Kisah Kakek 96 Tahun Selamatkan Desa dengan Lukisan Mural

Taichung – Kisah haru dan inspiratif dari Taiwan. Seorang kakek veteran berusia 96 tahun menyelamatkan desa dari upaya penggusuran. Caranya dengan lukisan mural.

Ini kisah ketika seorang mantan tentara mengetahui bahwa desanya akan dihancurkan 10 tahun yang lalu. Dia mengambil kuas dan mulai melukis dan tidak berhenti sejak itu.

Melansir BBC Travel, Kamis (6/12/2018), tentara ini tinggal di Kota Taichung, Taiwan yang berpenduduk 2,8 juta orang. Meski waktu menunjukkan waktu 04.00 dini hari waktu setempat, ia yang berusia 96 tahun tetap perlahan melukis sendirian dalam kegelapan.


Setiap pagi, Huang Yung-fu menyalakan lampu, beralas sandal dan membawa segenggam kaleng cat ia pergi ke jalanan. Sementara kota itu masih tertidur pulas, Huang membungkuk di bangku selama tiga jam dan menghiasi dinding, trotoar dan jendela dengan mural lucu berwarna-warni.

Ia memulai lukisan muralnya beberapa tahun lalu dengan gambar berupa satu burung di dinding kamar Huang lalu berkembang menjadi puluhan ribu ilustrasi. Kini, ada berbagai gambar seperti kartun, hewan abstrak dan seni surealis di pemukiman militer itu.

Disebut pula sebagai Rainbow Village, sudah lebih dari satu juta pengunjung mengelilinginya. Desa ini memiliki seniman musiman dan satu-satunya penduduk tetap, yakni ‘Kakek Pelangi’.

Hidup Huang kini adalah seniman otodidak. Ia tidak hanya mengubah pemukiman Taiwan menjadi buku cerita kehidupan nyata, tetapi ia menyelamatkan desa dari pembongkaran.

Pemerintah ingin menggusur tempat itu, namun Huang bergeming. Ia menyebut di desa itu adalah kampungnya, lalu ia mulai melukisnya.

Kisah Kakek 96 Tahun Selamatkan Desa dengan Lukisan MuralFoto: (Eliot Stein/BBC Travel)

Huang lahir di Guangzhou, China. Pada tahun 1937, ia meninggalkan rumah sebagai tentara di Perang Sino-Jepang saat berusia 15 tahun. Setelah Perang Dunia II, Huang berperang melawan pemerintah Komunis Mao Zedong ketika Perang Saudara Tiongkok berkecamuk di kampung halamannya.

Namun, saat Partai Nasionalis dikalahkan pada tahun 1949 dan Mao menciptakan Republik Rakyat China. Lalu, Huang dan dua juta pasukan lainnya hingga keluarga mereka mengikuti pemimpin nasionalis mereka, Chiang Kai-shek melarikan diri ke Taiwan.

Para pengungsi ini ditampung di ratusan desa-desa milik militer. Rumah-rumah yang dibangun dengan tergesa-gesa ini dimaksudkan untuk menjadi tempat sementara bagi para prajurit untuk bersembunyi sampai kubu Nasionalis dapat merebut kembali daratan.

Setelah dihuni selama bertahun-tahun, tempat tinggal sementara ini menjadi permanen. Pensiun dari militer pada tahun 1978, ia mengumpulkan tabungannya dan pindah ke sebuah rumah di desa tempat ia hidup bahagia selama 40 tahun terakhir.

Kisah Kakek 96 Tahun Selamatkan Desa dengan Lukisan MuralFoto: (Eliot Stein/BBC Travel)

Ketika impian kaum Nasionalis untuk merebut kembali daratan China memudar selama beberapa dekade, banyak veteran itu meninggalkan rumah dan mulai memburuk. Akibatnya, pemerintah Taiwan memulai agresif untuk menghancurkan pemukiman yang rusak itu pada 1980-an dan 1990-an diganti real estate dengan kondominium-kondominium bertingkat.

Saat ini, hanya 30 dari 879 desa militer asli yang tersisa. Semula, desa yang dihuni Huang ini memiliki 1.200 rumah tapi kemudian semua orang pindah.

Pada tahun 2008, pengembang telah mengambil semua lahan dari dan tersisa 11 rumah pemukiman asli saja. Huang perlahan melihat teman-temannya pergi satu per satu, belum menikah dan tanpa keluarga di Taiwan, Huang tidak punya tempat untuk pergi.

Jadi, dia tetap tinggal sampai dia adalah penduduk terakhir yang tersisa. Ketika dia menerima surat dari pemerintah, yang memerintahkan dia untuk mengosongkan desa, veteran ini melakukan sesuatu yang tidak dia lakukan sejak dia masih sekolah, dia mengambil kuas.

Kisah Kakek 96 Tahun Selamatkan Desa dengan Lukisan MuralFoto: (Eliot Stein/BBC Travel)

Suatu malam di tahun 2010 ketika Huang bekerja keras di bawah sinar rembulan, seorang mahasiswa dari Universitas Ling Tung mendekatinya. Melihat ia berjuang sendiri melawan buldoser pemerintah.

Setelah memotret beberapa gambar, mahasiswa ini memulai kampanye penggalangan dana untuk membeli sebanyak mungkin cat untuk Huang. Tak lupa ia membuat petisi untuk memprotes penghancuran pemukiman itu.

Orang-orang pun kagum pada karya kakek Huang dan tersentuh oleh perjuangan para mahasiswa yang mencoba membantunya. Kata Andrea Yi-Shan Yang, Kepala Sekretaris Biro Urusan Kebudayaan Taichung, ketika berita tentang Kakek Pelangi menyebar dan setelahnya menjadi isu nasional yang didukung seluruh masyarakat.

Dalam beberapa bulan, Wali Kota Taichung dibanjiri oleh 80.000 email dari warga yang mendesaknya untuk melestarikan pemukiman. Desakan ini berhasil dan pada bulan Oktober 2010 ada perintah yang menyebut bahwa 11 bangunan tersisa juga jalan-jalan dan daerah sekitarnya agar dipertahankan sebagai taman umum. (msl/fay)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *