Kontroversi Prediksi ‘Rezim Tunggal’ Jokowi-Prabowo

Jakarta – Di tengah panasnya pertarungan Pilpres 2019, muncul prediksi bersatunya dua kubu. Dua capres Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto diyakini akan bersatu dalam satu pemerintahan usai pilpres berakhir nanti.

Prediksi yang kemudian menjadi kontroversi oleh kedua kubu itu pertama kali diembuskan oleh Politikus PDIP, Maruarar Sirait. Bukan tanpa alasan Maruarar menilai ada kemungkinan ‘kawinnya’ sang petahana dan capres nomor urut 02. Sebab, keduanya merupakan kawan baik.

“Jadi politik kita akan semakin luar biasa hebatnya. Jadi Jokowi dan Prabowo itu bukan tidak mungkin setelah pilpres nanti mereka dalam satu pemerintahan yang sama,” ujar Maruara, di Kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu, (30/12).


Prediksi Maruarar kemudian diamini kubu Prabowo. Partai Gerindra sepakat bahwa ada kemungkinan Jokowi dan Ketum-nya bersatu kelak dalam satu pemerintahan. Namun, kemungkinan itu dengan catatan. Yakni, jika Prabowo bersama Sandiaga Uno memenangi pilpres mendatang.

Sama seperti Maruarar, Gerindra juga memiliki alasan tersendiri mengapa meyakini persatuan dua rival itu bisa terwujud. Sebab, Prabowo diyakini bukanlah seorang pendendam. Gerindra yakin, Prabowo akan merangkul Jokowi jika kelak memegang pucuk pemerintahan.

“Mungkin saja. Kalau Pak Prabowo menang dan jadi presiden, kita Insya Allah akan rangkul teman-teman yang kalah,” kata Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade, kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

“Tapi catatannya, bukannya kita ikut Pak Jokowi, melainkan kubunya Pak Jokowi yang ikut kita. Orang insyaAllah presidennya Prabowo kok, bukan Jokowi,” kata Andre.

Sementara, PKS memilih berbeda pandangan dengan rekan sekubunya, Gerindra. Menurut Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera kecil kemungkinan skenario persatuan itu bisa terwujud. Apalagi, menurut Mardani, dua tokoh yang juga pernah berebut kursi pada Pilpres 2014 itu jauh berbeda.

“Kemungkinan skenario itu di bawah 5%,” kata Mardani kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

“Semua punya kemungkinan. Tapi, posisi saat ini Pak Prabowo menjadi antitesis Pak Jokowi. Pak Prabowo punya paradigma dan kebijakan yang berlawanan dengan Pak Jokowi,” kata Mardani yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga ini.

(mae/tor) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *