Kisah Pasangan Difabel dari Kediri, Melawan Batas demi Anak Bangsa

Liputan6.com, Kediri – Keterbatasan fisik yang dimiliki, tidak menjadi penghalang bagi Munawaroh, warga Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, untuk aktif mengikuti berbagai macam kegiatan organisasi kemasyarakatan maupun kelembagaan.

Perempuan berusia 46 tahun ini, baru saja didaulat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya sebagai Perempuan Inspiratif 2018.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Provinsi Jawa Timur tersebut, terpilih pada saat acara Women Hero 2018. Ia dipilh karena eksistensinya mengikuti segala kegiatan yang berdampak positif pada masyarakat.

Di balik kesibukannya itu, ada seorang pria yang begitu setia. Sudah tujuh tahun ini pria itu selalu mendampinginya baik suka maupun duka. Dia adalah Muhammad Arif Purwadi (46), suami Munawaroh.

Pasangan suami istri ini, sama-sama memiliki kekurangan fisik pada bagian kaki. Sakit ini diderita dari kecil, hingga mengakibatkan keduanya tidak bisa berjalan layaknya orang normal.

Dengan kekurangan fisik yang dimiliki, tidak membuat mereka minder. Munawaroh menyandang status sebagai lulusan Strata 1 jurusan Ekonomi Manajemen. Sementara, suaminya M Arif Purwadi lulusan Strata 1 jurusan Teknik Elektro.

Layaknya pasangan suami istri, mereka berdua juga memiliki keinginan untuk memiliki momongan. Munawaroh sempat hamil. Namun, Tuhan berkehendak lain, pada usia kandungan empat bulan, Munawaroh mengalami keguguran.

Bukan Munawaroh namanya, jika hal ini membuatnya terus larut dalam kesedihan. Dalam motto hidupnya, ia ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain meskipun ia memiliki keterbatasan fisik. Ia pun bangkit dari kesedihannya.

“Saya ingin bermanfaat bagi siapa pun,” tutur perempuan yang juga aktif sebagai Seketaris muslimat NU ranting Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Dengan bekal ilmu agama yang dimiliki, Munawaroh juga membantu suaminya dalam mengelola Tempat Pendidikan Quran (TPQ) Al Kayat.

“Allhamdulilah sudah ada sekitar 80 anak yang mau belajar ngaji di sini. Kalau suami saya, tugasnya sebagai operator sekaligus administrasi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *