BPN Malaysia Ungkap Kecurigaan Sebelum Gerebek Ruko Surat Suara Tercoblos

JakartaBadan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Malaysia mengungkapkan sejumlah kecurigaan sebelum penggerebekan ruko surat suara tercoblos di Selangor. Seperti apa?

Ketua BPN Malaysia, Yogasmara Hadi, mengatakan mereka mendapat informasi mengenai potensi kecurangan pemilu di Malaysia sejak beberapa bulan lalu. Menurutnya, kecurangan itu bisa terjadi lewat pemungutan suara via pos di Malaysia. Yoga enggan memerinci asal ‘informasi’ yang dimaksudnya.

“Seharusnya surat suara yang dari KBRI dikeluarkannya kepada pos pusat di sana yang namanya Dayabumi, sampai dikeluarkan kepada DPT langsung kepada masyarakat Indonesia yang ada di Malaysia. Ini yang seharusnya seluruh elemen, baik itu BPN atau TKN ataupun parpol sekalipun di sana diundang untuk menyaksikan,” ujar Yoga di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (12/4/2019).
“Tetapi dalam hal ini, 2019 ini, kami langsung, tidak diberi tahu, tidak diundang untuk menyaksikan keluar dari Kedutaan sendiri ke Dayabumi, bahkan tiba-tiba saja orang sudah menerima satu per satu. Itu sudah kami lihat,” imbuh dia.
Yoga memandang seharusnya mereka mengetahui detail penyebaran surat suara via pos. Menurutnya, ada masyarakat yang melaporkan telah menerima surat suara via pos tanpa diketahui masing-masing timses. Dari laporan tersebut, Yoga dan BPN Malaysia serta relawan menindaklanjutinya.

“Akhirnya melaporkan kepada kami (masyarakat), ‘kami sudah ada dapat’. Dan itu sudah terjadi sebulan yang lalu. Pemilih, diposkan,” sebut Yoga.

“Yang anehnya, undi-pos itu, yang katakanlah 200 ribu, itu yang disebarkan kepada masyarakat hanya sekitar 15 ribu. Jadi yang lain kita tidak tahu menahu,” jelasnya.

Yoga menyebut mereka menerima laporan bahwa sisa surat suara yang sudah disebarkan berada di salah satu tempat di Malaysia, bukan di KBRI. Relawan Prabowo-Sandi di Malaysia dan BPN lantas melakukan penggerebekan.

“Lalu kemudian ada laporan bahwa sisa yang sudah disebarkan itu ternyata ada di sebuah tempat yang jauh dari tempat KBRI, bukan tempat resmi, itu adalah rumah ruko, rumah sewa. Akhirnya kami datangi ternyata benar, saya tidak langsung karena saya sudah terbang ke Jakarta. Jadi langsung di belakang anggota kita, yaitu wakil ketua BPN saya, yaitu Bapak Danil itu, dengan Pak Mahmud, serta Bendahara saya, yaitu Ibu Ninah. Itu sampai menunggui semuanya itu,” ucapnya.
(gbr/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cak Imin: Kecurigaan Boleh, yang Penting KPU Siap Dibuka ke Publik

Jakarta – Politikus senior PAN, Amien Rais, mengatakan ada genderuwo dan sontoloyo yang bisa membuat DPT di Pemilu 2019 bermasalah. Menanggapi hal itu, Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menilai semua kecurigaan ke KPU boleh saja, namun yang terpenting KPU sudah siap untuk dibuka ke publik.

“Semua kecurigaan boleh saja, yang penting KPU telah menyatakan kesiapannya dibuka ke publik. Istilahnya transparansi semua pelaksanaan KPU,” ujar Cak Imin di Gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (10/4/2019).

Selain itu, menurut Cak Imin saat pemilu nanti akan ada pengawas dari berbagai negara yang ikut membantu pengawasan pemilu.

“Untuk itu ayo kita kontrol, kawal, tidak usah menuduh ini-itu yang penting kita awasi,” katanya.

Cak Imin pun menilai wajar pernyataan Amien Rais itu dikeluarkan di tengah panasnya perpolitikan jelang Pemilu 2019. “Ya kira-kira itu biasalah panasnya politik saja,” imbuhnya.

