Kampanye Hak Pejalan Kaki, Pria Ini Rebahan di Trotoar Usir Bajaj

JakartaKoalisi Pejalan Kaki kembali melakukan kampanye agar kendaraan bermotor tidak melintas di trotoar. Kali ini, salah satu anggota koalisi, merebahkan badannya untuk mengusir bajaj yang tengah melintas di trotoar.

“Ya, memang lagi ada kegiatan rutin Jumatan. Posisinya lagi ada di sana. Itu lagi klimaksnya traffic. Di belakangnya itu (bajaj, red) ada motor dan ada mobil juga,” kata Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, saat dihubungi, Sabtu (10/11/2018).

Alfred mengatakan aksi itu dilakukan rutin tiap Jumat. Aksi kemarin dilakukan di Jalan Suryopranoto, Gambir, Jakarta Pusat. Bajaj tersebut kemudian turun dari trotoar dan kembali ke jalan raya karena pria tersebut tetap rebahan.

Dia mengatakan aksi itu dilakukan untuk memberi edukasi kepada pengendara. Dia mengatakan kondisi di lokasi tersebut sudah lebih baik dibanding beberapa bulan lalu. Dia mengatakan berbagai cara edukasi dilakukan, termasuk dengan cara rebahan di jalan.

“Sebelum lebaran itu di lokasi itu penuh kendaraan, ada mobil, motor. Kita lakukan itu kan soalnya kalau nabrak pidana. Tapi pejalan kaki mengapresiasi. Ini hampir tiap hari begini, tidak ada petugas,” ujar Alfred.

Tak hanya kepada pengendara yang melintas di trotoar. Alfred mengatakan koalisi juga memberi edukasi kepada pejalan kaki sebab di lokasi tersebut banyak ditemui orang yang menyeberang dengan sembarangan.

“Kita lakukan edukasi ke pejalan kaki juga. Di situ kan penyeberangan minim. Masyarakat ambil simpel aja, mereka menyeberang di tengah. Kita beri edukasi jangan sembarangan, kita nggak tau emosional pengendara juga,” tuturnya.

Alfred bersama rekan-rekan terus melakukan kampanye di tempat-tempat berbeda tiap minggunya. Lokasi yang dipilih didasarkan pada banyaknya aduan dari pejalan kaki yang disampaikan ke aplikasi Koalisi Pejalan Kaki yang bisa dilakukan lewat smartphone.

Koalisi Pejalan Kaki menyesalkan kesadaran pengendara yang masih minim. Menurut mereka trotoar yang diokupasi kendaraan bukan disebabkan kultur pejalan kaki yang belum terbangun.

“Ada satu kalimat yang disampaikan Koalisi Pejalan Kaki tiap kampanye, ‘bukan kultur pejalan kaki yang belum terbangun, tapi kultur pejalan kaki yang dimatikan’,” kata dia.

Menurut mereka, masalah trotoar bukan cuma ada di Jakarta Pusat. Trotoar mesti lebih banyak dibuat layak untuk pejalan kaki di wilayah lain Jakarta. Selain itu mesti ada tindakan tegas saat ada pihak yang merampas hak pejalan kaki.

“Kan Pemprov DKI sudah keluar anggaran besar untuk perbaikan trotoar. Tapi okupasi fasilitas pejalan kaki terus terjadi, trotoar juga cepat rusak. Setiap yang sudah dibangun bagus-bagus, tetap diokupasi PKL, motor, tiang reklame. Itu yang harus disikapi,” ucap Alfred.

(jbr/fdn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *