Kisah Bocah Sukabumi Jadi Juru Parkir-Kuli Panggul Demi Keluarga

Sukabumi – Seorang bocah berusia 12 tahun asal Sukabumi, Jawa Barat, Julian, menjadi tukang parkir demi menghidupi keluarganya. Bocah tersebut juga kerap menjadi kuli panggul di pasar demi mendapat uang tambahan.

Kisah Julian ini diketahui saat personel Polres Sukabumi menemukan bocah lelaki tersebut tidur di balik tumpukan galon air mineral di salah satu mini market. Informasi keberadaan Julian ini diketahui dari warga.

“Kami mendapat informasi dari warga katanya ada bocah laki-laki yang tertidur di emperan toko, setelah mendapat petunjuk dari bapak Kapolres (AKBP Susatyo Purnomo) kami coba melakukan pengecekan ke lokasi,” kata Humas Polres Sukabumi Kota, AKP Ana Setiana Dewi, kepada detikcom, Sabtu (20/4/2019).

Bocah itu ditemukan sedang tidur di teras mini market, Jalan Sudirman, Cikole, Kota Sukabumi, Sabtu (20/4) sekitar pukul 22.45 WIB. Polisi kemudian membawa bocah itu ke Polres Sukabumi sebagai antisipasi jika bocah itu merupakan korban penculikan atau eksploitasi anak.

Namun, setelah ditanyai, ternyata bocah tersebut mengaku sengaja bekerja untuk menafkahi keluarga. Ana menyebut bocah tersebut mengaku tinggal di Desa Munjul, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi dan telah berhenti sekolah pada kelas 3 SD akibat kondisi ekonomi keluarga.

“Awalnya kami sekadar antisipasi, takutnya dia korban penculikan, eksploitasi anak atau korban kejahatan lainnya,” ucap Ana.

Ana menyebut bocah itu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Dia menyebut anak tersebut pulang ke rumahnya satu minggu sekali dengan membawa uang Rp 30 ribu atau Rp 100 ribu untuk diberikan ke ibunya.

“Dia pulang seminggu sekali ke kampung halamannya kadang bawa Rp 30 ribu kadang Rp 100 ribu untuk diberikan ke ibunya. Rencananya malam ini dia akan kita inapkan dulu di Polres Sukabumi Kota. Nanti akan kita hubungi keluarganya untuk menjemput, untuk solusi ke depannya kami akan mencoba berkoordinasi dengan pihak terkait agar Julian tidak lagi bekerja karena dia masih usia sekolah,” ujar Ana.
(sya/haf)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kisah Sandiaga, dari Modal Kampanye hingga Saham Perusahaan Anjlok

Jakarta – Sandiaga Uno jadi perbincangan hangat belakangan ini. Paling tidak, ada tiga hal yang membuat masyarakat tertarik menjadikan cawapres nomor 02 itu bahan obrolan.

Pertama, ekspresi wajah Sandiaga saat deklarasi kemenangan bersama capres nomor 02 Prabowo Subianto di kediaman Prabowo Jalan Kertanegara, Kebayoran, Jakarta Selatan, Kamis sore (18/4/2019). Kedua, saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, perusahaan miliknya, yang anjlok setelah quick count alias hitung cepat pilpres beberapa lembaga survei.

Ketiga, pria yang beken disapa Sandi itu menjual saham Saratoga dan meraup dana hingga Rp 671 miliar demi modal kampanye. Berikut cerita seputar Sandiaga mulai dari ekspresi saat deklarasi kemenangan hingga saham perusahaan anjlok pasca quick count.

(hns/hns)

Kisah Pilu Ketua KPPS di NTT yang Ditinggal Sang Ibu Saat Pemilu

Liputan6.com, Kupang – Mendapat kepercayaan sebagai ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) membuat Kasman Ola Samon harus bertanggungjawab penuh terhadap suksesnya Pemilu 2019.

Dalam kesibukannya sebagai Ketua KPPS TPS 2 Desa Riangduli, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, NTT, ibundanya, Saidah Barek Bahin dinyatakan meninggal dunia pada, Rabu 17 April 2019 sekitar pukul 01.00 WITA dini hari.

Meski diselimuti duka, Kasman tetap setia pada tugas yang diembannya. Hal itu dibuktikan dengan ia terus bekerja di TPS yang dipimpinnya. Sesekali ia berlari ke rumah duka memeluk ibunya yang sudah terbujur kaku.

“Paginya ia bekerja seperti biasa di KPPS. Sesekali ia lari ke rumah. Ibu dimakamkan 17 April 2019 pukul 15.00 wita. Usai pemakaman, ia kembali bekerja hingga selesai perhitungan suara,” tutur keluarga Kasman, Sherly Tokan kepada Liputan6.com, Kamis (18/4/2019).

Ia mengatakan, selain Kasman, adik kandung Kasman, Saiful pun masih menggunakan hak pilihnya sebelum jenazah ibu mereka dimakamkan.

Usai pemakaman, Kasman kembali ke TPS untuk melanjutkan rekapitulasi suara hingga dini hari. Semoga arwah Ibu Saidah diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Bukan tidak mencintai ibu mereka, tetapi wujud kesetiaan pada tugas dan kewajiban sebagai warga negara yang baik sudah ditunjukan kepada kita semua,” katanya.

* Ikuti Hitung Cepat atau Quick Count Hasil Pilpres 2019 dan Pemilu 2019 di sini

Saksikan video pilihan berikut ini:

Sejumlah pasien RS Jiwa Menur, Surabaya mengikuti pencoblosan di Pemilu 2019.

Kisah Perempuan yang Terkenal karena Tak Pernah Berhasil Dibuat Tertawa

Permainan naik level. Akhirnya para komedian profesional bergantian mempertontonkan materi terbaik mereka. Tapi, Sober Sue tak pernah tertawa, bahkan tersenyum. Seiring waktu, namanya makin melambung dan membuat tak sedikit publik penasaran.

Ragam terori akhirnya muncul tentang wajah tanpa ekspresi Sober Sue. Beberapa teori mengatakan, ia buta atau tuli. Tapi, fakta kemudian terungkap di musim dingin di tahun yang sama saat kemunculan Sober Sue.

Ia tak bsa tersenyum atau tertawa karena otot wajahnya lumpuh. Willie Hammerstein sekalu produser teater tempat Sober Sue muncul ternyata membayarnya 20 dolar Amerika per minggu, nominal yang menggiurkan di waktu itu.

Kemunculan perempuan tak pernah tertawa ini mendatangkan banyak keuntungan, termasuk pertunjukan gratis dari para komedian profesional. Namun, ketika hal ini terungkap, mereka mengecam perbuatan sang produser teater.

Kisah Unik Pilpres 2019, Nenek Rasiyah Kesasar hingga Ganjar yang Bersepeda ke TPS

Menurut dia, itu adalah bukti bahwa Polri bertekat mensukseskan Pemilu 2019. Tak hanya keamananannya yang dijamin, polisi pun siap memfasilitasi atau membantu masyarakat yang kesulitan saat hendak menunaikan hak suaranya.

“Kepada Bripda Adi Wahyu, kami ucapkan terimakasih. Aksinya salah satu komitmen kami untuk mendukung lancarnya pemungutan suara,” ucap, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis, 18 April 2019.

Lain Nenek Rasiyah yang kebingungan ke TPS, tentu beda pula gaya orang nomor satu di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo. Ia hadir di TPS dengan bersepeda dengan istrinya, Siti Atiqoh Supriyanti dan komunitas sepeda.

Ganjar Mengenakan kemeja putih dan celana jins, ia berangkat dari kediamannya pukul 7.20 WIB. Ia mendatangi TPS 1 Kelurahan Gajah Mungkur Semarang. Selain menggunakan hak pilihnya, Ganjar hendak memantau langsung jalannya pemilu.

Ganjar berharap partisipasi masyarakat dalam pemilu tahun ini meningkat. Dengan gegap gempita yang luar biasa dan pancingan-pancingan partisipasi yang marak di media sosial, harapannya masyarakat berbondong-bondong datang ke TPS untuk menunaikan kewajibannya.

“Apalagi, dengan meriahnya kampanye terbuka kemarin, saya harap ini semakin meningkatkan partisipasi masyarakat untuk nyoblos,” Ganjar menerangkan.

Ia juga berpesan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga ketenangan dan kedamaian. Kalah dan menang itu hal yang biasa, masyarakat tidak perlu berlebihan menanggapinya.

“Menang kalah biasa, kita sudah terbiasa,” dia berpesan.

Kisah Sedih Nabila, Bocah Pemulung yang Videonya Viral

Bandung Barat – Video seorang murid SD yang sedangdirudung di sebuah kelas menjadi viral beberapa hari ke belakang. Reaksi dari sang gadis membuatnetizen terenyuh karena mengumpulkan uang dari hasil memulung. Gadis kecil ini pun telah lama ditinggalkan orang tuanya.

Gadis itu adalah Nabila (12), murid kelas 6 SDN Pangauban. Ia tinggal bersama kakek dan neneknya di Kp Cibodas RT 03 RW 07, Ds Pangauban, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Saat ditemui detikcom di kediamannya, gadis periang ini mengaku telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sejak masih bayi. Ayah dan ibunya bercerai dan telah memiliki kehidupan baru di luar Bandung.

“Ayah kadang tiga bulan sekali datang ke rumah, tapi sekarang udah enggak pernah kelihatan, itu juga (kalau datang) hanya sebentar. Kalau ibu di Kalimantan menjadi penyanyi dan enggak pernah ke sini,” ujar Nabila dengan mata berkaca-kaca.

Alhasil, ia pun dirawat oleh kedua kakek-neneknya sejak masih berusia 40 hari. Keadaan memaksanya menjadi tulang punggung keluarga di usia yang masih belia.

Pasalnya, sang kakek dan neneknya, Cucu (70) dan Ira (60) sudah semakin renta dan sakit-sakitan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, gadis tomboy ini mencari rongsokan seperti kardus, botol plastik, besi yang ia akan masukan ke dalam karung yang ia tenteng.

Ia biasa mencari rongsokan di wilayah perumahan di Batujajar. Aktivitas ini telah ia lakoni sejak satu tahun terakhir. “Teman banyak yang tahu, tapi saya tidak malu,” katanya.

Dari hasil pencariannya selama beberapa hari, Nabila hanya mampu mengumpulkan uang sebesar Rp 25.000 – Rp 35.000. Uang itu ia cukupkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah.

“Awalnya sih sehari mencari langsung dijual, paling dapat hanya Rp 9.000, tapi sekarang ditampung dulu,” ucapnya.

Tak jarang, warga yang iba memberi Nabila makana atau pun pakaian. Namun, setiap menerima sesuatu ia melapor terlebih dahulu kepada kakek-neneknya. “Kemarin sempat ada bapak-bapak yang mengikuti jadinya bilang ke kakek nenek dulu,” ujarnya.

Nabila pun memiliki gudang khusus untuk menyimpan rongsoka di belakang rumah kakeknya. “Uangnya dikumpul-kumpul buat bantu kakek dan nenek, aku juga ingin beli topi,” ujarnya sambil tertawa.

Terkait videonya yang menjadi viral, Nabila mengatakan ia dan kawan-kawannya sudah kembali berteman. “Aku sempat marah karena sepatu didudukin, tapi enggak lama dari dua hari kemudian udah baikan lagi,” katanya.


(ern/ern)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kisah Perjuangan Suporter MU untuk Sampai ke Camp Nou

Barcelona – Duel Manchester United (MU) melawan raksasa Spanyol itu di fase perempat final Liga Champions 2018/2019 dini hari WIB nanti jadi big match, dan tentunya sangat sayang untuk dilewatkan para suporter Setan Merah, julukan MU. 

Jadilah beberapa fans United meluangkan waktu, tenaga, dan dana demi menyambangi Camp Nou untuk mendampingi tim kebanggaan dalam laga leg kedua perempat final, Rabu dini hari WIB (17/4/2019).

Namun, jangan dikira suporter setia MU itu menyambangi Barcelona dengan enteng. Mereka berjuang demi bisa memenuhi keinginan menyaksikan langsung Manchester United melawan Barcelona di Camp Nou.

Dimulai dari tiket pesawat. Kalangan fans MU mengeluhkan kenaikkan harga tiket yang terkesan aneh. 

Aoife Turner, salah seorang pemegang tiket terusan Manchester United, mengeluhkan harga tiket Manchester ke Barcelona yang mendadak naik, tak lama setelah drawing fase perempat final, medio Maret lalu.

“Saat itu tiket berkisar dari 100 euro untuk pp, tapi hanya beberapa detik setelah drawing usai, harga melonjak hingga 500 euro,” kata Turner kepada CNN.

Kondisi itu dianggap jadi pukulan telak buat fans seperti dirinya. Hal sama dikeluhkan Duncan Drasdo, Chief Executive Manchester United Fans Trust.

Imbasnya, fans United terpaksa mencari akal agar tetap bisa mendukung Paul Pogba dkk. Satu di antaranya caranya adalah dengan “ngeteng” atau tidak melakukan perjalanan dengan penerbangan langsung.

Drasdo mengungkap, ia dan dua buah hatinya bertolak dari Bandara Liverpool dari Manchester, kemudian terbang ke Ibiza, menginap satu malam di pulau itu, dan melanjutkan penerbangan ke Barcelona keesokan harinya.

Untuk perjalanan pulang, dari Barcelona ia terbang ke Nantes (Prancis), kemudian ke Manchester.

Sementara Turner, memutuskan terbang ke Madrid dari Manchester, berlanjut ke Barcelona. Untuk pulangnya, rutenya adalah Barcelona-Dusseldorf (Jerman)-Manchester.

Ratusan fans MU lain menempuh cara serupa, menaiki penerbangan tak langsung untuk berhemat.

Kisah Petugas Panggul Kotak Suara Daki Bukit ke Pelosok Sulsel

Maros – Sungguh luar biasa perjuangan petugas gabungan membawa logistik Pemilu ke pedalaman Maros, Sulawesi Selatan. Petugas harus berjalan kaki melintasi bukit sambil memanggul kotak suara.

Kejadian itu berlangsung di dusun Huliang, Desa Cenrana, Kecamatan Camba, Maros, Sulawesi Selatan. Petugas tidak punya pilihan, karena akses jalan ke dusun yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bone itu tidak bisa diakses dengan kendaraan roda empat.

Sementara petugas juga tidak bisa menggunakan motor karena takut logistik akan rusak sebelum digunakan.

“Jarak dari kantor desa ke sini itu sekitar 10 kilometer, mobil itu tidak bisa sampai ke sana. Makanya mau tidak mau kita panggul. Kalau naik motor ditakutkan logistik ini rusak kalau diikat,” kata petugas pengamanan TPS, Aipda Muhammad Ilham, Selasa (16/04/2019).

Dari kantor desa, 5 kotak suara yang berisikan ratusan kertas suara, dibawa menggunakan mobil off road sampai ke jalan yang masih bisa dilalui mobil. Jarak dari titik penurunan logistik dari mobil ke lokasi TPS mencapai 5 kilometer. Beruntung, cuaca tidak sedang hujan sehingga mempermudah proses distribusi.

“Dari kantor desa itu kita memang pakai mobil off road sampai ke jalan yang memang sudah tidak bisa dilalui. Kami turunkan lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 5 kilometer sampai lokasi TPS. Untungnya ini tidak hujan yah, makanya kita sedikit terbantulah,” lanjutnya.

Meski harus memanggul, petugas tidak kehilangan semangat untuk sampai ke lokasi. Merekapun harus saling bergantian, karena beberapa kotak suara beratnya mencapai 7 kilogram. Belum lagi, bilik suara untuk TPS di sana masih menggunakan bilik lama yang terbuat dari besi.

“Selain petugas Panwas sama PPS, kita dibantu oleh warga yang kebetulan ada di jalan. Kita saling bergantian memanggul. Sebenarnya jaraknya tidak telalu jauh, tapi memang menanjak terus sampai ke lokasi,” pungkasnya.

(rvk/asp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Akhir Kisah Anggraeni, Si Penculik Balita di Masjid Bekasi

Jakarta – Balita ASA (3) diculik saat sedang bermain di masjid dekat rumahnya di Komplek Bintara 3, Bintara Jaya, Kota Bekasi. Setelah lima hari diculik, korban dan pelaku akrinya berhasil ditemukan polisi.

Pelaku dan korban diamankan polisi di Masjid At-Taufiq Pasar Senen, Jakarta Pusat pada Minggu (14/4) siang. Pelaku diketahui bernama Anggraeni (54), seorang pengemis yang tinggal berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya.

Penculikan bermula ketika Anggraeni datang ke Masjid Al-Amin di Bintara 3, Bintara Jaya, Kota Bekasi pada Selasa (9/4) lalu. Dia melihat korban sedang bermain di selasar masjid saat itu.

“Dari hasil pemeriksaan dan hasil keterangan pelaku ini, bahwa pelaku ini selama 5 hari dia membawa anak ini ke mena-mana, jalan, contoh seperti dari rumah korban, pada tanggal 9 April,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (15/4/2019).

Dari Bekasi, korban dibawa pelaku ke Stasiun Klender, Jakarta Timur dengan menumpang Angkot. Masih pada hari yang sama, dari Stasiun Klender, korban dibawa ke Stasiun Bogor.

Pelaku membawa korban menginap di Bogor hingga keesokan harinya, Rabu (10/4). Dari Stasiun Bogor, mereka bergerak ke Stasiun Kebayoran Lama dan ke Cipadu.

Kisah Petugas di Sulbar Antar Surat Suara, Naik Getek-Nyaris Tenggelam

Pasangkayu – Untuk mensukseskan jalannya Pemilu 2019, yang tinggal beberapa hari lagi, distribusi logistik pemilu dikirim hingga ke daerah pedalaman. Para petugas harus naik getek menyeberangi sungai yang arusnya sangat deras.

Kondisi geografis yang berbeda-beda, menjadi tantangan tersendiri bagi petugas KPU untuk mendistribusikan logistik pemilu, agar tiba di tempat tujuan dengan kondisi aman dan tepat waktu. Seperti yang dialami aparat gabungan dari KPU dan TNI-Polri, serta petugas penyelenggara pemilu PPK dan PPS saat hendak mendistribusikan logistik pemilu, menuju TPS 8. Di Dusun Kano, Desa Benggaulu, Kecamatan Dapurang, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Senin pagi (15/04/19).

Tidak hanya harus menguras tenaga menempuh perjalanan sejauh 100 kilometer menggunakan kendaraan roda empat, perjuangan mensukseskan hajatan pesta demokrasi lima tahunan ini, harus dibayar mahal dengan bertaruh nyawa.

Kisah Petugas di Sulbar Antar Surat Suara, Naik Getek-Nyaris TenggelamFoto: Petugas naik getek antar surat suara (Abdy-detikcom)

Bagaimana tidak, perjalanan para petugas demokrasi ini harus dilanjutkan dengan menyeberangi sungai Benggaulu yang terkenal berarus deras, hanya bermodalkan sebuah rakit kayu yang sudah lapuk, lantaran ketiadaan jembatan untuk menghubungkan kedua sisi sungai selebar kurang lebih 70 meter ini.

Akibatnya, rakit yang membawa beberapa kotak logistik pemilu termasuk beberapa petugas di atasnya, nyaris terbalik lantaran dihantam arus deras saat berada di tengah sungai.

Saat peristiwa terjadi, beberapa petugas terlihat berupaya menyeimbangkan rakit yang terlihat mulai miring, agar tidak tenggelam dan terbawa arus, sementara lainnya nekat menceburkan diri ke dalam sungai, dan menyelamatkan logistik pemilu yang telah dibungkus menggunakan plastik.

Setelah logistik pemilu aman dan semua petugas berhasil menjangkau sisi sungai, perjalanan kembali dilanjutkan sejauh 5 kilometer dengan berjalan kaki , menuju TPS 8 di Dusun Kano, Desa Benggaulu, yang menjadi tujuan pengantaran logistik pemilu ini.

Beratnya perjuangan, para petugas keamanan dan penyelenggara pemilu ini, yang nyaris terbawa arus sungai ini, sempat terekam kamera warga dan kini beredar luas di masyarakat.

“Jadi memang kondisi desa tersebut bisa dibilang sangat jauh dan aksesnya masih sulit djangkau kendaraan, dan Alhamdulillah walau proses pengiriman logistik ke daerah tersebut sempat diwarnai kecelakaan karena kondisi alam yang tidak bisa ditebak, teman-teman semua berhasil selamat dan logistik pemilu tiba di lokasi tujuan dengan kondisi baik ” ujar Ketua KPUD Pasangkayu, Sulbar, Sahran Ahmad saat diwawancara detikcom.

Sahran juga menyebutkan, bahwa masih ada beberapa lokasi di Pasangkayu yang memang sulit dijangkau akses kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Sehingga harus dilakukan dengan berjalan kaki, mendapat prioritas pengiriman logistik lebih awal.

“Jadi memang Dapurang merupakan salah satu wilayah yang kami prioritaskan untuk mendapat logistik lebih awal, karena di sana ada beberapa TPS yang jauh dan harus ditempuh dengan melewati medan berat,” ungkapnya.
(rvk/asp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>