Dikakatakan Cak Imin, perlu partisipasi semua elemen masyarakat untuk ikut mengawasi jalannya Pemilu 2019. Semakin banyak yang mengawasi maka akan semakin baik.

“Tolong lah semua aktivis semua mengawasi jangan sampai ada terutama daerah-daerah terluar yang di luar jangkauan media biasanya ada manipulasi. Saya mencurigai daerah-daerah yang jauh dari media ada kecurangan. Misalnya Maluku paling ujung di kepulauan, atau daerah-daerah yang tidak terjangkau. Saya curiga. Mohon bantuan,” tuturnya.

Sebelumnya, Amien Rais tidak ingin DPT bermasalah di Pemilu 2019 menjadi sumber kecurangan. Sebab, katanya, selama ini memang ada indikasi Pemilu dilakukan tidak jujur. Menurut Amien, ada genderuwo dan sontoloyo dalam urusan DPT ini.

“Saya sudah mengingatkan berulang kali. Tetapi memang sering saya katakan, memang ada genderuwonya ada sontoloyonya. Jadi kalau istilah beliau-beliau ini, makanya ada yang mengusulkan bagaimana 17 April nanti penghitungan di Senayan atau di… di mana KPU, BPN, TKN, wartawan dalam-luar negeri ikut,” di Ruang KK III (Ruang Rapat Komisi II), gedung Nusantara, DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (9/4).

“Kita minta sekarang supaya hitungnya jurdil, ini sesuatu yang amat mudah. Berarti kalau tidak mau, berarti ada maksud-maksud misterius yang menambah kecurigaan kita,” sambung Amien.
(nvl/jbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tepis Kecurigaan, Polisi: Penyidik Buchari Muslim Tak Paham Kampanye

Jakarta – Penangkapan Buchari Muslim yang berdekatan dengan acara kampanye akbar capres Prabowo Subianto di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dicurigai bermuatan politik oleh Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid. Polisi menuturkan waktu penangkapan Buchari yang berdekatan dengan kampanye akbar hanya kebetulan dan penyidik tidak paham jadwal kampanye capres.

“Kebetulan saja pas berdekatan. Tidak ada tendensi berkaitan dengan penanganan kasus tersebut. Penyidik tidak paham ada jadwal kampanye, tahunya menyidik saja,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada detikcom saat dikonfirmasi, Minggu (7/4/2019).

Argo menyebut penanganan kasus Buchari juga bukan hal yang mengada-ada. Pasalnya pihak Polda Metro Jaya memang menangani kasus yang menjerat Buchari berdasarkan laporan masyarakat.

“Sesuai dengan laporan pelapor korban, sebelumnya sudah dilakukan penyelidikan,” jelas Argo.

Dia pun menerangkan, pihaknya telah memberi waktu pada Buchari dan orang yang melaporkan Buchari untuk menyelesaikan kasus mereka secara kekeluargaan. Namun cara tersebut tak berhasil menyelesaikan masalah.

“Sudah dikasih waktu untuk menyelesaikan. Tidak selesai sehingga dilakukan gelar yang kesimpulannya terlapor memenuhi unsur untuk ditetapkan sebagai tersangka. Penyidikan secara profesional dan proporsional,” terang Argo.

Kasus ini bermula ketika Buchari menawarkan pengurusan visa haji kepada 27 jemaah dari pelapor yaitu Jamaludin. Buchari saat itu mengaku bisa membantu membuatkan visa haji furoda (haji nonkuota).

Selanjutnya, Jamaludin dan Buchari bertemu di depan Kedutaan Besar Arab Saudi dan melakukan transaksi. Korban menyerahkan uang USD 136.500 berikut 27 paspor kepada Buchari untuk pengurusan visa haji furoda.

Akan tetapi, tiga hari setelah uang itu diserahkan, visa haji furoda tidak kunjung keluar dan Buchari pun tidak memberi kabar. Jamaludin kemudian meminta bantuan kepada Syekh Ali Jabber untuk menghubungi Buchari.

Hingga akhirnya Jamaludin dan Buchari bertemu serta Buchari membuat surat pernyataan telah menerima uang dan 27 paspor dari Jamaludin. Namun hingga kasus itu dilaporkan ke polisi, Buchari tidak kunjung mengembalikan uang Jamaludin.

Sebelumnya Hidayat Nur Wahid mengaku maklum jika publik membaca penanganan kasus Buchari Muslim bermuatan kepentingan politik. Dia mempertanyakan kenapa baru sekarang pendiri Persaudaraan Alumni (PA) 212 itu ditangkap.

Hidayat Nur Wahid mengatakan penangkapan Buchari bukan sebagai PA 212 namun berbagai judul berita menyebut sebagai pendiri PA 212.

“Pak Buchari, beliau diambil bukan karena pendiri PA 212, tapi kenapa judulnya begitu,” kata Hidayat usai kampanye akbar PKS di Semarang, Sabtu (6/4).

Kemudian ia juga mempertanyakan kenapa kasus yang dilaporkan sejak Juni 2018 itu baru ada penangkapan menjelang Pemilu. Hal itu menurut Hidayat memberikan tafsiran ada hubungan dengan politik.

“Harusnya penegakkan hukum itu dijauhkan dari momentum yang sangat mudah orang mencurigai terkait dengan masalah politisasi,” imbuhnya.

(aud/dnu)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dikira Perut Kembung, Si Kecil Ternyata Idap Penyakit Langka

Liputan6.com, Jakarta Penyakit langka Gaucher merenggut nyawa buah hati Amin Mahmudah. Anak kedua Amin bernama Sukron meninggal dunia pada usia 2 tahun 5 bulan.

Keterlambatan diagnosis menjadi penyebab meninggalnya sang anak. Amin yang tinggal di Jambi, tepatnya di daerah transmigrasi, mengalami keterbatasan akses kesehatan.

“Saat itu, kami terlambat mendapati diagnosis penyakit langka ini karena keterbatasan akses tenaga kesehatan. Jadi, terkendala juga diagnosis yang tepat,” cerita Amin dengan wajah sedih usai konferensi pers Hari Penyakit Langka Sedunia di Graha Dirgantara, Jakarta, ditulis Kamis, 28 Februari 2019.

Gaucher merupakan penyakit langka kekurangan enzim yang berfungsi memecah lemak pada tubuh. Ketika tubuh tidak menghasilkan jumlah enzim tertentu, maka lemak akan menumpuk pada sel lysosomes. Proses ini membuat sel semakin besar.

Sel besar itulah yang disebut sel Gaucher. Sel Gaucher ditemukan di limpa, hati, dan sumsum tulang. Gejala yang dialami pasien berbeda-beda. Dalam beberapa kasus, gejala bisa terdeteksi sedari lahir, namun ada yang baru muncul beberapa tahun kemudian.

“Waktu itu, anak saya gejalanya perutnya kembung. Lama-lama perutnya besar. Saya pikir, kembung biasa. Tapi ternyata itu penyakit langka,” lanjut Amin.

Anak Amin pun hanya bertahan hidup sebulan setelah muncul gejala perut kembung. Kesehatannya semakin memburuk. Batita itu mengembuskan napas terahir pada tahun 2013.



Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Dokter perlu lebih sadar

Terkait keterlambatan diagnosis seperti dalam kasus Sukron, Dokter Spesialis Penyakit Anak Klinis Damayanti R Sjarif menekankan, perlu kesadaran bagi dokter dalam diagnosis.

“Dokter harus lebih aware. Curiga saja dulu kemungkinan pasien menderita kelainan genetik atau penyakit langka. Kalau salah kecurigaan ya enggak masalah. Daripada nanti terlambat (diagnosisnya),” jelas dokter yang berpraktik di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Ketika ternyata pasien terbukti menderita penyakit langka, penanganan berupa pengobatan dan terapi bisa langsung dilakukan. Salah satu upaya yang dilakukan Damayanti adalah mendidik dokter di seluruh Indonesia terhadap kemungkinan temuan penyakit langka.

“Saya ini praktisi dan satu-satunya dokter yang meneliti penyakit kelainan genetik dan penyakit langka sejak tahun 2000. Sejak saat itu, saya mulai mendiagnosis penyakit langka. Tapi belum banyak dokter yang tahu soal penyakit langka,” papar Damayanti.

Sandiaga Cermati Isu TKA di Cianjur: Dengan e-KTP kan Bisa Mencoblos

Jakarta – Cawapres Sandiaga Uno ikut menyoroti heboh tenaga kerja asing (TKA) memiliki e-KTP. Dia berharap kepemilikan e-KTP oleh TKA itu tak memberikan dampak negatif pada Pemilu 2019.

“Ya harus kita cermati jangan sampai ini pemilu yang diharapkan masyarakat dilakukan dengan jujur adil diciderai atau dicoreng oleh tentunya kecurigaan masyarakat ada WNA yang memiliki e-KTP, yang akhirnya, dengan e-KTP itu kan bisa ikut mencoblos,” ujar Sandiaga, di Kawasan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/2/2019).

Sandiaga meminta semua pihak untuk tak saling menyalahkan soal sengkarut e-KTP ini. Dia meminta agar semua untuk saling mengawasi dan mengawal agar kemunculan e-KTP itu tak mempengaruhi daftar pemilih tetap (DPT) saat Pemilu nanti.
“Jadi mari kita sama-sama jangan saling menyalahkan. Jangan sampai ada penggelembungan suara, jangan ada penyalahgunaan dari identitas tersebut. Pastikan pemilu ini jujur adil,” katanya.

“Dan kita pastinya menjunjung tinggi netralitas penyelangara pemilu, jangan sampai ada ketidaknetralan penyelenggara pemilu,” sambung Sandiaga.

Kabar mengenai WN asing yang memilik e-KTP heboh di Cianjur. Adalah tenaga kerja asing (TKA) asal China di Cianjur yang memiliki e-KTP ini nomor induk kependudukan (NIK)-nya muncul di daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2019.

Awalnya, beredar foto identitas mirip e-KTP itu memang nyaris identik dengan e-KTP penduduk Indonesia yang kebanyakan memiliki nomor induk kependudukan (NIK). Yang membedakan adalah ada kolom kewarganegaraan dan masa berlaku yang tidak seumur hidup.

Di kolom alamat, diketahui TKA berinisial GC tersebut tinggal di Kelurahan Muka, Kecamatan Cianjur. Identitas mirip e-KTP itu sendiri dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Cianjur.

KPU pun menjelaskan duduk perkara kemunculan NIK TKA China di Cianjur dalam DPT Pemilu 2019. NIK TKA China berinisial GC itu muncul di DPT ketika dimasukkan bersama nama WNI berinisial B.

Masalahnya ternyata ada pada perbedaan NIK Pak B (warga negara Indonesia) di e-KTP dengan DPT yang bersumber dari DP4 Pilkada 2018. Pak B tetap bisa mencoblos pada Pemilu 2019, sedangkan GC (warga negara China) tidak bisa mencoblos.

“Poin pentingnya adalah Bapak GC dengan NIK ini tidak ada di DPT Pemilu 2019. Poin pentingnya itu,” tegas ujar komisioner KPU Viryan Aziz.
(mae/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Top 3 Berita Hari Ini: Istri Tikam Leher Suami Saat Tidur Gara-Gara Sering Dimarahi

Liputan6.com, Pelalawan – Top 3 Berita Hari Ini, seorang suami di Kabupaten Pelalawan, Riau ditusuk istrinya dengan menggunakan pisau dapur saat sedang tertidur pulas.

Pelaku sempat beralasan hal itu dilakukan karena membela diri saat bertengkar dengan suaminya. Namun, belakangan terkuak aksi tersebut sengaja dilakukan lantaran pelaku sering marahi hingga berujung sakit hati.

Saat suami tertidur pulas, Rosmawati mengambil pisau dapur lalu mengarahkan ke leher korban.

Sementara itu, puisi Neno Warisman yang dibacakan saat acara Munajat 212 menuai polemik. Tak sedikit yang menyebut doa itu ngawur dan terkesan mengancam Tuhan. 

Ya Allah menangkanlah kami (Prabowo), jika kami kalah, kami khawatir tidak ada lagi yang menyembahmu“.

Firman Syah Ali, Sekretaris LP Ma’arif PBNU menyebut, doa yang dibacakan Neno Warisman meniru doa Nabi saat perang Badar.  

Perang Badar, kata Firman Ali, adalah perang yang menentukan kelangsungan dan tidaknya agama Islam. Jika Islam kalah, maka Islam akan habis.

“Kalau Neno mengadopsi doa tersebut, itu ngawur. Sebab, situasi Pilpres saat ini bukan situasi perang dengan orang kafir. Prabowo akan bersaing dengan Jokowi, yang juga beragama Islam,” katanya.


Berikut berita terpopuler dalam Top 3 Berita Hari Ini

1. Kerap Disalahkan, Istri Tikam Suami Saat Tidur Pulas di Ranjang

Istri yang bunuh suaminya ditangkap personel Polres Pelalawan. (Liputan6.com/istimewa/M Syukur)

Ketidakharmonisan rumah tangga Naatulo Laia dengan istrinya Rosmawati Nduru berujung pembunuhan. Sang suami yang berusia 36 tahun itu ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan pada Jumat, 22 Februari 2019.

“Sebelum kejadian bertengkar dengan suaminya. Korban marah dan pelaku menyerangnya pakai pisau dan menangkis hingga kena leher suaminya itu,” kata Kapolres Pelalawan AKBP Kaswandi Irwan, Minggu petang, 24 Februari 2019.

Kecurigaan petugas timbul setelah melakukan olah tempat kejadian perkara. Petugas menduga, dua luka di leher bagian kiri korban bukanlah akibat tangkisan melainkan pembunuhan. Hal ini diperkuat dengan dalamnya luka leher yang hampir tembus ke pundak.

Selengkapnya… 

2. Sindir Neno Warisman, Muncul Parodi Doa Ngawur ala NU

Neno Warisman akan laporkan balik Geodi dan Mirza ke polisi.

“Ya Allah menangkanlah kami (Prabowo), jika kami kalah, kami khawatir tidak ada lagi yang menyembahmu”.

Doa kontroversial Neno Warisman yang dibacakan saat acara Munajat 212 di Jakarta tersebut mengundang polemik. Tidak sedikit orang menyebut doa itu ngawur dan terkesan mengancam Tuhan. 

Sekretaris LP Ma’arif PBNU, Firman Syah Ali, dalam akun Facebook pribadinya, Firman Syah Ali bahkan menggunggah dua contoh doa ngawur sebagai sindiran kepada Neno Warisman.

Selengkapnya…  

3. Sensasi Makan dan Swafoto Bareng Pramugari Cantik

Jogja Airport Resto menawarkan sensasi menikmati aneka kuliner rumahan di dalam pesawat ditemani pramugari (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Siapa bilang naik pesawat harus selalu beli tiket. Di Yogyakarta ada dua pesawat yang penumpangnya tidak perlu membeli tiket dulu untuk bisa masuk. Bahkan bisa sesuka hati menggunakan ponsel di dalam pesawat tanpa perlu takut ditegur para pramugari cantik.

Hal itu karena kedua pesawat tersebut telah beralih fungsi. Dari pesawat komersil disulap menjadi sebuah restoran keluarga.

Jogja Airport Resto buka setiap hari, mulai pukul 10.00 sampai 22.00 WIB. Untuk makan di pesawat, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 170.000 dan mendapat menu untuk empat orang, terdiri dari sayur lombok ijo, gudangan, ayam kampung, tahu tempe bacem, minuman, buah, dan sebagainya.

Selengkapnya…

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

ABG di Aceh Terciduk Mesum di Masjid, KPAI Ingatkan Peran Guru dan Keluarga

Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan kasus remaja yang terciduk sedang mesum di atas lantai dua Masjid Jamik, Saree, Aceh Besar. KPAI menilai tindakan asusila tidak dibenarkan di manapun tempatnya, apalagi di tempat ibadah.

“Ini hal yang tak boleh terjadi,” ujar Ketua KPAI Susanto saat dihubungi, Senin (25/2/2019).

Dalam kasus ini, Susanto mengingatkan agar tak ada pihak yang main hakim sendiri terhadap dua remaja tersebut. KPI menyoroti peran keluarga dan guru, serta kontrol masyarakat agar generasi muda tak melakukan tindakan penyimpangan.

“Kasus ini tentu harus menjadi evaluasi bersama, penguatan pengasuhan dalam keluarga, kontrol masyarakat, peran guru perlu ditingkatkan agar anak tidak melakukan hal yang tak patut,” kata dia.

Sebelumnya, dua remaja berusia 16 tahun dan 17 tahun kepergok warga sedang mesum di atas lantai dua Masjid Jamik. Video keduanya pun viral di media sosial.

Sat Pol PP dan WH Aceh Besar sudah menangkap dua remaja itu. Penangkapan berawal dari kecurigaan warga terhadap gerak-gerik keduanya. Saat itu, jemaah masjid baru siap melaksanakan salat magrib.

“Mereka ditangkap semalam pukul 19.30 WIB,” kata Kasat Pol PP dan WH Aceh Besar M Rusli saat dimintai konfirmasi detikcom.

Kedua remaja tersebut kemudian dibawa ke Mapolsek Lembah Seulawah untuk diamankan. Namun karena warga juga ingin mendatangi Polsek, pasangan tersebut dibawa ke Mapolres Aceh Besar untuk mencegah hal buruk terjadi pada kedua remaja tersebut.

“Tadi malam sekitar pukul 03.00 WIB, keduanya kita bawa ke Satpol PP dan WH Provinsi. Sementara mereka ditahan di sana karena di Satpol PP-WH Aceh Besar fasilitasnya kurang memadai,” ungkapnya.
(idn/aud)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bejat Moral ABG Aceh Mesum di Atap Masjid

Banda Aceh – Sepasang anak baru gede (ABG) tepergok tengah mesum di Masjid Jamik, Saree, Aceh Besar. Peristiwa ini sempat membuat heboh dan emosi warga.

Dirangkum detikcom, Senin (25/2/2019), peristiwa ini berasal dari kecurigaan warga. Kedua ABG ini pergi ke lantai dua masjid di saat jemaah akan salat magrib.

“Keduanya masih di bawah umur. Yang cowok berusia 16 tahun dan cewek 17 tahun. Mereka ditangkap semalam pukul 19.30 WIB,” kata Kasat Pol PP dan Wilayatul Hisbah (WH/polisi syariat) Aceh Besar M Rusli saat dimintai konfirmasi detikcom, Senin (25/2/2019)


Warga yang curiga kemudian mengecek ke lokasi karena curiga. Warga menemukan keduanya tengah berhubungan badan.

Aksi bejat tak bermoral itu sempat direkam warga. Saat ditangkap, remaja laki-laki sempat mencoba kabur.

“Waktu itu warga cukup ramai dan yang cowok sempat dipukul,” jelas Rusli.

Saat ini keduanya ditahan di kantor Satpol PP dan WH Aceh. Sebab fasilitas di Aceh Besar tidak memadai. Rencananya, kedua ABG ini akan diserahkan ke penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Aceh.

Setelah ditahan, keduanya diperiksa penyidik Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH/polisi syariat). Namun penyidik masih mengkaji dulu apakah keduanya dapat dikenakan Qanun Jinayah dengan ancaman hukuman cambuk.

“Kayaknya tidak bisa dikenakan Qanun Jinayah karena masih di bawah umur. Tapi kita lihat dulu proses di penyidik. Mungkin dikenakan sanksi adat. Mungkin,” kata Rusli.

Kasat Pol PP dan WH Aceh Dedy Yuswadi mengatakan hukuman yang bakal dikenakan terhadap keduanya juga bergantung pada hakim atau penyidik. Jika dinilai cukup barang bukti, kasusnya akan diserahkan ke Jaksa.

“Itu tergantung hakim. Nanti (tergantung) diproses di penyidik juga. Kalau cukup alat bukti mungkin diserahkan ke jaksa, jaksa yang meneruskan ke pengadilan,” jelas Dedy.
(jbr/idn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Duh! Sepasang ABG di Aceh Terciduk Mesum di Masjid

Banda Aceh – Sepasang remaja kepergok warga saat tengah asyik mesum di atas lantai dua Masjid Jamik, Saree, Aceh Besar. Video keduanya berhubungan badan viral di media sosial.

“Keduanya masih di bawah umur. Yang cowok berusia 16 tahun dan cewek 17 tahun. Mereka ditangkap semalam pukul 19.30 WIB,” kata Kasat Pol PP dan WH Aceh Besar M Rusli saat dimintai konfirmasi detikcom, Senin (25/2/2019).

Penangkapan warga Aceh Besar dan Pidie ini berawal dari kecurigaan warga terhadap gerak-gerik keduanya. Saat itu, jemaah masjid baru siap melaksanakan salat magrib.

Tiba-tiba melihat keduanya naik ke lantai dua masjid. Warga yang curiga kemudian mengecek. Ketika disamperin masyarakat, keduanya tengah berhubungan badan.
Beberapa warga merekam aksi mesum pasangan anak baru gede (ABG) tersebut. Setelah itu, baru ditangkap. Sang pria sempat mencoba kabur.

“Waktu itu warga cukup ramai dan yang cowok sempat dipukul,” jelas Rusli.

Kedua remaja tersebut kemudian dibawa ke Mapolsek Lembah Seulawah untuk diamankan. Namun karena warga juga ingin mendatangi Polsek, pasangan tersebut dibawa ke Mapolres Aceh Besar untuk mencegah hal-hal tidak diinginkan.

“Tadi malam sekitar pukul 03.00 WIB keduanya kita bawa ke Satpol PP dan WH Provinsi. Sementara mereka ditahan di sana karena di Satpol PP-WH Aceh Besar fasilitasnya kurang memadai,” ungkapnya.
(agse/asp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kerap Disalahkan, Istri Tikam Suami Saat Tidur Pulas di Ranjang

Liputan6.com, Pelalawan – Ketidakharmonisan rumah tangga Naatulo Laia dengan istrinya Rosmawati Nduru berujung pembunuhan. Sang suami yang berusia 36 tahun itu ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan pada Jumat, 22 Februari 2019.

Kejadian di Desa Pangkalan Panduk, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, itu sontak membuat warga sekitar heboh. Apalagi pelakunya adalah istri korban.

Kapolres Pelalawan AKBP Kaswandi Irwan mengatakan, pelaku ditangkap tidak lama setelah polisi mendapat informasi dari masyarakat. Pelaku sempat menyatakan tak sengaja dengan alasan membela diri.

“Sebelum kejadian bertengkar dengan suaminya. Korban marah dan pelaku menyerangnya pakai pisau dan menangkis hingga kena leher suaminya itu,” kata Kaswandi, Minggu petang, 24 Februari 2019.

Kecurigaan petugas timbul setelah melakukan olah tempat kejadian perkara. Petugas menduga, dua luka di leher bagian kiri korban bukanlah akibat tangkisan melainkan pembunuhan. Hal ini diperkuat dengan dalamnya luka leher yang hampir tembus ke pundak.

Polisi juga menemukan satu pembalut bantal di pohon pisang belakang rumah. Kemudian ditemukan pula kain bantal basah di kamar mandi dan masih ada bercak darah.

“Patut diduga korban berusaha menghilangkan barang bukti. Anggota lalu memeriksa intensif hingga akhirnya pelaku mengaku telah sengaja membunuh suaminya,” terang Kaswandi.

Kepada petugas, pelaku mengaku beraksi ketika korban tertidur lelap. Pelaku diam-diam keluar dari kamar mengambil pisau dapur lalu mengarahkan ke leher korban.

Dalam kasus ini, pisau yang masih ada bercak darah dan dua sarung bantal dijadikan barang bukti. Berkas tindak pidana tersangka juga dilengkapi dengan memeriksa sejumlah saksi di desa itu.

“Motifnya karena dendam, sakit hati sering dimarahi dan apapun yang diperbuat tidak membuat korban senang. Sering disalahkan pelaku ini oleh korban,” jelas mantan Kasubdit I Reserse Kriminal Khusus Polda Riau ini.

Saksikan video pilihan berikut ini: