Kasus Ayah Tiri Banting Anak, KPAI Singgung Program Layak Anak Depok

Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan kasus ayah tiri bernama Hari Kurniawan (20) yang membanting bocah 2 tahun hingga tewas di Depok. KPAI menyinggung Pemkot Depok yang ingin mewujudkan sebagai kota layak anak.

“KPAI berharap Pemda kota Depok yang telah memiliki anugerah menuju kota layak anak kategori Nindya benar-benar menerapkan program kota layak anak,” kata Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati kepada wartawan, Senin (11/2/2019).

Dia mengatakan Kota Layak Anak tidak berhenti pada kebijakan dan percontohan. Menurutnya, situasi perlindungan terhadap anak-anak mesti ada di seluruh area kota.


“Kota Layak Anak tidak hanya berhenti pada kebijakan dan percontohan tetapi harus menyasar seluruh area kota, serta harus berdampak pada terlindunginya hak anak dari kekerasan. Pemkot Depok sudah seharusnya melakukan perlindungan anak berbasis komunitas sebagai perwujudan kota layak anak sehingga kasus sejenis tidak terjadi lagi,” tuturnya.

Rita juga menyorot kasus penganiayaan yang terjadi di Cimpaeun, Tapos, Depok. Dia mengatakan semestinya peristiwa ini tak terjadi bila orang tua memahami anak usia bayi yang masih sangat bergantung kepada orang dewasa.

“Anak usia bayi belum mampu mengekspresikan keinginan dengan baik. Ketika menangis, rewel, sudah seharusnya orang dewasa yang ada di dekatnya memberikan pertolongan. Tidak semestinya orang dewasa justru melakukan kekerasan sebagai respons anak yang menangis,” kata Rita.

Dia menambahkan, ayah tiri merupakan orang tua pengganti yang juga harus berperan sebagai pengasuh. Menurutnya, Hari harus tetap bertanggung jawab terhadap anak tirinya.

“Sudah seharusnya orang tua yang memiliki anak dan akan menikah lagi mempertimbangkan anak dalam keputusannya. Pada kasus ini, KPAI meminta proses hukum kepada ayah tiri ini tetap harus ditegakkan,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Hari membanting anak tirinya hingga tewas terjadi pada Jumat (8/2). Kejadian itu berawal dari cekcok pelaku dengan istrinya pada dua hari sebelumnya. Hari membanting korban lagi dengan alasan tidak ada makanan di rumah. Saat itu Eni sedang tidak berada di rumah sehingga dia melampiaskan emosinya dengan menganiaya korban.
(jbr/mae)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *