Misteri Mayat dalam Tong Terkuak!

Surabaya – Misteri mayat dalam tong di Wiyung, Surabaya, terungkap! Sehari setelah identitas korban diketahui, dua pelaku pembunuhan ditangkap polisi.

Kasus ini bermula dari ditemukannya mayat yang dibungkus seprai dan dimasukkan ke dalam tong. Kondisi mayat tersebut sudah membusuk dan ditemukan belatung.

Satu petunjuk dikantongi kepolisian karena ada nama hotel di seprai yang dipakai untuk membungkus mayat tersebut. Meski diketahui mayat tersebut berjenis kelamin perempuan, identitasnya masih misterius.


Belum diketahui pula siapa pelaku pembunuhan serta motif pembunuhan yang terjadi.

Polisi melakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi dan petunjuk lain dari rekaman CCTV. Hingga akhirnya diketahui korban bernama Ester Lilik Wahyuni (51), warga Surabaya barat.

Kedua pelaku dibekuk polisiKedua pelaku dibekuk polisi (Foto: Deny Prastyo Utomo/detikcom)

“Selesai olah TKP, jenazah dibawa ke RSU dr Soetomo untuk autopsi. Dan hasil lidik, korban bernama Ester Lilik Wahyuni,” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran kepada detikcom saat dihubungi, Kamis (17/1) lalu.
Sehari kemudian, polisi menangkap dua orang pria bernama Saifur Rizal alias Ijang (19) dan M Ari alias Mat (20). Kedua pria asal Gresik tersebut tak lain merupakan karyawan Ester.

Kedua pelaku, kata Rudi, diamankan di Pelabuhan Gresik. Saat itu keduanya hendak pulang ke Bawean. Mereka mengakui semua perbuatannya yang membunuh Ester karena sakit hati.

“Motifnya sakit hati,” ujar Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan kepada wartawan, Jumat (18/1/2019).

Barang bukti pembunuhan Ester diamankanBarang bukti pembunuhan Ester diamankan (Foto: Deny Prastyo Utomo/detikcom)

Kedua pelaku membunuh Ester dengan cara cukup keji. Sebelum dibungkus seprai dan dibuang dalam tong, korban dipukuli dan dicekik. Kemudian jasad Ester dibungkus memakai tiga seprai.

Rudi mengatakan korban tewas karena kehabisan napas akibat dibungkus pakai seprai. Hingga akhirnya pelaku memasukkan jasad korban ke dalam tong hijau yang biasa dipakai untuk laundry.

Diketahui Ester memiliki usaha laundry di Simpang Darmo Permai Selatan dan kawasan Sememi. Kedua pelaku yang asal Bawean itu baru bekerja selama 10 hari sebelum akhirnya dipecat.

“Kedua pelaku dipecat karena dituduh mencuri HP dan dompet milik korban,” kata Rudi.

Pemecatan itu terjadi pada Jumat (11/1). Setelah dipecat, mereka meminta uang upah mereka bekerja untuk biaya pulang. Namun tak diberi. Mereka juga masih tidur di tempat laundry tersebut karena tak mempunyai uang.

Pada Senin (14/1), korban datang ke Simpang Darmo Permai Selatan bermaksud untuk mengusir mereka. Saat itulah kedua pelaku berunding dan bersepakat menghabisi korban.

Kedua pelaku memukul korban dengan tangan kosong pada bagian kepala, dada, dan muka. Setelah itu mereka mencekik korban hingga lemas. Setelah itu korban dibungkus tiga seprai dan dimasukkan tong.

Mereka juga menjarah harta korban. Ponsel, uang tunai, dan satu unit mobil mereka bawa kabur usai membunuh korban. Kedua pelaku lalu membuang tong berisi mayat korban ke kawasan Romokalisari. Jasad Ester ditemukan pemulung pada Kamis (17/1).
(jbr/zak)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Motif Dua Mantan Karyawan Bunuh Ester, Polisi: Sakit Hati

Surabaya – Kedua pelaku pembunuhan Ester Lilik Wahyuni (51) melakukan aksinya dengan cara cukup keji. Setelah dipukul, dicekik, dan dibungkus seprai, mayat Ester dimasukkan tong dan dibuang.

Apa yang membuat kedua pelaku yakni Saifur alias Ijang (19) dan M Ari alias Mat (20) tega berbuat itu. Apa yang menjadi motifnya?

“Motifnya sakit hati,” ujar Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan kepada wartawan, Jumat (18/1/2019).


Rudi mengatakan dua pelaku yakni Saifur Rizal alias Ijang (19) dan M Ari alias Mat (20) sebelumnya adalah karyawan Laundry Golden, usaha laundry milik Ester yang ada di Simpang Darmo Permai Selatan.

Selain di Simpang Darmo Permai Selatan, Ester juga mempunyai usaha laundry di kawasan Sememi. Kedua pelaku yang asal Bawean itu baru bekerja selama 10 hari sebelum akhirnya dipecat.

“Kedua pelaku dipecat karena dituduh mencuri HP dan dompet milik korban,” kata Rudi.

Pemecatan itu terjadi pada Jumat (11/1). Setelah dipecat, mereka meminta uang upah mereka bekerja untuk biaya pulang. Namun tak diberi. Mereka juga masih tidur di tempat laundry tersebut karena tak mempunyai uang.

Pada Senin (14/1), korban datang ke Simpang Darmo Permai Selatan bermaksud untuk mengusir mereka. Saat itulah kedua pelaku berunding dan bersepakat menghabisi korban.

Kedua pelaku memukul korban dengan tangan kosong pada bagian kepala, dada, dan muka. Setelah itu mereka mencekik korban hingga lemas. Setelah itu korban dibungkus tiga seprai dan dimasukkan tong. Kedua pelaku lalu membuang tong berisi mayat korban ke kawasan Romokalisari.
(iwd/iwd)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Belasan LGBT di Chechnya Ditahan, Dua Tewas

CechnyaRamzan KadyrovGettyImages PemimpinChechnyaRamzanKadyrov sebelumnya mengklaim laporan itu “dibuat-buat.”

Kalangan pegiat di Rusia mengatakan telah terjadi lagi apa yang digambarkan sebagai pemberangusan terhadap orang-orang LGBT di Chechnya.

Kelompok LGBT Network di Rusia meyakini, sekitar 40 orang “telah dipenjara sejak Desember, dua di antara mereka katakan tewas akibat mengalami penyiksaan”.

Kelompok ini memantau dugaan pelanggaran HAM di republik bagian dari Rusia itu sejak tahun 2017, ketika puluhan kaum gay dilaporkan ditahan.

Chechnya adalah republik negara bagian di Rusia yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim.

Seorang juru bicara pemerintah menyanggah laporan terbaru itu dan menyebut laporan itu merupakan “kebohongan sepenuhnya”.

Chechnya, dan pemimpinnya yang otoriter, Ramzan Kadyrov, selalu membantah berbagai tuduhan penangkapan dan penahanan ilegal serta pelanggaran HAM.

Dalam wawancara dengan BBC tahun lalu, Kadyrov mengatakan tuduhan itu adalah ‘rekayasa agen-agen asing,’ atau diciptakan oleh para pegiat yang mencari uang.

Banyak pihak mengatakan homofobia menyebar luas di Chechnya. Kadyrov dan berbagai pejabat pemerintah bawahannya berulang kali mengklaim bahwa di Chechnya tidak ada orang gay.

Dan nyatanya, kendati pemerintah dan para pemimpinnya terus menyangkal keberadaan mereka, puluhan orang maju menyatakan diri dan mengungkapkan tuduhan bahwa di Chechnya kaum gay ditahan dan disiksa oleh pihak berwenang karena orientasi seksual mereka.

Berbagai laporan tentang penyiksaan itu mendapat kecaman dari seluruh dunia.

Bagaiamana kejadian terbaru itu?

LGBT Network Rusia telah memantau situasi di Chechnya dan mengevakuasi orang-orang dari wilayah tersebut sejak laporan pemberangusan muncul pada 2017.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Senin (14/01), kelompok itu menuduh bahwa dalam beberapa pekan terakhir aparat melakukan gelombang penyiksaan dan pelanggaran.

Mereka yakin gelombang terbaru itu dipicu oleh penangkapan administrator grup LGBT di jaringan media sosial, VKontakte.

Beberapa unggahan baru yang ditampilkan dalam laman itu menyerukan kaum LGBT untuk “melarikan diri dari republik itu sesegera mungkin”, lapor sejumlah media Rusia.

Para pegiat yakin, dalam beberapa pekan terakhir, puluhan kaum gay dibawa ke pusat penahanan di dekat kota Argun, yang lokasinya berjarak 20 km dari kota Grozny.

Kedutaan Rusia di LondonGettyImages Berbagai tudingan penyiksaanteradap kaum gay dan minoritas menuai protes di seluruh dunia, seperti aksi damai di kedutaan Rusia diLondon pada tahun 2017.

Igor Kochetkov, kepala kelompok itu mengatakan kepada Moscow Times, bahwa polisi juga menyita dokumen-dokumen perjalanan mereka.

“Semuanya sedang dilakukan sehingga mereka tidak bisa lari dari negara itu,” katanya kepada Moscow Times. “Dan ini sangat buruk bagi kami karena itu membuat kami jadi jauh lebih sulit untuk melakukan evakuasi.”

LGBT Network mengatakan mereka telah menolong 150 orang untuk melarikan diri dari kawasan itu sejak pertama kali terjadi persekusi.

Seorang juru bicara kelompok itu mengatakan, mereka memiliki bukti, termasuk pernyataan dua saksi bahwa dua orang LGBT tewas ketika setelah mengalami siksaan ketika ditahan, salah satunya akibat luka tusukan.

Namun laporan tersebut belum bisa diverifikasi secara independen oleh BBC.

Bulan lalu sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE) menyimpulkan bahwa “pelanggaran HAM yang sangat serius” telah terjadi di republik ini.

Laporan tersebut disusun berdasarkan berbagai bukti termasuk kesaksian orang-orang yang selamat dan menyebut bahwa terjadi pelecehan, penganiayaan, penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang dan pembunuhan di luar hukum terhadap kaum minoritas, termasuk orang-orang LGBT.

Mereka menyebutkan terjadinya ‘iklim impunitas’ dan meminta Rusia untuk menyelidiki pelecehan tersebut.

Pada hari Senin, juru bicara pemerintah Chechnya mengatakan kepada situs RT yang didukung Kremlin bahwa tuduhan itu tidak benar.

“Bahkan jika ada satu orang saja yang ditangkap, seluruh publik di Chechnya akan tahu, apalagi 40 orang. Tuduhan bahwa ada dua orang terbunuh, bahkan lebih konyol lagi,” kata Alvi Kraimov.

Salah satu korban dari aksi pemberangusan tahun 2017 yang namanya dirahasiakan mengemukakan kepada BBC tentang pengalamannya selama ditahan.

Ia mengatakan mengalami penyiksaan – seperti pemukulan dan disengat dengan aliran listrik.

“Mereka memiliki kotak hitam khusus dan mereka menempelkan kabel ke tangan atau telinga saya. Rasa sakitnya mengerikan. Sungguh siksaan yang tak keji,” kata Ruslan (bukan nama sebenarnya).

Mantan tahanan itu juga mengatakan, saat itu sambil terus dipukuli, ia dipaksa untuk memberikan nama-nama kaum gay lainnya.


(mae/mae)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pria di Perth Divonis 11 Bulan Karena Bunuh Kanguru

Perth

Seorang pria Perth, Australia Barat dipenjarakan karena menyiksa dan membunuh seekor kanguru untuk ritual geng motor kriminal. Pembacaan vonis ini diwarnai kemarahan dari pendukung pria tersebut di luar gedung pengadilan.

Dylan Leslie Griffin, 22 tahun, dijatuhi hukuman 11 bulan penjara oleh Pengadilan Magistrasi Joondalup karena insiden yang terjadi pada tahun 2018, yang oleh seorang hakim digambarkan sebagai “sadis”.

Griffin mengaku bersalah karena meninju binatang kanguru dengan cincin logam knuckle duster sebelum menembaknya.

Dia adalah orang ketiga yang dipenjarakan atas serangan itu. Keempat pria yang terlibat dalam insiden ini memiliki tautan dengan geng motor kriminal.

Hakim Gregory Benn menggambarkan Griffin melakukan aksinya dengan “sepenuh hati, gembira dan sadis”.

Polisi berusaha mengidentifikasi pria setelah kanguru disiksaGriffin berpose dengan cincin logam buku jari yang berdarah setelah memukul kanguru.

Disediakan: Polisi WA

Hakim Gregory Benn mengatakan dia memahami kekejaman itu sebagai semacam ritus penerimaan anggota geng “sangat keji dan menjijikan”.

Ia mengatakan, insiden itu bukan hanya sekedar acara permainan tembak menembak antar teman tapi memang terkait dengan budaya dalam geng motor.

Dia juga menggambarkannya sebagai sesuatu yang menjijikkan, dan sejauh ini jauh dari ranah masyarakat yang dianggap dapat diterima sehingga hukuman penjara segera diperlukan sebagai sanksi hukum bagi dia sebagai pribadi dan masyarakat umum.

Pendukung menyasar media Bentrokan diluar gedung pengadilan usai vonis kekejaman terhadap hewan Seorang pria mengecam operator kamerasetelahrekannya divonis 11 bulan penjara.

Supplied: Channel 7

Setelah pembacaan vonis, terjadi bentrokan yang pecah seketika sekelompok pendukung Griffin meninggalkan Gedung pengadilan.

Seorang pria menghancurkan kamera televisi ketika dia keluar dari pengadilan, dan memaki sang kru TV.

Pria itu ditahan oleh anggota kelompoknya yang lain saat ia dikawal oleh petugas keamanan pengadilan.

Seorang lelaki lain memukul dan meludahi seorang jurnalis yang sedang mengambil foto.

Polisi sedang menyelidiki insiden di luar pengadilan ini.

Pria keempat yang diduga terlibat dalam serangan kanguru itu akan diadili pada bulan Juli mendatang.

Baca beritanya dalam bahasa Inggris disini.

Ikuti berita-berita lainnya dari situs ABC Indonesia.


(dkp/dkp) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kanada Beri Suaka Perempuan Arab Saudi yang Kabur dari Keluarganya

Ottawa – Pemerintah Kanada telah memberikan suaka kepada perempuan muda Arab Saudi yang kabur dari keluarganya. Suaka diberikan setelah remaja berumur 18 tahun itu mengatakan bahwa dirinya akan dibunuh keluarganya jika dideportasi dari Thailand.

Rahaf Mohammed al-Qunun kabur dari keluarganya ketika mereka sedang melakukan perjalanan ke Kuwait. Dia semula berencana melarikan diri ke Australia melewati Bandar Udara Suvarnabhumi, Bangkok, ibu kota Thailand.

Namun setibanya di Bangkok, dia mengaku paspornya disita oleh pejabat Arab Saudi dan dipaksa kembali ke Kuwait untuk menemui keluarganya. Sebagai upaya mencegah pemulangan paksa oleh pihak berwenang Thailand, Rahaf membarikade diri dalam kamar hotel di lingkungan bandara, sambil mengetwit kondisinya, perlakuan yang dialami dan permintaan suaka ke Australia, Inggris, Kanada dan Amerika Serikat.

Kini, pemerintah Kanada telah memberikan suaka untuknya. Alqunun telah menaiki pesawat menuju Seoul, Korea Selatan untuk kemudian terbang ke Kanada.

“UNHCR (badan pengungsi PBB) telah mengajukan permintaan kepada Kanada agar kami menerima Ms. Alqunun sebagai pengungsi, dan kami telah menerima permintaan PBB agar kami memberikan suaka padanya,” kata Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (12/1/2019).

Sebelumnya pemerintah Australia menyatakan tengah mempertimbangkan untuk memberikan suaka pada remaja putri tersebut. Namun juru bicara UNHCR mengatakan, pemerintah Kanada telah bertindak lebih cepat dalam hal ini.

Kasus Rahaf Mohammed al-Qunun ini menjadi perhatian internasional terkait dengan berbagai halangan yang dihadapi kaum perempuan di Arab Saudi. Negara kerajaan itu juga tengah disorot terkait pembunuhan keji wartawan kawakan, Jamal Khashoggi, yang kerap melontarkan kritik terhadap pemerintah.

Sebelumnya pada April 2017, seorang perempuan Arab Saudi, Dina Ali Lasloom (24) dipulangkan secara paksa dari Filipina. Hingga kini tidak diketahui bagaimana nasibnya.
(ita/ita)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dewas BPJS TK Sudah Tahu Hubungan Khusus SAB dan RA

Jakarta – Kasus dugaan pemerkosaan yang melibatkan mantan anggota Dewan BPJS Ketenagakerjaan (TK) Syafri Adnan Baharuddin (SAB) disesalkan oleh Dewas BPJS TK sendiri. Meski tak mengiyakan ada pemerkosaan, Dewas tahu bahwa SAB dan pelapor dengan inisial RA memiliki hubungan khusus.

Kasus ini pertama kali mencuat saat RA menggelar konferensi pers pada Desember 2018. Belakangan rupanya Dewas BPJS TK telah mengetahui dan mendapatkan konfirmasi mengenai hubungan khusus antara SAB dan RA sejak pengaduan pertama kali yakni pada 28 November 2018.

“Pas saya di rumah, saya mendapatkan WA dari SAB. WA itu menyatakan… SAB bahwa menyatakan langsung merujuk pada postingan-postingan tersebut, SAB mengakui terjebak dalam hubungan khusus,” kata Ketua Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Ketenagakerjaan Guntur Witjaksono dalam jumpa pers, Jumat (11/1/2019).

Sebelum mendapat WhatsApp dari SAB, Guntur menyatakan didatangi RA dan mengadukan adanya kekerasan yang diterimanya dari SAB pada 28 November 2018.

“Pada saat kejadian tanggal 28 November, dia ke saya, dan saya akan rapat dengan waktu yang sangat singkat, dengan menangis menyatakan dirinya dimarahi dengan keras oleh SAB sampai mau dilempar gelas dan sebagainya,” tutur Guntur.

Guntur menyatakan dalam rapat Dewan Pengawas, SAB kembali mengakui ada hubungan khusus dengan RA. Bahkan SAB juga menyampaikan permintaan maafnya kepada para Dewas.

“Kemudian kita rapat Dewas lagi tanggal 30, SAB sudah datang (dari Singapura), pada saat itu kita klarifikasi ke SAB, ada kejadian demikian, dan memang diakui seperti dalam WA ada hubungan khusus dan minta maaf kepada kami-kami semua. Sudah, seperti ini saya pikir memang betul-betul terjadi,” tutur Guntur.

Pihak RA Bantah Soal SAB ‘Terjebak’

Ketua Kelompok Pembela Korban Kejahatan Seks (KPKS) Ade Armando heran dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa SAB yang disebut mengaku terjebak hubungan khusus dengan asisten pribadinya, RA. Ade menyebut pernyataan itu tak masuk akal.

“Coba saja kita baca chat-chat WA SAB ke RA, sangat jelas di sana bahwa SAB bukanlah pihak yang terjebak melainkan terus berusaha mendesak RA untuk membangun hubungan khusus,” kata Ade, Jumat (11/1).

Dalam jumpa pers 28 Desember 2018, RA sempat menyampaikan bahwa Dewas BPJS TK malah membela SAB ketika dia melaporkan apa yang terjadi.

“Ternyata Dewan Pengawas justru membela perilaku bejat itu. Hasil rapat Dewan Pengawas pada 4 Desember justru memutuskan untuk mengeluarkan perjanjian bersama yang isinya mem-PHK saya sejak akhir Desember 2018. Saya menolak menandatangani itu,” tutur RA, Jumat (28/12/2018).

Kasus dugaan pemerkosaan oleh SAB ini bergulir di kepolisian atas laporan RA. Sebaliknya, SAB juga telah melaporkan balik RA karena dianggap telah mencemarkan nama baik.

Syafri Membantah Memperkosa

Syafri telah menyampaikan bantahannya melakukan pemerkosaan. Bahkan Syafri telah melaporkan balik stafnya ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik.

“Berbagai tuduhan yang ditujukan kepada saya tidak benar adanya dan bahkan merupakan fitnah yang keji,” kata Syafri di kesempatan yang sama.

Syafri juga menyatakan sendiri mengundurkan diri agar bisa fokus ke penanganan masalah yang dialaminya.

“Agar saya dapat fokus dalam rangka menegakkan keadilan melalui jalur hukum. Saat ini juga surat kepada Presiden RI sedang diupayakan sampai. Kepada Ibu Menteri Keuangan, Bapak Menteri Tenaga Kerja, kepada Ketua Dewan Jaminan Nasional, kepada Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, kepada Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan,” kata SAB, Minggu (30/12).
(rna/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ade Armando: SAB Tak Terjebak, Dia Paksa Hubungan Khusus dengan RA

Jakarta – Kelompok Pembela Korban Kejahatan Seks (KPKS) heran dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Syafri Adnan Baharuddin (SAB) yang disebut mengaku terjebak hubungan khusus dengan asisten pribadinya, RA. Koordinator KPKS Ade Armando menyebut pernyataan itu tak masuk akal.

“Coba saja kita baca chat-chat WA SAB ke RA, sangat jelas di sana bahwa SAB bukanlah pihak yang terjebak melainkan terus berusaha mendesak RA untuk membangun hubungan khusus,” kata Ade Armando kepada wartawan, Jumat (11/1/2019).

Adalah Ketua Dewas BPJS TK, Guntur Witjaksono yang menyebut SAB mengaku terjebak hubungan khusus dengan RA. Menurut Ade, pernyataan Guntur amat tak masuk akal.
Bagi Ade, SAB merupakan orang yang berkuasa atas RA karena menjadi atasan langsung RA. Dia heran bagaimana bisa SAB terjebak oleh RA.

“SAB adalah seorang pria 59 tahun yang sangat dominan, sangat ditakuti di Dewas BPJS TK dan sangat menentukan nasib pekerjaan RA. Lalu bagaimana caranya RA menjebak SAB?” kata Ade.

“Sementara itu, kalau kita membaca chat-chat WA SAB kepada RA, kita akan menemukan berbagai bentuk rayuan global, desakan untuk menikah, ataupun ucapan-ucapan mesum dari SAB kepada RA,” ujar Ade.

Ade berharap Dewas BPJS TK tidak begitu saja percaya pada penjelasan SAB yang menurutnya mengada-ada. Meski demikian, Ade senang bahwa SAB mengakui ada hubungan khusus dengan RA.

“Dewas BPJS TK seharusnya mempelajari secara serius apa yang sesungguhnya terjadi di lingkungan kerja mereka. Dewas BPJS TK turut bersalah bila mengabaikan dan membiarkan terjadinya kejahatan seksual di sana. Paling tidak dia (SAB) sudah mengakui bahwa dia sudah melakukan perilaku tidak patut sebagai pejabat negara dengan bawahannya sehingga layak diberhentikan dari Dewas BPJS TK. Berikutnya, baru perlu dibuktikan bahwa hubungan itu terjadi akibat pemaksaan,” jelas Ade.

Syafri Adnan Bantah Tuduhan Stafnya

Syafri telah menyampaikan bantahannya melakukan pemerkosaan. Bahkan Syafri telah melaporkan balik stafnya ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik.

“Berbagai tuduhan yang ditujukan kepada saya tidak benar adanya dan bahkan merupakan fitnah yang keji,” kata Syafri di kesempatan yang sama.

Syafri juga menyatakan sendiri mengundurkan diri agar bisa fokus ke penanganan masalah yang dialaminya.

“Agar saya dapat fokus dalam rangka menegakkan keadilan melalui jalur hukum. Saat ini juga surat kepada Presiden RI sedang diupayakan sampai. Kepada Ibu Menteri Keuangan, Bapak Menteri Tenaga Kerja, kepada Ketua Dewan Jaminan Nasional, kepada Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, kepada Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan,” kata SAB, Minggu (30/12).
(gbr/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ketua Dewas BPJS TK: SAB Temperamen, Saya Pernah Dimarahi

Jakarta – Ketua Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Ketenagakerjaan (TK) Guntur Witjaksonodi mengungkap kepribadian Syafri Adnan Baharuddin (SAB) yang kini telah mengundurkan diri. SAB disebutkan memang temperamen hingga menggebrak meja.

“Kalau temperamen ini, saya pertema memang kaget waktu kerja bersama dia memang sangat tinggilah. Gebrak meja itu setiap hari ada,” kata Ketua Dewan Pengawas BPJS TK, Guntur Witjaksonodi, dalam jumpa pers di Hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019).

Guntur menyatakan, SAB kerap diajak bercanda mengenai kebiasaan gebrak mejanya. Guntur menyadari bahwa setelah SAB terkena kasus sebelumnya, yang tak dibahas lebih jauh, temperamen SAB cukup turun.
“Tapi Pak Peompida (Poempida Hidayatulloh) sendiri bilang secara bercanda ‘kalau di DPR gebrak meja itu nggak boleh lho’. Kita mengingatkan dengan cara seperti itu. Dia akhirnya cooling down juga. Terutama setelah kasus pertama sih banyak cooling down kalau saya nilai pribadi,” tutur Guntur.

“Tapi karena namanya temperamennya tadi, meledak-ledak pasti ada. Saya aja pernah dimarahi,” imbuhnya.

SAB dilaporkan mantan stafnya, RA, ke polisi atas tuduhan pemerkosaan. Laporan tersebut dibuat 3 Januari 2019.

“Kami sudah melaporkan secara resmi, ini bukti laporannya (sambil menunjukkan surat tanda terima laporan). Tapi saya menjunjung asas praduga tak bersalah. (Nama) terlapornya kami tutupin ya. Inisial yang dilaporkan SAB, yang diduga melakukan SAB,” kata pengacara RA, Heribertus S Hartojo, Kamis (3/1).

Syafri Adnan Bantah Tuduhan Stafnya

Syafri telah menyampaikan bantahannya melakukan pemerkosaan. Bahkan Syafri telah melaporkan balik stafnya ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik.

“Berbagai tuduhan yang ditujukan kepada saya tidak benar adanya dan bahkan merupakan fitnah yang keji,” kata SAB, Minggu (30/12).

Syafri juga menyatakan alasannya mengundurkan diri agar bisa fokus ke penanganan masalah yang dialaminya.

“Agar saya dapat fokus dalam rangka menegakkan keadilan melalui jalur hukum. Saat ini juga surat kepada Presiden RI sedang diupayakan sampai. Kepada Ibu Menteri Keuangan, Bapak Menteri Tenaga Kerja, kepada Ketua Dewan Jaminan Nasional, kepada Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, kepada Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan,” papar SAB.
(rna/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dewas BPJS TK Bantah Lindungi Anggota yang Diduga Memperkosa

Jakarta – Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Ketenagakerjaan (TK) mendapat tuduhan telah melindungi salah satu anggotanya yakni Syafri Adnan Burhanuddin (SAB) yang diduga terlibat dalam kasus dugaan pemerkosaan. Komite Dewan Pengawas BPJS TK menegaskan hal tersebut tidaklah benar.

“Kami atas nama Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan ingin melakukan klarifikasi atas kasus yang menimpa anggota kami saudara SAB. Kami mendapati tudingan bahwa dalam kasus ini jajaran Dewas sengaja melindungi saudara SAB atas tuduhan asusila yang dialamatkan kepadanya. Kami sampaikan bahwa itu tidak benar,” kata Ketua Dewan Pengawas, Guntur Witjaksono, dalam jumpa pers Ketua Dewan Pengawas, Guntur Witjaksonodi Hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019).

Guntur menyatakan, pihaknya baru mengetahui adanya dugaan asusila oleh SAB setelah mendapat tembusan laporan ke Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dari korban yang berinisial RA. Laporan tersebut tertanggal 6 Desember 2019.
Dalam kesempatan sebelumnya, RA pernah menyatakan bahwa setelah dia melapor ke Dewan, justru malah diminta mengundurkan diri.

“Karena sudah ada ancaman kekerasan fisik seperti itu, jadi saya tanggal 28 November (2018) langsung saya adukan ke Ketua Dewan Pengawas. Namun Ketua Dewan Pengawas hanya bilang, ‘Kalau sudah tidak nyaman, silakan resign….’ Padahal saya melaporkan itu bukan maksud saya untuk resign, saya hanya mengadu apa yang terjadi,” tutur RA, di Bareskrim Polri, Kamis (3/1/2019).

Kembali ke pernyataan Guntur, selain membantah melindungi SAB, BPJS TK juga menegaskan tak ada yang namanya ‘wewenang berlebihan’ dalam merekrut staf komite Dewas.

“Kami sampaikan bahwa hal Itu tidak benar. Kegiatan operasional organ BPJS Ketenagakerjaan setiap tahun pasti dilakukan audit oleh lembaga pengawas keuangan seperti OJK, BPK, dan KAP, di samping kegiatan monitoring dan evaluasi dan DJSN yang nnendapatkan predikat Baik. Kami juga memiliki komitmen dengan KPK terkait pencegahan gratifikasi,” ujar Guntur, Jumat (11/1).

“Sementara terkait rekrutmen, penyelenggaran FGD, seminar dan lain sebagainya, itu semua sudah diatur dan sesuai dengan regulasi yang tertera dalam Undang undang No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS dan Peraturan turunan yang terkait. Tidak ada hal yang menyalahi di sini,” tambahnya.

Guntur juga meminta kasus SAB tidak ditarik ke area politis. Jangan sampai ada pemanfaatan kesempatan dalam kesempitan.

“Kami harap semua pihak dapat berpikir dengan jernih dalam melihat kasus yang menimpa saudara SAB ini. Jangan sampai ada pihak-pihak yang memiliki niat menggulirkan hal ini sebagai isu politis, mengingat tahun ini adalah tahun politik yang kental dengan berbagai hal yang dapat dipolitisasi. Saya harap hal ini tidak dimanfaatkan untuk menjatuhkan kredibilitas BPJS Ketenagakerjaan sebagai Badan Hukum Publik yang profesional,” papar Guntur.

Syafri Adnan Baharuddin yang kini mundur dari Dewan Pengawas BPJS TK menyampaikan bantahannya telah melakukan pemerkosaan. Bahkan Syafri telah melaporkan balik stafnya ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik.

“Berbagai tuduhan yang ditujukan kepada saya tidak benar adanya dan bahkan merupakan fitnah yang keji,” kata Syafri, Minggu (30/12/2018).

Selain itu, Syafri juga melaporkan pemilik akun Facebook bernama Ade Armando dengan tuduhan yang sama. Laporan atas nama RA tercatat dengan nomor LP/B/0026/I/2019/BARESKRIM, sedangkan laporan untuk pemilik akun Facebook Ade Armando teregister dengan nomor LP/B/0027/I/2019/BARESKRIM.

“Kami sudah melaporkan secara resmi, ini bukti laporannya. Tapi saya menjunjung asas praduga tak bersalah, (nama) terlapornya kami tutupin ya. Inisial yang dilaporkan SAB, yang diduga melakukan SAB,” kata pengacara Syarif, Heribertus S Hartojo, setelah membuat laporan di Bareskrim Polri, Kamis (3/1/2019).
(rna/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Gerindra: Rommy Menyesatkan Sebut Kami Produsen Hoax

Jakarta – Partai Gerindra tidak terima dengan tudingan Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy) pada kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebelumnya Rommy menyebut pelaku hoax tidak jauh dari lingkaran relawan pasangan calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut 02 itu.

“Pernyataan Rommy ini narasi menyesatkan yamg sengaja digaungkan TKN Jokowi-Ma’ruf bahwa kubu kami adalah produsen hoax. Ini adalah narasi sampah dan fitnah keji luar biasa,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade kepada wartawan, Jumat (11/1/2019).

Andre menegaskan tim Prabowo-Sandiaga tak menoleransi isu hoax. Ia pun menduga narasi produksi hoax yang kerap ditudingkan ke pihaknya merupakan upaya timses Jokowi-Ma’ruf Amin untuk meredam kritik isu ekonomi.

“Ini kelihatan ketidaksiapan kubu Jokowi. Kami bicara peningkatan ekonomi hingga lapangan pekerjaan, menjadi keresahan kubu Jokowi sehingga membangun narasi kami memproduksi hoax,” ujarnya.

“Tujuannya agar isu ekonomi yang kami sampaikan bisa diredam dengan narasi produksi hoax. Ini bagian dari strategi sistematis dari kubu Jokowi,” lanjut Andre.

Rommy yang juga merupakan Dewan Penasihat TKN Jokowi-Ma’ruf sebelumnya mengingatkan agar elite politik menjauhi hoax. Salah satunya Rommy mengingatkan kubu Prabowo karena menilai pelaku hoax kebanyakan berasal dari lingkaran relawan Prabowo.

Andre berharap Rommy tak lagi mengeluarkan pernyataan yang menjurus ke fitnah. Dia mengingatkan agar Rommy bisa bersikap santun. Ia lantas menyinggung Rommy akan ‘pindah hati’ andai Prabowo menang Pilpres 2019. Andre memprediksi Rommy bakal merapatkan barisan ke Prabowo-Sandiaga.

“Tolong Rommy sebagai ketua umum partai Islam menggunakan cara-cara yang Islami. Jangan memfitnah terus. Ini kan lebih kejam dari pembunuhan. Masa nggak tahu? Apalagi kita tahu Rommy, besok kalau 17 April Pak Prabowo menang juga langsung telepon. Kita tahu, nanti juga dia mau merapat dengan kami kalau Pak Prabowo menang,” pungkasnya.

(tsa/dhn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>