Operasi Penyelamatan Pahu di Kalimantan

Liputan6.com, Balikpapan – Pagi-pagi, Pahu (20) terlihat bersemangat menapaki sekeliling boma, kandang buatan hutan Kelian Kutai Barat (Kubar) Kalimantan Timur (Kaltim). Sesekali badak betina seberat 356 kilogram ini mengendus sekaligus menukil tanah mempergunakan moncongnya di kubangan lumpur.

Hewan mamalia besar bernama latin decerorhinus sumatrenis ini sepertinya sedang mencari sisa makanan.

“Pagi hari memang merupakan jadwalnya masuk kandang rawat untuk meminta makan,” kata Koordinator Tim Rescue Badak Kalimantan, Arif Rubianto, beberapa waktu lalu.

Rutinitas Pahu memang seperti itu setiap paginya. Badak Sumatra ini gemar menikmati ragam pakan dedaunan dan buah buahan khas Kalimantan. Satwa langka yang ditemukan di Kubar ini menyukai tiga jenis makanan, yakni rumpun semak, akar pohon (liana), dan buah nangka.

Kedatangan pawang sembari membawa keranjang pakan pun tidak luput perhatiannya. Salah seorang keeper tim rescue ini cukup mencicit menirukan bunyi persis disuarakan badak. Suaranya persis lumba-lumba yang dibunyikan terus menerus.

“Kadang kala suaranya seperti kicauan burung,” papar Arif.

Seolah paham panggilan makan, Pahu setengah berlari memasuki kandang. Badak Sumatra ini lahap menikmati pakan segar kegemarannya.

Kala badak asyik bersantap dimanfaatkan tim medis mengobservasi kesehatan fisiknya. Seluruhnya diperiksa, mulai ujung kepala hingga setiap pangkal buku kakinya.

Kesimpulannya, badak Pahu dalam kondisi prima. Kesehatannya terus membaik terlihat dari peningkatan signifikan berat badannya menjadi 356 kilogram. “Berat badan badak semula hanya 320 kilogram.  Sekarang sudah naik dan kesehatannya normal,” ungkap Arif.

Selama tiga bulan terakhir, Pahu memperoleh penanganan khusus dari tim medis maupun pawang. Tidak sembarang orang diperkenankan berinteraksi dengan badak yang statusnya sangat terancam ini. Salah satu alasannya, menjaga agar badak tidak berlaku jinak terhadap manusia.

“Nantinya badak akan dilepaskan di alam liar. Hanya keeper khusus yang boleh memberi makan mempergunakan tangan. Petugas lainnya dilarang mendekati pagar perawatan,” ujar Arif.

Selesai memperoleh perawatan, Pahu lantas dibiarkan kembali ke kandang utamanya berukuran 50 x 80 meter. Tempat dimana ia menghabiskan waktunya seharian bermalasan.

2 dari 3 halaman

Badak di Belantara

Kegiatan badak terbilang monoton, berkubang dalam lumpur, menggosok badan, makan siang, berendam air, tidur siang, makan sore, tidur malam hingga dilanjutkan pagi harinya.  

“Seluruh aktifitasnya terekam dalam cctv di pagar kandang,” ungkap Arif.

Selama itu pula, mereka mengidentifikasi ciri fisik badak setinggi 101 centimeter dan berat 356 kilogram. Ukuran badannya terbilang kerdil bila dibandingkan sejawatnya badak sumatra berukuran lebih kekar setinggi 145 centimeter dan berat 800 kilogram.

Selain itu, gigi seri badak kalimantan saat dihitung sebanyak empat buah, sedikit lebih banyak dari badak sumatra hanya dua buah.

Uniknya lagi, ciri fisik badak kalimantan pun berbeda dengan kerabat dekatnya, badak di Sabah Malaysia. Badak negeri jiran sedikit lebih besar dengan tinggi 120 centimeter dan berat 550 kilogram.

Hanya memang, kajian genetiknya menempatkannya dalam rumpun populasi badak sumatera. Soal keberadannya ribuan kilometer di Kalimantan masih misteri. Belum ada penjelasan ilmiah keberadaan badak Sumatera di Kalimantan.

Pahu sendiri terperangkap lubang jebakan tim rescue di sekitar Sungai Kedang Pahu Kabupaten Kubar Kaltim, November lalu. Lokasi penemuan badak berdekatan dengan Sungai Pahu yang merupakan salah satu anakan Sungai Mahakam.

Nama sungai ini lantas diabadikan sebagai nama temuan badak kalimantan.

Penangkapannya merupakan prestasi sendiri mengingat tim berjibaku memburu badak kalimantan sejak tiga tahun terakhir. Mereka awalnya hanya menelusuri mitos soal keberadaan satwa langka badak di belantara.

Selama bertahun tahun, masyarakat Kaltim mendengar rumor kawanan badak. Informasinya bersumber dari warga adat dan pegawai perkebunan. Sayangnya memang belum ada bukti otentik keberadaannya.

Titik terang fakta keberadaannya mulai terkuak dua tahun silam, bulan Maret 2016. Tim rescue mendapati badak berusia 10 tahun terjerat senar jebakan pemburu. Badak malang lantas di evakuasi ke kantong populasi I Kubar.

Sayangnya, badak dinamai Najag ini gagal bertahan hidup. Badak sumatra ini menderita infeksi akut di kaki kirinya dimana terdapat luka jeratan sedalam 1 centimeter.

Peristiwa ini sepertinya menjadi pembelajaran tim rescue badak. Mereka akhirnya extra hati hati dalam penyelamatan penanganan badak yang populasinya diperkirakan tersisa tiga ekor di Kalimantan.

“Petugas rescue ada 40 orang yang mengawasi aktifitas badak selama 24 jam,” tutur Arif.

3 dari 3 halaman

Mencarikan Jodoh Pahu

Tim rescue ini pun akhirnya memperluas area pemantauan hingga masuk perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Kerja kerasnya terjawab dengan ditangkapnya Pahu di suatu kawasan di Kalbar.

Saat bersamaan, penggiat lingkungan sedang mengupayakan aktifasi pembangunan suaka badak seluas 6.700 hektare berlokasi di Kelian Kubar. Lokasi suaka ini nantinya bisa menjadi pusat perkembangbiakan satwa badak di Kalimantan.

“Temuan Pahu menjadi awal pembibitan badak,” ungkap Arif.

Sementara ini, sudah tersedia sarana kandang khusus perawatan, pembibitan, dan infrastruktur tim rescue lapangan. Secepatnya akan ditambah sarana baru seperti pedok, kandang rawat, karantina, klinik satwa, pondok pawang, pembibitan pakan, dan infrastruktur.  

Manusia harus campur tangan aktif dalam upaya penyelamatan keberlangsungan badak di Kalimantan. Proses perkembangbiakan diupayakan dengan mengawinkan spesies badak yang sama. Tugas utama adalah mencarikan badak jantan dijodohkan dengan Pahu.

“Ini program jangka panjang yang akan berlangsung selama 25 hingga 100 tahun kedepan,” tegasnya.

Tim rescue mencari kelompok kawanan Pahu yang masih tersisa. Bukan perkara gampang mengingat luasnya medan harus dijangkau. Apalagi mereka mengejar waktu dengan para pemburu liar.

Tim rescue memasang lubang jebakan di sejumlah lokasi perlintasan badak. Pemasangan jebakan diperluas hingga memasuki wilayah perbatasan di Kaltara dan Kalteng. “Kalau ada badak pejantan akan dikawinkan dengan Pahu,” sebutnya.

Di sisi lain, tim pun berjibaku membaca berbagai informasi dari camera trap sudah terpasang. Petugas melawan berbagai kendala seperti faktor cuaca, sulitnya medan hingga non teknis. “Sebelum turun di lapangan ada pelatihan dulu bagi pemula,” tuturnya.

Kalimantan Program Director WWF Indonesia Irwan Gunawan mengabarkan, Pahu merupakan sub spesies badak baru dunia. Badak ini memiliki kekerabatan yang erat dengan badak sumatra. Uji tes DNA sedang dilakukan guna memperkuat teori genetik badak ini.

“Ada kecenderungan temuan sub genetis spesies baru badak,” ungkapnya.

Irwan mengatakan, keberadaan badak kalimantan terungkap berkat masifnya eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan. Sejumlah wilayah jelajah badak sudah beralih rupa menjadi kawasan terbuka seperti pemukiman warga, pertambangan, dan perkebunan.

Hanya saja memang populasi badak ini berada dalam ambang gawat nyaris punah. Soal ini, WWF menjadi salah satu non goverment organization (NGO) yang mendorong realisasi pembentukan lokasi suaka di Hutan Restorasi Kelian Kubar.

Pihak pemerintah, dalam hal ini Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Sunandar tetap menguatarakan optimisnya dalam upaya penyelamatan badak. “Populasi kemungkinan badak masih tersisa 10 hingga 12 ekor. Keberadannya tersebar merata di seluruh hutan Kalimantan,” sebutnya.

Lokasi dugaan kuat perlintasannya sudah diketahui, hanya belum bisa di publikasi. Khawatirnya merangsang pihak lain melakukan perburuan.

Seluruh badak badak nantinya akan direlokasikan ke Hutan Kelian Kubar. Hutan ini menjadi pusat perkembangbiakan berkelanjutan badak kalimantan. Campur tangan manusia diharapkan mendorong populasinya menjadi 20 ekor.

Langkah terakhir adalah menetapkan lokasi hutan tempat pelepasliaran kawanan badak. BKSDA Kaltim menghubungi sejumlah daerah yang menyatakan kesediannya menjadi lokasi pelepasliaran badak. “Ada beberapa daerah bersedia menjadi lokasi pelepas liaran badak,” tegasnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Dikira Anjing, Serigala Buas Diselamatkan dari Sungai Beku Estonia

Jakarta

Sejumlah pekerja baik hati di Estonia bergegas menyelamatkan seekor anjing yang terjebak di sebuah sungai beku. Namun para penyelamat itu tak sadar bahwa mereka sebenarnya tengah memasukkan serigala liar ke mobil mereka.

Pekerja proyek Bendungan Sindi di Sungai Parnu itu tengah bekerja, Rabu (20/02), tatkala mereka melihat binatang terjebak di perairan yang beku.

Setelah membersihkan jalur menuju es, mereka mengangkat dan melarikan anjing bertaring itu ke klinik untuk perawatan medis darurat.

Belakangan, mereka diberitahu bahwa binatang yang mereka gendong adalah seekor serigala.

Perkumpulan untuk Penyelamatan Binatang Estonia (EUPA) menyebut tekanan darah serigala itu sangat rendah ketika tiba di kantor dokter hewan. Fakta itu menjelaskan mengapa serigala tersebut jinak saat diangkut ke mobil.

Salah satu kelompok penyelamat, Rando Kartsepp, berkata ia dan rekan-rekannya harus menggendong serigala itu menuruni lereng.

“Binatang itu sangat berat. Dia tenang dan tidur di kaki saya. Ketika saya hendak merenggangkan tubuhnya, dia sempat mendongakkan kepalanya,” kata Kartsepp.

Sejumlah dokter hewan curiga pada tabiat alamiah ‘anjing’ itu. Tapi binatang itu adalah hewan pemburu, akrab dengan gerombolan serigala di kawasan tersebut.

Dan akhirnya informasi itu terkonfirmasi: binatang yang diselamatkan itu adalah serigala jantan berusia sekitar satu tahun.

Sejak saat itu, staf klinik memutuskan untuk menempatkan serigala tersebut di kandang usai penanganan medis. Mereka mengantisipasi jika serigala itu mendadak buas setelah pulih.

EUPA mengklaim membayar seluruh tindakan medis yang diberikan pada serigala itu. Mereka lega karena proses penyelamatan berlangsung lancar.

Beberapa hari setelah penyelamatan, serigala itu selamat setelah bergelut melawan kematian. Tim ilmuwan dari Badan Lingkungan Nasional Estonia menempelkan sistem pemosisi global (GPS) ke tubuh binatang itu, lalu membebasliarkannya.

“Kami bahagia dengan akhir cerita ini dan berterima kasih pada setiap pihak, terutama orang-orang yang menyelamatkannya dari sungai dan para dokter di klinik yang tak takut menghadapi sifat buas alamiahnya,” kata EUPA dalam keterangan mereka.

Estonia adalah rumah bagi ribuan serigala dan hanya sedikit dari mereka yang dijaring dalam beberapa tahun terakhir. Mereka kerap menghindari perjumpaan dengan manusia.

Kelompok pegiat lingkungan tahun 2018 menetapkan serigala sebagai binatang sekaligus simbol Estonia.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kawanan Gajah Masih Betah di Kebun Warga

Liputan6.com, Pekanbaru- Belasan Gajah Sumatera sepertinya masih betah mengitari sejumlah kebun warga di Desa Maharani, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Sejauh ini belum ada tanda-tanda satwa berbelalai dan bongsor itu meninggalkan lokasi sejak datang beberapa hari lalu.

Pemilik lahan kelapa hybrida, kelapa sawit, pisang serta tanaman lainnya belum berani menjenguk kebunnya. Mereka hanya pasrah tanaman mereka dicabut lalu dimakan oleh satwa bernama latin Elephas Maximus Sumatrensis ini.

Beberapa personel dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan pawang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas sudah di lokasi memantau pergerakan kawanan gajah dimaksud. Kewaspadaan tinggi menjadi syarat penanganan karena sewaktu-waktu gajah bisa menyerang.

“Sudah dari malam sampai pagi tadi kami ikuti, sekarang kami masih di lokasi,” terang pawang gajah dari PLG Minas, Widodo pada Selasa petang, 19 Februari 2019.

Selama di lokasi, Widodo mengaku sudah melihat kawanan gajah yang meluluh-lantakkan puluhan batang kelapa hybrida milik Mangido Nababan. Secara perlahan, dia mengiring gajah itu untuk kembali masuk ke hutan.

Hingga kini, penggiringan masih dilakukan secara manual. Petugas mengikuti gajah dari belakang dan membuatnya supaya kembali lagi ke hutan di kawasan Minas.

Petugas di lapangan juga dibekali mercon atau alat-alat yang menimbulkan suara jika dipukul. Hanya penggunaannya tak sembarangan karena dibawa untuk jaga-jaga jika gajah mendekat. “Mercon ada, itu alat kita. Digunakan sewaktu-waktu saja, untuk jaga-jaga saja,” sebut Widodo.

2 dari 2 halaman

Kelompok 11

Sejauh ini, Widodo belum berniat mengerahkan gajah jinak dari PLG Minas. Menurutnya hal itu dilakukan jika penggiringan secara manual dan bunyi-bunyian sudah tidak ampuh lagi.

“Kalau kuwalahan baru dikerahkan gajah jinak, di PLG itu ada 17 ekor,” sebut Widodo.

Penuturan Widodo, gajah itu sudah dua hari masuk ke kebun warga. Hanya saja warga tidak melapor karena pihak RT yang sering berkomunikasi dengan PLG ataupun BBKSDA Riau tidak berada di desa tersebut.

“Malahan kami tahu dari media, makanya turun ke lokasi,” sebut Widodo.

Sementara itu, Kabid II BBKSDA Riau Heru Sutmantoro menyebut kawanan gajah itu sering melintasi Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru dan Minas, Siak. Kawanan ini merupakan satu di antara beberapa kantong gajah di kawasan tersebut.

Dia memperkirakan ada 22-24 ekor gajah liar masih mendiami kantong gajah tersebut dan terbagi dalam dua kelompok besar. Untuk gajah di kebun itu, Heru menyebut masuk dalam kelompok 11.

“Mereka terus bermigrasi untuk mencari makan dan melakukan penandaan wilayah dia,” paparnya..

Belakangan, tambah Heru, habitat gajah semakin terancam dengan semakin banyaknya perkebunan sawit serta pemukiman. Hal ini membuat intensitas kemunculan meningkat karena pemukiman dan kebun buatan manusia itu termasuk home range atau area pergerakan gajah secara periodik.

Saksikan video pilihan berikut ini:

6 Kondisi pada Penis yang Bisa Jadi Pertanda Masalah Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta Seperti bagian tubuh lainnya, apa yang terjadi dengan penis bisa menunjukkan kondisi tubuh Anda. Yang menjadi masalah, pria seringkali tidak menyadarinya.

Karena itu, baik istri atau suami sendiri harus mengerti tentang berbagai kondisi yang mungkin menimpa penis dan kesehatannya. Mengutip Health pada Selasa (19/2/2019), ahli urologi dari Cleveland Clinic, Ryan Berglund memberikan 6 tanda kesehatan yang bisa dilihat dari kondisi penis.

1. Penis melengkung

Penis yang melengkung atau bengkok secara ekstrem bisa terjadi akibat Peyronie. Berglund mengatakan, kondisi itu diakibatkan oleh menumpuknya jaringan parut. Namun, para ahli belum mengetahui dengan jelas apa penyebab sesungguhnya. Beberapa mengira hal itu akibat cedera saat berolahraga.

“Jika Anda berpikir nol derajat berarti lurus dan 90 derajat adalah lengkungan ekstrem, kami biasanya akan membahas kurva yang lebih tinggi dari 30 derajat atau jika itu mengganggu hubungan seksual,” kata Berglund.

Karena pengobatannya yang bervariasi, temui dokter ahli untuk mengatasinya. Selain itu, dalam sebuah studi tahun 2017 di Fertility & Sterility pria dengan Peyronie memiliki risiko kanker lebih tinggi.

2. Benjolan di bawah kulit

Jika Anda merasakan benjolan pada penis, segera kunjungi dokter. Berglund mengatakan, ini biasanya terasa keras dan terkadang disebabkan oleh pembuluh darah. Kelenjar getah bening yang tersumbat juga bisa menjadi penyebabnya.

“Atau pria akan mengatakan bagian tengahnya keras, yang seringkali merupakan bekas luka jaringan dari Peyronie.”

Ini biasanya bukanlah kanker. Benjolan ini umumnya jinak dan bisa hilang sendiri. Namun, jika ini disebabkan oleh jaringan parut dan mempengaruhi hubungan suami istri, segera temui dokter.

2 dari 4 halaman

Bintik-bintik di penis

3. Lebih dari satu bintik kecil

Berglund mengatakan, hal ini bisa terjadi karena papula penis mutiara yang berupa bintik-bintik kecil. Biasanya, ini juga pertanda kista. Namun, pada umumnya hal itu bukanlah masalah besar. Namun, beberapa bintik mungkin pertanda masalah yang lebih besar. Misalnya seperti kutil kelami atau infeksi menular seksual.

Berglund mengatakan, kondisi ini biasanya sering terlihat seperti kepala kembang kol kecil. Untuk mengobatinya, Anda harus pergi ke dokter dan melihat apakah kondisi itu bisa dihilangkan dengan atau tanpa pengobatan.

4. Penis terluka

Luka pada penis bisa terasa tidak sakit atau malah sangat menyakitkan jika dilihat dari kondisinya. Sifilis contohnya. Anda bisa menemukan luka tetapi biasanya tidak menyakitkan dan bisa disembuhkan dengan suntikan penisilin biasa.

“Herpes juga menyebabkan sakit dan kita punya obat untuk mengurangi wabahnya,” kata Berglund.

Karena herpes atau sifilis adalah infeksi menular seksual, mintalah istri untuk ikut memeriksakan diri. Jangan sampai, dia ikut tertular penyakit tersebut.

3 dari 4 halaman

Masalah urin dan testis

5. Masalah buang air kecil

Jangan remehkan masalah saat buang air kecil. Adanya darah dalam urin, meskipun sedikit, harus mendapat perhatian besar. Berglund mengatakan, bukan tidak mungkin ini menjadi pertanda kanker. Sehingga Anda disarankan untuk melakukan pemindaian seluruh organ. Di sisi lain, jika Anda melihat warna urin merah muda atau merah, hal itu bisa menjadi pertanda batu ginjal, infeksi kandung kemih, atau cedera.

Masalah lain seperti retensi kandung kemih juga biasanya merupakan hasil pembesaran prostat yang jinak. Namun, Berglund tetap meminta Anda melakukan skrining kanker prostat sekalipun merasa tidak ada masalah.

Jika ada riwayat keluarga atau pasangan, penting untuk melihat pertanda awal kanker prostat sebelum timbul gejalanya. Biasanya, tes darah juga bisa dilakukan untuk melihat kondisi tersebut.

6. Benjolan di testis

Walaupun bukan berada di batang penis, namun masalah di testis bisa mempengaruhi keseluruhan organ intim pria. Jika ada benjolan terasa sakit di testis, bisa jadi ini adalah infeksi dan butuh antibiotik untuk menyembuhkannya.

Yang harus diwaspadai adalah torsio testis. Kondisi ini terjadi ketika tali yang memasok darah ke testis bengkok dan terputus. Biasanya ini menyebabkan cedera dan disertai gejala seperti demam, mual, skrotum bengkak, hingga sakit perut. Jika ini terjadi, segeralah bawa ke gawat darurat karena ini harus cepat ditangani.

Kondisi lain yang harus diwaspadai adalah kanker testis. Berglund mengatakan, kondisi ini biasanya terjadi di antara pria berusia 15 sampai 45 tahun. Namun, penyakit ini bisa diobati dengan deteksi dini.

4 dari 4 halaman

Saksikan juga video menarik berikut ini:

Polisi Papua Beri Sanksi Anggotanya yang Interogasi Tahanan dengan Ular

JayawijayaUlar Getty Images Ular hidup itu dililitkan ke leher pria terduga pencuri telepon genggam yang kemudian melahirkan kemarahan setelah videonya beredar luas di masyarakat. (Foto ilustrasi)

Polda Papua berjanji akan mengeluarkan sanksi bagi anggotanya di Polres Jayawijaya, Papua, yang terekam menginterogasi seorang terduga kasus pencurian dengan menggunakan ular.

Ular hidup itu dililitkan ke leher pria terduga pencuri telepon genggam yang kemudian melahirkan protes sejumlah kalangan setelah videonya beredar luas di masyarakat.

Pejabat kepolisian setempat kemudian meminta maaf atas “tindakan menyimpang” salah-seorang anggota dan berjanji akan “memberikan sanksi” kepada yang bersangkutan.

“Hukumannya bisa ada macam-macam, mulai teguran lisan, tertulis, hingga ditahan di tempat tertentu (selama)seminggu, dua minggu atau tiga minggu,” kata Kepala sub bidang penerangan masyarakat Polda Papua, AKBP Suryadi Diaz, kepada BBC News Indonesia, Senin (11/02).

Saat ini, lanjutnya, kasus ini sudah ditangani oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Divisi Propam) Polda Papua, karena dianggap melakukan pelanggaran aturan disiplin.

“Itu (tindakan yang dilakukan anggota polisi) nakal, tidak profesional,” tambahnya. “Tidak dibenarkan cara selain melakukan pertanyaan dan mengumpulkan bukti-bukti.”

Dalam video yang beredar di masyarakat, terlihat petugas polisi melilitkan seekor ular hidup di leher seorang tersangka.

Tangannya terikat di belakang, dan dia dalam posisi duduk di lantai.

Petugas polisi terlihat sempat menyorongkan ular itu ke wajahnya, seraya menanyakan tentang dugaan keterlibatannya dalam kasus pencurian telepon genggam.

Dalam pernyataan sebelumnya, Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya menyatakan penggunaan ular itu merupakan inisiatif pribadi anggota polisi tersebut.

“Mungkin dia secara pribadi dongkol, karena pelaku nggak mau mengaku, padahal banyak saksi melihatnya. Jadi, dia akhirnya menggunakan cara itu (dengan menggunakan ular), ” kata Suryadi Diaz.

‘Ular itu sudah ada lama di kantor Polres’

Ular yang dilaporkan tidak berbisa dan jinak itu, menurut Suryadi, adalah milik salah-seorang anggota polisi di Polres Jayawijaya, Wamena.

“Kebetulan ular itu sudah lama di Polres,” ungkap Diaz.

Dari informasi yang diperolehnya, ular itu pernah digunakan untuk “menyadarkan” anggota masyarakat yang terjaring karena mabuk akibat menenggak minuman keras di tempat-tempat umum.

“Biasa itu, kalau malam-malam Minggu, kalau banyak orang mabuk yang tertangkap, itu dikasih tunjuk (ular) itu, mereka takut,” ungkapnya.

Metode lainnya, sambungnya, adalah merendam mereka yang tertangkap dalam kondisi mabuk itu dalam bak air. “Sampai sadar (dari mabuk) dan kemudian dipulangkan,” jelas Diaz.

Diprotes pengacara HAM

Tindakan anggota polisi menggunakan seekor ular untuk menginterogasi seorang warga Papua, dipertanyakan seorang pengacara hak asasi manusia yang menangani persoalan di Papua, Veronica Koman.

Dalam akun Tweeternya, dia mengunggah video yang menggambarkan adegan tersebut.

Dia kemudian mengklaim bahwa interograsi oleh polisi dengan menggunakan ular juga pernah digunakan terhadap seorang aktivis pro kemerdekaan.

“Mereka sudah lama tahu ular digunakan oleh polisi dan militer (dalam interogasi), “katanya, seperti dikutip Kantor berita AFP.

“Jadi mereka tidak terkejut” dengan video itu.


(mae/mae) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ketika Owa Jinak Jadi Beringas Serang Bocah di Riau

Liputan6.com, Pekanbaru – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengevakuasi seekor owa ungko dari Desa Bindur Picak, Kecamatan Koto Kampar, karena menyerang bocah berumur dua tahun.

Satwa bernama latin Hylobates agilis itu sudah berada di kandang transit BBKSDA di Jalan HR Soebrantas Pekanbaru.

Kepala Humas BBKSDA Riau Dian Indriati menjelaskan, satwa berbulu hitam itu merupakan peliharaan seorang warga di desa tersebut. Dipelihara sejak kecil, owa ungko itu sudah dewasa dan kini berusia 9 tahun.

Meski dipelihara sejak kecil, ternyata sifat liar ungko ini tak hilang begitu saja. Dia merasa terganggu dengan kehadiran bocah tetangga lalu menyerangnya hingga mengalami luka di bagian tangan.

“Kelamin ungko ini jantan, untuk korban sendiri sudah dirawat di bagian lukanya,” kata Dian kepada wartawan, Minggu (10/2/2019).

Penyerangan ini dilaporkan warga sekitar ke BBKSDA Resort Kampar. Sejumlah petugas atas perintah Kabid Wilayah II Heru Sutmantoro menuju desa itu dipimpin Kepala Resort Kampar, Salman Yasir.

“Evakuasi berlangsung beberapa jam pada Rabu, 6 Februari 2019, yang juga melibatkan perangkat desa dan warga sekitar,” kata Dian.

Dalam evakuasi, petugas dibantu warga berusaha menggiring ungko yang lepas dari kandangnya itu. Umpan dipersiapkan menuju kandang milik petugas dan ungko akhirnya masuk ke perangkap.

“Kemudian dibawa ke Pekanbaru untuk pemeriksaan medis. Ungko itu dinyatakan sehat dan akan mendiami kandang transit sebelum dilepasliarkan,” terang Dian.

Atas kejadian ini, Dian mengimbau masyarakat supaya tak memelihara satwa dilindungi. Menurut Dian, satwa liar kalau dipelihara sewaktu-waktu bisa menyerang jika merasa terancam.

“Kalau masih ada masyarakat yang memelihara sebaiknya diserahkan ke petugas,” imbau Dian.


Simak video pilihan berikut ini: