Derita Angela Skolastika Bocah Penderita Hidrosefalus di Kupang

Liputan6.com, Kupang- Perempuan cilik usia 8 tahun itu duduk pada sebuah kursi plastik berwarna hijau, bersandar dialasi sebuah bantal di belakangnya. Diapit ibu dan beberapa keluarga lainnya, dia sesekali tertawa dan mengulum jemarinya.

Dialah Angela Tekla Skolastika Mene (8) warga RT 15 RW 04, Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM), Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, NTT. Ia menderita Hidrosefalus sejak usia setahun lebih. Berbeda dengan bocah seusianya, Angela hanya bisa mendekam saja dalam rumahnya.

Angela berusaha duduk dengan posisi normal. Namun apa daya, harapan dan usaha itu tak jua berhasil. Derita Hidrosefalus membuat ukuran kepalanya membesar dan susah bergerak, bahkan hanya untuk makan pun dia masih disuapi.

Kini, posisi duduknya seperti setengah berbaring dengan sebuah bantal di belakangnya, sementara tatapannya pun tak bisa tenang, dan terlihat kosong.

Mengenakan baju ‘You Can See’ berwarna biru pudar dipadu celana pendek berwarna putih yang juga pudar, Angela hanya bisa sesekali tertawa dan menirukan ucapan dari orang-orang sekelilingnya.

Penyakit yang diderita hampir tujuh tahun itu membuatnya tak bisa berjalan, tak sanggup menyuapi dirinya sendiri, dan tak mampu berbicara lancar layaknya anak-anak seusianya.

Kondisi Angela ini tidak bisa dibilang baik-baik saja. Karena penyakit ini, maka niatnya untuk bersembahyang di gereja pun tak bisa terwujudkan.

“Kami berharap Bapak Gubernur bisa bantu Angela. Bisa belikan kursi roda untuknya. Supaya bisa ke gereja,” kata ibunya, Eriyana Abuk Bere (31) kepada Liputan6.com, Senin (21/1/2019).

Sebagaimana terlihat, cara duduk Angela yang tidak sempurna itu lantaran kaki dan tangannya yang kurus dan kaku.

Jika anak-anak seusianya dengan luwes menggerakkan tangannya tanpa ada hambatan berarti, maka hal itu tidak berlaku untuk Angela. Tangannya sedikit bengkok, begitupun kakinya, dan dia tidak bisa melipat persendiannya dengan luwes.

Untuk keseluruhan penampilannya, dari kaki, tangan, dada, hingga kepalanya, ada satu ciri yang mencolok yakni kepalanya tumbuh dan berkembang hingga terlihat lebih besar dari kepala anak-anak seusianya.

Dengan tatapan kosong, ibunya, Eriyana, mengisahkan awal mula anaknya terkena penyakit Hidrosefalus. Ia menuturkan pernah terjadi benturan keras pada kepala anaknya itu. Dari caranya berbicara, juga tatapannya, seolah ada kejadian yang membuatnya sedih dan merasa bersalah.

“Awalnya terjadi benturan agak keras di kepalanya. Habis itu dia kejang-kejang. Dan mulai sakit pelan-pelan,” ujar Eriyana sambil menangis.

2 dari 2 halaman

Benturan Keras

Perempuan usia 31 tahun itu mengaku, penyakit anaknya itu tidak dibawa sejak lahir. Angela masih tumbuh normal selama setahun lebih, sampai terjadi musibah yang menyedihkan itu.

“Setelah itu, dia mulai panas tinggi. Dan cairan pada kepalanya mulai banyak,” tuturnya.

Mengenai cairan pada kepala Angela, Eriyana mengatakan pada awalnya memang terasa lembek jika disentuh. Cairan itu membuat kepalanya terlihat membesar, menenggelamkan bola mata Angela sehingga terlihat mencekung. Dengan bertambahnya usia, cairan pada kepalanya mulai berkurang, namun kini malah mengeras.

Sambil memijit-mijit kepala anaknya, Eriyana mengatakan kondisi ini membuat mereka bimbang jika harus melakukan operasi. “Kalau dulu, karena cairan masih banyak, agak lembek kalau kita sentuh. Sekarang cairan sudah berkurang. Dan mengeras. Karena itu kami masih bimbang ketika ada orang datang dan tawarkan operasi,” ungkapnya.

Sebagai seorang ibu, sebagaimana pula orangtua-orangtua lainnya, Eriyana dan keluarga lainnya tak tinggal diam melihat kondisi Angela.

“Kami kontrol ke rumah sakit. Rawat jalan, kalau rawat inap tidak. Tapi katanya harus rujuk ke rumah sakit di Jakarta,” terangnya.

Usulan rujukan ini membuat Eriyana patah semangat. Ditambah lagi informasi simpang-siur yang mereka dapat dari orang-orang sekeliling.

“Kalau dulu sudah mau operasi. Tapi katanya tiap tahun harus ganti selang. Itu yang jadi kendala. Tiap tahun kita ganti selang uang dari mana? Kalau pakai selang, katanya lebih sengsara,” kata Eriyana.

Kini mereka pasrah mengharapkan mujizat dari Tuhan. Seiring waktu, simpati dan kunjungan dari pihak-pihak lain pun mulai berdatangan.

“Kami dapat kunjungan dari Dinas Sosial dan suster-suster. Baru-baru ini ada kunjungan juga dari JPKP NTT,” katanya.

Kunjungan bakti kasih ini merupakan sebuah aksi sosial yang dilaksanakan oleh jaringan untuk memberi dan membangun empati serta rasa solidaritas dalam mendukung upaya penyembuhan bocah penderita Hidrosefalus ini.

“Mereka datang, tanya mau operasi atau tidak. Tapi masih konsultasi, karena kami harus siapakan Kartu Keluarga dan kartu BPJS. Kalau mau operasi katanya di RS Siloam. Tapi mereka juga masih tanya dokter,” ujarnya.

Sampai saat ini, mereka masih mengharapkan dukungan dari orang-orang, supaya Angela bisa terbebas dari penyakit ini.


Simak juga video pilihan berikut ini:

Kader PBB Laporkan Ajudan Yusril Atas Kasus Pengeroyokan

Jakarta – Kader Partai Bulan Bintang (PBB) Ali Wardi melapor ke Polres Jakarta Selatan. Dia mengaku dianiaya oleh puluhan orang, salah satunya disebut merupakan ajudan Yusril Ihza Mahendra bernama Yosep Ferdinan alias Sinyo.

Ali mengatakan, penganiayaan ini terjadi pada Sabtu (19/1) malam sekitar pukul 19.21 WIB. Dia mengaku dikeroyok puluhan orang di halaman kantor DPP PBB di Pasar Minggu, Jaksel.

“Saya sebagai kader. Wakil Partai Bulan Bintang, mantan pengurus Ketua DPC Kabupaten Bogor. Sekarang Sekretaris Jenderal (Sekjen) Prabowo-Sandi Partai Bulan Bintang (PAS Lantang). Keberpihakan saya terhadap Prabowo-Sandi mungkin jadi membuat Yusril dan kawan-kawan yang mengarahkan PBB ke 01 merasa tersinggung, merasa terusik, sehingga saya menjadi sasaran,” kata Ali di Polres Metro Jakarta Selatan, Senin (21/1/2019).

Diceritakan Ali sore itu dirinya datang ke kantor DPP PBB di Pasar Minggu. Menurutnya saat itu di dalam ruangan akan ada rapat bersama Yusril soal penentuan keberpihakan PBB di Pilpres 2019 apakah ke Jokowi-Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ali Wardi melapor ke Polres Metro Jakarta SelatanAli Wardi melapor ke Polres Metro Jakarta Selatan Foto: Farih Maulana/detikcom

“Setelah itu habis magrib kami salat maghrib. Pas Isya kami salat di musala DPP. Begitu masuk (ke ruangan-red) sudah rame orang, feeling saya sudah ada, saya masuk saja berdua dengan kawan saya. Ada orang yang nanya dari belakang? Ali Wardi ya? Belum sempat saya jawab saya langsung dipukul,” ujarnya.

Ali mengaku, saat itu orang yang mengeroyoknya makin banyak. Dari puluhan orang yang mengeroyoknya, sebagian besar wajahnya tidak dia kenali. Usai pengeroyokan itu dia dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan, untuk dirawat dan kemudian melakukan visum. Dia sempat dirawat semalam di rumah sakit tersebut.

Ali mengaku mengalami lebam di seluruh tubuh usai dikeroyok. Saat datang ke Polres Metro Jakarta Selatan, dia juga menggunakan penyangga leher.

“Ada banyak yang melihat kejadian itu. Video? Ada yg mau ambil video tapi videonya diambil. Salah satu saksi adalah sekjen PBB bernama Yunasdi. Dia juga sempat terpukul saat melerai saya,” ucapnya.

“Iya tangan kosong. Saya tidak terlalu ingat karena setengah sadar. Saya jatuh dan diinjak-injak. Dikeroyokin 30 orang,” sambung Aldi saat ditanya bagaimana dirinya dianiaya. Ali menyebut pelaku utama dalam kasus pengeroyokan dirinya adalah ajudan Yusril, Yosep Ferdinan alias Sinyo.

Menurut Ali sebelum kasus ini, dirinya sudah sering mendapat ancaman karena bersikap kritis di media sosialnya seperti Facebook. Dia menduga ini ada kaitannya dengan sikapnya yang bersebrangan dengan Yusril. Ini menurutnya dimulai saat Yusril menjadi pengacara Jokowi jelang Pilpres 2019.

“Sekali lagi karena saya mungkin dianggap paling kritis, saya sempat berdebat di medsos dengan Yusril, waktu itu juga sempat ya sampai akhirnya waktu itu dia nggak bisa jawab, apa alasannya menjadi lawyer (Jokowi-red) begitu, saya kritis begitu sejak dia jadi lawyer, sebelum dia jadi lawyer saya sangat mensupport dia, sangat mengidolakan dia,” ucapnya.

“Sampai hari ini Ketua PBB Yusril Izha Mahendra tidak pernah menghubungi saya, sekjennya juga tidak pernah, wakil ketumnya juga tidak pernah menanyakan kondisi, tidak pernah. Saya kader, demi Allah saya kader,” sambung Ali.

Ali didampingi Novel Bamukmin, dan Ketua Tim Advokasi Pas Lantang yang juga Wasekjen DPP PBB Bidang Hukum dan HAM Ismar Syafrudin melaporkan kasus ini ke Polres Metro Jakarta Selatan berdasarkan laporan polisi nomor LP/173/K/I/2019/PMJ/Restro Jaksel. Ali melaporkan Yosep Ferdinan alias Sinyo dengan pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan. Dia melakukan pelaporan dengan membawa sejumlah bukti salah satunya hasil visum.

Ismar Syafrudin dan Novel Bamukmin menambahkan, mereka berharap polisi segera bergerak mengusut kasus ini. Dia berharap siapapun yang terbukti terlibat bisa diproses hukum.

“Ini betul-betul pihak dari penyidik Polres Jaksel harus melakukan tindakan tegas karena ini berbahaya dan bisa menimbulkan gejolak yang lebih besar karena pelakunya. Karena saksi-saksi sudah menyatakan langsung kepada kami bahwa pelaku adalah salah satu ajudan Ketua Umum PBB. ini yang perlu diluruskan karena dia sudah sebagai terlapor yaitu Sinyo alias Yosep Ferdinan cs,” ucap Ismar.
(hri/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Rizki Drive Mengaku Keluar dari The Titans karena Bosan

Liputan6.com, Jakarta – Rizki Abdurahman, mantan vokalis The Titans, kini telah bergabung dengan band Drive. Ia pun menggunakan nama Arizki setelah menjadi vokalis band yang telah lama ditinggalkan Anji itu.

Tentunya, publik masih terbayang-bayang dengan kiprah Rizki Drive di atas panggung bersama The Titans. Belum lama ini, Rizki mengungkapkan alasannya hengkang dari The Titans yang jarang diketahui orang.

“Bosan. Aku sama The Titans kan sudah hampir 11 tahun waktu itu. Jadi, rasanya buat aku pribadi kayak agak sedikit kurang mudah buat berkembang,” terang Rizki dalam sesi wawancara Facebook Live bersama Drive di kantor Liputan6.com, kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, belum lama ini.

“Kayaknya semuanya, pattern-nya itu sudah ada. Jadi, aku merasa kayak, aku bisa lebih berkembang dari ini. Jadi ya nyoba buat mengundurkan diri dari situ, mudah-mudahan sih bisa jauh lebih berkembang, itu saja sih,” lanjut Rizki.

2 dari 3 halaman

Motivasi Bergabung Drive

Keluarnya Rizki dari The Titans, sempat membuat nama penyanyi satu ini kurang disorot. Lantas, apakah hal itu menjadi motivasi Rizki bergabung dengan Drive?

“Kalau gabung sama Drive sih karena awalnya temanan. Ya aku mikirnya juga buat, ini band keren yang enggak boleh berhenti. Karena beberapa waktu lalu ketemu sama manajemen Drive dan Dygo, awalnya cuma tahu kalau Tirta saja yang keluar. Pas ngobrol, baru tahu Adi juga keluar. Aku sudah menawarkan dengan kondisi tahunya vokal saja yang kosong,” Rizki menjelaskan.

“Akhirnya aku tahu kalau cuma Dygo dan Budi yang tersisa, ya sudah… Akhirnya kami coba jalan dengan additional drummer. Jadi memang bukan motivasi karena keluar dari Titans jadi pengin masuk Drive. Tapi memang ada yang mengira begitu,” sambungnya.

3 dari 3 halaman

Karya Baru

Memiliki Rizki sebagai vokalis, tentunya Drive sudah menggarap karya untuk rekaman baru. Mereka pun memilih untuk merekam ulang lagu lamanya yang berjudul “Seakan di Surga”. Lagu yang aslinya dinyanyikan saat Anji masih menjadi vokalis ini, diaransemen ulang untuk dinyanyikan oleh Rizki.

“Ini seperti menyambung sejarah sih. Karena pas lagu ini keluar, aku sempat bantu (Drive). Sekarang pas bareng lagi, Rizki sama Drive, jadi seperti nyambungin sejarah yang pernah ada,” ujar Rizki saat membahas lagu yang direkam ulang bersamanya itu.

Kisah Perjuangan Hidup 2 Nelayan Cilacap yang Perahunya Ditelan Laut Kidul

Liputan6.com, Kebumen – Tak ada yang menyangkal keganasan ombak pantai selatan Kebumen, Jawa Tengah. Tahun 2018 lalu misalnya, sebanyak 22 orang tenggelam di perairan ini. 20 korban ditemukan tak bernyawa. Dua korban lainnya, dinyatakan hilang.

Paling menggegerkan tentu adalah peristiwa di akhir 2018 lalu, ketika empat remaja tenggelam dan meninggal di Pantai Petanahan, Kebumen. Mereka terseret pusaran palung laut pinggir pantai.

Di pantai selatan, perenang handal pun tak jadi jaminan. Ini lantaran arus yang unik. Di permukaan, laut terlihat tenang. Tetapi, di bagian bawah, arus bisa jadi sangat kuat dan bisa menyeret benda apa saja.

Singkat kata, dalam kondisi biasa pun arus laut selatan Kebumen begitu berbahaya. Apalagi, jika sedang terjadi gelombang tinggi seperti saat ini.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pos Pengamatan Cilacap telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berisiko terjadi atara 19-22 Januari 2019.

Ombak setinggi 2,5-4 meter berpotensi terjadi di perairan pantai dan Samudera Hindia selatan Cilacap, Kebumen, Purworejo hingga Yogyakarta. Dengan kecepatan angin mencapai 30 knot, kondisi perairan selatan berbahaya bagi jenis kapal besar sekali pun.

Peringatan dini ini pun disebar mulai dari para pengelola pantai wisata hingga kelompok-kelompok nelayan. Nelayan pun paham, melanggar imbauan untuk tak melaut, sama saja menyerahkan diri untuk berhadapan langsung dengan gelombang ganas laut selatan.

Bagi nelayan, laut adalah ladang penghidupannya. Barangkali, mereka tak hendak melanggar larangan melaut. Tetapi, mereka lebih khawatir periuk keluarga mereka kosong.

Apa boleh buat, sebagian nelayan nekat melaut. Itu termasuk dua nelayan asal Cilacap yang melaut dari pantai Mirit, Kebumen. Mereka tak hirau dengan ancaman gelombang tinggi laut selatan demi kelangsungan hidup keluarganya.

2 dari 2 halaman

1 Nelayan Selamat, 1 Meninggal Dunia

Dua nelayan ini, Hadi Rasiwan (60) warga Desa Lengkong, Cilacap dan Rohman (38) warga Kesugihan Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Perahu mereka hanya lah perahu kecil dengan mesin tempel ukuran 5 PK. Tentu, tak sebanding dengan gelombang tinggi laut selatan.

Tetapi, mereka nekat menerjang ganasnya ombak laut selatan Kebumen. Nahas, baru saja melaut 30 menit dan berjarak kisaran di bawah 100 meter dari bibir pantai ombak tinggi melabrak perahu. Akibatnya, perahu langsung terbalik.

Hadi Rasiswan dan Rohman pun kalang kabut menyelematkan diri. Mereka segera berenang menyelamatkan diri agar tak turut tenggelam.

Begitu mengetahui ada perahu terbalik, nelayan setempat pun tak tinggal diam. Mereka segera menolong dua nelayan malang ini.

Tetapi butuh waktu untuk mencapai dua nelayan yang berjuang untuk nyawanya ini. Gelombang tinggi menyulitkan perahu nelayan lainnya mendekat ke kedua korban tenggelam.

Setelah berujuang beberapa waktu, keduanya berhasil dievakuasi. “Kedua nelayan itu ditolong sesama nelayan dan dibawa ke tepian,” kata Kasubbag Humas Polres Kebumen, AKP Suparno.

Bersicepat dengan waktu, dua nelayan ini lantas dilarikan ke Puskesmas Mirit. Sayangnya, satu nelayan, Hadi Rasiwan, meninggal dunia di perjalanan.

“Kemungkinan keduanya kelelahan saat berenang menyelamatkan diri hingga akhirnya mendapatkan pertolongan,” Suparno menjelaskan.

Informasi yang dihimpun kepolisian, kedua nelayan tersebut sebetulnya mengenakan pelampung. Namun saat ditemukan, pelampungnya telah lepas.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Bisakah Bulan Dimiliki dan Diakusisi Negara atau Perusahaan?

Jakarta

Sejumlah negara dan perusahaan tengah menelisik permukaan bulan untuk mencari sumber daya berharga dari satelit bumi itu. Namun adakah regulasi yang mengatur eksploitasi dan klaim kepemilikan bulan?

Hari ini hampir 50 tahun sejak Neil Armstrong menjadi manusia pertama yang menjejakkan kaki di bulan.

“Langkah kecil bagi seorang manusia,” kata astronot Amerika Serikat yang terkenal itu, “tapi lompatan besar bagi peradaban manusia.”

Tak lama setelah itu, rekan sejawat Armstrong, Buzz Aldring bergabung untuk menjelajah permukaan bulan yang kerap disebut Sea of Tranquility (Laut Ketenangan).

Setelah turun dari anak tangga pesawat ulang alik Eagle, Aldrin menatap ke hamparan luas yang kosong dan berkata, “Kesunyian yang begitu indah.”

Sejak misi Apollo 11 pada Juli 1969, bulan tetap belum terjamah seutuhnya. Tak ada lagi manusia yang datang ke bulan sejak 1972.

Namun situasi itu dapat segera berubah karena sejumlah perusahaan menyatakan ketertarikan mereka untuk mengeksplorasi, dan jika memungkinkan, menambang permukaan bulan untuk mencari emas, platina atau logam putih, serta sumber daya mineral lain yang makin langka di bumi, tapi vital bagi alat elektronik.

BulanBBC

Awal Januari ini, Cina menerbangkan seperangkat modul bernama Chang’e-4 di bulan. Alat ini berhasil menumbuhkan benih bunga kapas dalam biosfer yang dibangunnya di permukaan bulan.

Chang’e-4 pun menganalisis peluang membangun pusat penelitian.

Sementara perusahaan luar angkasa asal Jepang, iSpace, berencana membangun platform transportasi antara bumi dan bulan. Mereka juga berwacana mengeksplorasi air dari bulan.

Intinya perkembangan terus dan diwacanakan untuk terjadi. Lantas, apakah ada peraturan untuk memastikan kesunyian yang disebut Aldrin tetap tak terjamah?

Pertanyaan lainnya, dapatkah satu-satunya satelit alami bumi itu berubah menjadi lahan komersial yang politis dan entitas yang dapat diakusisi?

AntariksaGettyImagesMerujuk ketentuan PBB, tidak ada satu negara atau entitas apapun yang dapat mengklaim hak milik atas benda luar angkasa.

Potensi kepemilikan benda astronomis telah menjadi perdebatan sejak penjelajahan luar angkasa dimulai pada era Perang Dingin.

Saat Badan Antariksa AS (NASA) misi penerbangan berawak pertama mereka, PBB menerbitkan perjanjian terkait luar angkasa yang diteken tahun 1967 oleh Uni Soviet, Inggris, termasuk AS.

Kesepakatan itu berbunyi, “Luar angkasa, termasuk bulan dan benda-benda antariksa lainnya, bukanlah subjek akuisisi atas dasar kedaulatan, atas dasar okupasi atau alasan lainnya.”

Joanne Wheeler, direktur perusahaan luar angkasa Alden Advisers, menyebut perjanjian tersebut sebagai ‘Magna Carta antariksa’. Magna Carta yang kerap disebut dokumen awal atas pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia, diterbitkan tahun 1215 di Inggris.

Kesepakatan tentang luar angkasa tadi membuat pengibaran bendera di bulan, seperti yang dilakukan Armstrong dan para astronot sesudahnya menjadi tak berarti.

Artinya, kata Wheeler, tak ada hak atas benda antariksa yang mengikat kepada orang per orang, perusahaan, atau negara.

Dalam terminologi praktis, isu kepemilikan lahan dan hak penambangan di bulan belum begitu masif pada tahun 1969. Namun seiring perkembangan teknologi, eksploitasi sumber daya bulan semakin mungkin dilakukan.

Tahun 1979, PBB membuat perjanjian terkait aktivitas negara di bulan dan benda antariksa lainnyaKesepakatan Bulan. Dokumen itu menyatakan, benda luar angkasa harus digunakan untuk tujuan yang damai.

PBB pun harus mengetahui alasan dan titik pembangunan setiap stasiun luar angkasa.

Perjanjian itu juga menyatakan, “bulan dan sumber dayanya adalah warisan bersama untuk seluruh umat manusia.” Tak hanya itu, sebuah badan internasional harus dibentuk untuk mengelola eksploitasi setiap sumber daya yang ada, jika proyek itu memungkinkan dilakukan.

Persoalannya, baru ada 11 negara yang meratifikasi perjanjian internasional itu, di antaranya Perancis dan India. Pelaku penjelajahan antariksa terbesar, yakni Cina, AS, dan Rusia belum meratifikasinyatermasuk Inggris.

Wheeler menilai tak mudah mendesak penerapan perjanjian tersebut. Setiap negara menerapkan setiap perjanjian yang mereka sepakati ke sistem hukum nasional dan wajib memastikan setiap penduduk dan badan hukum mematuhinya.

Prof Joanne Irene Gabrynowicz, mantan pimpinan Journal of Space Law, sependapat tentang perjanjian internasional yang tak menjamin apapun. Penegakan hukum, menurutnya, merupakan langkah kompleks yang melibatkan unsur politik, ekonomi, dan opini masyarakat.

Dan perjanjian internasional yang tidak mengakui kepemilikan benda antariksa oleh suatau negara kini menghadapi tantangan terbesarnya.

Tahun 2015, AS menerbitkan UU Persaingan Bisnis Luar Angkasa. Beleid itu mengakui kepemilikan warga mereka atas sumber daya asteroid yang berhasil diakuisisi.

Regulasi itu memang tidak berlaku untuk bulan, namun prinsip dasarnya barangkali akan diterapkan ke hal yang lebih besar.

Eric Anderson, pendiri perusahaan eksplorasi antariksa, Planetary Resources, mendeskripsikan undang-undang itu sebagai ‘pengakuan hak atas properti terbesar sepanjang sejarah.’

Tahun 2017, Luksemburg mengesahkan regulasi domestik yang mengakui hak setiap orang memiliki benda antariksa. Wakil perdana menteri negara itu, Etienne Schneider, menyebut beleid itu akan membuat negaranya sebagai pionir dan pemimpin di bidang ini.

Keingingan untuk mengeksplorasi dan mengeruk keuntungan dari luar angkasa terus bermunculan. Sejumlah negara pun sepertinya semakin menunjukkan niat mereka membantu korporasi antariksa.

“Penambangan, baik dengan tujuan membawa material yang ada ke bumi atau menyimpan dan mengembangkannya di bulan, sangat bertentangan dengan kewajiban tak merusak apapun di luar angkasa,” kata Helen Ntabeni, pengacara di Naledi Space Law and Policy.

Ntabeni menilai AS dan Luksemburg bakal melanggar ketentuan yang diterbitkan PBB.

“Saya skeptis, standar moral tinggi bahwa setiap negara memiliki hak yang sama untuk mengeksplorasi luar angkasa akan bertahan,” ujarnya.


(jor/jor) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dendam Kesumat, Pasutri Bakar Dua Warga Pasuruan Hingga Tewas

Liputan6.com, Pasuruan – Syaroni (58) warga Dusun Pejaten Desa Pajaran Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan dan Imam Sya’roni (70) warga Desa Selorentek, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan ditemukan tewas. Kedua korban diduga korban pembunuhan. Saat ditemukan, kondisi jasad kedua korban terikat dan penuh luka bakar.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera mengatakan, kedua korban ditemukan di depan rumah salah satu warga di Desa Jati Gunting Kecamatan Wonorejo Kabupaten Pasuruan pada Minggu dini hari tadi.

“Kedua korban ditemukan dalam keadaan meninggal di depan rumah,” kata Frans, Minggu (20/1/2019).

Dia melanjutkan, kasus dugaan pembunuhan itu terungkap sebelum 24 jam. Polisi berhasil menangkap tiga orang pelaku. Dua dari tiga pelaku diketahui adalah pasangan suami istri, yaitu Dhofir (59) dan Nanik (30), yang tercatat sebagai warga Dusun Sumber Gentong Desa Jati Gunting.

Saat menjalankan aksinya, pasutri tersebut dibantu Zainudin (30) warga Dusun Sudan Desa Wonosari.


“Ketiga pelaku sudah diamankan oleh Kapolres Pasuruan AKBP Rizal Martomo,” kata Barung.

Sejumlah barang bukti pun diamankan, diantaranya tiga unit sepeda motor milik korban dan pelaku, berikut tali tampar. Hasil pemeriksaan sementara, motif yang melatarbelakangi pembunuhan tersebut lantaran pelaku pasutri sakit hati dan menyimpan dendam.

“Diduga motif pembunuhan itu dendam kepada korban. Karena pelaku pernah menderita sakit yang diduga karena disantet korban,” ujar Barung.

Salah satu saksi menyebut, kedua jasad korban ditemukan saat subuh. Awalnya saksi mendengar suara keras dan bau gosong di sekitar rumah. Saksi berpikir bau gosong dari konsleting listrik.

“Waktu mau saya cek meteran listrik kedepan rumah, saya mendapati dua jasad manusia yang terbakar. Terikat lagi,” kata saksi berinisial NH.

Dia langsung berteriak minta tolong sembari mengambil air dan memadamkan api di tubuh kedua korban. Namun apa daya, kedua korban tak bisa diselamatkan. Tidak lama masyarakat berkerumun, polisi pun datang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Sejak 2017, PSSI dan Polisi Sudah Perangi Pengaturan Skor

Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum PSSI, Joko Driyono menegaskan pihaknya sudah menggandeng pihak luar seperti polisi saat menghadapi kasus pengaturan skor seperti yang marak saat ini. Ini merupakan salah satu bagian dari kerja PSSI yang mengambil keputusan secara kolektif kolegial (memutuskan solusi secara bersama).

Bukan cuma dengan internal PSSI, tetapi juga dengan pihak luar. PSSI selalu mencari jalan keluar untuk menuntaskan masalah pengaturan skor secara kolektif.

Selama ini, praktik -praktik pengaturan skor menjadi momok bagi federasi sepak bola di dunia. Fenomena ini menjadi wabah di Indonesia.

Joko menjelaskan, PSSI sudah memerangi match-fixing, jauh sebelum kasus ini mencuat ke publik. Bahkan, pada 2017 lalu, PSSI sudah membentuk integrity departement atau departemen integritas untuk menekan praktik-praktik manipulasi skor di semua level kompetisi di bawah PSSI, dari level liga amatir sampai profesional.

“Pembentukan departemen integritas ini sesuai arahan FIFA pada 2017 lalu. Tim ini sesuai dengan rekomendasi anggota Komite Eksekutif PSSI. Kemudian terbentuk tim Adhoc. Tim bertugas merespons match-fixing dan bekerja sama satu tahun,” kata Joko seperti rilis yang diterima Liputan6.com.

Dalam bertugas, Joko melanjutkan, tim ini bersinergi dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan INTERPOL. Bahkan, menurut Joko, MoU antara PSSI dan Polri beserta Interpol sudah terjalin untuk memerangi kecurangan-kecurangan di lapangan hijau.


2 dari 3 halaman

Status Iwan Budianto

Mengenai status Iwan Budianto, Joko menjelaskan, PSSI mengembalikam status dia sebagai Wakil Ketua PSSI sesuai dengan keputusan Kongres di Surabaya, 10 November 2018 lalu.

Dia resmi meninggalkan jabatan Kepala Staf PSSI di Kongres tahunan 2019. Kongres sudah menyetujui ini dan Kongres memberikan rekomendasi pengisi posisi kosong Komite Eksekutif.

Selama sepekan ini, Komite Eksekutif bakal melakukan penjaringan. Muncul nama Umuh Mochtar sebagai salah satu kandidat anggota Exco yang diusulkan oleh manajer Madura United, Haruna Sumitro.

3 dari 3 halaman

Edy Mundur

Dalam Kongres tahunan di Pulau Dewata, keputusan besar diambil Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi. Dia memutuskan mundur sebagai Ketum di tengah aksi ‘bersih-bersih’ satuan tugas pengaturan skor. Joko meminta publik tetap berpikiran positif.

Jangan mengaitkan keputusan Edy dengan skandal penganturan skor. “Semua keputusan dia, harus mendapat respons positif, sebagai babak baru pengelolaan PSSI,” kata Joko.

Tim Panel Dugaan Pencabulan Staf Dewas BPJS TK Disetop, Ade Armando Curiga

Jakarta – Kelompok Pembela Korban Kekerasan Seksual (KPKS) mencurigai langkah Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) menghentikan Tim Panel dugaan pencabulan yang dilakukan mantan anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Syafri Adnan Baharuddin (SAB) kepada stafnya. Tim Panel itu disetop setelah SAB diberhentikan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Ini sungguh mencurigakan. DJSN menghentikan kerja Tim Panel yang sudah hampir rampung mengumpulkan bukti dan mewawancarai para saksi dan ahli. Tim Panel sudah akan mengumumkan hasil kerja mereka tentang perilaku Syafri pada awal pekan besok, dan tiba-tiba saja DJSN menghentikannya. Saya curiga DJSN sudah terbeli atau tunduk pada kepentingan Syafri,” ujar Koordinator KPKS, Ade Armando dalam keterangan tertulisnya, Minggu (20/1/2019).

Meski demikian, Ade berharap tim panel yang dibentuk akhir Desember 2018 itu tetap mengumumkan temuan tentang dugaan asusila yang melibatkan SAB dengan staffnya berinisial RA.

“Mudah-mudahan Tim Panel tidak ragu untuk menuntaskan kewajibannya, karena ini menyangkut integritas sebuah lembaga yang dibiayai uang rakyat tentang perilaku seorang pejabat nesagara yang dibiayai uang rakyat,” kata Ade.

Disetopnya kerja tim panel lantaran Presiden Jokowi sudah mengeluarkan keputusan untuk memberhentikan SAB yang mengajukan permohonan pengunduran diri pada 30 Desember 2018. Menurut Ade, DJSN seharusnya tidak melakukan intervensi karena mengundurkan diri.

“Ini tentu dua hal yang berbeda. Tim panel ini dibentuk untuk menyimpulkan apakah perilaku Syafri masuk dalam kategori perilaku tidak pantas atau tidak. Tim sudah bekerja. Seharusnya DJSN tidak mengintervensi hanya karena Syafri mengundurkan diri,” kata Ade.

Proses kerja tim panel, kata Ade sudah mengumpukan beberapa bukti dari saksi-saksi. Saksi dalam penuturan Ade, menyajikan bukti chat WA SAB ke RA berupa kata-kata rayuan. Dia melanjutkan, disetopnya tim panel oleh DJSN menunjukkan ada ketidakobjektifan dan indikasi tidak ingin melindungi pekerja perempuan.

“Tapi ini bukan cerita baru. Dua tahun yang lalu sejumlah deputi di BPJS TK juga melaporkan perilaku tidak pantas oleh Syafri. Tim panel sudah dibentuk dan merekomendasikan penghentian Syafri. Tapi ternyata tidak pernah ditindaklanjuti. Bayangkan, ini semua terjadi karena terduga pelaku dibiarkan bertahun-tahun oleh sesama Dewan Pengawas BPJS TK dan kini juga dilindungi oleh DJSN yang seharusnya berpihak pada korban,” ujar Ade.

Sebelumnya, DJSN memaparkan bahwa Presiden RI melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2019 tertanggal 17 Januari 2019 telah memberhentikan dengan hormat saudara SAB dengan mengacu pada Surat Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Nomor 01/DP/012019 tanggal 2 Januari 2019 dan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pemilihan dan Penetapan Anggota Dewan Pengawas dan Anggota Direksi serta Calon Pengganti Antarwaktu Dewan Pengawas dan Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

“Dengan adanya Surat Keputusan Presiden tersebut, proses Tim Panel dihentikan dan selanjutnya DJSN akan mengusulkan pada Presiden, untuk membentuk panitia seleksi untuk pengisian jabatan anggota Dewas BPJS Ketenagakerjaan yang kosong,” kata Plt Ketua DJSN, Andi Zainal Abidin Dulung dalam keterangan tertulis.
(idn/imk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ramadhan Pohan Dihukum 3 Tahun Bui, PD Hormati Putusan MA

Jakarta – Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi Ramadhan Pohan dan memutuskan politikus Partai Demokrat (PD) itu dihukum 3 tahun penjara. PD menghargai putusan MA terhadap Ramadhan.

“Pertama, ini berita yang baru kami dengar. Jadi berikutnya kami akan bertanya terkait persoalan ke Ramadhan Pohan sudah diterima atau belum. Tapi sebagai partai, kami menghargai putusan MA ini,” ujar Ketua DPP PD, Jansen Sitindaon saat dimintai konfirmasi, Minggu (20/1/2019).

Kasus yang menjerat Ramadhan bermula saat ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota Medan periode 2016-2021. Ia meminjam uang ke RH Simanjuntak dan Hendru Sianipar untuk menunjang biaya kampanye sejumlah miliaran rupiah.
Rupanya, Ramadhan melunasi utang dengan cek kosong hingga akhirnya diadili Pengadilan Negeri Medan karena kasus penipuan. PN Medan menjatuhkan vonis 15 bulan penjara. Pengadilan Tinggi Medan memperberat hukuman Ramadhan menjadi 3 tahun. Ramadhan pun mengajukan kasasi ke MA.

PD akan bertanya terlebih dahulu kepada Ramadhan apakah sudah menerima pemberitahuan terkait putusan MA. Jika keberatan akan putusan MA, Ramadhan disebut PD masih bisa mengajukan upaya peninjauan kembali (PK) ke MA.

“Jika kemudian Ramadhan Pohan berpikir tetap tidak salah di persoalan ini, maka masih ada satu mekanisme upaya luar biasa yaitu peninjauan kembali. Tapi sepenuhnya hak PK itu di Ramadhan Pohan apakah akan menempuh atau tidak. Tapi kami, Partai Demokrat sepenuhnya menghormati putusan MA,” kata Jansen.

Ramadhan Pohan Dihukum 3 Tahun Bui, PD Hormati Putusan MAFoto: Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon (ist/dokpri)

Perkara Ramadhan dengan nomor 1014 K/PID/2018 diadili oleh ketua majelis Andi Abu Ayyub Saleh dengan anggota Wahidin dan Margono. Hasilnya, Ramadhan tetap dijatuhkan hukuman 3 tahun penjara.

“JPU NO (Niet Ontvankelijke Verklaard/tidak dapat diterima-red), Terdakwa tolak,” demikian lansir website MA sebagaimana dikutip detikcom, hari ini.
(dkp/imk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

MA Hukum Eks Politikus PD Ramadhan Pohan 3 Tahun Penjara

Jakarta – Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi mantan politikus Partai Demokrat (PD) Ramadhan Pohan. Alhasil, calon Wali Kota Medan itu dihukum 3 tahun penjara karena menipu.

Kasus bermula saat Ramadhan Pohan mau mencalonkan diri sebagai Wali Kota Medan untuk periode 2016. Untuk menunjang biaya kampanye, Ramadhan Pohan pinjam uang ke RH Simanjutak dan Hendru Sianipar miliaran rupiah.

Pinjam meminjam itu berbuntut panjang karena Ramadhan Pohan melunasi utang dengan cek kosong. Ramadhan akhirnya diadili di PN Medan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pada 27 Oktober 2017, PN Medan menjatuhkan hukuman 15 bulan penjara kepada Ramadhan Pohan. Hukuman itu diperberat menjadi 3 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi (PT) Medan pada 5 April 2018.


Atas vonis itu, jaksa dan terdakwa sama-sama kasasi. Apa kata MA?

“JPU NO (Niet Ontvankelijke Verklaard/tidak dapat diterima-red), Terdakwa tolak,” demikian lansir website MA sebagaimana dikutip detikcom, Minggu (20/1/2019).

Perkara nomor 1014 K/PID/2018 diadili oleh ketua majelis Andi Abu Ayyub Saleh dengan anggota Wahidin dan Margono.

(asp/rvk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>