus galian septic tank dan fondasi bangunan.
Meski begitu, ia pernah mendengar kisah kecelakaan kerja yang dialami rekannya. “Pernah ada teman (yang mengalami). Dia dapat kerjaan galian yang dalamnya 5 meter. Buat resapan air hujan. Jadi dia lagi di bawah, ada batu jatuh (dari tanah di atas), kena kepalanya. (Cuma) berdarah. Luka ringan,” ujar Saparudin.

Hal yang mirip dituturkan oleh Dasim (41), tukang gali lainnya. Selama ini menurutnya kondisi keselamatan dan keamanan kerja yang ia dapat sudah baik.

“Kalau di perumahan biasa, nggak disediakan, tapi kalau di proyek PT-PT besar suka disiapkan, seperti rompi dan helm. Sepatu boot juga,” ujarnya.

“Kalau di perumahan biasa kerjanya cuma nyangkul dan pakai palu bodem. Nggak pakai alat lain lagi. Lagipula kerjaannya juga tidak berbahaya, galiannya cetek (dangkal),” ujarnya menambahkan. Saat bekerja di lingkungan perumahan, Dasim biasanya hanya mengerjakan galian fondasi dan septic tank. Menurutnya kondisi keselamatan dan keamanan kerja memang tak selalu sama, karena memang tak semua punya resiko kecelakaan yang sama.

“Alhamdulillah selama bekerja nggak pernah (dapat kecelakaan kerja). Temen-temen di Kalibata juga nggak ada,” tutupnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI, Andri Yansyah, mendorong agar semua pihak yang mempekerjakan kuli sindang dan tukang galian secara umum memperhatikan faktor Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Dia mengamati, faktor K3 sering diabaikan di tempat kerja tukang gali.

“Kami melihat faktor K3 dari para kuli sindang. Fisiknya dulu nih dilihat, pakai sepatu nggak, pakai peralatan safety nggak, walaupun faktanya memang jarang,” kata Andri kepada detikcom, Jumat (30/11/2018). “Keamanan diri memang belum dipenuhi secara sempurna.”

Ngomong-ngomong soal risiko bekerja di proyek galian, pernah ada berita soal Pak Tarno yang tewas saat mengecek galian saluran air bersih di Pluit, Jakarta Utara, 1 Mei 2018 lampau. Yang menewaskan Tarno adalah longsoran galian di Jalan Jembatan Tiga, Pluit.

Simak terus artikel-artikel lain tentang kuli sindang di detikcom.

(dnu/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *