Kebosanan

Jakarta – Ken menemukan secarik foto istrinya dengan seorang laki-laki di dalam laci dapur sewaktu mencari sendok untuk mengaduk kopi. Di dalam foto itu rambut panjang istrinya tergerai, bibirnya mengenakan lipstik tebal berwarna merah dan ia tertawa hingga mulutnya terbuka lebar. Si laki-laki -yang tak asing baginya- bertubuh tambun, berambut lebat, dan merangkul istrinya dengan senyum menyenangkan.

Mereka sama-sama mengenakan seragam kaos berwarna hitam pekat yang tampak mencolok dengan kulit keduanya yang putih bersih.

Nadine membuka pintu depan, melempar sepatu hak tinggi sembarangan kemudian menuju dapur dengan sedikit berlari. Ken memasukkan foto ke ke tempat semula, mengambil sendok dari kotak peralatan di dalam laci, dan dengan tenang mengaduk kopi.

“Kau sedang apa? Aku membawa roti kukus.”

“Membuat secangkir kopi. Kau mau?”

“Iya.”

Nadine membuka bungkusan plastik berisi dua kotak roti kukus dengan masing-masing rasa melon dan coklat. Cahaya sore dari barat menembus jendela dapur dan menerpa wajahnya yang tampak sedikit girang. Ia membuka kotak rasa melon, mengiris jadi enam bagian, kemudian menuju kulkas menaruh kotak kukus yang satunya.

Ken mengaduk secangkir kopi hingga berbunyi klinting-klinting. Dari dapur mereka aroma kopi menguar samar-samar, bercampur harum parfum Nadine yang beraroma tumbuh-tumbuhan namun agak manis.

Nadine menandaskan sepotong kukus, menerima secangkir kopi dari Ken, lalu menyesapnya lambat-lambat. Di sampingnya Ken duduk dan mengambil sepotong kukus yang tidak begitu ia sukai. Ia makan pelan-pelan seraya menahan rasa manis yang terasa tajam di lidah.

“Kau tidak belikan aku roti bakar ya?”

“Besok kubelikan roti bakar. Hari ini makan itu saja.”

Nadine meraih lagi satu potong kue. Remah-remah keju berceceran di meja makan.

“Bagaimana pertemuan dengan Luki?”

“Luki bilang tidak sabar ingin mengedit naskahku.”

“Bagus.”

Handphone Ken bergetar. Ia mengeluarkannya dari saku lalu memainkannya sambil menopangkan tangan pada dagu. Nadine berjalan mencari majalah di ruang tamu, lalu duduk kembali dengan dua buah majalah. Kini mereka duduk saling berhadapan. Saling diam.

“Bagaimana pusingnya?” Ken memecah keheningan lima menit kemudian.

“Sudah sembuh. Obat dari dokter kemarin manjur,” ujar Nadine tanpa mengangkat kepala.

“Kau harus banyak istirahat. Kau sering sakit kepala belakangan ini.”

“Kalau bukuku sudah selesai, semua akan berjalan normal kembali,” tukas Nadine sambil meregangkan badan dan menekan-nekan punggung sebentar. Sudah sebulan ini pegal-pegal menerjang tulang leher dan punggungnya. Ia kesal karena tak bisa menyempatkan diri mengunjungi tukang pijit.

Ken berkali-kali melirik wajah Nadine yang berubah muram dan sedikit khawatir karena gerak-gerik istrinya yang kelihatan sekali merasa tak nyaman.

“Kau bisa menulis dengan tenang di rumah.” Ken ingin Nadine berhenti bekerja.

Nadine memahami maksud perkataan Ken. “Aku sudah bilang kalau aku suka orang-orang di kantor.”

Nadine bekerja sebagai redaktur cerpen di sebuah media online nasional. Ia telah bekerja selama tiga tahun di mana selama itu ia juga menyelesaikan dwilogi novel setebal 200 halaman yang digemari anak-anak muda di toko buku. Ken bekerja sebagai dosen psikologi di sebuah universitas swasta selama empat tahun.

“Lelah bikin kau sakit-sakitan. Dulu kau terbiasa bekerja di rumah.”

“Aku suka orang-orang di sana.” Nadine mengulangi kembali perkataannya dengan suara agak tinggi, “Atmosfer kantor menyenangkan. Aku kesepian jika di rumah.”

“Baiklah. Kau sudah berkali-kali mengatakan itu,” kata Ken.

“Dan kau berkali-kali membujukku.”

Ken mengambil sebungkus rokok dari saku celana dan menyalakan satu. Dari mulutnya selapis asap tipis mengepul dan berputar-putar ke udara. Ia melirik Nadine sejenak, sebelum matanya beredar mengelilingi dapur yang telah ia pakai selama 8 tahun bersama sang istri, dari rumah yang dibelikan orangtuanya di awal pernikahan mereka; ada kulkas dua pintu, lemari-lemari dapur yang berwarna putih susu, peralatan masak aneka bentuk yang tak semua ia tahu namanya. Semua bersih cemerlang seperti tak pernah dipakai. Nadine dulu suka membeli alat-alat dapur meskipun tak bisa memasak.

“Nadine?” Ken belum selesai bicara ketika Nadine memotongnya dan menatap serius. “Kau sungguh lupa kalau dokter bilang aku harus menghindari asap rokok? Batuk parahku baru saja sembuh. Kau harus pindah sekarang.”

Ken terkesiap. Selama beberapa detik ia terpaku menatap istrinya, sebelum akhirnya tersadar dan menjawab singkat, “Eh, iya. Maaf, sayang.”

Ken berjalan ke ruang tamu dengan lesu seperti bocah yang baru dibentak ibunya. Sepintas Nadine mengawasi suaminya kemudian meneruskan membaca. Ia kini sendirian. Kue kukus tinggal tiga potong dan kopinya telah diminum setengah. Ia membolak-balik majalah tanpa benar-benar membaca dan hanya bertahan dua menit. Setelah itu ia menyandarkan punggung dan entah kenapa hatinya merasa kesepian.

***

Pukul 23.00. Ken baru saja membuka halaman tiga puluh novel Orang Asing ketika Nadine masuk kamar selepas gosok gigi. Di sisi ranjang seraya menyelonjorkan kaki, ia melepas ikatan rambut, menyisirinya dengan tekun lalu tidur dengan punggung menghadap suaminya.

“Kasur empuk tidak nyaman untuk punggungku, Ken.”

“Berbaringlah.”

Nadine berbaring dan seketika merintih pelan begitu punggungnya menyentuh kasur. Alas empuk tak bisa menopang sakit punggung dengan nyaman. Punggungnya, yang berjam-jam dipakai untuk duduk menghadap komputer hingga tegang, butuh tekanan dari alas tidur yang keras. Sudah satu bulan ini ia menggelar tikar di lantai, lalu tidur di sana hingga pagi. Ken tetap tidur di kasur.

“Tidurlah di sini. Tidur di lantai tak baik untuk orang yang baru sakit batuk.”

Nadine menyandarkan kepala ke bahu suaminya, lalu melirik huruf-huruf pada buku tanpa membaca apapun. Ia lupa apakah dulu bahu Ken sekeras ini. Apakah Ken jadi tambah kurus? Sudah berapa lama ia tidak bersandar padanya?

“Kenapa kau membaca ini?”

“Hanya ingin membaca lagi.”

“Dulu kau sudah khatam berkali-kali. Kenapa membaca lagi? Kau tiba-tiba ingin jadi Meursault ya?”

“Iya. Supaya tak tersiksa oleh banyak keinginan dan harapan.”

Nadine tertawa. Di tahun-tahun yang tidak ia ingat jelas, mereka pernah membicarakan ini. Nadine bertanya apakah suaminya ingin jadi Meursault dan Ken persis menjawab seperti sekarang. Meskipun saat ini terasa berbeda. Apa yang berbeda? Nadine merasakan emosinya terganjal suatu hal yang tidak tuntas ia pahami. Rasanya tidak menyenangkan dulu. Di dapur, kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, di setiap sudut-sudut tempat gairah mereka dulu pernah sangat panas dan menyengat. Di kepalanya berlompatan kenangan baik dan buruk bagai malaikat dan iblis yang tengah berperang memperebutkan otaknya. Ia buru-buru mengosongkan pikiran dan beringsut membelakangi suaminya lagi.

“Mau tidur ya?” tanya Ken.

“Iya.”

“Tidurlah.”

Nadine baru menutup mata saat tangan Ken menggerayangi perutnya.

“Kenapa, Ken?”

“Kau masih takut mencoba lagi?”

Nadine seperti bangkit dari kantuk. Kata-katanya menyerang Ken.

“Empat kali dengan usia kandungan lebih dari enam bulan. Kau tidak tahu seberapa sakit kehamilan yang gagal, lalu bayi harus dikeluarkan dari tubuhmu.”

“Aku mengerti, sayangku.”

“Jarum suntik, pisau bedah, tangisan siang-malam, semua membikin aku trauma.”

“Iya, tolong hentikan.”

“Rasa sakitnya menempel seperti parasit.”

Ken berpikir ia akan mendengarkan istrinya sampai akhir, tetapi kemudian Nadine berhenti bicara. Ia diam begitu saja seperti mesin yang kehabisan bahan bakar. Sepertinya ia terlalu lelah untuk menggali lagi hal-hal buruk.

***

Paginya, Ken bangun dua kali. Pukul 04.00, ia buang air kecil dan membasuh wajah. Di kaca kamar mandi, ia memelototi muka selama lima menit lalu kembali tidur karena masih mengantuk. Nadine terlelap, masih membelakanginya. Pukul 05.00, ia bangun dengan agak kaget ketika sadar Nadine tengah memandanginya dengan muka selidik.

“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”

Ken tidak merasa Nadine bersikap aneh. Sudah puluhan kali -pada waktu-waktu yang tidak bisa ditebak- istrinya tiba-tiba mengajak bicara macam-macam serupa orang yang hendak menginterogasi. Ia berkata itu bahan untuk menulis novel.

“Bicaralah.” ujar Ken seraya mengumpulkan kembali kesadaran.

“Kenapa kau ingin jadi Meursault?”

Ia pernah menanyakan itu.

“Mungkin karena ia tidak takut mati.”

“Memangnya kau takut mati?”

“Aku hanya takut jika kehidupanku berakhir. Tak ada lagi kesadaran. Mati tak menghentikan hidup. Mungkin malah membuka jalan untuk lahir kembali dan menata ulang semuanya.”

Nadine mengabaikan jawabannya dan tiba-tiba melompat membicarakan hal lain.

“Sebenarnya apa yang ingin kita capai dari hubungan ini? Kau menemukan fotoku dan Luki di laci dapur? Aku sengaja menaruhnya di sana.”

“Iya. Kenapa kau menaruhnya di sana?” Ken tak mengerti sikap istrinya.

“Entahlah. Aku pacaran dengan Luki. Sudah sekitar 5 bulan ini. Aku tidak bisa melupakan Dewi.”

“Apakah pacaran dengan Luki membuatmu merasa impas?” Ken tidak sadar mengatakannya, kemudian merasa sangat menyesal.

“Tidak!” Nadine bangkit dan duduk dengan ekspresi terluka.

“Aku sudah tidak bersama lagi dengan Dewi selama hampir satu tahun!” bentak Ken.

“Iya, Ken. Tetapi rasa sakitnya masih bersamaku dan tak bisa pergi. Saat orang yang paling kau percaya berkhianat, kau akan berpikir bahwa kau tak sebaik dulu. Dan kita tak bisa memercayai mereka lagi. Bagaimana mencintai jika tak bisa percaya?”

“Aku tidak ingin bertengkar.”

“Kenapa kau dulu bersamanya? Oh ya, aku ingat bahwa awalnya kau hanya butuh teman bicara. Padahal kau tak pernah mengajakku bicara.”

“Tolong, hentikan.” Ken memelas. Ia mencoba meraih tubuh istrinya, namun gagal. Nadine berkelit dan terus-menerus mencercanya.

“Kita semakin tua tetapi hubungan ini tak mendewasa. Kita mulai sadar bahwa dulu kita tak benar-benar saling mencintai. Dan sekarang pernikahan ini terasa seperti perangkap.”

“Tolong. Aku ini mencintaimu, Nadine.”

Nadine seperti hendak berbicara lagi namun kemudian tangisnya pecah. Ken mendekat. Kini mereka duduk di atas kasur dengan Nadine yang menangis pilu dalam pelukan suaminya.

Pagi itu selaput tipis kehampaan mengambang di antara keduanya. Nadine merintih. Tangannya mencakar-cakar pakaian suaminya seperti hewan yang terperangkap dan hendak melepaskan diri. Tubuhnya berguncang dan suaminya kehilangan daya menopangnya. Ken menutup matanya dan menghela napas pelan-pelan. Batinnya terluka. Ia tidak berminat melakukan apapun. Ia tak ingin bekerja atau menemui siapapun. Ia merasa seperti Meursault yang hendak dihukum mati dan ingin memeluk istrinya selama mungkin seolah ini terakhir kalinya ia mendekap perempuan itu.

Nurma Zain tinggal di Trenggalek, bergiat di komunitas literasi daerah Nggalek.co

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *