Cegah Kekerasan Seksual, Grab Latih Driver Perempuan Cara Bela Diri

Liputan6.com, Jakarta – Grab membuat gebrakan baru yang berkaitan dengan keamanan bagi perempuan. Salah satunya, mereka mengadakan pelatihan bela diri bagi 100 mitra pengemudi perempuan di Jabodetabek. Pelatihan ini untuk membekali pengemudi perempuan dengan kemampuan bela diri dasar.

Pelatihan beladiri diberikan oleh aktris yang juga atlet Pencak Silat, Prisia Nasution, bersama Area Head of SalesGrabFood Sulawesi & Kalimantan sekaligus pelatih Taekwondo, Bungsu Widowati. Pelatihan dilakukan di Hotel Royal Kuningan, Jakarta. Itu karena Grab berkomitmen untuk menjadi pelopor dalam menciptakan standar keamanan yang tinggi di Indonesia.

“Kami tidak pernah berkompromi tentang keamanan dan keselamatan. Karena itu, keamanan sudah menjadi dasar saat Grab didirikan pada tujuh tahun lalu serta keselamatan untuk penumpang maupun pengemudi,” ucap Neneng Goenadi selaku Managing Director Grab Indonesia, di Hotel Royal Kuningan, Jakarta, Senin (22/4/2019).

Grab bahkan mengaku telah menjadi yang pertama di Asia Tenggara dalam mempelopori inovasi keselamatan lewat fitur Share My Ride atau Bagikan Tujuan, Tombol Darurat atau SOS Button dan Penyamaran nomor telepon pribadi.

Pada tahun lalu mereka bekerjasama dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Hal tersebut dilakukan untuk mengembangkan praktik terbaik dalam menangani dan mencegah kekerasan seksual.

Untuk mendukung perempuan yang telah menjadi korban kekerasan seksual atau tidak dapat melapor secara langsung, Grab juga bekerjasama dengan Yayasan Pulih. Yayasan ini telah melatih tim Customer Experience Grab tentang pertolongan pertama psikologis saat dihadapkan dengan insiden kekerasan seksual.

Dugaan Penyebab Pelaku Pengeroyokan Siswi SMP di Pontianak Lakukan Kekerasan

Pertama, kemungkinan karena mereka berada di lingkungan yang biasa dengan kekerasan. Termasuk, para pelaku ini biasa mendapatkan kekerasan.

“Bisa jadi hal itu dilakukan karena kekerasan itu sudah jadi mindset mereka, seperti memukul orang yang lemah atau melakukan balas dendam itu hal biasa,” kata Astrid.

Bisa juga tindakan kekerasan dilakukan karena pelaku memiliki sifat sulit untuk melihat sudut pandang dari sisi yang lain.

Kemungkinan lainnya, mungkin salah satu dari 12 orang yang mengeroyok siswi Au memiliki bawaan agresi yang tinggi. “Mungkin, yang lain tidak seperti itu,” kata Astrid.

Gereja Katolik Jepang Mulai Selidiki Tuduhan Kekerasan Seks Pastor

Tokyo – Gereja Katolik Jepang menyatakan akan membuka penyelidikan internal terhadap tuduhan-tuduhan kekerasan seksual terhadap anak-anak oleh para rohaniwan, yang muncul beberapa tahun terakhir. Hal ini diumumkan menjelang kunjungan Paus Fransiskus ke Jepang.

Seperti dilansir AFP, Selasa (9/4/2019), penyelidikan internal ini diluncurkan saat gelombang skandal paedofilia terungkap secara global.

Juru bicara Konferensi Uskup Katolik Jepang menuturkan kepada AFP bahwa Komisi Tetap pada Konferensi Uskup, pekan lalu, memutuskan untuk menyelidiki seluruh 16 Keuskupan yang ada di Jepang. Jepang menjadi rumah bagi komunitas kecil penganut Katolik Roma, dengan jumlahnya diperkirakan mencapai 450 ribu orang.

Keputusan untuk melakukan penyelidikan ini dilakukan sebulan setelah pertemuan puncak di Vatikan membahas perlindungan anak-anak, dengan Paus Fransiskus bersumpah menangani kasus kekerasan seksual oleh para pastor.

Hal ini juga diputuskan menjelang rencana kunjungan Paus Fransiskus ke Jepang pada November mendatang, yang akan menjadi kunjungan pertama oleh seorang pemimpin umat Katolik sedunia setelah Paus Yohanes Paulus II, sekitar 40 tahun lalu.

Dilaporkan sedikitnya ada enam tuduhan kekerasan seksual yang disampaikan saat otoritas Gereja Katolik Jepang melakukan survei terhadap seluruh keuskupannya pada tahun 2002 dan tahun 2012 lalu.

Ditambahkan juru bicara Konferensi Uskup Katolik Jepang, bahwa tahap pertama penyelidikan terbaru akan melibatkan pengkajian soal bagaimana para uskup menangani kasus-kasus tersebut, termasuk ‘hukuman untuk pihak-pihak yang terlibat’ dan bagaimana ‘respons terhadap para korban’.

Juru bicara tersebut menyatakan bahwa detail penyelidikan termasuk ‘proses spesifik dan sejauh apa hasilnya akan diungkap ke publik’ akan diputuskan lebih lanjut.

Tahap kedua, lanjut juru bicara tersebut, akan melibatkan penyelidikan tuduhan-tuduhan tambahan.

Pengumuman soal penyelidikan ini diumumkan saat sekelompok orang yang mengklaim menjadi korban kekerasan seksual oleh rohaniwan Katolik menggelar pertemuan di Tokyo pada Minggu (7/4) lalu. Di antara mereka terdapat seorang pria berusia 62 tahun yang dilaporkan menjadi korban kekerasan seksual saat dia masih anak-anak dan bersekolah di sebuah sekolah Katolik di Tokyo bagian barat.

Surat kabar Mainichi Shimbun melaporkan bahwa Uskup Joseph Mitsuaki Takami dari Nagasaki ikut menghadiri pertemuan itu dan menyatakan kepada pria tersebut bahwa dirinya ‘meminta maaf karena tidak mampu berbuat banyak’ untuk membongkar dan menangani kekerasan seksual tersebut.

(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dahi Luka, Wanita Hamil yang Mayatnya di Pinggir Jagorawi Alami Kekerasan

Jakarta – Wanita hamil yang mayatnya terkubur sebagian dan ditutupi daun pisang di pinggir jalur masuk Tol Jagorawi, Cililitan arah Taman Mini belum diketahui identitasnya. Wanita berbaju hijau itu diduga korban pembunuhan dengan mengalami kekerasan.

“Sebab kematian akibat kekerasan benda tumpul yang menyebabkan mati lemas,” kata Kapolres Jakarta Timur, Kombes Ady Wibowo kepada wartawan, Selasa (9/4/2019).

Mayat wanita hamil yang diperkirakan berusia antara 20-25 tahun sudah diautopsi di RS Sukanto/RS Polri, Kramatjati. Ditemukan luka benda tumpul di bagian dahi korban yang berambut lurus ini.

“Dari pemeriksaan luar dan dalam, didapatkan kekerasan tumpul di dahi terdapat luka terbuka, tapi tidak rata. Sudut tumpul ukuran panjang 6 cm dan lebar 5 cm,” sambung Ady.

Diperkirakan, wanita hamil itu meninggal pada Sabtu (6/4) petang. Mayatnya ditemukan di pinggir jalur masuk Tol Jagorawi pada Minggu (7/4) sekitar pukul 07.00 WIB.

“Ciri-ciri korban ada tahi lalat kecil di bawah kuping sebelah kanan. Bekas luka bakar di betis kaki sebelah kanan. Gigi depan patah kecil warna agak hitam,” kata Ady.

Polisi mengimbau agar keluarga/kerabat yang megenali ciri-ciri korban segera melapor ke Polsek Makasar, Jaktim.

(fdn/mea)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

McGregor Tersandung Kasus Kekerasan Seksual?

Jakarta Kabar mengejutkan kembali menerpa Conor McGregor. Setelah memutuskan pensiun dari dunia MMA, McGregor kabarnya tengah dalam penyelidikan kasus penyerangan seksual. 

Seorang sumber mengatakan kepada The New York Times, bahwa superstar UFC itu ditangkap di negara asalnya Irlandia pada Januari lalu.

Seorang wanita menuduh McGregor menyerangnya di sebuah hotel di Dublin. Tetapi, juru bicara tim kuasa hukum McGregor, Karen Kessler, menegaskan kasus tersebut tidak ada hubungannya dengan pengumuman pensiun sang petarung pada Selasa pagi. 

Sumber itu mengatakan, McGregor diinterogasi dan dibebaskan sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut.

Hukum Irlandia mencegah media menyebutkan nama tersangka pelecehan seksual sebelum mereka dinyatakan bersalah, dan polisi di negara itu hanya akan mengonfirmasi bahwa “olahragawan tak bernama” ditangkap 17 Januari.

“Cerita itu telah beredar selama beberapa waktu dan tidak jelas mengapa itu dilaporkan sekarang. Asumsi bahwa pengumuman pensiun Conor hari ini terkait dengan rumor ini benar-benar salah,” katanya.

“Jika Conor bertarung di masa depan, itu harus di lingkungan di mana para pejuang dihormati karena nilai, keterampilan, kerja keras , dan dedikasi mereka terhadap olahraga.”

Presiden UFC, Dana White mengatakan kepada AP, bahwa pensiunnya McGregor masuk akal, terutama karena bisnis wiskinya berkembang pesat.

“Dia punya uang untuk pensiun. Jika saya adalah dia, akan pensiun juga. Dia pensiun dari pertempuran. Bukan dari bekerja,” ucapnya.

Sebelum berseteru, ternyata Khabib Nurmagomedov dan Conor Mcgregor pernah menjalin persahabatan.

Gojek Gandeng Hollaback! Edukasi Mitra Soal Kekerasan Seksual

Liputan6.com, Jakarta – Gojek bekerja sama dengan Hollaback! Jakarta untuk mengedukasi para mitranya tentang kekerasan seksual. Kerja sama ini diharapkan dapat membantu meningkatkan terciptanya ruang publik yang bebas dari kekerasan atau pelecehan seksual.

Diungkapkan Chief Corporate Affairs Gojek, Nila Marita, kerjasama ini merupakan bentuk perhatian perusahaan terhadap isu kekerasan seksual dan mengambil langkah preventif untuk mengatasinya.

“Jadi kami menggandeng Hollaback! Jakarta untuk memberikan edukasi kepada para mitra, agar mitra kami juga punya tujuan yang sama yaitu memberikan layanan terbaik,” tutur Nila di kantor Gojek, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Keseriusan Gojek menangani tindak kekerasan seksual, diklaim perusahaan diimplementasikan pula dalam standar prosedur operasional (SOP) penanganan kasus dan laporan dengan fokus keberpihakan pada korban.

Nila mengklaim jumlah laporan soal kekerasan yang diterima Gojek hanya 0,001 persen dari total laporan yang ada di saluran pengaduan perusahaan.

Kendati jumlahnya tidak besar, Nila menegaskan perusahaan akan terus meningkatkan keamanan layanannya, termasuk menjalin kerja sama dengan Hollaback! Jakarta.

“Sekarang memang masih pilot, tapi kami akan bekerja sama dengan Hollaback! secara berkala dan menjadi lebih besar. Ini sekaligus menjadi bagian investasi perusahaan di dalam teknologi, yang menjadi lebih banyak,” ujarnya.

Co-Director Hollaback! Jakarta, Anindya Restuviani, mengatakan sejauh ini edukasi tentang pencegahan kekerasan seksual ini baru diadakan di Jakarta. Edukasi ni diberikan kepada koordinator komunitas-komunitas Gojek, dengan harapan mereka akan meneruskan pengetahuannya kepada anggota.

“Pelatihannya masih awal di Jakarta, diberikan kepada koordinator komunitas-komunitas Gojek. Setelah ini, kami akan memperluasnya ke berbagai daerah lain, seperti Bandung, Bali, dan Palembang,” ujarnya.

Dijelaskannya, edukasi yang diberikan Hollaback! Jakarta tidak hanya sekadar pengetahuan tentang kekerasan seksual, tapi juga tindakan preventif terkait hal tersebut. Selain itu, juga diberikan pengetahuan mengenai tindakan yang bisa dilakukan untuk membantu korban ynag ditemui di ruang publik.

“Tujuan Hollaback! Jakarta adalah mengakhiri kekerasan di tempat umum, termasuk jalanan dan transportasi umum. Kehadiran Gojek dengan mitranya yang banyak, kami harap dapat membantu merealisasikan hal tersebut, ungkap Anindya.

TKN: Masyarakat Aceh Takkan Pilih Pemimpin dengan Tradisi Kekerasan

Liputan6.com, Blangpidie – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto mengatakan, masyarakat Aceh diyakini takkan memilih pemimpin dengan tradisi kekerasan di masa lalu. Sehingga, hal itu akan menentukan calon pemimpin yang akan dipilih masyarakat Aceh di Pilpres 2019.

“Kami yakin masyarakat Aceh begitu tidak suka dengan tradisi kekerasan,” tukas Hasto di Blangpidie, Aceh, Kamis (7/3/2019).

Hasto menyatakan, masyarakat Aceh akan lebih memilih pemimpin yang punya semangat keislaman yang kuat. Karena, pada abad pertengahan pun masyarakat Aceh sudah memiliki semangat gigih untuk menjadikan peradaban Nusantara berdasarkan dengan nilai-nilai Islam.

“Kita lihat, Walisongo dari Aceh saja ada. Ada Syarif Hidayatullah dan Syekh Maulana Ibrahim itu dari Aceh. Orang Aceh akan mempertahankan tradisi ini. Plus mereka tidak akan memilih pemimpin dengan tradisi kekerasan,” ujarnya.

Meski begitu, Hasto mengaku tantangan masih menghadang TKN dalam bentuk hoaks yang kian marak beredar di berbagai wilayah di Indonesia.

Karena itulah, dalam safari kebangsaan ke Aceh, ia datang bersama para tokoh dan ulama untuk membersihkan informasi hoaks.

“Bersama dengan para relawan dan partai politik pendukung, menyampaikan hal yang baik-baik,” tandas Hasto.

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Sara Djojo: RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Baru akan Dibahas Mei 2019

Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Sara) memastikan pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) tidak mandek. Menurutnya, RUU P-KS baru masuk DPR tahun 2017 dan sudah tidak masuk dalam Prolegnas.

“Kalau kita bicara soal RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, tetap saya sampaikan bahwa yang pertama bahwa RUU ini baru masuk ke DPR tahun 2017, baru masuk ke Komisi VIII dan dibuat panjanya awal 2018 sehingga ada RUU yang sudah masuk Prolegnas prioritas dari tahun 2014 harus dibahas terlebih dahulu,” ujar Sara usai menghadiri laporan catatan tahunan (catahu) Komnas Perempuan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (6/3/2019).

“Jadi RUU ini bukan karena mandek atau lamban, tapi karena masih banyak UU yang masih menunggu giliran. Kedua, kalau kita bicara soal polemik saya rasa karena kekurangpahaman orang-orang terhadap draf yang disebarluaskan. Draf itu adalah draf awal, bukan draf akhir. Pembahasan pun belum dilakukan. Kemungkinan besar pembahasan baru dilakukan bulan Mei,” imbuhnya.

Sara optimis bisa memenuhi target merampungkan RUU P-KS pada bulan Agustus 2019 yang telah dibahas bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Ia pun ingin bekerja sama dengan civil society organization (CSO) untuk memastikan agar tidak ada kata-kata yang multitafsir.

“Kalau di pembahasan RUU yang lain sebenarnya bisa, yang hanya menjadi catatan kan hanya di beberapa pasal. Jadi di beberapa pasal dan ayat itu kami memerlukan bantuan CSOs untuk memastikan bahwa kata-kata yang digunakan tidak multitafsir. Itu aja. Bukan hanya definisi saja tapi soal hal lain yang harus kita pastikan saja itu tidak mengandung hal-hal kontroversial,” ucapnya.

Sara yang berasal dari Fraksi Partai Gerindra ini memandang bahwa RUU P-KS adalah sesuatu yang penting. Namun, ia tak ingin berpendapat soal pandangan fraksi lain terhadap RUU ini.

“Kalau dari kami yang mendukung RUU ini yaitu Gerindra dan PDI Perjuangan, tentunya bagi kami ini penting. Kalau dari fraksi lain belum ada penyuaraan, harus ditanya ke mereka. Saya nggak mungkin mewakili suara mereka,” tuturnya.

Lebih lanjut, Sara menilai ada kesalahpahaman dari pihak yang tidak mendukung RUU ini. Soal substansi dalam RUU, Sara menegaskan jika DPR menyuarakan aspirasi dari rakyat.

“Bagi yang tidak mendukung, saya rasa karena ada kesalahpahaman. Bagi yang mendukung perlu untuk membahas soal jalan tengah. Tapi saya rasa ini cuma masalah kata-kata saja. Kalau soal mendukung, apakah ingin menghapus kekerasan seksual, pasti semua mendukung,” ujar Sara.

“Kalau soal substansi, saya tekankan lagi, DPR adalah wakil rakyat, jadi rakyat yang harus bersuara. Kita ini mewakili dan saat mewakili pasti ada yang memiliki pemahaman yang lebih konservatif dan ada yang liberal. Apakah itu salah? Saya rasa tergantung perspektif setiap orang,” pungkasnya.
(azr/nvl)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ponakan Prabowo: Film Dilan 1991 Ungkap Fakta Kekerasan Seksual

Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menyebut film ‘Dilan 1991’ mengungkapkan fakta kekerasan seksual yang sering terjadi di kehidupan nyata dan selama ini sering tidak disadari. Keponakan Prabowo Subianto itu menyoroti kekerasan seksual yang ditampilkan salah satu karakter film itu.

Rahayu Saraswati atau akrab disapa Sara mengatakan peran Dilan dan Hugo menggambarkan sosok teman laki-laki Milea yang memiliki kepribadian yang berbeda dalam memperlakukan perempuan.

“Dilan menunjukkan sikap yang cukup menghormati kehendak perempuan. Sementara tindakan yang dilakukan Hugo menunjukkan bentuk pelecehan yang seringkali terjadi pada kehidupan nyata,” ujar Sara usai mengadakan nonton bersama film ‘Dilan 199I’, Rabu (6/3/2019).


Sara mengadakan nonton bareng ‘Dilan 1991’ pada Minggu 3 Maret 2019. Dia mengajak ratusan kader muda partai Gerindra untuk ikut menonton ‘Dilan 1991’.

Sara yang juga berlatar aktris ini menyebut Dilan menghormati Milea sebagai teman perempuannya. Untuk Hugo, dia menyebut karakter itu bertolak belakang dengan Dilan. Sara memandang Hugo kerap memaksakan kehendak fisik dengan berlindung pada kebebasan berekspresi dan pengaruh budaya barat.

“Di barat, justru jika seorang laki-laki berperilaku seperti yang dilakukan Hugo terhadap Milea, dia sudah bisa dilaporkan ke polisi atas tindak kekerasan seksual,” sebut Sara.

Seniman lulusan International School of Screen Acting London, Inggris itu lantas menceritakan adegan Hugo dan Milea nonton di bioskop. Dia menyoroti tindakan fisik Hugo ke Milea.

“Di negara lain memegang pundak tanpa izin seseorang pun sudah bisa dipidana, apalagi mencium tanpa izin (against someone’s will),” kata dia.

Bagi Sara, perilaku Hugo membuat banyak aktivis perlindungan perempuan dan anak menyampaikan adanya kekosongan hukum dalam berpacaran. Pemahaman tentang apa yang dianggap boleh maupun tidak dalam memperlakukan seseorang terhadap yang lain dalam konteks pelecehan seksual pun, katanya, belum dimengerti dan disepakati semua orang.

“Apa yang dilakukan Hugo itu bentuk pelecehan seksual yang kadang banyak orang kurang memahami. Dan itu yang sedang diperjuangkan para aktivis, terkait penegakan hukumnya,” tegas caleg DPR RI Dapil 3 DKI itu.

Ketua DPP Bidang Advokasi Perempuan Partai Gerindra itu mendukung film karya anak bangsa dan karenanya dia rutin mengadakan nonton film Indonesia. Dia juga mengucapkan selamat kepada film ‘Dilan 1991’ yang berhasil mencatatkan rekor MURI, yaitu jumlah penonton hari pertama penayangan sebanyak 800.000 penonton.

“Sekali lagi selamat atas keberhasilan MURI-nya. Semoga memicu insan perfilman Indonesia untuk terus menghasilkan karya-karya terbaik,” ucap Sara.
(gbr/dhn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Hakim Tunda Sidang Perdata Dugaan Kekerasan Seksual Karyawati BPJS-TK

Liputan6.com, Jakarta – Sidang gugatan perdata korban dugaan pelecehan seksual karyawati RA oleh mantan Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Syafri Adnan Baharudin ditunda. Hal itu lantaran berkas administrasinya belum lengkap.

“Dinyatakan ditunda, karena kelengkapan dari kuasa belum sepenuhnya kami terima,” tutur Ketua Majelis Hakim, Krisnugroho saat persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (6/3/2019).

Sidang pun ditunda hingga Rabu 13 Maret 2019 dengan agenda yang sama yakni kelengkapan surat kuasa.

“Kami berikan kesempatan untuk melengkapi,” jelas hakim.

Korban kasus dugaan pencabulan, RA, menggugat perdata tiga pimpinan Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan (Dewas BPJS TK). Mereka adalah terduga pelaku pelecehan seksualyakni Syafri Adnan Baharudin, anggota Dewas BPJS TK Aditya Warman, dan Ketua Dewas BPJS TK Guntur Witjaksono.

Syafri Adnan Baharudin sudah diberhentikan dari jabatannya di Dewas BPJS TK. Sementara Aditya Warman dan Guntur Witjaksono dianggap turut bertanggung jawab atas peristiwa itu.

Gugatan material kemudian diajukan sebesar Rp 3,7 juta dan imaterial sebesar Rp 1 triliun.

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: