KRI Sikuda Sempat Tangkap Sinyal CVR, Namun Lemah Lalu Hilang

Karawang – Salah satu fokus evakuasi Lion Air PK-LQP adalah pencarian Cockpit Voice Recorder (CVR) Black Box pesawat tersebut. Sinyal CVR sempat tertangkap, namun kemudian menghilang lagi.

Kepala Pusat Hidro Oseanografi TNI AL Laksamana Muda Harjo Susmoro mengatakan pihaknya kini sedang berupaya menemukan CVR. Alat yang digunakan adalah High Presition Acoustic Positioning (HIPAP) dan ROV.

“Kita punya alat nama HIPAP, ini sedang diutak-atik, untuk menangkap ping, mudah-mudahan berhasil,” kata Harjo di KRI Sikuda, Minggu (4/11/2018).

HIPAP digunakan untuk mengendalikan ROV, yang menjadi ‘mata’ di dasar laut. Sinyal dari CVR juga sedang dicari.

“Ping (CVR) aktif 90 hari, tergantung kemampuan baterai,” kata Harjo soal dugaan kondisi CVR.

Harjo lalu bicara pentingnya penemuan CVR. Rekaman percakapan di pesawat diperlukan untuk mengetahui kondisi terakhir sebelum jatuh.

“Pencarian CVR, voice antara pilot dan kopilot, dan juga suasana penumpang untuk memperkuat penelitian. Karena CVR akan merekam percakapan pilot dan kopilot, sama suasana kabin, sehingga detik demi detik, kenapa pilot membiarkan (pesawat jatuh), kenapa pesawatnya cenderung nukik terus kok dibiarkan,” ujar Harjo.

Harjo menjelaskan CVR ada di nose (bagian depan) pesawat. Sementara FDR ada di ekor.

“Pada saat pesawat kan nukik, yang terhantam kan CVR dulu, bisa jadi terbentur keras, terpental dan terkubur. FDR kan di ekor, jadinya gampang ditemukan. Logikanya sih gitu, lumpur kan 20-30 cm terus tertimbun, kalaupun ketemu, harus dibongkar.

Sinyal ping sempat diterima KR Sikuda, namun lemah. “Penerimaan masih lemah, (ada) ping, terus hilang, kalau pingnya stabil, koordinatnya ketahuan,” ujarnya.

(tor/gbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *