Daftar Mobil Terlaris Honda di Awal 2019

Liputan6.com, Jakarta – Honda Brio Satya dan Honda Brio RS masih menjadi model dengan penjualan tertinggi untuk Honda di Indonesia di awal tahun ini.

Tercatat Honda Brio Satya mampu terjual 4.798 unit dan menguasai 28 persen pangsa pasar di segmen LCGC.

Sementara itu, Honda Brio RS terjual sebanyak 1.699 unit di bulan Januari lalu dan memimpin pasar City Car dengan pangsa pasar hingga 87 persen.

Secara total, kedua model tersebut memberikan kontribusi hingga 65 persen dari keseluruhan penjualan mobil Honda selama Januari 2019.

Mampu mencapai angka penjualan 10.064 unit, selain kedua mobil tersebut, kontribusi untuk penjualan Honda juga datang dari produk lainnya, yakni Honda Jazz dengan penjualan 1.423 unit, Honda HR-V 1.5L sebanyak 1.171 unit dan Honda HR-V 1.8L sebanyak 357 unit.

Posisi selanjutnya ditempati Honda CR-V dengan angka 376 unit, Honda BR-V sebanyak 166 unit, Honda Civic Hatchback sebanyak 27 unit dan Honda City sebanyak 15 unit.

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Sementara itu, Honda Mobilio hanya terjual sebanyak 32 unit di bulan Januari seiring dengan berakhirnya produksi model sebelumnya.

“Penjualan Honda di segmen LCGC & City Car telah memberikan kontribusi yang signifikan dengan hadirnya generasi terbaru All New Honda Brio. Penjualan Honda di bulan-bulan berikutnya tentunya juga akan didukung penyegaran model yang kami lakukan di awal tahun ini, terutama dari Honda Mobilio dan Honda Civic yang baru saja kami luncurkan,” kata Jonfis Fandy, Marketing & After Sales Service Director PT Honda Prospect Motor.

8 Orang Indonesia yang Berhasil Harumkan Nama Bangsa di Luar Negeri

Liputan6.com, Jakarta Indonesia bukan hanya kaya akan sumber daya alamnya, namun juga sumber daya manusianya. Prestasi yang dicapai anak muda Indonesia juga patut diakui.

Sudah tidak terhitung berapa banyak anak bangsa yang mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Berbanding terbalik dengan apa yang sudah dilakukan mereka, justru karya mereka lebih banyak diapresiasi di luar negeri dari pada di negeri sendiri.

Nama-nama yang mengharumkan nama bangsa tidak hanya pada satu bidang saja, terdapat berbagai bidang mulai dari ilmu pengetahuan, seni, olahraga, bisnis, sampai dunia hiburan.

Dikutip dari TunaiKita, berikut ini ulasan mengenai siapa sajakah orang Indonesia yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di luar negeri, simak yuk!

Pemuda Indonesia yang Mengharumkan Nama Bangsa

Banyaknya pemuda-pemuda Indonesia yang mengharumkan nama bangsa dari berbagai sektor, patut diacungi jempol. Pasalnya mereka menciptakan karya-karya yang luar biasa mewakili Indonesia.

Belum lama ini misalnya, dalam ajang olahraga yakni ASIAN Games banyak atlet-atlet perwakilan dari Indonesia berhasil mengibarkan namanya mewakili Indonesia, sehingga Indonesia meraih urutan ke-4 dalam ajang tersebut. Nah, selain dalam sektor olahraga masih ada lagi orang-orang Indonesia yang berprestasi, lho.

2 dari 9 halaman

1. Rich Brian

Dalam dunia musik anak bangsa yang berhasil mengharumkan nama Indonesia adalah Rich Brian. Di usianya yang masih 19 tahun, Rich Brian sudah masuk dalam daftar “30 Under 30 Asia 2018” dalam bidang hiburan dan olahraga di majalah Forbes.

Untuk Sobat yang belum tahu, Rich Brian merupakan seorang rapper sekaligus produser dan penulis lagu. Rich Brian yang mempunyai nama asli Brian Imanuel Soemarno, merupakan pemuda kelahiran Jakarta. Memulai debutnya sebagai rapper pada 2014, dengan lagu berjudul “Dat $tick” yang diunggah ke akun YouTubenya pada Februari 2016.

Rich Brian yang lahir dan besar di Jakarta, memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Ia melatih kemampuan bahasa Inggrisnya secara otodidak dengan menonton video-video YouTube, dan mendengarkan lagu-lagu rap dunia.

Di usianya yang masih sangat muda, Brian berhasil menciptakan lagu, diantaranya berjudul “Dat $tick”, “Who Dat Be”, “Watch Out”, “Chaos”, “Glow Like That”, dan “Crisis ft 21 Savage”.

Pada 2017, Brian masuk nominasi dan memenangkan penghargaan Breakthrough Artist of The Year pada Indonesian Choice Award.

Rich Brian juga sudah berkolaborasi dengan musisi dunia sekelas Skrillex, Zhu, bahkan diundang oleh Pharell Williams.

3 dari 9 halaman

2. Demian Aditya

Nama Demian Aditya sudah tidak asing lagi di dunia sulap Indonesia. Namun, kariernya di dunia sulap tidak begitu bersinar di dalam negeri sendiri. Sampai akhirnya Demian mengikuti ajang pencarian bakat America’s Got Talent, dan berhasil memukau Simon Cowell, Howie Mandel, Heidi Klum, dan Mel B yang merupakan juri di ajang tersebut.

Orang-orang memberi respon positif terhadap Demian. Sayangnya langkah Demian di America’s Got Talent harus terhenti di perempat final. Meskipun begitu, Demian diakui sebagai anak bangsa yang membanggakan.

4 dari 9 halaman

3. Joey Alexander

Pianis asal Indonesia ini berhasil tampil di panggung utama acara penghargaan Grammy di Staples Center, Los Angeles, Amerika Serikat.

Bersama puluhan musisi terkenal lainnya, Joey yang kini berusia 15 tahun, sudah tercatat rekor melalui lagu berjudul “Giant Steps” dan album yang bertajuk My Favorite Things.

Joey menjadi musisi termuda yang masuk nominasi penghargaan Grammy untuk kategori Best Improvised Jazz Solo dan Best Jazz Instrumental Album pada tahun 2016.

5 dari 9 halaman

4. Pierre Coffin

Siapa yang tidak mengenal Minions? Karakter kuning lucu yang filmnya booming di tahun 2010 dan 2013. Bahkan sampai saat ini, kita bisa menemukan figur karakter ini dimanapun, mulai dari boneka, tas, gantungan kunci dan lain lain.

Mungkin Sobat belum mengetahui bahwa arsitek dibalik kelahiran Minions merupakan seorang pria berdarah Indonesia, Pierre Coffin. Ia merupakan putra dari penulis ternama Indonesia, N.H Dini.

Kesuksesannya membawanya bekerja sama dengan banyak selebriti Hollywood. Jika kalian tahu, pada film Minions banyak menggunakan campuran berbagai bahasa termasuk Indonesia. Dalam film tersebut terselip kata “Terima Kasih”.

6 dari 9 halaman

5. Griselda Sastrawinata

Masih di bidang yang sama, Griselda Sastrawinata merupakan wanita asal Indonesia yang sukses menjadi animator. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah karakter hijau yang besar dengan telinga yang unik, Shrek. Griselda terlibat dalam penciptaan beberapa tokoh karakter dalam film Shrek ini.

Setelah sebelumnya bekerja untuk Dreamworks, ia saat ini sukses menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di Walt Disney Studios. Griseda juga dipercaya sebagai salah satu Visual Development Artist dalam film animasi Disney yang berjudul Moana.

7 dari 9 halaman

6. Chris Lesmana

Sosok berikutnya yang berhasil mengharumkan nama Indonesia yaitu Chris Lesmana. Anda tahu mobil Volkswagen atau VW? Merek mobil asal Jerman ini ternyata mempercayakan desain VW New Beetle, yang biasa dikenal dengan mobil kodok kepada salah satu anak muda Indonesia berbakat.

Desain mobil VW lainnya yang dibuat oleh Chris adalah VW Up!, atas karya ini, Chris meraih penghargaan World Car of The Year pada tahun 2012 dan VW Golf.

Desain yang Chris ciptakan juga sudah terdaftar dalam lembaga paten Amerika Serikat pada tahun 2008. Saat ini, Chris menduduki posisi sebagai Desainer Senior di Volkswagen AG, Jerman.

8 dari 9 halaman

7. Liliyana Natsir dan Tantowi Ahmad

Kurang lengkap rasanya jika kita tidak membahas mengenai orang-orang yang mengharumkan nama Indonesia di bidang olahraga. Siapa yang tidak kenal duo Liliyana Natsir dan Tantowi Ahmad? Mendengar dua nama tersebut sudah pasti kamu mengenal mereka bukan? Ya, mereka berjasa dalam bidang olahraga, yakni bulutangkis.

Hampir selalu menang di setiap pertandingan kelas dunia, menjadikan unggulan ganda campuran Indonesia ini pernah menduduki peringkat 1 dunia.

Duo ganda campuran ini pernah menyabet tiga tahun berturut-turut di All England 2012, 2013, dan 2014. Mereka juga meraih medali emas di Olimpiade Rio tahun 2016, dan berhasil mengumandangkan lagu Indonesia Raya sehingga didengar seluruh dunia yang menyaksikan.

Namun, pertandingan di ajang Fuzhou China Open 2018 menjadi pertandingan terakhir untuk Liliyana Natsir. Liliyana memutuskan untuk gantung raket baru-baru ini. Membuat Tantowi harus mencari partner baru untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya.

9 dari 9 halaman

8. Muhammad Zohri

Masih dalam bidang olahraga, sosok Zohri menjadi sensasional setelah berita tentang dirinya yang meraih medali emas di perlombaan lari jarak pendek di Finlandia.

Ia disorot merayakan sendiri kemenangannya, bahkan harus meminjam bendera negara lain karena tidak ada yang memberikannya ketika dia akan merayakan kemenangan di podium sebagai juara pertama.

Zohri yang sudah mencintai dunia olahraga lari ini mengaku sering berlari di pinggir pantai. Berkat berita atas pencapaian prestasinya yang dihiraukan oleh pemerintah sehingga sangat inspiratif, dan berhasil viral di seluruh media.

Prestasi terbaru yang diraih Zohri adalah ia berhasil membawa harum nama Indonesia karena berhasil merebut medali perak untuk kategori lomba jarak pendek di Asian Games 2018.

Jadi Finalis Puteri Indonesia 2019, Diah Ayu Lestari Kunjungi Sekolah PAUD

Liputan6.com, Jakarta – Penyanyi Diah Ayu Lestari mengunjungi sebuah sekolah PAUD di kawasan Tanah Abang, Sabtu (9/2/2019). Kedatangan Diah karena dirinya memang sangat menyukai anak-anak dan senang berbagi dengan sesama.

Kedatangan Diah Ayu Lestari juga sekaligus untuk berbagi kabar bahagia. Perempuan yang dikenal dengan lagu-lagu jazz-nya ini menjadi salah satu finalis pemilihan Puteri Indonesia 2019. Diah mewakili DKI Jakarta 3 dengan beberapa finalis lainnya.

Diah Ayu Lestari datang ke PAUD Puspita, Tanah Abang, dengan membawa buku-buku tulis dan bacaan. Dirinya melihat PAUD yang berada di tengah kota Jakarta itu masih memiliki kekurangan sehingga dirinya ingin membantu.

“Kedatangan aku karena ingin berbagi dengan anak-anak. Di sini, aku bisa memberi informasi kepada anak-anak mengenai makanan yang sehat, bergizi. Memberikan edukasi sebagaimana mestinya,” ujar Diah Ayu Lestari dengan mimik muka semringah.

2 dari 3 halaman

Mengajar

Diah Ayu Lestari mengaku bahwa dirinya sering kali melakukan aktivitas yang berkaitan dengan anak-anak. Dirinya juga pernah mengajar di sebuah PAUD di daerah pelosok. 

“Aku pernah mengajar PAUD selama 4 bulan. Mengasyikan sekali bisa dekat dengan anak-anak. Aku memang senang dengan anak-anak,” ujar Diah Ayu Lestari.

3 dari 3 halaman

Puteri Indonesia 2019

Hal ini pula akhirnya yang menjadi latar belakang Diah Ayu Lestari untuk ikut ajang pemilihan Puteri Indonesia. Dirinya berharap bisa ikut ambil bagian untuk mengkampanyekan kekerasan terhadap anak-anak dan wanita. 

“Kalau saya melihat di Indonesia banyak kasus yang sangat memprihatinkan. Pelecehan seksual, wanita yang tidak mendapatkan keseimbangan di hukum. Intinya, saya ingin mengajak wanita untuk bilang tidak,” ujar Diah.

Mengikuti ajang pemilihan Puteri Indonesia, Diah Ayu Lestari mengaku ini pengalaman pertama yang dijalaninya.  “Saya tidak pernah ikut pemilihan sebelumnya.  Ini adalah sesuatu yang baru. Sedangkan finalis yang lain mungkin sudah berpengalaman,” pungkasnya.

Daftar Lengkap Pemenang Grammy Awards 2019

JakartaGrammy Awards 2019 akhirnya digelar. Berikut adalah daftar update pemenang dari ajang penghargaan musik paling bergengsi sejagat itu.

Tahun ini, Grammy Awards 2019 di Staples Center, Los Angeles, Amerika Serikat. Ada 44 piala yang diperebutkan.

Camila Cabello membuka Grammy Awards 2019 dengan ‘Havana’ yang begitu epic. Ia berkolaborasi dengan Young Thug dan Ricky Martin. Nuansa Latin begitu terasa di awal ajang tersebut.

Daftar Lengkap Pemenang Grammy Awards 2019 (Update)Ricky Martin, Camila Cabello dan J Balvin. Foto: Kevin Winter/Getty Images for The Recording Academy

Jada Pinkett SmithSelanjutnya, ada juga speech dari Lady Gaga, Michelle Obama dan Jennifer Lopez. Mereka berbicara bagaimana peran musik di hidupnya.
Di tengah acara, Cardi B hadir yang membuat suasana semakin panas. Penonton Grammy Awards 2019 pun bersorak menikmati penampilannya.

Cardi B di Grammy Awards 2019.Cardi B di Grammy Awards 2019. Foto: Kevin Winter/Getty Images for The Recording Academy

Grammy Awards 2019 juga belum lengkap tanpa penampilan dari Lady Gaga. Membawakan ‘Shallow’, ia manggung bukan bersama Bradley Cooper, tapi ditemani Mark Ronson.

Grammy Awards 2019 juga tidak luput dari kritikan. Ajang tersebut dinilai Drake terlalu berat sebelah dalam memberikan penilaian.

Sang rapper mengungkapkan hal itu dalam pidato kemenangannya. Ia berhasil meraih piala Grammy untuk Best Rap Song.

Sedangkan Childish Gambino, yang juga sama-sama mengkritik Grammy Awards 2019, berhasil meraih empat piala, yaitu Best Rap/Sung Performance, Best Music Video, Song of the Year dan Record of the Year.

Dua Lipa meraih dua piala tahun ini, satu untuk Best Dance Recording dan Best New Artist.

Menyamai raihan Childish Gambino, Kacey Musgraves juga mendapatkan empat piala Grammy Awards 2019. Ia berhak atas Album of the Year, Best Country Solo Performance, Best Country Song dan Best Country Album.

Berikut adalah daftar lengkap pemenang Grammy Awards 2019.

Record of the Year
‘I Like It’ – Cardi B, Bad Bunny & J Balvin
‘The Joke’ – Brandi Carlile
‘This is America’ – Childish Gambino (Pemenang)
‘God’s Plan’ – Drake
‘Shallow’ – Lady Gaga & Bradley Cooper
‘All The Stars’ – Kendrick Lamar & SZA
‘Rockstar’ – Post Malone Featuring 21 Savage
‘The Middle’ – Zedd, Maren Morris & Grey

Album of the Year
‘Invasion Of Privacy’ – Cardi B
‘By The Way, I Forgive You’ – Brandi Carlile
‘Scorpion’ – Drake
‘H.E.R.’ – H.E.R.
‘Beerbongs & Bentleys’ – Post Malone
‘Dirty Computer’ – Janelle Monáe
‘Golden Hour’ – Kacey Musgraves (Pemenang)
‘Black Panther: The Album, Music From And Inspired By’ – Various Artists

Song of the Year
‘All The Stars’ – Kendrick Lamar & SZA
‘Boo’d Up’ – Ella Mai
‘God’s Plan’ – Drake
‘In My Blood’ – Shawn Mendes
‘The Joke’ – Brandi Carlile
‘The Middle’ – Zedd, Maren Morris & Grey
‘Shallow’ – Lady Gaga & Bradley Cooper
‘This Is America’ – Childish Gambino (Pemenang)

Best New Artist
Chloe x Halle
Luke Combs
Greta Van Fleet
H.E.R.
Dua Lipa (Pemenang)
Margo Price
Bebe Rexha
Jorja Smith

Best Pop Solo Performance
‘Colors’ – Beck
‘Havana (Live)’ – Camila Cabello
‘God Is A Woman’ – Ariana Grande
‘Joanne (Where Do You Think You’re Goin’?)’ – Lady Gaga (Pemenang)
‘Better Now’ – Post Malone

Pop Duo/Group Performance
‘Fall in Line’ – Christina Aguilera (feat. Demi Lovato)
‘Don’t Go Breaking My Heart’ – Backstreet Boys
”S Wonderful’ – Tony Bennett & Diana Krall
‘Shallow’ – Lady Gaga & Bradley Cooper (Pemenang)
‘Girls Like You’ – Maroon 5 feat. Cardi B
‘Say Something’ – Justin Timberlake feat. Chris Stapleton
‘The Middle’ – Zedd, Maren Morris, Grey

Best Traditional Pop Vocal Album
‘Love Is Here To Stay’ – Tony Bennett & Diana Krall
‘My Way’ – Willie Nelson (Pemenang)
‘Nat ‘King’ Cole & Me’ – Gregory Porter
‘Standards (Deluxe)’ – Seal
‘The Music…The Mem’ries…The Magic!’ – Barbra Streisand

Best Pop Vocal Album
‘Camila’ – Camila Cabello
‘Meaning Of Life’ – Kelly Clarkson
‘Sweetener’ – Ariana Grande (Pemenang)
‘Shawn Mendes’ – Shawn Mendes
‘Beautiful Trauma’ – P!nk
‘Reputation’ – Taylor Swift

Best Dance Recording
‘Northern Soul’ – Above & Beyond Featuring Richard Bedford
‘Ultimatum’ – Disclosure (Featuring Fatoumata Diawara)
‘Losing It’ – Fisher
‘Electricity’ – Silk City & Dua Lipa Featuring Diplo & Mark Ronson (Pemenang)
‘Ghost Voices’ – Virtual Self

Best Dance/Electronic Album
‘Singularity’ – Jon Hopkins
‘Woman Worldwide’ – Justice (Pemenang)
‘Treehouse’ – Sofi Tukker
‘Oil of Every Pearl’s Un-Insides’ -Sophie
‘Lune Rouge’ – Tokimonsta

Best Rock Performance
‘Four Out of Five’ – Arctic Monkeys
‘When Bad Does Good’ – Chris Cornell (Pemenang)
‘Made An America’ – The Fever 333
‘Highway Tune’ – Greta Van Fleet
‘Uncomfortable’ – Halestorm

Best Metal Performance
‘Condemned to the Gallows’ – Between the Buried and Me
‘Honeycomb’ – Deafheaven
‘Electric Messiah’ – High on Fire (Pemenang)
‘Betrayer’ – Trivium
‘On My Teeth’ – Underoath

Best Rock Song
‘Black Smoke Rising’ – Greta Van Fleet
‘Jumpsuit’ – Twenty One Pilots
‘MANTRA’ – Bring Me The Horizon
‘Masseduction’ – St. Vincent (Pemenang)
‘Rats’ – Ghost

Best Rock Album
‘Rainier Fog’ – Alice in Chains
‘Mania’ – Fall Out Boy
‘Prequelle’ – Ghost
‘From the Fires’ – Greta Van Fleet (Pemenang)
‘Pacific Daydream’ – Weezer

Best Alternative Music Album
‘Tranquility Base Hotel + Casino’ – Arctic Monkeys
‘Colors’ – Beck (Pemenang)
‘Utopia’ – Björk
‘American Utopia’ – David Byrne
‘Masseduction’ – St. Vincent

Best R&B Performance
‘Long as I Live’ – Toni Braxton
‘Summer’ – The Carters
‘YOY’ – Lalah Hathaway
‘Best Part’ – H.E.R. feat. Daniel Caesar (Pemenang)
‘First Began’ – PJ Morton

Best Traditional R&B Performance
‘Bet Ain’t Worth the Hand – Leon Bridges (Pemenang)
‘Don’t Fall Apart on Me Tonight’ – Bettye LaVette
‘Honest’ – Major.
‘How Deep is Your Love’ – PJ Morton feat Yebba
‘Made for Love’ – Charlie Wilson feat. Lalah Hathaway

Best R&B Song
‘Boo’d Up’ – Ella Mai (Pemenang)
‘Come Through and Chill’ – Migeul feat. J. Cole & Salaam Remi
‘Feels Like Summer’ – Childish Gambino
‘Focus’ – H.E.R.
‘Long as I Live’ – Toni Braxton

Best Urban Contemporary Album
‘Everything Is Love’ – The Carters (Pemenang)
‘The Kids Are Alright’ – Chloe x Halle
‘Chris Dave And The Drumhedz’ – Chris Dave And The Drumhedz
‘War & Leisure’ – Miguel
‘Ventriloquism’ – Meshell Ndegeocello

Best R&B Album
‘Sex & Cigarettes’ – Toni Braxton
‘Good Thing’ – Leon Bridges
‘Honestly’ – Lalah Hathaway
‘H.E.R.’ – H.E.R. (Pemenang)
‘Gumbo Unplugged’ – PJ Morton

Best Rap Performance
‘Be Careful’ – Cardi B
‘Nice for What’ – Drake
‘King’s Dead’ – Kendrick Lamar, Jay Rock, Future, James Blake (Pemenang)
‘Bubblin’ – Anderson .Paak
‘Sicko Mode’ – Travis Scott

Best Rap/Sung Performance
‘Like I Do’ – Christina Aguilera feat. Goldlink
‘Pretty Little Fears’ – 6lack feat. J. Cole
‘This Is America’ – Childish Gambino (Pemenang)
‘All the Stars’ – Kendrick Lamar & SZA
‘Rockstar’ – Post Malone feat. 21 Savage

Best Rap Song
‘God’s Plan’ – Drake (Pemenang)
‘King’s Dead’ – Kendrick Lamar, Jay Rock, Future, James Blake
‘Lucky You’ – Eminem
‘Sicko Mode’ – Travis Scott
‘Win’ – Jay Rock

Best Rap Album
‘Invasion Of Privacy’ – Cardi B (Pemenang)
‘Swimming’ – Mac Miller
‘Victory Lap’ – Nipsey Hussle
‘Daytona’ – Pusha T
‘Astroworld’ – Travis Scott

Best Country Solo Performance
‘Wouldn’t It Be Great?’ – Loretta Lynn
‘Mona Lisas and Mad Hatters’ – Maren Morris
‘Butterflies’ – Kacey Musgraves (Pemenang)
‘Millionaire’ – Chris Stapleton
‘Parallel Line’ – Keith Urban

Best Country Duo/Group Performance
‘Shoot Me Straight’ – Brothers Osborne
‘Tequila’ – Dan + Shay (Pemenang)
‘When Someone Stops Loving You’ – Little Big Town
‘Dear Hate’ – Maren Morris feat. Vince Gill
‘Meant to Be’ – Bebe Rexha & Florida Georgia Line

Best Country Song
‘Break Up in the End’ – Cole Swindell
‘Dear Hate’ – Maren Morris feat. Vince Gill
‘Space Cowboy’ – Kacey Musgraves (Pemenang)
‘Tequila’ – Dan + Shay
‘When Someone Stops Loving You’ – Little Big Town

Best Country Album
‘Unapologetically’ – Kelsea Ballerini Port Saint Joe – Brothers Osborne
‘Girl Going Nowhere’ – Ashley McBryde
‘Golden Hour’ – Kacey Musgraves (Pemenang)
‘From A Room: Volume 2’ – Chris Stapleton

Best Jazz Vocal Album
‘My Mood Is You’ – Freddy Cole
‘The Questions’ – Kurt Elling
‘The Subject Tonight Is Love’ – Kate McGarry With Keith Ganz & Gary Versace
‘If You Really Want’ – Raul Midón With The Metropole Orkest Conducted By Vince Mendoza
‘The Window’ – Cécile McLorin Salvant (Pemenang)

Best Improvised Jazz Solo
‘Some of That Sunshine’ – Regina Carter, soloist
‘Don’t Fence Me In’ – John Daversa, soloist (Pemenang)
‘We See’ – Fred Hersch, soloists
‘De-Dah’ – Brad Mehldau, soloist
‘Cadenas’ – Miguel Zenón, soloist

Best Large Jazz Ensemble Album
‘All About That Basie’ – The Count Basie Orchestra Directed By Scotty Barnhart
‘American Dreamers: Voices of Hope, Music of Freedom’ – John Daversa Big Band Featuring DACA Artists (Pemenang)
‘Presence ‘- Orrin Evans and the Captain Black Big Band
‘All Can Work’ – John Hollenbeck Large Ensemble
‘Barefoot Dances and Other Visions’ – Jim McNeely and The Frankfurt Radio Big Band

Best Jazz Instrumental Album
‘Diamond Cut’ – Tia Fuller
‘Live in Europe’ – Fred Hersch Trio
‘Seymour Reads the Constitution!’ – Brad Mehldau Trio
‘Still Dreaming’ – Joshua Redman, Ron Miles, Scott Colley and Brian Blade
‘Emanon’ – The Wayne Shorter Quartet (Pemenang)

Best Gospel Album
‘One Nation Under God’ – Jekalyn Carr
‘Hiding Place’ – Tori Kelly (Pemenang)
‘Make Room’ – Jonathan McReynolds
‘The Other Side’ – The Walls Group
‘A Great Work’ – Brian Courtney Wilson

Best Contemporary Christian Music Album
‘Look Up Child’ – Lauren Daigle (Pemenang)
‘Hallelujah Here Below’ – Elevation Worship
‘Living With a Fire’ – Jesus Culture
‘Surrounded’ – Michael W. Smith
‘Survivor: Live From Harding Prison’ – Zach Williams

Best Latin Pop Album
‘Prometo’ – Pablo Alboran
‘Sincera’ – Claudia Brant (Pemenang)
‘Musas (Un Homenaje Al Folclore Latinoamericano En Manos De Los Macorinos), Vol. 2’ – Natalia Lafourcade
‘2:00 AM’ – Raquel Sofía
‘Vives’ – Carlos Vives

Best Latin Jazz Album
‘Heart of Brazil’ – Eddie Daniels
‘Back to the Sunset’ – Dafnis Prieto Big Band (Pemenang)
‘West Side Story Reimagined’ – Bobby Sanabria Multiverse Big Band
‘Cinque’ – Elio Villafranca
‘Yo Soy La Tradición’ – Miguel Zenón Featuring Spektral Quartet

Best Americana Album
‘By The Way, I Forgive You’ – Brandi Carlile (Pemenang)
‘Things Have Changed’ – Bettye LaVette
‘The Tree Of Forgiveness’ – John Prine
‘The Lonely, The Lonesome & The Gone’ – Lee Ann Womack
‘One Drop Of Truth’ – The Wood Brothers

Best Folk Album
‘Whistle Down the Wind’ – Joan Baez
‘Black Cowboys’ – Don Flemons
‘Rifles & Rosary Beads’ – Mary Gauthier
‘Weed Garden’ – Iron & Wine
‘All Ashore’ – Punch Brothers (Pemenang)

Best Reggae Album
‘As the World Turns’ – Black Uhuru
‘Reggae Forever’ – Etana
‘Rebellion Rises’ – Ziggy Marley
‘A Matter of Time’ – Protoje
’44/876′ – Sting & Shaggy (Pemenang)

Spoken Word
Accessory to War – Courtney B. Vance
Calypso – David Sedaris
Creative Quest – Questlove
Faith – A Journey For All – Jimmy Carter (Pemenang)
The Last Black Unicorn – Tiffany Haddish

Best Musical Theater Album
The Band’s Visit (Pemenang)
Carousel
Jseus Christ Superstar Live in Concert
My Fair Lady
Once on this Island

Best Comedy Album
‘Annihilation’ – Patton Oswalt
‘Equanimity & The Bird Revelation’ – Dave Chappelle (Pemenang)
‘Noble Ape’ – Jim Gaffigan
‘Standup For Drummers’ – Fred Armisen
‘Tamborine’ – Chris Rock

Best Compilation Soundtrack For Visual Media
‘Call Me By Your Name’
‘Deadpool 2’
‘The Greatest Showman’ (Pemenang)
‘Lady Bird’
‘Stranger Things’

Best Score Soundtrack For Visual Media
‘Black Panther’ – Ludwig Göransson (Pemenang)
‘Blade Runner 2049’ – Benjamin Wallfisch & Hans Zimmer
‘Coco’ – Michael Giacchino
‘The Shape of Water’ – Alexandre Desplat
‘Star Wars: The Last Jedi’ – John Williams

Best Song Written For Visual Media
‘All The Stars’ – Kendrick Lamar & SZA – Black Panther
‘Mystery Of Love’ -Sufjan Stevens, – Call Me By Your Name
‘Remember Me’ – Miguel feat. Natalia Lafourcade, – Coco
‘Shallow’ – Lady Gaga & Bradley Cooper, – A Star Is Born (Pemenang)
‘This Is Me’ – Keala Settle & The Greatest Showman Ensemble, – The Greatest Showman

Producer of the Year, Classical
Blanton Alspaugh (Pemenang)
David Frost
Elizabeth Ostrow
Judith Sherman
Dirk Sobotka

Producer Of The Year, Non-Classical
Boi-1da
Larry Klein
Linda Perry
Kanye West
Pharrell Williams (Pemenang)

Best Music Video
‘Apes-‘ – The Carters
‘This Is America’ – Childish Gambino (Pemenang)
‘I’m Not Racist’ – Joyner Lucas
‘Pynk’ – Janelle Monáe
‘Mumbo Jumbo’ – Tierra Whack

Best Music Film
Life in 12 Bars
Whitney
Quincy (Pemenang)
Itzhak
The King

Best Contemporary Instrumental Album
‘The Emancipation Procrastination’, Christian Scott aTunde Adjuah
‘Steve Gadd Band’, Steve Gadd Band (Pemenang)
‘Modern Lore’, Julian Lage
‘Laid Black’, Marcus Miller
‘Protocol 4’, Simon Phillips

Best Contemporary Classical Composition
‘Bates: The (R)evolution of Steve Jobs’ – Mason Bates, composer; Mark Campbell, librettist (Michael Christie, Garrett Sorenson, Wei Wu, Sasha Cooke, Edwards Parks, Jessica E. Jones and Santa Fe Opera Orchestra)
‘Du Yun: Air Glow’ – Du Yun, composer (International Contemporary Ensemble)
‘Heggie: Great Scott’ -Jake Heggie, composer; Terrence McNally, librettist (Patrick Summers, Manuel Palazzo, Mark Hancock, Michael Mayes, Rodell Rosel, Kevin Burdette, Anthony Roth Costanzo, Nathan Gunn, Frederica von Stade, Ailyn Pérez, Joyce DiDonato, Dallas Opera Chorus and Orchestra)
‘Kernis: Violin Concerto’ – Aaron Jay Kernis, composer (James Ehnes, Ludovic Morlot and Seattle Symphony) (Pemenang)
‘Mazzoli: Vespers for Violin’ – Missy Mazzoli, composer (Olivia De Prato)

Best Classical Compendium:
Fuchs: Piano Concerto ‘Spiritualist’; Poems of Life; Glacier; Rush – JoAnn Falletta, conductor; Tim Handley, producer (Pemenang)
Gold – The King’s Singers; Nigel Short, producer
The John Adams Edition – Simon Rattle, conductor; Christoph Franke, producer
John Williams at the Movies – Jerry Junkin, conductor; Donald J. McKinney, producer
Vaughan Williams: Piano Concerto; Oboe Concerto; Serenade to Music; Flos Campi – Peter Oundjian, conductor; Blanton Alspaugh, producer

Best Classical Solo Vocal Album
‘ARC’ – Anthony Roth Costanzo; Jonathan Cohen, conductor (Les Violons Du Roy)
‘The Handel Album’ – Philippe Jaroussky; Artaserse, ensemble
‘Mirages’ – Sabine Devieilhe; François-Xavier Roth, conductor (Alexandre Tharaud; Marianne ‘Crebassa and Jodie Devos; Les Siècles)
‘Schubert: Winterreise’ – Randall Scarlata; Gilbert Kalish, accompanist
‘Songs of Orpheus’ – Monteverdi, Caccini, D’India and Landi – Karim Sulayman; Jeannette Sorrell, conductor; Apollo’s Fire, ensembles (Pemenang)

Best New Age Album
‘Hiraeth’ – Lisa Gerrard and David Kuckhemann
‘Beloved’ – Snatam Kaur
‘Opium Moon’ – Opium Moon (Pemenang)
‘Molecules of Motion’ – Steve Roach
‘Moku Maluhia’ – Peaceful Island – Jim Kimo West

Best Chamber Music/Small Ensemble Performance
‘Anderson, Laurie: Landfall’ – Laurie Anderson and Kronos Quartet (Pemenang)
‘Beethoven, Shostakovich and Bach’ – The Danish String Quartet
‘Blueprinting’ – Aizuri Quartet
‘Stravinsky: The Rite of Spring Concerto for Two Pianos’ – Leif Ove Andsnes and Marc-André Hamelin
‘Visions and Variations’ – A Far Cry

Best Choral Performance
‘Chesnokov: Teach Me Thy Statutes’ – Vladimir Gorbik, conductor (Mikhail Davydov and Vladimir Krasov; PaTRAM Institute Male Choir)
‘Kastalsky: Memory Eternal’ – Steven Fox, conductor (The Clarion Choir)
‘McLoskey: Zealot Canticles’ – Donald Nally, conductor (Doris Hall-Gulati, Rebecca Harris, Arlen Hlusko, Lorenzo Raval and Mandy Wolman; The Crossing) (Pemenang)
‘Rachmaninov: The Bells’ – Mariss Jansons, conductor; Peter Dijkstra, chorus master (Oleg Dolgov, Alexey Markov and Tatiana Pavlovskaya; Symphonieorchester Des Bayerischen Rundfunks; Chor Des Bayerischen Rundfunks)
‘Seven Words From the Cross’ – Matthew Guard, conductor (Skylark)

Best Opera Recording
Adams: Doctor Atomic – John Adams, conductor; Aubrey Allicock, Julia Bullock, Gerald Finley and Brindley Sherratt; Friedemann Engelbrecht, producer (BBC Symphony Orchestra; BBC Singers)
Bates: The (R)evolution of Steve Jobs – Michael Christie, conductor; Sasha Cooke, Jessica E. Jones, Edwards Parks, Garrett Sorenson and Wei Wu; Elizabeth Ostrow, producer (The Santa Fe Opera Orchestra) (Pemenang)
Lully: Alceste – Christophe Rousset, conductor; Edwin Crossley-Mercer, Emiliano Gonzalez Toro and Judith Van Wanroij; Maximilien Ciup, producer (Les Talens Lyriques; Choeur De Chambre De Namur)
Strauss, R.: Der Rosenkavalier – Sebastian Weigle, conductor; Renée Fleming, Elīna Garanča, Günther Groissböck and Erin Morley; David Frost, producer (Metropolitan Opera Orchestra; Metropolitan Opera Chorus)
Verdi: Rigoletto – Constantine Orbelian, conductor; Francesco Demuro, Dmitri Hvorostovsky and Nadine Sierra; Vilius Keras and Aleksandra Keriene, producers (Kaunas City Symphony Orchestra; Men Of the Kaunas State Choir)

Best Orchestral Performance
‘Beethoven: Symphony No. 3; Strauss: Horn Concerto No. 1’ – Manfred Honeck, conductor (Pittsburgh Symphony Orchestra)
‘Nielsen: Symphony No. 3 and Symphony No. 4’ – Thomas Dausgaard, conductor (Seattle Symphony)
‘Ruggles, Stucky and Harbison: Orchestral Works’ – David Alan Miller, conductor (National Orchestral Institute Philharmonic)
‘Schumann: Symphonies Nos. 1-4’ – Michael Tilson Thomas, conductor (San Francisco Symphony)
‘Shostakovich: Symphonies Nos. 4 and 11’ – Andris Nelsons, conductor (Boston Symphony Orchestra) (Pemenang) Best Engineered Album, Classical
Bates: The (R)evolution of Steve Jobs – Mark Donahue and Dirk Sobotka, engineers; Mark Donahue, mastering engineer (Michael Christie, Garrett Sorenson, Wei Wu, Sasha Cooke, Edwards Parks, Jessica E. Jones and Santa Fe Opera Orchestra)
Beethoven: Symphony No. 3; Strauss: Horn Concerto No. 1 – Mark Donahue, engineer; Mark Donahue, mastering engineer (Manfred Honeck and Pittsburgh Symphony Orchestra)
John Williams at the Movies – Keith O. Johnson and Sean Royce Martin, engineers; Keith O. Johnson, mastering engineer (Jerry Junkin and Dallas Winds)
Liquid Melancholy – Clarinet Music of James M. Stephenson – Bill Maylone and Mary Mazurek, engineers; Bill Maylone, mastering engineer (John Bruce Yeh)
Shostakovich: Symphonies Nos. 4 and 11 – Shawn Murphy and Nick Squire, engineers; Tim Martyn, mastering engineer (Andris Nelsons and Boston Symphony Orchestra) (Pemenang)
Visions and Variations – Tom Caulfield, engineer; Jesse Lewis, mastering engineer (A Far Cry)

Best Engineered Album, Non-Classical
All the Things That I Did and All The Things That I Didn’t Do – Ryan Freeland and Kenneth Pattengale, engineers; Kim Rosen, mastering engineer (The Milk Carton Kids)
Colors – Julian Burg, Serban Ghenea, David “Elevator” Greenbaum, John Hanes, Beck Hansen, Greg Kurstin, Florian Lagatta, Cole M.G.N., Alex Pasco, Jesse Shatkin, Darrell Thorp and Cassidy Turbin, engineers; Chris Bellman, Tom Coyne, Emily Lazar and Randy Merrill, mastering engineers (Beck) (Pemenang)
Earthtones – Robbie Lackritz, engineer; Philip Shaw Bova, mastering engineer (Bahamas)
Head Over Heels – Nathaniel Alford, Jason Evigan, Chris Galland, Tom Gardner, Patrick “P-Thugg” Gemayel, Serban Ghenea, John Hanes, Tony Hoffer, Derek Keota, Ian Kirkpatrick, David Macklovitch, Amber Mark, Manny Marroquin, Vaughn Oliver, Chris “TEK” O’Ryan, Morgan Taylor Reid and Gian Stone, engineers; Chris Gehringer and Michelle Mancini, mastering engineers (Chromeo)
Voicenotes – Manny Marroquin and Charlie Puth, engineers; Dave Kutch, mastering engineer (Charlie Puth)

(dar/nu2) <!–

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program “Reportase Sore” TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45

–>

NBA: Paul George 45 Poin, Thunder Tundukkan Rockets

Liputan6.com, Houston – Oklahoma City Thunder berhasil menundukkan tuan rumah Houston Rockets 117-112 pada lanjutan pertandingan NBA di Toyota Center, Minggu (10/2/2019) pagi WIB. Paul George jadi bintang kemenangan Thunder di laga ini.

Ia menyumbangkan 45 poin dan 3 assist. Disusul Russell Westbrook yang menjadi penyumbang poin terbanyak kedua Thunder dengan 21 angka.

Di kubu Rockets, James Harden menyumbangkan poin terbanyak yakni 42 angka. Namun, usahanya tak membuahkan kemenangan untuk tuan rumah.

Rockets sempat kebut di laga ini. Pada akhir kuarter kedua, Chris Paul dan kawan-kawan bahkan unggul 21 poin.

Akan tetapi, Thunder menggila di kuarter tiga dan empat. Kenneth Faried dan kawan-kawan berhasil membalikkan keadaan dan unggul lima poin di skor akhir.

Ini adalah kemenangan ketiga beruntun Thunder di NBA. Sebelumnya, mereka juga sempat mengalahkan Orlando Magic dan Memphis Grizzlies.

Sementara bagi Rockets, ini adalah kekalahan pertama, setelah sebelumnya sukses meraih tiga kemenangan beruntun atas Utah Jazz, Phoenix Suns dan Sacramento Kings.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Belum 3 Bulan, Arsy Widianto Sudah Keluarkan Single Baru Lagi

Liputan6.com, Jakarta Penyanyi Arsy Widianto sepertinya tak pernah puas untuk terus berkarya. Belum lama mengeluarkan single ‘Planet Tempatku Sembunyi’, Arsy Widianto kembali dengan single terbaik dan terbarunya yang akan membuat penggemarnya berdecak kagum. 

Putra dari musisi Yovie Widianto ini merilis single bertajuk ‘Hey Cinta’ yang dirilis di bawah bendera salah satu label terbesar di Tanah Air, Universal Music Indonesia. Langkah Arsy Widianto menelurkan banyak karya mengikuti jejak sang ayah.

Arsy sepertinya akan menjadi penerus Yovie Widianto. Dirinya dianggap mampu menerjemahkan lagu-lagu karya Yovie yang terkenal dengan lagu cinta yang menyenangkan.

“Lagu ini memang ciptaan dan diaransemen Papa dengan dibantu Devinza Kendranata. Nggak terlalu sulit sih ya. Lirik dan nadanya tidak terlalu sulit buat saya,” ujar Arsy Widianto dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (6/2/2019).

2 dari 3 halaman

Kekuatan

Ini yang menjadi kekuatan lagu ‘Hey Cinta’ tersebut, bagaimana Arsy semakin mahir dan mengasah bakat suaranya yang sangat indah untuk didengar. 

Seperti yang telah diketahui, Yovie kerap menyajikan lagu dengan nada yang terdengar sederhana dan tidak berbelit-belit, sehingga tidak sulit bagi siapapun yang mendengar untuk dapat menikmatinya. Ditambah suara Arsy yang memang memiliki bakat yang mumpuni menjadikan lagu ‘Hey Cinta’ ini menjadi satu paket terbaik dari satu lagu yang berkualitas.

Departemen suara menyajikan suara instrument yang umum digunakan dalam sebuah aransemen musik. Tidak kompleks, simple, dan nyaman di telinga. Itulah senjata utama lagu  ini.

Dari segi lirik, lagu ini masih menyajikan sebuah cerita tentang cinta yang sederhana dan umum terjadi, yang mungkin saja setiap manusia mengalaminya. Pemilihan diksi yang baik memudahkan pendengar untuk memahami isi pesan dari lagu ini. 

Arsy kembali membuktikan kualitasnya di lagu ini. Tak heran jika ia pernah meraih piala Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) kategori Duo/Grup/Vokal Grup/Kolaborasi Pop Terbaik di 2018 lalu melalui lagu ‘Dengan Caraku’

Bukan tidak mungkin ke depan Arsy akan mampu menjadi maestro musik Tanah Air dan mampu menciptakan lagu-lagu terbaiknya sendiri. Jadi, selamat menikmati suguhan terbaik ini!

3 dari 3 halaman

Profil Arsy Widianto

Arsy Widianto lahir di Bandung pada tanggal 26 November 1999. Seperti diketahui ayah dari Arsy Widianto ini adalah Yovie Widianto, salah satu musisi terbaik di Tanah Air yang juga personel dari salah satu band legend Kahitna. 

Sejak kecil, Arsy Widianto tidak dipaksa untuk menjadi musisi seperti Ayahnya. Tapi, seperti kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya sepertinya benar adanya. Dimana Arsy Widianto sedari kecil sudah menyukai musik. Dimana saat umur 5 tahun ia sudah belajar main piano dan sebang bernyanyi. Debut Arsy dalam industri musik Tanah Air ditandai dengan dirilisnya single “Nembak #MenyatakanCinta” pada Januari 2018 lalu.

Selain dalam urusan dunia musik, Arsy Widianto juga termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya. Ia pernah masuk 10 besar terbaik dalam membuat karya tulis di SMP. Arsy juga pernah menyabet juara 1 lomba adzan di sekolahnya.

Di 2018, Arsy menorehkan prestasi yang membanggakan dengan meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) 2018 kategori Duo/Grup/Vokal Grup/Kolaborasi Pop Terbaik yang berkolaborasi dengan Brisia Jodie lewat lagu “Dengan Caraku”.


Jawab Tantangan Menpar, Banyuwangi Festival Siapkan 30 Atraksi Wisata untuk Milenial

Liputan6.com, Banyuwangi – Atraksi wisata Banyuwangi Festival yang rutin digelar sejak 2012 kembali diluncurkan untuk 2019. Sebanyak 99 atraksi bakal digelar sepanjang tahun ini. Dari 99 atraksi itu, 30 atraksi didedikasikan untuk para milenial.

“Karena milenial ini mendominasi pasar pariwisata, jadi memang ada atraksi atau agenda wisata yang di-setting khusus untuk segmen milenial,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam keterangan tertulis kepada Liputan6.com, Kamis (31/1/2019).

Pemilihan beragam atraksi wisata bagi para milenial tersebut dilakukan berdasar hasil survei terhadap perilaku dan hobi yang banyak disukai oleh para generasi milenial yang juga sering disebut sebagai Generasi Y.

“Pilihannya jatuh ke event musik, sport, teknologi, seni budaya, dan religi,” ujar Anas.

Atas dasar riset tersebut, lanjut Anas, Banyuwangi merancang event-event yang menjadi kegemaran generasi millennial. Di antaranya adalah E-Sport Competition (18-19 September 2019) yang membidik atlet dan komunitas pencinta e-sport.

“Kita sedang rumuskan, nanti kompetisinya apa saja. Bisa Mobile Legends, Player Unknown’s Battelgrounds (PUBG), atau LoL. Atau semuanya kita kompetisikan,” ujarnya.

Untuk ajang musik, Banyuwangi Festival menyajikan beragam pilihan, yaitu Jazz Pantai Banyuwangi (9-10 Agustus), Jazz Gunung Ijen (21 September), Festival Band Pelajar dan Remaja Se-Jawa dan Bali (26-27 Februari dan 18-19 Oktober), dan Student Jazz Festival (24 September).

“Semua musisi yang hadir juga berdasarkan aspirasi milenial,” kata Anas.


2 dari 2 halaman

Olahraga dan Film

Sementara, milenial penggemar olahraga terutama sepeda dan lari, ada 14 event sport tourism yang treknya melintasi destinasi-destinasi wisata di Banyuwangi. Di antaranya, Banyuwangi Ijen Green Run (21 Juli), Tour de Banyuwangi Ijen (23-26 September), Alas Purwo Geopark Run (17 November), dan Chocolate Glenmore Run (16 Februari).

“Pasti asyik berolahraga sambil menikmati kesejukan Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai kawasan geopark nasional,” kata Anas.

Tak hanya itu, Banyuwangi juga menggelar Festival Film Pendek (9 Juli) dan Festival Juragan Pintar (30 Maret). “Juga ada beragam festival lainnya untuk milenial,” ujarnya.

Anas menambahkan, Banyuwangi juga sudah menyiapkan video iklan khusus untuk segmen milenial yang tidak hanya menjual keindahan alam. “Tapi kita bikin narasinya yg sesuai kehidupan milenial yang dikemas dalam cerita yang fun dan lucu,” tutur Anas.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sebelumnya mengatakan 50 persen target wisatawan di Indonesia adalah kalangan milenial. Karena itu, program wisata yang dirancang pemangku kepentingan haruslah mengakomodasi kepentingan milenial.

Saksikan video pilihan berikut ini:

30 Pertanyaan Lucu Tentang Cinta yang Praktis Membuat Dia Tersipu Malu

Liputan6.com, Jakarta “Pun aku merasakan getaranmu,

Mencintaiku seperti ‘ku mencintaimu,

Sungguh kasmaran aku kepadamu,

Kasmaran ‘ku kepadamu.”

Lagu Kasmaran dari Jazz ini cocok banget untuk kamu yang sedang jatuh cinta, rasanya sehari jika tidak bertemu rindu, maunya ingin selalu dekat dengan dia. Iya kan?

Jatuh cinta memang indah, seakan dunia milik berdua. Tapi dalam setiap hubungan akan selalu ada masalah yang datang. Eh, dia tiba-tiba marah atau ngambek, ditanya kenapa, tapi diem aja nggak mau jawab. Aduh, tentu membuat kamu jadi bingung sendiri.

Tenang, buat kamu yang lagi gundah gulana dengan hubunganmu, pertanyaan lucu tentang cinta ini pas buat kamu jadikan senjata andalan untuk mempererat hubunganmu dengan dia. Kata-kata manis dengan nuansa kocak ini cocok buat kamu yang mengalami kebingungan karena dia lagi ngambek, atau buat kamu yang lagi PDKT sama doi.

Selain itu, pertanyaan lucu tentang cinta ini juga bisa dijadikan pilihan untuk dibaca agar suasana hati lekas membaik. Membaca pertanyaan lucu tentang cinta bisa membuat otakmu lebih fresh secara tidak langsung sehingga ketegangan-ketegangan yang membuatmu merasa tidak nyaman bisa teratasi dengan mudah.

Ingin tahu lebih lanjut tentang pertanyaan lucu tentang cinta apa saja yang bisa kamu gunakan? Berikut Liputan6.com telah merangkum pertanyaan lucu tentang cinta dari berbagai sumber, Minggu (20/1/2019).

2 dari 4 halaman

Miliki seutuhnya

1. Duh, Ikan cantik ni

Ikan apa yang paling cantik..?

I..kan kamuu

2. Memandang tiap hari

Panda panda apa yang bikin seneng..?

Pandangin kamu terus setiap hari

3. Bedanya jam

Kamu tau gak apa bedanya jm 12:00 sama kamu?

Kalau jam 12:00 kesiangan , kalu kamu kesayangan

4. Nikah sama kamu

Bis bis apa yang paling membahagiakan?

Bisa nikah sama kamu

5. Waduh, dikatain setan

Setan apa yang paling romantis?

Setangkai bunga mawar kupersembahkan untukmu

6. Cicak

A: Cecak-cecak apa yang bisa bikin aku mati??

B: cecak napas kalau lihat senyumanmu

7. Ngemil

Ngemil apa yang paling enak

Ngemilikin kamu seutuhnya

8. Kopi

KOPI apa yang paling pahiiit…hayo?

KOPIlih dia daripada aku…

9. Rel

Rel = Rel apa yang paling sakit?

Rela-ain aku pergi bersama yang lain

10. Tiang

Tiang apa yang enak?

Tiang-tiang mikirin kamu sambil minum es campur.

3 dari 4 halaman

Dekat di hati

11. Monas

Apa bedanya monas sama kamu?

Kalau monas milik pemerintah, kalau kamu milik aku

12. Cincin

Apa bedanya cincin sama kamu?

Kalau cincin melekat di jari, kalau kamu melekat di hati aku

13. Menara pisa miring

Tau gak kenapa menara pisa miring ?

Karena ketarik sama senyummu.

14. Jam dinding

Apa bedanya jam dinding sama kamu?

Kalau jam dinding dipajang di dinding, kalau kamu dipajang di hati aku

15. Susu

Susu apa yang indah?

Susungguhnya aku sayang kamu.

16. Jumat

Kamu tau enggak kepanjangan dari Jumat?

Jumat itu Jujur, melihatmu membuatku selalu semangat

17. Alkohol

Senyummu mengandung kadar alkohol berapa persen? Kok memabukkan?

18. Ada manis-manisnya

Muka kamu kayak gula ya, ada manis-manisnya gitu.

19. Diare

Seperti Diare, cintaku padamu bagai diare. Tak bisa kutahan, terus keluar begitu saja

20. Sakit jantung

X: Aku divonis kena sakit jantung

Y : Lho kok bisa sih?

X : Iya karena jantungku selalu berdetak lebih kencang bila aku dekat kamu.

4 dari 4 halaman

Sulit dipisahkan

21. Jantung penuh

Meski jantungku terbagi jadi 4 ruang, kamu jangan khawatir karena semuanya sudah penuh terisi oleh dirimu kog.

22. Hidrogen

Jalinan cinta kita seperti ikatan hidrogen, sulit untuk dipisahkan.

23. Asma

Kamu itu sama seperti penyakit asma, selalu bikin aku sesak napas kalo aku mesti jauh-jauh dari kamu.

24. Metabolisme

Cintaku kepadamu itu seperti metabolisme, tak akan berhenti sampe mati.

25. Kepulauan Seribu

Ribuan pulau di kepulauan seribu belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan jutaan cintaku padamu.

26. Cacing Fasciola

Kamu seperti cacing fasciola hepatica yang berkembangbiak di hatiku.

27. Kipas

Apa bedanya kamu sama kipas?

Kipas bisa bikin angin, kalau kamu bisa bikin angen -@tebaktebakin

28. Modem

Apa bedanya kamu sama modem?

Modem terkoneksi ke internet, kalau kamu terkoneksi ke hatiku

29. Awan

awan, awan apa yang bikin seneng?

a wanna be with you

30. Hepatitis

Kamu sama seperti penyakit hepatitis. Sama-sama nyerang hati.

Nah, uraian diatas adalah pertanyaan lucu tentang cinta diatas, semoga bisa membantu dia yang sedang ngambek dan jadi tersipu malu di dekatmu. Selamat berjuang prajurit asmara. Selamat mencoba!


Reporter: Tyas Titi Kinapti

Sergio Garcia Bertekad Pertahankan Gelar SMB Singapore Open

Liputan6.com, Jakarta Pegolf Spanyol, Sergio Garcia bertekad mempertahankan gelar juara SMBC Singapore Open di edisi 2019. Garacia sudah mempersiapkan diri menghadapi turnamen ini dengan matang. 

Garcia sebenarnya cukup sibuk tahun lalu. Namun pegolf berusia 39 tahun tersebut sudah beristirahat sebelum tamil di  SMBC Singapore Open tahun ini. 

“Saya mulai berlatih beberapa pekan yang lalu. Masih sedikit buru-buru, tetapi saya harap saya bisa menyesuaikan diri,” kata Garcia, Kamis (17/1/2019).

Sejak 2017, Garcia sudah tiga kali ikut di SMBC Singapore Open. Tahun lalu, ia berjaya di turnamen yang digelar di Sentosa Golf Course, Singapura ini. Bukan hanya juara di Singapura, Garcia juga sukses membela tim golf Spanyol mengalahkan Amerika Serikat di Europe’s Ryder Cup. Selain itu, ia juga menang di turnamen Valderrama Masters.

Lebih lanjut, Garcia mengaku senang bisa unjuk gigi lagi di SMBC Singapore Open 2019. Apalagi, ia datang sebagai juara bertahan. “Menyenangkan bisa kembali. Ini arena yang saya suka, luar biasa, dan berada di sini sebagai juar bertahan itu sangat spesial,” kata Garcia.

2 dari 2 halaman

Perebutkan Hadiah Satu Juta Dollar

SMBC Singapore 2019 sendiri akan berlangsung hingga 20 Januari 2019. Turnamen ini akan memperebutkan total hadiah 1 juta dollar Amerika Serikat atau Rp 14 miliar.

Bukan hanya Garcia, beberapa pegolf dunia seperti Sean Crocker (Amerika Serikat), Lucas Herbet (Australia), Jazz Janewattananond, dan Danthai Boonma (Thailand) juga tampil. 

Keempat pegolf ini sebelumnya lolos ke turnamen The Open Royal Potrush di Irlandia Utara. Untuk lolos, mereka harus berada di empat teratas di SMBC Singapore Open yang menjadi turnamen kualifikasi.

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

Jejak Tony Prasetiantono dalam Perekonomian Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Universitas Gadjah Mada berduka. Rabu malam (16/1/2019) Ekonom yang juga dosen Fakultas Ekonomika Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta A. Tony Prasetiantono tutup usia.

Berpulangnya A. Tony Prasetiantono dikabarkan oleh Ketua Harian Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) yang juga Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia Bapak A. Tony Prasetiantono,” kata Budi kepada Liputan6.com, Kamis (17/1/2019).

Tony meninggal di Jakarta pada Hari Rabu, 16 Januari 2019 pukul Jam 23.30 WIB. Saat ini, jenazah berada di jakarta dan pagi ini, 17 Januari 2019 direncanakan tiba di Jogja.

Nantinya jenazah Tony akan disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Kompleks Pesona Merapi Blok J78, Sleman. Tony Meninggalkan istri bernama Eva Supita Dewi dan seorang anak Meidyana Sashaputri.

Menurut Budi, Tony merupakan sosok intelektual yang baik dan humoris. “kita sangat kehilangan. Semoga almarhum mendaoat tempat di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Amin,” kata Budi.

Tony Prasetiantono merupakan ekonom sekaligus dosen senior Fakultas Ekonomika Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada. Tulisan-tulisannya mengenai ekonomi kerap hadir di berbagai media di Indonesia.

2 dari 5 halaman

Latar Belakang Pendidikan

Anthonius Tony Prasetiantono lahir di Muntilan, Jawa Tengah 27 Oktober 1962. Ia tercatat sebagai alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Pada 1986 Ia lulus dengan predikat cum laude dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Tony juga merupakan mahasiswa teladan I di Universitas Gadjah Mada. Tony kemudian terdaftar sebagai dosen tetap di FEB UGM sejak 1986.

Pada tahun 1991 Tony melanjutkan studi masternya dan berhasil meraih gelar Master of Science (MSc) dari University of Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat. Kemudian pada 2005 gelar Ph.D berhasil diraih Tony dari Australian National University, Australia.

3 dari 5 halaman

Menduduki Jabatan Penting pada sektor Perekonomian Indonesia

Sejak 1986 hingga saat ini Tony tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Pada 2010 hingga 2018 Tony menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada. Tak hanya itu, Tony pernah memegang sejumlah jabatan penting di luar UGM.

Tony juga tergabung dalam grup riset bidang ekonomi pembangunan, ekonomi moneter, klaster ekonomi dan biokimia.

Tony sempat menduduki jabatan-jabatan penting pada bidang perekonomi di Indonesia. Di antaranya pernah menjabat komisaris independen Bank Mandiri tahun dari 2003 hingga 2005. Kemudian menjadi Chief Economist Bank BNI sejak September 2006 hingga 2010.

Sejak tahun 2011, Tony menjabat menjadi komisaris independen Bank Permata. Tony juga pernah menjadi anggota komite informasi di Lembaga Penjamin Simpanan pada 2009-2010 dan anggota Komite Seleksi Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK) pada 2017.

Tony tercatat sebagai member Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI)sejak 2017 hingga 2020 mendatang.

4 dari 5 halaman

Aktif Menulis

Dalam bidang perekonomian Tony dikenal aktif menulis di berbagai kolom media nasional. Tulisan-tulisannya merupakan pengamatan Tony mengenai ulasan berbagai perkembangan ekonomi di Indonesia. Pada tulisan-tulisanya Tony juga menyampaikan gagasan bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Sejak 2009 Tony juga tercatat sebagai anggota Dewan Redaksi Majalah Prisma. Majalah Prisma merupakan majalah yang fokus pada jurnal pemikiran sosial ekonomi.

Beberapa tulisan kolom Tony Sempat diterbitkan menjadi beberapa buku, antara lain, Rambu-rambu yang Diabaikan (2005); Keluar dari Krisis: Analisis Ekonomi Indonesia (2000); dan Agenda Ekonomi Indonesia(1995).

Pria penikmat aliran musik jazz ini juga sempat terlibat dalam beberapa penelitian pada tahun 2000 ia melakukan penelitian terkait evaluasi dan implementasi program subsidi kredit untuk usaha kecil di Bank Indonesia.

Lalu pada 2003 Tony melakukan penelitian di Australian National University mengenai Indonesia Update Annual Conference. Ia juga mengerjakan project Indonesia CEO Gathering pada tahun 2003. Sebelumnya, pada 1996-2000 ia pernah meneliti Pertamina.

5 dari 5 halaman

Ekonom senior

Tony Prasetiantono merupakan ekonom senior yang sudah malang melintang di bidang makro ekonomi dan ekonomi pembangunan dan perbankan.

Pemikirannya turut menjadi sumbangsih untuk menjaga kestabilan perekonomian Tanah Air.

Ia pernah mengatakan, minimnya risiko Indonesia terkena krisis tak lepas dari kebijakan yang diambil oleh pemerintahan.

Kebijakan pemerintahan dalam hal ini, tentu policy mix, yaitu kombinasi kebijakan moneter dan fiskal. Tetapi proyek infrastruktur tetap menjadi panglima. Semua pihak mengakui itu,” ujar Tony pada Rabu (12/9/2018).

Selain kebijakan pemerintah di ranah moneter dan fiskal, lanjut dia, ada dua faktor positif yang mendukung analisis Nomura. Pertama, banyaknya proyek infrastruktur strategis yang menjadi daya tarik investor asing untuk menanamkan modal ke Indonesia sehingga mampu menangkal krisis.

”Tidak hanya strategis, proyek-proyek infrastruktur tersebut menjadi daya tarik karena efisien dan daya saingnya meningkat drastis. Ini yang membuat investor asing terkesan,” kata dia.

Kedua, kondisi sektor perbankan yang baik. Saat ini Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal perbankan berada di angka 22 persen. Hal itu menjadi garansi tidak akan terjadi krisis ekonomi yang berasal dari sektor perbankan, seperti terjadi pada krisis 1998.

”Bank masih bisa memberikan kredit (lending) dengan ekspansi 9 sampai 10 persen. Suatu hal yang tidak terjadi pada krisis 1998 lalu,” lanjut dia.

Kendati Indonesia berisiko kecil terpapar krisis, Tony tetap berharap pemerintah bisa mengendalikan defisit transaksi berjalan (CAD) yang mencapai 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Caranya adalah dengan mengerem proyek-proyek berbasis impor atau menggunakan devisa negara.