TKN Jokowi: Sidang Ratna Sarumpaet Perlihatkan Buruknya Leadership Prabowo

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin bersyukur sidang kasus hoax Ratna Sarumpaet akhirnya digelar. Menurut TKN Jokowi-Ma’ruf, kasus Ratna menunjukkan bahwa kubu Prabowo mampu menggunakan segala cara untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2019.

“Saya bersyukur sidang kasus Ratna Sarumpaet bisa digelar kemarin. Perkara Ratu hoax dari kubu hoax akhirnya disidangkan,” kata Wakil Sekretaris TKN Raja Juli Antoni kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).

“Cara kubu Pak Prabowo yang mempergunakan segala cara untuk memenangkan kompetisi politik dengan keji dan kejam. Mereka berambisi untuk mem-framing Pak Jokowi sebagai pemimpin diktator dan otoriter. Kasus Ratna mereka ‘santap’ degan lezatnya. Diungkap ke media bukan dilaporkan ke kepolisian,” sambungnya.


Pria yang akrab disapa Toni itu menilai, sidang kemarin memperlihatkan buruknya kepemimpinan (leadership) Prabowo yang mudah mempercayai hoax yang direkayasa oleh Ratna. Menurut dia, Prabowo tampil sebagai pemimpin yang emosional karena menelan informasi tanpa melakukan klarifikasi.

“Kasus Ratu Hoax ini juga memperlihatkan buruknya leadership Prabowo. Prabowo pemimpin yang tidak matang dan emosional sehingga tidak mampu memproses sebuah informasi dengan tepat sehingga keputusan yang diambil sangat buruk. Grasa-grusu, semua informasi ditelan bulat-bulat tanpa klarifikasi sama sekali,” tutur Toni.

“Lalu apa yang diharap rakyat dari kubu penyebar hoax dengan calon presiden yang leadership yang buruk?” sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, Ratna menjalani sidang dakwaan di PN Jakarta Selatan, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, Kamis (28/2). Jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Ratna Sarumpaet membuat keonaran dengan menyebarkan hoax penganiayaan. Ratna disebut sengaja membuat kegaduhan lewat cerita dan foto-foto wajah yang lebam dan bengkak yang disebut akibat penganiayaan.

Padahal kondisi bengkak pada wajah Ratna merupakan efek dari operasi plastik di RS Bina Estetika, Menteng. Jaksa mengungkap, Ratna memfoto dirinya saat menjalani perawatan medis, lalu menyebarkan foto ditambah keterangan soal terjadinya penganiayaan.
(azr/mae)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

5 Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT Agar Selamat Dunia Akhirat

Liputan6.com, Jakarta Allah SWT selalu dekat dengan hamba-Nya. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan bahwa “Allah SWT itu dekat. Bahkan jauh lebih dekat dari urat nadi kita sendiri”. Kita selalu berharap senantiasa mendapatkan kecintaan Allah

Allah memerintahkan manusia untuk selalu beribadah kepada-Nya. Perintah ini mengandung maksud bahwa ibadah merupakan sarana bagi manusia untuk bisa dekat dengan Sang Pencipta. Di zaman sekarang banyak sekarang orang yang merasa dirinya jauh dari Allah SWT.

Ada beberapa golongan yang jauh dari Allah SWT, diantaranya: orang-orang keras hati yaitu orang-orang yang suka berbicara namun jarang berzikir dan mengingat Allah SWT. Orang bakhil atau pelit yaitu orang yang enggan membagi hartanya.

Orang yang mendirikan sholat tapi masih mengerjakan perbuatan keji dan munkar dan ahli maksiat.

“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Surat Ar-Ra’du ayat 28. Mudah-mudahan kita dijauhi oleh diantara golongan orang yang jauh dari Allah SWT. Ada beberapa cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berikut liputan6.comrangkum cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2 dari 6 halaman

1. Mendirikan Shalat

Sholat sebagai salah satu dari rukun Islam tentu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap muslim. Namun lebih dari itu sebetulnya sholat tidak hanya merupakan kewajiban tetapi juga merupakan kebutuhan bagi kaum yang beriman, karena sholat merupakan tiang agama dan merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kebahagiaan hakiki bagi setiap muslim adalah manakala ia mampu mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Saat mana ia akan selalu merasakan begitu nikmat dan tenteram dalam menjalani hidup dan kehidupan. Salah satu cara untuk merasakan kenikmatannya adalah dengan mendirikan shalat lima waktu dan tepat waktu.

Dengan mendirikan shalat lima waktu dan tepat waktu kamu bisa lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Jadi, jangan lupa untuk langsung kamu ke mesjid saat adzan berkumandang, tinggalkan semua urusan dunia dan dekatkan dirimu dengan Allah SWT dengan mengerjakan dan mendirikan Shalat.  

3 dari 6 halaman

2. Membaca Al-Qur’an

Cara mendekatkan diri kepada Allah yaitu dengan memperbanyak tilawah atau membaca Al-Qur’an. Amalan ini tak hanya membuat kita semakin dekat dengan sang pencipta dan mendatangkan pahala, ini juga bisa membuat kita menjadi pribadi yang semakin sabar, lapang dada, jujur dan sebagainya.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah untuk diamalkan dan dijadikan petunjuk jalan bagi orang-orang yang beriman serta bertawakal. Sebagian salaf mengatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan. Dengan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an kamu akan  termasuk orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT.

4 dari 6 halaman

3. Selalu bersyukur

Umat muslim wajib bersyukur atas nikmat Allah SWT telah diberikan, dari nikmat harta hingga nikmat bernapas. Sebab bersyukur disebutkan sekitar 70 ayat di dalam Alquran. Dengan banyak bersyukur makan kamu termasuk orang yang mendapatkan ridho Allah SWT serta salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan bersyukur maka kamu bisa semakin dekat dengan Allah SWT. Ada beberapa cara bersyukur yang diantaranya : Bersyukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat dan rezeki yang didapatkan semata-mata merupakan karunia dan kemurahan Allah.

Bersyukur dengan lisan dengan mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Bersyukur dengan tindakan bermakna bahwa semua nikmat yang diperoleh harus dimanfaatkan di jalan yang diridhaiNya dan merawat kenikmatan yang telah Allah berikan. Jika kamu bisa bersyukur maka allah akan menambah kenikmatan kepadanya dan Allah akan selalu dekat dengan hambanya.

5 dari 6 halaman

4. Ingat kematian dan tidak tergiur dengan dunia

Cara mendekatkan diri kepada Allah selanjutnya adalah ingat akan mati dan tidak tergiur akan dunia yang fana. Setiap makhluk hidup pasti akan mati. Sangat menakutkan jika membayangkan kematian. Karena kita sebagai manusia, masih memiliki banyak kesalahan dan dosa. Kematian pasti menghampiri makhluk hidup, namun hanya Allah SWT yang mengetahui waktunya.

Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita dan dapat secepat kilat menjemput. Oleh karena itu sebagai umat Islam sebagai hamba yang baik jangan samapi tergiur akan gemerlap dunia. Dunia hanyalah tempat singgah sementara dan anya perkara yang fana. Hamba yang baik hanya mengingat satu perkara, yaitu janji Allah akan kehidupan akhirat yang kekal adanya.

6 dari 6 halaman

5. Berzikir dan mengerjakan ibadah sunah

Agama Islam telah mewajibkan pemeluknya untuk menjalankan ritual ibadah wajib yaitu sholat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu. Untuk semakin mendekat diri kepada Allah SWT juga dianjurkan untuk menunaikan ibadah sunah. Seperti Shalat Dhuha, Tahujud, Puasa sunah serta berzikir.

Zikir atau wirid sering diartikan menyebut nama Allah SWT, dan biasanya dilakukan secara rutin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berzikir adalah menyebut nama Allah dengan membaca tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha ilallaah), tahmid (alhamdulillah), taqdis (qudduusun), takbir (allahu akbar), dan lain-lain.

TKN: Harus Diungkap Apakah Ibu-ibu ‘Kampanye Hitam’ Bagian Kampanye 02

Bandung – Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin meminta polisi mengusut tuntas kasus ibu-ibu di Karawang melakukan dugaan kampanye hitam. TKN menduga ada aktor intelektual dibalik aksi tiga ibu rumah tangga tersebut.
Ketiganya yakni ES warga Desa Wancimekar, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Karawang, IP warga Desa Wancimekar, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Karawang dan CW warga Telukjambe, Desa Sukaraja, Kabupaten Karawang. Mereka diamankan kemarin, Minggu (24/2) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

“Terhadap ketiga ibu itu kami juga komunikasi ke penyidik seharusnya tidak berhenti di ibu itu, karena kami menduga kemungkinan ada aktor intelektual dibalik itu apakah ibu itu disuruh melakukan kampanye hitam, sebar fitnah, ujaran kebencian kepada masyarakat di sekitarnya untuk tidak memilih Pak Jokowi,” ucap Direktur Hukum dan Advokasi TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Ade Irfan Pulungan di Mapolda Jawa Barat, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin (25/2/2019).

Ade Irfan mengatakan dorongan untuk mengusut lebih dalam kasus ini juga sekaligus untuk mencari tahu apakah ketiganya merupakan relawan dari capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno.

“Nah ini makanya yang perlu ditelusuri pihak penyidik. Apakah dari simpatisan atau relawan resmi dari paslon 02 atau memang mereka disuruh melakukan kampanye negatif. Saya menduga ketiga ibu ini tidak paham tentang kalimat atau materi yang mereka ucapkan dan tidak paham dampak hukum yang bisa muncul ke mereka. Ini harus ditelusuri supaya terang benderang, karena ini sesat menyesatkan, ini peristiwa murni ujaran kebencian ke Pak Jokowi,” tutur Ade.

“Kami meminta ke penyidik tetap proses, tidak berhenti dalam proses ke ibu ini, harus tuntas di balik ini apakah diduga dari bagian kampanye 02 atau kepentingan kelompok lain yang mendompleng masalah pemilu ini. Ini yang harus diungkap,” ucapnya menambahkan.

TKN melalui Tim Kampanye Daerah (TKD) Karawang telah melaporkan adanya video itu ke Polres Karawang. Kedatangan Ade ke Polda Jabar untuk berkoordinasi dengan penyidik terkait kasus yang kini ditangani penyidik Polda Jabar itu.

Kembali ke soal video, Ade menilai konten dari video tersebut sudah jelas merupakan fitnah kepada Jokowi. Menurutnya, ucapan-ucapan yang dilontarkan ibu kepada seorang kakek yang berdiri di pintu tak mencerminkan sikap Jokowi.

“Ini tidak masuk akal dan fitnah keji. Kita tahu bersama, Pak Jokowi memanggil wakilnya seorang ulama, dari mana akal sehatnya sampai mengatakan Pak Jokowi dan Ma’ruf Amin bila terpilih suara azan tidak diperdengarkan. Pergunakanlah akal sehat untuk melakukan kampanye ke masyarakat jangan gunakan orang-orang tertentu untuk kepentingan tertentu yang mengakibatkan timbulnya gadu,” ujar Ade.
(dir/bbn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ibu-ibu Sosialisasi ‘Jokowi Menang Kawin Sejenis Sah’, Ma’ruf: Fitnah!

Jakarta – Cawapres Ma’ruf Amin menyesalkan aksi kampanye hitam ibu-ibu terhadap Jokowi yang videonya viral. Ma’ruf menegaskan materi kampanye hitam ibu-ibu itu sepenuhnya fitnah.

“Ngawur itu. Itu fitnah dan hoax, ada hoax begitu,” ujar Ma’ruf di Hotel Aryaduta Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (24/2/2019).

Ma’ruf mengaku juga sudah mendengar materi kampanye hitam lainnya, salah satunya adalah Kementerian Agama akan dibubarkan jika Jokowi menang. Dia menegaskan semua tuduhan itu fitnah belaka.
“Jadi ini masyarakat jangan percaya itu fitnah dan hoax,” ujar Ma’ruf.
TKN Jokowi-Ma’ruf Amin juga sudah bereaksi menyikapi aksi ibu-ibu di video yang viral itu. TKN akan menelusuri ibu-ibu yang video sosialisasinya viral di media sosial.

“Menanggapi beredarnya video viral itu, jelas kampanye itu merupakan kampanye hitam yang berisi fitnah dan kebohongan. Kampanye dari rumah ke rumah seperti ini jelas sangat merugikan kami,” kata Jubir TKN Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Minggu (24/2/2019).

“Kami akan menelusuri siapa yang melakukan kampanye hitam tersebut. Darimana ibu-ibu ini mendapatkan informasi dengan mengampanyekan hoax dan fitnah keji seperti ini,” imbuhnya.
(dkp/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Anas Urbaningrum dan Sumpah Gantung di Monas, 6 Tahun Silam

Liputan6.com, Jakarta Penangkapan Bendahara Umum Partai Demokrat pada saat itu, Muhammad Nazaruddin menjadi titik awal terungkapnya kasus korupsi megaproyek pembangunan Wisma Atlet di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Proyek tersebut lambat terealisasi karena terkendala sertifikasi tanah.

Dalam catatan Sejarah Hari Ini (Sahrini) Liputan6.com mencatat, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Politisi Partai Demokrat, Anas Urbaningrum sebagai salah satu tersangka proyek itu. Dia diduga menerima gratifikasi dan pencucian uang.

Sebelum penetapan tersebut, Nazaruddin sempat menyeret nama Anas dan Menpora Andi Alfian Mallarangeng saat menjalani pemeriksaan di KPK. Nazar mengaku menerima uang sebesar Rp 100 miliar. Separuhnya digunakan untuk memenangkan Anas Urbaningrung sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, setengahnya lagi dibagi-bagi ke sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Kendati demikian, Anas membantah tegas tuduhan itu dan menilai tudingan mantan koleganya di Partai Demokrat merupakan fitnah keji. Dia mengaku tak menerima uang sepeser pun atas dana proyek pusat olahraga tersebut. Bahkan, Anas Urbaningrum melontarkan sumpah serapah yang mengejutkan publik.

“Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas,” kata Anas pada 9 Febuari 2012.

Dia juga menyebut tudingan tersebut merupakan ocehan dan karangan tidak mendasar sehingga KPK tak perlu harus repot mengurusinya. Walaupun begitu, Anas mengaku siap bersedia jika nantinya harus berurusan dengan KPK.

Namun apa daya, sumpah itu tak membuatnya lepas dari bayang-bayang korupsi. Berdasarkan hasil penyidikan dan pemeriksaan, Anas Urbaningrum akhirnya ditetapkan menjadi tersangka pada 22 Februari 2013. Setelah Menpora Andi Mallarangeng dan Kepala Biro Keuangan dan Rumahtangga Kemenpora, Dedi Kusnandar sebelumnya sudah dilabeli sebagai koruptor Hambalang

2 dari 3 halaman

Vonis Anas yang Dilipatgandakan

Proses panjang selama 15 bulan akhirnya membuahkan hasil, Anas menjadi pesakitan di ruang sidang Tipikor pada 30 Mei 2014 dengan didampingi pengacara senior Adnan Buyung Nasution. Dia diperiksa dan diserang berbagai macam pertanyaan oleh majelis hakim.

Di persidangan, dia tetap bersikeras menuding pernyataan Nazaruddin merupakan cerita kosong belaka dan tidak sesuai fakta yang ada. Selain itu, dia juga geram dengan tuntutan jaksa yang meminta majelis hakim mencabut hak politiknya.

“Sungguh tidak rasional, absurd, mengada-ngada dan hanya berdasarkan cerita kosong seorang saksi istimewa M. Nazaruddin,” kata Anas saat membacakan nota keberatan atau pleidoi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis 18 September 2014. Di dalam sidang Anas membacakan pledoi atau pembelaannya setebal 80 halaman.

Namun, drama itu selesai enam hari kemudian. Sidang vonis Anas pun berjalan di tempat yang sama. Berdasarkan putusannya, majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana 8 tahun penjara serta denda Rp 300 juta.

Setelahnya, Anas mengajukan kasasi atas putusan tersebut, dia menyatakan keberatan lantaran tindak pidana asal (predicate crime) dalam tindak pidana pencucian uang TPPU harus dibuktikan dahulu. Namun, Majelis Agung tidak mengabulkannya karena merujuk pada ketentuan Pasal 69 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU yang menegaskan bahwa predicate crime tidak wajib dibuktikan terlebih dahulu.

Majelis hakim malah melipatgandakan hukuman Anas menjadi 14 tahun pidana penjara dan denda Rp 5 miliar subsider 1 tahun 4 bulan kurungan pada 8 Juni 2015.

Selain itu, majelis hakim juga mengabulkan permohonan Jaksa Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang meminta agar Anas dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan hak dipilih untuk menduduki jabatan publik. Majelis hakim merujuk pada beberapa pasal.

Adapun pasal tersebut, Pasal 12 huruf a Undang-undang Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 KUHP, Pasal 3 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, serta Pasal 3 ayat 1 huruf c UU No 15 Tahun 2002 jo UU No 25 Tahun 2003.

3 dari 3 halaman

Ajukan Peninjauan Kembali dan Permainan Politik

Anas yang geram karena kasusnya berbuntut panjang mengajukan peninjauan kembai atau PK ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis, 24 Mei 2018. Dalam kasusnya, dia merasa mendapati muatan politis sangat kental sehingga merugikan dirinya.

“Bahwa aroma politik dari kasus Hambalang yang menimpa pemohon PK sejak awal memang telah tercium pekat indikatornya bocor dokumen KPK yang diduga Sprindik atas nama pemohon PK,” ujar Anas melalui pengacaranya, Abang Nuryasin, Kamis (24/5/2018).

Tudingan ini bukan tanpa dasar. Menurut abang, saat Anas maju sebagai calom Ketua Umum Partai Demokrat pada 2010, Anas tidak diunggulkan dalam bursa saat itu. Namun, berkat dorongan para kader Partai Demokrat, mantan komisioner KPU itu akhirnya menang.

Abang menjelaskan, gerakan menggulingkan Anas Urbaningrum terjadi dengan status tersangka atas dugaan penerimaan gratifikasi yang ditetapkan KPK.

“Bahwa kudeta politik dan pengambilalihan kewenangan pemohon PK sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan pernyataam dari resim berkuasa saat itu agar pemohon PK kembali berkonsentrasi menghadapi masalah hukum adalah penggiringan opini politik publik,” ucapnya memungkasi. (Rifqi Aufal Sutisna)

Misteri Bayang-Bayang Pria Lain di Balik Pembunuhan Keji Ibu dan Bayi di Kediri

Liputan6.com, Kediri – Nardian (38), warga Dusun Sumber Manggis, Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur harus dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Kediri, untuk menjalani pemeriksaan psikiatri, Senin (18/2/2019). Nardian diduga kuat membunuh istri dan anak kandungnya yang masih bayi.

Dokter Roni Subagyo SPKJ menjelaskan, pihaknya belum bisa memastikan jika yang bersangkutan memang menderita gangguan jiwa. Namun, dia mengakui adanya indikasi gangguan jiwa yang dialami Nardian.

“Kita perlu pastikan, kita perlu observasi dan pemeriksaan lanjutan,” tutur dokter psikiatri yang sering menangani banyak kasus pembunuhan yang pelakunya mengidap kelainan jiwa.

Dibutuhkan waktu antara tiga sampai lima hari untuk memastikan. Di samping itu, dibutuhkan juga pemeriksaan tambahan yang mencakup otak, pemeriksaan laboratorium, dan piskologis.

Pemeriksaan awal yang dilakukan hanya sebatas anamnesa yaitu menanyakan kondisi psikologis yang bersangkutan. Selain itu, pihak medis masih memerlukan keterangan tambahan dari pihak mertua dan tetangganya untuk diperiksa.

“Melibatkan dokter spesialis saraf, pemeriksaan psikologis melalui psikolog supaya hasil pemeriksaan yang kita dapat betul-betul bisa memastikan. Selama menjalani observasi Nardian akan ditempatkan diruang khusus,” katanya.

Indikasi Nardian mengidap kelainan jiwa, saat yang bersangkutan mengaku sering melihat bayangan laki-laki lain dekat sang istri.

“Namun itu kan keterangan dari yang bersangkutan jadi perlu kepastian dengan pemeriksaan tambahan atau pemeriksaan lain,” ucapnya.

Nardian (38) tega menghabisi nyawa isterinya dengan sebilah pisau setelah sebelumnya mereka terlibat cek-cok mulut. Warga sempet melerai pertengkaran itu, tetapi keduanya kembali terlibat adu mulut.

Pelaku yang tak kuat menahan emosi kemudian tega menusuk isterinya. Ironisnya saat peristiwa keji itu berlangsung, diduga posisi korban sedang menggendong anaknya yang masih berusia tujuh bulan. Tak pelak bayi tak berdosa ini ikut menjadi korban perangai keganasaan ayahnya hingga akhirnya tewas bersama ibunya.

Simak video pilihan berikut ini:

Top 3 Berita Hari Ini: Pengakuan Oknum Guru SD di Malang Cabuli Lebih dari 20 Siswi

Malang – Top 3 berita hari ini, dunia pendidikan Tanah Air kembali tercoreng oleh ulah seorang guru yang sejatinya memberikan keteladanan yang baik pada anak didiknya. IM, oknum guru olahraga di salah satu SD di Malang diduga telah mencabuli lebih dari 20 siswinya.

Laporan aksi bejat oknum guru ini terkuak saat salah satu orangtua murid melapor ke polisi. Dikatakan IM mencabuli siswinya dengan memeluk sampai menggerayangi tubuh mereka.

IM sendiri sudah beberapa kali pindah sekolah. Ada dugaan di sekolah tempatnya mengajar sebelumnya juga terjadi aksi pencabulan. 

Sementara itu, dua penumpang gelap pembunuh sopir online di Garut akhirnya tertangkap. Kedua tersangka diringkus di dua lokasi berbeda. Abang ditangkap di Bandung dan Keling di Gilimanuk Bali.

Terlilit utang adalah motif di balik pembunuhan keji tersebut. Tidak hanya lewat pukulan ke arah korban, kedua tersangka membacok korban Yudi dengan sebilah kapak ke arah wajah.

Aksi tersebut tak hanya cukup sampai di situ. Meski korbannya telah bersimbah darah, Abang dan Keling menggilas korban dengan mobil hingga meninggal dunia.

Berikut berita terpopuler dalam Top 3 Berita Hari Ini:

1. Korban Guru Cabul di Kota Malang Lebih dari 20 Siswi

Komnas Perlindungan Anak mengunjungi sekolah tempat kejadiaan dugaan kasus guru cabul di Kota Malang (Liputan6.com/Zainul Arifin)

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mendorong kepolisian mengusut tuntas kasus dugaan seorang guru cabul di Kota Malang. Kasus ini sendiri sudah sepekan lebih dalam proses penyelidikan polisi setempat.

Ketua Komnas PA, Aris Merdeka Sirait mengatakan, diduga jumlah siswi yang jadi korban guru cabul di salah satu sekolah di Kota Malang ini bisa lebih dari 20 siswi sekolah dasar.

“Ini sudah termasuk predator anak. Karena ada peristiwa yang berulang-ulang dilakukan oleh guru itu,” kata Aris di Kota Malang, Senin, 18 Februari 2019.

 Selengkapnya…

2. Akhir Drama 2 Penumpang Gelap Pembunuh Sopir Online di Garut

Kapolres Budi AKBP Budi Satria Wiguna menunjukan sejumlah bukti pembunuhan Yudi, sopi online Pake Taxi(Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Setelah pengejaran dua pekan lebih, jajaran Kepolisian Resort Garut, Jawa Barat berhasil meringkus JS alias Keling dan D alias Abang, dua tersangka pembunuhan keji terhadap Yudi alias Jablay, sopir online aplikasi Fake Taxi yang ditemukan meninggal Sabtu, (2/2/2019) lalu. 

Aksi kedua tersangka terbilang sadis, pelaku JS alias Keling menghabisi korban bersama D alias Abang, rekannya, karena keduanya mengaku terlilit persoalan hutang. Akibat kondisi itu, mereka nekat merencanakan membunuh korban dengan berpura-pura sebagai konsumen.

Mereka melakukan pemukulan dengan tangan kosong, kemudian membacoknya dengan sebilah kapak ke arah wajah korban hingga terkapar.

Selengkapnya… 

3. Jejak Kenangan di Museum Nike Ardila

Museum Nike Ardila

Usianya masih sangat belia saat itu, 19 tahun. Namun, jejak tentangnya langgeng hingga kini. Kenangan tentang Nike Ardilaa saat ini masih tersimpan rapi di sebuah rumah yang terletak di Jalan Aria Utama Nomor 1, Desa Cipamokolan, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung.

Rumah tersebut dinamai Rumah Kenangan Nike Ardilla (RKNA). Di dalamnya terdapat kumpulan barang-barang yang dimiliki Nike semasa hidupnya, pun sejumlah barang yang memiliki kaitan erat dengan dirinya, termasuk dengan kematiannya.

Suasana melankolis langsung terasa begitu kaki memijak teras museum. Sosok Nike Ardilla dengan potongan rambut dan raut wajah khasnya seolah menatap pengunjung dari sebuah poster yang terpampang di bagian depan museum.

Selengkapnya…

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Akhir Drama 2 Penumpang Gelap Pembunuh Sopir Online di Garut

Liputan6.com, Garut Setelah pengejaran dua pekan lebih, jajaran Kepolisian Resort Garut, Jawa Barat berhasil meringkus JS alias Keling dan D alias Abang, dua tersangka pembunuhan keji terhadap Yudi alias Jablay, sopir online aplikasi Fake Taxi yang ditemukan meninggal Sabtu, (2/2/2019) lalu. 

“Mereka sudah merencanakan aksinya, mereka meminta korban untuk diantar dari Pasirkoja menuju Garut, dan menghabisi nyawa korban di Garut,” ujar Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna, di Mapolres Garut, Senin (18/2/2019). 

Menurut Budi, penangkapan kedua tersangka dengan kelakuan bengis itu, merupakan pengembangan atas pengungkapan kasus penemuan jenazah sopir online dua pekan lalu. “Kedua tersangka kami tangkap di dua tempat berbeda,” ujarnya.

Aksi kedua tersangka terbilang sadis, pelaku JS alias Keling menghabisi korban bersama D alias Abang, rekannya, karena keduanya mengaku terlilit persoalan hutang. Akibat kondisi itu, mereka nekat merencanakan membunuh korban dengan berpura-pura sebagai konsumen.

“Awalnya kedua pelaku yang berangkat dari Pasirkoja Bandung, meminta korban mengantar para pelaku menjemput rekan-rekannya di Garut.

Korban pun tidak curiga dengan para pelaku, dan menyetujui permintaan pelaku untuk mengantar mereka ke Garut. Namun sesampainya di Kampung Cibunar, Desa Sukajaya, Kecamatan Sukaresmi, Garut para pelaku mulai berulah dan melakukan penganiayaan kepada korban. “Mereka mengeksekusi korban di sekitar Sukaresmi secara bersama-sama,” ujarnya.  

Mereka melakukan pemukulan dengan tangan kosong, kemudian membacoknya dengan sebilah kapak ke arah wajah korban hingga terkapar. Tidak hanya di situ, korban yang telah bersimbah darah, kemudian menggilas korban dengan mobil yang ditumpangi mereka, hingga meninggal dunia. “Memang sadis tidak manusiawi,” ujar Budi menegaskan.

Untuk menghilangkan jejak, mereka kemudian menyeret korban yang telah meninggal dunia dan membuang jenazahnya ke sebuah jurang di daerah Kampung Renteng, Kecamatan Cikajang. 

Akhirnya setelah puas dengan aksinya, para pelaku kemudian menggasak barang milik korban, mulai mobil avanza yang mereka gunakan, STNK kendaraan, termasuk dua HP yang digunakan korban  “Mereka kabur ke arah Pagaden kabupaten Subang, “. 

Untuk menghilangkan barang bukti, mobil avanza yang mereka gasak, akhirnya dijual sebesar Rp 13.400.000 kepada Aki, seorang DPO, sementara dua HP korban dijual ke sebuah counter di daerah Pasirkoja,  Bandung seharga Rp 1.350.000. 

2 dari 2 halaman

Ditangkap di Dua Lokasi

Budi menambahkan, untuk menangkap kedua tersangka bukan perkara mudah, selain telah berpencar, keduanya telah menjual barang bukti. Namun mengantongi bukti di lokasi kejadian, akhirnya lembaganya terus melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Butuh waktu hingga dua pekan untuk menangkap mereka yang diringkus di dua lokasi berbeda. “Abang ditangkap di Bandung dan Keling di Gilimanuk Bali,” ujarnya.

Memang penangkan kedua tersangka terbilang alot, bahkan saat diringkus keduanya berencana melawan petugas hingga akhirnya dijatuhi tindakan tegas melumpuhkan kaki sebelah kanan kedua pelaku dengan timah panas petugas. “Keduanya berusaha melarikan diri,” kata dia.

Kini untuk mempertanggung jawabkan kelakukannya, keduanya akhirnya meringkuk di sel tahanan polres Garut. Atas perbuatannya, kedua tersangka dikenakan pasal berlapis yakni KUHP pasal 340 Subsider lasal 339 subsider pasal 365 ayat (1) ayat (2) kepada 1e,  ke 2e, ayat (3) dan ayat (4), subsider pasal 170 ayat (1), (2) ke 3e subs pasal 181 KUHP pidana. “Pelaku diancam hukuman penjara minimal 15 tahun hingga hukuman mati,” ujarnya. 

Sebelumnya, warga kampung Renteng, Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Garut, Jawa Barat, dikejutkan penemuan jenazah tanpa identitas. Korban ditemukan pertama kali oleh Ani (60), dan anaknya, Heri Cahyana (39), warga sekitar saat mencari rumput, Sabtu, (2/2/2019) di bibir jurang.

Diduga jenazah merupakan korban pembunuhan.  Hasil pemeriksaan sementara pihak kepolisian dan rumah sakit dr Slamet Garut saat itu,  menemukan banyak luka penganiyaan, yakni luka robek di dahi, luka robek di bagian kepala sebelah, di tangan kanan dan luka robek punggung. Melihat jenazah, diperkirakan usia korban sekitar 23-25 tahun. 

Saat pertama kali ditemukan, jenazah menggunakan celana jeans berwarna biru, dengan setelah baju abu-abu bertuliskan fake taksi. Namun sayang, identitas korban bernama Yudi itu, tidak ditemukan di lokasi kejadian. “Beberapa barang yang hilang, yakni HP dan mobil Avanza yang digunakan korban,” ujar dia. 

Kapak Maut Renggut Jiwa Maslikin di Masjid Sumedang

Sumedang – Warga Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, digegerkan oleh aksi pembacokan yang dilakukan Kurnaevi alias EA (35) terhadap tetangganya, Maslikin alias Mas (54). Nahasnya hantaman kapak maut itu berlangsung saat korban menunaikan salat isya berjemaah di Masjid Miftahul Falah, Dusun Salam, Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari.

Peristiwa horor tersebut berlangsung Kamis 14 Februari 2019. Pelaku dua kali melayangkan kapak ke kepala Maslikin. Luka bacokan yang sangat vital itu membuat korban tewas bersimbah darah di dalam masjid.

Hasil penyelidikan polsi, pelaku berbuat keji karena menerima bisikan gaib sebelum masuk masjid. Mendapat bisikan tersebut, Kurnaevi pun tak jadi ke masjid. Dia pulang dan membawa sebilah kapak lalu kembali beranjak ke masjid.
“Makmum di situ ada delapan lelaki. Kenapa yang dipukulnya korban, karena dia (pelaku) mendapat bisikan gaib,” ucap Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo kepada detikcom, Jumat (15/2).

Polisi menyebut pelaku mengaku bisikan gaib itu menjelaskan bahwa mantan istrinya yang cerai pada 2015 telah berselingkuh dengan Maslikin. “Sehingga dia pulang untuk mengambil kapak dan membacokkan ke arah kepala korban,” tuturnya.

Guna mengusut kasus ini, polisi memeriksa sejumlah saksi. Salah satunya ialah seorang dokter yang pernah merawat pelaku.

“Dari keterangan dokter yang pernah merawat. Pelaku ini mengalami gangguan jiwa sejak empat tahun lalu,” ucap Hartoyo.

Hartoyo mengungkapkan, pelaku mengalami gangguan kejiwaan sejak diceraikan istri. Kurnaevi pada 2018 baru ditangani oleh dokter kejiwaan, Edi Soekanda, di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.

Meski dalam penanganan dokter, pelaku tak melakukan kontrol yang seharusnya satu bulan sekali. Hal itu lantaran pelaku tidak mempunyai biaya untuk ke dokter.

Kapolres pun sempat membagikan video berisi pernyataan Edi Soekanda mengenai kondisi kejiwaan pelaku yang masih dalam pengawasan itu. Dalam video tersebut Edi membeberkan dari mulai penyebab, hingga jenis penyakit kejiwaan diidap Kurnaevi.

“Ketika datang ke saya Mei, kelihatannya melamun, kambuhan lah. Ada rasa curiga berlebihan yang menyebabkan ada rasa agresif. Kemudian, Juni berobat lagi, rasa curiga enggak ada tapi justru halusinasi. Ada bisikan-bisikan,” tutur Edi dalam video tersebut.

Kendati dalam penyelidikan dan diperkuat keterangan ahli yang menyebut Kurnaevi memiliki masalah kejiwaan, polisi tetap memprosesnya. Pelaku ditahan di Rutan Mapolres Sumedang dengan jeratan Pasal 340 jo 338 KUHPidana mengenai pembunuhan berencana.

(tro/bbn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bunuh Kekasih Saat Hari Valentine, Pria Malaysia Batal Divonis Mati

Kuala Lumpur – Seorang pria Malaysia lolos dari hukuman mati setelah membunuh kekasihnya saat Hari Valentine sekitar enam tahun lalu. Pengadilan federal Malaysia menyatakan pria berusia 35 tahun itu tidak waras atau sakit jiwa saat melakukan pembunuhan keji tersebut.

Seperti dilansir kantor berita Bernama dan dilansir Channel News Asia, Kamis (14/2/2019), dalam putusan sidang banding yang kebetulan digelar saat Hari Valentine, Kamis (14/2) ini, Pengadilan Federal Malaysia membatalkan vonis bersalah dan hukuman mati yang dijatuhkan terhadap Cheong Teik Keon (35).

Kepala Pengadilan Banding, Ahmad Maarop, yang memimpin panel lima hakim menyatakan Cheong memang melakukan tindak pembunuhan, namun dia tidak mampu mempertimbangkan dengan baik bahwa tindakannya itu salah dan melanggar hukum.


Hakim memerintahkan Cheong untuk ditempatkan di sebuah rumah sakit jiwa di Ipoh, Perak.

Saat pembunuhan terjadi, Cheong sedang menginap di rumah kekasihnya yang bernama Tan Ching Chin (24) di Seberang Prai, Penang.

Pada pagi hari tanggal 14 Februari 2013, jenazah Tan ditemukan di dalam kamar mandi oleh pembantu rumah tangga dan ibunda Tan. Saat itu, Cheong ditemukan sedang memegangi kaki korban sambil menikam dirinya sendiri di bagian perut.

Seorang psikiater yang memberikan keterangan dalam persidangan, menyatakan Cheong menikam korban sebanyak tiga kali, sebelum berusaha mengakhiri nyawanya sendiri. Cheong menikam dirinya sendiri sebanyak empat kali.

Psikiater itu mengatakan bahwa menurut Cheong, hal itu dilakukannya agar dia bisa bertemu dengan korban di surga.

Dalam persidangan, Cheong mengakui dirinya memiliki penyakit jiwa. Namun Pengadilan Tinggi George Town pada Oktober 2016 menyatakan Cheong bersalah atas pidana pembunuhan dan menjatuhkan vonis mati terhadapnya. Permohonan banding yang diajukan Cheong ke Pengadilan Banding ditolak pada Mei 2018.

(nvc/ita)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>