Kombinasi Faktor Global dan Domestik Angkat Rupiah ke 14.555 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Kamis pekan ini. Nilai tukar rupiah tercatat telah mengalami penguatan sekitar 580 poin dalam beberapa hari terakhir ini. 

Mengutip Bloomberg, Kamis (8/11/2018), rupiah dibuka pada angka 14.613 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.590 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah kembali menguat hingga ke angka 14.555 per dolar AS.

Dari pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.555 per dolar AS hingga 14.669 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 8 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.651 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 14.764 per dolar AS.

Rupiah memang sempat melemah pada perdagangan pagi. Hal tersebut karena penguatan sebelumnya sudah cukup besar.

“Penguatan rupiah sedikit tertahan karena penguatan tajam dalam beberapa hari terakhir,” kata Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih seperti dikutip dari Antara.

Ia menambahkan nilai tukar rupiah tercatat telah mengalami penguatan sekitar 580 poin dalam beberapa hari terakhir ini. Penguatan rupiah yang cukup tajam itu merupakan kombinasi antara faktor global dan domestik.

Ia mengemukakan diantara faktor global yang memberikan sentimen positif bagi mata uang rupiah diantaranya kemenangan partai Demokrat pada “midterm election” di DPR AS, dan potensi kesepakatan perdagangan antara AS-China di akhir November ini.

Sedangkan faktor domestik, lanjut dia, salah satunya didukung oleh penerapan instrumen DNDF (Domestic Non Delivery Forward), dan penilaian posisi kurs rupiah yang tidak wajar (overshooting) ketika menembus 15.000 per dolar AS.

Kendati demikian, ia mengatakan, penguatan rupiah perlu pengujian lebih lanjut ketika nanti Bank Sentral AS (the Fed) menaikkan suku bunganya satu kali lagi pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember.

“Biasanya pertemuan FOMC itu diikuti dengan penguatan dolar AS,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *