Ketegasan Nabi Muhammad Menolak Permintaan Penduduk Tsaqif Usai Masuk Islam

Liputan6.com, Jakarta Nabi Muhammad terkenal dengan perangainya yang santun dan lembut. Namun, dia juga bisa menunjukkan ketegasan terkait hal yang prinsip atau kesedihan yang mendalam. Salah satunya tampak saat pada bulan Ramadan, Nabi Muhammad didatangi oleh penduduk Tsaqif.

Dikutip dari www.nu.or.id, tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabatnya hijrah ke Thaif. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Makkah. Namun, Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif –yang saat itu menjadi penguasa wilayah Thaif—melempari Nabi Muhammad SAW dengan batu hingga kakinya terluka.

Setelah beberapa tahun berlalu, umat Islam semakin kuat. Mereka berhasil mendirikan negara Madinah dan menghimpun kekuatan yang semakin hari semakin besar. Orang-orang Arab tidak memiliki kekuatan lagi untuk berperang melawan umat Islam. Semuanya sudah berbaiat dan memeluk Islam. Hanya tinggal beberapa suku saja yang belum menerima Islam.

Rupanya keadaan ini membuat penduduk Tsaqif kecil hati dan ciut. Tidak ingin mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, akhirnya penduduk Tsaqif mengirim utusan yang dipimpin Kinanah bin Abdul Yalil untuk menemui Nabi Muhammad di Madinah. Kejadian itu berlangsung pada bulan Ramadan, beberapa saat setelah Nabi Muhammad pulang dari Tabuk.

Utusan Tsaqif tersebut membangun tenda-tenda. Mereka tinggal di Madinah beberapa hari agar bisa mengetahui aktivitas umat Islam sehari-harinya. Diceritakan Ibnu Sa’ad, Nabi Muhammad menemui utusan Tsaqif tersebut setiap malam setelah salat Isya. Nabi Muhammad dan mereka terlibat dialog yang cukup intens. Mereka bertanya tentang Islam, lantas Nabi Muhammad memberikan penjelasan.

Di antara pertanyaan yang mereka lontarkan kepada Nabi Muhammad adalah “Bagaimana menurutmu tentang zina karena kami gemar berzina? Bagaimana menurutmu tentang riba, seluruh harta kami berasal dari riba? Bagaimana pendapatmu tentang khamar, pendapatan kami dari khamar? Dan bagaimana dengan orang yang meninggalkan salat?”

Nabi Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan tegas. Singkatnya, kata Nabi Muhammad, baik riba, zina, dan khamar itu adalah sesuatu yang diharamkan Allah. Larangan berbuat zina ada dalam QS al-Isra: 32. Sementara ayat yang mengharamkan praktik riba dan khamar tertera –berturut-turut- dalam QS Surat al-Baqarah: 278 dan al-Maidah: 90.

“Tidak ada kebaikan dalam Islam tanpa salat,” jawab Nabi Muhammad terkait pertanyaan orang yang meninggalkan salat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *