Kejatuhan Harga Minyak Tekan Wall Street

Liputan6.com, Jakarta – Wall Street melemah pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi waktu Jakarta) dengan ketiga indeks utama berada di zona merah. Sentimen pendorong pelemahan bursa saham di Amerika Serikat (AS) tersebut adalah kejatuhan harga minyak.

Mengutip Reuters, Sabtu (10/11/2018), Dow Jones Industrial Average turun 201,92 poin atau 0,77 persen menjadi 25.989,3. Untuk S&P 500 kehilangan 25,82 poin atau 0,92 persen menjadi 2.781,01. Sedangkan Nasdaq Composite turun 123,98 poin atau 1,65 persen menjadi 7.406,90.

Harga minyak turun hampir 1 persen pada perdagangan Jumat dan merupakan penurunan harian terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Harga minyak turun karena adanya peningkatan pasokan di dunia sehingga membuktikan bahwa terjadi perlambatan ekonomi global.

AS secara resmi menjatuhkan sanksi hukuman kepada Iran pekan ini tetapi memberikan kebebasan sanksi sementara kepada delapan negara untuk tetap bisa membeli minyak dari Iran.

“Minyak ini menakutkan pasar. Jika harga minyak turun itu sebagai tanda bahwa ekonomi global sedang ada perlambatan,” jelas analis Independent Advisor Alliance, Charlotte, North Carolina, Chris Zaccarelli.

Sektor energi dalam indeks S&P 500 turun 0,4 persen. Melanjutkan pelemahan 2,2 persen pada sesi sebelumnya ketika harga minyak mentah AS mengkonfirmasi kejatuhan 20 persen dari angka tertinggi terakhir.

“Saya pikir Wall Street akan turun lebih rendah dari posisi terendah Oktober. Pertumbuhan ekonomi melambat tetapi tidak akan cukup lambat untuk menghentikan Fed untuk mendorong suku bunga,” jelas Jim Paulsen, kepala analis Leuthold Group di Minneapolis.

Delapan dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 mengakhiri hari lebih rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *