Kisah Letkol Sroedji Melawan Sergapan Belanda di Jember

Jakarta – Salah satu kisah kepahlawanan di Jember adalah kisah Letkol Mochammad Sroedji. Dengan keberaniannya, pria kelahiran Bangkalan, Madura itu wafat setelah disergap tentara Belanda yang berhari-berhari memburunya.

Komandan Brigade III Damarwulan Letkol Mochammad Sroedji gugur setelah terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Belanda di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Jember, pada 8 Februari 1949 ata saat ia berusia 34 tahun. Namun sebelum gugur, Letkol Sroedji bersama pasukannya melakukan perlawanan sengit.

Belanda menyergap Letkol Sroedji yang kala itu melakukan rapat koordinasi dengan perwira dan sejumlah perangkat desa setempat.

“Pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIB. Ada sekitar 27 orang yang sedang melakukan rapat koordinasi waktu itu. Sementara posisi pasukan Letkol Sroedji agak jauh,” kata peneliti sejarah Letkol Mochammad Sroedji, Irma Devita kepada detikcom, Sabtu (10/11/2018).

Serangan Belanda itu tak diduga sebelumnya. Namun itu tidak membuat Letkol Sroedji panik. Saat itu juga dia memerintahkan anak buahnya melakukan perlawanan. Letkol Sroedji juga tidak mau menyerah. Padahal posisinya sudah terkepung. Bahkan dia langsung memimpin dan memerintahkan anak buahnya untuk melakukan perlawanan.

Padahal saat itu kondisi fisik Letkol Sroedji belum pulih benar dari sakit. Demikian juga kondisi pasukan yang lelah karena baru tiba dari Blitar.

“Letkol Sroedji bersama pasukannya melakukan perjalanan sekitar 500 km selama 51 hari dari Blitar ke Jember dalam rangka Wingate Action, melakukan penyusupan di belakang garis musuh. Rute yang dilalui merupakan medan yang sulit, yakni hutan dan gunung,” kata Irma.

Kendati demikian, menghadapi serangan Belanda, Letkol Sroedji bersama pasukannya terus melakukan perlawanan sengit. Letkol Sroedji bahkan berada di barisan depan dalam menghadang gempuran musuh.

“Dalam pertempura itu, seorang anak buahnya mengingatkan Letkol Sroedji untuk mundur karena musuh terlalu kuat. Namun baru saja hendak beringsut, pundak kirinya tertembak hingga tembus dada. Letkol Sroedji terhuyung dan sempat terjatuh,” kata Irma.

Letkol Sroedji kemudian dipapah oleh sahabat sekaligus seorang dokter pasukan bernama Soebandi. Sayangnya, Soebandi yang tak terlindungi terkena tembakan tepat di kepala. Pria itu gugur seketika.

Melihat sahabatnya gugur terkena peluru Belanda, Letkol Sroedji pun geram. Akhirnya, dengan pistol di tangan dan kondisi terluka, Letkol Sroedji menerjang pasukan Belanda.

Dengan pistol di tangan, dengan gagah berani Letko Sroedji menembak pasukan Belanda yang ada di depannya. Beberapa tembakan dari pistol Letkol Sroedji sempat mengenai beberapa tentara Belanda.

Mereka pun meregang nyawa. Bahkan ketika peluru di pistol habis, Letkol Sroedji terus merangsek dan sempat menghajar pasukan belanda dengan popor pistol.

“Tapi akhirnya Letkol Sroedji gugur karena tubuhnya juga terkena berondongan peluru,” kata Irma.

Dari 27 orang yang disergap saat itu, 19 di antaranya meninggal. “Salah satu anak buah terdekatnya, Abdul Syukur, berhasil selamat setelah pingsan akibat terluka karena tembakan Belanda,” kata Irma yang juga merupakan cucu dari Letkol Sroedji.
(iwd/iwd)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *