Jupiter Nyabu Lagi, Mantan Pacar Curiga dari Omongan Melantur

JakartaJupiter Fortissimo telah ditangkap pihak kepolisian mengenai kasus narkoba yang sudah ke dua kali menimpa dirinya.

Terkait kasus penangkapan Jupiter, Widuri Agesty memiliki cerita mengenai sikap mantan pacarnya tersebut.

“Jadi ceritanya aku pas lagi meeting tur sama tim DJ aku, ada yang nyeletuk ‘eh Jupiter ketangkep lagi ya?’. Aku ngiranya mungkin tim aku salah baca artikel, bacanya artikel yang dulu. Katanya, ‘nggak kok ini baru aja ketangkep’. Terus aku lihat, oh ternyata beneran ya,” ujar Widuri Agesty saat ditemui di Gedung Trans TV, Jumat (15/2/2019).

Setelah putus dengan Jupiter pada 2016 silam, Widuri Agesty masih berkomunikasi baik dengan Jupiter. Sebelum adanya penangkapan Jupiter, Widuri ternyata sempat memiliki kecurigaan saat melihat sikap Jupiter pada akun sosial medianya.

“Nggak sih. Aku sempat curiga, dia suka live di socmed. Cara ngomongnya ngelantur banget. Ini orang kenapa ya,” lanjut Widuri.

Widuri juga mengaku saat ini belum sempat menjenguk mantan kekasihnya itu setelah penangkapan kasus narkoba yang ke dua kalinya.

“Kalau sekarang belum. Masih pindah-pindah, kemarin baru rillis jadi belum dijenguk,” tutup Widuri.

(kmb/doc)

Photo Gallery

1 1 2 3 4 5 6 7

Perlukah NKRI Bersyariah?

Liputan6.com, Jakarta – Deden Sujana hanya bisa tertawa saat tahu polisi menetapkannya sebagai tersangka dalam perkara bentrok di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Namun, tawa di wajahnya bukan lantaran senang.

Dia tertawa getir. Saat mendengar kabar penetapan dirinya sebagai tersangka Februari 2011 lalu, Deden sedang berbaring di ranjang pasien di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

Luka di sekujur tubuhnya belum kering. Tangannya masih kaku, belum bisa digerakkan usai operasi penyambungan yang dilakukan selama 7,5 jam oleh 7 dokter dengan keahlian berbeda. Dokter pun berkata, dia mengalami gegar otak.

Ketika berbincang dengan Liputan6.com, Deden mengaku, kala itu ia tak menyangka bakal berakhir di rumah sakit. Juga tak terbesit dalam pikirannya bahwa bakal ada 1.500 orang yang datang ke masjid milik Ahmadiyah di Cikeusik, sekitar pukul 10.30 WIB, 6 Februari 2011 .

“Malam minggu (Sabtu 5 Februari 2011), saya mendapat kabar tentang penahanan ustaz kami, istrinya dan keluarganya. Saya dan 12 orang lainnya malam itu juga berangkat ke Cikeusik untuk bertanya dan meminta polisi membebaskan mereka. Kebetulan saat itu saya menjabat sebagai Ketua Keamanan Nasional Ahmadiyah. Kami sampai di sana pukul 08.00 WIB karena Cikeusik itu masih jauh dari Pandeglang, kami ingin istirahat dulu dan siangnya baru ke polisi,” tutur Deden, Rabu 13 Februari 2019.

Tiba-tiba, lanjut dia, sejumlah polisi mendatangi mereka dan memintanya untuk meninggalkan lokasi karena akan ada sekelompok orang yang menuju ke tempat tersebut. Namun, polisi tidak memberi tahu jumlahnya.

Deden dan rekan-rekannya enggan meninggalkan lokasi karena maksud kedatangannya belum tersampaikan. Apalagi, dia merasa datang dengan cara dan tujuan yang baik. Mereka tak membawa senjara. 

Massa kemudian datang. Bentrokan pun tak terelakkan. “Bisa dibuktikan kok di video yang beredar, kami melawan dengan tangan kosong atau alat yang bisa kami dapat di dekat kami,” kata dia.

Hari itu, Deden menyaksikan tiga saudara seimannya tewas karena diserang menggunakan senjata tajam. Ia yang susah payah menghindari hujaman celurit dan golok, tak kuasa membantu. 

Begitupula polisi. Tak ada satu pun petugas keamanan yang berani melerai. Sebuah mobil aparat habis dibakar massa, satu dimasukkan ke jurang. 

Deden  yakin, ada yang memobilisasi massa itu. Sebab, dia merasa janggal, 1.500 orang bisa berkumpul secara spontan. Tapi kecurigaan tersebut tak pernah ditindaklanjuti polisi.

Usai bentrok Cikeusik, polisi membawa Deden dan 12 rekannya ke RSUD Serang. Namun, pihak rumah sakit angkat tangan dengan kondisi Deden. Tangan dan kakinya nyaris putus. Tak ada dokter ahli yang bisa menanganinya ketika itu.

Keluarganya pun harus beradu argumen dengan kepolisian untuk bisa membawa Deden ke RSPP. Sampai akhirnya, polisi mengizinkannya.

“7,5 jam saya dioperasi untuk menyambungkan tangan saja. Dokter bilang, baru kali ini ada operasi selama itu di RSPP. Orang tangan saya mau putus dan sudah ada beberapa jaringan yang busuk. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk hidup dan menggunakan tangan kaki saya kembali. Dua minggu saya dirawat. Sekarang sudah bisa digerakkan,” ujar Deden.

Usai pulih, ia kembali berurusan dengan hukum. Polisi menyangkakan empat pasal kepadanya, yakni, provokasi, penganiayaan, kepemilikan senjata tajam dan melawan petugas. Namun pada akhirnya, polisi menjeratnya dengan Pasal 160 KUHP tentang penghasutan dan Pasal 212 KUHP tentang perlawanan terhadap petugas kepolisian.

Ia ditahan selama enam bulan. “Wong saya dipenjara bukan karena nyopet atau korupsi. Yang saya sayangkan, 12 pembunuh saudara saya malah dihukum 3-5 bulan,” ucap Deden.

Usai kejadian itu, dia dan pengikut Ahmadiyah lainnya selalu berhati-hati dalam bertindak dan bertutur. Tidak kepada sembarang orang mereka mau terbuka. Mereka pun tidak pernah bersuara di ruang publik, media sosial sekalipun.

“Karena kita tidak tahu, kita sedang berhadapan dengan siapa. Bagaimana kalau lawan bicara kita ternyata kelompok garis keras? Kami saling menjaga saja,” kata dia.

Baru belakangan Deden dan warga Ahmadiyah lain berani mengeluarkan pendapat di  ruang publik dan media sosial. “Saya juga sudah berani komen-komen di Twitter. Apalagi pada pemerintahan saat ini, kami merasa aman,” kata Deden. 

Sementara, pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Shihab pada akhir tahun lalu melemparkan kembali isu NKRI Bersyariah terkait dukungannya kepada salah satu peserta Pilpres 2019.

Akun twitter @RizieqSyihabFPI, mengunggah poster isu NKRI Bersyariah disertai gambar dirinya dan Prabowo-Sandi. Wacana NKRI Bersyariah juga pernah dia bukukan dengan judul Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah.

Deden kemudian berkomentar, “Mau sampai kapan begini?”

“NKRI harga mati, final, tidak ada lagi embel-embel syariah. Cukup bank saja yang bersyariah. Apalagi kita ini bukan negara Islam. Indonesia terdiri dari ribuan budaya. Beda itu indah. Sudahlah, Pancasila final, NKRI harga mati,” lanjut Deden yang kini menjabat sebagai Ketua Ahmadiyah Bekasi dan Asisten Humas Pengurus Besar Ahmadiyah itu.

Hal yang sama disampaikan oleh seorang jemaah Ahmadiyah berinisial S. Dia mengatakan, kini hidupnya lebih mudah. Dia juga bertempat tinggal dan bekerja di lingkungan dengan tingkat toleransi tinggi. Dia pun bebas bersuara bahwa ia adalah pengikut Ahmadiyah.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu. Ketika menikah saja, dia harus menumpang ke kota lain. Sebab, sulit untuk mengurus surat-surat pernikahan di kota asal calon istrinya.

Dia bahkan menyebut, sejumlah jemaah lain di lokasi itu tidak mendapatkan e-KTP lantaran keyakinannya yang berbeda dengan masyarakat sekitar. Saat berbincang dengan Liputan6.com pun, dia tidak ingin daerah asal pasangan hidupnya disebut.

“Dulu saya harus menikah di tempat lain. Sulit mengurusnya bahkan ada yang tidak dapat e-KTP. Alhamdulillah di tempat lain diberi kemudahan dan kami tidak perlu menyembunyikan identitas sebagai seorang Ahmadiyah,” ujar S.

Dia pun tak ingin mengalami deja vu. Dia tidak mau lagi terkungkung dengan konsep yang diwacanakan Rizieq Shihab.

Sementara, Slamet, warga Kudus, Jawa Tengah yang baru dua tahun ini mualaf juga tak paham dengan konsep NKRI bersyariah yang diwacanakan Rizieq. Terlebih, baru dua tahun ini dia bisa memeluk agama pendahulunya.

Sebelum kemerdekaan, orangtuanya tidak memiliki kebebasan untuk memeluk agama Islam karena saat itu tak ada ruang publik yang manusiawi. Keduanya memutuskan berpindah agama.

“Jika sekarang ada yang menyerukan NKRI bersyariah, justru mundur dong. Warga seperti saya sebenarnya hanya butuh ruang publik yang manusiawi. Tanpa rasa takut kita bisa menegakkan apa yang kita yakini. Kita hanya butuh damai,” kata pria 57 tahun itu kepada Liputan6.com.

2 dari 3 halaman

Harus Paham Konsep

Lalu, masih haruskah kita mempertimbangkan wacana Rizieq Shihab soal NKRI bersyariah atau lebih memilih ruang publik yang manusiawi?

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), Marsudi Syuhud mengatakan, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, masyarakat harus tahu terlebih dahulu tentang makna kata “bersyariah”. Setelah itu, baru bisa membahas soal pilihan tersebut.

“Yang harus dipahami oleh muslim maupun nonmuslim, Bangsa Indonesia, sesungguhnya kata bersyariah itu seperti apa sih? Teorinya bagaimana? Bersyariah itu bukan hanya untuk muslim tapi untuk siapa saja. Maka kaidahnya di mana ada kemaslahatan, kebaikan, untuk publik, untuk siapa saja, maka sesungguhnya sudah memakai syariat Allah,” kata Marsudi saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (14/2/2019).

Dia pun memberikan gambaran tentang permasalahan ini melalui Undang-Undang Lalu Lintas. UU tersebut diciptakan untuk mengatur segala sesuatu tentang yang berhubungan dengan lalu lintas, agar tidak terjadi kecelakaan dan tercipta keteraturan, seperti rambu-rambu dan batas kecepatan maksimal.

“Itu untuk kemaslahatan tidak? Untuk kemaslahatan, biar tidak tabrakan. Berarti UU Lalu Lintas bersyariah tidak? Bersyariah.

Pertanyaan selanjutnya, apakah ruang publik kita sudah baik? Sudah manusiawi?

Marsudi menilai, proses menuju baik itu tidak ada ujungnya. Amerika saja, lanjut dia, tidak berhenti untuk menjadi baik dan lebih baik.

Bagi dia, ruang publik yang berdasarkan Pancasila pada saat inipun sudah bersyariah, meski terus berproses menjadi lebih baik.

“Ruang publik hari ini alhamdulillah dengan dasar negara kita Pancasila, ya itu tadi, penjelasan Pancasila sama dengan UU Lalu Lintas. Pancasila hadir kesepakatan, maka sudah sesuai syariah belum? Sudah, karena untuk kemaslahatan,” tutur Marsudi.

Hal serupa diungkapkan oleh negarawan, Ahmad Syafii Maarif. Pria yang akrab disapa Buya ini menilai, NKRI bersyariah dengan sendirinya akan tercipta ketika norma-norma agama, sosial dan hukum dijalankan.

“Kalau Islam yang benar, tidak perlu itu perlu NKRI bersyariah. Islam yang selaras dengan kemanusiaan sudah mewujudkan NKRI bersyariah,” kata Buya kepada Liputan6.com.

Dia pun pernah membahas wacana NKRI bersyariah dan ruang publik manusiawi dalam bukunya yang berjudul Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan

Dia menyayangkan pendapat beberapa orang yang menuduh sistem demokrasi, paham keberagaman, toleransi, dan pesan anti-kekerasan bukanlah napas Islam. Baginya, yang terjadi justru sebaliknya.

Buya Maarif berpendapat, sesungguhnya Islam Indonesia tidaklah antidemokrasi. Indonesia sekarang ini, lanjut dia, beruntung karena memiliki Islam yang terbuka akan prinsip demokrasi.  


3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Sahabat: Ahok Nggak akan Balas Dendam ke PA 212 Lewat PDIP

Jakarta – Dosen UIN Adi Prayitno mengungkap PA 212 curiga Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok akan balas dendam lewat PDIP. Jubir PA 212, Novel Bamukmin, mengklarifikasi bahwa hal tersebut harapan, bukan kecurigaan. Sahabat Ahok yang juga politikus PDIP, Charles Honoris, menegaskan isu itu sama sekali tidak benar.

“Nah itu, saya bilang nggak mungkin balas dendam. Karena gini, Pak Ahok sudah memilih masuk PDI Perjuangan bukan untuk aktif berpolitik tetapi memilih PDI Perjuangan sebagai rumah untuk menyalurkan aspirasi politiknya,” kata politikus PDIP, Charles Honoris, di Resto Es Teler 77, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Charles sekali lagi menepis anggapan bahwa Ahok akan balas dendam. Menurutnya, meskipun bergabung ke PDIP, Ahok tak tertarik menjadi pejabat negara.
“Jadi saya rasa tidak benar anggapan bahwa Pak Ahok ingin balas dendam ya, karena sekali lagi Pak Ahok sendiri sudah mengatakan bahwa masuk PDI Perjuangan itu bukan untuk menjadi pengurus ya, tidak tertarik menjadi pejabat negara, tapi hanya merasa bahwa PDI Perjuangan adalah rumah besar kaum nasionalis sehingga rumah yang cocok untuk bisa menyalurkan aspirasi politiknya,” ungkapnya.

“Bahwa Pak Ahok masuk PDI ya sebagai kader, bukan sebagai pengurus partai. Tidak punya kewenangan khusus untuk bisa mengatur kebijakan partai juga, atau tidak juga memiliki keinginan untuk menjadi pejabat negara. Misalkan ikut pilkada, atau ikut pemilu legislatif ya, hanya sebagai kader yang ingin memberikan kontribusi pemikiran, menyalurkan aspirasi politiknya ke PDI Perjuangan,” imbuh Charles.

Charles sekali lagi menegaskan Ahok tak akan balas dendam. Baginya, partai politik bukan alat untuk balas dendam, tetapi untuk kesejahteraan rakyat.

“Pasti tidak (akan balas dendam), pasti tidak. Karena PDI Perjuangan partai politik, partai PDI Perjuangan bukan alat untuk balas dendam ya, tapi partai politik adalah alat untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Sebelumnya, Adi Prayitno mengungkapkan, PA 212 curiga bergabungnya Ahok ke PDIP lantaran ingin balas dendam. Ahok dicurigai ingin menjadikan PDIP sebagai alat untuk membalas dendam kepada kelompok yang memenjarakannya.

“Semalam saya diskusi dengan Alumni 212 Novel Bamukmin, dia ngomong bahwa di PA 212 itu mencurigai kembalinya Ahok ke PDIP dikhawatirkan menjadi ajang untuk membalas dendam kepada kelompok yang mengkriminalkan Ahok,” ujar Adi di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2).

Adi mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin. Ahok dicurigai akan menggunakan PDIP sebagai kendaraan politik untuk memperoleh lagi kekuasaan.

Novel Bamukmin sudah meluruskan pernyataan Adi. Novel hanya berharap PDIP bisa membina Ahok agar tak lagi bikin gaduh.

“Saya hanya mengkhawatirkan semoga bergabungnya BTP ini tidak menjadi ajang balas dendam atas masalah yang pernah terjadi dengan kasus hukum BTP ini. Semoga PDIP bisa membina BTP dengan baik agar BTP tidak kembali membuat kegaduhan dan kekisruhan negara ini,” kata Novel, hari ini.
(gbr/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

TKN soal Kecurigaan Tim Prabowo: Ratna Sarumpaet Die Hardnya 02

JakartaJuru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga, Andre Rosiade mengaku heran dengan pernyataan capres petahan Joko Widodo (Jokowi) yang memuji kejujuran Ratna Sarumpaet soal hoax penganiayaan. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menyebut pujian yang diberikan itu hanya sekedar ingatkan rakyat untuk jujur tidak ada maksud lain.

“Pada dasarnya Pak Jokowi hanya ingin mengingatkan bahwa seorang Ratna Sarumpaet saja akhirnya bisa jujur pada rakyat, dan Pak Jokowi tentu berterima kasih atas kejujuran itu. Jika saja tidak terbukti kebohongannya, dapat dipastikan terjadi konflik horizontal di bawah,” kata juru bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Irma Suryani Chaniago saat dimintai tanggapan detikcom, Senin (4/2/2019).

Irma meminta agar Andre tidak melempar kesalahan ke Jokowi. Politukus NasDem itu mengingatkan ke Andre bahwa Ratna itu dulunya bagian dari tim BPN Prabowo-Sandiaga.

“Itulah naifnya Andre Rosiade, nggak paham apa yang tersirat. Selain tidak paham apa yang tersirat, bisa juga karena terbiasa lempar kesalahan pada orang lain,” katanya.

“Andre jangan pura pura bodoh! Ratna itu tim kampanye dan die hardnya 02, dan salah satu dedengkot gerakan ganti presiden. Andre jangan kebanyakan tidur, jadi ngomongnya ngawur,” imbuhnya.

Sebelumnya, Andre mengatakan kubu Prabowo-Sandiaga merupakan korban kebohongan Ratna Sarumpaet. Kini, dia heran mengapa Jokowi memuji kejujuran Ratna yang mengaku berbohong soal penganiayaan.

“Kami kan korban penipuan Mbak Ratna ya, jadi pihak kami, BPN 02 adalah korban penipuan Mbak Ratna. Pak Prabowo, Pak Amien dan seluruh BPN ini korban penipuan Mbak Ratna. Tiba-tiba Pak Jokowi memuji-muji Mbak Ratna jujur, ‘saya sudah kenal lama’, ‘saya tahu beliau jujur’,” kata juru bicara BPN, Andre Rosiade kepada wartawan, Senin (4/2).
(zap/zak)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kecurigaan Tim Prabowo pada Pujian Jokowi ke Ratna Sarumpaet

Jakarta

Pujian Joko Widodo (Jokowi) untuk kejujuran Ratna Sarumpaet direspons Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Pujian Jokowi untuk Ratna yang mengaku berbohong soal penganiayaan, mengundang pertanyaan.

Juru Bicara BPN, Andre Rosiade mengatakan, pihaknya merupakan korban kebohongan Ratna Sarumpaet. Karenanya, BPN heran mengapa Jokowi memuji kejujuran Ratna yang kini dalam tahanan Polda Metro Jaya.

“Kami kan korban penipuan Mbak Ratna ya, jadi pihak kami, BPN 02 adalah korban penipuan Mbak Ratna. Pak Prabowo, Pak Amien dan seluruh BPN ini korban penipuan Mbak Ratna. Tiba-tiba Pak Jokowi memuji-muji Mbak Ratna jujur, ‘saya sudah kenal lama’, ‘saya tahu beliau jujur’,” ujar Andre, Senin (4/2/2019).


Politikus Partai Gerindra itu mengklaim publik punya beragam pertanyaan setelah Jokowi memuji Ratna. Dia lalu berbicara soal hasil penyelidikan Polri soal Ratna Sarumpaet.

“Dalam penyelidikan Polri selama ini, Mbak Ratna dianggap nggak melibatkan kami. Dulu kan didorong, dihubung-hubungkan kami yang membangun skenario kan. Ternyata melalui penyelidikan Polri tidak ada ditemukan keterlibatan BPN membangun skenario ini. Ternyata murni permainan Mbak Ratna sendiri. Ini yang menarik. Jadi ada pertanyaan dari masyarakat dan publik, apakah ada yang men-design kami dijebak Mbak Ratna?” kata Andre.


Sementara, koordinator jubir BPN Dahnil Anzar Simanjuntak menganggap Jokowi mulai kagum kepada Ratna. Dahnil bahkan mengatakan Jokowi menggemari dan menyukai Ratna Sarumpaet.

“Mungkin Pak Jokowi kagum, salut kepada Bu Ratna, saya nggak tahu salutnya pada bagian mana. Yang jelas mungkin Pak Jokowi sekarang udah menggemari dan dan menyukai Bu Ratna. Saya nggak tahu kenapa, nanti ditanya lagi aja ke Pak Jokowi,” ujar Dahnil.

Ungkapan Jokowi soal Ratna Sarumpaet disampaikan saat Deklarasi Forum Alumni Jawa Timur di Tuguh Pahlawan, Surabaya, Sabtu (2/2). Disinggungnya persoalan Ratna Sarumpaet juga dilakukan Jokowi saat berada di Semaran.

“Jangan sampai ada ngomong lagi muka lebam-lebam dipukuli dan dianiaya, padahal operasi plastik. Dipikir masyarakat itu nggak ngerti. Masyarakat kita sekarang ini cerdas-cerdas, pintar-pintar, apalagi yang ada di hadapan saya ini para intelektual,” tutur Jokowi.

Jokowi kembali mengungkit Ratna Sarumpaet dalam acara deklarasi Sedulur Kayu dan Mebel Jokowi di De Tjolomadoe, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dia menceritakan pertemanannya dengan Ratna yang tadinya adalah anggota timses Prabowo-Sandiaga.

“Untung Mbak Ratna Sarumpaet itu jujur. Saya berteman lama dengan Mbak Ratna, berani dan jujur,” ujarnya.


Sementara Ratna Sarumpaet segera menjalani proses persidangan. Kejari Jaksel membentuk tim jaksa penuntut umum gabungan untuk menyusun surat dakwaan.

“RS disangkakan Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan UU ITE Pasal 28 ayat 2. Di situ kita akan pelajari dulu kira-kira konstruksinya seperti apa, kita cermati kembali dan tentunya kita harus melihat fakta-fakta yang ada,” ujar Kajari Jaksel, Supardi, Kamis (31/1).

(fdn/fdn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>